Prenuptial Agreement

Prenuptial Agreement
37. Kesedihan Gavril



Selamat Membaca !!!


***


Mual dan muntah di pagi hari sudah sering Adistya alami beberapa hari belakangan ini, apalagi kini dirinya tinggal di tempat yang berbeda dengan cuaca yang berbeda.


Penyesuaian tubuhnya dengan cuaca dingin di Swiss membuat Adistya sedikit kewalahan, terlebih dalam kondisi hamil. Beruntung ada Irene dan ibunya yang membantu Adistya selama satu minggu ini, membuatnya sangat berterima kasih.


Adistya tak tahu jika tidak ada mereka, mungkin ia akan menyerah dan memilih pulang ke negara asalnya. Meskipun sebenarnya keinginan itu memang selalu hadir dalam kepalanya, tapi Adistya meneguhkan hati untuk tetap tinggal. Lagi pula ia belum siap jika harus kembali bertemu dengan Gavril, walau kemungkinan untuk bertemu amat kecil mengingat dirinya lebih suka mengurung diri di kamar.


“Tya, aku harus berangkat kerja. Apa tidak masalah aku tinggal?” tanya Irene dengan raut khawatir yang begitu ketara.


“Tidak apa, Rene. Berangkatlah. Sebentar lagi juga aku akan membaik. Mual seperti ini memang wajar dialami ibu hamil muda sepertiku, tidak perlu cemas,” jelas Adistya meyakinkan sahabatnya itu untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya. Lagi pula memang begitulah pada kenyataannya, Adistya akan membaik begitu menjelang siang. Ia hanya mual pada saat pagi hari saja, selebihnya Adistya merasa baik-baik saja, bahkan dirinya bisa melanjutkan tulisannya yang terbengkalai sejak perceraiannya dengan Gavril.


“Baiklah kalau begitu. Jika ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku atau ibuku,” pesan Irene sebelum pamit untuk berangkat kerja.


Adistya mengantar hingga depan pintu apartemennya, tidak lupa mengucapkan terima kasih karena sahabatnya itu sudah menemaninya semalam. Bukan Adistya yang minta, tapi ia begitu senang saat Irene mengatakan akan menginap, dan semalam mereka habiskan dengan mengobrol banyak hal seperti layaknya dua sahabat yang lama tak berjumpa.


Banyak cerita yang Adistya dapatkan dari sahabat satunya itu, termasuk mengenai rencana pernikahan perempuan itu.


Sedikit banyak Adistya juga menceritakan mengenai mantan suaminya. Awal mula mereka bertemu hingga terjadinya pernikahan yang sama-sama tidak keduanya inginkan, hingga kemudian perceraiannya yang jujur saja hingga saat ini belum bisa Adistya terima.


Tangan Adistya bergerak menyentuh perutnya yang masih rata, setetes air mata jatuh dan dengan cepat Adistya seka. Tidak ingin menangisi lagi Gavril yang mungkin saja sedang bahagia saat ini. Merencanakan pernikahannya dengan Rania, perempuan yang laki-laki itu cintai.


Benar apa yang Byanca ucapkan waktu itu. Bukan Byanca ancaman terbesarnya, melainkan Rania. Perempuan yang hampir Gavril nikahi dan tidak Adistya ketahui. Sementara yang selama ini Adistya khawatirkan adalah kehadiran Byanca. 


Apa mungkin sekarang lo tertawa puas karena gue kembali Gavril sakiti, By? 


...****...


“Boleh duduk di sini?” 


Gavril yang menatap kosong gelas kopinya menoleh dan mendapati Byanca berdiri di depannya dengan senyum terukir dan secangkir latte yang masih terlihat mengepul. Hanya anggukkan yang Gavril berikan sebagai izin untuk mantan kekasihnya itu.


“Sendirian aja, nih, istrinya gak di ajak?” tanya Byanca yang sama sekali tidak mendapati tanda-tanda bahwa pria itu ada yang menemani selain dirinya.


Gavril tak menanggapi, malah justru semakin menundukkan kepalanya karena kembali ingat pada perceraiannya dengan Adistya.


Gavril benci dirinya lemah seperti ini, tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Adistya-nya sudah pergi, dan hubungan mereka berakhir karena keegoisannya. 


Menghela napasnya berat, Gavril kemudian menyesap kopi hitamnya yang masih tersisa setengah, lalu menatap ke samping dimana banyak orang berlalu lalang menghindari hujan yang memang tengah mengguyur bumi.


Keberadaan Rania tidak lagi berarti, karena setiap detiknya hanya Adistya-lah yang ada dalam pikiran Gavril. Tentang bagaimana kabar Adistya sekarang, sedang apa perempuan itu, sehatkah, masihkah wanita itu menangis, dan masih banyak pertanyaan lainnya yang bersarang di kepalanya termasuk mengenai pertanyaan, apakah Adistya merindukannya?


Kembali Gavril menghela napasnya panjang. Dan itu tidak lepas dari perhatian Byanca yang sejak beberapa menit lalu sudah mengerutkan keningnya.


“Vril, kamu … apa sedang ada masalah?” tanya Byanca hati-hati.


