Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 9 Mulai terbiasa



Angel membuka matanya lalu mendongak menatap wajah Rio yang terlelap. Angel membelai wajah Rio yang berbaring di sampingnya dengan halusnya, senyum Angel terukir dengan manis dibibir mungilnya.


"Eh?"


Rio tiba-tiba membuka kelopak matanya.


"Kenapa? kamu mau lagi?" tanya Rio langsung dan membuat pipi Angel terasa memanas.


"NGGAK!" tolak Angel langsung lalu membenamkan wajahnya ke dada Rio. Rio mengeratkan pelukannya agar istri mungilnya ini ditidak kedinginan.


...07:00 pagi..


Dengan rambut yang masih basah Angel tengah berada didapur untuk membuat sarapan untuk suaminya yang masih tertidur.


"Masak apa yah?"


Angel bingung harus memasak sarapan apa terlebih waktunya sudah sangat meped seperti ini.


"Eh?"


Angel terkejut saat Rio datang dan langsung memeluknya dari belakang.


"Selamat pagi istriku!" ucap Rio berbisik lalu mengecup pipi kiri Angel.


cup


"Kamu ini bikin kaget aja! tumben sudah bangun"


"Ia dong! aku kan nggak mau ngerepotin kamu" ucap Rio dengan nada sombong. Angel hanya diam tak ingin menyahuti ucapan suaminya ini.


"Tumben diem" tanya Rio selidik.


"Terus aku harus bilang apa? memang ini jamnya kamu bangunkan"


Rio mengerutkan dagunya seakat tak terima dengan ucapa Angel.


"Aku saja yang masak kamu duduk gih!"


Rio melepas pelukannya lalu mengambil pisau yang ada ditangan Angel. Angel tersenyum senang akhirnya Rio memasakan untuknya. Kalau boleh jujur masakan Rio itu jauh lebih enak dari masakannya.


Angel mengawasi Rio memasak. Rio yang cekatan didapur dan mau membantu istrinya membuat Rio sebagai suami idaman dan Angel bersyukur mendapat suami yang sangat baik yaitu Rio walau Angel sadar pernikahan ini hanya sampai dirinya melahirkan seorang anak dan Angel akan berusaha sebaik mungkin menjadi seorang istri yang baik.


Detik berganti menit dan menit berganti jam. Satu hari.. Satu minggu... satu bulan telah di lewati. Kecanggungan kini telah berganti dengan suasana yang lebih baik. Semua yang telah dilewati sangatlah berarti untuk hari esok yang lebih baik. Tak ada lagi pembatas yang memisahkan hanya tawa dan kebahagiaan yang kini terrasa. Pernikahan Angel dan Rio sudah satu bulan lebih dan pernikahan ini masih menjadi rahasia tiga hati yang terpaksa menyatu.


Angel kini sudah berani mengomeli Rio dan Rio hanya bisa diam seribu bahasa bahkan Rio tidak pernah marah kepada Angel karena yang Angel lakukan untuk kebaikan dirinya yang sebenarnya Rio sangat tidak perduli dengan dirinya sendiri hanya berkerja dan berkerja itu yang ada didalam kepala Rio.


"Ampun sayang, aku minta maaf!"


"Kok minta maaf ke aku sih! harusnya ke diri kamu sendiri! lihat kantong mata kamu! udah hitam seperti itu! kalau panda sih lucu sedangkan kamu!!?"


Angel meluapkan semua kekesalan, khawatir dan kecemasan itu ke Rio. Angel sangat marah karena Rio terlalu memaksakan dirinya untuk berkerja terus dari pagi sampai pagi lagi dan tidak mengijinkan tubuhnya untuk beristirahat.


Rio hanya bisa duduk tertunduk tak berani menatap wajah Angel yang sangat kesal kepadanya.


"Mending kamu mandi!"


"Iya"


Seperti anak kecil Rio langsung menuruti perkataan Angel. Rio beranjak dari duduknya berjalan menuju kamar.


"Haahh. Kapan kamu bisa menghargai fisik mu? aku tahu kamu masih sehat sampai sekarang tapi besok? semua belum tentu"


Angel menyusul Rio ke kamar ada hal yang harus dirinya lakukan untuk mengurangi rasa lelah Rio.


kamar mandi.


