Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
2. Kenapa Harus Dia



Happy Reading


***


"Kamu belum siap-siap, Ty?" tanya sang ayah begitu masuk ke dalam kamar putri pertamanya itu, menggelengkan kepala melihat Adistya yang masih asyik duduk di depan laptopnya yang menyala dengan jari indah menari di atas keyboard, masih mengenakan pakaian rumah yang tidak jauh-jauh dari celana pendek dan kaos yang kebesaran.


"Siap-siap untuk apa?" heran Adistya yang sama sekali tidak mengalihkan fokusnya dari layar datar itu.


"Jangan pura-pura lupa, Ty!" kesal sang ayah yang langsung menutup layar laptop di depan anaknya. Dan tentu saja itu membuat Adistya terlonjak histeris dan mengomeli ayahnya karena sudah merusak karyanya yang belum sempat dirinya simpan.


Bayangkan, menulis dari sore tadi dan hasil tulisannya belum tersimpan ke dalam file, tidak kah itu membuatnya frustrasi? Tidak kah ayahnya itu berpikir bagaimana susahnya ia menciptakan karya yang selama ini membantunya mengumpulkan puing-puing rupiah. Beruntung kalau-kalau karyanya tersimpan otomatis. Bagaimana jika tidak?


Astaga, jika saja mengumpati orang tua tidak dosa, maka ia akan menjadi orang pertama yang melakukannya.


"Siap-siap, ayah tunggu di bawah!" laki-laki baya itu kemudian melangkah meninggalkan kamar anaknya.


Mendengus kesal, Adistya melangkah malas menuju kamar mandi, mencuci muka kemudian mengganti pakaiannya. Untuk Adistya yang sangat percaya diri akan wajah cantiknya, tidak membutuhkan make up berlebih selain liptin dan bedak tabur.


"Lo jadi cewek gak ada bagus-bagusnya tahu gak, Ty. Ini mau ketemu calon jodoh, lo poles sedikit kenapa sih tuh muka, buluk banget tahu gak!" Seno yang melihat kakaknya itu turun langsung melayangkan protesan seperti biasanya.


"Tanpa make up aja gue udah cantik, gak kayak cewek lo yang selalu harus menor dalam segala acara, kayak cabe-cabean di taman lawang." Balas Adistya mencibir.


"Udah gak usah berantem, Tya, ayo berangkat, kita udah telat. Dan untuk kamu Seno, jangan keluyuran!" tegas sang ayah yang kemudian diangguki pasrah oleh putranya itu.


Selama dalam perjalanan menuju entah ke mana ayahnya akan membawa, Adistya hanya sibuk pada ponselnya, cekikikan sendiri seolah apa yang di lihatnya pada layar datar itu lebih menyenangkan, dari pada harus menikmati rasa penasaran akan laki-laki yang ayahnya pilihkan.


Lagi pula Adistya hanya perlu duduk dan makan, jika di tanya menjawab, jika tidak diam saja. Itu yang memang selalu Adistya lakukan saat bertemu dengan laki-laki yang ayahnya tawarkan. Bukan dirinya sekali jika harus beramah tamah dan berlaku anggun di depan laki-laki yang sama sekali tidak disukainya. Adistya bukan tipe orang yang suka berbasa-basi apalagi pada orang yang tidak ingin dirinya kenal lebih jauh.


"Tya, kita sudah sampai, ayo turun." Kata sang ayah. Adistya tak banyak bertanya, hanya mengikuti langkah ayahnya yang masuk ke dalam rumah besar yang di datanginya.


Entah lah Adistya tidak tahu sama sekali perihal rumah siapa ini dan kenapa mereka pergi ke tempat ini, bukan Cafe atau restoran yang biasa ayahnya jadikan tempat bertemu dengan laki-laki yang di pilihkan. Namun Adistya terlalu malas untuk bertanya, toh nanti juga akan tahu dengan sendirinya begitu si pemilik rumah membukakan pintu.


Tiga kali ayahnya membunyikan bel sampai beberapa detik kemudian seorang laki-laki seusia ayahnya membukakan pintu, dan menyambut ramah mereka sebelum kemudian mempersilahkan masuk dan membawa mereka menuju ruangan yang sudah dapat di pastikan Adistya bahwa laki-laki paruh baya itu membawanya ke dapur.


