
Happy Reading !!!
***
“Baby, aku senang kamu sudah sembuh. Bisa berjalan seperti sediakala,” ucap Romeo mengulas senyumnya. “Dan seperti yang aku janjikan beberapa bulan yang lalu, aku akan menikahimu,” lanjut Romeo masih dengan senyumnya. Bahagia karena pada akhirnya ia bisa mewujudkan keinginannya untuk mempersunting Adistya yang mencuri perhatiannya sejak awal mereka bertemu di Swiss dulu.
“Waktu itu kamu menolakku karena tidak percaya diri dengan keadaanmu. Sekarang bukankah tidak ada alasan lagi untuk itu? Tidak ada alasan lagi untuk kita menunda pernikahan kita. Sungguh, Beib, aku ingin segera memilikimu, menjadikanmu ratu dalam istanaku dan membahagiakan kamu dengan Gavin juga anak-anak kita yang lainnya nanti. Jadi, kapan kamu siap menikah denganku? Aku akan minta orang tuaku untuk datang menemui Ayahmu. Kamu tahu mereka sudah tak sabar ingin melihatku menikah,” Romeo bicara panjang lebar dengan raut wajah antusias, sementara Adistya hanya diam, bingung harus merespons bagaimana.
Sejak awal menjalin hubungan dengan Romeo, Adistya tidak memikirkan untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi dengan pria bule itu, tapi melihat bagaimana pria itu begitu mengharapkannya, membuat Adistya merasa bersalah. Tidak seharusnya ia menerima Romeo dulu jika pada akhirnya ia tidak bisa mencintai pria itu. Adistya seharusnya tahu sejak awal bahwa dirinya tidak akan bisa membuka hati untuk pria lain. Tidak, sebelum bayangan Gavril hilang sepenuhnya.
Salahnya memang yang telah berani coba-coba hanya karena ingin membuktikan bahwa ia pun bisa bahagia tanpa mantan suaminya, tapi itu semua nyatanya tidaklah mudah. Kebenciannya malah berujung pada kerumitan. Adistya tidak tahu harus bagaimana saat ini, menolak ajakan menikah Romeo bukanlah hal yang bijak, tapi menerima terasa berat Adistya lakukan.
Adistya bingung, ia tidak ingin mengecewakan, tapi juga ia tidak ingin jika harus kembali pasrah pada sesuatu yang tidak di harapkannya. Ia tidak ingin kembali mengorbankan dirinya sendiri. Tapi apa yang harus ia lakukan saat ini? Romeo sudah berada dihadapannya, mengutarakan niatnya. Adistya tidak bisa jika harus menghancurkan harapan pria itu, Romeo terlalu baik untuk dirinya kecewakan.
“Tuhan, aku harus bagaimana?” jerit hati Adistya.
****
Karena Romeo tak juga kunjung pulang dan rindu Adistya terhadap putranya tak lagi bisa di bendung, akhirnya Adistya memutuskan untuk pergi menemui putranya itu dengan ditemani Romeo sesuai dengan apa yang di usulkan sang ayah.
Tiga jam lebih waktu yang Adistya dan Romeo habiskan untuk tiba di rumah besar dua tingkat yang terlihat asri itu. Adistya lebih dulu turun dari mobil yang di kendarai Romeo, melangkah lebih dulu meninggalkan pria itu saking tak sabarnya ia bertemu dengan sang putra.
Namun sayang, Adistya tidak bisa langsung bertemu dengan anaknya itu, karena Gavin tidak sedang berada di rumah. Bocah itu ada di rumah sakit cabang yang keluarga Gavril miliki di kota ini, sekaligus tempat kerja Gavril yang baru setelah meninggalkan kantornya di rumah sakit pusat gara-gara keegoisan Adistya. Ya, Adistya mengakui bahwa itu kesalahannya.
“Tahu kamu akan datang, tadi Mama minta Gavin gak sekolah dan ke rumah sakit,” ucap Avril begitu mempersilahkan Adistya dan Romeo masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
“Iya Ma, Tya juga lupa ngasih kabar saking gak sabarnya ketemu Gavin,” jawab Adistya menunduk lesu. Adistya merutuki dirinya sendiri yang lupa mengabari kedatangannya pada sang mantan mertua.
“Ya sudah gak apa-apa, kalian istirahat dulu saja, nanti Mama kabarin Gavril biar ajak Gavin pulang.”
“Biar Tya yang samperin Gavin ke rumah sakit aja gimana, Ma? Tya takut Gavril lagi sibuk dan Tya malah ganggu,” ucapnya hati-hati.
Avril menatap lama mantan menantunya itu, lalu menoleh pada laki-laki bule yang ada di samping Adistya. “Kamu yakin?” tanya Avril kembali menatap Adistya. “Lokasinya cukup jauh dari sini, Ty, kalian gak hafal kota ini kan?”
Adistya mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan mantan mertuanya itu. Ia tidak hapal dengan kota ini, tapi …
“Tya bisa naik ojek online atau taksi ‘kan?” senyum Adistya kembali terbit saat terbesit ide itu. dirinya mungkin memang tidak hapal jalan di kota ini, tapi banyak kendaraan yang bisa mengantarnya ke sana tanpa takut kesasar. Sudah ada GPS juga kan? Semua tidak perlu dicemaskan.
Avril menghela napsanya, lalu mengangguk. “Tapi apa tidak sebaiknya kalian istirahat dulu? Perjalanan kalian cukup menyita waktu, loh, Mama tahu kalian cape.”
Dengan cepat Adistya menggelengkan kepalanya. “Tya gak cape sama sekali, Ma, Tya pengen cepat-cepat ketemu Gavin, Tya kangen.”
