Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
63. Maaf, Tapi Aku Mencintainya



Selamat Membaca !!!


***


Sepanjang jalan menuju bandara, Adistya tidak hentinya mengecek ponsel, berharap ada satu saja pesan dari Gavril yang mengatakan bahwa pria itu tidak mengizinkannya pergi. Tapi sampai tiba di bandara dan duduk di kursi tunggu selama lima belas menit tidak juga ada yang diharapkannya. 


Adistya tidak berharap Gavril menyusulnya ke bandaran dan melakukan adegan manis seperti layaknya dalam novel dan film romansa cinta, cukup satu pesan berisi kalimat pencegahan, maka Adistya akan membatalkan keberangkatannya. Tidak peduli seberapapun Romeo memaksanya untuk ikut. Tapi sayangnya Adistya harus kecewa. Gavril tidak berusaha mencegahnya dan Adistya tidak memiliki alasan untuk tetap tinggal, menunggu seseorang yang tidak memberinya kepastian.


“Udah di panggil, yuk,” Romeo berdiri lalu mengulurkan tangannya tepat di depan wajah Adistya yang masih setia duduk, membuat wanita itu sedikit terperanjat, kemudian menatap uluran tangan Romeo dengan perasaan tak menentu.


Sekali lagi Adistya mengecek ponselnya yang tidak juga menunjukkan tanda-tanda Gavril menghubunginya, kemudian Adistya menatap sekeliling, berharap bahwa pria yang di harapkan kemunculannya itu ada diantara orang-orang di bandara. Namun sekali lagi Adistya kecewa karena tidak mendapati keberadaan Gavril di sana. 


Menarik dan membuang napasnya perlahan, Adistya kemudian menerima uluran tangan Romeo, dan bangkit dari duduknya, melangkah berat menuju pengecekan paspor dan juga tiket. Di tengah antriannya, Adistya kembali mengedarkan tatapannya ke sekeliling, masih mengharapkan sosok Gavril datang mencegah kepergiaannya. Tapi hingga antrian semakin berkurang dan petugas selesai mengecek passport dan tiket milik Romeo, sosok itu tidak juga Adistya temukan. 


Lagi, ia membuang napasnya berat dan kecewa, lalu menyerahkan tiket juga passport miliknya pada petugas, dan menerima kembali setelah selesai di periksa, Adistya melangkahkan kaki melewati plang yang ada di sana namun belum tubuhnya masuk, tangannya lebih dulu di tarik seseorang dari belakang dan ia terbentur sesuatu keras di belakangnya, membuat Adistya refleks menjerit karena terkejut, dan orang-orang di sana yang mendengar jeritan Adistya refleks menoleh, begitupun dengan Romeo.


“Jangan pergi, please!” bisikan itu terdengar memohon, dan Adistya yang mengenali suara itu tentu saja langsung mendongak, memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. “Jangan tinggalin aku lagi,” tangan besar dan hangat itu menangkup wajah Adistya yang masih belum sadar dari keterkejutannya.


“Beib, come on,” Romeo mengulurkan tangannya dari tempat yang terhalang plang besi. Adistya mengerjap, lalu menatap Romeo dan Gavril secara bergatian.


“Gav—”


“Please, stay! Aku gak bisa tanpa kamu, Dis, aku butuh kamu. Gavin butuh kamu,” ucap Gavril terdengar memohon.


Adistya kembali menatap Romeo yang masih setia mengulurkan tangannya dengan senyum lembut yang mengukir di wajah tampannya, senyum yang membuat Adistya tidak tega untuk melukai pria bule itu.


“Aku mencintaimu, Dis, tolong jangan pergi, jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak bisa jika harus tanpa kamu. Aku mencintaimu, Adistya Fasyin.” Ucap tulus Gavril dengan tatapan serius dan memohon, membuat Adistya tidak bisa lagi mencegah air matanya yang sejak tadi saling mendorong untuk terbebas dari bendungannya.


“Romeo maaf, tapi aku mencintainya,” ucap Adistya di tengah isak tangisnya, menatap bersalah pada pria bule yang masih bertahan dengan senyumnya itu, tidak terlihat terkejut juga tidak terlihat keberatan dengan keputusan Adistya. Laki-laki itu seolah sudah dapat menebaknya. Tapi dapat dengan jelas Adistya tangkap sebuah kecewa di mata biru milik Romeo.


