
Selamat Membaca !!!
***
Liburan telah usai, dan kini semua kembali pada aktivitas masing-masing, pun dengan Gavin yang kembali sekolah seperti biasanya.
Sejak acara liburan itu, Gavin terlihat lebih bahagia dan semangat, membuat Adistya yang melihatnya pun ikut merasakan hal yang sama karena percaya atau tidak kebahagiaan seorang ibu adalah anaknya sendiri. Dan Adistya bersyukur memiliki Gavin sebagai putranya.
Hubungannya dengan Gavril pun tidak sekaku kemarin-kemarin, meskipun Adistya masih membentangkan jarak yang nyata. Ini Adistya lakukan bukan semata-mata tak lagi ada cinta, hanya saja sejak perceraiannya dengan Gavril bertahun-tahun lalu, Adistya lebih berhati-hati. Ia tidak ingin lagi kembali terluka, kecewa dan bersedih hati, terlebih ia tidak siap menerima Gavril kembali meskipun sejauh ini Adistya sadar perubahan pada pria itu.
Terlihat tulus. Tapi Adistya masih belum bisa mengembalikan kepercayaannya. Biarlah seperti ini, Adistya masih ingin menikmati kesendiriannya, menyembuhkan lukanya dan mengubur semua yang pernah dirinya alami di masa lalu.
Meskipun ia sadar ada seseorang yang berusaha meraihnya jauh di negara sana.
Adistya tidak akan melarang Gavril yang secara terang-terangan kembali mengejarnya. Adistya sadar pria itu masih menginginkannya. Tapi biarlah seperti ini dulu, hingga Adistya siap membuka hati, entah itu kembali pada Gavril atau laki-laki lain yang hadir memberi warna dan bahagia yang baru. Bagaimanapun akhirnya nanti, Adistya memilih untuk menyerahkannya kepada Tuhan.
“Bunda, mampir beli es krim boleh? Gavin pengen es krim coklat,” pintanya dengan mata memohon begitu Adistya selesai memasangkan sabuk pengaman di tubuh Gavin.
“Boleh, tapi makan dulu, ya, setelah itu baru es krim.”
“Oke!” serunya semangat, membuat Adistya mengacak rambut putranya itu dengan gemas, lalu melajukan mobilnya meninggalkan parkiran sekolah Gavin.
Jika dulu Adistya malas menggunakan kendaraan sendiri, kini semenjak ada Gavin, Adistya memilih untuk memiliki kendaraan pribadi, alasannya agar mudah jika ingin ke mana-mana bersama putranya. Beruntungnya sejak dulu Adistya tidak pernah menghamburkan uangnya untuk hal-hal yang tidak berguna, jadi sekarang ia bisa membeli kendaraan yang layak untuk dirinya juga sang putra.
Tidak enak juga jika terus-terusan meminjam mobil adik atau ayahnya, jadi setelah pulang dari berlibur Adistya memutuskan untuk membeli mobilnya sendiri, dan itu adalah hasil dari kerja kerasnya selama ini sebagai penulis yang hingga saat ini masih Adistya tekuni, bahkan ketika dirinya berada di Swiss dan dalam keadaan hamil.
Menjadi penulis adalah pekerjaan yang tidak memberatkan menurut Adistya, karena bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Adistya jadi tidak perlu meninggalkan putranya, meskipun beberapa kali itu ia lakukan jika dirinya akan ke kantor penerbit untuk menemui editornya.
“Habisin makannya, kalau gak abis Bunda gak bakal beliin es krimnya,” ancam Adistya.
“Nanti Gavin minta Ayah beliin kalau Bunda gak mau,” jawab bocah itu dengan cengirannya.
“Oh jadi sekarang udah punya pelarian, ya, oke kalau begitu. Bunda gak akan mau nurutin keinginan kamu lagi,” ujar Adistya pura-pura marah.
“Bunda baperan,” cibir bocah itu, membuat Adistya membulatkan matanya.
“Belajar dari siapa kata-kata seperti itu, hem?”
“Uncle Seno yang ajarin,” dengan polosnya bocah itu berucap.
Adistya menggelengkan kepala lalu menepuk jidatnya. Setelah bergaul dengan Seno, anaknya itu mendadak pintar mencibir dengan kata-kata gaul tanah air yang sebelumnya tidak pernah Adistya ajarkan kepada sang putra. Dan Adistya khawatir otak Gavin semakin tercemar jika terus-terusan berada di sekitaran Seno. Untung-untung katanya masih wajar, coba kalau sudah mulai kurang ajar, bisa-bisa Adistya mati berdiri di buatnya.
...***...
Sesuai janji, setelah selesai makan Adistya membawa putranya itu untuk membeli es krim yang bocah itu inginkan, lalu mengajak sebentar Gavin untuk jalan-jalan sebelum memutuskan pulang karena hari pun sudah mulai beranjak sore dan Adistya yakin putranya itu sudah kelelahan.