"Punya istri setiap hari ngomel mulu! kapan aku disayangnya?" ucap Rio dengan nada didramatis. Rio rindu Angel yang lucu dan menggemaskan bukan yang sekarang, kerjaannya hanya menggomel tidak jelas.


Suara gagang pintu kamar mandi yang dibuka membuat Rio menoleh kearah pintu dan matanya langsung membulat saat melihat siapa yang masuk. Angel masuk kedalam kamar mandi tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Sayang, kamu ini! untung aku belum buka baju!" ucap Rio dengan kesal. Angel menatap Rio datar.


"Emangnya kenapa kalau udah buka baju?" Angel menatap jahil kearah Rio membuat Rio mendelik. Sejak kapan istrinya jadi seperti ini.


"Kamu yah!!"


"Apa?" tanya Angel dengan wajah polosnya. Rio perlahan mendekati Angel dengan senyum misterius di bibirnya membuat Angel mundur beberapa langkah.


"Mau kemana?"


"Eh?"


Rio langsung menarik Angel kedalam pelukannya. Rio memeluk Angel dengan erat sedangkan Angel mendengus kesal terlebih jarak yang sedekat ini Angel dapat mencium aroma keringat Rio.


"Kok nggak dibalas pelukan aku?" tanya Rio yang masih memeluk Angel.


"Pulsanya habis jadi nggak di balas" jawab Angel asal dan berhasil membuat Rio mengerutkan dagunya.


Angel merasa sesuat yang aneh. Angel langsung mendorong tubuh Rio dan menatap tajam ke arahnya.


"Iihh kamu yah!!" kesal Angel dan langsung membenarkan resleting bajunya yang dibuka Rio. Letak resleting baju yang dibelakang membuat ide jahil Rio muncul.


"Kirain mau mandi bareng" ucap Rio dengan nada polosnya sedangkan Angel seakan tidak setuju dengan yang Rio ucapkan.


"Idih! dasar nyebelin!"


"Kan yang nyebelin yang ngangenin. Ngapain kamu di sini? sonoh keluar!" usir Rio sembari menunjuk pintu kamar mandi. Angel mendengus kesal.


"Ini juga mau keluar, tapi sebelum itu aku mau lakuin sesuatu"


Rio membiarkan saja istrinya yang entah sedang melakukan apa yang jelas istrinya sekarang ini tengah mengisi bathtub dengan air hangat dan juga sabun cair yang beraroma terapi yang menenangkan pikiran.


Kini air di bathtub penuh dengan air plus busa. Angel menoleh ke arah Rio.


"Sebaiknya kamu berendam dulu agar tubuh kurusmu itu nggak bau asam!!"


Angel langsung mengambil langkah seribu sebelum Rio ngamuk.


"APA KAMU BILANG?? ish!" Rio mengatur napasnya agar emosinya mereda. Rio terkadang dibuat kesal oleh Angel yang semakin hari semakin usil bin ajaib. Terkadang Angel seharian bisa ngambek kadang jahil kadang bikin gemes dan masih banyak lagi karena itu Rio selalu ingin pulang kerumah walau pun diruang kerjanya ada semua yang Rio butuhkan tapi dirinya selalu mengkhawatirkan Angel.


Senyum Rio kembali muncul di wajahnya. Rio pun melakukan apa yang Angel suruh mungkin tubuhnya jadi lebih segar kalau berendam.


...


Angel tengah menyalakan pengharum ruangan yang beraroma lavender seperti yang Rio suka didalam kamar. Ia ingin Rio sejenak melupakan beban pekerjaannya.


"Sebaiknya aku mengambil makan malam untuk Rio. Pasti dia belum makan. Huuuff aku khawatir"


Angel pun melangkah keluar kamar menuju dapur. 30 menit berlalu Rio keluar kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Saat melangkah keluar aroma lavender menusuk hidung Rio.


"Ini?"


Rio melihat kesekeliling dan mendapati sebuah benda yang mungkin bisa dibilang seperti vas yang mengeluarkan uap di sudut ruangan.


