
...
Rumah
Bi Inda terus meyakinkan Angel agar mau mengantar makanan keRio. Angel merasa ragu mengantarkan langsung kekantornya Rio terlebih Angel takut bertemu dengan Sena disana.
"Ya ampun non Angel ini kelamaan mikirnya deh! buruan berangkat ntar den Rio kelaperan loh?"
"Bibi aja deh"
"Mau dimarahin den Rio?"
"Ck, iya ...iya"
Bi Inda tersenyum puas akhirnya Angel mau menuruti kemauan Rio. Angel langsung meraih paper bag yang berisi kotak makanan untuk Rio. Angel diantar supir kekantor Rio dengan mobil khusus hanya untuk Angel dan Sena belum tahu itu. Mobil ini baru Rio beli hanya untuk Angel dan mobil ini terparkir dihalaman rumah ini hanya disaat Sena tidak berada dirumah.
Kantor
Angel terkagum dengan bangunan gedung bertingkat yang menjulang tinggi.
"Non sudah sampai, saya tunggu disini"
"Iya"
Angel turun dari mobil mulai melangkah menjuju pintu masuk kantor yang ramai dengan orang yang keluar masuk, mereka nampak begitu sibuk.
Angel menghela napas, dirinya menghampiri saptam yang tengah berjaga di lif.
"Umm pak, ruangan pak Rio dilantai berapa? saya disuru mengantarkan makanan?"
"Mari saya antar. Pak Rio sedang menunggu"
Angel mengangguk, dirinya mengikuti satpam masuk kedalam lif. Entah kenapa Angel merasa Rio sudah kelaparan dari tadi Rio terus menanyakan dirinya sudah sampai mana.
Pintu lif terbuka. Angel terum mengikuti satpam ini. Sepanjang perjalanan Angel melihat orang-orang sangat fokus dilayat laptop mereka dan mereka sangat sibuk.
"Bu ada yang ingin bertemu dengan pak Rio"
Angel tersenyum tipis. Satpam mengantar Angel kini berjalan pergi. Wanita itu langsung membukakan pintu untuk Angel.
"Silakan masuk"
"Terima kasih"
Setelah Angel masuk wanita itu menutup pintunya lagi. Melihat Angel yang sudah didepanya membuat Rio tersenyum senang.
"Akhirnya istriku datang juga"
Angel langsung menatap datar Rio membuat Rio menghela napas. Rio bangkit dari duduknya menghampiri Angel.
"Makan dulu"
Angel meletakan paper bag diatas meja. Angel merasa kagum dengan ruangan kerja milik Rio yang terlihat sangat nyaman.
"Iya, kalau kamu ingin berkeliling ya silakan"
Angel mengangguk. Angel berkeliling kesetiap sudut ruang kerja Rio. Angel melihat ada ruangan lain disebelah kiri, dirinya mulai melangkah memasuki ruangan yang terkesan berbeda.
"Ini dapur?"
Angel membuka pintu lalu dirinya terkejut dengan apa yang didalamnya. Sebuah tempat tidur yang sangat nyaman. Ruangan ini mempunyai semua yang Rio butuhkan tapi kenapa dia pulang kerumah tengah malam dia bisakan tidur disini.
"Dasar orang itu"
Angel berdecak kesal lalu menghampiri Rio yang tengah makan.
"Ri"
"Apa?"
"Ruangan ini punya semua yang kamu butuhkan lalu kenapa tengah malam kamu pulang? kamu kenapa tidak menginap disini saja?"
Rio bangkit dari duduknya lalu mengalungkan tangannya dileher Angel. Angel masih menatap sebal Rio.
"Kamu tidak mau aku pulang"
"Bukan itu"
"Lalu apa?"
"Aku takut kamu kenapa napa dijalan, itu saja"
Rio melihat kecemasan dimata Angel. Rio tersenyum ternyata didepannya ini sosok istri yang sangat sempurna dimata Rio.
