Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
Bab 61 Keluarga kecil



Sebelum malam Rio membawa pulang Angel.


Rumah Amanda Riko.


Sena mendekati Amanda dengan wajah sedih dan membuat Amanda merasa khawatir dengan kondisi Sena.


"Kamu kenapa?"


"Ma, Rio.. Dia"


"Kenapa? bilang saja Mama tidak akan marah."


Amanda merasa Sena ragu mengungkapkan perasaannya terlebih Sena nampak ragu dan takut. Sena terdiam sesaat lalu berucap dengan perasaan takut.


"Rio selingkuh, aku tadi melihatnya dengan Angel dan mereka nampak sangat akrab."


Sena mulai menarik simpati dari Amanda dan membuat Amanda simpati kepadanya juga percaya dengan apa yang dirinya ucapkan.


"Kamu ini, mungkin kamu salah paham, kamu tahu Suami Angel itu meminta Rio untuk jagain Angel kan?"


Amanda tersenyum agar menantunya ini tidak berperasangka buruk tentang Rio. Amanda tahu betul sifat putranya dan juga betapa besarnya rasa cinta Rio kepada Sena.


"Iya, tapi Angel sudah bercerai dengan suaminya lantas kenapa mereka masih saja bertemu? aku takut Rio meninggalkanku, dulu aku tidak apa-apa bila Rio meninggalkanku tapi sekarang ada Kevin. Aku tidak ingin Kevin kehilangan sosok Ayah."


Mendengar ucapan Sena membuat Amanda was-was. Sena menitihkan air matanya.


"Harusnya aku tidak mengatakan ini kepadamu, seharusnya aku tahu kamu pasti akan membela putramu" ucap Sena lagi. Sena langsung bangkit dari duduknya dan ingin pergi. Amanda yang merasa menantunya ini kecewa kepadanya langsung berucap, menghentikan Sena pergi.


"Sena, bukan itu maksud mama, mama juga tidak ingin Rio berbuat hal yang tidak mama inginkan. Mama akan selalu mendukungmu"


"Terima kasih, ma."


...


Acara makan malam.


Rey terus menggoda Kevin yang sedang dibopong Amanda. Senyum Kevin sangat mirip dengan Angel.


"Maaf Tante kok, Kevin ngga mirip Sena yah?"


pertanyaan Rey membuat Amanda tersenyum tipis.


"Kevin mirip Rio." ucap Amanda namun hati Rey tidak setuju dengan perkataan Amanda.


"Oh, ih lucunya. Tan, boleh aku videoin abis lucu banget, Kevin nya?"


"Boleh."


Sena menghampiri Rio yang terlihat gelisah. Rio masih terkejut dengan semua yang di ucapkan Riko dan Rio tidak tahu sejak kapan Riko mengetahui semua ini.


"Kamu kenapa?"


Rio menoleh kearah Sena. Sena mengernyitkan keningnya melihat wajah Rio yang "menyeramkan". Rio mendesah kasar.


"Jangan berbuat bodoh yang nantinya kamu sesali" ucap Rio yang langsung meninggalkan Sena. Sena sendiri tidak mengerti apa yang Rio ucapkan.


.... flash back end...


Mobil Rey


Rey terus saja bertanya kepada orang tuanya namun baik Ariana dan Rafa tidak ada yang mau menjawab pertanyaannya.


"Pernikahanmu dan Angel akan dibatalkan."


"Loh? kenapa?" Rey merasa dunianya hancur mendengar ucapan Ariana, padahal dari dulu Ariana ingin Angel menjadi menantunya.


"Dia tidak pantas untukmu" ucap Ariana lagi. Rey semakin bingung dibuatnya. Hari pernikahan sudah sangat dekat namun di batalkan seperti ini? Rey teringat dengan Angel, pasti sekarang Angel merasa sangat sedih.


"Apa kamu mau menikah dengan wanita simpanan pria lain?"


"Apa?" Rey dibuat terkejut dengan ucapan Rafa. Rey merasa bahwa kedua orang tuanya sudah tahu tentang kebenaran Angel yang selama ini Rey tutupi dari kedua orang tuanya.


"Angel tidak seperti itu." lirih Rey namun Ariana yang duduk di sebelah Rey dapat mendengar dengan jelas perkataan Rey.


"Mama tahu kamu sangat mencintainya tapi ini demi kebaikanmu, kamu sangat-sangat layak mendapatkan wanita yang lebih baik dari Angel."


"Tidak ada yang lebih baik dari Angel."


"Kamu yakin Rey? Dia sudah menikah dengan pria lain dan itu karena uang." perkataan Rafa membuat Rey tidak terima, kedua orang tuanya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Iya, El menikah kerena uang yang sangat ia butuhkan untuk biaya operasi jantung Ayahnya."


"Apa?" keduanya terkejut mendengar pernyataan Rey.


"Kalian tidak tahu apa-apa dan seketika kalian langsung menganggap Angel buruk."


