
Selamat Membaca !!!
***
Selama sepuluh hari berada di rumah sakit, Adistya akhirnya bisa pulang ke rumah. Tapi kepulangannya ini tidak sama sekali membuat Adistya bahagia, malah justru sepi menyelimuti hatinya. Ketiadaan Gavin adalah alasan terkuatnya, selebihnya karena kondisinya yang cacat.
Mengenai kenyataan ini masih sulit Adistya terima terlebih alasan dibaliknya membuat Adistya benci pada sosok Gavril yang jika di pikir lagi tidaklah salah.
Sama halnya seperti hatinya, hati dan perasaan Byanca pun tidak dapat di kendalikan, tidak dapat di cegah akan jatuh pada siapa. Namun tetap saja Adistya tidak bisa menerima ketidakadilan ini, Adistya tidak dapat menerima jika karena perasaan itu harus selalu dirinya yang terluka dan menderita. Tidakkah cinta itu begitu kejam untuknya?
“Ty, ada tamu,”
Adistya yang tersadar dari lamunannya menoleh pada sumber suara, dan mendapati ayahnya berjalan menghampiri.
“Siapa?”
“Orang tua Byanca,” jawab Satya seadanya. “Mau di temui atau enggak?” tanya Satya setelah beberapa detik berlalu tidak juga ada tanggapan dari putrinya itu. Namun dapat Satya lihat wajah merah dan keras Adistya membuktikan bahwa perempuan itu tengah menahan emosinya.
Bukan hanya Adistya yang marah, tapi jujur Satya pun marah karena bagaimanapun ulah Byanca menghancurkan semuanya. Terlebih kebahagiaan anaknya.
“Bantu Tya ke depan, Yah,” pinta Adistya.
“Kamu yakin?” Satya bertanya ragu, namun anggukan yang Adistya berikan membuat Satya mendorong kursi roda anaknya menuju ruang tamu.
Kedatangan Adistya dan Satya membuat dua paruh baya itu segera bangkit dari duduknya dan berlutut di depan kursi roda yang Adistya kenakan. Tentu saja itu membuat Adistya dan juga Satya terkejut, tapi tidak ingin berusaha menyuruh mereka untuk bangkit.
“Maafkan Byanca, Nak, tolong maafkan putri kami,” ucap wanita paruh baya itu dengan air mata yang berlinang. “Tolong cabut tuntutannya, anak kami tidak mungkin dengan sengaja menabrakmu, Nak. Itu hanya kecelakaan. Tolong ampuni putri kami,” mohonnya. “Tolong cabut tuntutannya. Byanca satu-satunya putri yang kami miliki, tolong maafkan anak kami.”
Melihat wajah sendu kedua orang paruh baya di depannya tidak sedikit pun membuat hati Adistya tergerak. Tidak ada iba apalagi rasa kasihan, yang ada hanyalah emosi dan kemarahan yang ingin sekali Adistya lontarkan. Ia ingin protes akan nasibnya yang selalu saja menderita karena orang yang sama. Dan kini kedua paruh baya itu malah memohon ampunannya? Memohon untuk melepaskan Byanca dari hukumannya? Adistya menggelengkan kepalanya.
“Tidakkah kalian lihat bagaimana nasib saya karena ulah anak kalian? Saya cacat. CACAT!” teriak Adistya, tidak lagi mampu membendung amarahnya.
“Kalian datang ke sini memohon ampunan pada saya?” Adistya berdecak seraya menggelengkan kepalanya. “Apa kalian akan mengabulkan jika saya memohon untuk meminta kembali tangan dan kaki saya seperti sediakala?” tanya Adistya. Kedua paruh baya yang semula meraung memohon ampunan itu kini bungkam, bahkan tak mampu menatap mata Adistya yang sudah banjir air mata.
“Gara-gara ulah anak kalian, saya harus rela jauh dari anak saya yang bahkan usianya belum ada seperempat dari usia anak kalian. Anak saya masih butuh di asuh, di beri kasih sayang dan di urusi, dengan keadaan saya yang seperti ini apa kalian kira saya bisa melakukan semua itu?” lagi Adistya menggelengkan kepalanya.
“Kamu tidak bisa berbuat seperti ini!” teriak ayah Byanca tidak terima.
“Kenapa tidak bisa? Bukankah pantas jika nyawa di balas dengan nyawa? Itu artinya kecacatan di balas dengan kecacatan. Biar kalian tahu bagaimana rasanya menjadi saya. Dan asal kalian tahu, bukan untuk kali ini saja anak kalian berbuat jahat terhadap saya. Sejak masih berada di Sekolah Menengah Atas, saya selalu menjadi bahan ejekannya, dia tidak pernah hentinya memaki, mencela, mempermalukan dan menindas saya. Selama ini apa kalian tahu semua itu? Apa kalian mengerti dengan perasaan saya dan kesakitan saya?” lagi-lagi Adistya menggelengkan kepalanya.