"Iya, aku akan tidur disini kalau aku lembur. Kamu perhatian sekali sama aku"
Rio tersenyum senang lalu mengecup bibir Angel dengan lembutnya. Angel merasakan kecupan ini sangat tulus. Angel memejamkan matanya begitu juga Rio. Tangan Rio kini berpindah kebelakang kepala Angel, mendorong agar Angel semakin dekat denganya. Angel membalas kecupan itu.
....
"Kamu ngapain disini?"
Angel terkejut mendengar suara Sena setelah menutup pintu. Tatap mata Sena tajam bak elang tapi Angel malah tidak takut sama sekali, dirinya menatap Sena datar. Sebelum Sena berkicau kembali Angel buru-buru mencari jawaban yang masuk diakal agar Sena tidak mempermalukannya didepan umum dan mengecapnya sebagai pelakor.
"Ya elah nya, tiap hari ngomel mulu! saya teh cuma disuru tuan ngantar makanan" ucap Angel sewajarnya dan sepertinya Angel berpura-pura menjadi ART yang disuruh tuannya mengantar makanan.
Yang jelas hanya Sena saja yang tahu kalau Angel istri kedua Rio. Sena mendunga Angel ingin mendekati Rio untuk mendapatkan semua hartanya dan pastinya Sena tidak akan terima itu semua.
"Tidak usah banyak alasan apa kamu mau MEREBUT SUAMI SAYA!"
Teriakan Sena membuat Rio yang didalam ruang kerja terkejut. Rio langsung berlari kearah pintu. Rio tidak mau Angel diapa-apakan oleh Sena.
"Si nyonya ngga malu apa dilihatin orang banyak? teriak-teriak seperti itu malu atu dekira ini hutan apa? ntar diketawain loh, masa udah cantik
kelakuan kek tarzan" celoteh Angel seolah-olah ingin mengejek Sena.
Rio yang ingin keluar ruangan jadi tidak jadi karena mendengar suara Angel yang lantang tanpa ada rasa takut.
Semua yang ada diruangan itu menahan tawa mereka. Entah kenapa semuanya tertarik mendengarkan percakapan yang tidak berguna.
"Ck! kamu!"
Sena menunjuk kearah Angel. Angel merasa kalau Sena itu lebih mirip preman dari pada model. Angel menatap sebal kearah Sena sebab Sena datang dengan tangan kosong menemui Rio padahal dirinya itu istrinya harusnya dia membawa makanan atau apapun itu padahal dirinya sudah tahu Rio pergi dengan terburu-buru.
"Tidak usah nunjuk seperti itu, memangnya suami nyonya bakal berpaling sama muka pas-pasan seperti saya? nyonya merasa tersaingi? kalau ia urus suaminya jangan lipstik terus ditebelin!"
Angel langsung nyelonong pergi sebelum Sena semakin marah. Angek cekikikan saat melihat wajah kusut Sena kalau dirumah pasti Sena sudah teriak-teriak tidak jelas. Angel beruntung dapat kesempatan ini, kesempatan membuat Sena kehabisan kata-kata.
"Kalau aku jadi kak Rio udah aku cerain dari dulu, bosen banget punya istri mukutnya kek kenalpot bajaj brisik. Merdu enggak sumbang iya"
Angel masih mengomel tidak jelas hingga dirinya tidak menyadari ada beberapa orang memperhatikan dia. Bukan karena dirinya yang berbicara sendiri tapi wajah Angel yang natural ditambah eskpresi kesalnya yang begitu lucu.
...
Ruang kerja Rio
Telinga Rio terasa panas dari tadi Sena ngomel tidak jelas dan sepertinya terbalik harusnya Rio yang mengomeli Sena karena membuat keributan.
Rio tidak memperdulikan orang yang berdiri disampingnya ini. Ro masih sibuk bekerja dan sebisa mungkin tidak terpancing emosi.
"Ri, kamu dengerin aku ngga sih?" kesal Sena yang merasa terabaikan.
"Iya, aku mendengarkan. Kalau kamu cemburu ya kamu tinggal lakuin kewajiban kamu, kamu itu seorang istri"
"Aku sibuk!"
"Ya sudah jangan marah kalau Angel perhatian. Dia tahu apa saja yang harus dilakukan seorang istri tidak seperti kamu yang hanya menghamburkan uangku saja"
"Apa kamu bilang? sekarang kamu perhitungan sama aku?"
