Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
38. Siapkah?



Hai guys, maaf nih ya ceritanya di skip jadi beberapa tahun kemudian. Soalnya konflik gak selesai disini. masalah mereka juga gak selesai di sini dan gitu aja.


So ... Terus ikuti ceritanya. Eps nya masih banyak kok.


Happy Reading!!!


***


Beberapa tahu kemudian …


“Kakek!” teriak bocah laki-laki berusia lima tahun yang berada dalam gandengan seorang wanita muda cantik dengan lesung pipit di kedua pipinya. Bocah itu melepaskan gandengannya kemudian berlari menghampiri seseorang yang di panggilnya kakek, berhambur ke dalam pelukan pria baya yang sudah berjongkok merentangkan tangannya, menyambut kedatangan sang cucu yang amat dirindukannya.


“Wow, jagoan Kakek sudah tinggi,” ucap pria baya itu seraya mengusak rambut hitam tebal cucunya kemudian kembali berdiri dan memeluk putri satu-satunya yang sudah tiba di hadapannya.


“Ayah merindukanmu, Nak,” lanjutnya seraya memeluk erat sang putri.


“Tya juga kangen Ayah, maaf karena terlalu lama meninggalkan Ayah,” sesalnya dengan mata berkaca-kaca.


“Tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu sudah kembali dengan cucu ayah tersayang ini,” pria baya yang tak lain adalah Satya, ayah Adistya, mencubit gemas pipi tembam sang cucu.


“Ayo kita pulang, Uncle kamu sudah membelikan banyak mainan untukmu,” kata Satya, lalu mengajak cucunya itu berjalan menuju parkiran, sementara Adistya mengikuti dari belakang dengan senyum haru terukir di bibirnya.


Setelah enam tahun berada di Swiss, kini Adistya kembali ke negara kelahirannya. Negara dengan sejuta kenangan dan luka yang sedikit banyak sudah mampu Adistya lupakan. Adistya sudah memutuskan untuk tidak lagi terpuruk, memilih melanjutkan hidupnya bersama sang putra yang lima tahun ini memberinya arti dan harapan serta semangat baru. Sampai akhirnya Adistya memilih untuk pulang karena merasa tidak tega juga pada sang ayah yang semakin renta karena usianya yang semakin bertambah.


“Kamu gak akan kembali lagi ke sana kan?” tanya Satya memastikan. Adistya menggelengkan kepala seraya tersenyum. “Syukurlah kalau begitu.” Satya menghela napasnya lega.


“Kakek, apa tinggal di sini menyenangkan?” tanya bocah laki-laki itu dengan wajah polosnya yang terlihat kelelahan, namun karena terlalu antusias, bocah itu menolak untuk tidur selama perjalanan menuju rumah Satya, padahal Satya tahu sendiri bagaimana lelahnya perjalanan Swiss-Indonesia yang memakan waktu belasan jam.


“Tentu saja. Kamu akan suka tinggal di sini. Nanti Kakek ajak kamu berkeliling kebun binatang, taman bermain, pasar malam, dan masih banyak lagi tempat-tempat seru lain yang akan Kakek tunjukkan kepadamu. Bagaimana, apa kamu tertarik?” bocah itu mengangguk dengan semangat, membuat Satya yang gemas melayangkan cubitannya dan mengacak rambut sang cucu.


Sisa perjalan di isi dengan cerita-cerita bocah itu di tempat tinggalnya di Swiss, teman-temannya, dan hal seru lainnya yang bocah itu dapatkan di negara kelahirannya.


Satya tentu saja mendengarkan dengan seksama, dan keduanya akan tertawa begitu merasakan ada yang lucu. Sementara Adistya hanya menyaksikan keduanya dengan senyum. Senang melihat kedua pria tersayangnya bahagia.


“Apakah kamu sudah memiliki anak dengan perempuan itu? Apakah kamu akan menyayanginya jika suatu saat nanti kalian bertemu?” berbagai pertanyaan muncul di kepala Adistya, mengenai kemungkinan dirinya akan bertemu di suatu tempat dengan mantan suaminya, dan kemungkinan-kemungkinan lain yang tidak mampu Adistya sebutkan karena hatinya pun masih ragu. Siapkah ia bertemu dengan pria itu?


...****...


“Gue masih cape, El. Besok lagi aja lah, gue masih pengen istirahat, sumpah! Iya-iya janji besok. See you. Bye.”


Adistya menyimpan kembali ponselnya setelah sambungan di tutup oleh Elma yang memaksa untuk datang ke café perempuan itu dengan alasan rindu karena sudah lama tak bertemu, padahal baru kemarin mereka video call sebelum Adistya naik pesawat untuk kepulangannya. Menyebalkannya, kedua sahabatnya itu tidak datang untuk menjemput atau sekedar datang menyambut kepulangannya di rumah sang ayah.


Alih-alih melakukan itu Elma malah memaksa untuknya datang ke café di saat dirinya masih dalam keadaan lelah akibat perjalanan jauh yang di tempuhnya. Ck, tidak berperasaan sekali!


“Gavin mana, Yah?” tanya Adistya saat kembali ke ruang tengah dimana tadi ia meninggalkan anaknya bersama Seno dan Satya.


“Di taman belakang sama adik kamu dan istrinya,” Satya menunjuk pintu kaca yang sedikit terbuka dan gelak tawa memang terdengar dari sana.


