
Amanda menatap datar Arfan yang kini melihatkan deretan giginya. Arfan meminta dirinya memilihkan cincin untuk melamar Angel karena Arfan takut nantinya cincin yang ia pilihkan terlalu sederhana dan ujung-ujungnya dirinya akan dimarahi oleh Amanda.
"Ya sudah, kalau itu mau mu tapi nanti kamu bisa ngga bilang sama Angel?"
"Kalau ngga kan ada Mama"
"Terserah kamu lah, ayo berangkat. Mumpung Angel lagi tidur"
"Iya"
...
Rumah sakit
Riko telah menyerahkan semua sampel rambut ke temanya yang berprofesi sebagai dokter disini. Riko meminta agar secepatnya mendapatkan hasilnya, lebih cepat mengetahui kebenaran ini akan lebih baik.
"Kamu tenang saja akan aku usahakan, eh tapi belum lama ini aku melihat Arfan disini, sepertinya dia menemani seseorang, apa ada yang sakit?"
"Apa? mungkin itu itu temannya"
"Oh, mungkin hasilnya akan keluar dalam waktu tiga hari"
"Tiga hari? itu waktu yang lama"
"Jangan terburu-buru, ini semua butuh proses. Kamu tidak ingin ada kesalahan kan?"
"Iya, aku mohon. Aku ingin hasil yang sebenarnya"
"Baiklah, aku akan berusaha"
"Terima kasih, aku pamit"
Setelah dari rumah sakit, Riko bergegas ke toko perhiasan karena Amanda dan Arfan sudah menunggu lama.
Toko perhiasan.
Sudah dua jam lebih Amanda dan Arfan memilih-milih perhiasan di toko ini dan untung saja Amanda sudah langganan disini bahkan Amanda berteman baik dengan pemilik toko ini jadi tidak ada masalah walau berlama-lama di sini.
Arfan dibuat pusing dengan deretan model cincin yang terlihat sangat bagus semua, untung saja dirinya meminta Amanda untuk memilihkan cincinnya.
Amanda tengah melihat cincin yang sepertinya cocok dengan Angel. Entah kenapa Arfan merasa resah meninggalkan Angel di rumah dengan Sena dan Rio. Pikiran Arfan melayang entah kemana, ia membayangkan hal buruk yang mungkin akan Rio dan Sena lakukan. Arfan takut Rio dan Sena akan membawa Angel pergi sebab Angel bisa jadi masalah untuk mereka.
"Sudah dapat cincinnya?" suara Riko yang tiba-tiba datang membuat Arfan terkejut lalu menatap sebal kearah Riko.
"Papa ini seperti hantu saja!" denggus Arfan. Riko tidak memperdulikan keluhan Arfan, ia malah terlihat terpesona dengan kalung berlian yang berbeda di belakang pemilik toko berlian ini.
"Itu model terbaru?"ucap Riko sembari menunjuk kalung yang terpasang di patung. Wanita pemilik toko ini langsung mengambil barang yang Riko maksud.
"Sepertinya ini cocok untukmu"
"Kita disini beli cincin untuk Angel bukan untukku" kesal Amanda.
"Sekalian saja"
Saat kedua orang tuanya masih berdebat, Arfan malah semakin mencemaskan Angel. Perasaannya menjadi tidak tenang dan juga resah.
"Ma, Pa. Arfan mau pulang"
"Eh? ini belum dipilih loh?"
"Mama saja yah, Arfan pulang sekarang"
"Ta... yah anak itu!"
Sebelum Amanda menyelesaikan ucapannya Arfan malah pergi begitu saja.
"Sudah lah, dia khawatir sama El"
"Hemm" Amanda hanya berdehem saja lalu kembali memilih cincin untuk Angel.
...