Rio menghela napas lalu menoleh kearah Sena.
"Kamu nyadar ngga sih? katanya kamu model yang udah pro masa kamu tidak punya uang untuk kesenangan mu sendiri atau jangan-jangan kamu cuma--"
Rio mengantungkan ucapannya lalu mengendikan bahunya.
"Aku model profesional, gajih ku besar dan aku tidak akan pakai uang mu lagi! dasar suami perhitungan! ck"
Sena langsung melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Rio.
"Dari tadi kek!"
...
Angel berjalan diloby dengan perasaan yang masih kesal akibat ulah Sena tadi.
"Nyebelin banget sih tuh orang"
Saat Angel melangkah keluar pintu tiba-tiba sepatunya selip dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Eh?"
Kebetulan seorang pemuda lewat dibelakangnya lalu dengan sigap menahan tubuh Angel hingga Angel tidak jatuh. Pemuda itu melingkarkan tangan kanannya dipinggan Angel.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada halus. Angel mendongak menatap wajah pemuda yang menolongnya.
"Aku tidak apa-apa terima kasih"
"Syukur lah"
Angel membenarkan posisinya. Pemuda itu nampak mencari seseorang yang bertanggung jawab dengan lantai yang jadi licin seperti ini. Tak lama seorang datang dengan penanda lantai licin.
"Kenapa baru dipasang? kalau tadi ada yang kepleset gimana?" omelnya keorang yang baru datang. Orang itu hanya menundukan kepalanya mungkin dia pantas mendapat ini semua karena ketledorannya.
"Maaf pak Arfan, saya tidak akan mengulaginya lagi"
Orang yang menolong Angel tadi adalah Arfan adiknya Rio yang baru datang kekantor.
"Ya sudah lanjut bekerja lagi"
"Baik"
Angel seperti pernah mendengar nama itu tapi dimana. Arfan mengibaskan tagannya didepan wajah Angel. Arfan tersenyum saat mengetahui gadis yang ditolongnya ini melamun.
"Nona!"
"Eh iya"
Arfan terkekeh pelan sedangkan Angel merasa malu, dirinya melamun didepan orang yang tidak dikenalnya.
"Jangan melamun disini ntar kesambet loh?" ucap Arfan lalu melangkah pergi meninggalkan Angel yang terlihat ketakuatan.
"Masa dikantor semegah ini ada penunggunya sih?"
Tiba-tiba Angel merasa merinding lalu secepatnya pergi dari sini juga dirinya takut Sena berpapasan dengan Sena lagi.
...
Didalam mobil Angel masih terbayang orang yang tadi menolongnya. namanya Arfan apa dia adiknya Rio? tapi kenapa aura mereka berbeda. Saat didekat Arfan, Angel merasa sesuatu yang berbeda terlebih saat dirinya menegur OB itu yang tegas tapi terdengar biasa-biasa saja tanpa ada amara atau apa pun itu.
"Non mau langsung pulang atau mau pergi kemana dulu? soalnya den Rio pesan kalau saya harus mengantar non kemana pun non mau?"
"Hah?"
Berbeda dari yang kemarin sepertinya Rio mengijinkannya untuk berpergian mungkin Rio tidak mau Angel merasa bosan dan rindu kepada orang tuanya.
"Umm. Tolong antar saya kewarung nasi bu Jihan, belok kiri yah Pak"
"Baik Non"
....
Warung Bu Jihan
Jihan tengah sibuk memasak pesanan yang harus selesai sebelum jam makan siang. Pesanan 250 kotak nasi uduk dengan lauk lengkap itu cukup menguras tenanga apa lagi yang pesan bilang besok mau pesan lagi 500 porsi kalau masakannya enak karena itu Jihan berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakan.
"Bu, ini rasanya sudah pas belum?" tanya Arbi. Jihan mempunyai dua orang yang membantu memasak dan membersihkan disini namun hari ini cuma Arbi saja yang datang.
