Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 42 Ular (artian yang berbeda)



...


Rumah Amanda Riko


Suara bel menggema diruang tamu. Amanda langsung melangkah kearah pintu rumah lalu membuka pintu. Amanda terkejut melihat Sifa yang taklain adalah besannya, ibunya Sena


"Jeng Sifa?"


"Kenapa? sepertinya kamu tidak suka dengan kedatanganku"


Suara ketus dan nada yang terkesan meremehkan ini sudah sangat biasa ditelinga Amanda.


"Bukan itu, katanya jeng sedang diPrancis"


"Itukan kemarin, lagi aku tidak sepertimu yang setiap harinya dirumah ngurusin suami. Mau aja dibudak suami..ckck"


Sifa langsung nyelonong masuk kedalam rumah. Amanda hanya bisa berlapang dada menghadapi sosialita glamor ini.


"Anakku sedang hamil, apa kamu memperlakukannya dengan baik"


"Iya"


Sifa duduk disofa. Tas jinjingnya ia letakan diatas meja, tas keluaran terbaru dengan haranga yang fantastis.


"Baguslah. By the way sebentar lagi tujuh bulan ya pastinya kamu tahu lah apa yang kamu harus lakukan"


"Aku tahu dan rencananya mau dipantai"


"Ck, Pantai? kamu sedang ngelucu hah? anakku itu super model, masa iya dipantai sih?"


"Tapi"


"Pelit banget sih kamu? kemarin kamu sindir Sena habis habisan karena belum hamil, sekarang sudah hamil malah jadi perhitunyan yah kamu. Kamu tahu apa tidak, karena cucumu itu banyak pemotretan yang terganggu bahkan banyak yang dibatalkan. Kamu mikir nggak sih? Sena karir nya terancam karena menuruti kemauan mu itu"


Amanda hanya mendengarkan perkataan pedas dari besannya ini. Ini alasan kenapa dulu dirinya tidak ingin Rio menikah dengan Sena. Sifa selalu menuntut lebih dari apa yang telah ia beri seran dirinya tidak puas.


"Lalu maunya dimana?"


"Diresto bintang lima dan semuanya harus seperti kemauanku"


"Baiklah"


"Nah gitu dong dari tadi, jangan pelit sama cucu sendiri!"


"Dia juga cucumu"


"Tapi kamu yang menginginkannya, kalau aku lebih mementingkan kebahangiaan putriku daripada omongan sampah orang orang yang bisanya mengkritik!"


"Maksudmu?"


"Sena terpakasa, itu hanya untuk kebahagiaanmu itu"


Sifa menatap tajam Amanda. Ia sangat kecewa denag Amanda yang selalu memojokan putrinya. Amanda menunduk, entah kenapa hatinya sakit.


Karena mendengar suara Sifa, Sena langsunh keluar kamar menghampiri Sifa. Sena sendiri tidur diruang tamu sebab Rio memberi tahukan kalau Amanda mulai curiga dengan kehamilannya karena itu Rio menyuruh Sena tidur dikamar bawah.


"Mama?"


"Kamu tidut dikamar tamu? Amanada!"


Sifa langsung membentak Amanda. Dirumah sebesar ini masa putrinya tidur dikamar tamu.


"Ma jangan marah marah, ini kemauan Sena. Lagian Sena juga ngap naik turun tangga terus"


"Janagan membela ibu mertuamu itu, aku ini Ibumu! aku tahu yang terbaik untukmu"


"Ma"


"Diam! Amanda, aku kecewa sama kamu. Aku kira putriku akan diperlakukan lebih baik jika hamil tapi tetap saja kamu memperlakulan putriku dengan buruk!"


"Kamu salah paham"


"Stop! mulai hari ini Sena tinggal bersamaku! aku tidak mau putriku disia siakan disini!"


"Ta--"


"Tidak apa tapi tapian! ayo sayang"


Sifa langsung bangkit dan menarik pergelangan Sena keluar rumah. Amanda menatap sedih kepergaian mereka berdua.


...


Ruamah baru


Angel tersenyum senang setelah memakan mangga yang sangat manis bahan selama makan bayi didalam perutnya bergerak terus seakan menyukai apa yang dimakannya. Rio menoleh kearah Angel yang tengah memandangi perutnya.


"Kamu mau kasih nama siapa?"


"Jangan bilang itu dulu! pamali"


"Pamali? kenapa?"


"Belum genapa 7 bulan nanti saja bicarakan itu"


"Terus kapan?"


"8 bulan, baru boleh"


"Iya"


Rio mengelus perut Angel lalu menciumi dengan gemas. Rio merasa tidak sabar lagi menimang anaknya dan bermain bersama.


"Aku punya hadiah buat kamu"


"Ada lagi?"


Rio mengeluarkan cincin dari saku kemejanya. Angel langsung mengerutkan dagunya.


"Aku tidak suka!"


"Aku mohon, pakai yah"


"Aku ngga mau, lagian benda itu mengingatkanku denga statusku ini! kamu mau menyiksaku terus, kalau iya kenapa kamu tidak membunuhku saja!"


"Jangan berbicara seperti itu, aku tidak mungkin membunuhmu. Aku mencintaimu"


"Perkataan itu mudah diucapkan tapi kenyataannya berbeda"


Tatapan mereka saling beradu. Angel dengan tatapan amarah sedangkan Rio dengan tatapan penuh kehangatan bahkan dia tersenyum.


"I love you"


Setelah berucap Rio langsung mengecup tepat dibibir Angel. Angel terkejut namun sedetik itu ia merasakan kecupan yang sangat tulus dan hangat. Terasa damai dirasa hati Angel.


Lebih dari 10 detik mereka menyalurkan rasa didalam hatinya dan itu membuat Angel luluh dan mau memakai cincin yang sama dengan Rio.


"Ayo pulang, sudah sore"


"Emm"


"Aku bopong"


Rio langsung membopong tubuh Angel menuju mobil.


...


Rumah Amanda Riko.


Rio menuju kamar, saat pintu kamar terbuka Rio terkejut melihat Amanda yang duduk dikasurnya dengan tatapan lurus kedepan melihat foto pernikahanya.


"Ma?"


Suara Rio membuat Amanda tersadar. Amanda menoleh kearah Rio. Rio terkejut saat melihat air mata yang membasahi kedua pipi Amanda. Rio langsung menghampiri Amanda untuk menanyakan keadaannya.


"Ma, kenapa?"


"Ma..maafin Mama"


"Loh, kenapa?"


Rio menatap heran Amanda. Rio tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi yang jelas Amanda sangat sedih.


"Tadi ibu mertuamu kesini, dia ajak Sena pergi dan itu karena mama!"


"Mama ngimong apa sih?" ucap Rio sembari menyeka air mata Amand.


"Sena pergi sama ibunya sendiri, bukan orang lain dan Sena juga sedang hamil mungin dia juga ingin terus bersama ibunya"


"Tapi"


"Tapi apa? dia tadi bilang apa saja terus kenapa bisa Sena ikut pulang"


"Tadi"


Amanda menceritakan semua kepada Rio apa adanya, tidak ada yang dilebih lebihkan atau pun dikurangi. Rio mengepalkan kedua tangannya. Rio selalu merasa ibunya Sena selalu menuntut lebih dari apa yang telah diberi jadi Rio tidak heran sifat Sena itu sangat mirip dengan ibunya.


"Jangan terlalu difikirkan nanti mama malah sakit, sebaiknya Mama masak solanya ada yang kelaperan minta dimasakin sama mama"


Amanda tahu siapa yang dimaksud Rio. Suara ketukan dipintu membuat Rio dan Amanda melihat kearah pintu. Diambang pintu Angel berdiri dengan keringat diplipisnya dan juga napasnya yang cepat.


"Angel?"


"Ma, masakin. Laper" pinta Angel sembari mengelus perut buncitnya.


"Kamu habis naik tangga, El?" tanya Rio dengan heran padahal tadi dia mengeluh capek.


"I..ya. aww"


Angel langsung memegangi perutnya yang terasa kaku. Rio langsung berlari kearah Angel, menenangkan Angel dengan nada suara yang menenangkan dan juga kasih sayang yang ia berikan. Rio sepertinya lupa kalau ada Amanda yang masih berada dikamar ini dan melihat apa yang Rio lakukan sekarang.


"Sayang, kamu capek yah? mama kamu nih malah naik tangga. Duduk dikasur dulu sambil mengatur napasmu.


