
Happy Reading!!!
***
Adistya memilih untuk biasa saja begitu berpapasan dengan Gavril di rumah. Berlaku seolah tidak mengetahui bersama siapa laki-laki itu pergi kemarin siang. Lagi pula Gavril tidak akan merasa bersalah, wanita itu yang sejak dulu di cintai Gavril, dan pernikahan ini bukanlah sesuatu yang penting untuk di jaga oleh pria itu.
Seharusnya Adistya pun melakukan hal yang sama, karena sejak awal dirinya pun tidak menginginkannya. Namun ternyata setelah ijab kobul itu terlaksana dan kata sah terlontar, Adistya tidak bisa menganggap itu sebagai becandaan seperti apa yang dirinya pikirkan dan inginkan.
Pernikahan memang terlalu suci untuk di permainkan, tapi mau bagaimana lagi, Adistya dan Gavril sudah terlanjut mempermainkannya sejak awal.
Menatap nanar surat perjanjian yang beberapa waktu lalu di tanda tangani oleh dirinya dan Gavril, Adistya ingin sekali merobek itu karena bagaimanapun kertas di tangannya tidak sama sekali bisa menyelamatkan perasaannya, tidak dapat mencegah hatinya untuk tetap beku dan tidak bisa membuat dirinya baik-baik saja saat melihat laki-laki yang menjadi suaminya bergandengan tangan dengan perempuan lain.
“Lo ngapain di depan kamar gue?” Adistya mengerutkan kening begitu mendapati sosok Gavril di depan pintu kamarnya.
“Dih ge’er,” Gavril memutar bola matanya. “Gue mau ke kamar gue. Lo aja yang keburu buka pintu dan ngagetin gue.”
Adistya mencebikkan bibirnya, lalu melangkah melewati laki-laki itu tanpa mengucapkan apa pun lagi. Memilih untuk melanjutkan tujuannya ke dapur dari pada harus meladeni laki-laki menyebalkan itu.
Gavril mengernyitkan kening menatap kepergian istrinya, dan lagi-lagi hatinya berulah saat mendapatkan sikap cuek perempuan itu. Gavril tidak mengerti dengan perasaannya sendiri yang bahkan mau-mau saja berdiri di depan pintu kamar Adistya sejak beberapa menit yang lalu.
Sejak kemarin tidak melihat wanita itu lagi karena pulang terlalu malam dan tak ada keberanian untuk menghampirinya membuat Gavril sering kali melamun saat bekerja tadi. Pikirannya yang tertuju pada Adistya mengalihkan fokus, dan itu membuat Gavril tidak paham pada perasaanya sendiri.
“Ngapain lo masih disini?”
Gavril terlonjak kaget saat suara dingin milik Adistya menginterupsi, menyadarkannya dari lamunan yang entah sudah berapa lama dirinya lakukan.
“Gak apa-apa.” Gavril menjawab gugup, lalu melangkah menuju kamarnya sendiri tanpa menoleh pada Adistya yang mengernyit bingung.
“Aneh.” Menggelengkan kepala, Adistya lalu masuk ke dalam kamarnya sendiri dengan sebotol mineral dingin di tangannya.
...****...
Adistya menggerutu kesal begitu mendapati telepon dari Gavril di saat ide menulis sedang kencang-kencangnya. Lebih kesal lagi saat laki-laki yang menyandang status suaminya itu memerintahkan untuk datang ke rumah sakit tempat Gavril bekerja mengantarkan map yang ada di laci kamar pria itu.
“Nyusahin!” dengus Adistya sebelum mematikan sambungan telepon, dan membawa keluar map yang ditemukannya. Kini Adistya dengan cepat mengganti pakaian, tanpa mandi lebih dulu karena Gavril yang memang memintanya untuk datang segera.
Hanya dengan penampilan seadanya Adistya datang ke rumah sakit di mana Gavril bekerja dengan di antar ojek online yang selalu menjadi andalannya kemanapun ia bepergian. Bukan tidak mampu membeli kendaraan sendiri, tapi Adistya terlalu malas jika harus berkendara sendiri.
Tidak lebih tiga puluh menit, Adistya sampai di rumah sakit dan segera melangkah menuju ruangan Gavril yang sudah dirinya ketahui. Walaupun baru sekali mengunjungi pria itu saat meminta tandatangan surat perjanjian nikah, tapi Adistya tentu masih ingat dan tidak sulit untuk dirinya bertemu dengan Gavril yang baru saja selesai memeriksa pasiennya.
“Nih,” Adistya langsung meletakan map yang di bawanya ke atas meja begitu pasien Gavril dan seorang suster keluar dari ruangan.
“Oke thanks.” Gavril mengukir senyum kecil dan mengambil map di depannya, mengecek isi di dalamnya untuk memastikan bahwa yang istrinya bawa tidak salah.
“Lain kali jangan nyusahin. Gara-gara lo kerjaan gue keganggu.” Dengus Adistya, lalu melayangkan delikan kesalnya.
“Kerja apaan lo setiap hari ngedekam di kamar? Rebahan?” cibir Gavril yang memang tidak mengetahui pekerjaan yang dilakoni istrinya.
“Suami macam apa lo gak tahu pekerjaan istri sendiri?” Adistya semakin memberikan delikannya. Namun sesaat kemudian, Adistya merutuki diri sendiri atas apa yang di ucapkannya barusan. Lagi pula pantas Gavril tidak tahu pekerjaannya, karena pernikahan yang mereka jalani bukan atas dasar saling cinta, bukan pula pernikahan yang di harapkan.
Adistya berkali-kali memukul kepala, merutuki kebodohannya. Tidak seharusnya ia mengucapkan itu, tidak seharusnya ia kesal Gavril tidak mengetahui pekerjaannya dan tidak seharusnya dadanya sesak mengingat kembali status pernikahannya yang bisa kapan saja selesai.