"Sudah, nanti kamu isi sekalian komplit takut ada yang terlewat"
"Baik bu"
Jihan melihat kearah jam dinding sudah pukul 11 dan pesanannya setengah jam lagi mau diambil. Jihan merasa gelisah karena waktu yang meped.
Jihan tersenyum saat Erik datang. Erik sendiri bingung kenapa istrinya menutup warung padahal dirinya sedang memasak.
"Kok ditutup warungnya, Bu?"
"Kebetulan Ayah datang, bantuin ibu yah?"
"Iya, pesananya banyak?"
"Iya, 250"
Erik yang sering membantu istrinya berjualan dengan cekatan mengisi boks boks ini. Jihan sudah menghitung boks itu jadi kalau semua sudah terisi berati sudah semua.
Mobil silver berhenti didepan warung ternyata itu Angel. Angel melangkah menuju pintu.
"Kok tutup sih?"
Angel mengintip kedalam. Angel tersenyum melihat kedua orang tuanya didalam. Angel pun langsung masuk.
"Sayang"
Erik begitu senang melihat putrinya datang. Jihan yang sedang membungkus lauk langsung menghampiri Angel.
"Kok warungnya ditutup?"
"Ibu ada pesanan banyak jadi ditutup dulu"
Angel hanya membulatkan mulutnya.
"Angel bantuin yah?"
"Eh? tapi nanti"
"Udah, ibu tenang saja"
Angel meletakan tasanya lalu menghampiri Erik. Karena dibantu Erik dan Angel semuanya cepat selesai dan tepat waktu.
"Makasih ya sayang"
Jihan mencupit gemas pipi Angel. Bersamaan dengan itu orang yang memesan makanan ini datang untuk mengambilnya dan dia membawa dua mobil lagi untuk mengangkut semuanya.
"Ini sudah semua?"
"Sudah"
Mereka langsung membawanya toh sudah dibayar semua. Angel marasa heran pesanan sebanyak itu untuk acara apa.
"Ada hajatan apa, banyak banget?"
"Jangan seperti itu ini rezeki"
"Iya Bu"
Angel yang merasa kalau dirinya sudah terlalu lama disini pun pamit kepada keluarganya. Sebenarnya Angel ingin tinggal lebih lama tapi mau diapa lagi dirinya harus kembali.
...
Rumah
"Non Angel"
Angel memberhentikan langkahnya lalu berbalik kearah bi Inda, jujur Angel sangat malu.
"Eh, bibi"
Angel melempar senyum. Bi Inda berjalan menghampiri Angel.
"Non ini sedang apa? ini juga rumah non lagian siapa yang mau marahin non?"
"Rio"
"Den Rio belum pulang, non mau makan apa bibi masakin?"
"Umm. Nanti saja bi abisnya baru makan"
"Ya sudah. Bibi permisi"
"Iya"
Angel bernapas lega ternyata Rio mau pun Sena tidak dirumah.
"Hufff gini banget hidupku"
Angel membenarkan tas selempangnya lalu berjalan menuju kamar. Angel merasa capek setelah membantu ibunya.
....
Kantor/ ruang keja Rio
Riko memasuki ruang kerja Rio ada yang mau ia tanyakan langsung keputranya.
"Papa?"
Rio terkejut dengan kedatangan Riko. Rio langsung bangkit dari duduknya menghampiri Riko.
"Ada apa Pa?"
"Tumben kamu traktir makan siang sama pegawai kelas bawah?"
"Rio cuma mau membagi rezeki ke mereka dari pada uang Rio dipake terus buat belanja sama Sena"
Riko mengelengkan kepalanya tidak biasanya Rio seperti tidak rela uangnya dipakai Sena.
"Kalau bengitu Papa juga mau?"
"Papa yakin? memangnya Papa suka nasi uduk?"
"Kamu kira Papa kamu itu istri kamu yang cuma doyan masakan resto"
"Bilang saja suka Pa, jangan bawa bawa nama orang"
Rio mengerutkan dagunya ya walau yang dikatakan Riko itu memang benar adanya. Riko ingin sekali mengatakan keRio untuk mengakhiri saja pernikahannya dengan Sena tapi dirinya takut Rio akan marah.