Rio membopong Angel kekasur lalu mendudukannya diatas kasur. Amanda terus memperhatikan Rio. Baru kali ini Amanda melihat Rio memperhatikan wanita selain Sena dengan seperti ini.


"Ehmm"


Dehem Amanda dan membuat Rio tersadar kalau masih ada Amanda.


"Mama mau kebawah"


"I..iya"


Amanda langsung berjalan keluar kamar namun Amanda tidak benar benar pergi. Amanda berdiri disamping pintu.


Seperginya Amanda, Rio langsung menciumi perut Angel.


"Kamu ini, jangan kelantai atas lagi!" omel Rio yang khawatir kepada istri dan anaknya ini.


"Iya, jangan ngomel terus! eh.. kak Sena mana?"


"Dia kerumah orang tuanya"


"Dia marah sama aku?"


"Marah kenapa? Sena cuma ingin bersama orang tuanya"


"Tapi aku juga ingin! aku mau pulang!Aku kangen Ayah sama Ibu" Pinta Angel dengan nada tinggi dan juga tatapan memohon. Rio menghela napas, dirinya juga tahu betapa rindunya Angel kepada orang tuanya.


"El"


"Aku tahu"


Angel langsung menundukan kepalanya, perlahan air matanya menetes berbarengan dengan rasa sesak didadanya.


"Aku kangen ibu" lirih Angel


Amada mengintip kedalam kamar. Dirinya juga mendengar ucapan mereka.


Melihat Angel yang seperti itu membuatnya kasihan sekaligus penasaran kenapa Angel meminta pulang keRio padahal kalau dia mau ada supir yang akan mengantarnya pulang.


"Ini semua membuatku bingung"


Amanda langsung pergi menuju dapur.


"El"


Rio langsung menarik Angel dalam pelukannya. Terdengar isakan dari Angel.


"Aku minta maaf, aku suami yang bodoh. Aku tidak pantas jadi suamimu"


Rio semakin mempererat pelukannya. Semakin hari semakin membuat Rio tidak tenang serta dihantui rasa bersalah.


..


Angel hanya mengaduk aduk nasi dipiringnya dengan tatapan kosong. Amanda tersenyum tipis lalu berpindah tempat duduk disebelah Angel.


"Kok tidak dimakan?"


"Eh.. ini mau kok, Mah"


"Sinih, biar mama suapin"


Amanda menyuapi Angel layaknya ibu yang menyuapi anaknya. Rio merasa bersalah akan semua ini, Rio ingin mengatakan kebenarannya saat ini juga tapi apa keluarganya menerima hal ini? kalau tidak, mereka pasti akan mengusir Angel dan pastinya Angel tidak punya tempat untuk pulang.


...


Rumah Sifa / Deren


Sena dan Sifa memasuki rumah yang sama bagusnya seperti rumah orang tua Rio.


"Ma, kenapa mama ajak Sena pulang?"


"Kamu tidak capek terus berurusan dengan Amanda? lagian kamu pasti tidak nyaman terus terusan pakai perut palsu itu?"


"Iya sih tapi"


"Tapi apa? mau sandiwaramu terbongkar?"


"Tidak"


"Kamu itu harus nurut sama mama. Memangnya ada yang bisa ngertiin kamu selain mama?"


"Ngga ada"


"Sanah kekamarmu"


Setelah beberapa jam, seorang laki-laki memasuki rumah dengan wajah lelahnya. Deren, Ayah Sena.


Senyum Deren mengembas saat melihat putrinya berada dirumah tapi senyum Deren langsung menghilang saat melihat perut Sena yang rata. Setahu Deren, putrinya ini tengah mengandung.


"Tumben kamu pulangnya cepat?"


Entah dari mana datangnya Sifa kini berada disamping Deren.


"Apa kamu yang menyuruhnya berbohong?"


"Tidak, itu kemauan dia sendiri!"


"Ck! aku tidak percaya!"


Deren langsung menarik pergelangan tangan Sifa menuju kamar. Deren menghempaskan tubuh Sifa kekasur dengan kasarnya. Terdengar suara tawa Sifa dan membuat Deren geram.


"Dasar ular!"


"Ck! kamu tidak punya kaca?"


