
Selamat Membaca!!!
**
"Istirahat dulu, ya, sekalian kita makan,” kata Gavril sambil menyeka keringat di pelipis putranya. Bocah itu begitu aktif dan bersemangat memainkan segala macam permainan yang ada di timezone.
Gavril memang sengaja mengajak Gavin ke mall, karena menurutnya di sanalah tempat yang lengkap, mulai dari café sampai tempat bermain. Di tambah dengan toko mainan yang sejak dalam perjalanan tadi Gavin mengutarakan keinginannya membeli mobil-mobilan yang beberapa waktu lalu tidak sempat dirinya beli karena sang bunda mengharuskannya memilih salah satu dari mainan yang diinginkannya. Tentu saja Gavril menuruti semua keinginan anaknya selama itu bisa membuat anaknya senang.
“Oke, makan burger ya, Yah. Gavin pengen double cheese!” serunya dengan semangat, membuat Gavril tertawa dan mengusak rambut putranya itu, setelahnya menggendong bocah itu menuju restoran cepat saji yang ada di lantai dasar mall yang dipijakinya saat ini.
“Mau nunggu apa ikut ayah pesan di sana?” tanya Gavin seraya menunjuk tempat pemesanan yang tidak begitu antri mengingat ini sudah lewat dari jam makan siang.
“Boleh pilih sendiri?” Gavril mengangguk setuju, membuat bocah itu kembali berseru senang. “Bunda gak pernah bolehin Gavin pilih sendiri,” ucapnya mengadu.
“Loh, kenapa?” Gavril menaikan sebelah alisnya.
Bocah itu hanya mengedikan bahunya tak tahu. Sementara Gavril masih dengan tanda tanya di kepalanya. Namun tidak butuh waktu lama untuk mengerti alasan Adistya tidak mengizinkan anaknya memilih sendiri karena Gavin menunjuk segala macam yang menarik di matanya, mulai dari burger sesuai keinginannya tadi, dan beberapa paket burger serta kentang goreng yang tertera di papan menu yang ada di depannya. Beberapa macam es krim aneka rasa, dan ayam goreng serta pie mengisi penuh nampan yang pihak restoran sediakan.
Gavril hanya bisa menggelengkan kepala, tidak banyak protes. Untuk kali ini saja, ia menurutinya. Lain kali Gavin akan pastikan anaknya itu memakan makanan kurang sehat itu secukupnya. Bagaimanapun Gavril tidak ingin anaknya sakit. Ia adalah seorang dokter walau sudah mengundurkan diri dari propesinya itu, tapi untuk hal-hal yang tidak baik di konsumsi berlebihan jelas saja Gavril tahu.
“Makan secukupnya, ya, sisanya kita bawa pulang.”
Gavin hanya menjawab dengan anggukan karena sudah lebih dulu menikmati makanan di depannya, mengabaikan Gavril yang memperhatikan.
“Setelah ini mau ke mana lagi?” tanya Gavril di tengah aktivitas makan mereka.
“Gak tahu. Gavin belum tahu banyak tempat yang asyik di sini. Kalau di rumah yang dulu Gavin suka main salju sama teman-teman. Di sini Gavin gak punya teman,” ujarnya dengan nada sedih.
Gavril yang belum dapat mencerna apa yang di ucapkan putranya mengernyitkan keningnya, merasa janggal.
Setelahnya Gavril berusaha untuk mendapatkan informasi mengenai tempat tinggal Adistya dan putranya selama hampir enam tahun ini mengingat selama ini dirinya tidak pernah sekalipun berpapasan dengan Adistya, atau melihat wanita itu keluar dari rumahnya selama Gavril memantau dari jauh hanya untuk mengurangi rasa rindunya. Namun sayangnya tidak pernah sekalipun Gavril menemukan keberadaan mantan istrinya itu sekalipun berpapasan dengan sahabat dari wanita itu. Selama ini Gavril benar-benar kehilangan Adistya.
***
“Halo, selamat sore, Yah. Maaf Gavril baru menghubungi,” ucap Gavril begitu sambungan teleponnya di terima seseorang di seberang sana yang tak lain adalah mantan ayah mertuanya, Satya. “Iya, Gavin lagi sama Gavril. Eum, Yah, apa boleh Gavril bicara dengan Adistya?” tanya Gavril hati-hati. Helaan napas dari seberang sana terdengar berat sebelum ayah mertuanya itu memintanya untuk menunggu.
Dari telepon yang belum di tutup, Gavril dapat mendengar Satya memanggil Adistya, dan tak lama suara perempuan itu muncul, membuat Gavril seketika menegang di tempatnya. Suara yang amat dirindukannya kembali ia dengar walau hanya lewat telepon dan sekejap karena setelahnya sambungan terputus, hingga beberapa menit berlalu nomor yang dihubunginya kembali memanggil.
Tanpa menunggu lama, Gavril langsung mengangkatnya dan berharap bahwa itu adalah Adistya, namun harapannya sirna karena yang terdengar justru suara ayah mertuanya. Pria baya itu meminta maaf mengenai Adistya yang menolak untuk berbicara.
Kecewa. Itu tentu Gavril rasakan, tapi ia cukup paham untuk alasan Adistya yang enggan berbicara dengannya. Semua karena dirinya, luka itu, kesedihan yang Adistya rasakan dan kesakitan yang wanita itu alami, Gavril yang menggoreskan. Jadi, tak berhak Gavril merasa kecewa saat Adistya menolak berbicara dengannya.
“Gavril hanya ingin meminta izin untuk membawa Gavin menginap di rumah. Besok Gavril janji akan mengantar Gavin ke rumah ayah,” jawab Gavril saat Satya menanyakan apa yang akan dirinya sampaikan kepada Adistya.