"Kamu tahu semuanya?" tanya Ariana dengan nada kecewa.


"Iya."


"Lalu kenapa kamu tidak bilang sama mama! kamu membuat mama kecewa."


"Kecewa? aku yang akan menikah dengan Angel dan aku menerima dia apa adanya lalu kenapa kalian yang keberatan dengan itu dan apa kalian tahu siapa orang yang menikahi Angel?"


Kedua orang tua Rey hanya menggeleng pelan. Rey tersenyum sinis, kalau mereka berdua mengetahuinya pasti sangat malu terlebih keduanya sangat menginginkan putranya seperti orang tersebut.


"Rio, Mario Stevano. Itu orang yang kalian kagumi, ck." diakhir kalimat Rey berdecak sinis.


"Dia? kamu jangan bercanda! tidak mungkin Dia!"


"Papa hanya tahu sekilas tapi Papa sudah menilai dia sangat sempurna tapi apa Papa pernah berpikir apa alasan Angel melakukan itu semua? kalian tahu betapa kasarnya orang itu pada Angel? Ma, seandainya Mama jadi Angel pasti mama akan merasakan apa yang Angel rasakan, berpisah dari anak yang mama lahirkan dengan taruhan nyawa dirampas dari mama."


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Angel? ceritakan semua!" paksa Ariana.


"Baiklah."


Rey menceritakan semuanya pada orang tuanya dan juga soal Angel yang pernah menolak pernikahan ini. Ariana dan Rafa sangat terkejut mendengar semua yang Rey ceritakan. Rafa merasa kecewa kepada Rio yang dia anggap sangat berkarisma dan juga penuh dengan tanggung jawab tapi ternyata dia sangat lah berbeda dengan apa yang Rio citrakan di depan semua orang. Entah kenapa air mata Ariana mengalir dengan derasnya, dadanya terasa sangat sakit dan sekarang dia tahu apa yang Angel rasakan sekarang.


"Sudah Rey, Mama tidak bisa mendengarnya lagi, Mama... Mama... maaf Rey, seharusnya tadi kita tidak emosi dan kecewa tanpa mendengarnya langsung dari Angel."


"Siapa yang datang ke rumah Angel? apa itu Rio?"


"Bukan Rey, tadi kita mendengar suara perempuan." ucap Rafa dan Rey mengira Rio menyuruh orang untuk menggagalkan pernikahannya dengan Angel.


"Pa, kita balik lagi ke rumah Angel yah?" pinta Ariana ke Rafa yang menyetir ke arah rumah.


"Besok saja, lagi pula ini sudah malam dan pastinya mereka juga harus menyelesaikan masalah keluarga mereka sendiri."


"Baiklah."


....


Jembatan.


Angel yang bersiap akan meloncat langsung ditarik kebelakang oleh seorang kalau tidak tubuh Angel akan jatuh dan hanyut terbawa derasnya aliran sungai.


"Lepas!" berontak Angel namun semakin dia memberontak orang yang menyelamatkannya ini semakin mengeratkan dekapannya. Orang itu lalu membalikan tubuh Angel agar menatap kearahnya.


"Kamu!" Angel langsung melihatkan tatapan murkanya saat mengetahui orang yang mencegahnya barusan adalah Rio.


"KAMU MAU APA LAGI!" teriak Angel membentak Rio. Angel sangat-sangat kecewa dengan Rio yang kesekian kalinya membohongi dirinya.


"Kamu sudah tidak waras? kamu mau kamu mau loncat?"ucap Rio dengan dinginnya. Angel menatap tajam Rio.


"Iya, kamu yang membuatku jadi seperti ini! kamu bilang semua sudah berakhir tapi kenapa kamu lakukan itu! kamu mau apa lagi dariku? kamu mau nyawaku?"


"Kamu kenapa? aku lakuin apa? aku tidak mengerti apa yang kamu maksud!"


Angel sudah sangat muak dengan orang yang berada di depannya ini. Rio menatap Angel dengan penuh pertanyaan, Rio sendiri tidak merasa melakukan apapun kepada Angel dan dirinya sudah merelakan Angel menikah dengan orang lain.


"Jangan berpura-pura tidak tahu! kamu bilang ini semua sudah berakhir tapi kenapa kamu memberitahukan semuanya pada orang tuaku dan juga orang tua Rey? aku dan Rey merahasiakan ini semua tapi... semua nya sudah berakhir, pernikahan ku batal dan aku diusir dari rumahku. Sekarang kamu puas?"


"El?"


Rio terkejut mendengar ucapan Angel dan Rio juga tahu siapa yang melakukan ini semua yaitu Sena. Kemarin Sena mencoba menabrak Angel dan kali ini pasti dia juga yang melakukan ini semua terlebih Sena mengetahui Angel akan menikah dan rasa benci Sena terhadap Angel cukup besar untuk membuat masalah di hidup Angel.


