
Selamat Membaca !!!
***
Brengsek.
Untuk kali ini Gavril suka mendengarnya dan ia anggap sebagai pujian dari Adistya. Pujian yang amat begitu manis dan juga menyenangkan.
Gavril akui ia puas karena pada akhirnya Adistya selalu kembali padanya, tapi untuk saat ini ia akan lebih puas jika wanita itu kembali menjadi miliknya dalam ikatan yang sesungguhnya, ikatan sebuah pernikahan yang tidak akan lagi Gavril sia-siakan dan tidak akan lagi ia mengecewakan Adistya yang sangat dirinya cintai.
Gavril sadar bahwa ia terlambat menyadari perasaannya itu. Ia merasa benar-benar jatuh cinta saat Adistya pergi darinya beberapa tahun lalu, ia baru menyadari seberapa berharganya Adistya saat perempuan itu tak lagi berada di sisinya, saat Adistya membencinya dan saat Adistya menyerah akan perasaannya yang selalu ia kecewakan. Menyesal tak ada gunanya, Gavril hanya perlu memperbaiki semuanya dan memulai dari awal lagi. Ia janji untuk tidak lagi mengulangi kesalahan dan kebodohannya. Mulai saat ini, tidak akan ada perempuan selain Adistya. Selamanya.
Cup.
“Gak usah cium-cium!” dorong Adistya dengan sedikit kasar, tapi Gavril tidak menyerah. Pria itu kembali mencuri ciuman di bibir tipis Adistya, menggodanya agar luluh dari rasa kesal perempuan itu, dan seperti biasa, Adistya adalah perempuan yang sulit di taklukkan, padahal saat di Bandung beberapa waktu lalu sudah luluh dan dapat dirinya taklukkan. Kenapa sekarang jadi terkesan jual mahal?
“Yang,”
“Hem,”
“Sayang,”
“Ck, apa sih!” kesal Adistya menepis tangan Gavril yang menyolek-nyolek dagunya. Gavril menyunggingkan senyum melihat kekesalan dari mantan istri sekaligus calon istrinya itu. Adistya terlihat menggemaskan, Gavril tidak tahan untuk menerjangnya.
“Nikah yuk,” ucap Gavril ringan.
Adistya mendelik, menatap Gavril dengan tajam. “Ngajak nikah kayak ngajak makan. Ringan banget. Yang ngajak pacaran aja gugupnya setengah mati.”
Gavril memutar bola matanya. “Jadi, ceritanya kamu mau di romantisin?” tanya Gavril kembali menyolek dagu perempuan itu untuk menggoda Adistya yang masih setia dengan wajah kesalnya.
“Siapa yang bilang?”
“Mata kamu,” jawab singkat Gavril lalu menjatuhkan ciumannya di pipi Adistya dan menarik perempuan itu ke kursi yang berada di depan meja kerja yang ada di kamar, mendudukkan Adistya di pangkuannya lalu memeluk tubuh ramping itu dengan erat, tidak ingin sampai sang calon istri kembali terlepas dari rengkuhannya. Karena Gavril tidak akan sanggup lagi kehilangan sang belahan jiwa.
“Kamu mau dengan cara apa di romantisinnya?” bisik Gavril di belakang telinga Adistya.
Perempuan itu bergidik geli karena hembusan napas Gavril yang hangat menyentuh titik sensitifnya. “Yang di bandara tadi, kurang romantis memangnya? Itu udah kayak di film-film loh, Yang,” lanjut Gavril masih dalam posisi yang sama, posisi yang membuat Adistya tidak nyaman.
Adistya tidak mengerti sejak kapan mantan suaminya itu jadi agresif seperti ini dan Adistya bukanlah gadis kemarin sore yang tidak tahu sesuatu keras yang menyentuh bokongnya saat ini. Ia sudah dewasa bahkan sudah pernah menikah. Dan sikap Gavril sekarang menyadarkan Adistya bahwa pria itu sedang tidak baik-baik saja.
