
Selamat Membaca!!!
***
Sinar matahari yang menerobos masuk dari celah jendela mengusik tidur Adistya yang terasa singkat. Perempuan itu mengerjap untuk menyesuaikan cahaya sebelum kemudian membuka matanya dan menengok ke arah samping tempat tidurnya yang masih tetap rapi seperti sebelumnya.
Hawa dingin terasa saat tangan mungilnya menyentuh pembaringan yang biasanya Gavril tempati, membuktikan bahwa sang suami memang tidak tidur di sebelahnya, atau mungkin laki-laki itu tak pulang mengingat Adistya menunggu hingga larut malam, dan tanda-tanda kedatangan pria itu tidak juga Adistya dengar hingga pada akhirnya ia tertidur karena terlalu lelah setelah seharian menangis.
Menghembuskan napas kecewa, Adistya kemudian bangkit dari tidur dan melangkah menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Untuk mandi ia terlalu malas, lagi pula Adistya sedang tidak punya janji dan memang enggan untuk beranjak pergi.
Ia memilih untuk diam di rumah menunggu suaminya kembali dan membicarakan mengenai perempuan yang kemarin bersama laki-laki itu. Bagaimanapun Adistya butuh penjelasan mengenai itu.
Setelahnya Adistya keluar dari kamar dan mengecek kamar suaminya yang ternyata kosong. Entah karena pria itu sudah pergi atau memang tidak kembali, tapi Adistya berusaha untuk berpikir positif. Setidaknya untuk saat ini, sebelum penjelasan dirinya dapatkan. Namun jika kenyataan kembali menyakitkan, siapkah ia kembali bertegar hati? Jawabannya tentu saja Adistya tidak tahu.
Teng nong …
Adistya menghentikan langkahnya untuk masuk lebih dalam ke kamar Gavril begitu terdengar bel berbunyi, menandakan adanya tamu yang datang.
Teng nong …
“Iya sebentar,” teriak Adistya seraya melangkah menuruni satu per satu undakan tangga. Kemudian ia tersenyum saat membuka pintu utama rumah Gavril dan mendapati ibu mertuanya di sana, tersenyum sambil menenteng rantang tiga susun andalannya.
“Kamu belum sarapan ‘kan, Ty?” tanya Avril begitu Adistya mempersilahkan mertuanya masuk.
“Belum, Ma. Kebetulan Tya baru bangun tidur,” ucapnya seraya meringis kecil, ketahuan sekali kalau dirinya adalah perempuan malas. Namun beruntunglah Adistya mendapatkan mertua seperti Avril yang baik dan juga pengertian.
Wanita setengah baya yang masih terlihat awet muda itu tidak pernah mempermasalahkan kemalasan Adistya, tidak pernah pula menuntut Adistya untuk bisa ini dan itu. Avril adalah sosok mertua idaman, tidak pernah mengomel, tidak juga membicarakan keburukan menantunya. Hanya soal kehamilan lah wanita itu sedikit bawel, karena sudah tak sabar ingin menimang. Tapi Adistya bisa memaklumi itu. Toh sekarang dirinya sudah mengandung, yang mana artinya keinginan Avril akan segera terwujud.
“Mama rajin banget pagi-pagi udah ke sini, Papa gak marah memangnya?” tanya Adistya memulai obrolan setelah mereka berdua berada di meja makan dengan Avril yang sibuk mengambil piring serta sendok untuk mereka makan bersama.
“Papa kamu pagi-pagi udah pergi mancing sama teman-teman tuanya. Makanya Mama ke sini dari pada bosan di rumah sendiri,” jawab Avril diakhiri dengan dengusan kecil, tanda bahwa wanita cantik paruh baya itu kesal.
Adistya yang melihat hanya terkekeh geli, kemudian mengalihkan obrolan agar tidak membuat mertuanya itu jengkel dan berakhir mengomel.
Berbagai hal Adistya dan Avril obrolkan hingga tidak terasa bahwa hari semakin beranjak siang dan Avril diharuskan pulang begitu sang suami mengabari bahwa pria itu sudah selesai memancing dengan teman-temannya.
Kini tinggal lah Adistya seorang diri, bertemankan sepi dengan bayangan mengenai kejadian kemarin yang terulang dalam kepalanya. Sedih dan sesak itu kembali dirasakannya, tapi Adistya memilih untuk bertegar diri, berlapang hati dan berusaha berpikir positif.