Sifa menatap Deren dengan tatapan remeh. Deren mengepalkan kedua tangannya, tatapannya tajam bak elang yang akan menerkam mangsanya.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan!"


"Aku hanya ingin yang terbaik untuknya!"


"Yang terbaik? maksud kamu yang terburuk?"


"Iya itu mauku, lagian Sena itu bukan anakku"


Sifa mengatakannya dengan senyum dibibirnya.


"Sifa!!"


"Apa? memang benarkan dan bahkan aku masih istri sirimu. Kamu bermain api denganku dan sekarang kamu yang terbakar, kamu masih ingat saat kita bercinta?"


Tatapan Deren penuh akan penyesalan. Wanita didepannya ini adalah selingkuhannya dan istri sekaligus ibu Sena telah lama meninggal, sebulan setelah Sena lahir. Ibu Sena terkena serangan jantung ketika mengetahui Deren selingkuh dengan mantan model temannya bahkan sudah memiliki satu orang anak yang berumur 3 tahun.


"Apa kamu sudah lupa? kalau anak kita yang kamu bunuh, apa kamu menginggatnya?"


"Aku tidak membunuhnya!"


"Ck! kamu mengusirku dan anakmu begitu saja, kamu tidak perduli sedikitpun hingga anakku meninggal karena kecelakaan!"


"Kamu ini bukan manusia! dia lari nyusulin kamu karena dia masih ingat wajah ayahnya. Kamu menghancurakn mimpiku jadi model terkenal, kamu bilang kamu akan menceraikan Lila tapi ternyata kamu malah membuangku dan sekarang aku ingin Sena merasakan yang sama sepertiku"


"Kamu membenciku lalu kenapa harus Sena"


"Kalau aku menghancurkanmu, aku tidak lagi punya uang. Alasanku, aku ingin Sena jadi model terkenal tapi tidak punya keluarga. Aku ingin jadikan dia manusia berhati dingin dan mematuhi semu printahku"


"KAMU!!"


Deren langsung mengayunkan tangan kanannya menampar Sifa dan saat Deren menampar Sifa bersaman dengan Sena yang membuka pintu kamar dan melihat adegan KDRT yang serupa dengan yang ia alami.


"Apa semua laki laki kasar?"


Suara Sena membuat Deren menoleh. Sifa tersenyum tipis dan mulai berakting menangis membuat Deren semakin terpojok.


"Pa, kenapa nampar mama? apa ini yang namanya kepala keluarga? Papa ngga tahu gimana sakitnya ditampar sama orang yang Papa cintai, sakit pa!


Sena langsung menghampiri Sifa lalu merengkuhnya. Derene mencerna perkataan Sena barusan.


"Sena, apa Rio kasar kepadamu?"


"Papa tidak usah sok perduli! aku benci Papa"


"Sena dengerin Papa dulu, Mama kamu mau"


"Mau apa? Papa malu mama selalu minta sama keluarga Rio, iya Pa?"


"Mau sampai kapan kamu akan menuruti dia?"


"Pa, sebenarnya apa yang Papa tanyakan?"


"Papa tidak mau kamu menyesal dan kamu sudah punya keluargamu sendiri yang harus kamu jaga!"


Deren langsung keluar kamar. Sifa tersenyum miring, semua ini tidak seberapa dengan apa yang dirasanya dulu. Rasa sakit dicampakan, dibuang seperti sampah dan kehilanga putra kecilnya yang sangat ia cintai.


"Ma?"


"Mama tidak apa apa kok sayang, kamu istriahat gih"


"Maksud papa tadi apa?"


"Dia kurang setuju sama karir kamu, dia tidak mau kamu sukses. Papa kamu itu selalu khawatirkan hal yang belum tentu terjadi. Sayang"


Sifa mengelus lembut rambut kepala Sena. Sena tersenyum Sifa selalu mengarahkannya ke hal yang tidak ia sadari sebelumnya peluang dalam karir modeling yang belum tentu ia raih kalau tampa bantuan Sifa. Sifa selalu mencari peluang dan arah "angin" didalam dunia model agar Sena dapat masuk menjadi pusat perhatian.


"Rio mendukung kamu kan?"


"Iya ma"


"Nanti kalau waktunya kamu dapat bayi dari mana?"