“Arrgggh, bego!” sekali lagi Adistya memukul kepalanya. Sebelum kemudian masuk ke dalam taksi yang baru saja dirinya hentikan.
“Mana mungkin dia peduli,” Adistya tertawa miris, memegang dadanya yang sesak, kemudian menyeka sudut matanya yang berair.
Memang tidak seharusnya ia menangis, tidak seharusnya ia merasa sakit, tapi ternyata itu tidak mudah. Perasaannya yang dulu nyatanya memang tidak pernah benar-benar hilang, hanya bersembunyi di tempat yang tidak terlalu dalam.
Sejak kembali di pertemukan malam itu, Adistya kira rasa bencinya memang lebih besar dari perasaan cintanya, tidak menyangka hanya setitik goresan tinta. Dan kini perasaan yang dulu sempat dirinya kubur dan lupakan dengan mudah naik kepermukaan, mengacaukan hati dan perasaannya yang sudah ditata dengan sedemikian rupa selama bertahun-tahun.
“Mbak udah sampai.”
Adistya mengerjap, lalu menoleh ke luar jendela, dan benar saja taksi yang di tumpanginya sudah berhenti tepat di depan gerbang rumah Gavril yang mana sekarang menjadi tempat tinggalnya juga.
Setelah memberikan ongkos sesuai kargo dan mengucapkan terima kasih, Adistya turun dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Naik ke kamar untuk melanjutkan kembali tulisannya yang sempat terganggu. Hanya dengan menulis Adistya bisa meluapkan emosi yang tengah bersarang, mengutarakan semua yang di pendam dan menjatuhkan air matanya yang sudah tidak mampu di tahan.
Dari pada curhat pada teman-temannya, Adistya memang lebih memilih menuangkan semua yang dirasakannya ke dalam sebuah tulisan, sama seperti yang dirinya lakukan saat ini. Semua Adistya curahkan hingga sesak di dada perlahan berkurang dan lelah akibat menangis membuat kantuknya menyerang.
...*****...
Gavril pulang saat jam masih menunjukan pukul empat sore, lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Rumah yang sepi sudah bukan hal aneh lagi sebenarnya, karena sejak memutuskan untuk tinggal terpisah dari kedua orang tuanya Gavril memang sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Namun sejak mendengar ucapan Adistya siang tadi membuatnya kepikiran.
Hampir satu bulan pernikahannya, Gavril memang belum mengetahui tentang istrinya. Apa pekerjaan perempuan itu dan apa yang selalu di lakukan Adistya setiap hari mengurung diri di dalam kamar. Gavril tidak pernah mencari tahu, dan benar apa yang di katakan Adistya, suami macam apa dirinya yang tidak mengetahui pekerjaan istrinya sendiri.
Pantaskah ia di katakan sebagai seorang suami? Tapi bukankah Adistya pun tidak melakukan hal layaknya seorang istri?
“Den Gavril sudah pulang?” tanya wanita baya bertubuh tambun itu.
Gavril mengerjap, lalu mengulas senyum tipis. “Ah, iya Bi, gak terlalu banyak pasien hari ini, jadi Gavril pulang lebih awal.”
Bi Nur hanya mengangguk seadanya, lalu pamit undur diri kembali ke dapur dengan kain pel dan ember berada di tangannya. Sementara Gavril melanjutkan langkah menuju kamarnya yang berada di lantai atas, tepat berhadapan dengan kamar Adistya yang belum pernah Gavril masuki setelah di isi oleh perempuan manis yang hampir satu bulan dirinya nikahi.
Selesai membersihkan diri dengan guyuran air dingin, Gavril keluar dari kamarnya sudah dalam keadaan segar, tentu sudah berpakaian lengkap. Untuk beberapa saat dirinya berdiri di depan pintu bercat putih di depannya yang tak lain adalah kamar Adistya. Kemudian memberanikan diri untuk mengetuknya, tapi sudah berkali-kali ia melakukannya tetap saja tidak ada sahutan dari dalam sana, membuat Gavril mengerutkan kening, sebelum kemudian memutuskan untuk menekan tuas itu yang ternyata tidak di kunci.
“Dis,” panggil Gavril pelan seraya masuk ke dalam kamar yang berubah seratus persen dari sebelumnya, tatanan yang rapi dan banyaknya buku-buku tersusun di rak mini membuat Gavril tertarik untuk masuk lebih dalam. Namun baru saja dua langkah dirinya masuk matanya lebih dulu menangkap sosok Adistya yang tertidur di ranjang, memeluk boneka beruang besar yang bahkan menenggelamkan tubuh mungil Adistya.
Tanpa di sangka, langkah Gavril berhenti di samping ranjang istrinya itu, tatapannya tak lepas dari wajah lelap Adistya yang damai, membuat hatinya berdesir hangat dan seulas senyum terukir di bibirnya.
Perlahan Gavril menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah lelap sang istri lalu satu kecupan ringan ia daratkan sebelum kemudian berbalik dan berjalan cepat keluar dari kamar tersebut sebelum Adistya bangun dan memergokinya. Gavril belum siap mendapat amukan perempuan itu.
“Baru kali ini gue nyium cewek sampai nih jantung berdebar-debar,” gumam Gavril pelan seraya menekan dadanya yang berdebar tak seperti biasanya. “Lagian ini bibir berengsek banget main sosor aja. Untung tuh singa gak bangun.” Lanjutnya melayangkan pukulan pelan pada bibirnya, setelah itu pergi menuju dapur untuk meneguk segalas air dingin yang akan menyegarkan kembali otaknya yang mulai panas.
*****
see you next chapter !!!