"Tumben? apa ada udang di balik batu yah? entahlah, memangnya tuh anak mau minta apa?"


Rio menduga kalau Angel melakukan ini semua ada maksud tersendiri. Berselang satu menit Angel memasuki kamar dengan membawa baki yang diatasnya makanan untuk Rio.


"Makan!" ucap Angel sembari meletakan baki itu diatas meja namun Rio seperti mengacuhkan Angel. Rio lebih memiih menyisir rambutnya. Angel mendengus kesal, Angel tahu apa yang Rio mau.


"Aku suapin" ucap Angel dengan nada malas dan benar saja Rio tersenyum lalu berjalan menghampiri Angel.


Rio duduk di sebelah Angel lalu membuka mulutnya.


"Kamu laper?"


"Iya dari tadi malah disuruh mandi"


"Kamu juga nggak bilang"


"Abis baru pulang dimarahin" ucap Rio dengan nada dibuat-buat membuat Angel terkekeh pelan.


"Maaf, sekarang buka mulutnya"


Angel menyuapi Rio dengan penuh kasih sayang dimatanya dan Rio dapat melihat itu semua. Tidak ada yang mau membuka obrolan hanya suara sendok yang beradu dengan piring.


"Sayang" panggil Rio langsung mengambil piring yang ada ditangan Angel.


"Kamu juga belum makankan? sekarang giliran aku yang nyuapin kamu"


"Aku sudah makan kok"


"Jangan bohong!" pinta Rio dengan nada penuh penekanan. Rio yakin sekali kalau istrinya ini belum makan karena sibuk mengkhawatirkan dirinya.


"Aaa"


Angel pun menurut. Mereka berdua saling suap menyuap hingga nasi dipiring habis.


Angel meletakkan piring di meja. Angel kasihan kepada Rio yang terlihat sangat capek.


"Aku pijit yah" tawar Angel dan dibalas anggukan Rio. Rio menepuk pundaknya seakan menyuruh Angel untuk memijit pundaknya. Rio membalikan tubuhnya dan sekarang dirinya duduk membelakangi Angel.


Angel langsung memijit pundak Rio dengan tangan mungilnya. Rio memejamkan matanya seakan nyaman dengan pijitan Angel yang sebenarnya tidak begitu terasa namun perhatian dari Angel lah yang membuat rasa lelahnya menghilang.


20:00


Angel masih memijit Rio yang kini tiduran tengkurap. Angel tahu Rio sudah tertidur namun dirinya masih memijit tubuh Rio hanya ini yang bisa ia lakukan.


Dengkuran halus dari Rio membuat Angel tersenyum lega akhirnya Rio bisa istirahat.


"Tidur yang nyenyak sayang"


Angel menyelimuti tubuh Rio lalu mengecup kepala Rio. Angel yang belum mengantuk memilih untuk menonton TV dilantai bawah.


...


Suara nyanyian pagi hari di bawakan oleh burung-burung yang bernyanyi dengan merdunya. Bulan kini berganti dengan hangat sinar matahari dan semua mahluk dibumi ini terbangun untuk memulai hari baru dan tantangan baru.


Angel perlahan membuka kelopak matanya. Angel terkejut saat melihat Rio yang tidak ada disampingnya.


"Tuh orang kemana?"


Angel melihat kearah kamar mandi namun pintunya tidak menutup dan pastinya Rio tidak ada didalam sana. Angel langsung turun dari kasur lalu keluar kamar untuk mencari Rio.


"Kemana sih?"


Angel berjalan dengan cepat sembari melihat kesekeliling tanpa melihat apa yang didepannya saat ini.


"Kak Rio kemanasih! apa sudah berangkat kekantor tapi ini hari sa--.. eh?"


Buuggg


20 menit sebelumnya


Rio terbangun dari tidur. Dilihatnya Angel yang masih memejamkan matanya. Senyum Rio terukir dengan sempurna saat melihat wajah polos Angel yang tertidur.


Rio mendekatkan wajahnya ke wajah Angel. Kecupan hangat Rio mendarat dibibir Angel. Rio mengecup sekilas bibir mungil Angel.