"Jangan pura-pura terkejut seperti itu, bunuh saja aku, itu akan lebih baik untukku."


"Ck, aku tidak mengetahui ini semua dan aku bukan orang yang membuatmu seperti ini."


"Lalu siapa kalau bukan dirimu? Rey?"


"Sena, dia yang melakukan ini semua."


"Jangan menyalahkan orang lain, jujur saja! aku sudah terbiasa dengan rasa sakit ini."


Angel masih tidak percaya dengan perkataannya namun Rio tidak akan meninggalkan Angel dengan kondisi seperti ini.


"Bukan aku, sumpah demi Tuhan aku tidak melakukannya. Aku hanya ingin kamu bahagia, aku tidak bisa membahagiakan dirimu karena itu aku rela kamu menjadi milik orang lain yang pastinya dapat membuat hidupmu bahagia. Ikut lah denganku."


"Tidak, pergi saja! aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Kamu mau kemana? ikutlah bersamaku, semua akan baik-baik saja!"


"Tidak! hidupku sudah hancur dan itu karena dirimu!"


"Tolong berikan aku satu kesempatan lagi demi Kevin."


"Jangan berbohong! aku muak dengan semua kebohongan mu!"


"Tidak, aku hanya ingin Kevin bahagia, aku tidak ingin Kevin memperoleh sifat buruk dari Sena, aku tidak ingin Kevin tumbuh seperti orang yang dunia anggap ibunya, kamu ibu kandungnya dan kamu yang akan merawatnya."


"Tapi."


"Kamu percaya padaku kan?"


"Iya tapi jangan membuatku kecewa, aku itu denganmu hanya demi Kevin hanya itu saja!"


"Aku mengerti, aku akan memperbaiki semuanya."


....


Rumah Riko Amanda


Riko membawa Amanda yang pingsan kedalam kamar. Sena mengepalkan kedua tangannya, semua rencananya kacau.


"Sudah puas kamu sekarang?" ucap Arfan dengan nada sinis. Sena menatap tajam kerah Arfan.


"Itu bukan urusan mu, urus saja urusanmu!"


Sena langsung pergi kearah kamarnya. Arfan benar-benar tidak percaya ini semua terjadi, dirinya mengira semua akan baik-baik saja saat Rio membiarkan Angel menikah dengan orang lain.


"Rio dan Angel, semoga saja mereka baik-baik saja, sebaiknya aku menemui mama."


..


Rm. Erik Jihan


Angel mengetuk pintu rumah dengan harapan orang tuanya mau menerima dirinya dan keluarga kecilnya. Rio merasa ragu kalau kedua mertuanya ini akan menerimanya namun demi putra dan istrinya, Rio rela walau akan dimaki atau pun diperlakukan kasar toh ini semua buah dari kebodohannya selama ini.


Tidak ada reaksi dari dalam rumah, mungkin Erik dan juga Jihan sudah tidur namun anehnya lampu ruang tamu masih menyala.


"Ayah, Ibu tolong buka pintu ya, Angel mohon." Angel menunduk lesu, sepertinya amarah itu masih ada di hati kedua orang tuanya. Angel menoleh kearah Rio yang tengah membopong Kevin yang tengah tertidur.


"El, kita pergi saja yah? Kasihan Kevin, dia pasti kedinginan."


Angel melihat ke arah Kevin, hatinya sakit. Seharusnya sekarang Kevin tengah tertidur pulas di kasur empuknya sekarang.


"Kita mau pergi kemana? Ini sudah sangat larut dan disini tidak ada kendaraan yang mengantar kita."


"Seharusnya kamu tadi mendengarkan ku, kita sudah sampai apartemen."


"Kamu menyalahkan ku?"


Angel menatap dalam Rio. Perasaan Angel mengatakan bahwa sekarang Rio menyalahkannya atas semua yang telah terjadi namun Rio harus sadar diri bahwa dirinyalah yang memaksa Angel supaya ikut dengannya.


Rio tahu saat ini Angel merasa  dirinya tengah menyalahkan semua yang telah terjadi kepadanya.


"Bukan itu, aku hanya khawatir pada Kevin dan juga dirimu. Aku benar-benar tidak berguna saat ini, apa yang harus aku lakukan, El? Aku... Aku malu menatap matamu bahkan aku malu mengatakan kalau aku ayahnya Kevin."


"Ssssstttt kamu bilang apa? Jangan seperti ini, saat ini aku dan putra kita membutuhkanmu, jangan berpikir dirimu tidak berguna, kamu segalanya bagiku dan juga Kevin."


"Terima kasih.. eh?"


Seketika itu Kevin terbangun dan menangis dengan kencangnya, seakan ingin mengatakan bahwa dirinya tidak nyaman dengan udara malam yang sangat dingin ini, apa lagi Kevin masih bayi yang sangat rentan dengan penyakit.


"Sayang?"


Angel langsung menggantikan Rio membopong Kevin. