Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 36 FLASHBACK



".... TITIK"


"Iya ma. Ngga usah ngegas gitu" ucap Rio dengan pasrah. Sena mengerutuki Rio yang mau menurut padahal dia sendiri tahu kalau dirumah itu bisa saja kebohongan ini terbongkar.


"Kamu juga dari tadi kek" kesal Amanda yang langsung pergi menuju dapur. Amanda ingin membuat masakan istimewa untuk kedua bumil ini.


"Ri!"


"Aku ngga punya pilihan lain"


Sena langsung pergi meninggalkan Rio menuju kamarnya. Rio tahu Sena pasti sangat kesal kepadanya. Rio menghela napas lalu menoleh kearah Arfan dan Angel.


Melihat mereka berdua rasanya Rio ingin menarik tangan Angel saat ini juga menjauh dari Arfan dan mengatakan kalau Angel istrinya serta menyuruh Arfan menjauhi Angel.


"Kapan ini semua berakhir?"


Rio tersenyum melihat wajah ceria Angel dan juga tawa itu membuat Rio iri kepada Arfan yang bisa membuat Angel sebahagia itu. Rio menghela napas lalau pergi menuju dapur menemui Amanda.


"Ma"


"Hemm"


"Mama kok diam saja lihat Arfan seperti itu?"


"Maksudnya apa?"


"Ma. El itu sudah punya suami dan Arfan seharusnya tidak seperti itu. Itu terlalu dekat"


"Ri. Arfan tahu batasan dia lagian itu hanya untuk menjaga Angel. Suami Angel itu keterlaluan masa istri lagi hamil ditinggal kerja terus"


"Kalau tidak kerja mana mungkin bisa menghidupi mereka. Mama ini masa segitu saja tidak tahu"


"Kenapa kamu yang sewot sih Rio? Angel saja tidak keberatan, dia malah senang gitu"


"Ma. Rio hanya tidak mau ada rasa yang lebih diantara mereka itu saja"


Rio langsung pergi meninggalkan Amanda yang tengah mencerna ucapan Rio.


...Flash back


Riko melihat Arfan yang tengah melamun ditersa samping rumah. Ini sudah ketiga kalinya melihat Arfan yang seperti itu.


"Kamu lihat apa?"


"Tuh anak kesabet apa? ngelamun terus"


"Oh. Dia lagi mikirin Angel keponakannya bi Inda. Suka kali sama dia"


"Sssttt jangan bilang seperti itu! ucapan orang tua itu doa untuk anaknya. Kamu mau Arfan mencintai perempuan yang telah bersuami?" omel Riko yang tidak mau putranya mencintai istri orang dan merasakan patah hati.


"Tidak tapi melihat Arfan seperti itu membuatku resah Pa. Sudah banyak gadis yang kita kenalkan tapi tidak satupun yang Arfan suka namun saat berkenalan dengan Angel, Arfan seperti tertarik kepadanya"


"Papa tahu itu tapi mereka tidak mungkin bersama"


"Ma akan bicara dengan Arfan"


"Iya"


Amanda mendekati Arfan. Arfan terkejut dengan kedatangan Amanda.


"Eh, mama"


"Kamu lagi ngelamuni apa?"


Amanda mengacak-acak rambut Arfan dengan gemasnya sedangkan si empu yang punya rambut mengerutkan dagunya.


"Ma, Arfan bukan anak kecil lagi! jangan seperti ini!" kesal Arfan yang berhasil membuat Amanda berhenti tapi Amanda langsung menjewer telinga Arfan.


"Kamu tahu kamu bukan anak kecil lagi terus kapan menikahnya!"


"Ngga tahu, orang yang Arfan suka sudah jadi istri orang"


Ucapan Arfan membuat Amanda melepaskan jewerannya. Amanda menatap Arfan dengan tatapan sulit diartikan.


"Siapa orang itu"


"Angel"


"Apa?"


"Mama jangan marah dulu. Arfan tahu Angel sudah punya suami dan Arfan tidak akan berbuat apapun yang dapat mengusik hidup Angel. Arfan cuma berharap diluar sana ada gadis yang sama seperti Angel"


Tersirat Arfan sangat menyukai Angel dan dia juga tahu ini salah tapi mengangumi seseorang itu bolehkan. Arfan berharap ada gadis yang sifat dan senyumannya sama seperti Angel agar dia bisa memilikinya.


