
Happy Reading !!!
***
“Kamu setuju kan jadi istrinya Gavril?”
Kalimat itu masih saja terngiang di kepala Adistya sejak kemarin malam, bahkan sampai membuat ia tidak bisa tidur saking terbebaninya. Terlebih lagi dengan jawaban ‘iya’ yang terlontar begitu saja dari mulutnya yang berkhianat. Padahal jelas sekali hatinya meneriakkan kata ‘tidak’.
Salahkan tatapan memohon ibu dari laki-laki itu yang membuat jiwa lembut Adistya tidak kuasa untuk menolak.
Sekarang Adistya benar-benar tidak tahu harus melakukan apa di saat pernikahan sudah di setujui kedua keluarga bahkan tanggal sudah di tentukan, sementara dirinya dan sang calon suami bahkan belum membicarakan apa pun mengenai itu, selain tatapan tajam tanda protes yang Adistya dapatkan ketika malam itu.
“Arrggh, kenapa gue bodoh banget sih!” Adistya mengacak rambutnya frustasi, dan kembali melemparkan tubuh pada kasur empuknya.
Sejak malam kemarin itu lah yang selalu Adistya lakukan, meninggalkan aktivitas yang tidak pernah jauh dan tidak pernah tahan berjauhan dari laptop dan camilan. Namun untuk kali ini bahkan Adistya melupakan teman setianya itu hanya karena perjodohan sialan yang sudah terlanjur dirinya setujui.
Andai waktu dapat di putar kembali, maka Adistya akan dengan tegas menolak perjodohan ini. Tapi sayang, nasi sudah menjadi bubur, dan itu sudah jelas tak lagi bisa menjadi beras. Jawabannya kemarin tidak lagi bisa di ganti dengan yang baru, karena kedua keluarga langsung mengurus pernikahan mereka bahkan sudah mendaftarkannya ke kantor urusan agama keesokan harinya, seolah tahu bahwa dirinya akan berubah pikiran secepat kilat.
“Ty, ada calon laki lo di bawah!” suara teriakan Seno dari balik pintu yang sejak kemarin terkunci terdengar begitu nyaring.
Adistya yang tahu siapa yang di maksud adiknya itu dengan segera keluar dari kamarnya dan mendapati adiknya masih berdiri di sana.
“Semangat banget kayaknya mau ketemu calon suami?” ejek Seno yang tak Adistya hiraukan, karena berurusan dengan adiknya adalah sesuatu hal yang sangat menjengkelkan dan tentu saja tidak akan pernah selesai dengan cepat sebelum sang ayah yang menjadi pemisah.
Di ruang tamu sosok tampan itu duduk tenang sambil memainkan ponselnya, entah apa yang tengah di lakukan laki-laki itu, karena Adistya sama sekali tidak ingin tahu.
Setelah saling menatap tanpa ada sapaan atau senyum, Adistya memutuskan untuk duduk di sofa kosong yang berhadapan dengan Gavril.
“Gue gak menyangka kalau ternyata sampai saat ini pun lo masih secinta itu sama gue,” Gavril membuka suara terlebih dulu, memutuskan keheningan yang tercipta.
Adistya yang sedikit terkejut dengan apa yang di katakan laki-laki di depannya terdiam sesaat, sebelum kemudian menyunggingkan senyum simpul dan menatap lawan bicaranya dengan sinis. “Masih sepercaya diri itu ternyata lo, Gavril Mahendra.”
“Oh jelas gue percaya diri, karena pada kenyataannya memang lo masih secinta itu sama gue, kalau enggak, mana mungkin lo terima perjodohan ini?" ujarnya dengan nada angkuh.
“Gue terpaksa!” itu memang kenyataannya, dan Adistya tidak ingin laki-laki di depannya itu terlalu percaya diri menganggap dirinya masih memiliki perasaan yang jelas-jelas sudah dirinya kubur sejak lama. “Kalau gak lihat wajah melas ibu lo, gue juga gak akan sudi terima perjodohan ini.”