"Kamu pasti capek beres-beres rumah ini sendirian? apa aku bantuin kamu yah?" Rio langsung turun dari tempat tidur berjalan menuju keluar kamar. Rio menutup pintu kamar dengan pelan supaya Angel tidak terbangun.


Rio tengah bingung apa yang harus ia lakukan terlebih dahulu. Membersihkan rumah atau mebersihkan halaman.


"Mau nyiram tapi tanahnya masih basah, apa aku mengepel lantai saja?"


Rio berjalan menuju tempat alat-alat kebersihan. Rio menggambil ember dan alat pengepel lantai.


"Takarannya berapa sih?"


Rio bingung harus memasukan seberapa banyak cairan pembersih lantai.


"Masukin semua saja deh!" Rio menuang semua cairan di dalam botol yang tinggal setengah lalu berjalan kearah ruang tamu.


Rio langsung mencelupkan kain pel kemudian mulai mengepel tanpa memeras terlebih dahulu kain pelnya. Cara Rio mengepel lantai sudah benar, Rio bergerak mundur tapi sayang air dari pengepel lantai itu kini bergenang dan bisa-bisa ada seseorang yang terpeleset.


Rio tengah fokus mengepel hingga tak melihat Angel datang.


Buggg


Rio terkejut mendengar suara itu, dia pun langsung menoleh. Kedua matanya kini mendapati Angel yang tengah kesakitan dan Rio dapat menduga kalau dirinya sebentar lagi diomeli habis-habisan oleh Angel.


Angel terpeleset hingga terjatuh terduduk.


"Aduh!" Angel mengeluh sembari memegangi pinggangnya. Tidak biasanya lantai licin seperti ini dan ini bukan wilayahnya dapur, kalau didapur sih wajar karena bisa saja ada tumpahan minyak. Angel melihat kedepan dan kedua matanya melihat Rio yang sedang memegang gagang pengepel lantai dan juga lantai yang basah akibat ulah Rio. Rio mengepel lantai tanpa memeras kainnya terlebih dahulu.


"KAK RIIIOOOO!!!" teriak Angel dengan penuh kekesalan sedangkan Rio hanya menunjukan senyum polosnya.


"Ih kamu yah!! kenapa lantainya jadi basah gini??" tanya Angel dengan wajah murka.


"Aku cuma mau bantuin kamu membersihkan rumah" ucap Rio membela diri takut kalau Angel memarahinya.


"Sayang kalau kamu nggak bisa ngepel ya nggak usah kalau kamu mau bantu lakuin saja yang kamu bisa" ucap Angel dengan nada penuh kesabaran. Angel tahu Rio benar-benar ingin membantu karena itu Angel tidak marah.


"Maafkan aku, sini aku bantu berdiri"


Rio menghampiri Angel lalu membatunya berdiri. Angel merasa sakit kakinya.


"Sekarang kamu keringin pakai pengepel lantai yang kering! aku mau mandi"


Angel langsung pergi meninggalkan Rio. Rio merasa sangat bersalah harusnya tadi ia memilih menyiram tanaman ketimbang mengepel lantai.


"Pasti tuh bocah marah" Rio menerima nasib saja kalau nantinya Angel memarahinya setelah ini. Rio langsung menggambil pengepel lantai yang kering untuk mengeringkan lantai yang basah ini.


....


10:00


Rio mendengus kesal, sudah beberapa jam Angel tidak berbicara seolah-olah Angel tengah marah kepadanya.


Rio menatap datar Angel yang tengah memoles bedak diwajahnya. Angel yang sadar dirinya diawasi langsung menoleh kearah Rio.


"Kenapa kamu lihatin aku seperti itu?"


"Nggak!" tolak Angel langsung membuat dagu Rio menggerut.


"Apa aku harus beli itu lagi buat kamu??"


Angel mengerutkan dahinya saat Rio mengucapkan kata "itu" dan sedetik itu Angel tahu apa yang dimaksud "itu" oleh Rio. Barang yang selalu ada setiap bulannya/pembalut.


"Ya udah ayo!"


