
Selamat Membaca!!!
***
Tidak seperti biasanya Gavril bergegas pulang begitu jam kerjanya selesai. Bahkan sejak siang tadi Gavril sudah tidak sabar untuk pulang, ingin segera bertemu dengan istrinya yang saat pagi dirinya tinggal pergi bekerja masih tertidur dengan nyenyaknya.
Gavril yang tahu bahwa Adistya baru saja terlelap tidak tega jika harus membangunkannya. Jadi, hanya kecupan singkatlah yang akhirnya Gavril tinggalkan di kening istrinya. Dan sepanjang hari ini ia begitu merindukan sosok manis Adistya.
Entahlah mengapa jadi seperti ini, yang jelas Gavril merasa hatinya berbunga-bunga, bahagianya tidak bisa dideskripsikan dan senyum terus saja terukir, membuat suster yang mendampinginya menangani pasien sejak pagi keheranan karena tidak biasanya Gavril semurah senyum itu selain kepada pasiennya.
“Dis, gue pulang!” teriak Gavril begitu masuk ke dalam rumah. Berjalan cepat menuju lantai dua di mana kamar sang istri berada saking tidak sabarnya ingin bertemu setelah seharian menahan rindu yang datang tanpa dirinya minta.
"Dis," panggilnya lagi sambil mengetuk pintu kamar Adistya, namun tidak juga mendapat sahutan. Hingga akhirnya Gavril menekan tuas pintu dan masuk ke dalam kamar perempuan itu, tapi sayangnya yang ingin di temui tidak berada di sana, begitupun di kamar mandi yang ada di dalamnya. Gavril mengernyitkan kening, hatinya bertanya-tanya mengenai ke mana perginya sang istri karena sejak pagi ia tidak sama sekali mendapatkan pesan yang menyatakan bahwa Adistya pergi.
“Lo udah pulang?”
Sontak Gavril menoleh ke belakang, lalu menghela napasnya lega begitu mendapati sang istri berdiri di ambang pintu.
“Ngapain di kamar gue?” alis Adistya terangkat satu, heran dengan keberadaan Gavril di kamarnya.
“Gue nyari lo, di panggil-panggil gak nyaut juga, ya udah akhirnya gue masuk. Lo abis dari mana?” tanya Gavril seraya berjalan mendekat ke arah Adistya yang masih setia berdiri di ambang pintu, lalu melayangkan kecupan singkat di kening istrinya, yang membuat perempuan manis itu langsung menegang di tempatnya.
Gavril yang tahu Adistya terkejut karena ulahnya, hanya menyunggingkan senyumnya. Ia akan membuat perempuan itu terbiasa dengan kecupannya, karena sejak memutuskan untuk berdamai dan memperbaiki hubungan mereka, Gavril sudah bertekad untuk memperlakukan istrinya dengan manis sebagai bukti bahwa dirinya memang serius mengenai apa yang diucapkannya kemarin malam, sekaligus untuk menghilangkan keraguan Adistya.
“Gu-- gue abis dari dapur, bantu Bibi masak,” gugup Adistya menjawab seraya mundur selangkah untuk memberi jarak antara dirinya dan Gavril. Tidak ingin laki-laki itu mendengar detak jantungnya yang menggila.
“Lucu banget sih lo kalau lagi malu-malu gini!” Gavril menangkup wajah istrinya dengan kedua telapak tangan lalu menguyelnya dengan gemas.
“Gav, sakit,” ringis pelan Adistya yang tidak Gavril menghiraukannya. Laki-laki itu terlalu gemas pada sang istri yang belakangan ini membuat hatinya lebih gembira.
“Gavril!” kesalnya memukul tangan Gavril, meminta laki-laki itu menghentikan ulahnya. “Aish, sakit tahu,” tambahnya dengan bibir cemberut yang malah menambah kegemasan Gavril dan refleks laki-laki itu mendaratkan kecupannya di bibir Adistya, membuat perempuan itu menghentikan pukulannya, terkejut dengan ulah Gavril yang saat ini juga sama terkejutnya. Namun begitu sadar Gavril bukannya melepaskan, tapi malah mulai menggerakkan bibirnya, merasakan bibir tipis Adistya yang terasa lembut dan manis.
Adistya yang semakin terkejut begitu merasakan bibir Gavril bergerak melebarkan matanya, tubuhnya pun kaku, dan pikiran dalam kepalanya saling bersahutan, memintanya untuk mendorong Gavril menjauh, tapi entah setan dari mana yang merasukinya, Adistya malah membalas permainan bibir itu, dan memberi akses lebih untuk Gavril masuk lebih dalam. Sial, Adistya hentikan! Sayang pikiran dan hatinya malah justru bertolak belakang, dan tubuhnya enggan menjauh. Adistya merasa di khianati oleh dirinya sendiri. Namun pikiran baiknya bergumam untuk ia menikmatinya. Gavril suaminya dan laki-laki itu berhak atas dirinya, tapi …
“Aku mencintaimu, Adistya.” Bisik Gavril tepat di depan bibir istrinya yang membengkak atas ulahnya. “Bagimu mungkin ini terdengar seperti gombalan, tapi percayalah bahwa aku memang sudah mencintaimu, meskipun aku tidak tahu kapan tepatnya. Sejak penolakan terakhirku di lapangan SMA beberapa tahun lalu aku pulang dengan rasa sesal, apalagi saat kamu tidak lagi ada menghampiriku, menggangguku dan merengek ingin menjadi kekasihku, di saat itulah aku merasa kosong, aku menyesal namun aku selalu menampiknya. Aku merasa bahwa apa yang aku lakukan sudah benar, tapi penyesalan itu malah semakin menghantuiku. Aku ingin mencarimu, sayangnya tidak lagi aku temukan keberadaan kamu,” Gavril mengelus lembut pipi Adistya dengan jemarinya, dan sorot matanya menyiratkan bahwa apa yang dikatakannya bukan hanya sekedar kebohongan.