"Jadi itu alasannya? Kamu ini ngelamun terus mending besok antar makanan ke Angel sama Sena. Kamu maukan?"


Amanda akhirnya merasa lega mengetahui apa yang tengah Arfan pikirkan. Ya walaupun dia harus terima kenyataan kalau putranya menyukai Angel.


"Iya ma"


flash end


Amanda menghela napas beratnya. Dia juga ingin mempunyai menantu seperti Angel. Sifat Angel yang apa adanya dan mempunyai senyuman yang tulus.


"Ma"


Amanda terkejut saat kedatangan Angel. Angel menunjukan senyumnya sembari mengelus perut buncitnya.


"Kamu lapar?"


Angel mengangguk pelan. Amanda yang dari rumah sudah membawa makanan langsung menyajikannya untuk Angel.


"Ayo makan. Emm Arfan mana?"


Angel mengendikan bahunya lalu memakan makanan didepannya ini. Tak berselang lama Arfan menghampiri Angel dengan tatapan kesal.


"Dicariin dari tadi ternyata kamu disini" omel Arfan namun Angel tidak menghiraukan. Dirinya masih asik makan.


"Dari tadi kan sama kamu? masa nyariin"


"Ma. Nih anak punya jurus menghilang"


"Ck. Memengnya ini dunia ninja?" sewot Angel dan langsung mencubit lengan Arfan sampai Arfan mengaduh.


"El jangan seperti itu ntar anak kamu mirip Arfan loh?" ucap Amanda dengan jahilnya membut Angel melepas cubitannya lalu mengelus perutnya.


"Jangan sampai kamu mirip om Arfan yang nyebelin ini, sayang" ucap Angel sembari mengelus perutnya. Mendengar itu Amanda terkekeh nemun Arfan mengerutkan dagunya.


...


Halaman belakang.


Rio tengah duduk diayunan sembari menatap tanaman mawar yang bunganya mulai layu. Rio masih teringat perkataan Angel. Rio pun tahu dirinya ini keterlaluan dan seakan tidak punya hati mempermainkan hidup orang lain.


"Aku tahu aku prinplan tapi mana yang aku pilih? ini bukan antara Angel dan Sena tapi ini Mama denga Angel. Aku harus bagai mana?"


Bi Inda merjalan menghampiri Rio yang sepertinya tengah melamun.


"Den Rio"


Rio menoleh kearah bi Inda yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu namun dirinya ragu.


"Bibi mau bilang apa?"


"Eeee i..itu Den"


"Kenapa?"


"Bibi tidak bisa terus menyimpan rahasia ini den, terlebih saya tidak tega lihat non Angel sedih terus"


"Sedih? bibi jangan bercanda tadi saja dia ceria bahkan ketawa tuh"


"Itu terpaksa. itu semua hanya untuk anak den Rio, den kalau memang den suka sama non Angel tapi tidak ingin berpisah sama non Sena ya den pertahankan saja mereka"


"Maksud bibi punya dua istri gitu?"


"Pakek nanya lagi ini eeehh si den Rio kebanyakan kerja samapi ngga sadar punya istri dua" kesal bi Inda yang entahlah mungkin dihatinya sudah teriak-teriak tak jelas mengerutuki Rio.


"Tauah bi, sebaiknya bibi bantuin Mama" usir Rio yang merasa dirinya o'on padahal dia tahu sejak awal punya dua istri.


"Iya"


Bi Inda menurut. Rio kembali melamun, pikirannya kini kacau hingga tak bisa berfikir jernih. Rio masih teringat wajah Amanda yang sangat bahagia mengetahui akan dikarunia cucu.


Flashback


Rio tengah melihat Amanda yang tengah menyisiri rambut Sena. Beberapa kali tangan Amanda mengelus perut Sena yang masih rata.


"Mama senang kamu hamil. Selama ini mama menanti kehadiran cucu dirumah ini. Terima kasih ya sayang"


Amanda mengecup kening Sena. Rio mengepalkan kedua tangannya, dia tidak bisa mengungkap kebenaran yang ada walau dia tahu ada seorang yang akan sangat terluka.


