Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 27 Melamarmu



Angel menatap sebal kearah Ayahnya yang masih bermain catur dengan Rey dan mengacuhkannya seolah-olah tidak ada dirinya disini. Sedangkan Jihan tengah memasak untuk dibawa kewarung, dirinya tak sempat kalau memasak diwarung terlebih sedang ada Rey disini.


"Yah om, biarin Rey menang sekali aja. Dari tadi kalah terus!"


"Kamu ini jangan menyerah, kamu pasti bisa ngalahin om"


Keduanya langsung menyusun kembali bidak-bidal catur kepapan catur. Angel melihat jam dinding dan ternyata ini sudah pukul sembilan.


"Yah, Ayah ngga narik anggkot?"


Erik langsung melihat kearah jam dan ini sudah jamnya ia mencari rezeki dijalan.


"Ini baru mau, main catur bikin lupa waktu"


"Yah om masa udahan sih?" ucap Rey yang ingin terus bermain terlebih Rey ingin sekali memenangkan permainan ini.


"Bukannya kamu harus pergi yah?" ucap Erik sembari melirik putrinya seolah-olah mengingatkan Rey akan suatu hal.


"Oh iya, hampir saja lupa"


Rey langsung bangkit lalu berjalan menghampiri Angel. Angel merasa ada sesuatu yang telah terjadi.


"Ikut aku"


"Kemana?"


"Udah ikut saja"


Rey memaksa Angel ikut dengannya namun sepertinya Angel menolak ajakan Rey sebab dirinya ada janji dengan Jihan untuk membantunya.


"Kamu ikut Rey saja" ucap Jihan yang telah selesai memasak.


"Tapi bu?"


"Ada Arbi yang bantuin, udah sana pergi"


"Iya.. iya" kesal Angel yang merasa kedua orang tuanya mengusirnya.


Rey tersenyum senang Angel mau ikut dengannya sedangkan Angel melihatkan wajah kusutnya.


.


Didalam mobil Angel terus saja bertanya kemana dirinya akan diajak pergi membuat Rey mendengus kesal.


"Bisa diam ngga sih neng? berisik tahu ngga"


Perkataan Rey membuat dagu Angel mengkerut. Rey terkekeh pelan pasti hidupnya akan semakin berwarna saat si cantik disebelahnya ini telah menjadi istrinya.


"Nyebelin" kesal Angel yang langsung memalingkan wajahnya.


"Nanti kamu juga tahu, bersabarlah"


"Hemm"


Rey melirik kearah Angel yang tengah menikmati pemandangan diluar bahkan Angel membuka kaca jedela mobil. Senyum Angel mengembang sempurna, Angel tidak pernah melewati jalan ini itu lah yang membuat Angel terus bertanya.


"Calon istriku manis banget" ucap Rey pelan namun Angel bisa mendengarnya.


Angel langsung menoleh kearah Rey.


"Kamu bilang apa tadi?"


"Aku? ngga kok"


"Apa cuma perasaanku saja yah?"


"Mungkin?"


Rey mengendikan bahunya Angel juga tidak ambil pusing dirinya kembali menatap keluar.


Rey telah meminta restu dari orang tua Angel dan dibantu mamanya.


Flash back


Kamar tamu


Rey menatap langit-langit kamar. Dirinya merasa tidak tenang terlabih Rey merasa Angel menyembunyikan sesuatu dari dirinya terlebih sifat Angel yang tidak mau menjadi beban untuk orang lain.


Rey menghela napas beratnya. Dirinya disini hanya satu minggu padahal Rey ingin tinggal lama disini untuk menjaga Angel.


Drrttt...Drttt


Rey langsung meraih ponselnya yang tak jauh darinya. Rey mengeryitkan dahinya saat melihat layar ponselnya. Mamanya menelfon dengan panggilan video.


"Ada-ada saja dasar emak-emak"


Rey langsung menjawab video call itu. Rey berusaha tersenyum walau sebenarnya dia kesal.


"Ada apa ma?"


"Ada apa lagi! kamu sudah bilang belum?"


Rey menatap datar Mamanya padahal beberapa jam yang lalu sudah menanyakannya.


