
Selamat Membaca!!!
***
“Bunda kenapa Ayah gak ada jemput Gavin?” tanya bocah itu ketika selesai Adistya mandikan sore hari ini.
“Ayah sedang sibuk dengan pekerjaannya, sayang,” jawab Adistya yang memang pria itu mengatakannya dua hari lalu.
Gavril meminta maaf karena untuk satu minggu ke dapan tidak bisa mengunjungi dan mengajak main putranya karena harus keluar negeri untuk mengurusi pekerjaan.
Adistya tentu saja tidak masalah untuk itu, toh dirinya pun sedang tidak ingin bertemu dengan mantan suaminya setelah cerita pilu ia dengar tempo hari.
Sebenarnya Adistya masih sulit mempercayai apa yang diceritakan Gavril, tapi tak bisa ia pungkiri bahwa kesedihan ikut dirinya rasakan.
Aneh? Memang. Namun entahlah, yang jelas seolah ada dorongan yang memintanya untuk percaya. Tapi Adistya memilih untuk tidak terlalu memedulikannya.
“Apa akan lama?” kembali bocah itu melontarkan tanya, tatapannya terlihat sendu dan Adistya sadar bahwa sang putra merindukan ayahnya.
“Tidak akan lama, percayalah. Setelah Ayah pulang, dia bilang sama Bunda akan mengajak liburan, tapi Gavin harus mendapatkan nilai seratus di sekolah,” ucap Adistya membuat mata bocah itu berbinar dan melompat gembira.
Adistya hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum kecil sebelum kemudian menarik lembut sang putra untuk ia pakaikan baju.
“Sama Bunda juga kan perginya? Gavin udah gak sabar nunggu Ayah pulang. Pasti seru kalau kita liburan bersama. Ada Ayah, Bunda, Gavin …”
Adistya diam. Tatapannya berubah kosong, dan wanita satu anak itu tidak lagi mendengarkan ocehan putranya yang terlihat begitu bahagia.
Liburan bersama? Tidak pernah Adistya terpikirkan mengenai hal itu. Dan memang ia tidak berniat untuk melakukan liburan bersama Gavril. Meskipun tahu bahwa pria itu melajang setelah kepergian Rania. Bagaimanapun hubungan mereka sudah selesai, Dan rasanya akan canggung jika mereka pergi untuk berlibur layaknya keluarga kecil pada umumnya.
“Bunda!”
Adistya mengerjap, cukup terkejut dengan tepukkan di pipi yang bocah di depannya itu berikan.
“Bunda kok bengong?”
“Gak kok, Sayang, Bunda cuma lagi mikirin ke mana kita akan liburan nanti,” bohong Adistya, Yang kemudian disesalinya karena dengan begitu secara tak langsung ia menyetujui liburan bersama Gavril. Sial!
“Gavin mau berenang di laut, Bunda. Jadi kita liburannya ke pantai ya, ya?” bujuknya dengan wajah memohon, membuat Adistya tidak tega untuk menolak.
“Baiklah, nanti kita bicarakan dengan Ayah,” pasrahnya.
Gavin bersorak gembira dan berlari keluar dari kamar, memanggil kakek dan Uncle-nya dengan nada riang, memamerkan mengenai rencana liburannya.
Adistya hanya bisa menghela napas lelah, setelah ini ia harus memikirkan alasan agar tidak harus ikut tanpa mengecewakan anaknya. Karena jujur saja, Adistya belum siap jika harus pergi berlibur bersama Gavril.
Setiap kali melihat wajahnya Adistya selalu teringat akan rasa sakit dan kecewa yang pria itu berikan. Tapi tak dapat di pungkiri bahwa setiap kali menatap wajah itu jantungnya berdebar tidak pada ritmenya, debaran yang sejak dulu selalu dirinya rasakan setiap kali berdekatan dengan pria itu dan membuat hatinya menghangat. Debaran yang selama enam tahun ini dirinya rindukan.
Ya, rasa itu memang masih ada, tapi untuk memiliki dan kembali bersama tidak pernah Adistya mengharapkannya.
...****...
Hari itu datang, hari dimana Gavril pulang dari perjalanan bisnisnya dan sesuai janji pria itu akan mengajak putranya berlibur di akhir pekan. Membuat Gavin tak sabar, sementara Adistya belum juga menemukan alasan untuk dirinya tetap tinggal di rumah, membiarkan kedua laki-laki beda usia itu berlibur tanpa dirinya, meskipun Adistya sedikit tak yakin meninggalkan Gavin karena sudah pasti bocah itu akan begitu merepotkan, apalagi jika sudah main di pantai.
Gavril tidak masalah, selama itu bisa membuat anaknya bahagia dan melihat Adistya, walau tidak bisa berduaan dengan mantan istrinya itu.
