
Happy Reading!!!
***
Merasa tak lagi ada yang harus di cemaskan dan bingung dengan cara memberikan penolakan, Adistya kini sudah kembali bisa fokus pada hobi sekaligus pekerjaannya selama empat tahun ini dirinya lakoni. Aktivitasnya kembali normal dan terasa lebih ringan, karena yakin bahwa Gavril mampu mengatasi semuanya. Sementara Adistya hanya perlu menunggu ayahnya berkata bahwa pernikahan di batalkan. Setelah itu hidupnya akan tenang tanpa teror sang ayah yang memaksa dirinya menikah. Seperti perjanjian mereka beberapa hari lalu dimana ini adalah perjodohan terakhir. Yang mana artinya ayah Satya kesayangannya itu tidak lagi akan mempromosikannya pada laki-laki mana pun.
Namun nyatanya ketenangan itu hanya sekejap Adistya rasakan, karena di hari berikutnya pria itu kembali datang bersama ibunya, mengajak Adistya ke butik untuk mencari gaun pengantin.
Tentu saja itu membuat Adistya menatap laki-laki di depannya dengan bingung, sebab sebelumnya ia menyangka bahwa kedatangan kedua orang itu untuk membicarakan pembatalan pernikahan, tapi siapa sangka bahwa kehadiran mereka malah membuat Adistya menghela napasnya kecewa dan menuruti ajakan wanita paruh baya itu dengan terpaksa.
Sesampainya di butik gaun pernikahan, Adistya hanya melihat-lihat tanpa minat, bahkan keogahannya itu pun terlihat jelas oleh Gavril yang duduk menunggu di sofa. Namun kemudian bangkit dan menghampiri calon istrinya, sebelum sang mama menyadari bahwa tak ada antusias sama sekali dari Adistya maupun dirinya. Gavril hanya tak ingin membuat ibunya kecewa, dan itu juga lah alasan yang membuatnya tidak berani mengutarakan penolakan atas perjodohan ini.
"Muka lo bisa sedikit senyum gak sih?" bisik Gavril di belakang Adistya yang membuat perempuan manis itu terkejut dan langsung menoleh.
"Untuk apa? Gue lagi gak minat untuk senyum," jawab Adistya malas.
"Setidaknya untuk bikin Mama gue senang,"
"Bukan kewajiban gue untuk buat Mama lo senang."
Adistya dapat melihat rahang laki-laki itu mengeras, dan wajahnya terlihat marah. Tapi tentu saja Adistya tidak sama sekali peduli, karena bagaimanapun dirinya tidak salah. April bukan ibunya, kenapa harus Adistya yang membahagiakan perempuan paruh baya itu, sementara ada anaknya disini?
"Tapi cuma lo yang bisa bahagiain Mama,"
Adistya menghela napasnya panjang, melipat kedua tangannya di dada, kemudian menatap laki-laki di depannya itu. "Dari kemarin lo ngapain aja sebenarnya? Bukannya mau batalin perjo..."
Gavril dengan cepat membungkam mulut perempuan di depannya karena berbicara terlalu keras. Gavril takut sang mama mendengar, dan ia belum siap menyaksikan sorot kecewa dari wanita tersayangnya itu.
"Jangan kencang-kencang!" desisnya memperingati. "Gue gak bisa bilang, karena sama dengan lo, gue juga gak punya alasan untuk menolak." Pada akhirnya Gavril mengakui status jomlonya.
Adistya belum sempat melontarkan ejekan pada laki-laki itu, karena mama April yang cantik nan lembut itu lebih dulu datang dan menghampiri mereka dengan senyum keibuannya. "Gimana udah dapat gaun yang kamu mau?" tanya wanita paruh baya itu semakin melebarkan senyumnya begitu melihat tangan Gavril yang melingkar di pundak Adistya entah sejak kapan dan entah bagaimana bisa.
"Belum Tante, Tya bingung, gaunnya bagus semua," dengan senyum yang di paksakan Adistya menjawab. Sementara dalam hati merutuki Gavril yang tidak juga melepaskan rangkulannya, walau ia sudah diam-diam memberikan cubitan kecil di pinggang laki-laki itu.