"Mama tenang saja, Rio sangat mencintaiku dan sampai kapanpun dia hanya milikku. Hanya aku yang boleh mempermainkan hidupnya"


"Itu yang mama ajarkan tapi jangan sampai Papamu itu tahu karena ini rahasia kita berdua"


"Karena mama juga ingin Papa terus mengikuti kemauan mama kan?"


"Iya, Mama tidak akan membiarkan wanita lain mendekati Papamu itu dan kamu juga harus memastikan itu! kamu cantik, tubuh kamu langsing, kamu sempurna. Jangan biarkan serangga liar mendekati suamimu"


"Iya ma"


"Peluk mama sayang"


Sena memeluk Sifa dengan eratnya. Sifa membalas peluka Sena sama eratnya namun senyum miring terlihat dibibir Sifa.


...


Kamar Sena 20:30


Sena tengah mengobrol dengan Rio melalui ponsel. Sena mendengarkan suara Rio sembari memainkan ujung rambutnya dengan jari.


"... aku masih ingin disini karena itu aku ingin kamu datang kesini!"


Sena tidak mau Rio terus bersama Angel dan membuat Rio lebih mencintai Angel dari pada dirinya.


"Kamu tahu sendiri Angel gimana?"


"Disana juga ada mama kamu pasti dijagain kok"


"Tapi"


"Ada Arfan, kamu suruh saja Arfan untuk jagain Angel. Gampangkan"


"Ngga!" tolak Rio langsung membuat Sena tersenyum sinis. Sena tahu Rio selalu cemburu saat Arfan dekat dan perhatian ke Angel.


"Kamu takut Angel suka sama Arfan? .. umm gimana kalau Arfan suka sama Angel terus mereka nikah, wah pasti kamu bakal sedih banget"


"Ck! jangan berbicara seperti itu! Angel cuma milikku"


"Uuu.. tapi dia juga bonekaku, apa kamu lupa? aku lah yang mempertemukanmu dengan dia dan aku juga yang akan memisahkan kamu dengan Angel disaat yang tepat"


"Aku tidak akan membiarkannya"


"Oh ya, lalu kamu akan menyimpan Angel dilemarimu? sampai detik ini kamu hanya menari dibawah jariku, walau kamu ingin bercerai dariku tapi nyatanya selama ini kamu mendukungku. Sudah jujur sama dirimu sendiri, kamu tidak ingin bercerai dengan cinta pertamamu ini kan"


Terdengar suara tawa dari Rio. Sena berdecak kesal.


"Jangan Ke-PD-an. Semua ini aku lakukan bukan untukmu tapi untuk keluargaku!"


"Iya anak mami tapi kamu sadar atau tidak yang jelas tindakanmu ini akan membuat Angel semakin benci dan akan semakin menjauh darimu. Kamu memikirkan keluargamu sendiri tapi kamu lupa akan keluarga Angel.. Ya walaupun kamu membantu mereka, mereka akan tetap membencimu karena kamu telah merebut putri kecilnya"


Tidak ada jawaban dari Rio. Sena tahu Rio tengah mencerna ucapannya. Sena tersenyum miring, sandiwara ini akan seperti yang ia inginkan dan sangat mudah membuat Rio maupun Angel menari dengan irama dari dirinya.


"Kenapa Rio, kamu sedang berpikir bagaimana caranya menjelaskan ini semua kekeluarga Angel atau mau aku saja yang bilang kemereka?" tawar Sena dengan piciknya.


"Tidak! jangan macam macam atau"


"Atau apa? menceraikanku? silakan saja kalau kamu berani lalu keluargamu akan malu sebab putra sulung keluarga Stevano itu selingkuh dan menikah tanpa restu serta memperdaya gadis baru lulus SMA dengan uang dan keluarga Angel akan hancur tapi karir aku akan meroket tinggi"


"Ck, kenap kamu berpikir seperti itu?"


"Karena semua orang akan berpikir kalau aku ini korban bukannya dalang semua ini"


"Ck!"


"Uhh.. sayang jangan kesal seperti itu, mending kamu kesini temani aku. Disini dingin, aku butuh kehangatan mungkin aku bisa hamil malam ini"


Sena menggigit bibir bawahnya. Tangan Sena membuka laci lalu mengeluarkan korek api dari dalamnya.