"Sorry"
"Kalau Papa mau ayo, Rio antar"
"Adik kamu juga diajak"
"Iya Pa kalau enggak mah bakal nangis dia"
...
Langit sore terlihat sangat indah dipandang terlebih keindahan warna jingga berpadu dengan awan putih.
Angel tengah duduk bersantai di kursi dan didepannya ini kolam renang yang cukup luas.
Angel merasa sangat bosan sekali kalau dirumah yang dulu jam segini Angel tengah memasak untuk Rio atau main PS tapi dirumah ini ada Sena yang dapat muncul kapan saja dan mengusik kesenangannya. Angel ingin membantu bi Inda memasak tapi tidak boleh, membersihkan rumah, menyiram tanaman juga dilarang semuanya selalu bilang "non duduk saja ini sudah tungas kami" dan itu membuat Angel sangat tidak nyaman tinggal disini.
"Heh Angel"
Angel mendengus kesal. Teriakan Sena sangat membuatnya terganggu baru satu hari tinggal disini tapi Sena sudah sangat sering berteriak.
Angel menoleh kearah Sena dengan tatapan datar sedangkan Sena melihatkan tatapan burung hantu yang menyeramkan.
"Apa lagi sih? nggak capek apa teriak- triak terus?"
Kesal Angel namun yang dikatakannya malah membuat Sena semakin marah. Sena melangkah mendekati Angel. Angel bangkit dari duduknya tanpa rasa takut sedikit pun Angel membalas tatapan Sena.
"Hey! kamu pikir kamu siapa?"
"Aku? aku istri simpana suamimu dan kamu yang membawaku kemari"
"Ck! bukan berarti kamu seenaknya disini! jangan bertingkah seperti nyonya disini, cuma aku yang berkuasa disini!"
"Terserah kamu mau bilang apa yang jelas aku hanya melakukan kewajibanku melanyani suami, tidak sepertimu!"
Sena mengepalkan kedua tangannya. Sena terlihat sangat marah kepada Angel yang menurutnya sok berkuasa dirumah ini dan Sena merasa Angel ingin mempengaruhi Rio.
"Heh mur*han. Kamu sadar nggak sih kamu itu jual diri cuma buat uang jadi jangan belagu!"
Sena langsung mendorong tubuh Angel kekolam.
Byurrr
Angel terjatuh kekolam renang sedangkan Sena berlalu pergi begitu saja. Angel yang tidak bisa berenang langsung panik namun kepanikannya membuat tenaganya perlahan terkuras.
"Tolong... bi! bi Inda"
Angel merasa tubuhnya perlahan tenggelam. Angel berusah agar kepalanya tetap diatas air. Angel melihat Rio yang berjalan tak jauh dari kolam renang.
"KAK RIOOO!"teriak Angel namun saat itu juga kesadaran Angel mulai pudar.
Rio yang mendengar teriakan Angel dari arah kolam lalu berlari entah kenapa Rio perasaan Rio menjadi tidak tenang.
"Angel" pekik Rio saat melihat Angel tenggelam didasar kolam. Rio langsung menyeburkan dirinya kekolam untuk menyelamatakan Angel.
Byurr
Rio berenang mendekati Angel. Rio langsung menarik tubuh Angel ketepi kolam. Rio mengangkat tubuh Angel keatas.
Rio keluar dari kolam. Rio langsung mengecek keadaan Angel. Rio menepuk-nepuk pipi Angel agar Angel tersadar.
"El...El sadar sayang!"
Rio menghentakan dada Angel sekali membuat Angel tersadar. Angel langsung terbatuk batuk. Rio mendudukan tubuh Angel. Angel terlihat sangat lenas.
"BI BAWAKAN HANDUK!" teriak Rio dengan keras dan tak lama bi Inda datang dengan membawa handuk.
"Non El kenapa?" tanya bi Inda sembari memberikan handuk ke Rio.
"Ngga tahu bi"
Rio mengangkat tubuh Angel membawanya kekamar untuk mengganti baju Angel yang basah.
....
Kamar
Rio tengah menggeringkan ranbut Angel dengan alat pengering rambut. Angel masih terlihat syok dengan kejadian tadi.
