
Selamat Membaca!!!
***
Gavril begitu terkejut saat mendapat kabar dari sekretarisnya mengenai tabrak lari yang mantan istrinya alami. Belum satu jam ia berpisah dengan perempuan itu, kini Gavril mendengar bahwa wanita itu berada di UGD dan dalam keadaan yang mengkhawatirkan.
Tanpa menunggu lama dan mendengar penjelasan lebih dari sekretarisnya itu, Gavril segera turun dari ruangannya, ia ingin melihat langsung kondisi mantan istrinya. Namun sebelum itu tidak lupa Gavril menitipkan anaknya pada sang sekretaris.
“Pak Gavril?” terkejut sebagian orang di ruang UGD saat mendapati kehadiran pemilik rumah sakit sekaligus rekan kerja mereka dulu yang sudah lama tidak menampakan diri di sana.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Gavril dengan wajah cemas dan sedihnya pada salah satu dokter yang menangani Adistya yang terbaring tak sadarkan diri dengan darah memenuhi wajah dan pakaiannya.
Gavril berjalan semakin dekat ke arah ranjang Adistya, mengabaikan orang-orang yang masih terkejut dengan keberadaannya, kemudian Gavril meraih sarung tangan karet yang di berikan salah satu suster disana seolah tahu apa yang Gavril inginkan.
Dengan cepat dan hati-hati, Gavril membersihkan darah yang ada di wajah mantan istrinya, lengan, kaki dan kepala tidak lepas dari perhatian Gavril, di bantu dokter yang sebelumnya dan beberapa suster lain hingga kemudian Gavril merima alat untuk menjahit luka yang di terima oleh Adistya dari tabrak lari yang wanita itu alami. Dan Gavril bersumpah tidak akan pernah membiarkan si pelaku lolos, di sengaja atau tidaknya kecelakaan ini terjadi.
Selama kurang lebih dua jam Gavril berada di ruang UGD menangani langsung luka-luka Adistya, kini Gavril bisa sedikit bernapas lega dan memilih untuk keluar sebentar, menemui anaknya yang sejak tadi ia tinggalkan. Gavril yakin bahwa putranya itu sudah bangun atau bisa saja sudah tertidur kembali, namun Gavril ingin memastikan langsung keadaan Gavin.
Begitu keluar dari UGD, Gavril dihadapkan langsung dengan Satya, Seno dan juga Gatan—ayahnya. Ketiga pria itu langsung memberondong pertanyaan mengenai keadaan Adistya di dalam sana. Dengan letih dan juga sedih, Gavril akhirnya menjelaskan dengan rinci mengenai kondisi Adistya saat ini dan itu membuat ketiga orang di sana merasa terpukul, terlebih Satya yang langsung luruh ke kursi tempatnya duduk semula, air mata pria paruh baya itu bahkan menetes tanpa bisa di cegah.
“Sebentar lagi, Adistya akan di pindahkan ke ruang perawatan. Papa gak keberatan kan untuk nunggu dan ikut antar Adistya ke ruangan rawatnya? Gavril mau ke atas dulu, cek keadaannya Gavin,” Gavril menoleh pada sang papa, dan pria paruh baya itu mengangguk, tidak sama sekali merasa keberatan.
Setelahnya Gavril pamit pada Satya dan juga Seno, sebelum kemudian melangkahkan kaki menuju lift yang akan mengantarnya menuju ruangan kerjanya, ruangan dimana anaknya juga di rawat. Selain untuk mengecek keadaan anaknya, Gavril juga akan membersihkan tubuhnya karena kemeja yang ia gunakan sejak pagi kini sudah kotor dengan noda darah Adistya.
Setibanya di ruangan, Gavril mendapati kehadiran sang mama dan juga adik ipar dari mantan istrinya. Hanya sejenak Gavril berbasa basi dengan kedua perempuan itu sebelum mengecek kondisi sang putra dan menyuntikkan obat ke dalam botol infus Gavin, setelahnya ia melangkah menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya.
Terlalu banyak kejutan yang hari ini Gavril dapatkan, dan itu semua kabar yang tidak mengenakkan. Gavril merasa gagal untuk melindungi Adistya dan menjadi ayah untuk Gavin.
Satu tetes air mata terjatuh di sudut mata Gavril. Sedih, marah, dan segala macam perasaan lainnya berkecamuk menjadi satu. Hanya bahagia yang tidak Gavril rasakan saat ini apalagi mengingat kondisi Adistya yang jauh dari kata baik. Kecelakaan itu membuat mantan istrinya mengalami kelumpuhan dan itu tidak bisa di pastikan permanen atau tidak. Kondisi Adistya lah yang menjadi pukulan terbesar Gavril. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi wanita itu ketika sadar nanti. Mungkinkah akan histeris atau menangis dalam diam seperti yang selama ini selalu wanita itu lakukan di kala luka dirinya goreskan.
“Maafin aku, Dis, maafin aku yang tidak mampu melindungimu.”
***
“Ayah, Bunda mana? Kenapa dari kemarin gak ke sini? Gavin mau ketemu Bunda,”
“Bunda sakit apa memangnya? Apa tertular sakitnya Gavin?” tanya polos bocah itu. Gavril tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya kemudian menjelaskan mengenai kecelakaan yang Adistya alami dan sedikit banyak penjelasannya bisa Gavril pahami, membuat bocah itu menggerutu di tengah tangisnya.