Gavril mengepalkan tangannya kuat mendengar pernyataan perempuan di depannya. Namun ia juga tak bisa menjawab karena bagaimanapun memang tatapan ibunya itu lah yang membuat Gavril tidak bisa melayangkan penolakan meskipun tidak juga ada kesediaan yang dirinya lontarkan. Ia terlalu menyayangi sang mama, dan untuk mengecewakan beliau tentu tidak ingin ia lakukan.
Namun perlu di ketahui bahwa Gavril tidak sama sekali menyukai perempuan bernama Adistya itu, sama sekali ia tak menyukainya bahkan di saat mereka berada di bangku sekolah menengah atas, dimana perempuan itu selalu mengejarnya dan menyatakan cinta berulang kali yang membuatnya risi. Dan satu lagi, Gavril tidak ingin menikah dengan perempuan yang tak dicintainya, apalagi harus tinggal di atap yang sama. Meskipun kini ia melihat perubahan perempuan itu yang terlihat lebih cantik dari pada dulu, tetap saja ketertarikan itu tidak dirinya dapatkan.
“Lo gak setuju dengan pernikahan ini 'kan?” tanya Adistya yang saat ini sudah lebih tenang.
“Ya enggaklah! Gila aja gue mau nikah sama cewek kayak lo,” Gavril mendengus seraya bergidik seolah Adistya adalah sesuatu yang menjijikkan.
Tentu saja itu melukai perasaan Adistya sebagai perempuan, hanya saja kini ia tak peduli, sudah biasa baginya mendapatkan respons seperti itu dari Gavril di masa dulu.
Masa remaja yang membuatnya bodoh mengejar laki-laki yang tak sama sekali menginginkannya, hingga membuatnya sadar bahwa apa yang dirinya lakukan adalah kebodohan, sampai pada akhirnya Adistya menyerah dan membuang rasa itu jauh-jauh.
Siapa sangka kini malah kembali di pertemukan dalam sebuah perjodohan, dan luka itu kembali dirinya rasakan, hinaan itu kembali dirinya dapatkan, dan tatapan jijik itu kembali dirinya lihat, luka yang dulu sepertinya belum mengering sepenuhnya bertambah basah. Meskipun perasaan yang dulu dirinya miliki sudah benar-benar pergi dan berharap tak akan pernah lagi kembali.
“Kalau begitu lo yang batalkan pernikahan ini,”
“Kenapa gak lo aja?” Gavril menaikkan sebelah alisnya.
“Karena gak ada apa pun yang bisa gue jadikan alasan!”
Gavril tersenyum mengejek. “Ck. Jomlo lo ternyata.”
Adistya memberikan delikannya, sebelum kemudian mengembangkan senyumnya. “Nah itu lo tahu! Berhubung gue jomlo, itu berarti lo yang harus batalin, toh gak mungkin bukan lo menyakiti cewek lo dengan perjodohan ini. Setidaknya orang tua lo bisa membatalkannya kalau mereka tahu lo punya pacar.”
Merutuki diri sendiri, Gavril kini tak bisa menjawab, karena sejujurnya saat ini tidak ada satu pun wanita yang tengah dekat dengannya. Namun Gavril gengsi untuk mengakui itu di depan Adistya yang baru saja dirinya ejek. Harga diri pria tampan dan mapan akan di simpan di mana jika seperti itu?
Menggeram frustasi di dalam hati, Gavril rasanya ingin sekali menghilang dari dunia ini untuk sementara waktu hingga hari pernikahannya terlewati. Tapi sayang dirinya tidak mempunyai tongkat sihir atau pun kemampuan menghilang. jadi, apa yang harus dirinya lakukan saat ini?
Menyetujui? Dengan cepat Gavril menggelengkan kepala, karena jika bisa, itu tidak akan sama sekali masuk ke dalam pilihannya.
Menolak? Oh, please, bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu dengan cara apa ia harus menolaknya.
“Tuhan tidak adakah jodoh yang lain untukku?!” batin Gavril dan Adistya berteriak frustrasi.
...***...
see you next part!!