
Selamat Membaca !!!
***
"Gav, kamu dapat undangan reuni sekolah?” tanya Adistya begitu suaminya selesai berpakaian sehabis mandi.
“Dapat, tadi Byanca ke rumah sakit nganterin undangannya,” jawab Gavril yang langsung membuat raut wajah Adistya berubah tegang, tak nyaman dan juga takut.
“Kamu dapat juga?” Adistya mengangguk pelan, sudah tidak lagi semangat membahas mengenai undangan reuni itu setelah tahu bahwa Byanca datang menemui Gavril ke rumah sakit.
“Mungkinkah tujuan perempuan itu hanya memberikan undangan saja? Atau justru malah ada hal lain yang kedua orang itu lakukan?” batinnya, lalu Adistya segera menggelengkan kepalanya. Tidak ingin berburuk sangka pada sang suami yang sudah bersusah payah berusaha memperbaiki dirinya demi menebus kesalahan dulu.
“Nanti kita datang sama-sama, ya,” kata Gavril yang belum juga menyadari perubahan raut Adistya.
“Aku gak datang deh kayaknya,”
“Loh kenapa?” Gavril melirik sang istri, menaikan sebelah alisnya heran.
Adistya menggeleng kecil. “Kerjaanku banyak,” alibinya.
"Sok banget banyak kerjaan, kayak pegawai kantoran aja,” cibir Gavril seraya menjawil hidung mancung Adistya, membuat perempuan itu meringis dan melayangkan delikan kesalnya.
“Emangnya cuma pegawai kantor aja yang boleh sibuk,” Adistya memutar bola matanya. “Penulis bahkan lebih sibuk karena harus merangkai ide-ide dalam kepalanya sendiri agar lebih menarik ketika di ceritakan dalam sebuah buku. Asal kamu tahu, itu bahkan tidak mudah, meskipun aku sudah terbiasa,” ujarnya panjang lebar.
“Seorang dokter apa kamu kira itu mudah?” Gavril menggelengkan kepalanya singkat. “Dokter harus gesit, teliti dan cekatan. Satu kali saja salah penyuntikan maka bisa membahayakan pasien. Kerumitan di dunia kepenulisan belum ada apa-apanya di bandingkan dengan dunia kedokteran,” jelas Gavril singkat.
“Nyatanya aku lebih sibuk bukan?” Gavril mengulas senyumnya, dan itu membuat Adistya mendengus jengkel. Tidak lagi bisa mengelak ajakan suaminya untuk hadir di reuni SMA. Padahal ia enggan bertemu dengan teman-teman masa remajanya dulu yang lebih banyak merendahkannya karena terlalu mengejar seorang Gavril yang sudah bersinar sejak masa itu.
Apa jadinya nanti jika semua teman-teman pria itu yang dulu ikut menonton saat dirinya direndahkan tahu bahwa ia sudah menikah dengan Gavril. Takjubkah atau justru malah akan semakin merendahkannya? Entahlah, Adistya tidak tahu, tapi ia berharap bahwa semua orang telah melupakan kejadian bertahun-tahun silam itu.
...****...
“Cantik,” puji Gavril begitu melihat penampilan istri tercintanya dalam balutan gaun pesta berwarna hitam berkerah sabrina dengan panjang gaun sebatas lutut yang sedikit mengembang, menampilkan Adistya yang manis terlihat semakin imut dan memanipulasi usianya yang hampir menginjak angka dua puluh delapan. Dan tentu saja lebih cantik dengan rambutnya yang sengaja di churly bagian bawah dan polesan make up tipis yang memberikan kesan natural.
Jangan lupakan heels tujuh senti yang membalut kaki jenjangnya, membuat penampilan Adistya malam ini begitu sempurna. Sampai Gavril rasanya tak rela membagi kecantikan istrinya dengan orang lain di luaran sana. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjut janji pada teman-teman SMA-nya bahwa ia akan datang.
“Sudah siap?” tanya Gavril setelah beberapa menit lamanya tersihir oleh pesona sang istri. Adistya hanya mengangguk, dan tanpa menunggu lagi Gavril langsung meraih tangan wanita cantik itu, melingkarkan lengannya posesif di pinggang Adistya kemudian keduanya berjalan beriringan keluar dari kamar.
“Silahkan masuk tuan putri,” ujar Gavril seraya membukakan pintu mobil, bak pangeran-pangeran yang membukakan pintu kereta kencana untuk princess-nya.
Blush.
Wajah Adistya memerah seketika dengan ucapan Gavril barusan. Suaminya itu begitu manis, dan sepertinya Adistya ingin di rumah saja bersama laki-laki tercintanya itu, menghabiskan malam hanya berdua saja.
“Jangan lupa pakai sabuk pengamannya,” peringat Gavril karena sungguh, Adistya adalah satu dari sepuluh orang di negeri ini yang selalu saja lupa memakai sabuk pengaman.
Setelah dirasa siap, barulah Gavril melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah, masuk ke jalan raya yang pada malam minggu ini begitu penuh dengan kendaraan roda empat maupun roda dua. Namun perjalanan mereka tidak sama sekali membosankan, karena Gavril selalu saja melontarkan candaan dan Adistya yang selalu saja menimpali dengan kata-kata mutiaranya khas seorang penulis berpengalaman. Hingga pada akhirnya setelah kurang lebih empat puluh menit berada di jalan, kini mereka sudah sampai di parkiran SMA Nusa Ayana, tempat keduanya dulu menuntut ilmu.
Kembali menginjakan kaki di sekolah yang bertahun-tahun lalu sempat memberinya warna dan luka, membuat Adistya jadi teringat akan kebodohannya. Hatinya ingin tertawa, tapi rasa perih juga ikut dirinya rasakan. Namun sepertinya itu sudah tak pantas lagi Adistya kenang, karena semuanya sudah berlalu dan Gavril sudah berubah.