“I’m fine,” ucapnya meyakinkan Adistya yang terlihat amat bersalah. “Aku tidak ingin memaksakan sesuatu yang tidak menginginkanku. I know he is happy for you. So, go on, Beib.”  Romeo semakin mengembangkan senyumnya, kemudian menganggukkan kepalanya singkat, mengizinkan Adistya untuk pergi bersama Gavril.


“Ta—”


“No, Beib. Jangan buat aku berubah pikiran. Pergi, dan berbahagialah. Aku tidak masalah, sungguh!” ujarnya meyakinkan.


Adistya melepaskan tangan Gavril yang ada di pinggangnya lalu dengan cepat berlari ke arah Romeo dan memeluk laki-laki itu dengan erat. “Thanks and sorry,” ujarnya tulus, lalu melepaskan pelukannya dari Romeo tanpa sempat pria itu membalas.


Romeo yang sempat terkejut selama beberapa saat, akhirnya sadar dan mengulas senyumnya kembali, sementara Gavril menghela napas lega karena ketakutannya beberapa detik lalu tidak terjadi. Adistya bukan berlari untuk meninggalkannya, tapi untuk mengucapkan perpisahan pada pria bule itu.


Ya, Adistya memang harus melakukan itu, karena bagaimanapun Romeo pernah menjadi seseorang yang mengisi hari-harinya, walau tidak dengan hatinya.


“Terima kasih untuk kesempatan yang di berikannya, aku janji tidak akan lagi mengecewakan kamu,” ucap tulus Gavril saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang tadi sempat Gavril parkir sembarangan.


“Aku muak mendengar janji kamu,” ujar Adistya memutar bola matanya.


Gavril meringis seraya menggaruk tengkuknya salah tingkah. Ia sadar mengapa perempuan yang duduk di sampingnya itu mengucapkan hal demikian. Dulu Gavril pernah berjanji, dan pada akhirnya ia ingkari, jadi wajar jika Adistya muak mendengar janjinya. 


“Kalau begitu aku tidak akan menjanjikan apa pun kepadamu, aku akan berusahan mulai saat ini, mewujudkan apa yang dulu aku rusak dan membuktikan bahwa aku layak mendapatkan kesempatan darimu. Jadi, mohon ijinkan aku untuk berjuang dan menebus kesalahan yang dulu. Kamu hanya perlu diam dan menunggu pembuktianku. Mau ‘kan?”


Adistya mengedikkan bahunya acuh, lalu menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi. “Jalan Gav, aku kangen Gavin,” titah Adistya tanpa menoleh sedikitpun pada Gavril yang kini melongo dan mendengus kesal karena kalimat seriusnya tidak sama sekali ditanggapi perempuan itu.


“Ck, untung sayang,” ujar Gavril lalu melajukan mobilnya meninggalkan bandara, menembus jalan raya yang cukup padat di jam sepuluh pagi ini.


“Gak sayang juga gak apa-apa, aku yakin Ro—”


“Gak usah sebut nama cowok lain!” delik Gavril penuh peringatan. “Kamu cuma milik aku, Dis, dan selamanya akan tetap menjadi milik aku!" tegasnya kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya, tidak ingin sampai membahayakan dirinya dan Adistya yang kini terang-terangan menatapnya dengan senyum terlukis di bibir tipis itu. Membuat Gavril gemas, ingin menyerang wanita itu sekarang juga jika saja tidak ingat bahwa mereka berada di jalan raya.


“Coba dari dulu tegas seperti itu, mungkin sekarang anak kita udah tiga,” kata Adistya, kembali mengalihkan tatapan Gavril dari jalanan.


“Maaf,” sesalnya. “Tapi belum terlambat ‘kan? Setelah ini kita bikin adik yang banyak buat Gavin,” lanjutnya diiringi dengan kedipan menggoda, membuat semburat merah muncul di wajah Adistya.


“Kita bikin anak kembar, ya, Yank, biar cepat banyaknya. Nanti aku tanya Dokter Indah gimana posisi yang pas untuk menghasilkan bayi kem—"


Pletak.


“Gak usah mesum!” kesal Adistya bercampur marah.