"Ma ini sudah malam, Rey mau tidur"


"Ih nih anak, dirumah maksa mau pergi tapi sekarang ditunda- tunda terus"


"Ya elah ma, sabar kali lagian Rey disini kan seminggu"


"Seminggu?"


"Iya. Kan Rey sudah bilang kalau Rey mau diJakarta sampai seminggu"


"Kata siapa? kamu besok harus kembali keBali!"


"Apa? Ma jangan bercanda"


Rey terlihat sangat kesal padahal dirinya ingin terus bersama Angel terlebih kedua orang tuanya ini telah mengiyakan permintaannya untuk berlibur seminggu tapi sekarang baru satu malam ini sudah disuruh pulang.


"Mama tidak bercanda papa kamu sendiri yang bilang katanya sih kamu harus latihan.. ya kamu tahu sendirilah apa maksud mama"


"Papa mau aku yang nerusin bisnis papa kan?"


Rey merasa papanya ini tidak adil padahal kakaknya dibolehkan memilih pekerjaan yang dia mau tanpa campur tangan Mama dan Papa.


"Iya, apa kamu mau mama yang bicara?"


"Apa? tapi ma"


Rey tidak mau kalau mamanya yang menyampaikan langsung ke Angel pastinya Angel akan merasa terbebani.


"Bukan keAngel tapi keorang tuanya"


"Oh, ya sudah tapi mama jangan bilang yang aneh-aneh"


"Dih suka-suka mama dong"


Rey mengerutkan dagunya mamanya ini terkadang sering jahil dan mungkin sifat jahilnya ini diturunkan dari mamanya.


"Terserah mama"


Rey keluar kamar sembari masih berbicara dengan mamanya dan kebetulan sekali Jihan belum tidur, dirinya sedang mengupas kentang sembari menonton TV.


"Tan"


"Kamu belum tidur Rey"


"Belum ngantuk. Tan, mama mu bicara"


Rey menyerahkan ponselnya ke Jihan. Jihan napak senang, dirinya sebenarnya ragu kalau keluarga Rey masih mengingat keluarganya terlebih mereka sudah pindah kebali.


"Hai jeng lama ngga ketemu"


"Iya nih, eh anak aku nggak ngerepotinkan?"


"Tidak kok"


"Umm jeng, aku mau bilang sesuatu sama kamu"


Jihan merasa ada sesuatu yang penting terlebih saat Rey menyerahkan ponselnya kepada Jihan tangan Rey gemetar.


"Ada apa? aku jadi penasaran gini, apa ada kaitannya sama anak kamu ini yang kelihatannya ngga tenang sekali"


Jihan melihat kearah Rey membuat Rey mengaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.


"Iya, jeng bener banget. Anak saya datang kejakarta itu untuk melamar anak Jeng, Angel"


"Melamar?"


Jihan terkejut akan hal ini terlebih ini sangat mendadak padahal Angel dan Rey pastinya suda lama tidak bertukar kabar. Jihan bisa memastikannya sebab tidak lama setelah Rey keBali, ponsel Angel hilang.


Jihan menatap Rey yang menunduk. Lekuk senyum Jihan terukir dengan sempurna. Jihan sendiri suda sangat mengenal Rey begitu juga orang tua Rey yang sudah mengenal Angel. Kedua orang tua Angel sudah menganggap Rey seperti anaknya begitu juga dengan orang tua Rey yang menganggap Angel seperti anaknya.


"Jeng, aku tahu mereka berdua berteman dan mereka seperti kakak adik tapi apa salah kita menyatuakn mereka berdua?"


"Memang tidak salah tapi apa keduanya mau?"


"Rey mau kok Tan"


Tiba-tiba saja Rey menyahuti dengan nada yang semanagat membuat Jihan dan Mama Rey tergelak sedangkan Rey kini mengerutkan dagunya.


"Rey kamu ini malu-maluin mama saja" omel orang disebrang kalau bersebelahan pasti Rey sudah kena cubit.


"Kan ditanya ya Rey jawablah" bela Rey yang sebenarnya malu sekali.


