
Selamat Membaca !!!
***
Gavril pulang begitu hari sudah larut malam, dan penghuni rumah sudah tertidur semua.
Dengan perlahan Gavril menaiki undakan tangga menuju kamarnya, dan betapa terkejutnya ia saat membuka pintu, sosok Adistya berdiri di depannya dengan wajah cemas.
“Ka-kamu gak tidur?” Gavril bertanya gelagapan. Tidak menyangka bahwa ia akan bertatap muka dengan Adistya yang berusaha dihindarinya.
Adistya bukannya menjawab, dia malah justru berjalan cepat dan berhambur memeluk Gavril erat, menumpahkan air matanya sambil terus menggumamkan kata maaf.
Tentu saja itu membuat Gavril semakin terkejut dan bingung harus melakukan apa, sampai akhirnya Gavril memutuskan untuk membalas pelukan itu dan melayangkan beberapa kecupan di puncak kepala sang mantan istri.
“Aku minta maaf,” lirih Adistya berucap.
Gavril menggelengkan kepalanya. “Tidak seharusnya kamu meminta maaf, Dis. Aku yang salah, aku yang sudah menyakiti kamu, mengkhianati kamu, dan menjadi alasan Byanca untuk mencelakai kamu. Ini semua salahku, maafkan aku yang selalu membuat kamu terluka, maafkan aku yang tidak bisa membahagiakan kamu. Maafkan aku ...."
Adistya menggelengkan kepalanya, dan semakin erat memeluk Gavril. Hanya isak tangis yang terdengar saat ini. Gavril maupun Adistya tidak ada yang mau melepaskan pelukannya, seolah itu adalah pelukan terakhir mereka. Atau memang benar itu adalah pelukan perpisahan, karena yang Gavril tahu Adistya akan segera menikah dengan pria bule itu?
“Tuhan, aku harus bagaimana? Sungguh, aku tak rela jika harus melepaskan wanita dalam pelukanku ini untuk orang lain,” bisik hati Gavril semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan tubuh mungil Adistya di dadanya. Ia tidak ingin kehilangan wanitanya.
“Kapan pernikahanmu?” tanya Gavril berusaha sekuat mungkin menahan sesak di dadanya.
Adistya menggelengkan kepalanya, enggan berbicara. Pertanyaan Gavril terasa menyakitkan untuknya. Adistya belum bisa melepaskan Gavril begitu saja, dan ia tidak bisa menerima kekalahan pria itu. Adistya ingin Gavril berjuang untuknya, tapi tidakkah itu terlalu egois?
"Bolehkan aku minta bantuanmu agar Gavin mau tetap tinggal bersamaku?” lagi dan lagi Adistya menggelengkan kepalanya dan isak tangisnya pun semakin terdengar pilu, membuat Gavril tanpa sadar meneteskan air matanya juga. Berat. Ini sungguh berat untuknya. Merelakan tidaklah semudah itu, terlebih cinta masih menjadi penghuni seluruhnya.
Gavril mengurai pelukannya, menatap lembut wajah Adistya yang basah oleh air mata, lalu menyekanya perlahan dengan ibu jari. “Kamu janji bukan, tidak akan membawa Gavin dariku? Aku tidak ingin send—”
Cup.
Gavril mengerjap, terkejut mendapati benda kenyal dan hangat menyentuh bibirnya. Lebih terkejut lagi saat Adistya justru menggerakkan bibirnya ketimbang menjauhkannya. Dan lama kelamaan Gavril pun ikut menggerakkan bibirnya dengan lembut, menyalurkan rasa rindunya lewat ciuman. Meskipun Gavril sadar bahwa ini adalah salah. Adistya bukan lagi miliknya, tapi siapa yang bisa mengendalikan hati? Gavril tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia memang menginginkan Adistya, menginginkan wanita itu kembali menjadi miliknya.
...*****...
“Kapan kamu pulang?” tanya Gatan saat Gavril muncul di ruang makan, membuat semua orang menoleh ke arah Gavril yang melangkah menuju putranya dan langsung mengecup kepala bocah itu seperti biasa.
“Tadi pagi,” jawab Gavril singkat, lalu duduk di kursi kosong samping ibunya, tepat berhadapan dengan Adistya yang langsung menunduk begitu menyadari kedatangannya. Gavril menebak bahwa mungkin wanita itu malu atas tindakannya semalam, yang membuat Gavril berwajah segar pagi ini.
“Apa kalian tidak bisa menginap satu malam lagi?” tanya Avril, melanjutkan obrolan yang sempat tertunda akibat kedatangan Gavril.
“Sebenarnya kita ingin, Aunty, saya penasaran dengan tempat-tempat menakjubkan yang Gavin ceritakan kemarin, tapi kami tidak bisa. Kami harus segera kembali untuk mempersiapkan pernikahan kami,”
Uhukk …
Adistya yang belum sempat menelan makanannya tersedak begitu mendengar kalimat Romeo.
“Pelan-pelan makannya, Honey,” dengan sigap Romeo menyerahkan air minum pada Adistya, lalu menepuk-nepuk pelan punggung Adistya, membantu meredakan dari tersedaknya.
Gavril merutuki dirinya sendiri yang begitu bodoh sampai melupakan kenyataan mengenai wanitanya yang akan segera dinikahi pria lain.
Hanya gara-gara ciuman semalam, Gavril menganggap bahwa semua akan baik-baik saja, nyatanya itu tidaklah seperti yang dirinya pikirkan. Adistya tetap akan menikah dan Gavril telah bodoh mengartikan bahwa apa yang mereka lakukan semalam sebagai harapan baru untuknya.
“Bodoh!” maki Gavril pada dirinya sendiri.