“Boleh ayah bicara sama Gavin?”
“Kakek mau bicara sama kamu,” kata Gavril dengan lembut. Gavin hanya mengangguk singkat sebelum kemudian berbicara dengan sang kakek. Bercerita dengan semangat mengenai kegiatannya hari ini bersama sang ayah, membuat Satya yang berada di seberang sana tertawa. Sementara Adistya serta Gavril menyimak dengan seksama di tempat yang berbeda, tapi dengan pikiran dan rasa rindu yang sama. Namun tak dapat keduanya utarakan karena sadar bahwa kini tidak ada lagi kisah tentang mereka selain Gavin yang menjadi tujuannya.
“Oke Kek, bilang sama Bunda cepat sembuh. Gavin sayang Bunda.” Setelah mengatakan itu Gavin kembali menyerahkan ponsel pada ayahnya.
Gavril yang kini terlihat khawatir langsung mengambil alih ponselnya dan kembali mendekatkan pada telinganya, menanyakan keadaan Adistya pada pria baya yang masih setia di seberang sana.
“Tya gak apa-apa, dia cuma kelelahan aja sama kembali menyesuaikan tubuhnya dengan cuaca di sini. Selebihnya baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kamu tolong jaga Gavin, ya, dia akan sedikit rewel saat bangun tidur. Gunakan waktu kalian sebaik mungkin, Ayah tahu kamu masih sulit mempercayai semua ini, tapi ayah mohon sayangi Gavin dan terima kehadirannya. Dia anak kamu, darah daging kamu,” ucap Satya panjang lebar. Dari nada suaranya Gavril dapat menangkap kesedihan yang pria paruh baya itu rasakan, membuatnya kembali di landa rasa bersalah.
“Gavril akan menyayangi Gavin, Yah. Gavril janji!” ujarnya dengan penuh keyakinan, membuat Satya di seberang sana tersenyum lega.
“Terima kasih, Nak. Sekarang nikmatilah waktu kalian,” ucapnya sebelum kemudian menutup sambungan telepon.
***
“Nenek,” seru Gavin girang saat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu membuka pintu utama setelah Gavril menekan bel beberapa kali. Meskipun baru pertama kali bertemu, Gavin sudah begitu akrab dengan Avril mengingat betapa serunya mereka bermain saat itu.
Gavril yang berada di sana mengerutkan keningnya, menebak-nebak kapan kiranya sang mama bertemu dengan Gavin, dan mengapa wanita itu tidak memberi tahunya. Tak lama di saat Gavin dan Avril masih berpelukan, Gatan, yang tak lain adalah ayah Gavril keluar begitu mendengar ribut-ribut di depan. Pria paruh baya itu tidak kalah terkejutnya dengan Gavril dan Avril sejak pertama kali bertemu Gavin dengan kenyataan bahwa bocah itu adalah seseorang yang tidak pernah diketahui keberadaannya.
“Ma--”
“Ini Gavin, Pa, anaknya Adistya sama Gavril. Waktu itu mereka main ke sini, Papa gak ada karena asyik sama teman-teman tua Papa, padahal Gavin sampai sore di sini,” jelas Avril sedikit mendengus saat kembali mengingat hari dimana Adistya dan Gavin datang.
“Kok, Mama gak cerita?”
“Sengaja,” ujarnya cuek, lalu membawa cucunya itu ke dalam rumah, meninggalkan Gavril dan juga Gatan di ambang pintu.
“Kamu juga kok gak kasih tahu Papa kalau punya anak?” tanya pria tua yang masih terlihat gagah itu pada Gavril yang tiba-tiba merasakan gatal di belakang telinganya.
“Gavril juga baru tahu siang tadi, Pa. Seno yang anterin Gavin dan ngenalin dia sebagai anak Gavril. Adistya hamil sebelum mengajukan gugatan cerai itu.” Gavril sedikit menjelaskan mengenai apa yang dirinya dengar dari Seno siang tadi.
“Jadi sebelumnya kamu tidak tahu jika Adistya hamil?” Gavril menggeleng, kemudian menunduk sendu. Penyesalan itu kembali dirinya raskan.
“Papa gak tahu kalau kamu bisa seberengsek itu Gavril!” Gatan menggelengkan kepalanya tak habis pikir, lalu melangkah masuk menyusul istri serta cucunya ke ruang tengah, tidak tahu lagi apa yang harus dirinya ucapkan pada sang putra yang telah mengecewakannya enam tahun lalu. Di tambah dengan kenyataan yang kini mereka dapat, hadirnya Gavin yang baru mereka ketahui. Gatan merasa gagal mendidik anaknya sendiri.
Gavril masuk setelahnya, membawa serta kantung-kantung belanjaan milik putranya yang berisi mainan dan juga pakaian untuk bocah itu ganti hari ini mengingat tidak ada pakaian anak kecil di rumah orang tuanya.
Tadinya Gavril berniat membawa bocah itu ke rumahnya yang dulu ia tempati bersama Adistya, tapi urung karena merasa bahwa ia harus mengenalkan anaknya pada sang mama dan papanya, tapi ternyata Avril malah sudah tahu lebih dulu. Tapi tak apa, sekaligus ia juga menjenguk kedua orang tuanya.
Hubungannya dengan sang mama tidak cukup baik setelah perceraiannya dengan Adistya, semakin memburuk ketika Gavril menikahi Rania. Dan baru kembali membaik dua tahun belakangan ini meskipun masih ada kecanggungan yang meliputi ketiganya.
***
See you next part !!!