Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
49. Ancaman



Selamat membaca!!!


***


“Gavril,” panggil Byanca saat melihat kedatangan laki-laki itu di kantin rumah sakit yang belum Byanca tinggalkan sejak tadi. Sambil mengukir senyum Byanca melambaikan tangan meminta Gavril untuk menghampiri dan laki-laki menuruti, membuat senyum di bibir perempuan itu semakin terukir lebar.


“Kamu kok ada di sini?” heran Gavril begitu duduk di kursi yang berhadapan dengan perempuan yang dulu pernah amat dicintainya.


“Ck, lupa kalau aku disini gara-gara kamu?” decak Byanca kesal.


Gavril menaikkan sebelah alisnya tak paham. “Mak—Astaga, By, Sorry!” satu tepukan Gavril layangkan pada keningnya. “Saking paniknya aku sampai lupa kalau kita akan makan siang bareng,” lanjut Gavril begitu mengingat kejadian sebelumnya.


Ya, tadinya Gavril berniat untuk makan siang bersama dengan perempuan itu. memenuhi janji yang sudah berkali-kali Gavril ingkari karena kesibukannya. Dan hari ini kebetulan Gavril memiliki waktu, kebetulan juga Byanca sedang berada di rumah sakit selesai mengurus kepulangan ayahnya yang sempat di rawat. Namun rencana itu kembali gagal karena melihat keberadaan Adistya di ruang tunggu tadi, terlebih kepanikan dan kekhawatiran Gavril yang melihat kondisi putranya sampai membuat Gavril melupakan Byanca yang tadi berada bersamanya. 


Menyesal? Tidak sama sekali Gavril rasakan, toh makan siang dengan perempuan itu bisa lain kali, sementara kesembuhan anaknya tentu saja tidak bisa di tunda-tunda. Jadi Gavril tidak merasa menyesal meninggalkan Byanca demi Gavin yang tak lain adalah putranya sendiri, kesayangannya, darah dagingnya, dan seseorang yang berharga dalam hidupnya.


“Emang yang tadi siapa, Vril, sampai buat kamu sepanik itu?” tanya Byanca pura-pura tidak tahu.


“Kamu masih ingat Adistya bukan?” Byanca mengangguk pelan, berusaha sebaik mungkin menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap perempuan itu. “Anak kecil yang berada dalam pangkuannya saat itu adalah Gavin, anak aku sama dia,” Gavril menunduk sedih mengingat kembali kondisi putranya saat ini. Untuk pertama kalinya Gavril merasa sepanik itu saat mendapati orang sakit.


“Anak?” tanyanya dengan pura-pura terkejut dan tidak tahu, meskipun sebenarnya ia sudah lebih dulu tahu ketika bertemu dengan Adistya beberapa hari lalu.


Gavril mengangguk masih dengan raut sedihnya. “Sebelum mengajukan perceraian itu ternyata Adistya sedang mengandung anak kami, dan aku menyesal tidak menyadari keberadaannya. Aku terlalu lemah dan pengecut untuk meminta Adistya tidak menceraikan aku waktu itu. Niat tidak ingin terus-terusan membuat dia terluka, aku malah semakin membuatnya kecewa. Dan selama enam tahun ini penyesalan terus menghantuiku, sampai kemudian aku tahu ada Gavin yang lahir dari pernikahan singkat kami membuat rasa bersalahku semakin besar.”


Helaan napas berat Gavril keluarkan, kemudian laki-laki itu mendongak dan mengulas senyumnya. “Namun tidak ada gunanya berlarut dalam penyesalan masa lalu, aku hanya perlu memperbaikinya sekarang. Dan aku janji akan menebus waktu yang lama aku lewatkan bersama putraku dan berharap bahwa Adistya bersedia kembali menjalani pernikahan yang sempat hancur enam tahun lalu. Kali ini aku akan memenuhi janjiku untuk membahagiakannya, karena aku sadar bahwa cintaku sebesar itu untuknya,” ucap Gavril dengan semangat yang membara. Tidak sadar bahwa perempuan di depannya menahan sakit dan amarah yang siap diledakan.


Gara-gara kalimat Gavril barusan, kebencian Byanca terhadap Adistya semakin memuncak dan tekad untuk melenyapkan musuhnya semakin membayang di kedua bola matanya. 


“Gue gak akan biarin lo lihat matahari terbit esok hari, Ty. Gue pastikan itu!” batin Byanca tersenyum jahat.


**** 


“Gak apa-apa, El, gue paham. Lagi pula Gavin udah ditangani sekarang,” ucap Adistya menjawab telepon dari sahabatnya yang mengatakan bahwa wanita itu tidak bisa menjenguk Gavin karena ngidamnya yang lebih parah dari kehamilan sebelumnya.


Elma tidak bisa pergi ke mana-mana dan melakukan apa pun, perempuan yang sebentar lagi akan menambah anggota baru di keluarga kecilnya itu hanya bisa bertahan di ranjang karena terlalu lemas untuk bangkit mengingat tidak ada makanan sedikit pun yang masuk selama kehamilan keduanya ini.