“Kalian tidak tahu, kalian tidak mengerti dan bahkan kalian tidak peduli. Jadi, apa harus saya peduli dengan anak kalian sekarang? Apa harus saya peduli dengan kesedihan kalian? Saya masih berbaik hati dengan memenjarakan Byanca, bukan menghukumnya dengan cara yang sama seperti apa yang dia lakukan terhadap saya. Kalau kalian tidak terima, coba pikir, apa keluarga saja juga menerima begitu saja keadaan anaknya yang seperti ini?”
“Jangan memohon ampunan pada saya, saya bukan Tuhan dan saya juga bukan manusia yang memurahkan maaf.” Setelah mengucapkan itu, Adistya meminta ayahnya untuk membawa dirinya pergi dari hadapan kedua paruh baya itu. Ia ingin istirahat sekarang, pikiran dan batinnya sudah cukup lelah, dan Adistya tidak ingin jika sampai dirinya gila gara-gara ini.
****
Seorang perawat datang keesokan harinya, diminta Gavril untuk merawat Adistya hingga sembuh. Awalnya Adistya tentu saja menolak, ia tidak butuh bantuan pria itu, tidak butuh belas kasihan dari mantan suaminya. Namun setelah memohon dan bujuk rayu kedua orang tua Gavril, juga setelah pertimbangannya sendiri, akhirnya Adistya menerima perawat itu karena bagaimanapun Adistya adalah perempuan dewasa yang tidak lagi memiliki ibu. Akan begitu canggung jika ayahnya yang melakukan semua yang Adistya butuhkan sementara adik iparnya tidak bisa membantu di karenakan tengah hamil muda.
Adistya sebenarnya tidak suka merepotkan orang lain, tapi dengan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk melakukan segala hal seorang diri mau tidak mau harus mengesampingkan egonya. Dan ini membuatnya benci pada dirinya sendiri yang tidak berguna. Meskipun Adistya adalah sosok pemalas apalagi dalam mengerjakan pekerjaan rumah, tetap saja berdiam diri seperti ini bukanlah hal yang dirinya sukai. Namun Adistya beruntung masih bisa menggunakan satu tangannya untuk menulis, kegemarannya sekaligus pekerjaannya yang selama ini dirinya geluti.
Setidaknya meskipun dalam keadaan cacat, Adistya masih bisa menghasilkan rupiah untuk mencukupi kebutuhannya dan sang putra walau yakin bahwa Gavril lebih dari cukup hanya untuk menuruti segala keinginan anaknya.
Ngomong-ngomong soal anak, Adistya jadi rindu akan bocah kecilnya. Ini adalah hari ke lima belas ia tidak bertemu dengan sang bauh hati. Tapi Adistya bersyukur karena masih dapat mendengar suara celotehan Gavin walau hanya sekedar lewat telepon. Seperti sekarang ini, bocah itu sedang bercerita mengenai kediaman barunya, teman-teman barunya dan juga sekolah barunya. Dalam hati Adistya terus-terusan menggumamkan kata maaf pada sang putra yang menjadi korban atas keegoisannya.
“Bunda gimana kabarnya?” tanya Gavin begitu selesai dengan ceritanya. Adistya mengembangkan senyumnya dan menjawab bahwa dirinya baik-baik saja. Ia tidak ingin membuat sang putra sedih dengan kondisinya yang seperti ini.
“Gavin kangen main sama Bunda, jalan-jalan, belajar … pokoknya Gavin kangen Bunda. Gavin mau sama Bunda,” ucap bocah yang kini sudah tidak lagi menampakkan raut senangnya yang beberapa menit lalu bocah itu perlihatkan sepanjang bercerita. “Bunda, Gavin kangen,” lirihnya dengan air mata yang mulai menetes, membasahi pipi tembamnya, dan itu sukses membuat mata Adistya memanas.
“Kenapa, Gavin gak senang sama Ayah?” Adistya berusaha sekuat mungkin menahan air matanya agar tidak menetes.
“Senang, tapi Gavin akan lebih bahagia jika bisa bersama Bunda dan Ayah. Gavin pengen kita kembali seperti beberapa waktu lalu, dimana bisa main, jalan-jalan dan ketawa bersama. Bunda apa kita akan seperti itu lagi?”
“Bunda akan usahain untuk cepat sembuh, ya, Nak. Kamu juga jangan lupa doain Bunda,” hanya itu yang bisa Adistya ucapkan, ia tidak berani berjanji mengenai keinginan bocah itu karena hingga saat ini, Adistya belum yakin akan bisa memaafkan Gavril setelah apa yang terjadi padanya. Adistya takut Byanca belum puas menyakitinya dan wanita itu kembali nekat untuk menghabisi nyawanya hanya karena ia berdekatan dengan Gavril. Meskipun sekarang Byanca berada di sel tahanan, tidak menutup kemungkinan wanita itu tidak akan bertindak di luar nalar. Pikiran seseorang tidak ada yang tahu bukan?
****
See you next chap !!