"Tidak akan!" tolak Rio.


"Oh ya, kalau begitu besok akan ada berita diTV telah terjadi kebakaran diwarung nasi BU JIHAN"


Sena memainkan korek api ditangannya dengan senyum mistrius.


"Sena, KAMU!"


"Sssttt, jangan marah-marah! menurut saja atau aku benar benar akan membakar warung itu. Aku serius akan hal ini"


"Oke, aku akan kesan"


"Nah gitu dong, itu baru suamiku. Cepatan datang yah, udah ngantuk nih"


"Iya"


Sena langsung mematikan sambungan telefonnya lalu merebahkan tubuhnya kebelakan.


"Sayangku, kamu akan jadi milikku selamanya"


...


Rumah Amanda Riko


Angel melihat Rio yang terlihat tergesa-gesa menuruni tangga membuat dirinya bingung.


"Kamu mau kemana?"


"El, kalau kamu butuh apa apa minta saja sama bi Inda. Aku pergi untuk beberapa hari"


"Kamu mau nyusul Sena yah?"


Angel langsung menunduk dan kedua tangannya mengelus perut buncitnya. Angel ingin berkata bahwa Rio tidak adil memperlakukannya padahal dirinya lah yang hamil bukan Sena tapi dirumah ini Angel tidak mungkin membuat keributan.


"Aku cuma sebentar mungkin dua hari"


Rio langsung mengelus perut Angel. Rio tidak mungkin mengatakan semua ini untuknya dan alasannya pergi. Rio tidak mau Angel banyak pikiran dan mengganggu kehamilannya.


"Ya sudah, disini juga ada Arfan"


Angel langsung pergi. Rio merasa kesal saat mulut mungil Angel menyebut nama Arfan.


"Ini juga salahku"


Rio langsung melanjutkan jalannya. Angel memberhentikan langkahnya lalu menoleh kearah Rio tadi.


Angel melihat kepergian Rio dengan rasa sesak didadanya.


"Sampai kapan semua ini?"


"DORR"


Angel tersentak kaget saat Arfan mengagetkannya dari belakang.


"ARFAANNN!"


Saat Rio ingin menaiki mobilnya, terdengan tetiakan Angel dan juga sura tawa Arfan.


"Ck!"


Rio terlihat kesal namun tidak kembali lagi kerumah sebab dia tahu persis sifat Sena.


"Mau apa lagi sih dia"


...


Arfan mengelus lengannya yang dicubit Angel sembari menatap sebal kearah Angel. Angel menjulurkan lidahnya lalu bersembunyi dibelakang Amanda.


"Kalian ini, sudah malam sanah tidur!"


Suruh Amanda ke Arfan dan juga Angel. Mereka menjawab seadanya lalu pergi kekamar mereka masing-masing.


"Andai Angel belum menikah, aku pasti akan menikahkannya dengan Arfan"


Amanda sangat senang melihat Arfan sebegitunya dengan perempuan dan menurut Amanda, Angel dan Arfan itu pasangan yang serasi.


...


Rumah Deren Sifa.


Rio memasuki rumah yang sudah sangat sepi hanya diterangi lampu penerangan yang redup saja.


Rio langsung menuju kamar Sena. Rio langsung membuka pintu kamar dan ternyata Sena tengah berdiri menunggunya dengan baju yang sangat tipis dan sexy melihatkan bentuk tubuhnya. Kamar ini sudah Sena hias dengan romantisnya. Kamar ini dicahayai oleh lilin serta bertabukan kelopak mawar dari kasur hingga lantai.


"Apa-apaan ini?" tanya Rio heran. Sena tidak menjawab, dirinya berjalan menutup pintu dan menguncinya.


"Aku cuma ingin memanjakanmu"


"Apa?"


Sena melepas syalnya lalu berjalan kedepan Rio. Tatapan Rio tajam menatap Sena sedangkan Sena tersenyum sangat manisnya. Sena langsung mengalungkan kedua tangannya keleher Rio. Rio langsung memundurkan kepalanya saat Sena ingin menciumnya.


"Kenapa, aku masih istrimu?"


"Hentikan semua ini!"