“Hon—”
“Kamu tunggu disini aja, istirahat. Biar aku pergi sendiri, janji tidak akan lama,” Adistya memotong cepat ucapan Romeo.
“Ta—”
“Gak perlu khawatir, aku akan hati-hati dan aku akan baik-baik saja. Kamu tunggu disini saja, oke?”
Kurang lebih satu jam waktu yang Adistya habiskan untuk tiba di rumah sakit tempat Gavril bekerja dan dimana anaknya berada. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Adistya masuk ke lobi rumah sakit dan segera menemui resepsionis, menanyakan keberadaan ruangan Gavril. Namun bukannya memberi tahu, resepsionis itu malah memintanya untuk menunggu, hingga beberapa menit kemudian seorang perempuan dengan pakaian rapinya datang menghampiri Adistya dan memperkenalkan diri sebagai sekretaris Gavril.
Adistya kira yang akan menemuinya adalah Gavril sendiri, tapi ternyata … ia sedikit kecewa sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi, Adistya tidak bisa memaksa Gavril untuk bertemu dengannya meskipun sebenarnya Adistya menginginkan itu. Ada kata maaf yang ingin Adistya sampaikan pada mantan suaminya. Namun sepertinya itu tidak bisa Adistya utarakan mengingat Gavril sudah menyerah padanya, dan pria itu juga sempat mengatakan bahwa tidak akan lagi menemuinya dan mengganggu hidupnya. Sudah dapat Adistya pastikan bahwa Gavril pasti akan menghindar darinya.
“Gavin ada di sana, Bu,” si sekretaris tadi menunjuk salah satu ruangan yang ada di lantai empat tempatnya berpijak saat ini. Dan Adistya tentu saja mengikuti arah yang di tunjuk sekretaris Gavril, hingga netranya menangkap sosok mungil yang dirindukannya tengah tertawa bersama beberapa orang dengan pakaian pasien. Membuat Adistya menebak-nebak mengenai apa yang tengah di lakukan anaknya di sana.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Bu,” ucap perempuan itu berpamitan.
Adistya hanya mengangguk dan tidak lupa mengucapkan terima kasih, lalu kembali menoleh ke arah Gavin berada sebelum kemudian melangkah dan memanggil anaknya itu.
“Bunda?" teriak bocah itu tak percaya, kemudian Gavin berlari dan berhambur pada pelukan Adistya yang sudah menunggu sambil merentangkan tangannya. “Akhirnya Bunda datang juga,” ucap bocah itu bahagia.
“Iya dong, Bunda kan kangen anaknya Bunda, makanya datang ke sini.”
“Gavin juga kangen, Bunda,”
“Tidak rindu Daddy?” pria yang sejak tadi bungkam membuka suaranya dan itu berhasil mengalihkan ke dua orang yang tengah saling memeluk itu, bukan hanya Gavin yang tidak menyadari keberadaan Romeo, Adistya pun sempat lupa bahwa dirinya datang bersama pria itu.
“Miss you Daddy,” ucap Gavin beralih pada Romeo dan memeluknya erat sebelum kemudian kembali pada pelukan sang Bunda, dan seperti biasa Gavin menceritakan apa yang menarik menurutnya termasuk bercerita dan mengenalkan bundanya itu pada teman-temannya di ruangan yang semula menjadi tempatnya bermain.
Adistya terharu mendengar bagaimana putranya itu menghabiskan waktu selama satu tahun belakangan ini tanpa dirinya.
Gavril memang ayah yang baik, pria itu tidak menelantarkan anaknya di saat pria itu sendiri sibuk dengan pekerjaannya. Gavril memiliki cara untuk membuat anaknya bahagia sekaligus memiliki pengetahuan dan rasa kemanusiaan yang tinggi.
Gavin bukan hanya bermain, tapi juga belajar hingga membuat Gavin mendapatkan cita-cita dan mimpi untuk di di kejar. Sebagai orang tua tentu saja Adistya bangga.
“Ayah kok belum ke sini, ya?” bocah itu celingukan setelah menoleh pada jam di pergelangan tangannya.
“Emang Ayah ke mana?” tanya Adistya berusaha mencari tahu.
“Ada di ruang kerjanya, tapi biasanya Ayah selalu jemput Gavin setiap jam empat sore karena kakak-kakak disini juga harus istirahat. Tapi kok sekarang belum datang?” heran bocah itu kembali menatap sekeliling.
Dalam hati Adistya berharap bahwa Gavril memang akan datang menjemput Gavin, tapi dengan cepat Adistya sadar bahwa mungkin alasan ketiadaan Gavril sekarang karena dirinya. Dan semua itu terjawab setelah Gavin menerima telepon dari Gavril yang mengatakan bahwa pria itu tidak bisa menjemputnya karena ada urusan. Tapi Adistya tahu bahwa itu adalah cara Gavril menghindar darinya.
“Ayah minta kita untuk pulang ke rumah Nenek duluan, Bun.”
Adistya menghela napasnya perlahan kemudian mengangguk dan menggandeng tangan anaknya untuk pergi dari sana.
Tanpa mereka sadari bahwa Gavril berada tak jauh dari mereka sejak tadi, memperhatikan Adistya, Romeo dan Gavin yang seperti keluarga kecil bahagia, menahan rasa sesak dan nyeri di hatinya seorang diri.
“Seharusnya aku yang ada di posisi itu,” gumam Gavril melihat kepergian Gavin yang di gandeng oleh Adistya dan Romeo di sisi kanan kirinya, diiringi tawa yang terdengar seolah sedang mengejeknya. Padahal tidak sama sekali berniat seperti itu. Romeo, Adistya dan Gavin tertawa kerena ocehan bocah itu, bukan menertawakan kekalahan Gavril atas cintanya.
***
Tbc ....