Sekali ini Adistya ingin percaya pada suaminya, ia ingin tidak berburuk sangka walau sulit, dan ia ingin kali ini untuk tidak meragukan perasaan sang suami seperti yang sebelum-sebelumnya. Meskipun Adistya sadar bahwa ini tidaklah mudah, terlebih dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan bagaimana Gavril mengabaikannya.
Tidak ingin terlalu memikirkan kejadian kemarin, Adistya beranjak menuju kamar begitu di lihatnya jam sudah menunjukan pukul dua siang dan ia belum sama sekali mandi sejak pagi. Dari dulu Adistya memang sudah menjadi pribadi yang malas mandi, di tambah dengan kehamilannya kini, membuat Adistya yang malas semakin menjadi pemalas.
Tanpa sadar tangan Adistya bergerak menyentuh perut ratanya, kemudian tersenyum geli begitu bayangan mengenai anaknya nanti yang tidak beda jauh malasnya seperti dirinya melintas di kepalanya.
“Jangan ya, Nak, kamu jangan jadi pemalas seperti Bunda. Kamu harus jadi anak yang pintar, rajin, dan baik,” ucapnya pada sang buah hati dalam kandungannya yang belum Adistya ketahui berapa usianya. Gara-gara Gavril, ia jadi lupa untuk memeriksakan kandungannya ke dokter.
...***...
“Baru pulang?” tanya Adistya begitu mendengar suara pintu di buka, menampakan Gavril dengan wajah lelahnya.
Malam ini Adistya memang sengaja menunggu di ruang tamu, ingin tahu respons suami tampannya itu yang sejak kejadian kemarin seolah lupa bahwa ada istri di rumah yang menunggu kabar.
“Iya.” Hanya itu jawaban yang Gavril berikan. Membuat Adistya tidak puas tentu saja.
“Mau makan dulu apa mandi dulu?” Adistya kembali melayangkan tanya, berusaha bersikap seperti biasanya, walau hati sudah ingin sekali mencecar pria itu dengan amarah.
“Mandi aja, aku udah makan malam di luar tadi,” jawabnya mengecewakan Adistya yang sejak sore tadi lelah berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam dengan harapan bahwa ia bisa makan bersama dengan suaminya seperti hari-hari biasanya sambil mengobrolkan mengenai kegiatan harian mereka masing-masing.
Adistya menatap nanar punggung Gavril yang berjalan menaiki tangga menuju lantai dua dimana kamar mereka berada. Pria itu tidak sama sekali menanyakan keadaannya, tidak sama sekali berniat mengajaknya naik bersama, dan sepertinya memang Gavril tidak berniat untuk bertemu dengannya mengingat pria itu langsung melewatinya begitu saja tanpa berlama-lama menatapnya. Benar-benar menyesakkan.
Pada akhirnya, Adistya berjalan ke dapur seorang diri dan duduk di meja makan tanpa ada yang menemani.
“Ayah kamu mungkin lagi lelah saat ini,” ucap Adistya sambil mengelus perutnya yang masih rata. Berusaha tersenyum tegar, walau hati teriris pisau.
...***...
Malamnya Adistya bertahan di kamarnya sendiri, di depan komputer dengan niat melanjutkan tulisannya, tapi yang terjadi malah dirinya melamun dan sesekali menoleh pada pintu kamar yang tertutup rapat
Berharap bahwa Gavril akan masuk seperti biasanya, mengajaknya tidur, atau sekedar untuk mengobrol dan menonton. Namun hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam sosok itu belum juga menampakkan diri, membuat Adistya penasaran, mungkinkah suaminya itu sudah tertidur?
Akhirnya Adistya memutuskan untuk mematikan teman setianya yang belakangan ini jarang di sentuh karena ia yang selalu memilih untuk menghabiskan waktu bersama Gavril.
Melangkah keluar dari kamar dan menuju kamar Gavril. Beberapa kali Adistya mengetuk pintu sampai sebuah sahutan terdengar menyuruhnya masuk.
“Kamu belum tidur?” tanya Adistya begitu pintu ia buka sedikit, hingga memperlihatkan Gavril yang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan mata yang fokus pada ponsel di tangannya. Entah apa yang sedang laki-laki itu lakukan, namun yang jelas Adistya merasa sesak karena Gavril tidak sama sekali menoleh ke arahnya.