Namun belum berhasil Adistya sampai ke mobil, satu panggilan membuat Adistya menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan mendapati Byanca di sana, berdiri tak jauh darinya yang sepertinya perempuan itu baru saja turun dari kendaraannya.
Sebenarnya Adistya malas meladeni perempuan itu, tapi ia juga penasaran akan apa yang menjadi alasan Byanca memanggilnya.
“Kenapa?” tanya Adistya tak ingin berbasa-basi. Ia masih ingat bagaimana perlakukan Byanca di masa remaja dulu. Dan Adistya tidak akan melupakannya sampai kapanpun, terlebih Byanca belum pernah sekalipun meminta maaf padanya.
“Bisa ngobrol sebentar?”
“Tentang?”
“Kita ke café sana aja gimana, biar ngobrolnya lebih enak,” tunjuk Byanca pada salah satu café yang ada tidak jauh dari posisi mereka kini berdiri.
“Gak bisa, anak gue udah kelelahan,” jawab Adistya mengutarakan keberatannya, bukan hanya sekedar alasan untuk menghindar dari masa lalu buruknya, tapi Adistya memang tidak tega membiarkan anaknya yang kelelahan dan terlihat mengantuk.
Byanca mengikuti arah pandang Adistya, dan ia baru menyadari ada bocah kecil di samping wanita itu. Byanca benar-benar tidak menyadari kehadiran anak itu sebelumnya.
“Anak lo?” tanya Byanca untuk memastikan.
Adistya memutar bola matanya malas sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. Terkadang ia tidak mengerti pada orang-orang yang mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya. Seperti halnya yang barusan Byanca tanyakan.
“Sama Gavril?” tanya kembali Byanca masih dengan nada tak percayanya.
“Menurut lo?” Adistya mendelik tak suka.
“Bukannya lo ….”
“Udah cerai? Memang. Lalu?” Adistya menaikkan sebelah alisnya tak mengerti dengan apa yang wanita di depannya itu ingin sampaikan.
“Kok bisa?” pertanyaan bodoh yang di lontarkan Byanca membuat Adistya memutar bola matanya jengah. Jangan bilang kalau Byanca itu tidak tahu cara menghadirkan seorang anak dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dalam status pernikahan, meskipun sekarang mereka sudah bercerai.
“Tentu saja bisa, karena gue dan Gavril pernah menikah dan melakukan apa yang harusnya dialakukan oleh pasangan suami istri. Gue yakin lo gak sebodoh itu, By. Jadi gue gak perlu jelasin secara rinci bukan? Kalau begitu gue permisi.”
Adistya melenggang begitu saja masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan roda empat itu setelah memasangkan sabuk pengaman pada sang putra yang sudah terlihat sekali begitu mengantuk.
Sementara Byanca baru sadar dari ketidak percayaannya begitu mobil yang Adistya kendarai sudah keluar dari parkiran. Selama itu, Byanca hanya berdiri dengan keterkejutannya mendapati kenyataan bahwa Gavril dan Adistya memiliki seorang anak.
Padahal sejak kabar meninggalnya Rania tiga tahun lalu dan tidak adanya kabar Adistya selama enam tahun terakhir ini, Byanca merasa memiliki harapan baru untuk kembali mendapatkan Gavril.
Tapi jika seperti ini akankah ia bisa meraih mantan kekasih yang tak pernah bisa dirinya lupakan itu? Dan kenapa juga wanita itu harus kembali dengan membawa seorang anak, membuat Byanca tak yakin Gavril akan kembali meliriknya, terlebih ia tahu bahwa selama ini pria itu masih sering memikirkan mantan istrinya. Dan mungkin masih mencintainya.
“Sial! Kenapa gue harus kalah sama si cupu?” Byanca mendengus kesal, menatap jejak kepergian Adistya.
Byanca tidak bisa terima begitu saja dengan kenyataan yang baru saja dirinya terima, tentang kembalinya Adistya dan kehadiran anak itu. Sampai detik ini Byanca belum menikah karena ingin meraih Gavril kembali, namun selama ini belum juga bisa ia capai.
Setelah hadirnya Rania, sekarang malah ada seorang anak yang Byanca khawatirkan mengacaukan rencananya karena ia yakin bahwa Gavril tidak akan begitu saja melepaskan bocah itu. Dan tidak menutup kemungkinan dengan keberadaan anak itu, Gavril jadikan alasan agar bisa kembali dengan Adistya. Byanca menggelengkan kepalanya cepat, ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Cukup selama ini ia menerima kekalahan, membiarkan Adistya menikah dengan Gavril, mengubah perasaan benci pria itu menjadi cinta meskipun kemudian di sia-siakannya, lalu membiarkan Gavri menikahi Rania meskipun pada akhirnya wanita itu pun pergi meninggalkan Gavril untuk selamanya. Byanca tidak ingin sekarang Gavril-nya tidak juga bisa ia miliki karena kembalinya Adistya dengan anak itu.
***
Tbc ...