“Gimana udah siap semua?” tanya Gavril pada sang putra yang sudah menunggu di depan pintu. Terlihat bocah itu sudah tak sabar untuk pergi, membuat Gavril mengulas senyumnya dan mengacak rambut anaknya itu dengan gemas.
“Tinggal tunggu Bunda turun,” jawab bocah itu seraya melirik ke dalam rumah.
Gavril hanya mengangguk singkat, lalu meminta putranya itu untuk membantu memasukan barang bawaan ke dalam mobil. Dan tak lama setelah itu Seno keluar bersama istrinya, di susul oleh Adistya. Sementara para orang tua sudah asyik mengobrol sejak tadi. Melepas rindu karena sudah cukup lama tak bertemu.
“Om sama Tante gak masalah kan satu mobil sama kami?” tanya Seno pada kedua orang tua Gavril. “Biar Ayah, Tya sama Gavin di mobilnya Gavril. Jadi satu mobil kita berempat,” lanjutnya yang kemudian diangguki kedua paruh baya itu, sementara Adistya mendesah pasrah harus satu mobil dengan Gavril, setidaknya ada sang ayah, jadi selama perjalanan tidak akan terlalu canggung.
“Kalau begitu, Lets Go!” seru Gavin semangat, kemudian berlari menuju mobil sang ayah dan naik lebih dulu memposisikan diri di jok belakang.
Adistya menyusul dan hendak bergabung duduk dengan sang putra, tapi dengan cepat Satya menghentikannya. “Kamu di depan, Ayah pengen lebih leluasa istirahatnya,” ucapnya lalu masuk sebelum Adistya melayangkan protesan.
Lagi dan lagi Adistya menghela napasnya pasrah, kemudian duduk di jok penumpang, bersebelahan dengan Gavril yang akan mengemudi.
Sepanjang perjalanan diisi oleh celotehan semangat Gavin, yang tentu saja di tanggapi oleh Gavril dan Satya, sementara Adistya memilih menatap jalanan di sampingnya. Tidak ada yang wanita itu pikirkan, hanya diam dan menatap kosong. Hingga tak sadar suasana di dalam mobil sudah sunyi karena Satya yang sudah lebih dulu memilih memejamkan mata di susul oleh Gavin yang sepertinya kelelahan. Hanya Gavril yang bertahan karena memang pria itu yang mengemudikan mobil.
“Dis,” panggil Gavril pelan, membuat Adistya menoleh dan tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik, sebelum Gavril kembali fokus pada jalanan di depannya, tidak ingin membahayakan dirinya sendiri dan tiga nyawa lainnya.
“Aku tahu perpisahan kita tidak baik. Kekecewaanmu, lukamu dan segala kesakitan yang kamu rasakan membuat kamu amat membenciku. Terlalu tidak tahu diri jika aku mengharapkan hubungan kita yang dulu. Tapi bisakah kita berdamai? Setidaknya hubungan kita tidak secanggung ini. Aku hanya memintamu untuk berteman, meskipun jauh di lubuk hatiku, aku menginginkan status kita yang dulu. Bukan karena Gavin, tapi karena aku memang masih mencintaimu.”
Satu menit …
Lima menit …
Sepuluh menit …
Tidak ada respons apa pun dari Adistya, wanita itu malah kembali menatap jalanan di sampingnya, sedangkan Gavril masih sibuk dengan kemudinya dan helaan napas berkali-kali laki-laki itu keluarkan. Sedikit kecewa. Tapi Gavril tidak ingin memaksa Adistya untuk menjawab apa yang baru saja disampaikannya.
Sisa perjalanan di isi dengan keheningan, hingga mereka tiba di tempat tujuan, Adistya tidak sama sekali menoleh pada Gavril, membuat pria itu lagi-lagi menghela napasnya dan Satya yang sejujurnya sejak tadi tidak benar-benar tertidur mendengar semua yang di ucapkan menantunya.
Satya iba, tapi Satya tidak ingin terlalu ikut campur. Cukup dulu kesalahan ia perbuat, sekarang biarlah anaknya itu yang memutuskan sendiri. Kembali atau tidaknya kedua insan itu, Satya hanya mendoakan yang terbaik untuk sang putri tercinta.
“Bunda, Gavin mau berenang sekarang,” rengeknya dengan mata berbinar begitu pemandangan laut sudah berada di depan mata.
“Istirahat dulu, makan, setelah itu baru kita berenang,” ujar Adistya tegas, tanda bahwa dirinya tidak menerima bantahan.
“Iya Bunda,” Gavin menunduk lesu, kemudian berjalan menuju vila yang ayahnya sewa untuk dua malam ke depan.
Gavin yang menyaksikan itu mengulas senyumnya kecil. Kepatuhan Gavin sepertinya sudah di latih dengan baik, dan itu membuat Gavril kagum pada mantan istrinya yang bisa lembut dan tegas di saat yang tepat.
“Terima kasih sudah menjadikan Gavin sosok anak yang penurut,” bisik Gavril pelan.
***
see you next part!!