Rio tersenyum akhirnya Angel mau ikut dengannya.


"Ayo!!"


...


Super market.


Rio mendorong troli belanjaan sedangkan Angel tengah melihat-lihat barang yang disusun rapi dirak.


"Sayang mau cemilan ini" Angel menunjuk salah satu merek cemilan yang terlihat gambarnya menarik.


"Ya udah ambil. Beli kebutuhan mu juga!"


"Iya"


Angel tersenyum senang bahkan sangking senangnya Angel berjalan mendahului Rio.


1 jam berlalu kini troli sudah penuh dengan aneka cemilan dan kebutuhan lainnya.


"Ada lagi yang kamu mau beli?" tanya Rio ke Angel.


"Ada"


"Apa?"


"Es krim. Beliin!"


"Iya"


...


kafe


Matahari bersinar sangat terik diluar sana. Hawa panas membuat kerongkongan terasa kering.


Sendari tadi Angel dan Rio berada dikafe dan Rio tengah heran melihat istrinya yang melahap mangkok es krim yang kedua. Raut wajah Angel biasa-biasa saja saat melahap es krim itu seakan giginya sudah kebal dengan sensai dinginnya.


"Sayang, jangan kebanyakan ntar pilek loh!"


Angel menggelengkan kepalanya seakan tidak mau menurut. Rio ingin sekali menggambil mangkok es krim yang dihadapan Angel ini dengan paksa karena takut Angel terkena pilek tapi sepertinya Rio harus mengurungksn niatnya sebab Angel bisa ngambek.


"Pulang yuk!" ajak Rio. Angel melirik kearah Rio seakan kesal kepadanya.


"Setelah kamu habiskan es krimnya" ucap Rio menggalah.


..Rumah..


Setelah membereskan barang belanjaan yang sudah di beli kini Rio dan Angel tengah bermain PS diruang tengah sembari mengemil dan kebiasaan Angel ngemil kini menulari Rio. Bahkan sekarang dimeja kerja Rio ada setoples keripik pisang, biasanya saat Rio lelah dirinya akan mengemil sembari video call dengan Angel. Rio bukannya melupakan Sena. Setiap hari Rio menelfon Sena tapi sayangnya Sena terkadang tidak mengangkat telefonnya dan Sena hanya menelfon Rio kalau meminta sesuatu.


"Kak cobain yang ini deh!" Angel mendekatkan bungkus wafer coklat ke Rio.


"Panggil kak lagi nih ceritanya?" uacap Rio sembari mengambil wafer coklat. Angel hanya menoleh sembari tersenyum.


"Terserah kamu lah" Rio mengalah saja toh seenggaknya Angel perhatian dengannya.


Bermain PS membuat dua orang ini sampai lupa waktu dan tak terasa sudah jam lima sore. Suara dering ponsel Rio membuat keduanya berhenti bermain.


"Aku angkat telefon dulu yah?"


Angel mengangguk. Rio pun berjalan pergi meninggalkan Angel. Angel kembali bermain PS.


Setelah cukup jauh dari Angel, Rio pun mengangkat panggilan telefon itu.


"Kenapa lama sekali?? apa kamu masih berkerja??"


Rio belum berucap sepatah kata pun tapi wanita di sebrang sana sudah nyerocos panjang lebar, kalau di pikir-pikir Angel mempunyai kesamaan dengan Ibunya Rio kalau sedang khawatir.


"Ampun Ma"


"Kamu ini! sudah lama kamu tidak kerumah Mama jadi Mama mau kamu datang kerumah! ajak Sena juga tapi kalau dia mau. Kamu tahu sendiri istri kamu itu seperti apa?"


Rio menghela napas, seandainya Ibunya tahu apa yang telah terjadi pasti dia akan sangat marah ke Sena.


"Sena di rumah orang tuanya Ma"


"Kamu sendirian dirumah?"


"Nggak kan ada bi Inda"


"Terserah kamu! kamu harus kerumah Mama nggak mau tahu kamau harus datang! besok hari minggu jangan alasan lagi seperti kemarin!"


Sepertinya Ibunya Rio benar-benar menginginkannya datang dan itu berarti dirinya harus meninggalkan Angel sendirian dirumah.