Rumah
Angel menatap Kevin yang tertidur dengan tatapan aneh. Angel ingin membawa Kevin pergi dari rumah ini dan bahagia bersamanya namun semakin Angel berpikir semakin ia merasa bahwa Kevin akan bahagia di rumah ini tanpa dirinya. Angel melihat sekeliling, kamar ini akan ia rindukan juga keramahan penghuninya, Angel menguatkan hatinya untuk pergi dari rumah ini. Ia tidak ingin semakin tersiksa berada terus di rumah ini dan juga ia tidak bisa terus seperti ini, dia ibunya Kevin tapi dia tidak bisa mengakui Kevin sebagai anaknya.
"Kenapa ini sulit? El, sudahlah jangan berharap lebih! Kevin pasti akan baik-baik saja disini"
Angel mengecup kening Kevin cukup lama, kecupan perpisahan yang tidak ingin ia lakukan tapi ini terpaksa ia lakukan sebelum rasa sayangnya semakin dalam dan sulit untuk kembali menjalani hidup tanpa buah hatinya.
"Sayang, mama pergi, kamu jaga dirimu yah? kamu harus sehat terus. Maaf mama harus pergi, kamu lebih baik tanpa Mama"
Angel menghapus air matanya lalu berjalan menuju pintu. Angel tidak apa pun karena dia tidak ingin kenangan ini mengikutinya terus lagi pula dia datang ke rumah ini tidak membawa apapun dan sekarang dia juga tidak membawa apapun.
Saat Angel ingin membuka pintu, pintu itu dibuka oleh seseorang yang kini menatapnya cemas.
"Kamu ngga apa-apa kan?" tanyanya dengan nada yang khawatir. Angel menggeleng pelan membuat orang didepannya ini bernapas lega.
"Syukur lah, aku beli makanan untukmu, kamu makan yah?" tawarnya dengan nada halus serta dengan senyuman ketulusan yang ia tunjukan.
"Arfan" panggil Angel sekali langsung memeluk Arfan dengan eratnya. Angel terisak tanpa suara di dada Arfan. Didepan Arfan Angel tidak bisa menyembunyikan lukanya lagi, ia merasa Arfan tempat ternyaman untuk mengutarakan luka yang ia rasa.
"El? kamu kenapa?" Arfan membalas pelukan Angel sama eratnya. Arfan merasa dadanya sesak melihat Angel yang seperti ini.
"Hey, jangan cengeng! ini bukan kamu, kamu itu kuat!" ucap Arfan menyemangati Angel.
Arfan melepas pelukan Angel lalu menghapus air mata yang membasahi kedua pipi Angel.
"Air matamu ini terlalu berharga untuk mengisi suami mu itu! lupakan dia, menikahlah denganku"
"Apa?" Angel menatap kedua mata Arfan dengan tatapan tidak percaya. Arfan mengatakan itu padahal dia tahu kalau dirinya ini istri kedua kakaknya.
"Aku bersungguh sungguh ingin menikahi mu, ini tulus dari hatiku tidak ada sedikitpun ragu didalamnya"
"Fan, aku ini istri kakakmu"
"Berhentilah bermimpi, El! dia tidak menginginkanmu lagi, dia hanya ingin Kevin itu saja tidak lebih! aku mohon menikahlah denganku, aku akan menghapus semua luka yang telah ia berikan kepadamu"
Arfan meraih kedua tangan Angel, digenggamnya erat tangan Angel. Arfan ingin Angel menerimanya menjadi suaminya, dia tidak perduli dengan setatus Angel sekarang ini karena Arfan ingin Angel mendapatkan apa yang ia tidak dapatkan saat menikah dengan Rio. Angel mengalihkan pandangannya agar tidak menatap wajah Arfan.
Perasaan Angel sekarang campur aduk. Ia bingung harus merasa bahagia atau sedih, Arfan sosok yang penyayang juga bertanggung jawab pasti beruntung sekali memiliki Suami seperti dia namun ini semua tidak lah benar, Arfan berhak mendapat seorang gadis yang pantas bersanding dengannya buka seorang wanita yang telah mempunyai anak yang tidak jelas setatusnya.
"El? kalau kamu menikah denganku, kamu bisa bersama Kevin"
"Kevin?"
"Iya sayang, kamu tidak akan berpisah dari Kevin. Kamu mau kan menikah denganku?"