"Gavril, kamu temani calon istrimu cari gaunnya, ya. Mama harus pulang, udah di tunggu Papa." Tentu saja kedua orang itu dengan cepat mengangguk, karena memang itulah keinginan Adistya maupun Gavril. Setidaknya dengan ketidak beradaan sang mama mereka tidak perlu berpura-pura menjadi calon pengantin yang akur. Apa lagi berdrama seolah saling mencintai.
"Ck, cari kesempatan!"
"Jangan terlalu percaya diri!" dengus Gavril. "Gue juga ogah peluk-peluk lo, kalau gak karena terpaksa demi bahagiain Mama," ujarnya beralasan.
Adistya malas untuk meladeni, karena yang dirinya lakukan saat ini adalah mencari gaun untuk pernikahannya nanti. Bukan karena bahagia, hanya saja, Adistya ingin secepatnya selesai agar segera pulang dan ia bisa bertemu dengan kamarnya yang lebih bisa membuatnya nyaman dan betah di bandingkan berduaan dengan laki-laki menyebalkan yang akan menjadi suaminya.
"Pertahankan berat badannya, ya, Mbak," kata si pemilik butik dengan senyum ramah. Adistya hanya menjawab dengan anggukan kecil lalu pamit undur diri. Tidak sadar bahwa Gavril di belakangnya mencoba menahan tawa.
Adistya berjalan terus menuju jalan raya untuk mencari taksi, karena ia cukup sadar diri bahwa Gavril tidaklah sebaik itu untuk mengantarnya kembali ke rumah, apalagi dengan ketidak beradaan ibunya. Adistya memilih berinisiatif sendiri dari pada harus menunggu di usir oleh laki-laki itu. Cukup dulu, dan itu tidak akan pernah Adistya biarkan terjadi kembali, karena sungguh sakitnya masih terasa.
"Lo mau ke mana?" tanya Gavril saat menyadari bahwa Adistya melewati mobilnya.
"Pulang," jawab singkat Adistya tanpa sedikit pun menoleh ke arah Gavril yang berjalan mendekat.
"Kita harus nyari cincin dulu, Dis!"
"Lo aja sendiri, gue malas," ujarnya melengos pergi.
"Ta-- sial!" maki Gavril memukul udara saat melihat Adistya pergi begitu saja dengan taksi. "Di pikir cuma gue aja yang mau nikah," gerutunya seraya masuk ke dalam mobil dan melajukannya meninggalkan butik.
Sepanjang perjalanan Gavril terus memaki calon istrinya yang sudah jelas tidak bisa di ajak kerja sama dalam mengurus pernikahan mereka nanti. Gavril jadi sangsi bahwa nanti bisa mengajak Adistya kerja sama dalam membangun rumah tangga yang Gavril inginkan terjadi seumur hidup sekali.
Melihat bagaimana calon istrinya sekarang, Gavril jadi tak yakin bahwa suatu saat nanti kata talak tidak akan dirinya layangkan. Padahal itu satu hal yang tidak pernah Gavril inginkan.
Jika saja mantan kekasihnya dulu tidak pernah mengkhianatinya, sudah jelas bahwa perjodohan ini tidak akan pernah terjadi. Dan seketika Gavril menyesal kenapa tidak menerima perjodohannya dengan wanita sebelumnya. Setidaknya wanita yang di kenalkan sang mama beberapa bulan lalu lebih sopan dari Adistya, lebih lembut dan penampilannya pun terlihat modis, meski harus Gavril akui bahwa Adistya lebih cantik dengan kesederhanaannya. Walau Gavril sendiri malas mengakui itu, apalagi di depan Adistya langsung.
Memukul stir mobilnya cukup keras, Gavril akhirnya mengalah dan memutuskan untuk pergi ke toko perhiasan seorang diri karena tidak ingin kembali membuang waktunya di esok hari dan harus kembali berhadapan dengan perempuan bernama Adistya yang ia yakini bahwa sekarang tengah jual mahal, mengingat dulu perempuan itu begitu mendamba dan mengejarnya tak kenal lelah juga malu, walau penolakan yang di berikan menyakiti hati.
***
See you next chap!!!