“Jadi, Gavin kalau nyeberang harus hati-hati, lihat kanan kiri dan harus di damping orang dewasa. Jangan pernah main di jalan, ingat!”
“Baik kapten!” ujarnya seraya menaikkan tangan menuju pelipisnya, melakukan gerakan hormat.
“Good Boy!” bangga Gavril mengusak lembut rambut sang putra. Setelahnya Gavril melanjutkan menyuapi bocah itu, lalu memberinya obat dan membiarkan Gavin untuk istirahat, sementara dirinya akan mengunjungi ruang rawat Adistya, melihat keadaannya dan mungkin sejenak menemani perempuan itu di sana. Banyak kata maaf yang ingin Gavril sampaikan dan banyak dukungan serta semangat yang ingin ia berikan kepada mantan istrinya itu.
Gavril turun dari ruangannya setelah sang mama datang untuk bergantian menjaga Gavin. Wanita baya itu kebetulan baru saja datang dan tidak lupa membawakan sarapan, membuat Gavril tersenyum dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Meskipun sudah pernah dirinya kecewakan, Avril tidak sedikitpun mengurangi kasih sayangny. Dan rasanya menyesal karena dulu ia pernah membuat wanita itu menangis. Andai waktu bisa di ulang, Gavril akan menjadi anak yang patuh dan tidak keras kepala.
“Ayah udah sarapan?” tanya Gavril pada mantan ayah mertuanya. Pria paruh baya itu menggeleng seraya melangkah menuju sofa dan membiarkan Gavril duduk di kursinya semula, di samping ranjang Adistya yang sejak semalam masih setia terlelap.
“Mama bawain sarapan, makan dulu, Yah. Setelah itu Ayah pulang, istirahat, Adistya biar Gavril yang jaga. Ingat, Ayah juga harus jaga kesehatan karena Adistya membutuhkan dukungan kita semua.”
Satya tak bisa membantah, karena bagaimanapun apa yang menantunya itu ucapkan benar adanya. Satya sudah mendengar mengenai kondisi anaknya, dan itu tentu saja membuatnya sedih dan juga terluka. Tapi sebisa mungkin kesedihan itu ia timbun demi menyemangati anaknya, Satya tahu jelas bahwa Adistya bukanlah tipe orang yang gemar dikasihani.
“Kalau begitu Ayah pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa kabarin aja. Kamu juga jangan lupa sarapan dan istirahat, ada Gavin dan Tya yang masih butuh kamu.”
Gavril menatap kepergian Satya dalam diam, lalu kembali menoleh pada Adistya yang terbaring nyaman di ranjang. Memperhatikan sejenak wajah cantik yang dihiasi beberapa luka itu kemudian meraih tangan kanannya yang bebas dari selang infus, mengecupnya sejenak seraya menggumamkan kata maaf berkali-kali.
Tak lama kemudian, salah satu suster datang lengkap dengan tray berisi keperluan untuk membersihkan luka Adistya. Gavril mengambil alih tugas perawat itu karena ingin memberikan yang terbaik untuk Adistya, Gavril ingin menangani langsung mantan istrinya. Sekarang ia hanya bisa merawat dan menyembuhkan luka di tubuh wanita itu, Gavril berharap untuk kedepannya ia bisa merawat dan menyembuhkan luka hati sang mantan sampai tidak ada lagi sakit yang bisa Adistya rasakan.
Perawat itu hanya diam memperhatikan, ada haru dan juga iri melihat betapa lembut dan telatennya Gavril membersihkan luka-luka itu dan jelas terlihat masih ada cinta di sepasang mata hitam milik Gavril yang sejak kemarin terlihat sendu. Sebagian besar karyawan di rumah sakit tahu siapa Adistya karena tujuh tahun yang lalu, sebelum perpisahan itu terjadi Gavril dengan bangganya menceritakan sosok istrinya, terlebih Adistya yang beberapa kali berkunjung untuk mengantar makan siang atau sengaja ikut untuk menunggu suaminya selesai dengan pekerjaannya.
Dan tidak sedikit pula yang tahu mengenai Gavril dengan Rania sebelum pria itu menikah dengan Adistya, karena sebelum Rania menghilang, perempuan itu sempat bekerja di rumah sakit ini dan berteman baik dengan beberapa dokter dan karyawan lainnya. Dan hubungan keduanya tentu saja tidak ditutupi.
Namun semua tidak menyangka bahwa setelah sekian lama menghilang, Rania kembali dan mengejutkan semua orang dengan kembalinya hubungan mereka, padahal sudah jelas bahwa Gavril bukan lagi pria lajang.
Tapi jelas saja tidak ada yang berani mengatakan hal itu pada Rania, sampai akhirnya kabar perceraian Gavril dan Adistya terdengar seantero rumah sakit, di susul oleh kabar pernikahan Gavril dengan Rania semakin membuat heboh rumah sakit. Berbagai tanggapan terdengar, cibiran, cemoohan, juga tuduhan perusak rumah tangga orang melekat untuk Rania. Tapi tidak sedikit yang menganggap bahwa Adistya lah orang ketiga di antara Gavril dan Rania mengingat kedua orang itu yang lebih dulu menjalin cinta. Namun kembali lagi, mereka semua tidak bisa menghakimi karena jelas saja urusan hati tidak ada yang bisa memahami, bahkan si pemilik itu sendiri.
***
Tbc ....