"Arfan"
Angel menatap kedua mata Arfan. Orang didepannya ini sungguh baik dan dia terlalu baik untuk dirinya. Angel merasa Arfan pantas mendapat istri yang lebih baik dibandingkan dirinya.
"Kamu mau kan?"
"Fan, kamu berhak mendapatkan istri yang lebih baik dari ku. Aku tidak pantas untukmu"
Angel menolak dengan halus lamaran Arfan. Arfan tahu ini akan terjadi, Angel adalah seorang yang penuh kasih sayang dan dia tidak sedikitpun egois, dia selau memikirkan orang lain karena itu Arfan ingin menikahi Angel. Arfan yakin hatinya ini tidak salah orang, semua yang ia inginkan ada pada diri Angel, di mata Arfan, Angel itu malaikat yang turun dari surga dengan berjuta-juta kebaikan di dalam setiap hembusan napasnya.
"El, kamu yang aku cari selama ini, percayalah padaku, aku tidak perduli dengan setatus mu itu. Aku janji akan lebih baik dari Rio, aku akan membahagiakanmu"
Arfan terus meyakinkan Angel bahwa dirinya benar-benar tulus dan ini bukan karena kasihan atau pun penebusan dosa yang telah Rio perbuat, ini murni keinginan Arfan.
Angel melihat ketulusan di mata Arfan. Angel tahu bagaimana Arfan menjaganya selama ini, perhatian yang Arfan berikan membuat Angel merasa aman dan nyaman. Setiap kesedihan yang ia rasakan mampu dihilangkan oleh Arfan, semuanya. Angel ingin sekali berucap "Iya" tapi dirinya tidak ingin egois dan melukai hati Arfan terlebih di hati ini masih terselip rasa cinta untuk Rio.
"Aku percaya itu, tapi?"
"Tapi apa? kamu masih berharap? buka matamu, Rio hanya mencintai Sena dan akan selamanya begitu"
"Iya, aku masih berharap. Aku mencintai dia lebih dari diriku"
Perkataan yang terlontar dari mulut Angel membuat Arfan tersenyum tipis. Didepannya ini istri yang setia kepada suaminya namun suaminya seolah tidak perduli bahkan menyapanya pun tidak pernah. Andai Angel menikah dengannya pasti dirinya ini akan merasa paling beruntung di dunia ini, memiliki istri yang setia, baik hati, penyayang dan juga penuh dengan magic yang dapat membuat bibir ini tersenyum tapi sayang malaikat ini sudah menjadi istri kakaknya yang seolah-olah menyia-nyiakan bidadari surga ini.
"Walau hatimu itu setiap hari terluka? kamu tidak keberatan dada mu sesak setiap saat? sampai kapan kamu menunggu? sampai air matamu itu kering? Rio hanya bisa melukai mu tanpa sedikitpun memahami luka yang kamu derita"
"Aku sudah terbiasa mungkin hatiku ini sudah membatu, aku tidak merasa apapun lagi. Aku sedih karena Rio tidak memperhatikan Kevin itu saja"
Arfan menghela napas panjang, Angel tetap menghargai pernikahan semu ini dan Arfan juga tidak ingin memaksa Angel, ia tidak ingin Angel jadi benci dan menjauhinya mungkin Amanda yang bisa meluluhkan hati Angel.
"Iya sudah kalau itu mau mu, aku tidak ingin memaksamu terlebih kamu sudah mengenalku dan ini tulus dari hatiku. Kamu tahu aku sudah jatuh cinta kepadamu saat kita bertemu di lobby kantor waktu itu"
"Maaf, Fan. Aku melukai hati mu"
Arfan tersenyum dengan lebarnya lalu mengacak-acak poni Angel dengan gemasnya. Angel dibuat tercengang dengan sikap Arfan ini padahal dirinya telah menolak lamaran darinya.
