
Happy Reading !!!
***
“Bagun Gav,” Adistya mengguncang tubuh Gavril yang tertidur nyenyak di ranjangnya. Pria itu hanya menggumam singkat lalu kembali mencari posisi yang nyaman untuk tidurnya, membuat Adistya mendengus kesal.
“Kalau gak bangun juga aku pulang sendiri,” ancamnya sedikit berteriak tepat di depan telinga Gavril yang membuat laki-laki itu langsung terbangun. Bukan karena ancaman Adistya yang akan pulang sendiri, tapi teriakan di telinganya lah yang mengejutkan Gavril sampai refleks terbangun dan duduk dari tidurnya.
“Ck, kenapa gak sekalian pakai toa aja?” delik Gavril sambil mengusap-usap telinganya yang berdengung.
“Kalau ada udah aku pake dari tadi,” jawab Adistya tidak sama sekali merasa bersalah, semakin membuat Gavril kesal dan tanpa aba-aba Gavril menarik tangan Adistya kuat, membuat wanita itu terjatuh dan berbaring di tempat tidur, setelahnya Gavril menggelitiki perut Adistya hingga tawa kegelian menggema di ruang kamar itu.
“Berhenti Gavril, geli!” teriak Adistya memohon di tengah tawanya. Tapi Gavril tidak sama sekali menghiraukan, terus menggelitiki bahkan sampai kini tubuh Gavril berada di atas perempuan itu yang masih belingsatan karena kegelian.
“Bilang dulu kalau kamu bersedia nikah sama aku,”
“Gak mau,” sahut Adistya masih sambil terus tertawa dan tubuhnya bergerak ke sana sini menghindari gelitikan Gavril. Namun karena mendengar penolakannya itu Gavril malah semakin semangat memberikan gelitikan di pinggang dan perut Adistya. Tidak menghiraukan keringat dan air mata Adistya yang sudah berjatuhan akibat rasa gelinya. Gavril tidak ingin menyerah hingga mantan istrinya itu kembali setuju untuk menikah lagi dengannya.
“Ada anak kita lagi berkembang di perut kamu, Dis, yakin gak mau nikah sama aku?”
“Kemarin waktu hamil Gavin aku gak punya suami, tapi aku bisa melewatinya. Kalau pun bibit kamu kemarin berkembang, ya, biarin, gak akan terlalu sulit buat aku merasakan hamil tanpa kamu seperti sebelumnya.”
Gavril menghentikan gelitikannya, menatap nanar pada Adistya yang menghela napas lega. tangannya menyeka air mata dan keringat di pelipis, lalu berusaha untuk bangkit, mengubah posisi tidurnya jadi duduk, tapi tidak bisa karena Gavril berada tepat di atas perutnya. Laki-laki itu tidak menyingkir walau Adistya sudah berusaha mendorongnya.
“Aku yang tidak akan pernah bisa lagi membiarkan kamu berjuang sendiri melahirkan dan membesarkan darah dagingku. Kali ini aku ingin ikut andil, sekaligus untuk menebus kesalahanku yang dulu. Jadi aku mohon, menikahlah denganku. Izinkan aku menebus segalanya. Tolong jangan biarkan aku berlarut dalam penyesalan ini. Maafkan aku, Adis. Maafkan segala kesalahanku. Aku mohon,” ucapnya serius, membuat pergerakan Adistya terhenti dan beralih menatap tepat di mata laki-laki yang masih berada di atasnya.
Sekali lagi, Adistya mendorong tubuh Gavril dari atasnya dan kali ini lebih kuat sampai akhirnya laki-laki itu limbung dan Adistya bisa bangkit dari baringnya. Duduk di ranjang berhadapan dengan Gavril yang masih menatapnya sendu.
Adistya menangkup wajah tampan mantan suaminya itu lalu memberikan satu kecupan singkat di bibir pria itu. “Kamu serius mau menikah lagi sama aku?” tanya Adistya, di jawab anggukan yakin oleh pria di depannya.