Sena menurunkan tangannya dari leher Rio lalu tangan Sena melepas satu kancing baju kemeja yang dikenakan. Rio langsung menepis tangan Sena saat Sena ingin membuka kancing bajunya lagi dan itu membuat Sena marah.


"Aku hanya ingin jadi istri yang terbaik untukmu! lihat aku, kecantikan dan tubuh langsingku ini hanya untukmu! aku lakukan apapun untuk mendapatkan ini semua, aku hanya ingin membuatmu terus mencintaiku"


"Ck, sudah cukup aku tidak mau mendengar kepalsuan itu lagi!"


"Aku berkata jujur, aku mencintaimu! kamu hidupku"


"Tapi aku serasa mati didekatmu!"


Rio langsung berbalik, berjalan menuju pintu.


"Kalau kamu pergi, aku pastikan keluarga Angel akan mati malam ini juga dan aku akan buat kamu yang disalahkan"


Rio berbalik kearah Sena. Sena tersenyum sangat liciknya. Rio langsung menghampiri Sena lalu menjambak rambutnya dengan kasar.


"Kamu bilang apa tadi?"


"Aaawww"


Air mata Sena mengalir begitu saja. Rio terus menarik rambut Sena tak perduli dengan air mata Sena.


"Tarik saja terus sampai kepalaku putus, aku memang tidak berarti lagikan untukmu? kenapa kamu datang kehidupku saat aku tengah mencintai orang lain?"


Rio melepas jambakannya. Sena terus menatap mata Rio.


"Kamu yang membuatku yakin meninggalkannya, kamu bilang dia tidak baik untukku tapi buktinya kamu lebih buruk"


"Sena?"


"Kamu berjanji dibawah bintang, kamu tidak akan menyakitiku, meninggalkan dan akan mencintaiku selamanya tapi itu semua sudah kamu ingkari, kalau kamu mau pergi, pergi saja. Mungkin ini saatnya aku pergi darimu tapi kamu masih ingatkan kalau aku tidak bisa hidup tanpamu?"


Sena langsung meraih gunting dimeja riasnya dan mengarahkan ujung gunting itu keperutnya membuat Rio panik.


"Sena kamu mau apa!"


"Mati, aku tidak bisa bersama mu lagi, buat apa aku hidup"


"Jangan konyol! cepat lepasin guntingnya"


Sena menggeleng kuat. Rio perlahan mendekati Sena.


"Sudah cukup, Ri! aku capek dengan semua ini!"


Sena mengayunkan gunting itu keperutnya namun Rio dengan cepat meraih gunting itu lalu membuangnya kesembarang tempat lalu menarik Sena kedalam pelukannya. Sena terisak didada Rio.


"Maaf"


"Kamu jahat! kamu jahat!"


Sena memukul mukul dada Rio.


"Aku tahu"


Rio langsung melepas pelukanya lalu mencium bibir Sena.


"Kamu sudah janjikan?" ucap Rio sembari menghapua air mata Sena. Tangan Rio turun keleher jenjang Sena sembari diikuti pandangan mata Rio.


"Aa..a.. aw"


Sena mengerang sakit saat Rio membuat kiss mark dilehernya.


Rio langsung menatap mata Sena. Sena langsung memejamkan matanya saat Rio mencium bibirnya.


Mereka berdua melepas kecupan mereka dengan napas yang hampir habis.


Rio meraih kedua tangan Sena yang ia arahkan kekancing bajunya. Sena menatap Rio.


"Ayo, kamu masih istrikukan? jangan bilang kamu ngambek"


Sena menggeleng lalu melepas kembali kancing baju Rio. Sedangkan Rio melingkarkan tangannya dipinggang Sena agar Sena semakin dekat dengannya.


"Ini apa?" tanya Sena sembari meraba perut Rio yang sixpack.


"Masa kamu tidak tahu sih?" goda Rio sembari memainkan pita dibaju tidur yang Sena kenakan.


"Kamu genit deh!"


"Yang mulai duluan siapa?"


Rio langsung menarik ikatan pita itu lalu membopong tubuh Sena keatas kasur.


02:00


Rio tengah mencari sesuatu dilemari Sena. Rio mencari dilipatan bawah baju hingga sudut-sudut terpencil.


Rio menoleh kearah kasur dimana Sena masih tertidur.


"Ck! dmana kamu menyembunyikannya?"


....****....