Ingat ya, dirinya bukan peramal hanya saja aroma masakan tercium oleh hidungnya, dan itu benar-benar membuat perutnya yang kebetulan belum di isi, memberontak hingga mengeluarkan bunyi nyaring yang syukurnya hanya di dengar oleh dirinya sendiri.


"Malam tante," sapa Adistya dengan sopan. Tidak biasanya memang, hanya saja Adistya masih memiliki tata krama untuk berlaku pada orang tua. Dan sepertinya kali ini sang ayah benar-benar niat menjodohkannya sampai membawanya langsung ke hadapan orang tua si pria yang akan di jodohkannya, entah siapa pria itu, karena hingga saat ini pun sosok itu belum terlihat.


Namun dalam hati ia berharap bahwa laki-laki yang sekarang ini berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, karena sepertinya kali ini Adistya akan sedikit kesulitan dalam melayangkan penolakan karena sudah merasa nyaman dengan keluarga hangat ini. Dan semoga saja anak dari pasangan paruh baya ini pun memiliki hati yang hangat seperti kedua orang tuanya. Jika tidak ...


"Selamat malam semua, maaf aku telat." Suara di belakangnya membuat Adistya terpaku di tempatnya, ia terpesona akan suara merdu itu dan Adistya yakin bahwa si pemilik memiliki wajah tampan bak pangeran di negeri dongeng, atau seperti laki-laki khayalannya yang ia bubuhkan dalam sebuah tulisan? Oh Tuhan haruskan ia segera menoleh, atau pura-pura tidak mendengar dan berlaku seolah tak tertarik?


"Ck, kamu itu kebiasaan banget gak pernah tepat waktu kalau mama minta makan malam bersama," rajuk Avril, yang tak lain adalah nyonya di rumah ini.


"Maaf mama sayang, Gavril tadi banyak pasien di rumah sakit, jadi telat deh pulangnya."


Adistya sontak menoleh begitu nama yang di sebutkan pria itu mengganggu pendengarannya, dalam hati ia berharap bahwa itu bukan nama yang sama dengan orang yang sama, hanya saja begitu tatapan mereka bertemu ...


"Lo!" mereka berseru dengan bersamaan, saling menunjuk satu sama lain, dan saling melempat tatapan terkejut, membuat ketiga orang paruh baya di sana menatap penuh tanya.


"Lo ngapain disini?" tanya keduanya secara bersamaan.


"Jelas gue ada di sini, ini rumah orang tua gue!" katanya dengan menekankan kata terakhir. "Harusnya gue yang tanya, ngapain lo disini?"


Merutuki dirinya dalam hati dengan pertanyaan bodoh yang sudah jelas jawabannya, membuat Adistya kini tak bisa membalas. Dan beruntungnya sang tuan rumah menginterupsikan mereka untuk segera memulai makan malam. Setidaknya Adistya bisa bernapas lega untuk saat ini walau rasa kesal itu belum juga mereda.


Menyesal rasanya karena tadi hatinya sempat memuji laki-laki itu. Jika saja tahu lebih awal bahwa ini rumah orang tua pria itu maka Adistya akan lebih dulu melarikan diri sebelum ayahnya berhasil menariknya masuk.


"Adistya apa kamu setuju?" suara tanya itu mengejutkannya dari lamunan yang tentu saja penuh dengan makian untuk laki-laki yang saat ini duduk di hadapannya, menatapnya dengan tajam yang sarat akan sebuah ancaman.


"Maaf tante, bisa di ulang pertanyaannya?" takut-takut Adistya bertanya. Jujur saja sejak tadi ia tidak fokus pada apa yang tengah di bicarakan semua orang di meja makan ini, bahkan perut keroncongannya yang sejak tadi meminta asupan pun tiba-tiba tak lagi selera pada makanan yang tersaji siap memanjakan lidahnya.


Senyum lembut wanita paruh baya itu berikan, sebelum kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Adistya ingin sekali memutarkan waktu ke beberapa jam sebelum ini dan menolak tegas permintaan sang ayah untuk datang pada acara makan malam ini.


***


See you next Chap !!!