“Astaga, apa dia tidak lelah?” desah Adistya seraya melangkah menuju taman belakang untuk menghampiri anaknya yang tengah asyik bermain bola dengan Seno dan istrinya yang laki-laki itu nikahi dua tahun lalu.


“Gavin, sudah dulu mainnya, Nak. Kamu harus istirahat,” teriak Adistya dari ambang pintu. Membuat bocah lima tahun itu menoleh dan melayangkan senyum polosnya.


“Sebentar lagi, Bunda,” jawabnya kembali menendang bola menuju gawang mini yang Seno buat.


“Lo aja sana istirahat, Ty. Gavin biar sama gue aja,” kata Seno yang tak tega melihat raut kelelahan kakaknya.


“Tapi—”


“Udah gak apa-apa, nanti dia lelah juga berhenti sendiri,” potong Seno dengan cepat begitu tahu apa yang akan kakaknya itu ucapkan.


Adistya akhirnya mengangguk dan memilih kembali masuk ke dalam kamar setelah menitipkan anaknya pada sang adik. Tidak dapat di bohongi bahwa saat ini Adistya begitu lelah. Dan istirahat adalah pilihannya, sementara Gavin ia percayakan pada Seno yang tidak mungkin berani menyakiti ponakannya sendiri.


...****...


Keesokan harinya, sesuai janji, Adistya datang ke café milik Elma. Untuk menemui perempuan itu tentu saja. Jangan lupakan bahwa Azura pun ikut serta, bahkan sahabatnya satu itu datang lebih awal dan langsung menarik Gavin ke dalam pelukannya. Memuji seberapa tampan dan menggemaskannya bocah lima tahun itu, sementara Adistya diabaikan begitu saja.


Elma dan Azura memang belum pernah bertemu langsung dengan Gavin karena kedua perempuan itu tidak sekalipun menginjakkan kaki di Swiss.


Elma maupun Azura belum pernah mengunjungi Adistya selama enam tahun dirinya tinggal disana.


Apa yang di ucapkan Azura ketika mengantarnya pergi hanyalah bualan, karena kenyataannya saat Adistya melahirkan hanya Satya dan Seno saja lah yang datang, sementara kedua sahabatnya hanya memberi selamat lewat call video, bahkan untuk hadiah saja belum keduanya berikan hingga saat ini.


Ck, apa ini yang disebut sahabat?


“Ty, dia udah tahu keberadaan Bapaknya?” bisik Elma. Adistya menggelengkan kepala pelan. “Dia gak nanyain?” tanya Elma lagi dan kali ini Adistya menghela napasnya pelan. Tatapannya berubah sendu dan itu membuat Elma tahu jawaban atas pertanyaannya.


Tidak ada anak yang tidak akan menanyakan orang tuanya. Meskipun awalnya tak paham, lama kelamaan anak itu pasti akan merasa ada yang kurang dari keluarganya apalagi ketika anak itu sudah bermain dengan teman-temannya. Pastilah perbedaan dan tanda tanya muncul dibenaknya.


“Tapi lo niat kasih tahu dia 'kan?”


“Gue gak tahu, El. Gue aja kayaknya gak siap buat ketemu dia,” desah lesu Adistya, menatap sendu pada anaknya yang saat ini tengah asyik becanda bersama Azura dan juga anaknya.


“Gue tahu itu pasti berat banget buat lo, Ty, tapi bagaimanapun juga keduanya berhak tahu. Gavin pasti juga ingin merasakan kasih sayang ayahnya, dan Gavril harus tahu bahwa dia sudah memiliki anak. Lo juga jangan terlalu menyiksa diri lo sendiri, berdamailah dengan masa lalu, Ty. Setidaknya demi Gavin. Kesakitan lo, biarlah menjadi masalah lo sama Gavril, jangan libatkan anak lo yang tidak tahu apa pun.”


Adistya merenungkan ucapan Elma. Adistya akui bahwa selama ini dirinya telah egois, menyembunyikan fakta mengenai Gavril kepada putra semata wayangnya, padahal sudah sering kali bocah itu menanyakan keberadaan ayahnya dan meminta untuk di pertemukan.


Sudah banyak kebohongan yang Adistya ucapkan mengenai keberadaan Gavril pada anaknya, dan Adistya sadar bahwa tidak mungkin ia terus melakukan itu di saat usia Gavin sudah mulai mengerti arti ketiadaan.


Sosok ayah sudah pasti akan sangat Gavin butuhkan di usianya sekarang ini, terlebih Gavin adalah anak laki-laki yang mana sosok ayah merupakan superhero di masa kecilnya. Sosok yang ada untuk mengajarkannya banyak hal, mulai dari mengendarai sepeda, bermain sepak bola dan segala hal yang berbau laki-laki lainnya. Meskipun untuk itu Gavin tidak sepenuhnya kehilangan. Tapi tetap saja 'kan?


“Gue akan cari waktu yang tepat untuk ngasih tahu dia nanti,” kata Adistya pada akhirnya.


Elma hanya menganggukkan kepalanya, tidak ingin terlalu memaksa karena bagaimanapun dirinya tidak berhak untuk ikut campur terlalu banyak. Sebagai sahabat, Elma hanya harus mengingatkan, selebihnya biarlah Adistya yang memutuskan. 


***


See you next part !!!