
Selamat Membaca !!!
***
Siang ini, setelah sarapan yang mendekati makan siang, Gavril dan Adistya duduk di sofa ruang tengah, menonton televisi yang sedang menayangkan acara gosip yang tidak sama sekali menarik keduanya tonton.
Menonton hanya menjadi formalitas, alasan agar mereka bisa berduaan, menghabiskan waktu santai yang jarang sekali dilakukan mengingat Gavril yang sibuk dengan pekerjaannya dan Adistya yang mengurung diri di kamar untuk fokus pada tulisannya, di tambah karena sekarang mereka sudah berbaikan. Tidak ada alasan untuk tetap dengan aktivitasnya masing-masing karena kini Gavril maupun Adistya ingin lebih mendekatkan diri, memahami sikap dan pribadi masing-masing untuk mewujudkan rumah tangga yang diinginkan.
Obrolan-obrolan ringan sejak tadi terlontar begitu juga tawa yang berderai dari keduanya. Candaan, gombalan dan godaan selalu Gavril layangkan yang sukses membuat Adistya merona dan salah tingkah. Tidak ada lagi jarak di antara keduanya karena kecanggungan itu sudah terkikis dengan keintiman yang mereka ciptakan.
“Yank, makan siang di luar yuk, sekalian kita belanja bulanan,” ajak Gavril yang saat ini berbaring dengan paha Adistya sebagai bantalannya.
Gerakan tangan Adistya yang bermain di rambut lebat suaminya terhenti, sedikit menunduk untuk menatap Gavril yang saat ini juga tengah menatapnya. “Kita baru selesai makan satu jam yang lalu loh, kamu udah mau makan lagi?” dan anggukan menjadi jawaban yang Gavril berikan.
“Lagi pula ini udah waktunya makan siang ‘kan?” tanya Gavril lalu menatap jam di pergelangan tangan kiri Adistya. “Yuk siap-siap,” lanjutnya seraya bangkit dari baringnya, mengulurkan tangan pada Adistya yang beberapa detik kemudian perempuan itu sambut dan melangkah bersama menuju kamar masing-masing untuk bersiap.
Sebenarnya Adistya sedang tidak ingin pergi. Alasannya ia malas mandi. Tapi mau bagaimana lagi, yang mengajak suaminya sendiri, dan ini adalah untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan pernikahan mereka berlalu.
Tidak butuh waktu lama untuk keduanya bersiap karena kurang dari satu jam, Adistya sudah keluar dari kamarnya dengan dress sederhana selutut warna biru laut yang membuat perempuan dua puluh tujuh tahun itu terlihat lebih muda. Sementara Gavril sudah selesai lebih dulu dan menunggu di ruang tengah. Celana jeans selutut, kaos pas badan warna putih juga sepatu sport dengan warna senada, membuat Gavril terlihat lebih tampan dan santai sampai Adistya yang baru turun dari kamarnya terpesona.
“Udah selesai?” suara Gavril menyadarkan Adistya dari keterpesonaannya, lalu mengerjap sebelum kemudian mengangguk dan menghampiri suami tampannya itu.
“Cantik,” puji Gavril kemudian seraya menjatuhkan satu kecupan di kening Adistya. Membuat tubuh perempuan itu kaku saking terkejutnya dengan apa yang dilakukan Gavril.
“Berangkat sekarang?” tanya Gavril kembali menyadarkan Adistya. Satu anggukan pelan menjadi jawabannya, dan tanpa menunggu lebih lama lagi keduanya berjalan menuju mobil yang semula sudah Gavril panaskan selagi menunggu istrinya.
Sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan di isi dengan obrolan ringan keduanya, dari yang penting hingga kurang penting, bahkan sangat tak penting. Dari yang amat lucu sampai yang benar-benar tak lucu sama sekali, tapi tetap saja tawa menyertai pasangan suami istri itu. Dan ini untuk pertama kalinya.