“Tidak pernah aku seserius ini dalam hidupku,” kata Gavril dengan nada yakin.
Adistya melepaskan tangannya dari wajah Gavril lalu bangkit dari duduknya. “Kamu tunggu di sini sebentar.” Titahnya sebelum melangkah menuju meja kerjanya, mengambil buku serta balpoin dan mulai menulis. Sementara Gavril memutar tubuhnya, memperhatikan Adistya yang terlihat serius. Tidak ada niatan untuk Gavril melihat apa yang sedang perempuan itu lakukan. Gavril terlalu sibuk dengan pikirannya dan terlalu was-was menunggu jawaban Adistya.
Jujur saja, Gavril berharap banyak untuk bisa menikahi Adistya lagi. Gavril ingin memperbaiki dirinya, kesalahannya dan memberi keluarga lengkap untuk putranya. Gavril ingin menjalani rumah tangga bahagia dengan Adistya, menjadi suami yang baik untuk Adistya dan menjadi ayah yang baik pula untuk anaknya.
Gavril janji tidak akan pernah menyia-nyiakannya lagi. Karena kegagalan yang dirasakannya bertahun-tahun ini sudah memberinya pelajaran, sudah membuatnya sadar akan sesuatu yang berharga, dan akan cinta yang sesungguhnya. Cinta yang benar-benar membuat buta hingga takut saat tak melihatnya. Dan semua itu Gavril rasakan untuk Adistya. Perempuan yang dulu sangat di bencinya. Perempuan yang dulu dirinya anggap sebagai pengganggu dalam hidupnya. Sekarang Gavril malah justru tidak ingin jauh darinya. Gavril kehilangan saat tak mendapati senyum Adistya dan Gavril merasa gila saat perempuan itu pergi dari sampingnya. Gavril tidak ingin jadi benar-benar gila karena tidak bisa memiliki Adistya.
“Sekali lagi aku bertanya, apa kamu benar-benar yakin ingin menikah lagi denganku?” tanya Adistya dengan nada tegas, mengejutkan Gavril yang sejak tadi melamun.
“Ya aku benar-benar ingin menikahi kamu lagi. Aku ingin menebus dosaku bertahun-tahun lalu, aku ingin memperbaiki pernikahan kita yang pernah hancur, dan aku ingin memberi keluarga untuh untuk Gavin. Lebih dari pada itu, karena aku mencintai kamu, aku menginginkan hidup denganmu, membina rumah tangga bahagia denganmu dan, ya, aku tidak akan pernah bisa hidup normal jika tidak bersamamu. Aku serius ingin menikahimu lagi, Dis,” ucapnya panjang lebar dengan sorot mata tulus dan kesungguhan dari setiap katanya. Adistya tentu saja terharu mendengarnya.
“Nih,” Adistya menyerahkan buku yang sebelumnya sudah ia tuliskan sesuatu. “Baca baik-baik terlebih dulu,” perintah Adistya saat Gavril menatapnya dengan kerutan tak paham.
“Prenuptial Aggreement?” Adistya menganggukkan kepalanya. Lalu mempersilahkan Gavril untuk melanjutkan membaca poin-poin yang di tulisnya.
Prenuptial Aggreement
Pihak Pertama : Gavril Mahendra
Pihak Kedua : Adistya Fasyin
Poin-poin perjanjian pranikah:
Jika pihak pertama mengingkari janji dan berselingkuh, pihak kedua berhak menggugat cerai dan semua harta serta rumah beserta isinya akan jatuh kepada pihak ke dua.
Pihak pertama dilarang menemui anaknya, sembunyi-sembunyi atau pun terang-terangan.
Jika terbukti pihak pertama melukai, mengkhianati dan mengecewakan pihak kedua, maka pihak pertama harus keluar dari rumah tanpa barang dan harta sepeserpun.
Tidak menemui pihak kedua dan anak-anak seumur hidup.