"Ma, Sena mau istirahat kita keluar yah?" Ajak Rio ke Amanda. Amanda nampak tidak ingin meninggalkan Sena.


"Iya, kamu ditemani atau tidak?"


"Tidak usah ma"


"Kalau butuh apa-apa bilang yah?"


"Iya ma. Mama tenang saja"


.


Dapur


Amanda sedang sibuk memotong sayur sedangkan Rio hanya menonton toh dirinya pasti akan kena omel jika nanti ada yang salah.


"Ma"


"Apa?"


"Mama senang?"


"Kamu nanya lagi, ya mama senang lah. Selama ini mama menunggu akan saat ini, mama bisa membayangkan menimang bayi mungil mu pasti dia sangat lucu"


Rio bisa melihat pancaran kebahagiaan dari wajah Amanda. Rio masih ingin melihat wajah bahagia itu lebih lama lagi. Rio ingin menebus semua kesalahan yang ia telah lakukan kewanita yang melahirkannya.


"Ri, kamu tidak akan menceraikan Sena kan? Ri, semua orang bisa berubah. Mama mohon beri Sena kesempatan untuk berubah. Mama tahu Sena selama ini sudah sering menyakiti perasaanmu, mama harap kamu bisa memaafkannya. Ini demi anakmu, kalian harus membesarkan anak kalian bersama"


flash end


Rio mendesah kasar. Rasanya semakin berat beban dibenaknya terlebih kandungan Angel yang semakin membesar dan Angel pasti juga ingin kepastian.


"Apa dia mau memaafkan ku? sudah sering aku menyakitinya bahakan kemarin aku hampir kehilangannya"


Rio memegang cincin yang ada di jari kananya. Cincin pengikatnya dengan Angel tapi cincin pernikahan tidak terlihat dijari manis Angel.


"Kamu pasti marah"


..


Bi Inda menghampiri kerumunan ART yang nampak tengah mengintip sesuatu. Karena penasaran Bi Inda menghampiri mereka.


"Kalian sedang apa?"


"Eh. Itu lihat saja sendiri"


Bi Inda melihat kearah yang mereka tuju ternyata itu Arfan yang tengah memijit kaki Angel. Bi Inda melihat pancaran yang berbeda dimata Arfan. Terlihat jelas keduanya saling bercanda dan juga terlihat keselarasan antara mereka.


"Kok den Rio nggak marah yah istrinya dekat sama adiknya?"


"Kalau marah pasti dicurigai! secara pernikahan non El sama den Rio itu hanya secara agama sama ngga direstui sama orang tua den Rio"


"Iya juga yah?"


"Kok den Rio mau yah terus sama non Sena yang kek Valak itu"


Telinga bi Inda terasa panas mendengar celotehan mulut lemes tukang gosip ini langsung menyuruh mereka untuk kembali bekerja.


"Sudah ngerumpinya! lanjut kerja!"


"Iya, ini juga mau"


Mereka semu membubarkan diri. Sekarang hanya bi Inda yang menatap sayu Angel. Melihat senyuman itu membuat rasa bersalah bi Inda semakin dalam. Dia menyesali telah berjanji ke Rio agar tidak menceritakan hal ini keorang lain bahkan keluarganya.


"Non, maafin bibi. Seharusnya kemarin bibi jujur"


Flashback


Bi Inda tengah membantu Amanda memasak dirumah Rio. Diselah-selah masak Amanda melihat kearah Angel yang menyandarkan kepalanya ditepian sofa.


"Bi"


"Iya nya"


"Suaminya Angel dimana?" tanya Amanda yang penasaran akan Suami Angel dan ingin tahu alasannya meninggalkan istri yang tengah mengandung anaknya.


"Sedang kerja, Nya"


"Dimana?"


"Jadi kru kapal dikapal pesiar"


"Berarti pulangnya lama dong?"


"I...ya, Nya"


Bi Inda nampak melihatka wajah bersalahnya.


15 menit sebelumnya


Bi Inda tengah membawa belanjaan kedapur bersamaan dengan itu Rio menghampiri bi Inda.


