
Selamat Membaca !!!
***
Menangis yang kini bisa Adistya lakukan setelah kepergian Gavril dan juga putranya beberapa jam yang lalu. Melihat bagaimana tidak pedulinya Gavril akan teriakan dan tangisnya membuat Adistya takut jika mantan suaminya itu tidak mengizinkannya untuk bertemu sang putra lagi.
Sungguh, Adistya tidak akan sanggup jika sampai itu terjadi karena selama ini hanya anaknya lah yang menjadi tujuannya, menjadi semangatnya dan menjadi penghibur di setiap kesedihannya. Adistya tidak akan pernah rela jika Gavril benar-benar mengambil anaknya.
“Sudah Honey, berhenti menangis, aku yakin mantan suamimu tidak akan tega memisahkanmu dengan Gavin. Percayalah. Lebih baik sekarang kamu fokus pada kesembuhanmu dulu, Gavin akan baik-baik saja dengan ayahnya,” bujuk Romeo yang datang tak lama setelah kepergian Gavril.
“Aku gak mau berpisah dengan anakku, Rom ….”
“Aku tahu, Honey. Tapi bukankah sejak awal kamu yang menyuruh suamimu membawa Gavin?”
Adistya di buat bungkam dengan kalimat Romeo barusan. Benar. Dirinyalah yang beberapa bulan lalu meminta Gavril pergi membawa serta anaknya, tapi …
“Dia pria baik, Beib, ayah dari anakmu. Dia tidak mungkin menyakitinya, dan dia pun tidak akan memisahkanmu dengannya. Itu hanya emosi sesaat. Kamu tahu, aku pun pasti marah dengan apa yang kamu ucapkan tadi terhadap suamimu. Tidak ada orang tua yang rela anaknya di ambil oleh orang lain, termasuk suamimu yang aku tahu begitu menyayangi Gavin, darah dagingnya sendiri,” jelas Romeo dengan penuh pengertian.
“Berhentilah menangis, aku ajak kamu jalan-jalan hari ini, bagaimana?” tambahnya menawarkan lalu menyeka air mata di sepanjang pipi dan sudut mata perempuan itu dengan lembut.
Adistya menganggkat kepalanya, menatap laki-laki tampan di hadapannya itu untuk beberapa saat sebelum kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju, meskipun sebenarnya Adistya ingin diam saja di rumah, tidur sambil merenungi kesedihannya. Tapi ia tidak ingin membuat laki-laki yang satu tahun belakangan ini menjadi kekasihnya merasa kecewa. Adistya sadar laki-laki itu jauh-jauh datang bukan untuk melihatnya bersedih dan terpuruk, tapi untuk berjuang. Dan Romeo datang untuk menyemangatinya. Setidaknya Adistya harus menghargainya bukan?
“Kalau begitu kamu tungu sebentar, aku siap-siap dulu,” kata Adistya yang di angguki pria bule itu. Setelahnya Adistya memanggil perawat yang selama ini membantu segala kebutuhannya. Menyedihkan.
Hingga saat ini Adistya belum juga bisa sepenuhnya ikhlas dengan keadaannya yang cacat. Bahkan terkadang makian kerap kali Adistya lontarkan untuk dirinya sendiri. Bertapa tidak bergunanya ia saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, meskipun terasa tak adil untuknya, Adistya yakin bahwa Tuhan punya rencana lain untuk membahagiakannya.
****
Romeo tidak mengajak Adistya pergi terlalu jauh, karena tahu bagaimana kondisi kekasihnya. Ia juga tidak ingin membuat perempuan itu tidak nyaman dengan tatapan orang-orang yang mungkin saja menatapnya sebelah mata. Jadilah Romeo memilih taman sebagai tempat jalan-jalan mereka.
“Lusa aku sudah harus pulang, Hon,” Romeo membuka percakapan setelah bermenit-menit terlewati dengan saling diam menatap lurus ke arah danau buatan yang ada di depan sana. “Kamu ikut aku kembali ke Swiss mau? Kita menikah di sana,” lanjut Romeo, membuat Adistya menoleh cepat, menatap laki-laki itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Aku pernah bilang bukan, bahwa aku akan datang untuk memintamu kepada Ayahmu. Dan kedatanganku kali ini, memang bertujuaan untuk itu. Semalam aku sudah berbicara dengannya, dan Ayahmu menyerahkan semua keputusan kepadamu. Jadi, Adistya willst du mich heiraten?”
Adistya terkejut saat tiba-tiba Romeo berlutut di depan kursi rodanya dengan kotak cincin yang sudah terbuka, berada tepat di depannya.
“Romeo ….”