"Biasa saja kali, aku sudah lama patah hati saat mengetahui kamu hamil. Yah aku kira aku bisa mulai mendekatimu.... emmm sudahlah, sebaiknya kamu makan sebelum Kevin bangun. Biar aku yang jagain dia"
"Terima kasih"
"Sanah" usir Arfan sembari mendorong pelan punggung Angel. Arfan tidak merasa kecewa ataupun lainnya karena dirinya benar-benar tulus kepada Angel.
Setelah Angel pergi Arfan langsung menghampiri Kevin yang tengah tertidur, karena merasa Kevin tidak akan bangun jadi Arfan memilih ikut tidur di samping Kevin.
....
Angel terdiam di meja makan, pikirannya melayang memikirkan ucapan Arfan barusan. Angel tidak ingin melukai hati Arfan tapi dirinya juga harus melihat lebih jauh lagi, pasti ada masalah dikemudian hari setelah ia menerima lamaran Arfan. Angel ingat betul dengan Rey yang jauh di Bai serta Rio yang seakan mengacuhkannya tanpa kepastian yang jelas. Rio bilang kalau dia menceraikan Angel namun saat Angel bersama Arfan malah dibilang selingkuh, Angel sekarang menjadi serba salah.
Angel mendengar derap langkah menghampirinya, ia pun langsung melihat kearah suara itu. Angel langsung mengalihkan pandangan mata saat melihat Sena yang menghampirinya. Cemburu? mungkin kini yang dirasa Angel saat dirinya tidak punya waktu berdua dengan Rio bahkan untuk sekedar menanyakan keadaanya sedangkan Sena, dia baru bersama Rio.
Angel langsung bangkit dari duduknya saat Sena sudah sangat dekat dengannya. Angel seolah tidak melihat Sena, Angel melangkah pergi namun Sena memanggil namanya.
"Angel" ucap Sena seakan meremehkan. Sena dan Angel saling membelakangi. Sena sendiri menunggu cukup lama untuk berdua seperti ini, kesempatan bagus untuk membuat Angel merasa dibuang oleh Rio.
"Apa?" ucap Angel tanpa menoleh ke Sena. Sena berdecak beberapa kali, dirinya langsung membalikan badan, berjalan kehadapan Angel.
Angel menatap sengit Sena. Angel teringat saat Sena membunuh calon anaknya. Sena menatap kasihan ke Angel, menurut Sena, Angel itu perempuan yang sangat polos bahkan Sena mengecap Angel sebagai perempuan bodoh yang mau-maunya diperdaya laki-laki.
"Kenapa kamu masih disini? perjanjian sudah selesai, sebaiknya kamu pergi dari sini"
"Aku tidak akan pergi dari rumah ini, aku ingin bersama anakku!"
"Anakmu? jangan bermimpi! Kevin anakku bahkan kamu tidak berhak menyentuh dia"
"Ck! sampai kapanpun Kevin putra ku dan selamanya akan jadi putraku!" jawab Angel dengan tegas. Sena seakan mengacuhkan ucapan Angel barusan.
"Terserah apa mau mu, aku tidak perduli. Kalau kamu ingin jadi pengasuh Kevin ya silahkan tapi yang jelas Kevin tidak akan memanggil mu "Mama" dan jangan bermimpi jadi nyonya disini, sebaiknya kamu sadar diri dan enyah dari sini!!"
"Sebegitu takutnya kamu? kamu merasa tidak mampu membahagiakan Rio"
"Apa maksud ucapan mu itu!"
"Rio kurang beruntung menikahi orang sepertimu yang cuma mementingkan diri sendiri"
Angel terkekeh pelan, walau dirinya hanya sebentar menjalani hidup dengan Rio namun dirinya sudah memahami apa saja yang Rio inginkan tapi Sena? dia seolah tidak memahami Rio walau sudah bersama cukup lama.
"Kamu memang cantik tapi apa kamu pernah memikirkan perasaan Rio? harusnya kamu sadar, kamu itu sudah cukup banyak menyakiti perasaan Rio"
"Heh!"
Sena mendorong kasar Angel hingga Angel mundur beberapa langkah. Wajah Sena terlihat merah padam, dia tidak suka dengan ucapan Angel barusan.
