
Selamat Membaca !!!
***
"Makasi udah nemenin aku jalan-jalan hari ini,” ucap Rania dengan binar bahagia di kedua matanya.
“Apa pun untukmu, Ra,” jawab Gavril seraya mengusak pelan rambut perempuan cantik itu, tak lupa seulas senyum lembut dilayangkannya, membuat Rania semakin mengeratkan pelukannya di lengan Gavril.
Saat ini mereka baru saja selesai makan setelah sebelumnya belanja dan menonton di bioskop. Dan sekarang tujuan keduanya adalah pulang, yang tentu saja Gavril mengantar Rania terlebih dulu ke rumahnya.
Sebenarnya tidak pernah Gavril mengharapkan perempuan itu kembali, bahkan hanya untuk sekedar bertemu. Namun kenyataan berkehendak lain dan rasa yang dulu sempat Gavril buang jauh-jauh tidak sepenuhnya pergi.
Gavril kembali di pertemukan dengan masa lalunya yang dulu sempat hampir menjadi pengantinnya. Gara-gara kesalahpahaman Gavril, hubungan mereka berakhir begitu saja meninggalkan luka pada hati masing-masing.
Ya, kesalahpahaman yang begitu lambat Gavril ketahui karena Rania memilih untuk menyembunyikan kebenarannya seorang diri dan membiarkan Gavril dengan luka dan kebenciannya karena menganggap bahwa tuduhannya benar. Rania mengkhianatinya, menodai cintanya dan mengecewakannya. Perselingkuhan bukanlah hal yang dapat Gavril terima dan maafkan.
Namun kenyataan sesungguhnya baru Gavril ketahui belakangan ini, ketika mereka kembali dipertemukan di acara seminar di salah satu rumah sakit di luar kota yang Gavril hadiri beberapa waktu lalu.
Awalnya Gavril tentu saja tidak berniat bertegur sapa dengan Rania yang juga hadir di sana, tapi perempuan itu justru datang menghampirinya dan menyapa dengan ramah layaknya teman yang sudah lama tak saling bertemu. Hingga cerita mengenai alasan kepergian perempuan itu beberapa tahun lalu mengalir dan membuat Gavril tak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena yang jelas Gavril terkejut dan sedikit menyesal.
Sebenarnya Gavril tidak ingin langsung percaya, tapi Rania berhasil menunjukkan bukti-buktinya, membuat Gavril akhirnya tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai penjelasan dari perempuan yang pernah amat dicintainya.
“Laki-laki yang waktu itu adalah dokterku, sekaligus senior di kampusku dulu. Hubungan kami memang dekat karena aku sering meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas kuliahku. Dan dia juga orang pertama yang mengetahui penyakitku. Saat itu aku sudah berniat memberi tahu kamu, tapi malah kesalahpahaman yang lebih dulu menghampiri kita, memancing emosimu dan –”
Rania menunduk, tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Air matanya sudah menetes dan isak tangis terdengar memilukan, membuat Gavril yang sejak tadi fokus pada rekam medis mengenai penyakit Rania meringis menyesal dan langsung membawa perempuan itu ke dalam pelukannya seraya menggumamkan kata maaf yang tak ada habisnya.
Gavril merasa menyesal karena sudah bertindak bodoh saat itu. Menyesal karena membiarkan perempuan tercintanya berjuang seorang diri melawan penyakit yang bisa saja merenggut nyawa.
Sirosis hati, penyakit yang cukup mengerikan, tentu saja. Dan Gavril menyesal tidak berada di samping perempuan itu di masa-masa sulitnya. Gavril tidak dapat membayangkan bagaimana terpukul dan tersiksanya Rania pada saat itu.
“Maaf—”
Rania menggelengkan kepalanya cepat. “Kamu gak salah, aku tahu perasaan kamu saat itu, karena bagaimanapun jika aku berada diposisimu, aku akan melakukan hal yang sama. Aku pasti akan mengira kamu selingkuh, apalagi melihat posisiku saat itu tengah berada dalam pelukan laki-laki lain. Wajar kamu emosi, karena laki-laki manapun tidak akan pernah rela calon istrinya di peluk laki-laki lain. Aku yang justru harus minta maaf karena tidak berusaha menjelaskan yang sebenarnya. Aku malah memilih pergi dan menghilang dari hadapan kamu. maaf ….”
“Vril,” panggil Rania seraya menepuk lengan Gavril pelan. “Kamu ngelamun?”
Gavril mengerjap, lalu menoleh ke arah sampingnya, menatap Rania yang kini menatapnya dengan sorot bertanya. Namun Gavril tidak berniat untuk memberikan jawaban, memilih untuk membawa perempuan itu ke dalam pelukannya dan menjatuhkan satu kecupan dalam di puncak kepala Rania yang membuat perempuan itu mengerutkan keningnya bingung dan juga sedikit terkejut, tapi tak urung senyumnya terukir dan membalas pelukan Gavril tak kalah eratnya.
“Boleh aku berharap bahwa hubungan kita akan kembali seperti dulu?” tanya Rania dalam pelukannya. Membuat tubuh Gavril seketika menegang dengan mulut terkunci rapat, tatapannya kosong begitupun dengan pikirannya. “Aku masih berharap bisa menikah sama kamu, Vril, menjadi istri dan ibu dari anak-anak kamu. Apa mimpi kita dulu masih ada hingga saat ini?”