"Iya Ma"


Rio langsung memutus sambungan telefonnya.


"Tuh anak nggak apa-apakan yah kalau di tinggal?" Rio langsung bergegas kembali ke ruang tengah.


"Sayang!"


Angel langsung menoleh kearah Rio. Rio bingung harus bilang seperti apa terlebih dirinya sudah janji malam ini pergi kepasar malam.


"Kenapa?"


"Emm.. maaf aku ada urusan"


"Jadi?"


"Nggak jadi kepasar malam. Maaf yah?"


Walau kecewa Angel tidak bisa berbuat apa-apa toh dirinya hanya menumpang disini dan tak berhak menuntut lebih.


"Ya sudah. Tidak apa-apa, oh iya sayang besok aku mau kepasar"


"Ya suda besok pagi-pagi aku pulang"


"Tidak usah aku pesan taxi online saja"


Angel menunjukan senyuman terbaiknya membuat Rio tenang meninggalkan Angel sendiri di rumah.


"Siap-siap gih sanah!"


Rio mengangguk lalu pergi kekamar.


..


Angel melambaikan tangannya kearah Rio. Setelah mobil Rio tak terlihat Angel baru masuk kedalam rumah.


Ini pertama Angel ditinggal seorang diri di rumah saat malam hari dan tadi Rio bilang kalau dirinya pulang besok sore atau lusa.


"Apa besok aku? nggak El! Rio bisa marah!!"


...


Rumah orang tua Rio


Rio memasuki rumah masa kecilnya dan baru beberapa langkah hidung Rio mencium aroma masakan yang sangat lezat dari dapur. Rio pun melangkah kearah dapur. Sesampainya didapur Rio melihat Ibunya yang tengah memasak.


"Wah enak nih Ma!"


Amanda itu nama Ibunda Rio. Amanda yang terkejut langsung menoleh dan mendapati putranya ini sudah sampai dirumah biasanya saat dia menelfon untuk datang kemari, Rio baru tiba dua jam setelahnya.


"Tumben kamu sudah sampai?"


"Kan Sena tidak dirumah, Rio juga sudah bialngkan tadi ditelefon?"


"Iya. Eh?"


Amanda menyadari sesuatu yang aneh pada putranya ini. Amanda melihat pipi Rio yang tembem seakan ini bukan putranya.


"Aww.. Mama!"


Rio mengaduh saat Amanda menarik pipinya. Amanda masih tidak percaya dengan fisik Rio sekarang. Kemarin-kemarin Rio nampak capek dan penuh tekanan hingga tubuhnya terlihat kurus bahkan pipi Rio tidak bisa ditarik seperti ini.


"Tumben pipi kamu bisa Mama tarik? ucap Amanda yang masih menarik pipi Rio.


"Mama lepasin sakit!" Amanda baru melepas cubitan di pipi Rio. Ayah Rio yang bernama Riko yang tadinya diruang kerja kini menghampiri anak dan istrinya.


"Kamu Rio?"


"Eh Papa"


"Tadi ada ribut-ribut apa?" tanya Riko penasaran.


"Nih, Mama masa pipi Rio ditarik! mana sakit banget!" ucap Rio sekan mengadup pada Papanya seperti anak kecil. Riko sendiri menyadari perubaha Rio dari beberapa minggu yang lalu dari staf kriyawannya. Rio tak sekaku dulu bahkan sekarang Rio terlihat tiadak ada beban dan mulai menghargai dirinya sendiri.


"Masa sih? Papa penasaran"


Rio mendengus kesal setelah Riko mengatakan itu.


"Kalian ini sama saja! masa anak sendiri dicubit!!"


"Habisnya kita belum punya cucu jadi kamu saja yang ditarik pipinya"


Rio semakin mengerutkan dagunya. Ini alasan kenapa Rio tidak ingin terlalu sering kesini apa lagi kalau bersama Sena pasti Amanda akan menanyakan terus program kehamilan Sena dan bisa membuat Sena merasa tidak nyaman.


"Kan anak kalian bukan cuma Rio saja suruh tuh bocah buat nikah!"