Gavril menoleh dan menatap Byanca untuk beberapa saat sebelum kemudian kembali menoleh pada kaca jendela di sampingnya yang masih menampilkan pemandangan hujan yang semakin deras mengalir, membuat rasa dingin menyeruak menyentuh kulit. Tapi rasa dingin itu belum sebanding dengan dingin yang hatinya rasakan akibat kandasnya rumah tangganya dengan Adistya. 


“Baru kali ini aku merasa menyesal yang benar-benar menyesal,” lirih Gavril memulai ceritanya.


Byanca masih belum paham, tapi tidak berniat menyela, ia masih menunggu kelanjutan cerita pria itu yang sepertinya terlihat berat. Byanca tidak ingin memaksa, karena sadar bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, hanya mantan yang tentu sudah tak lagi diinginkan. Gavril sudah menegaskannya saat di acara reuni tempo hari. Walau tak rela, Byanca berusaha menerimanya.


“Aku menyesal kenapa harus kembali bertemu dengan Rania, aku menyesal karena masih saja lemah dengan rasa ini, menyesal karena telah mengkhianati Adistya,”


Gavril membuang napasnya kasar, sementara Byanca masih setia mendengarkan. Namun cukup terkejut dengan apa yang Gavril ucapkan. Ia memang tahu perihal kembalinya Rania, tapi Byanca tidak menyangka bahwa laki-laki itu benar-benar mengkhinati istrinya.


“Aku menyesal kenapa tidak menyadari perasaan ini dengan cepat, aku menyesal kenapa harus sekarang aku sadar dengan perasaanku yang sesungguhnya, disaat dia memilih melepaskan diri, disaat dia benar-benar pergi. Benar-benar pergi meninggalkanku. Aku … aku menyesal, By. Kenapa aku masih sejahat itu sama dia? Kenapa aku masih saja melukainya, membuatnya menangis dan membuatnya hancur? Aku jahat, By, aku brengsek. Beribu luka aku berikan, padahal bahagia sudah aku janjikan. Aku tidak menepatinya, aku menghancurkannya. Hingga pada akhirnya dia memilih untuk melepaskan diri, menyudahi pernikahan ini dengan tangis pilu dan sorot kecewa yang begitu ketara. Aku menyesal, By ….”


Tidak perlu di sebutkan siapa orang yang Gavril maksud, karena Byanca dapat dengan cepat mengetahuinya.


Iba, Byanca melihat Gavril yang benar-benar rapuh saat ini. Laki-laki itu bahkan menangis. Dan baru pertama kali ini Byanca melihat sisi terlemah Gavril. Membuktikan padanya bahwa cinta Gavril terhadap Adistya begitu besar, melebihi besarnya cinta Gavril terhadanya dulu, juga terhadap Rania yang bahkan hampir laki-laki itu nikahi.


Byanca meraih tangan Gavril yang terkepal di atas meja, mengelusnya lembut untuk menenangkan pria itu yang semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang menetes agar orang lain yang juga ada di dalam café tersebut tidak melihatnya. Dan seharusnya Gavril pun tidak memperlihatkan kelemahannya di depan Byanca. Namun ia sudah tak lagi kuat menahan itu semua, Gavril merindukan Adistya. Sangat-sangat merindukan wanita itu yang setelah persidangan pertama belum pernah lagi Gavril melihatnya.


“Jadi … kalian bercerai?” Byanca terkejut dan tentu saja tidak bisa mempercayainya, namun anggukan yang Gavril berikan membuatnya mau tak mau harus percaya. Tapi jelas saja Byanca masih tak menyangka bahwa Adistya memilih untuk melepaskan Gavril di saat ia tahu bagaimana perempuan itu mengejar Gavril saat SMA dulu.


Sekali lagi Gavril menghembuskan napasnya berat, lalu menegakkan kepalanya dan mengukir senyum yang Byanca tahu amat laki-laki itu paksakan.


“Menyesal tak lagi ada gunanya bukan? Aku hanya butuh waktu untuk menerima ini semua. Aku juga akan menikah dengan Rania tiga minggu lagi, dan aku mengundangmu secara resmi. Undangannya nanti menyusul ke rumahmu.  Jangan lupa datang, By, dan terima kasih sudah mau mendengar kesedihanku. Aku harus kembali ke rumah sakit sekarang. Hujannya sudah reda,” Gavril bangkit seraya menoleh ke arah jendela di sampingnya, di ikuti Byanca. Dan ternyata hujan memang sudah reda.


Gavril melangkahkan kakinya keluar dari café, meninggalkan Byanca yang masih syok mendengar kabar mengejutkan dari mantan kekasihnya.


Kabar mengenai perceraian laki-laki itu saja masih cukup mengejutkannya, di tambah dengan kabar pernikahan pria itu dengan perempuan yang pernah meninggalkannya dulu. Byanca tidak tahu harus merespons seperti apa.


“Ck, jelek banget nasib percintaan lo, Ty.” Byanca menggeleng-geleng kepalanya, iba dan juga prihatin pada Adistya yang selama ini menjadi seseorang yang begitu tidak Byanca sukai karena selalu saja mengganggu Gavril. Tapi itu dulu karena sekarang Byanca sendiri tak yakin Gavril masih mengenang masa-masa mereka pacaran.


***


See you next chap !!!