"Kalau aku sih terserah mereka tapi Jeng tahukan mereka masih muda dan mereka pastinya ingin menikmati masa mudanya, pasti jeng tahulah gimana setelahnya"


"Iya sih lalu bagai mana? Jeng aku mau kita itu besanan toh keluarga kita sudah saling kenalakan?"


"Iya ta--"


"Tidak terburu-buru kok, dua atau tiga tahun lah mereka baru menikah" tiba-tiba saja Papanya Rey datang lalu memotong ucapan Jihan.


Jihan merasa lega sebab dirinya masih ingin bersama putri kesayangannya terlebih Angel anak sematawayang yang sangat manja pasti Jihan akan mersa sangat kehilangan walau ia tahu putrinya pasti akan sangat bahagia.


"Yah Pa kok gitu sih?" protes Rey tak terima. Rey ingin sekali melangkah kepelaminan dengan Angel.


"Memangnya kamu ini sudah bisa kerja? kamu persiapkan dulu semuanya dan berlatih menjadi dewasa, papa nggak mau nanti setelah kamu menikah malah merepotkan Angel!"


"Papa sok tahu deh"


"Bangun juga masih dibangunin sama Mama kamu masa mau nikah"


Rey mengerutkan dagunya bersamaan dengan itu Erik menghampiri mereka berdua.


"Kenapa kamu cemberut gitu Rey?" tanya Erik. Jihan mengarahkan layar ponsel kearah Erik. Erik terkejut melihat kawan lamanya.


"Pantas saja nih bocah lesu"ucap Erik sembari melirik keRey.


"Om jangan nambah-nambahin deh" kesal Rey.


"Erik aku ingin bicara denganmu, hanya kita berdua"


"Baiklah"


Erik membawa ponsel Rey menuju luar rumah. Erik sendiri bingung apa yang ingin dibicarakan.


"Kamu ingin bicara apa?"


"Kedatangan Rey kerumah mu itu untuk melamar purtrimu. Aku tahu aku tidak sopan tidak mengucapkannya langsung pada kalian tapi ini permintaan Rey. Rey ingin mengucapkannya langsung keAngel, dia tidak mau Angel merasa dibebani kalau langsung formal. Kamu tidak keberatankan?"


Erik nampak terkejut, rasanya tidak rela putri kecilanya dipinang secepat ini. Erik merasa kalau baru kemarin dia mengajari Angel berjalan tapi dirinya harus terima kenyataan putri kecilnya kini sudah dewasa.


"Aku terserah Angel saja"


"Kalau Angel menerima lamaran ini kamu tenang saja pernikahanya tidak langsung kok. Aku ingin mempersiapkan Rey untuk jadi laki-laki yang bertanggung jawab hingga Rey bisa menjaga Angel dan sebelum itu aku tidak akan menikahkan Rey dengan putrimu"


"Aku hanya merasa khawatir"


"Aku tahu terlebih Angel anakmu satu-satunya terlebih dia kesayanganmu pasti berat untuk melepasnya"


Erik mengiyakan perkataan itu. Angel sangatlah berarti untuknya karena itu Erik ingin yang terbaik untuk Angel. seorang pemuda yang bisa menjaga, melindungi dan selalu mencintainya dengan sepenuh hati dan tidak mempermasalahkan setatus sosilanya.


"Iya kamu benar, semoga saja Angel mau jadi aku tidak perlu cemas. Aku percaya Rey bisa menjaga Angel"


"Terima kasih, aku juga sama. Aku ingin putraku bahagia dengan gadis pilihanya dan juga Angel sangat sempurna untuk jadi menantuku"


15 menit berlalu. Erik kembali kedalam rumah. Erik menatap datar Rey dan membuat Rey menunduk. Enatah kenapa filing Rey mengatakan kalau Ayahnya Angel ini menolak lamaran yang di ajukan orang tuanya.


"Kamu yakin ingin menikah dengan El?"


Rey mendongak menatap Erik. Disaat seperti ini Rey harus sebisa mungkin menunjukan keberaniannya agar Erik percaya kepadanya.


"Iya om. Rey akan berusaha yang terbaik untuk Angel"


"Kamu siap menjaga El? Apa kamu yakin dengan pilihanmu itu?"