“Belum,” hanya itu jawaban yang Gavril berikan.
“Aku boleh tidur di sini?” tanya Adistya hati-hati. Sebenarnya ia tidak harus izin karena bagaimanapun kamar Gavril adalah kamarnya juga, begitupun sebaliknya. Tapi saat ini keadaannya jelas berbeda.
Adistya sebenarnya lebih ke mencari perhatian Gavril dan ingin melihat respons pria itu. Namun sayangnya tak juga ia dapatkan.
Gavril tetap fokus pada ponselnya yang sesekali laki-laki itu tanggapi dengan senyum. Membuat Adistya bertanya-tanya mengenai apa yang membuat pria itu terlihat bahagia hanya karena sebuah gawai yang biasanya selalu terabaikan di atas nakas.
“Tidur aja,” jawabnya tanpa sedikitpun beralih dari ponsel di tangannya.
Kecewa tentu saja Adistya rasakan. Tapi ia memilih untuk tidak bertanya dan berjalan menuju ranjang, membaringkan tubuhnya di sisi kanan Gavril.
Kekehan Gavril berkali-kali Adistya dengar, menambah rasa sesaknya. Namun belum juga ada keberanian untuk Adistya bertanya. Hatinya terlalu sakit, dan ia belum cukup kuat untuk mendengar jawaban yang sekiranya akan suaminya itu berikan nanti.
Mungkin menunggu Gavril menjelaskannya lebih dulu adalah pilihan Adistya kali ini, ia akan berusaha sabar dan tegar untuk menunggu kejujuran suaminya. Semoga saja Gavril memang tidak memiliki niat untuk mengecewakannya seperti janji yang pernah pria itu ucapkan sebelumnya.
Berharap.
Boleh bukan?
...***...
Hoeek …
Adistya terduduk lemas di depan closet duduk yang masih terbuka di kamar Gavril. Pagi-pagi sekali dirinya terbangun akibat rasa mual yang belakangan ini memang sering menyerangnya.
Harapannya Gavril akan datang dengan raut wajah khawatir dan segera membawanya ke rumah sakit untuk mengecek keadaannya.
Namun sayang, angannya terlalu tinggi. Karena hingga Adistya kembali ke kamar, Gavril malah justru masih asyik di atas tempat tidur, bergelung nyaman di bawah selimutnya.
Lagi-lagi membuat Adistya kecewa, tapi ia coba untuk menelannya dan memilih mengabaikan itu, lalu berjalan keluar dari kamar Gavril menuju dapur, membuatkan sarapan untuk sang suami, kemudian setelahnya kembali ke kamar Gavril dan melihat bahwa ranjang sudah kosong, dengan percikan air terdengar dari arah kamar mandi membuat Adistya tahu bahwa suaminya pastilah sedang mandi.
Seperti biasanya, Adistya menyiapkan pakaian untuk Gavril dan menyimpannya di atas sofa, sementara dirinya merapihkan ranjang sambil menunggu Gavril selesai. Setelahnya barulah mereka sarapan bersama. Biasanya seperti itu, tapi hari ini Gavril memilih untuk melewatkan sarapan dengan alasan bahwa pria itu harus dengan cepat ke rumah sakit.
Lagi, lagi dan lagi Adistya merasakan kecewa. Namun lagi, lagi dan lagi juga Adistya berusaha untuk menelannya dan mengabaikan itu, menganggap bahwa Gavril memang benar-benar harus cepat datang ke rumah sakit karena urusan pekerjaannya.
Adistya tahu bahwa dirinya bodoh, tapi sepertinya itu memang pilihan yang tepat untuk kali ini. Adistya ingin tahu sampai mana suaminya itu terlena akan dunia luar yang tak berhak lagi pria itu nikmati, ia ingin tahu sampai mana suaminya itu mengabaikannya, khilaf akan sikapnya, dan Adistya ingin tahu sebatas mana kesabarannya pria itu uji.
Adistya ingin tahu sekuat apa cinta yang mereka miliki dan sekuat apa hubungan mereka akan bertahan. Karena Adistya yakin bahwa di balik semua ini pasti ada campur tangan Tuhan.
Seperti dalam kisah di setiap novelnya, selalu ada kisah yang bercampur antara imajinasi dan harapannya.
****
See you next part !!!