“Sebelum kamu kembali ke Indonesia, aku pernah bilang kepadamu bahwa aku akan menikahimu. Dan apa yang aku katakan dulu bukahlah sebuah gurauan, aku serius mencintaimu, Tya, aku menginginkan kamu menjadi pedampingku seumur hidup. Aku ingin bahagia bersamamu, bersama Gavin dan anak-anak kita yang lain nantinya. Aku tidak peduli dengan masa lalumu, aku tidak peduli dengan statusmu, karena yang aku mau hanyalah kamu. Adistya Fasyin, would you merry me?” ulang Romeo dengan tatapan yang lebih serius untuk meyakinkan Adistya bahwa ia memang tidak pernah main-main dalam menginginkan perempuan itu.
“Romeo, dalam keadaanku seperti ini—"
“Bagaimanapun kondisi kamu sekarang dan nanti, tidak akan merubah keputusanku dalam menikahi kamu.” Romeo memotong cepat, kemudian meraih tangan Adistya untuknya kecup. “Jangan jadikan kondisimu sebagai alasan untuk menolakku, Honey,” ujarnya dengan tatapan penuh peringatan.
Sebenarnya bukan itu yang Adistya maksud. Ia tidak berniat menggunakan kondisinya untuk menolak ajakan menikah pria bule itu, tapi Adistya hanya merasa bahwa dirinya tidak lagi pantas bersanding dengan Romeo yang begitu sempurna. Meskipun laki-laki itu tidak mempermasalahkan semua kekurangan dalam dirinya, tetap saja Adistya merasa rendah diri dan ia pun khawatir mengenai keluarga pria itu yang bisa saja keberatan menerima dirinya yang jelas-jelas akan merepotkan dengan kecacatannya ini.
Jujur, Adistya tidak ingin kembali gagal dalam membina rumah tangga, dan ia belum yakin untuk menjalaninya lagi meskipun Romeo adalah laki-laki yang ia kenal dengan kepribadian baik dan penyayang, Romeo juga penyabar dan sempurna dalam segi apa pun. Tapi untuk menerima ajakan menikahnya, Adistya masih tidak yakin. Bukan tak yakin pada Romeo, tapi ia belum yakin pada dirinya sendiri. Bagaimanapun, sebenci apa pun dirinya kepada mantan suaminya, masih ada perasaan yang tertanam di hatinya untuk pria itu. Dan, Adistya tidak ingin, gara-gara perasaannya ini membuat Romeo tersakiti nantinya.
Adistya ingin menjalin sebuah pernikahan dengan Romeo nanti, setelah ia yakin bahwa tidak lagi ada nama Gavril di hatinya. Agar ia yakin Romeo tidak akan terluka dan kecewa karenanya. Tapi untuk menolak ….
****
Adistya tidak ingin memikirkan itu sebenarnya, tapi tetap saja ucapan Romeo tidak bisa dirinya abaikan.
Di satu sisi ia ingin hidup bersama dengan laki-laki yang satu tahun belakangan ini menghidupkan warna baru di hidupnya, tapi di sisi lain masih ada perasaan yang tak dapat dihilangkan walau kini terhalang sebuah kebencian.
Adistya tetap tidak bisa memutuskan untuk menerima atau pun menolak Romeo yang terlihat begitu tulus dan menjamin sebuah kebahagaiaan. Namun secepatnya ia akan memberi sebuah jawaban, ia hanya butuh sedikit waktu untuk meyakinkan hatinya, sekaligus menyembuhkan hatinya agar ia merasa pantas dan yakin tidak akan merepotkan siapa pun.
Mengenai Gavin, anaknya itu sudah dua minggu ini tidak terdengar kabarnya dan Adistya merasa rindu. Setiap kali menghubungi mantan mertuanya, Adistya selalu di buat kecewa karena Gavin tidak ada di rumah. Bocah itu selalu bersama Gavril selama pulang sekolah dan akan pulang begitu hari menjelang malam bahkan sering kali tak pulang.
Adistya sendiri mengerti dengan apa yang di lakukan Gavril, dan sudah lama ia menyesali ucapannya tempo hari. Kalimatnya memang menyakitkan sosok ayah seperti Gavril yang bahkan belum lama saling mengenal dengan anaknya.
Adisya menyesal, andai waktu bisa di ulang, Adistya janji tidak akan mengucapkan kalimat yang menyinggung itu pada Gavril, tapi nasi sudah menjadi bubur, Gavril terlanjur marah dan kecewa kepadanya. Sekarang apa yang harus ia lakukan untuk membujuk Gavril agar mau membiarkannya mengobrol dengan sang buah hati?
Menelepon pada ponsel pria itu sudah Adistya lakukan, tapi tidak penah sekali pun di respons Gavril. Laki-laki itu seolah sengaja membuatnya menyesali ucapannya. Dan Gavril sepertinya sedang menunjukan ucapannya yang mana pria itu tidak akan memberikan anakanya kepada siapa pun. Terbukti dari sikap Gavin yang begitu over protektif pada Gavin. Pria itu memilih mengurus Gavin seorang diri, mengantar dan menjemput Gavin sendiri meskipun sedang begitu sibuk.