"Bi. Kita bicara sebentar"


"Iya den"


Bi Inda mengikuti Rio kehalaman belakang. Bi Inda tidak tahu apa yang akan Rio bicarakan hanya bertanya-tanya dalam hati.


Sesampainya dihalaman belakang Rio berhenti melangkah langsung berbalik kearah bi Inda.


"Bi kalau mama nanya suami Angel, bibi bilang saja kalau suami Angel kerja jadi kru kapal pesiar"


"Tapi den? mau sampai kapan ini semua? den bilang mau terus bersama non Angel"


"Bi tolong mengerti keadannya!"


"Den pikirkan juga perasaan non Angel, suaminya didepannya tapi dia tidak bisa mengakuinya"


"Bi anggap saja ini belum saatnya. Saya mohon menurutlah! jangan sampai terjadi masalah terlebih Angel sedang hamil"


"Baiklah kalau itu maunya den Rio tapi den harus ingat non Angel itu istri den Rio jadi perlakukan dia selayaknya seorang istri"


Bi Inda langsung pergi mininggalkan Rio.


.


"Bi kok ngelamun?"


Pertanyaan Amanda membuat bi Inda terkejut dan tersadar dari lamunannya.


"Eh. Maaf Nya"


Amanda terkekeh pelan lalu berjalan menghampiri Angel yang tengah melamun sembari membawa sop jagung.


Bi Inda tersenyum melihat Amanda menyuapi Angel. Andai saja dia tahu kalau yang sedang disuapinya itu menantunya yang tengah hamil bukan Sena.


"Maafin bibi Non. Bibi tidak bisa menbantu Non Angel"


Flash end


Bi Inda menghela napas beratnya. Saat melihat kearah selatan bi Inda melihat Rio yang tengah melihat kearah Arfan dan Angel. Bi Inda melihat tangan Rio mengepal seakan cemburu melihat mereka berdua terlebih Angel tidak mau disentuh oleh Rio.


"Salah sendiri punya istri tidak diakui!"


Bi Inda langsung pergi dari tempatnya berdiri takut Rio melihatnya.


.


Rio menatap Arfan yang tengah bercanda dengan Angel. Rio menatap iri sekaligus cemburu kepada Arfan yang diperbolehkan oleh Angel untuk mengelus perutnya.


"Kenapa kamu tidak adil? Aku ingin menyapa anakku"


.


Kamar Sena


Sena tengah melihat foto-foto bayi disitus model balita. Senyum Sena menghiasi wajahnya seakan tidak sabar menanti anak yang lahir dari rahim Angel. Sena ingin bayi itu seperti bayi-bayi ini yang terlihat lucu dan menggemaskan.


"Lucu banget sih, ih gemesin"


Senyum manis Sena berubah jadi senyum sinis saat melihat bayi yang memakai pita tengah tersenyum dengan manisnya.


"Aku ingin anakku jadi model yang akan menyingkirkan anaknya Iren"


Bayi itu putri dari Iren yang Sena anggap saingannya karena itu Sena terus menjaga Angel dan membelikan semua makanan yang bisa membuat bayi itu sehat sampai saatnya lahir.


"Ck. Lima bulan lagi rasanya sudah tidak sabar melihatkan anakku"


Sena teringat akan kelakuan Rio yang selalu membuatnya jengkel dan sifatnya yang tidak bisa menahan amarah selau membuat anak dirahim Angel terancam.


"Ck. Orang itu, awas saja kalau dia menyakiti anakku"


..Flashback


Tempat kerja Sena.


Semua tengah mengerumuni bayi yang baru berusia 3 bulan. Bayi itu nampak senang di krumuni seperti ini bahkan senyuman dibibir mungilnya jelas terlihat.


"Wah ini anak kamu lucu banget"


"Iren, bayi kamu lucu banget!"


"Baru tiga bulan sudah jadi model saja"


"Kan dia yang akan menesuskan karir ku" Senyuman diwajah Iren membuat Sena dongkol.


Sena pergi dari krumunan itu menuju toilet dengan wajah kesal.


Toilet


"Ck, sebel banget sih! perasaan bayinya biasa saja tuh. Awas saja bayiku pasti akan jadi bayi terpopuler!"