Gavril memang mencari wanita itu setelah sadar bahwa dirinya sudah keterlaluan, saat hatinya terasa kosong dengan ketidakberadaan gadis yang selalu mengganggunya setiap hari, sampai membuat Gavril remaja jengah. Namun begitu sosok Adistya tak lagi ada, Gavril merasa kesepian, tapi ia selalu saja menampiknya, membohongi hati dan perasaannya bahwa ia tidak membutuhkan gadis itu.
Cup.
Adistya menghentikan kalimat Gavril dengan ciumannya, bukan hanya dua bibir yang saling menempel dan mata saling beradu pandang, seolah mereka tengah bicara lewat tatapan itu untuk beberapa saat sebelum kemudian sama-sama memejamkan mata dan ciuman lembut itu kembali terjadi, menyalurkan perasaan masing-masing yang kini sudah sama-sama lega dan saling menerima.
...*****...
Gavril turun dari kamarnya dengan wajah cerah dan senyum terukir di bibir, melangkah menuju dapur menghampiri Adistya yang saat ini tengah menyusun makanan di meja. Entah mengapa melihatnya Gavril merasakan sesuatu yang hangat menjalar hingga hatinya yang terdalam. Menikah dengan Adistya memang tidak pernah Gavril bayangkan, tapi sekarang kehilangan perempuan itu bagai bayangan paling menyeramkan.
Puas memperhatikan dalam diam dari jarak jauh, Gavril kembali melanjutkan langkahnya dengan perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara.
Bi Nur yang menyadari kehadiran Gavril hendak menyapa, namun dengan cepat Gavril menggelengkan kepala, meminta wanita baya itu untuk diam yang akhirnya di turuti asisten rumah tangganya itu. Gavril melanjutkan langkahnya lalu diam sejenak di belakang tubuh sang istri yang tidak juga sadar akan kehadirannya sebelum kemudian Gavril menelusupkan kedua tangannya memeluk tubuh ramping itu dari belakang, membuat Adistya terlonjak kaget dan hampir saja menjatuhkan gelas yang tengah di pegangnya hendak ia isi air minum.
“Gavril!” sentak Adistya terkejut, sementara si pelaku hanya terkekek pelan kemudian memberikan kecupan lembutnya di pelipis sang istri.
“Lagian kamu fokus banget sih, sampai gak sadar aku hampiri, ngelamun?” tanyanya di depan telinga perempuan yang sudah bersedia membuka diri, menerima dirinya dan pernikahan mereka.
“Enggak, aku memang selalu fokus sama apa yang sedang aku kerjakan,” jawab Adistya dengan seulas senyum lembut di bibirnya. Bibir yang sore tadi terbenam hangat dengan bibir Gavril.
“Fokusnya ke aku aja bisa gak?” tanya Gavril dengan nada menggoda, membuat semburat merah di pipi Adistya kembali muncul. Dan di saat seperti itulah Gavril semakin gemas pada perempuan di dalam pelukannya, Gavril selalu ingin melayangkan ciumannya dan kalau bisa tidak ingin pernah dirinya lepaskan.
“Ekhemm,” deheman dari arah belakang membuat Gavril menoleh, dan ia baru ingat bahwa Bi Nur masih ada di sana. “Pengantin baru emang suka lupa tempat kalau mesra-mesraan. Bibi jadi gak sabar buat segera pulang buat ketemu si Bapak dan minta peluk.” Tambahnya dengan senyum menggoda, sekaligus ikut bahagia dengan kebahagiaan majikannya itu, karena selama beberapa bulan ini ia tahu bahwa pernikahan diantara keduanya tidaklah baik. Tapi sekarang ia bersyukur karena akhirnya rumah tangga majikannya bisa harmonis juga.
“Den, Bibi pulang sekarang aja, ya, kangen Bapak.” Satu kedipan penuh arti Bi Nur layangkan, dan itu membuat Gavril tertawa, paham dengan maksud Asisten Rumah Tangganya yang tidak ingin mengganggu keromantisan mereka.
“Ya udah Bibi hati-hati. Udah siapin makanan untuk di bawa pulang ‘kan?” tanya Gavril.
“Udah Den, tenang aja urusan itu Bibi gak akan pernah lupa,” jawab Bi Nur dengan kekehan kecilnya, setelah itu melangkah menuju meja makan, meletakan ayam goreng yang baru saja matang dan mengambil rantang bawaannya sebelum kemudian meninggalkan pasangan suami istri yang baru saling membuka diri itu.
“Makan sekarang yuk, aku udah lapar banget,” kata Gavril menarik lembut tangan istrinya untuk duduk di kursi yang baru saja Gavril tarik. Adistya mengulas senyumnya yang di balas tak kalah manisnya oleh Gavril.
“Biar aku yang ambilin,” kata Adistya menghentikan Gavril yang hendak menyendokkan nasi ke dalam piringnya. Mengulas senyum kembali, Gavril kemudian mengangguk dan membiarkan istrinya mengisi piring miliknya dengan nasi dan beberapa lauk yang terhidang di meja sebelum kemudian piring itu di letakan di hadapannya oleh sang istri yang mempersilahkannya untuk makan.
“Terima kasih, sayang,” ucap Gavril sebelum kemudian mulai menikmati makanannya dengan lahap, tanpa melihat wajah merah Adistya karena ucapannya. Meskipun sebenarnya itu adalah ungkapan terima kasih biasa, tetap saja panggilan ‘sayang’ yang Gavril sematkan belum terbiasa untuk Adistya, walau tidak dapat di bohongi bahwa hatinya menghangat.
***