Kurang dari satu jam, mobil yang Gavril kendarai tiba di parkiran Mall dan keduanya masuk saling bergandengan tangan layaknya pasangan bahagia lain. Ini tidak pernah Adistya bayangkan sebelumnya, namun tidak bisa di pungkiri bahwa hatinya bahagia menjalani ini.
“Mau nonton dulu gak?” tanya Gavril begitu mereka semakin masuk ke dalam Mall
“Bukannya mau makan?” Adistya menaikan sebelah alisnya menatap ke arah sang suami.
Gavril mengangguk. “Setelah nonton baru kita makan, aku belum terlalu lapar sekarang,” jawabnya dengan seulas senyum tampan, sementara Adistya mendengus kecil dan akhirnya mengangguki ajakan suaminya itu. Lagi pula kapan lagi mereka bisa kencan. Gavril memiliki pekerjaan di rumah sakit begitupun dengan dirinya yang memiliki naskah yang harus segera di selesaikan. Mungkin Adistya masih bisa sedikit bersantai dengan pekerjaan yang merangkap sebagai hobinya itu, tapi tidak dengan Gavril yang memiliki tanggung jawab besar kepada pasien-pasiennya. Jadi, biarlah mereka menikmati waktunya saat ini.
Pintu teater terbuka setelah lima belas menit menunggu, karena mereka memang memilih film yang tayang lebih cepat. Toh bukan filmnya yang penting melainkan waktu berduaan yang mereka inginkan
Bagai remaja yang baru saja mengenal cinta, hati Adistya berbunga dengan ribuan kupu-kupu yang menggelitik hatinya. Geli, tapi menciptakan getaran yang menggembirakan. Tidak jauh berbeda karena Gavril pun nyatanya merasakan hal yang sama, debaran halus di dada membuatnya merasa seolah seperti anak remaja yang tengah di mabuk asmara dan Gavril suka dengan sensasi ini. Bukan berarti ini baru pertama kali keduanya rasakan, hanya saja tentu ini berbeda. Lebih menyenangkan dan menggetarkan jiwa masing-masing.
“I love you.” Bisik Gavril seraya mengecup puncak kepala istrinya yang menegang seketika, lalu mendongak menatap tepat mata Gavril untuk mencari sebuah kebohongan. Namun yang Adistya temukan justru sorot lembut dengan cinta di dalamnya. Adistya tidak tahu harus bahagia atau sedih dengan pernyataan cinta dari suaminya itu, karena yang jelas hatinya menghangat saat ini.
Keluar dari bioskop, Gavril mengajak Adistya untuk makan sebelum kemudian belanja kebutuhan dapur dan kebutuhan pribadi masing-masing. Mengenai pernyataan cinta Gavril di bioskop tadi Adistya tidak mau terlalu menanggapi karena menurutnya itu terlalu cepat dan ia takut kecewa jika saja yang Gavril ucapkan tidak sama sekali laki-laki itu sadari. Adistya masih sedikit ragu, meskipun hatinya bagai di kelilingi ribuan kupu-kupu.
“Kamu mau makan apa malam nanti?” tanya Adistya saat sudah memasuki supermarket yang ada di mall, di ikuti Gavril yang menarik troli dari tempatnya.
“Gurame bakar enak deh kayaknya, Yank.” Adistya mengangguk dengan senyum tipis mengiringi dan berjalan menuju lorong bagian ikan, mengambil apa yang dibutuhkannya.
Bukan hanya ikan gurami, tapi juga daging dan lauk lainnya untuk persediaan di kulkas mereka. Selesai di bagian itu, Adistya yang masih di ikuti Gavril pindah menuju bagian sayuran, buah, bumbu dapur, minyak, camilan dan seterusnya hingga troli yang Gavril dorong dari setengah jam yang lalu penuh dengan belanjaan mereka untuk kebutuhan satu bulan ke depan.