Sena terus saja mengomel tidak jelas sembari mengutak atik ponselnya. Sena mencari disitus dokter kandungan makanan apa saja yang dapat mempengaruhi janin didalam kandungan dan makanan yang dapat membuat janin itu lahir dengan kulit yang putih bak susu serta mata yang indah dan rambutnya yang tebal.


.


Rumah


Sena mendekati Angel yang tengah lesu wajahnya pucat.


"Makan ini"


Sena meletakan plastik itu keatas meja. Angel hanya melihat saja lalu mengalihkan pandangannya. Sena sebisa mungkin sabar menghadapi Angel.


Sena mengeluarkan semua isi dikantong itu keatas meja barulah Angel mau mengambil satu dari lima makanan yang Sena beri. Sena tersenyum puas lalu berjalan kearah dapur melihat apa saja isi didalam kulkas, Sena ingin memastikan camilan dan makanan untuk Angel itu makanan yang sehat.


"Kok gini sih? ini terlalu banyak perasa"


Sena mengambil semua camilan kripik dan lainnya dari lemari kaca bersamaan dengan itu Rio datang menghampiri.


"Kamu sedang apa?"


"Memastikan yang terbaik untuk anakku" jawab Sena yang masih asik memasukan camilan kedalam kantong kresek.


"Sejak kapan kamu perduli?"


"Sudah diamlah urus saja pekerjaanmu saja!" ucap Sena tanpa melihat kearah Rio.


Bersamaan dengan itu bi Inda datang dengan membawa kardus pesanan Sena.


"Non ini pesanannya"


Sena langsung menoleh senyuman terlihat di bibirnya. Sena langsung membuka kardus itu ternyata isinya makanan ringan kacang-kacangan serta biji-bijian dan keripik buah yang terlihat mahal dan terjamin kualitasnya.


Sena langsung menatanya dilemari kaca. Kontong keresek tadi diberikan ke bi Inda.


.


"Angel"


"Apa?"


"Cemilannya sudah aku ganti semua, kamu makan yang itu"


"Iya"


Sena langsung pergi meninggalkan Angel. Sena menuju keruang kerja Rio.


"Ri. Aku tidak mau kamu menyakiti Angel, aku tidak mau anakku kenapa-napa!" ucap Sena langsung didepan Rio. Rio sedikit terkejut tapi ya sudahlah mungkin Sena ingin akur dengan Angel.


"Iya"


Flashend


"Nggak sabar punya baby. Umm pasti anakku lucu banget deh"


Sena menutup laptopnya lalu bersiap tidur.


...


Angel sangat senang diperlakukan seperti ini. Amanda menyisir rambutnya dengan penuh kasih sayang walau dia tidak tahu kalau dirinya adalah menantunya. Angel merasa kehangatan yang sama seperti Jihan ibu kandungnya.


"Ma"


"Iya, kenapa?"


"Makasih"


"Untuk?"


"Semuanya, Mama membuatku nyaman dan tidak merasa khawatir di kehamilanku ini"


"Iya sayang, oh ya kamu tidak usah sungkan kalau mau minta sesuatu dari mama yah?"


"Iya"


Amanda langsung mengecup kening Angel lalu mengecup perutnya.


"Pasti rasanya sumpeng cuaca panas seperti ini perutnya unyu-unyu gitu"


"Iya nih bawa balon terus. Eh dia udah gerak loh ,Ma tapi gerakannya masih pelan gitu"


"Ohya?sini mama mau pegang"


Amanda mengelus perut Angel dan dan tak sabar menanti kelahira cucu-cucunya.


Dari kejauhan Arfan melihat Amanda yang tengah mengelus perut Angel nampak bengitu sangat senang. Melihat Amanda tersenyum seperti itu membuat Arfan ingin memiliki Angel karena Angel bisa membuat Amanda tersenyum senang.


"Kenapa kamu sudah menikah El? andai aku bertemu denganmu lebih awal pasti aku sekarang sangat bahagia. Aku masih ingat pertama kalinya bertemu denganmu"


Flashback


Rumah Riko /Amanda


Arfan merasa sangat kesal kepada kedua orang tuanya sejak satu bulan lalu ada saja tamu yang berkunjung dan ujung-ujungnya mengenalkan putri mereka kepadanya. Arfan menduga orang tuanya ini sedang mencari jodoh untuknya.