"Rey siap om dan Rey yakin dengan pilihan Rey"


"Yakin kamu tidak menyesal? kamu tahu sendirikan El seperti apa dan kalau marah?"


"Ngampang gambek kalau marah nyeremin tapi gemesin"


Rey paham sekali sifat Angel terlebih saat Angel marah, nyeremin tapi dalam makna yang berbeda. Rey selalu ingin mengecup pipi Angel saat Angel kesal kepadanya sebab Angel akan menggembungkan pipi cubynya yang menggemaskan itu.


"Om merestuikan?" tanya Rey gugup.


Erik menghela napas beratnya.


"Iya tapi ini semua Angel yang menentukkan"


"Rey tahu kok om"


Flash end.


Rey melirik kearah Angel yang tengah mengutak atik ponselnya. Ponsel Rey ditangan Angel.


"Ih pinjem, pelit banger sih!" kesal Angel. Ia melipat kedua tangannya dan kedua pipinya sudah menggembung.


"Kamu kenapa bisa buka sandi ponsel aku?"


"Dari dulu sandi ponsel kamu ngga berubah, apa sebegitu ngefansnya sama aku hingga sandinya tanggal ulang tahunku?"


"PD gila, itu bukan tanggal ulang tahunmu"


"Ta--"


"Kita sudah sampai, ayo turun!" potong Rey. Angel hanya bisa mendengus kesal.


...


Rumah Amanda/ Riko


Leona tengah merangkak mengikuti Niko dari belakang. Langkah Niko pelan agar putri kecilnya dapat mengikutinya. Arfan perlahan mendekati Leona lalu.


hap


Leona langsung menangis saat Arfan mengangkat tubuh mungilnya. Arfan tidak perduli dengan tangisan Leona bahkan Arfan tengah menciumi pipi Leona dengan gemasnya. Sasa yang mendengar suara tangisan Leona langsung menghampiri. Niko sendiri sudah kabur takut kena omel Sasa.


"Kamu ini, sinih sayang sama mama"


Sasa langsung merebut Leona dari Arfan. Leona langsung terdiam saat berada didekapan Sasa.


"Fan, sana nikah biar kamu punya anak ngga ngangguin Leona lagi"


"Kalau aku mau" ucap Arfan singkat lalu kembali meledek Leona yang berada dibopongan Sasa. Leona yang kesal berusaha memukul Arfan dengan tangan mungilnya.


"Tan masa Arfan nggak mau nikah?" ucap Sasa saat Amanda melintas untuk menggambil dot Leona.


"Namanya juga Arfan pacarnya kan PS" celoteh Amanda sembari melirik Arfan. Arfan hanya bisa cemberut dibuatnya.


"Mama ini"


"Apa mama carikan untuk mu? kali saja ada yang mau denganmu" tawar Amanda dengan jahilnya. Amanda ingin sekali menjahili putranya ini kalau dia mau malah kebetulan. Amanda juga ingin mendapatkan cucu dari Arfan, Amanda sudah tidak begitu berharap dari Rio dan Sena terlebih Sasa telah menceritakan semua yang Sena katakan kepada dirinya.


Sakit itu yang dirasa Amanda tapi ada daya putranya mencintai Sena bahkan Amanda merasa putranya ini lebih mencintai Sena ketimbang dirinya.


"Ya sudah sanah cariin tapi harus cantik, baik nurut sama suami"


Perkataan terakhir Arfan ia ucapkan sembari melirik Sena yang tengah bermain ponsel sedangkan Rio tengah sibuk dengan laptopnya.


Sasa dan Amanda tahu apa maksud Arfan. Sasa langsung memutar bola matanya bosan terlebih Sasa masih teringat ucapan Sena yang pedas.


"Oke, mama akan carikan"


"Iya Tan carikan yang baik jangan yah Tante taulah"


Amanda tahu kalau Sasa tengah menyindir Sena. Dari awal mereka bertemu langsung ada percikan persaingan diantara mereka berdua.


"Sa, tuh makanan untuk Leona sudah jadi"


"Beneran Tan, Kamu pasti sudah lapar"


.


Amanda tersenyum senang saat Leona yang sangat lahap makannya terlebih dirinya yang menyuapi Leona.