Gavril terkekeh lalu mengacak rambut wanita itu gemas dan meraih sebelah tangannya kemudian ia bawa ke depan bibirnya untuk di kecup.


“Jadi kapan kita akan menikah?” tanya Gavril berubah serius.


“Kamu serius mau nikah lagi sama aku?” Adistya balik bertanya.


Adistya mengedikkan bahunya singkat. “Kalau gak becanda mana mungkin kamu tega khianati aku.”


“Dis, soal itu aku minta maaf. Tapi sumpah, sejak awal aku gak pernah becanda dengan pernikahan kita.” Gavril mengacungkan jari tengah dan telunjuknya membentuk hurup V, wajah seriusnya mendukung ucapan pria itu.


“Lantas pengkhianatanmu apa? Khilaf? Atau karena memang aku gak berarti?” desak Adistya dengan nada kesal, karena masih ingat bagaimana pria itu dulu mengabaikannya secara terang-terangan gara-gara Rania. 


“Sayang ….”


“Apa?!” sentak Adistya galak. “Jangan dulu ngajak aku nikah kalau hati kamu masih selemah itu dihadapkan dengan perempuan, terlebih masa lalu. Aku gak mau di khianati lagi, di abaikan kemudian di tinggalkan.”


“Justru kamu yang ninggalin aku, gak ingat?” delik Gavril. Adistya berdecak kesal.


“Kamu yang buat aku menyerah, kamu yang buat aku memilih untuk pergi. Semua gara-gara kamu!” emosi Adistya, mengeluarkan unek-unek yang sejak dulu mengganjal di hatinya, hingga membuatnya benci pada laki-laki yang dicintainya itu.


“Iya, semua salah aku. Maaf,” lirih Gavril seraya menunduk, lalu mendongak dan kembali fokus pada jalanan saat klakson kendaraan-kendaraan lain saling bersahutan memintanya untuk kembali bergerak mengingat lampu merah sudah berganti hijau. 


Setelahnya suasana di dalam mobih hening, Adistya yang memilih menatap jalanan lewat kaca jendela sampingnya sementara Gavril sibuk dengan kemudi dan pikirannya. 


Gavril mengira bahwa ini akan mudah, ia mengira bahwa Adistya sudah benar-benar memaafkannya dan menerimanya kembali, sayangnya emosi dan kemarahan itu masih ada.


Adistya masih sulit untuk di taklukkan meskipun sudah sedikit lunak dan memilih tidak pergi dengan laki-laki bule itu.


“Kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke rumah Ayah, Gav!” ujar Adistya saat sadar bahwa jalan yang Gavril ambil bukan menuju rumah Satya.


“Kita selesaikan masalah kita dulu, baru aku antar kamu pulang ke rumah Ayah. Lagi pula Ayah tahunya kamu pergi ke Swiss, bisa lah tinggal untuk beberapa hari sama aku,” Gavril menaik turunkan alisnya lalu mengedip genit, membuat Adistya bergidik ngeri.


“Jangan macam-macam, Gav!” peringat Adistya tajam.


“Gak kok, Sayang aku cuma mau satu macam. Menyelesaikan permasalahan di antara kita, hanya saja aku yakin bahwa ini akan memiliki cabang yang banyak,” senyum licik Gavril sunggingkan, lalu menghentikan mobilnya tepat di pekarangan rumahnya yang dulu pernah ada Adistya di dalamnya meskipun hanya sebentar.


“Yuk,” Gavril mengulurkan tangannya begitu membuka pintu mobil untuk Adistya. Wanita itu tak bergerak sama sekali dan memilih membuang muka, enggak menoleh pada Gavril juga rumah yang menjadi saksi bahagia dan lukanya. Di tambah bayangan mengenai Rania yang juga pernah tinggal di rumah tersebut, membuat hati Adistya perih membayangkan bagaimana Gavril dan Rania bermesraan di sana. Adistya benci dengan pikirannya, dan Adistya benci akan cemburunya. 


“Sayang,”


“Aku mau pulang, Gav!” ujar tajam Adistya.


“Iya nanti, sekarang masuk dulu. Banyak hal yang ingin aku bicarakan, mengenai masa lalu kita dan masa depan yang akan kita rajut. Masuk dulu yuk, aku janji gak akan ngapa-ngapain kamu kalau memang itu yang kamu takutkan,” ucap Gavril dengan selembut mungkin.