"Dengar ini baik-baik! kamu itu cuma perempuan yang disewa untuk mendapatkan seorang anak dan kamu sekarang tidak dibutuhkan lagi, bahkan Rio sudah membuang mu jadi PERGI DARI SINI!" ucap Sena dengan penuh penekanan. Angel masih menatap Sena dengan mata yang memerah.
Rumah sebesar ini dan punya banyak ART namun tidak seorang pun yang melintas diarea ini, seolah-olah ini semua sudah disetting agar tidak ada yang melihat pertengkaran Istri dan madunya.
Entah sampai kapan rahasia ini disembunyikan terlebih sudah ada seorang anak yang lahir dari hubungan ini.
"Jangan bermimpi untuk bersama Rio karena aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi! kalau kamu masih punya harga diri pasti kamu sudah pergi dari sini tapi sepertinya kamu sekarang sedang main api dengan Arfan. Ck! kamu hina sekali"
PLAKK
Tamparan keras mendarat di pipi Sena. Angel menampar Sena dengan kerasnya Bahkan Sena nampak terkejut dengan tamparan ini.
"Sudah bicaranya?"
Sena menatap tajam Angel sembari memegangi pipi yang ditampar Angel barusan. Sena semakin benci kepada Angel.
"Bilang saja kamu takut kehilangan Rio lagi pula aku yang memberinya keturunan sedangkan kamu? apa yang kamu berikan kepadanya?"
Angel tidak takut dengan orang di depannya ini. Dulu Sena bisa mengancamnya tapi sekarang tidak, Angel sekarang punya hal yang ia pertahankan yaitu Kevin.
"Jaga ucapan mu itu jal*ng! kamu jangan bermimpi terlalu tinggi, Rio tidak akan pernah berpaling dari ku!"
"Terserah kamu mau bilang apa tapi kamu tidak bisa menyembunyikan kenyataan yang ada"
Angel langsung melangkah pergi meninggalkan Sena yang terbakar emosi. Sena mengepalkan kedua tangannya, ia bersumpah akan membalaskan semua ini.
"Lihat saja jal*ng, aku pasti akan membuatmu pergi dari rumah ini! camkan itu"
...
Kamar Angel
Angel tersenyum tipis saat melihat Arfan yang tertidur di samping Kevin yang sudah terbangun. Bayi mungil ini tengah bermain, kedua matanya melihat kearah cahaya yang terang serta mencari asal suara dengkuran halus dari Arfan.
"Sayang, kamu sudah bangun. Jangan berisik yah? om Arfan sedang tidur"
Angel mengangkat tubuh mungil Kevin, membawanya ke halaman samping untuk bermain setelah itu mandi.
.
Sinar matahari sore membuat kesan di mata siapa saja yang melihatnya. Warna yang mulai menjingga seakan menenangkan pikiran. Matahari yang bersinar seharian kini mulai meredupkan sinarnya berganti dengan bulan yang menyinari malam yang sunyi. Walau tidak ada yang memperhatikannya, matahari tetap bersinar dengan terangnya dan mengakhiri tugasnya dengan sinar cantiknya.
Angel dari tadi menatap Kevin yang mulai bersuara dengan jelas. Air mata Angel mengalir begitu saja.
"Sayang, kamu anak mama dan selamanya jadi anak mama. Mama tidak mau berpisah denganmu"
"Tapi kamu harus berpisah dengan Kevin" suara dingin itu membuat Angel menghapus air matanya dengan kasar lalu. Angel hafal suara itu, itu Rio.
Angel menatap kearah Rio dengan tatapan biasa saja. Angel muak dengan wajah Rio yang tak ada rasa bersalah atau apapun, ekspresi wajah Rio terlihat biasa saja.
"Kenapa kamu tampar Sena? kenapa kamu marah? sudah seharusnya kamu pergi dari sini, semua sudah berakhir dan Kevin itu anaknya Sena bukan kamu"
"Kamu membuang ku?"