Sepanjang obrolan yang membosankan ini Arfan hanya terdiam dan menjawab seadanya ya meskipun gadis di sampinnya ini ingin mengajaknya mengobrol. Gadis disebelahnya ini memengcantik tapi Arfan tidak tertarik karena Arfan tidak perduli dengan penampilan fisik yang bisa diubah tapi hati dan sifat asli tidak bisa diubah dan Arfan tidak mau salah pilih.


Dua jam berlalu akhirnya Arfan dapat bernapas lega, mereka pamit pulang. Riko mengantar mereka keteras sedangkan Amanda menatap kesal keArfan.


"Apa?"


"Kamu ini! sebenarnya gadis yang kamu mau seperti apa?"


Arfan hanya mengendikan bahunya lalu berjalan menuju tangga. Amanda menatap kesal kepergian Arfan.


Arfan langsung merebahkan tubuhnya keatas kasur yang sangat empuk membuatnya merasa nyaman.


"Mereka sangat berlebihan"


Arfan menatap langit-langit kamarnya menerawang sesutu yang selama ini menggangu pikirannya.


Arfan mendesah kasar saat kilasan wajah gadis yang belum ia kenal mengusik lamunannya.


"Sebenarnya siapa gadis itu, entahlah sebaiknya aku menginap dirumah kakak saja dari pada disini"


Arfan langsung bangkit mengambil jaketnya lalu meraih kunci mobil dan dompet.


"Kamu mau kemana? mama belum selesai ngomel sama kamu!" ucap Amanda saat melihat putranya yang ingin pergi.


Arfan tak menjawab hingga berada didepan Amanda.


"Arfan mau menginap dirumah kakak. Bosan disini tiap hari ada saja teman mama"


"Tapi"


"Bye Mom"


Arfan langsung mengecup pipi Amanda langsung pergi. Arfan berpamitan keRiko di teras lalu menuju mobilnya.


Rumah Rio/Sena


Arfan langsung mengetuk pintu rumah dan tak lama seorang membukakan pintu untuk Arfan.


"Kamu?


Arfan terkejut melihat siapa yang berdiri didepannya. Gadis yang selama ini mengusik tidur nyenyaknya berdiri didepannya.


"Kamu ngapain disini?" tanya Arfan bingung.


"A...aku"


"Ini keponakannya bibi, De"


Tiba-tiba bi Inda datang langsung menyambar pembicaraan mereka. Arfan hany membulatkan bibirnya.


"Kakak dirumah?"


"Dirumah kok den. Ayo masuk"


Arfan tersenyum tipis saat gadis didepannya ini nampak tidak senang melihat kedatangannya.


...


15:00


Arfan tersenyum melihat gadis yang belum ia tahu namanya sedang memetik bunga mawar. Arfan menghampiri gadis itu niatnya sih ingin mengajaknya berkenalan.


"Hey lagi ngapain?"


"Metik bunga"


"Ntar dimarahin Sena loh"


"Biarin, Sena juga ngga pernah kesini"


Arfan tersenyum saat melihat pipi Angel yang tembem kek pakpao.


"Nama kamu siapa? aku Arfan"


"Angel" ucap Angel tanpa menoleh kearah Arfan.


"Cuek banget sih neng"


Angel menoleh dan menatap Arfan dengan tatapan penuh kekesalan.


"Mau kamu apa sih? setiap bertemu pasti ada aja yang kamu komen!"


Kesal Angel langsung pergi meninggalkan Arfan. Arfan tidak marah hanya saja melihat ekspresi Angel tadi membuatnya gemas.


"Lucu banget sih dia jadi pengen bawa pulang, eh emangnya tuh anak apaan?"


Flashend.


Arfan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Arfan berlalu pergi, dia tidak mau rasa sukanya berubah jadi cinta.


..


"Sudah jam segini. Mama mau masak, kamu mau dimasakin apa?"


"Terserah Mama saja"


"Ya sudah"


Angel menatap kepergian Amanda.


"Makasih. Anda membuatku tak kehilangan sosok ibu. Kenapa sifat Rio berbeda sekali dengan orant tuanya?"