Bukan tidak baik dalam artian sakit, melainkan sesuatu yang membutuhkan kepuasan. Apalagi sekarang suara Gavril sudah berubah serak, di tambah dengan deru napasnya yang semakin hangat dan berat. Adistya tahu apa tandanya itu. Dan sekarang ia tengah berada dalam bahaya. Bahaya yang mengancam tubuhnya.
“Gav—”
“Kamu mau kan nikah sama aku lagi? Aku janji tidak akan mengecewakanmu, mengkhianatimu dan menyakitimu. Aku tidak akan menjadi laki-laki brengsek lagi. Apa pun akan aku lakukan demi kamu, Dis, aku janji!” ucapnya dengan lirih dan yakin.
“Apa pun?” tanya Adistya memastikan. Gavril mengangguk tegas.
“Kalau begitu …” Adistya menyentuh tangan Gavril yang melingkar di perutnya dan melepaskan pelukan itu dengan perlahan kemudian berbalik menatap Gavril yang juga menatapnya. “Tahan ini hingga ijab Kabul kita kembali kamu ucapkan di depan Ayah, penghulu dan saksi.” Adistya menepuk dua kali sesuatu yang mengeras di bawah sana, kemudian berlari keluar dari kamarnya, meninggalkan Gavril yang mengerang merasa tersiksa.
Tidak lupa Adistya mengunci pintu kamarnya agar Gavril tidak bisa keluar dari sana sebelum menyelesaikan urusan pria itu sendiri.
Adistya menuruni tangga, sambil menggelengkan kepala, tidak menyangka bahwa pria itu berubah jadi semesum ini. Meskipun saat mereka masih dalam ikatan pernikahan Gavril mesum, tapi rasanya sekarang kemesuman pria itu bertambah berkali-kali lipat, dan Adistya bisa merasakan bahwa Gavril tidak bisa menahan hasratnya. Ia jadi penasaran apa mungkin selama ini pria itu kesepian dan tidak pernah menyalurkan hasratnya?
“Non Tya?”
Adistya tersenyum saat mendapati Bi Nur di dapur. Lalu berjalan mendekat dan memeluk wanita paruh baya itu dengan hangat. “Siang Bi, gimana kabarnya?” tanya Adistya begitu pelepaskan pelukannya.
“Bibi sehat, Non gimana kabarnya?” balik wanita baya itu bertanya. Dan lagi Adistya tersenyum lalu mengajak Bi Nur untuk duduk di kursi meja makan. Rasanya akan lebih enak mengobrol sambil duduk.
“Tya sehat, Bi,” jawab Adistya hangat. “Tya senang Bibi masih kerja di sini,” ucapnya kembali mengulas senyum.
“Bibi udah nyaman sama Den Gavril, Non. Males juga nyari kerjaan lain. Oh iya, Non ke mana aja? Kenapa gak pernah cerita kalau lagi ada masalah sama Bibi? Kenapa juga Non gak ngasih tahu Bibi kalau Non hamil?”
Adistya cukup terkejut dengan kalimat Bi Nur yang terakhir, tidak menyangka bahwa wanita baya itu akan tahu dirinya hamil sementara Gavril saja tidak mengetahuinya sama sekali.
Mengerti dengan keterkejutan Adistya, Bi Nur menjelaskan mengenai dari mana dirinya tahu perempuan itu hamil, sekaligus menjelaskan bagaimana terkejutnya dia saat mengetahui itu ketika membereskan kamar Adistya yang ditinggalkan pemiliknya. Juga kesedihannya yang mendapati sang majikan bercerai.
“Bibi nangis sepanjang hari saat mendengar kabar Non gugat cerai Den Gavril. Bibi gak pernah tahu ada masalah apa di antara kalian, tapi rasanya Bibi gak rela kalian berpisah, apa lagi saat itu Non gak ada pamit sama sekali. Bibi merasa kehilangan banget, Non,” ucapnya menangis.
Adistya kembali memeluk tubuh ringkih wanita baya itu seraya mengucapkan kata maaf. Tidak menyangka bahwa keputasannya bercerai dan pergi dari kehidupan Gavril akan membuat semua orang bersedih.