"Aku tidak membuang mu, aku menceraikan mu perjanjian ini sudah berakhir. Kamu bebas pergi, aku tidak ingin kamu mengasuh Kevin"
"Kenapa? aku ibunya aku berhak mengasuhnya"
"Mengertilah! semakin lama kamu dekat dengan Kevin semakin kamu tidak bisa jauh dari Kevin. Ini sudah berakhir, perjanjian itu sudah berakhir dengan kelahiran Kevin"
"Selama ini aku tidak berarti bagimu? apa aku hanya mainan untuk mengisi hari mu yang kosong tanpa Sena?"
"Kalau itu yang membuatmu paham, iya aku menganggap mu hanya mainan dan sekarang aku sudah bosan denganmu"
Rio dengan gerak cepat merebut Kevin dari tangan Angel lalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan perasaan Angel.
"Sekarang harapanku pupus, sebenarnya apa yang aku harapkan selama ini? aku menyiksa diriku sendiri"
...
Arfan terbangun dari tidurnya. Ia langsung terkejut saat melihat Kevin yang tidak ada disampingnya lagi.
"Sama El kali yah?"
Arfan bangkit dari tempat tidur, dengan mata yang setengah terbuka Arfan mencari Kevin dan juga Angel. Saat mencari Angel, Arfan melihat Kevin yang tengah bersama Rio dan Sena. Pikiran Arfan langsung tertuju pada Angel, entah kenapa hatinya semakin terasa resah.
Arfan menuju halaman samping karena Angel biasa berada di sana. Sesampainya di sana, kedua mata Arfan melihat Angel yang tengah melamun, Arfan langsung menghampiri Angel.
"El? kamu ngga apa-apa kan?"
"Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untuk suamiku tapi sepertinya itu semua sia-sia dan sekarang aku kehilangan anakku. Ini juga salahku atau salah takdir, entahlah yang jelas hidupku hancur" ucap Angel tanpa menoleh kearah Arfan. Angel langsung bangkit dari duduknya melangkah meninggalkan Arfan. Angel berlalu begitu saja dengan tatapan kosong.
Arfan mengepalkan kedua tangannya, baru kali ini dia melihat Angel seperti ini, seolah-olah ada yang hilang dari dirinya.
"Apa yang kamu lakukan, kak?"
...
Arfan menghampiri Rio yang tengah membuat kopi di dapur. Rio hanya menoleh kerah Arfan sekilas. Arfan merasa muak melihat sikap Rio yang seperti ini.
"Mau sampai kapan seperti ini? mau sampai kapan kamu akan melukai Angel?"
"Aku sudah bilang, aku tidak perduli dengan dia" ucap Rio tanpa menatap Arfan, dia malah sibuk mencari sesuatu di lemari kaca.
"Tapi Angel perduli denganmu"
"Lantas? aku harus percaya? bukannya dia akan menikah denganmu?"
"Aku berbohong, aku baru melamarnya hari ini dan dia bilang bahwa dia masih istrimu"
Rio terdiam sesaat namun sedetik itu pun kembali membuka-buka pintu lemari, entah apa yang Rio cari sekarang.
"Kamu tidak perduli, kak? dia menunggu dengan sabar kepastian darimu, dia setia kepadamu. Aku heran kepadamu, kak. Angel itu sempurna! apa yang kurang dari dia?"
Rio membalikan badannya. Rio menatap datar Arfan. Di mata Rio, Arfan itu hanya anak kemarin sore yang tidak tahu apapun.
"Ya sudah, nikahi saja dia" suruh Rio acuh.
"Dia yang tidak mau, dia masih menganggap mu suaminya. Angel mencintaimu dengan tulus tapi ini balasan mu?"
"Aku tidak perduli! kalau kamu ingin menikahinya yasudah nikahi saja dia! aku tidak perduli!" ucap Rio dengan penuh penekanan. Arfan tersenyum sinis, orang didepannya ini sudah tidak punya hati.
"Kalau begitu bawa Angel kembali ke orang tuanya, mereka tidak tahu kalau kamu menikahinya setidaknya kamu membawanya pulang dengan selamat"
"Sudah aku bilang aku tidak perduli!"