"Kenapa kamu bisa dikolam? kamu kan tida bisa berenang?"
"Sena yang dorong aku"
"Apa?"
"Dia marah kepadaku"
"Dasar orang itu"
Angel langsung menggenggap lengan Rio mencengahnya perngi menemui Sena.
"Kenapa?"
"Nggak ada gunanya ngomong sama kepala batu"
Rio tersenyum lalu mengacak-acak poni Angel dengan gemasnya. Bi Inda datang denga membawa baki yang diatasnya terdapat dua gelas cokelat panas.
"Minum ini biar hangat"
"Iya bi makasih"
Bi Inda meletakan baki itu diatas meja lalu pergi. Rio mengambil segelas cokelat hangat untuk Angel.
"Minum"
"Makasih"
Angel meminum cokelah hangat itu dengan tatapan kosong. Rio tahu Angel pasti tidak nyaman tinggal disini tapi apa boleh buat dirinya hanya ingin menjaga Angel dan mengawasi Sena.
"Belepotan"
Rio membersihkan noda ditepi bibir Angel dengan ibu jarinya namun Angel merasa Rio semakin mendekat kepadanya. Angel langsung mencubit pinggang Rio.
"Aww, sayang"
"Ih kamu yah"
"Kenapa? aku ingin bermesraan denganmu"
"Pintunya dikunci dulu"
"Iya"
....
22:00 kamar Sena
Sena mengepalkan kedua tangannya perlahan air matanya menetes. Dari tadi Sena menunggu kedatangan Rio namun sepertinya Rio lebih memilih Angel dari pada dirinya.
"Kenapa Ri? lima tahun lebih kita bersama tapi kamu segitu gampangnya lupain aku?"
Sena tidak habis pikir Rio melakukan ini kepadanya. Sena menaruh kepercayaan kepada Rio, dirinya memang memaksa Rio menikah lagi tapi bukan berarti dirinya mengijinkan suaminya mencintai wanita lain. Hati mana yang tidak terluka melihat suami tercintanya lebih memilih wanita lain dan berduaan didalam kamar. Sena merasa dadanya sesak sekali hingga membuat nafasnya sesak.
"Angel jangan berharap kamu bisa memiliki Rio, Rio hanya milikku"
Sena mulai membaringkan tubuhnya, memaksa matanya untuk menutup.
..
07:30
Sena perlahan membuka kelopak matanya dan mendapati Rio yang sedang memasang dasi dilipatan kerahnya.
"Ri"
Sena memposisikan tubuhnya duduk. Rio hanya berdehem saja tanpa melihat kearah Sena.
"Kenapa kamu lebih memilih Angel? sengampang itukah kamu melupakanku?"
Rio menoleh kearah Sena. Rio sendiri heran apa yang ada dipikiran Sena sekarang. Dulu Senalah yang memaksanya untuk menikah lagi padahal dirinya tidak bisa menerima kehadiran wanita lain dihidupnya. Semua sudah Rio lakukan untuk meyakinkan Sena kalau dia menerima kekurangannya tapi dia tidak percaya kepadanya. Saat Sena diPrancis Rio merasa dirinya tak utuh lagi, setiap hari Rio menelfon Sena tapi hanya beberapa kali yang Sena jawab.
Rio bingung harus bagaimana lagi untuk menunjukan rasa cintanya yang besar ini namun saat hati ini letih untuk merindu. Hati ini mulai merasa hangat sinar cinta yang baru. Semakin lama hati ini mulai menerima dengan baik perhatian kecil yang sederhan tapi mampu membuat hati ini merasa kehilangan saat berada jauh darinya.
"Harusnya itu yang aku tanyakan kepadamu. Semua kemauanmu selalu ku turuti, semua tapi kamu selalu meragukannya. Kamu selalu membutku kecewa"
"Kamu usir Angel dari sini! aku tidak suka dia disini"
"Ini tidak ada kaitannya dengan Angel. Aku sedang membicarakan sifat mu itu"
Rio masih bersikap lembut kepada Sena walau hati ini merasa sudah ingin menggungkapkan perasaan yang sebenarnya.