"Adik kamu masih ingin sendiri dan kamu juga masih memanggilnya bocah, mana ada bocah nikah?"


"Terserah Papa. Ma, Rio laper!"


"Ya sudah ayo makan, adik kamu sebentar lagi pulang kok"


Amanda mengambilkan nasi untuk Rio yang sepertinya sudah kelaparan. Riko melihat Rio yang sekarang membuat hatinya lega. Rio terkihat lebih sehat dan ramah tidak seperti biasanya.


"Kamu dikasih makan apa sama Sena?"


tanya Riko ke Rio sebab dirinya penasaran apa yang membuat pipi Rio jadi tembem seperti itu.


"Makan nasi!"


"Tumben, biasanya istri mu itu sukanya makan salad sayur?"


"Kan dia bukan Rio. Hidup cuma sekali masa iya Rio kerja siang malam cuma makan sayur mentah!"


Amanda dan Riko seakat tak percaya dengan apa yang Rio katakan barusan.


"Iya, Papa mengerti dan papa sama mama tidak khawatir lagi dengan kesehatan mu!"


"Tenang Pa, Rio nggak bakal sakit kok!"


"Kamu ini masih suka meremehkan kesehatanmu! kalau sudah sakit baru tahu rasa kamu!" kesal Riko. Rio hanya menunjukan deretan giginya.


Arfan yang baru pulang melangkahkan kakinya memasuki rumah dan teling Arfan mendengar suara dari arah dapur karena penasaran Arfan pun berjalan menuju dapur.


Senyum Arfan muncul ketika dirinya melihat Rio yang tengah asik mengobrol dengan kedua orang tua mereka.


"Kak Rio?" panggil Arfan ke Rio. Ketiga orang ini langsung menoleh kearah Arfan.


"Kenapa Fan? apa kamu ragu kalau ini kakak kamu?" tanya Riko bercanda dan Arfan dengan polosnya mengangguki ucapan Riko.


"Wah kamu!!" ucap Rio geregetan.


"Sudah-sudah sebaiknya kita makan malam dulu mumpung lauknya masih hangat!" ucap Amanda menengahi kedua anaknya.


....


Pasar 08:00 pagi


Angel turun dari taxi online yang di pesannya. Angel mulai melangkah memasuki pasar. Pasar ini bukan yang biasa Angel dan Rio belanja. Angel punya tujuan tersendiri kenala dirinya berbelanja dipasar yang jauh dari rumah.


"Sebaiknya aku belanja dulu"


Angel berkeliling pasar sembari membawa daftar belanjaan ditangannya. Sebisa mungkin Angel mempercepar belanjaannya agar dirinya bisa bertemu seseorang yang sangat ia rindukan.


Satu setengah jam berlalu sekarang keranjang belanjaan Angel sudah penuh.


"Aku harus cepat sebelum tutup!"


Angel bergegas meninggalkan pasar menuju ke jalan raya yang tak jauh dari pasar.


Angel melihat kearah warung makan sederhana di sebrang jalan. Dilihatnya wanit yang tengah melayani pembeli dengan keramahannya.


Tanpa disadari kaki Angel yang mulai menyebrang jalan. Air mata Angel turun dengan sendirinya. Rindu dihati ini sungguh tidak bisa terbendung lagi.


"Ibu" lirih Angel sembari mengawasi dari luar. Angel ingin sekali memeluk wanita yang melahirkannya dengan taruhan nyawa.


"Angel kangen! Angel mau sama Ibu, Angel mau pulang"


Angel sadar ini salah tapi dirinya ingin menemui orang tuanya. Angel lengepalkan tangannya saat menyadari semua ini bisa membuat dirinya dalam masalah yang lebih rumit. Ibunya bisa menanyakan hal-hal yang mungkin dapat membuatnya tidak bisa menjawab pertanyaan beruntun dari Ibunya.


"Mungkin ini bukan saatnya. Maaf Bu, Angel bukan anak yang baik untuk ibu"


Angel membalikan badannya melangkah pergi menjauh dari warung makan milik ibunya.


"ANGEL!"


...**...**