“Sialan lo, Ty! Jangan siksa gue dengan bawa makanan itu, please! Lo tahu kalau gue gak bisa nolak dengan makanan pedas itu. Gue gak siap muntahin mereka semua nantinya. Sayang, Ty,” ucap Elma di seberang sana dengan nada memelas dan terdengar lesu.


Adistya paham bagaimana tersiksanya sahabatnya itu sekarang ini, karena Adistya pun pernah merasakannya ketika hamil Gavin, meskipun tidak separah yang sahabatnya alami sekarang.


“Haha, ya udah ah, bye gue mau balik dulu ambil perlengkapan Gavin.”


Adistya mematikan sambungan teleponnya sebelum mendengar jawaban dari si lawan bicara. Masa bodo dengan sumpah serapah yang akan di keluarkan ibu hamil itu.


“Gav, aku boleh titip Gavin bentar ‘kan? Aku mau pulang dulu, bawa perlengkapannya Gavin.” Adistya keluar dari kamar pribadi Gavin yang ada di ruang kerja mantan suaminya itu. 


Gavril yang tengah berkutat dengan pekerjaannya, menoleh pada Adistya dan mengangguk dengan senyum lembutnya. “Iya boleh, kebetulan pekerjaanku juga udah selesai, jadi bisa jaga Gavin selama kamu pergi. Sekalian kamu istirahat dulu di rumah, aku tahu kamu gak tidur dari semalam,” kata Gavril penuh perhatian. 


Adistya meringis tak enak hati. Sebenarnya kalau Gavril di rawat di kamar lain, Adistya bisa meminta ayahnya atau adiknya untuk datang dan menggantikannya menjaga Gavin, tapi sayangnya Gavril tidak mengizinkan anaknya itu pindah kamar karena Gavril ingin langsung menjaganya. Jadilah Adistya hanya bisa pasrah.


“Apa kamu yakin pekerjaanmu gak banyak?” Adistya menunjuk meja pria itu yang terdapat tumpukan berkas. Adistya sangsi dengan apa yang dikatakan mantan suaminya. Tidak sibuk dengan tumpukkan setinggi itu, Adistya jadi bertanya-tanya akan setinggi apa tumpukan berkas itu di kala sibuknya seorang Gavril.


Mengikuti arah yang di tunjuk Adistya, Gavril kemudian melayangkan senyumnya. “Ini yang sudah selesai aku kerjakan. Kamu tenang aja, aku benar-benar gak sibuk hari ini. Sumpah!” Gavril mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.


“Baiklah aku percaya, tapi kalau nanti kamu mendadak ada kerjaan hubungi aku aja, nanti aku pasti langsung ke sini. Jangan terbebani dengan Gavin,” mohon Adistya.


Kembali Gavril menganggukkan kepalanya. Sama sekali ia tidak merasa terbebani dengan putranya, toh sesibuk apa pun dirinya, Gavril akan tetap memprioritaskan anaknya, apalagi dalam keadaan bocah itu sakit seperti ini.


“Kalau begitu aku pergi. Aku janji akan secepatnya kembali,” janji Adistya sebelum kemudian keluar dari ruangan Gavril untuk pulang terlebih dulu. Jujur saja Adistya cukup mengantuk dan lelah saat ini, dan sepertinya ia akan menuruti usulan Gavril untuk istirahat. Ia percaya pria itu dapat menjaga putranya dengan baik.


Adistya menunggu taksi lewat di depan halte yang tak jauh dari rumah sakit, namun hingga sepuluh menit tidak juga ada taksi yang kosong yang akan memberinya tumpangan. Setiap lewat pasti saja taksi sudah terisi dan itu membuat Adistya sedikit kesal. Hari sudah beranjak sore dan ia ingin segera pulang ke rumah untuk istirahat sejenak, sementara ponselnya kehabisan daya, dan Adistya menyesal tidak meminta Gavril untuk memesankannya taksi.


Memilih untuk berjalan sambil mencari kendaraan yang akan membawanya pulang, Adistya yang merasa haus berniat untuk pergi ke minimarket yang ada di seberang jalan, sebisa mungkin ia untuk berhati-hati menghindari kendaraan-kendaraan yang melintas sepanjang jalan. Namun nyatanya Adistya tidak sempat menghindar saat sebuah mobil melaju cepat ke arahnya, menubruk tubuhnya hingga terpental jauh dan tak lama setelahnya suara teriakan terdengar bersamaan dengan orang-orang yang berlari mendekat.


Adistya masih bisa mendengar saat seseorang mengintrupsikan untuk membawanya ke rumah sakit, dan masih dapat ia rasakan saat ada yang mengangkat tubuhnya, hingga kemudian Adistya tidak lagi bisa melihat dan mendengar apa pun, semuanya gelap hanya sakit di sekujur tubuhnya yang Adistya rasakan, selebihnya Gavin lah yang ada dalam benaknya sebelum kemudian kesadaran Adistya benar-benar hilang.


****


Tbc ...