“Tidak akan pernah ada kata maaf lagi jika sampai kamu kembali melakukan kesalahan yang dulu,” ucap Adistya tiba-tiba, menghentikan Gavril yang tengah membaca poin-poin yang Adistya tulis.
“Jadi kamu setuju menikah lagi denganku?” tanya Gavril dengan wajah berbinar.
“Kamu setuju dengan Prenuptian Aggreement itu?”
Gavril mengangguk. “Aku tidak keberatan, apa pun syaratnya kamu boleh menuliskannya. Yang penting aku bisa nikah lagi sama kamu, bisa memiliki kamu dan menghabiskan sisa hidupku bersama kamu. Aku tidak akan pernah mengecewakan kamu, apalagi mengkhianatimu.” Yakinnya, membuat Adistya menyunggingkan senyum manis.
Sebenarnya perjanjian itu ia buat hanya untuk jaga-jaga bila mana Gavril kembali khilaf seperti beberapa tahun lalu. Itu Adistya buat hanya untuk menegaskan sejak awal bahwa tidak akan ada lagi maaf jika sampai kejadian dulu terulang dan Gavril tidak berhak atas anaknya.
Mengenai harta, Adistya tidak peduli. Tapi disana ia tulis hanya untuk kembali berjaga-jaga seandainya Gavril selingkuh atau tergoda oleh perempuan lain. Pria itu tidak akan memiliki apa pun ketika Adistya menceraikannya. Adistya hanya ingin membuat Gavril menderita yang benar-benar menderita jika sampai luka dan kecewa itu kembali ia dapatkan.
“Kalau begitu, berikan ini ke pengacara kamu, dan besok aku ingin terima hasilnya yang sudah kamu dan pengacara serta Mama dan Papa kamu tanda tangani. Terserah kamu mau anggap aku matre atau sejenisnya, aku tidak peduli. Aku melakukan itu bukan tanpa alasan. Dan mulai saat ini aku ingin lebih hati-hati untuk masa depanku dan anak-anakku,” jelas Adistya. Gavril mengangguk paham lalu memeluk perempuan itu dengan erat.
“Sekarang kamu hubungi pengacaramu dan urus perjanjian itu, lalu pulang ke Bandung bicarakan ini ke Mama dan Papa, jangan lupa Gavin kasih tahu juga. Lusa aku tunggu kamu bawa penghulu. Hari itu juga kita akan menikah,” ucap Adistya tanpa jeda, membuat Gavril melongo tak percaya.
“Kalau begitu aku pulang, taksiku sudah menunggu.” Lanjut Adistya, lalu bangun dari duduknya dan meraih tas tangannya yang tergeletak di sofa, kemudian melayangkan satu kecupan singkat di bibir Gavril dan melenggang pergi meninggalkan pria itu yang masih terbengong. Mungkin mencerna apa yang Adistya ucapkan. Sampai beberapa detik kemudian …
“Lusa? Sayang apa kamu serius?” tanya Gavril berteriak.
Adistya yang baru saja setengah jalan menuruni anak tangga berhenti, senyumnya tersenungging sebelum kemudian menoleh ke arah kamar dimana Gavril berada. "Aku tidak pernah seserius ini, Sayang. Jadi jangan lupa, lusa, atau tidak sama sekali,” jawab Adistya berteriak pula.
Gila. Ya, Adistya akui bahwa ini benar-benat gila. Adistya tidak menyangka akan memberikan waktu sesingkat itu untuk Gavril, tapi ia tidak menyesalinya. Bukan hanya Gavril yang menginginkannya, tapi ia pun sama. Ia ingin menjalani pernikahan dengan pria itu membangun rumah tangga yang bahagia dan memberikan keluarga lengkap untuk anaknya. Adistya ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan Gavril. Maka dari itu keputusan ini ia ambil, semoga semua akan berjalan lancar walau waktunya mepet dan terkesan buru-buru.
“Aku yakin kamu akan mengupayakannya, Gav.”
***
see you next part!!