Semua cerita itu Adistya dengar dari mertunya. Wanita baya itu menceritakan semua perubahan Gavril semenjak pulang dari rumahnya beberapa waktu lalu. Dan Adistya benar-benar menyesalinya, terlebih saat Avril mengadukan kesedihannya karena seolah tidak diizinkan menyentuh cucunya oleh Gavril.
Alasan di balik semua itu tentu saja menjadi pertanyaan Avril dan juga Gatan, membuat Adistya tidak hentinya mengucapkan kata maaf. Semua karena ucapannya, semua karena kebodohannya dan semua karena keegoisan juga sikapnya. Jika saat itu dirinya tidak mengucapkan kalimat itu, sudah pasti ia tidak akan pernah kehilangan kabar anaknya, dan semua orang tidak akan terkena imbasnya. Avril dan Gatan masih bisa bermain-main dengan cucunya, Satya dan Seno masih dapat mengobrol walau hanya lewat telepon, dan Gavril masih menjadi ayah seperti biasanya. Tidak kerepotan seperti sekarang ini, yang harus membagi fokus pekerjaan dengan mengurus anaknya.
“Maafin Bunda, Nak. Maaf,” gumam Adistya dengan setetes bulir terjatuh dari matanya. Ia yakin bahwa sekarang anaknya itu merasa terkekang dengan sikap sang ayah, apalagi mengingat Gavin yang begitu senang berinteraksi dengan orang baru. Gavin lebih senang main bersama banyak orang, dari pada sendiri dengan banyaknya mobil dan robot-robotan.
Di sisi lain …
Gavin kini tengah asyik di sebuah ruangan yang di dominasi oleh orang-orang yang tidak dalam keadaan baik. Ada yang duduk di kursi roda, berdiri dengan selang infus di tangan dan bahkan ada juga yang berbaring lemah di ranjang. Mereka semua adalah teman-teman baru Gavin dua minggu belakangan ini. Sang ayah yang mengenalkannya.
Saat itu Gavin merasa ngeri dengan anak-anak yang aneh dengan wajah pucat, kepala botak dan kurus itu, tapi sang ayah menjelaskan mengenai keadaan mereka yang ternyata memiliki penyakit mematikan. Gavin sendiri ngeri dan awalnya tidak ingin bermain dengan orang-orang itu, tapi setelah ayahnya membujuk dan memberikan nasihat barulah Gavin mau mendekat dan mengajak mereka untuk bermain bersama.
Ayahnya bilang, bahwa ia harus memberikan semangat pada semua orang yang ada di sana, karena mereka tidak seberuntung dirinya. Gavin tidak mengerti sebenarnya, tapi setelah berhari-hari terlewati, barulah ia paham dan melakukan apa yang ayahnya perintahkan. Dan selama dua minggu ini, Gavin habiskan di rumah sakit, bersama teman-teman barunya yang mengidap penyakit kangker, penyakit yang merenggut senyum mereka.
“Kak Ara, nanti kalau udah sembuh main ke rumah Gavin ya, nanti Gavin kenalin sama Bunda,” ucap polos Gavin pada gadis perempuan berusia sepuluh tahun yang saat ini duduk di kursi rodanya. Gavin terus berceloteh mengenai bundanya yang juga duduk di kursi yang sama seperti yang gadis pucat itu gunakan.
“Jadi Kak Ara gak boleh sedih lagi ya,” tambah Gavin seraya mengusap lembut pipi kurus gadis cantik itu dengan tangan mungilnya. “Gavin yakin kakak pasti sembuh. Semua yang ada di sini pasti sembuh, nanti setiap hari Gavin do’ain,” senyum polos bocah itu berikan lalu mengajak ketujuh orang di sana untuk bermain mobil-mobilan yang sengaja di bawanya dari rumah sang ayah.
Peran Gavin di sana begitu membantu membangkitkan semangat mereka, membuat beberapa orang tua dan juga dokter berterima kasih kepada bocah itu. Gavril sendiri senang melihat anaknya yang memiliki jiwa sosial seperti itu. Gavin tidak pilih-pilih dalam berteman dan itu benar-benar membuatnya semakin bangga. Gavril yakin putranya itu akan menjadi orang hebat di kemudian hari. Apalagi dengan keinginan Gavin menjadi seorang dokter ketika besar nanti.
“Ayah, besar nanti Gavin mau jadi dokter boleh?”
“Kenapa memangnya? Jadi dokter itu gak mudah loh, Nak.”
“Gak apa-apa, Gavin akan belajar biar bisa menjadi dokter yang hebat. Gavin mau sembuhin mereka, Bunda, dan orang-orang yang sakit lainnya.”
Itu yang Gavin ucapkan beberapa hari lalu, setelah paham dengan apa keberuntungan yang tidak sebagian orang miliki.
Menurut Gavril, keinginan anaknya itu mulia dan luar biasa. Tentu saja. Di usianya yang baru akan menginjak angka enam, Gavin sudah memiliki cita-cita setinggi itu. Menjadi dokter, bukanlah sesuatu yang mudah. Tapi Gavril tentu saja akan mendukung sang putra sepenuhnya.
***
see you next part!!