Begitu turun dari mobil Gavril, Adistya bukan main gugupnya. Kakinya berat untuk melangkah, tubuhnya tiba-tiba lemas dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, apalagi saat mereka berhasil menginjakan kaki menuju aula berada.
Gavril yang merasakan ketegangan istrinya, menghentikan langkah dan menoleh pada perempuan cantik itu, menanyakan keadaan istrinya yang terlihat tak baik-baik saja. Namun Adistya malah justru menggeleng dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Mau pulang aja?” tanya Gavril cemas.
“Udah terlanjur disini loh, masa mau pulang. Masuk aja yuk, acaranya sebentar lagi mau di mulai.” Adistya memberikan senyum lembutnya, menyakinkan suaminya bahwa ia benar tak apa-apa meskipun hatinya masih ketar-ketir memikirkan pandangan orang di dalam sana mengenai kedatangannya bersama Gavril.
"Tapi kamu beneran gak apa-apa?” Gavril bertanya memastikan, dan Adistya menjawab dengan anggukan yakin.
“Aku cuma kebelet pipis aja,” bisik Adistya yang memang begitulah pada kenyataannya. Gara-gara menahan kegugupannya, kantung kemihnya menjadi penuh dan tak tahan untuk Adistya keluarkan.
“Ya udah, yuk aku temenin,”
“Ehh jangan, di toilet cewek pasti banyak orang, nanti kamu di kira mau ngintip. Masuk duluan aja, lagian aku gak akan nyasar kok, ini bukan tempat asing lagi buat aku. Tiga tahun loh aku sekolah di sini,” ujar Adistya mencegah Gavril yang melangkah sambil menariknya lembut.
Gavril pada akhirnya pasrah saja, dan membiarkan istri cantiknya itu pergi ke toilet seorang diri, tapi ia tidak menuruti Adistya untuk masuk lebih dulu, melainkan memilih menunggu di depan pintu masuk aula. Hanya beberapa menit sebelum salah satu temannya memanggil dan mereka terlibat obrolan seru mengenai pertemuan pertama mereka setelah sekian lama tidak pernah lagi saling bertegur sapa, sampai Gavril tak sadar bahwa kini ia sudah bergabung dengan sekumpulan orang yang tidak semuanya Gavril kenal, berbincang penuh keseruan, sampai sebuah tepukan kecil di pundaknya membuat Gavril menoleh.
“Datang juga kamu, By?” tanya Gavril dengan binar tak percaya sekaligus senang. Setelahnya Gavril menarik Byanca masuk ke dalam pelukannya. Tidak sadar bahwa semua orang di sekelilingnya memperhatikan dengan berbagai tatapan.
“Kalian masih sama-sama?” tanya salah seorang teman Gavril yang tadi membawanya masuk, menyudahi pelukan Gavril dan Byanca.
“Udah lama putus, tapi kita emang masih dekat sampai sekarang. Mantan kan gak selama harus musuhan, bro,” ujar Gavril menjelaskan, dan di respons sebuah anggukan oleh orang yang menyaksikan sejak tadi, hingga sebuah celetukan menyuruh mereka balikan terdengar, membuat Gavril tersenyum canggung.
Dan tanpa di sadari mereka, bahwa Adistya mendengar dan melihat apa yang terjadi, membuat dada perempuan manis itu sesak, terlebih saat menyaksikan sang suami yang hanya memberikan senyuman, walau itu begitu tipis.
Niat awal yang ingin menghampiri Gavril tidak peduli apa pun ucapan orang nanti, akhirnya Adistya urungkan saat dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan bagaimana Gavril memeluk Byanca yang semua orang tahu bahwa keduanya pernah menjalin hubungan semasa sekolah dulu, dan menjadi pasangan paling di idolakan hampir semua penghuni sekolah pada masa itu, kecuali Adistya dan Elma yang tak menyukai hubungan keduanya.
“Lo boleh berhasil menikahi Gavril, tapi lo harus ingat bahwa di hati Gavril hanya ada gue, dari dulu hingga sekarang ini. Jadi lo jangan terlalu berharap lebih, karena sampai kapanpun Gavril tidak akan pernah mencintai lo.”
Perkataan Byanca tempo hari kembali terngiang dikepalanya, membuat dadanya bertambah sakit, dan kepalanya pun berdenyut nyeri. Air mata tidak lagi bisa Adistya tahan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari aula, meninggalkan keramaian acara yang baru saja di mulai.
Taman belakang sekolah adalah tempat yang Adistya kini kunjungi, tempat persinggahannya saat Gavril mempermalukan dan mematahkan hatinya, dan di tempat ini pula Adistya menangis sepuasnya. Taman yang tidak berubah banyak, hanya pepohonannya saja yang semakin rindang, dan rasa dingin yang semakin menusuk kulitnya.
“Gav, apa cinta yang selalu kamu utarakan beberapa bulan belakangan ini hanyalah manipulasi agar semakin membuatku terluka? Apa setidak pantas itu aku untuk kamu cintai? Aku harus bagaimana? Terlanjur hati ini terjatuh sedalam-dalamnya, terlanjur cinta ini berkembang sebegitu besarnya dan terlanjur perasaan ini tidak ingin aku hentikan. Namun haruskah aku bertahan pada luka yang sejak dulu selalu menghancurkan? Haruskan aku tetap menjadi bodoh walau harga diri telah kamu jatuhkan?Aku harus apa, Gav?” Adistya berucap dengan begitu lirih, diiringi tangis bisu dan air mata yang mengalir tanpa hambatan.
“Tuhan, tolong beri aku jawaban atas semua yang menyesakan ini.”
****
See you next part !