Leona anteng duduk dikursi bayi dengan jari-jari mungilnya memainkan mainannya.


"Leona laper yah?"


Aina merasakan apa yang kakaknya rasakan dan beruntung putrinya tidak seperti Sena maupun Rio walau terkadang Sasa membuatnya pusing. Aina juga tahu Amanda lebih mementingkan kebahagian putra-putranya dan tidak perduli akan dirinya yang terluka hingga seperti ini. Amanda memang tersenyum tapi hatinya menangis, ini yang dinamakan cinta tulus seorang ibu.


Amanda terus menyuapi Leona yang tertawa melihatkan gigi susunya. Kehadiran Leona membuat luka hati Amanda terobati.


"Lucu banget, makan yang banyak yah"


Arfan yang tengah permain PSP melirik kearah Amanda yang tengah menyuapi Leona. Walau pun Arfan tidak punya ikatan darah dengan Amanda tapi Arfan bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Amanda.


"Sena bener keterlaluan"


Arfan bangit dari duduknya mencari Rio. Arfan ingin sekali meluapkan amarahnya kepada Rio yang Arfan pikir Rio itu orang yang terlau polos atau mungkin bodoh, mau-maunya diperdaya istri yang tidak pernah memikirkan perasaannya ataupun orang lain.


Rio tengah membuat kopi didapur dengan pikiran yang kacau terlebih Aina telah menceritakan semua yang Amanda alami kedirinya.


"Ma Rio tidak bermaksud menyakiti mama"


Tanpa disadari oleh Rio dibelakangnya kini sudah ada Arfan yang terlihat marah kepadanya.


"Kak"


Rio menoleh langsung mendapati tatapan tajam Arfan. Melihat tatapan Arfan yang seperti itu Rio sudah tahu apa yang membuat adiknya ini menemuinya.


"Kakak mau lanjut kerja" Rio ingin melangkah pergi namun dicengah Arfan.


"Lebih penting mana pekerjaan atau Mama"


"Kamu bilang apa sih?"


"Kamu sudah tahu, mau sampai kapan kamu nyakitin mama? sejak kamu mengenal Sena perlahan sifatmu berubah kak"


"Afan kamu itu bukan anak kandung mama kamu tidak berhak berbicara seperti itu. Kamu itu cuma anak pungut!"


Ucapan Rio kini terdengar menyakitkan dan ini baru pertama kalinya Rio berkata seperti ini. Arfan merasa terluka tapi luka hatinya ini pasti lebih sakit yang dirasa Mamanya.


"Iya, aku memang anak pungut tapi aku lebih mengerti Mama dari pada kamu. Kamu sadar atau tidak enam tahun terakhir aku selalu menemani mama, aku selalu melihat mama menagis karena kakak. Karena kakak yang tidak pernah mengerti apa yang mama mau"


"Mama mau cucu kan? ya sudah kamu menikah dan beri mama cucu tapi apa? kamu tidak bisa lantas apa bedanya kamu denganku"


"Kakak!"


"Kenapa? kamu marah kalau kamu sudah tidak betah lagi tinggal disini ya sudah kamu pergi. Lagian kamu siapa berani-beraninya menasehati ku"


"Karena Arfan adik kamu"


Suara yang terdengar gemetar membuat keduanya menoleh. Keduanya membeku saat melihat seorang yang mereka sayangi tengah menangis dihadapan mereka. Sejak tadi Amanda mendengarkan pertengkaran kedua putranya.


Hati Amanda terluka saat Rio mengatakan Arfan bukan anak kandungnya memang benar Arfan bukan anak kandungnya tapi kasih sayang yang Amanda berikan sama dengan yang ia berikan ke Rio.


Amanda menatap Rio dengan senduh. Rionya kini sudah berubah hingga Amanda merasa tidak lagi mengenalanya.


"Kenapa kamu bilang seperti itu keadik kamu?"


"Ma, memang benarkan dia itu bukan adik aku!"


"Lantas kenapa kamu baru protes sekarang? kenapa tidak kemarin. Ri, mama selama ini menganggap Arfan anak kandung mama bahkan mama lupa kalau Arfan bukan anak mama"


"Ma, sudah Arfan akan pergi dari sini kok" ucap Arfan yang tidak ingin Amanda terus menangis.