"Tidak ada kaitannya? kamu berbah karena Angel. KARENA WANITA MUR*HAN ITU!"
"Jaga bicaramu itu. Kamu yang salah, lima tahun ini sifatmu masih sama padahal kamu sudah lama bersamaku. Aku selalu diam kamu menghina wanita yang telah melahirkanku, kamu selalu menyalahkan dia padahal kamu sendiri yang salah sedangkan Angel, dia lebih baik dibandingkan kamu"
"Ri maksud kamu apa? kamu belain Angel padahal kamu selalu membelaku"
"Itu dulu saat dibutakan cinta yang begitu besar kepadamu dan itu malah membuatku menjauhi keluarga ku sendiri"
"Oh jadi kamu tidak mencintaiku lagi? kamu ingin menceraikanku? tidak Rio, aku tidak mau bercerai denganmu. Kamu sadar atau tidak aku terpaksa menyuruh mu menikah lagi, aku tidak mau bercerai dengan mu. Kamu kira aku senang jauh darimu tidak Ri, hatiku sakit"
"Jangan berbohong. Kamu kira suamimu ini tidak tahu kelakuanmu di Prancis"
Sena langsung terdiam seakan kehabisan kata-kata. Selama ini Rio diam tapi dirinya tahu semua kelakuan Sena saat diPrancis. Sebagai suami Rio tidak sebegitunya bodoh membiarkan Sena sendirian dinegri orang, Rio menyuruh seorang yang ia percayai untuk selalu mengawal Sena 24 jam dan itu malah membuat Rio tahu sifat asli Sena seperti apa.
"Kamu tahu aku bahakan tidak percaya kamu bisa menghabiskan tiga botol anggur dan pastinya seru setiap malam pergi keclub"
Sena terlihat sangat ketakutan bahkan sekarang Sena berkeringat. Sena tidak berani menatap Rio.
"Aku bisa saja marah dan memaksamu pulang tapi tidak, aku tidak melakukanya karena aku cinta kepadamu tapi kamu membuatku kecewa. Kamu membunuh calon anakku dan kamu juga menyakiti Angel. Jujur aku perlahan merasa rumah tangga kita ini cuma menguntungkanmu. Jawab jujur sebenarnya kamu mencintaiku atau hartaku?"
Rio meminta kejujuran pada cinta pertamanya ini. Rio ingin Sena jujur dengan perasaannya sendiri tapi sepertinya Sena tidak ingin menjawabnya. Rio masih setia menunggu jawab dari mulut Sena.
"Aku mencintai mu"
"Ohya lalu kenapa selama ini kamu tidak bersikap layaknya kamu mencintaiku. Kamu lebih mementingkan dirimu saja, kamu tidak pernah memperdulikanku. Aku sangat kecewa dan jangan melakukan hal yang membuatku berfikir untuk menceraikanmu"
Rio langsung melangkah pergi. Sena langsung mendongak menatap kepergian Rio.
...
Angel mengerutkan dagunya Rio tidak kunjung keluar dari kamarnya padahal nasi goreng buatannya sudah matang bahkan sudah dingin pasti kalau dimakan rasanya sudah berbeda.
"Apa mereka berantem lagi?"
Angel menghela napas sekalingus heran rumah tangga Sena dan Rio sungguh sangat aneh terutama Sena yang seperti bukan seorang istri. Sena selalu membuat Rio marah dan acuh terhadap Rio.
Senyum Angel muncul saat Rio berjalan kearah meja makan. Wajah Rio tenang berarti mereka tidak bertengkar.
"Maaf yah lama"
"Tidak apa-apa, mau makan?"
"Ummm aku makan dikantor saja sudah telat soalnya"
"Ya sudah aku pindahin dulu keboks tapi janji harus dimakan"
"Iya"
...
Halaman
Angel mengantar Rio sampai kemobilnya. Rio yang ingin masuk kedalam mobilnya menoleh keAngel dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa?"
Rio tak berkata apapun langsung menarik Angel kedalam pelukanya.
"Terima kasih kamu sudah datang dihidupku, kamu yang selalu mengertiku. Aku akan membuatmu bahagia selamanya"
...****....*****