Gavril segera melangkah menuju lemari, melepas kaos dan celana pendek yang di kenakannya, dan menggantinya dengan kemeja juga celana bahan panjang. Gavril memutuskan untuk ke rumah sakit, menyibukan diri dengan pekerjaan, mengalihkan rasa sakit dan kecewa atas pengharapan yang dirinya buat sendiri.
“Kamu mau ke mana?” tanya Adistya begitu hendak menuju kamar Gavin dan berpapasan dengan Gavril yang baru saja ke luar dari kamarnya.
“Rumah sakit,” jawab Gavril singkat dan dingin, bahkan pria itu tidak menoleh sedikit pun pada Adistya. Membuat Adistya heran tentu saja.
“Ini hari libur Gavril,”
“Kenapa memangnya? Toh tidak ada alasan untuk aku gak pergi bukan?” ucap Gavril masih dengan nada dinginnya.
“Kamu hindarin aku?” tanya Adistya dengan raut wajah sedih. “Kenapa?” Gavril bungkam dan kembali membuang wajahnya, enggan menatap Adistya. Gavril tidak ingin masuk ke dalam mata sendu itu, ia tidak kuat. Gavril takut menjadi lebih egois demi mempertahankan Adistya di sampingnya.
“Apa kamu belum bisa memaafkan aku? Sebenci itukah? Tapi bukankah seharusnya aku yang membencimu, lalu kenapa malah aku yang terkesan menginginkan kamu? Gavril, apa mungkin kamu sudah tidak memiliki rasa itu lagi? Atau justru tidak pernah ada rasa itu untuk aku sejak dulu? Ah, tentu saja, bukankah memang sejak dulu hanya aku yang selalu menginginkan kamu,” Adistya menyeka air matanya yang kembali hendak terjatuh.
“Gavril, kenapa masih saja semenyakitkan ini?” tambah Adistya, seraya mendongak untuk menatap Gavril yang mematung di tempatnya. “Setidak pantas itukah aku di cintai olehmu?” lanjutnya dengan air mata yang kembali terjatuh lebih deras.
Ya, Adistya mengaku kalah pada akhirnya. Ia lelah berpura-pura tak menginginkan pria itu, ia lelah selalu menepis dan berusaha membenci Gavril, dan ia lelah membohongi hatinya yang jelas-jelas masih menginginkan mantan suaminya.
Adistya akui bahwa dirinya egois, ia jahat pada Romeo yang benar-benar baik, tapi bukankah akan lebih jahat jika pada akhirnya ia kembali berpura-pura meskipun pada orang yang berbeda?
Gavril dengan cepat menarik Adistya ke dalam pelukannya, membenamkan kepalanya di ceruk leher Adistya dan menangis di sana, tangis yang entah bahagia atau justru sedih. Gavril hanya ingin melakukannya meskipun tanpa alasan yang jelas.
Tak lama Adistya pun membalas pelukan itu, keduanya sama-sama menangis tanpa menyadari ada seseorang yang menatap dari kejauhan. Mendengar semua kalimat yang Adistya ucapkan sambil menahan rasa sakit di dada, lalu setelahnya memilih untuk pergi, menjauh dari kedua orang itu yang sudah jelas masih saling memiliki rasa.
Romeo tidak tahu apa yang akan dirinya lakukan setelah ini, karena yang jelas menyerah bukanlah hal yang ingin dilakukannya. Romeo amat mencintai Adistya, dan sama halnya dengan Gavril, ia pun ingin memiliki wanita itu. Tapi jika hati perempuan itu tidak sama sekali berpihak kepadanya, apa yang harus dirinya lakukan?
Merelakan? Dengan cepat Romeo menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin merelakan Adistya begitu saja pada Gavril setelah sejauh ini. Bersaing? Mungkinkah ia akan menang di saat cinta yang Adistya miliki sepenuhnya untuk Gavril?
Romeo menghela napasnya panjang, lalu duduk di kursi yang ada di teras depan, menatap kosong taman kecil milik Avril yang di penuhi dengan berbagai bunga yang tengah bermekaran. Sangat tidak sesuai dengan keadaan hati Romeo saat ini.
Berbeda hal-nya dengan sepasang manusia yang kini sudah melepaskan pelukannya, berganti dengan kedua bibir yang saling berpagut mesra. Tidak ingin kegiatannya itu di pergoki orang lain, Gavril menggendong Adistya masuk ke dalam kamarnya tanpa melepaskan ciuman mereka walau hanya untuk sekejap. Terlalu sayang, mengingat keduanya begitu merindukan rasa satu sama lain.
“Jangan tinggalkan aku lagi, please!” mohon Gavril begitu melepas pagutannya, memberi celah untuk Adistya mengambil napas sebanyak-banyaknya sebelum kemudian menyambungnya kembali dengan ciuman yang lebih panas dan memabukkan, hingga gairah itu menguasai keduanya dan hal yang tidak mereka rencanakan terjadi begitu saja. Namun semua itu tidak keduanya sesali, karena tahu bahwa mereka sama-sama menginginkan hal itu.
Adistya sadar tidak seharusnya ia berbuat seperti ini, mengkhianati Romeo yang mengharapkannya. Tapi Adistya tidak bisa menahannya, ia menginginkan Gavril begitupun sebaliknya. Dan Adistya hanya bisa memohon maaf pada Romeo yang sudah dirinya kecewakan, semoga pria itu paham dan mau melepaskannya. Meskipun sebenarnya Adistya tidak tega jika harus jujur pada laki-laki yang menemani harinya belakangan ini.
“Maafin aku, Rom, maaf telah melukaimu, mengecewakmu, dan mengkhianatimu. Maaf tidak bisa mencintaimu.”
***
Tbc ...