"Mama tidak mengijinkanmu pergi"


"Udah lah ma biarin anak pungut ini pergi"


Arfan menatap Rio, baginya Rio kini telah berubah bahkan dirinya tidak perduli dengan air mata yang terus mengalir dari pelupuk mata Amanda.


"Ri mama nggak tahu apa yang membuatmu berubah"


"Karena mama, bisa nggak mama bilang kesemuanya jangan memojokan Sena lagi. Sena menantu mama" ucap Rio dengan nada tinggi. Amanda tersenyum kearah Rio kini dia tahu apa yang membuat putranya berubah. Putranya ini lebih memilih istrinya dibandingkan dengannya.


"Kak, bisa pelankan suramu itu"


Tatap mata Afan kini seperti harimau yang akan menerkam mangsanya. Amanda merasa dunianya kini hancur dirinya tidak bisa menerima ini semua.


"JANGAN MENGATURKU!"


"Kak. kakak sadar ngga sih? kakak nyakitin mama. Pikirkan perasaan mama sedikit saja kak. Kamu anak kandungnya!"


"Kamu ini!"


Rio langsung memukul wajah Arfan hingga tersungkur dan itu semua terjadi didepan Amanda.


"RIIOOOO!" teriak Amanda dengan kerasanya hingga orang yang tengah berada diruang tengah menuju kedapur semua.


Semuanya terkejut melihat Arfan yang tengah terduduk dilantai dengan bibir yang pecah dan juga keperihan saat melihat Amanda yang menetesakan air mata.


Amanda kini tidak bisa menahanya lagi, semua ini terjadi karena kesalahannya yang terlalu sayang kepada Rio hingga dirinya lupa untuk mengajarkan Rio apa yang baik buruknya sifat manusia yang dapat mengubah hidupnya.


Setelah memukul Arfan, Rio langsung terdiam dan menyesali apa yang dia telah lakukan.


"Pukul mama sekarang! mama yang bawa Arfan kerumah ini jadi mama yang kamu pukul bukan Arfan!"


Semua yang melihat mulai mengetahu apa yang telah terjadi tapi sayangnya Riko dan Bram tidak dirumah hanya mereka yang bisa meredam ini semua.


"Kenapa kamu diam?"


Amanda meraih tangan kanan Rio yang telah memukul Arfan. Amanda mengarahkan tangam Rio kewajahnya.


"Ayo pukul mama!"


"Ma, Arfan ngga apa-apa"


"Kamu diam Fan. Mama tengah berbicara dengan anak kandung Mama"


Arfan hanya bisa menurut tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Ayo pukul!" tatapam Amanda tajam dan menusuk serta terdapat kekecewaan didalamnya.


"Mama tidak pernah mengajarimu seperti ini. Mama kecewa sama kamu Rio. MAMA KECEWA!!"


....


Taman


Angel berjalan mendahului Rey menyusuri jalan setapak yang terdiri dari batu bata yang tersusun rapi. Bunga-bunga juga terlihat bermekaran dengan indahnya. Angin yang berhembus membawa wangi bunga yang membius.


Taman ini ramai tapi suasananya damai menenangkan terlebih udaranya sangat segar.


"Kamu suka?"


"Iya, tapi ini terlalu ramai"


"Disana tidak ada orang" ucap Rey sembari menujuk kearah air mancur.


"Mau kesana?" tawar Rey. Angel mengangguk dengan senang. Rey langsung menggenggam tangan Angel berjalan beriringan menuju air mancur tapi sebelumnya Rey membelikan mainan gelembung sabun untuk Angel.


.


Rey tengah memetik bunga yang sangat indah lalu berjalan menghampiri Angel.


"Hey"


Angel menoleh kearah Rey. Senyuman Rey membuat jantung Angel berdegup kencang. Rey menyelipkan bunga itu ditelinga kiri Angel.


"Cantik"


Angel merasa pipinya memerah, baru kali ini Rey memujinya dengan nada yang terdengar nyata plus serius tak seperti sebelumnya yang terdengar mengejek.