"Kak, kamu itu sudah menghancurkan hidup Angel! kamu memperdaya Angel dengan uang mu, apa kamu tidak punya malu! kamu dan Sena mendapatkan apa yang kalian mau tapi Angel? apa yang dia dapatkan dari ini semua?"
"Nyawa ayahnya. Dia menukar masa depannya untuk nyawa ayahnya, dia yang bersedia melakukan perjanjian ini dan tanpa paksaan dari ku"
"Itu karena keadaan yang memaksa dirinya"
"Lalu apa bedanya denganku? kamu kira aku mau melakukan ini?"
"Sena yang memaksa mu atau hanya alasanmu saja? dari sisi manapun kamu yang diuntungkan"
"Jaga bicaramu itu, kalau saja Mama tidak terus memojokan Sena ini semua tidak akan terjadi"
"Ck! sekarang kamu menyalahkan Mama, harusnya kamu sadar diri kalau kamu bisa tegas kepada istrimu ini semua tidak akan terjadi, lagi pula sejak kapan seorang Mario pasrah dengan keadaan"
"Kamu tahu aku tidak akan pasrah dengan keadaan dan seharusnya kamu juga tahu aku melakukan ini karena ada alasannya"
"Alasan atau hanya kepentingan mu dan Sena saja, selama ini yang diuntungkan itu kalian. Uang yang kamu keluarkan itu tidak sepadan dengan yang Angel rasakan selama ini! selama ini Angel masih bisa tersenyum tapi sekarang, dia seakan sudah tidak bernyawa lagi setelah kamu merebut anaknya"
Ekspresi wajah Rio tidak berubah sedikitpun, pandangan matanya juga terkesan biasa saja. Rio seakan tidak perduli dengan Angel. Arfan semakin malu mempunyai Kakak seperti Rio.
"Iya aku tahu itu tapi apa kamu pernah sedikit pun memikirkan keluarga kita? apa yang mereka pikirkan setelah mengetahui putra sulung kelurga ini punya istri simpanan, apa kamu pernah memikirkan perasaan Mama? dia pasti akan sangat sedih"
Rio berkata jujur. Ini semua ia lakukan hanya untuk kebaikan keluarganya terlebih Rio tidak ingin Amanda merasa sedih dengan masalahnya ini.
"Terus bagaimana dengan Angel? bagaimana jika keluarganya tahu?"
"Itu urusan dia, aku sudah pusing dengan masalahku sendiri. Kalau kamu merasa mampu silahkan kamu bantu dia" ucap Rio langsung berlalu pergi meninggalkan Arfan.
"Kak?"
Arfan mengira Rio mau sedikit perduli dengan Angel yang setia kepadanya namun dirinya salah besar, Rio tidak perduli bahkan Rio mencampakkan Angel begitu saja.
"Kamu pasti akan menyesal kak telah menyia-nyiakan istri seperti Angel"
....
Kamar Angel
Angel termenung hanyut dalam lamunannya. Rasa sesak di dada ini sudah sangat biasa ia rasakan. Selama ini ia berharap sedikit kasih sayang dari Rio terlebih ia masih ingat dengan perkataan Rio yang akan memberi kepastian kepadanya.
"Aku... aku tidak bisa menghadapi ini semua sendirian. Aku harus menyandarkan kepalaku kepada siapa? aku mengeluh kepada siapa bahkan Tuhan sendiri seakan meninggalkanku. Tuhan kenapa hidupku seperti ini? sampai kapan deritaku ini, apa tidak ada sedikitpun kebahagiaan untukku walau hanya sesaat?"
Suara pintu dibuka oleh seseorang dan ternyata itu Sena yang memasuki kamar Angel. Sena berdecak beberapa kali namun Angel tidak memperdulikan Sena.
"Lihat dirimu sekarang, duh kacian. Sudah aku bilang kan, jangan bermimpi terlalu tinggi sakit kan jatuhnya"
"Pergilah" usir Angel dengan nada lemah.
"Dih kok marah? sebaiknya kamu pergi sebelum nyawamu itu meninggalkan ragamu"
....****.
...
.
****