...*****...
Gavril tidak terlalu fokus pada pekerjaannya hari ini, pikirannya terus bergerak pada ucapan Rania semalam dan juga jawaban yang dirinya berikan saat itu. “Masih. Kita akan menikah secepatnya, Ra. Mewujudkan mimpi yang kita rangkai bersama dulu.”
Bodoh! Mungkin itulah kata yang cocok untuk Gavril saat ini karena sudah berkata demikian di saat statusnya sudah memiliki istri. Jawaban itu meluncur begitu saja tanpa bisa Gavril cegah, dan Rania sudah terlanjur mendengarnya. Membuat Gavril pada akhirnya kebingungan sendiri saat ini.
Tapi tidak dapat Gavril pungkiri bahwa hati kecilnya masih begitu mencintai Rania, dan mimpinya bersama perempuan itu untuk menikah dan memiliki anak ingin Gavril wujudkan mengingat betapa indahnya saat mereka membicarakan hal itu bertahun-tahun yang lalu.
Semua bahkan sudah mereka rencanakan, termasuk hunian yang akan mereka jadikan sebagai tempat tinggal mereka setelah menikah. Ya, rumah yang di tempatinya bersama Adistya saat ini adalah rumah yang Gavril siapkan bersama Rania, walau semua biaya pembangunan menggunakan uang Gavril sepenuhnya. Tapi untuk perabotan dan desainnya Rania-lah yang andil besar.
“Vril, makan siang yuk,” ajak Rania, mengejutkan Gavril yang melamun sejak tadi.
“Eh, i-iya ayo,” jawab Gavril terbata, membuat Rania memicingkan matanya, dan berjalan menghampiri Gavril yang masih duduk di kursi kerjanya.
Tangan mungil Rania menangkup wajah tampan Gavril dan menatapnya dengan intens.
“Kamu sakit?” tanya Rania dengan raut wajah cemas.
“Enggak, Ra. Aku baik-baik aja,” jawab Gavril sambil menikmati wajah cantik yang sejak lama dirindukannya.
“Tapi wajah kamu pucat. Aku perhatiin kamu juga banyak melamun,” ucap Rania seraya menyentuh kening, pipi dan leher laki-laki dihadapannya, memastikan bahwa pria itu memang dalam keadaan baik-baik saja.
“Aku hanya kelelahan aja, Sayang. Gak perlu terlalu cemas.”
Gerakan tangan Rania terhenti tak kala kata ‘sayang’ Gavril lontarkan. Membuat wajah dan hatinya menghangat dan tanpa aba-aba, Rania langsung berhambur memeluk Gavril dengan erat. Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan, namun itu tentu saja bukan air mata kesedihan, melainkan air mata haru karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia dapat mendengar sebutan itu lagi dari laki-laki yang amat dicintainya sejak dulu.
“Aku cinta kamu, Gavril. Sangat-sangat mencintaimu,” ucap Rania dengan air mata yang semakin deras jatuh membasahi pipinya.
“Aku juga, Rania. Aku mencintaimu,” balas Gavril seraya mempererat pelukannya di tubuh ramping Rania.
Tanpa keduanya sadari, ada hati yang terluka mendengar ungkapan cinta yang sepasang makhluk itu ucapkan. Ya, Adistya mendengarnya dengan jelas, karena kebetulan dia berniat untuk masuk, mengantar makan siang Gavril dan berencana untuk memberi kabar kehamilannya siang ini juga, dengan harapan bahwa kabar yang akan disampaikannya bisa memperbaiki hubungan mereka yang belakangan semakin jauh, dan akan membuka hati serta pikiran Gavril yang tengah tersesat dalam masa lalu yang masih memikat. Tapi semuanya hancur dengan ucapan Gavril barusan, bersamaan dengan hancurnya keyakinan yang selama ini coba Adistya pertahankan. Apakah ini artinya ia harus menyerah?
“Jangan bilang sama Gavril kalau saya ke sini, ya, Sus,” ucap Adistya pada suster yang ada di balik meja samping ruangan Gavril, sebelum kemudian Adistya melenggang pergi setelah mendapat jawaban sebuah anggukan kebingungan dari suster tersebut.
Adistya berjalan gontai meninggalkan pintu ruangan Gavril, membawa kembali rantang berisi makanan kesukaan suaminya dan berniat untuk langsung pulang.
Adistya ingin berada di kamarnya, menangis sepuas yang ia mau, meratapi nasibnya yang selalu saja menyakitkan jika tentang percintaan.
“Baby, apa ini artinya kita harus pergi?” tanya Adistya pada perutnya yang masih rata, dan setetes air bening terjatuh dari matanya. Dadanya semakin sesak mengingat bahwa ada darah daging Gavril yang kini bersemayam di perutnya.
Adistya bisa saja mempertahankan Gavril dengan alasan buah hati yang tengah dikandungnya saat ini, tapi Adistya tak yakin bisa bahagia bersama pria itu di saat tahu bahwa Gavril masih mencintai mantan kekasihnya dulu, dan kenyataan itu Adistya lihat dengan mata kepalanya langsung.
Jujur saja, Adistya tidak sekuat itu, ia tidak bisa hidup damai dengan laki-laki yang jelas membagi cintanya. Bahkan sekarang Adistya tidak yakin Gavril mencintainya.
***
See you next part !!