"Kamu muji aku?" tanya Angel dengan wajah blank. Rey mengerutkan dahinya lalu tersenyum mencurigakan.


"Aww"


Rey langsung menjitak kepala Angel. Angel mengelus kepalanya yang dijitak oleh Rey. Angel menatap sebal Rey.


"Anggap saja aku khilaf tadi" ucap Rey santai lalu berlalu pergi. Angel langsung mengejarnya lalu merangkul bahu Rey. Dengan postur tubuh yang berbeda membuat Rey merendahkan tubuhnya.


...


Angel terlihat sangat bahagia dengan suasana taman yang serasa milik berdua. Rey selalu terpesona dengan kecantikan Angel dan senyumnya sangat manis seraya mendamaikan hati.


"Apa ini saat yang tepat" tanya Rey pada dirinya sendiri. Rey perlahan mendekati Angel yang tengah meniup stik ngelembung sabun. Rey mengeluarkan kotak pink berukuran kecil dari sakunya.


"El"


Angel langsung menoleh kearah Rey. Angel melihat sesuatu yang berbeda dari tatapan Rey, tatapan yang pernah ia lihat dari mata orang lain.


"Kamu kenapa? kok lihatin akunya gitu banget?"


Rey tidak menjawab. Rey terus melangkah hingga dihadapan Angel. Angel mengerutkan keningnya, ia curiga kalau Rey akan menjahilinya.


"Rey?"


"El, pertama aku melihatmu aku terpesona. Kamu selalu apa adanya dan kamu juga selalu perduli dengan orang lain walau kamu tidak mengenalanya. Kamu sifatmu seperti namamu, baik seperti malaikat"


Angel tak mengerti arah bicara Rey yang biasanya hanya mengejeknya dan mengusilinya tapi sekarang dirinya memujinya dan tadi dia bilang terpesona.


"Kamu ini ngomong apa sih Rey? aku cuma manusia biasa tidak lebih"


"Bagiku kamu malaikatku. Malaikan selalu membuatku rindu. El, aku tahu kita berteman tapi seiring waktu aku--"


Rey menggantungkan ucapannya, dirinya langsung berlutut dihadapan Angel untuk melamarnya dengan keberanian dan cinta yang tulus yang dimilikinya.


Angel langsung terkejut saat Rey berlutut dihadapannya dengan membuka kotak yang isinya cincin. Angel tidak percaya Rey melamarnya padahal Rey saat bersama dulu Rey tidak pernah melihatkan tanda-tanda bahwa Rey mencintainya tapi sekarang? semua berubah Angel menduga sifat jahil dan usil yang Rey tunjukan hanya untuk menarik perhatiannya.


"Aku tahu kita berteman tapi perlu kamu tahu aku anggap kamu lebih dari teman dan lebih dari sekedar adik. Aku ingin kamu menjadi istriku, Ibu dari anak-anakku dan kita akan bersama selamanya hingga abadi disurga. Tidak ada yang bisa memisahkan kita"


Deretan ucapan Rey penuh keyakinan dan ketulusan membuta air mata Angel turun terlebih dengan setatusnya ini membuatnya bersedih. Angel tidak tahu selama ini Rey mencintainya sebesar ini.


"Rey kamu lagi bercanda yah?"


Angel mencoba memastikan dan entah kenapa dadanya terasa sakit. Semuanya menjadi lebih sulit dari sebelumnya. Rey menggeleng dengan pasti, kedatangannya kemari hanya untuk tujuan ini tidak ada hal lain lagi. Rey hanya ingin malaikatnya menjadi miliknya dan mencintai malaikat ini hingga napas terakhirnya.


Rey merah kedua tangan Angel. Rey tersenyum sangat manis kearah Angel.


"Aku tidak bercanda, selama diBali aku terus saja memimpikanmu. Aku merindumu, aku ingin tahu kabarmu dan aku tersadar semua napasku hanya untukmu"


"Aku--"


"Parcaya padaku, aku akan selalu mencintaimu, menjagamu, membahagiakanmu tidak akan aku biarkan kamu bersedih. Angel, aku mohon menikahlah denganku"


"...."


....****.....