Flashback


Bi Inda menggandeng tangan Angel yang nampak ragu melangkahkan kaki lagi kerumah ini.


"Bi nanti dimarahin Rio"


"Den Rio yang nyuruh"


Angel langsung disambut oleh Amanda dengan ramahnya tidak seperti kemarin.


"Siang, tante"


"Panggil mama saja biar akrab"


"Tapi?"


"Suda menurut aja" ucap Arfan yang sedang bermain PS.


...


Angel melihat kesekeliling rumah. Rumah ini sangat megah dan halamannya luas. Angel tersenyum melihat keindahan bunga yang bermekaran.


"Angel"


"Eh, om Riko"


"Panggil Papa saja, bi Inda sudah kami anggap seperti keluarga sendiri dan itu juga berarti kamu juga"


"Iya"


"Oh iya, Arfan suka jahil kamu harus sabar menghadapinya"


"Iya"


Setelah Riko pergi Arfan menghampiri Angel.


"Tuh orang ngomong apa barusan?"


"Rahasia"


"Ih kamu mah"


..


Angel hanya tersenyum tipis saat Amanda melihatkan baju baju yang baru ia beli.


"Kamu mau yang mana?"


"Eee ngga deh Ma"


"Kenapa?"


"Nanti Sena marah"


"Ngga, Sena sudah Mama belikan ini tinggal untuk mu"


"Yang ini saja"


Angel mengambil baju tidur yang berwarna biru dan terlihat biasa biasa saja padahal ada yang lebih bagus.


"Kok yang ini? ini ngga mau?"


Angel menggeleng saat Amanda melihatkan baju tidur berwarna pink yang terlihat sangat mahal.


"Kenapa?"


"Ngga suka warna pink"


"Mama kira semua perempuan suka warna pink?"


"Ngga semuanya sama" ucap Riko yang tiba tiba datang membawa sekantong buah-buahan.


"Itu yang aku pesankan?"


"Iya"


"El kamu mau buah apa? mama kupasin"


"Mau apel"


"Cuma apel?"


"Iya"


Mereka berdua meninggalkan Angel. Angel tersenyum. Dia sangat beruntung bisa berada dikeluarga ini walau tanpa setatus yang jelas. Entah apa yang akan terjadi saat mereka mengetahui ini semua.


Flash end.


"Eh?" lamunan Angel buyar saat Rio mengelus puncak kepalanya.


"Kamu ngelamunin apa?"


"Tidak ada"


"Buat kamu"


Rio memberi Angel es krim rasa taro. Angel tidak langsung menerimanya malah menatap Rio.


Angel melihat Arfan yang tengah memakan es krim menuju kearahnya. Angel langsung mengambil es krim ditangan Rio. Angel sekarang tahu Rio tidak mau dirinya main kejar-kejaran dengan Arfan karena es krim.


"Yah kok"


"Kenapa? mau main kejar kejaran lagi?"


Sinis Rio yang membuat Arfan menunjukan cengirannya.


"Bumil terus yang dikerjain. Main PS aja yuk" ajak Rio langsung diangguki oleh Arfan.


.


Es krim yang Angel makan kini sudah habis dan dirinya merasa bosan. Sedangkan Arfan dan Rio masih bermain PS.


Angel tersenyum jahil lalu berjalan kearah Arfan. Angel langsung merebut stik PS yang dimainkan Arfan.


"El!" kesal Arfan namum Angel hanya menjulurkan lidahnya. Arfan merebut stik PS yang dimainkan Rio.


Rio sekarang menjadi penonton permainan mereka. Arfan terlihat sangat kesal saat Angel berhasil mencetak gol pertama.


"Payah!" cibir Angel. Arfan merasa tersaingi kalau seperti ini, biasanya dia yang pertama mencetak angka.


Arfan kewalahan memberi perlawanan menghadapi permainan Angel. Angel selalu bisa mengecoh dan merebut bola.


"Ck! Angel"


"Apa?"


"Jangan direbut terus bolanya"


"Dih, ayo ambil"


Rio merasa dirinya terabaikan sekarang.


"...."



MARIO STEVANO



ANGEL



SENA OLIVIA



ARFAN



REYHAN


....***..