“Mau es krim gak?” tanya Gavril begitu mereka tiba di kasir menunggu antrian dan kebetulan tempat es krim berada dekat dengannya.
Adistya mengangguk sebagai jawaban. “Yang strawberry, Gav,” ujar Adistya begitu suaminya melangkah menuju freezer. Dan laki-laki itu hanya mengangguk tanpa menoleh pada sang istri yang saat ini mendorong maju trolinya karena sudah gilirannya untuk menghitung belanjaan.
Beberapa detik kemudian Gavril kembali dengan dua cone es krim strawberry dan coklat, dan memberikan itu pada kasir untuk ikut di hitung. Setelah membayar semuanya, Gavril mengambil alih belanjaan dan membawa tiga kantung besar penuh itu menuju parkiran dimana mobilnya ia simpan, sementara Adistya mengekori Gavril sambil asyik dengan eskrimnya. Lihatlah, bahkan perempuan itu seolah tidak peduli dengan Gavril yang kesulitan memasukan kantong-kantong belanjaannya ke dalam bagasi. Istri durhaka memang.
“Kamu gak pengertian banget deh sama suami,” ujar Gavril begitu menyusul Adistya masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi.
Adistya mengernyit tak paham. “Maksudnya?” Adistya menatap Gavril dengan kerutan di dahi semakin dalam, apalagi saat laki-laki itu menunjuk-nunjuk dengan dagunya. Sungguh Adistya tidak paham dengan apa yang sebenarnya suaminya itu mau sebelum kemudian Gavril memajukan kepalanya dan menggigit es krim yang Adistya pegang, membuatnya mengerjap dengan mulut terbuka cukup lebar.
“Dari tadi kamu enak-enakan makan es krim, sementara suami kamu berat bawa belanjaan,” Gavril mencebikkan bibirnya seraya menggerakan lidahnya membersihkan sisa es krim di bibirnya.
Adistya masih juga tidak bereaksi, dan tampang melongonya itu membuat Gavril yang gemas langsung mendaratkan bibirnya di bibir Adistya dan sedikit menggigitnya, hanya sebentar, setelah itu membimbing tangan Adistya yang masih memegang es krim ke depan mulutnya untuk wanita itu kembali nikmati makanan dingin tersebut, namun sebelum Adistya berhasil menjauhkannya, lagi-lagi Gavril mencuri satu gigitan cukup besar, sengaja agar bibir mereka bertemu di tengah rasa manis dan dinginnya es eskrim strawberry yang sejak tadi Adistya nikmati.
“Gav--"
“Apa sayang,” sahut Gavril dengan senyum manisnya yang tidak sama sekali merasa bersalah. “Aku suami kamu loh, gak perlu malu-malu gitu,” Gavril tertawa geli melihat wajah Adistya yang bersmu merah. Menggemaskan. Itu yang Gavril lihat saat ini, dan andai mereka bukan sedang berada di jalanan ramai Gavril tidak akan segan-segan merengkuh dan mencumbu Adistya sekarang juga.
Adistya hanya bisa memalingkan wajahnya yang panas, belum terbiasa dengan sikap manis apalagi intim Gavril yang selalu sukses membuat jantungnya berhenti sesaat. Namun sepertinya ia memang harus membiasakan akan semua hal itu karena bagaimanapun Gavril adalah suaminya, suatu saat akan meminta haknya dan sekarang ini masih beruntung karena Gavril hanya sekedar cium-cium, tidak berani melakukan lebih sebab tahu Adistya masih ragu mengenai perasaannya.
“Es krim punya kamu mau di buka?” tanya Adistya tanpa berani menoleh pada Gavril yang saat ini sibuk dengan kemudinya.
“Boleh, tapi suapin ya,” jawabnya menoleh sebentar untuk memberikan senyum lembut yang belakangan ini menjadi salah satu favorit Adistya. Ketika senyum, Gavril lebih tampan menurutnya.
***
See you next part!!!