“Tapi kan setelahnya Bibi dapat teman baru,” Adistya berusaha untuk tersenyum, menekan kuat rasa sakitnya mengenai kenyataan bahwa Gavril pernah menikah dengan perempuan lain.
“Tetap aja, Bibi sedih. Meskipun Bu Rania baik, Bibi gak bisa seleluasa seperti saat sama Non Tya.” Katanya dengan sungguh-sungguh. Adistya hanya tersenyum menanggapi.
“Oh iya, Tya sampai lupa kalau ke dapur pengen minum,” ujarnya terkekeh, kemudian bangkit dari duduknya dan membuka kulkas, mengambil satu botol air mineral kemudian mengambil beberapa buah apel dan juga pisang yang ada di lemari pendingin itu, setelahnya kembali duduk di kursinya semula, bergabung bersama Bi Nur yang masih sibuk menghapus air matanya.
“Non kapan datang?” tanya wanita baya itu memulai kembali obrolan.
“Satu jam yang lalu deh kayaknya,” Adistya berusaha mengingat.
“Bibi kira cuma Den Gavril aja yang pulang,” ucapnya pelan. “Non Tya sama Den Gavril udah baikan?” tanya Bi Nur kemudian.
“Di paksa,” jawab Adistya cuek, setelahnya suara tawa terdengar dari Bi Nur.
“Ada, ya, yang di paksa tapi kayak sukarela gini,” kekeh Bi Nur, membuat Adistya menoleh dan metapan wanita baya itu tak paham. “Kalau memang di paksa dan Non terpaksa, kabur sekarang Non, mumpung Den Gavril gak ada,” lanjutnya kemudian kembali tertawa, dan kali ini Adistya ikut tertawa dengan wajah merahnya, malu. Benar, jika memang dirinya di paksa, seharusnya sekarang ia sudah melarikan diri mumpung Gavril terkurung di dalam kamar.
“Tapi Bibi senang kalau pada akhirnya kalian kembali,” Bi Nur mengulas senyum tulus. “Sejak pisah sama Non Tya, Den Gavril murung terus. Oh iya, anak Non mana?” seperti baru ingat mengenai itu, Bi Nur menatap sekeliling berusahan mencari bocah kecil yang dihitungnya sudah berusia lebih dari enam tahun.
“Ada di Bandung sama Mama Avril,” jawab Adistya dengan seulas senyum tipis.
“Ah iya, Den Gavril sekeluarga pindah satu tahun lalu. Bibi gak tahu kenapa, saat itu Den Gavril kelihatan kacau banget dan Bibi gak berani tanya. Tahu-tahu Den Gavril telpon Bibi dan minta jagain rumahnya. Setelahnya Bibi gak pernah lihat Den Gavril pulang.” Jelas Bi Nur dengan raut sedih dan juga penasaran.
“Itu karena Tya yang minta Bi,” Adistya menunduk sedih, ia merasa bersalah saat mengingat itu kembali. “Saat itu Tya kecelakaan … eum tepatnya di tabrak sampai buat Tya lumpuh selama satu tahun lebih. Ini aja baru sembuh,” menunjukkan kaki dan tangannya, Adistya kemudian mengulas senyum, berusaha untuk tidak kembali emosi.
“Astaga, siapa yang berbuat jahat seperti itu?” wanita baya itu menutup mulutnya yang terbuka, terkejut mendengar kabar yang menimpa perempuan muda di depannya.
“Mantannya Gavril. Byanca,” jawab Adistya menahan emosinya. Perempuan itu meremas kuat ujung blus yang di kenakannya. Masih ada amarah yang dirinya miliki untuk Byanca yang sudah membuatnya sengsara selama satu tahun belakangan ini. Ah, bukan hanya satu tahun, tapi sejak remaja dulu, iblis itu selalu membuatnya sengsara dengan alasan yang sama, yaitu Gavril.
***
Tbc ...