“Aku gak mau masuk ke tempat yang udah perempuan lain masuki bahkan tinggali.”


Gavril mengulas senyumnya, tidak menyangka bahwa itu alasan Adistya tetap bertahan dalam duduknya. “Udah aku sterilkan, dan banyak tempat yang tidak di singgahinya. Sungguh.”


“Gak!” tolak Adistya.


“Nanti setelah kita menikah gak akan tinggal di sini lagi. Aku udah siapin rumah baru untuk keluarga kecil kita nanti. Sekarang turun dulu yuk, barang kamu masih banyak loh di sini, termasuk buku-buku karya kamu.” Bujuk Gavril dengan sabar.


“Kamu aja yang masuk bawa semua barang-barang aku yang tertinggal di sini, aku tunggu.” Kukuhnya.


Gavril menghela napasnya pelan, lalu semakin membungkuk dan memasukan sebagian tubuhnya ke dalam mobil, membuka sabuk pengaman yang menahan tubuh Adistya lalu menggendong wanita itu keluar, mengabaikan pemberontakannya meski kepala harus menjadi korban terbentur mobil.


“Turunin aku, Gav. Aku gak mau masuk!” Adistya masih dengan berutal berusaha melepaskan diri dari gendongan Gavril, tapi laki-laki itu terlalu tangguh menahannya hingga kemudian Gavril menurunkan Adistya tepat di kamar yang dulu Adistya tempati. Ruangan itu tidak berubah dari terakhir kali. Masih rapi bersih dan letaknya pun sama. Adistya yakin bahwa kamarnya sering di bersihkan, karena wangi segar kesukaannya begitu kuat di pencimannya. 


“Kamar ini gak pernah dia singgahi, jadi gak terkontaraminasi. Rania gak pernah berani melewati ambang pintu. Jadi aman,” ujar Gavril diiringi senyumnya. Sementara Adistya sibuk menjelajah isi kamarnya, mengecek barang-barang yang memang saat itu tidak sempat dirinya ambil karena terlalu sakit jika harus kembali ke rumah ini. Seno dan Satya pun tidak sempat mengambil semuanya karena barang Adistya benar-benar banyak.


“Pantas aku cari-cari gak ada, ternyata Si Seno gak ambil. Padahal aku udah nyuruh dia buat bawa ini,” Adistya meraih satu buku yang menjadi favoritnya. Buku pertama yang dirinya tulis dan cetak, dimana buku itu tidak beredar di toko maupun di online shop karena Adistya memang membantasi percetakan buku tersebut.


“Yang itu sengaja aku umpetin waktu Ayah sama Seno ngambil barang-barang kamu,” kata Gavril melangkah mendekat pada Adistya, lalu mengambil buku yang di pegang oleh wanita itu. “Aku tahu ini kesayangan kamu, jadi sengaja aku simpan untuk diri aku sendiri dengan harapan bahwa kamu akan kembali ke sini. Dan saat itu aku berjanji tidak akan membiarkan kamu lepas lagi.”


“Kenapa kamu selalu menunggu kesempatan lain? Padahal saat aku mengajukan untuk bercerai, aku menunggu kamu bilang tidak. Aku berharap dipertahankan, tapi kamu malah memilih melepaskan,” Adistya tersenyum dengan sorot terluka. 


“Kamu tahu sekecewa apa aku saat itu? Kamu tahu bagaimana sakitnya aku saat itu? Di saat kamu menyetujui perceraian itu, tepat di saat itu jugalah kehancuranku yang benar-benar hancur. Kenapa? Karena sejak itu aku sadar bahwa tidak pernah ada aku dalam hati kamu. Tidak pernah ada aku dalam hidupmu dan rencana bahagiamu. Aku membencimu, tapi aku tidak pernah bisa benar-benar melakukan itu. Sampai pada akhirnya aku memilih kembali,” ungkap Adistya diliputi rasa sesak dan perihnya. 


“Sekarang apa kamu puas karena aku tidak pernah bisa lepas darimu?” tanya dengan kilat emosi.


“Oh, tentu saja aku puas,” kata Gavril dengan senyum tersungging di bibirnya.


“Brengsek!” 


***


see you next part!!!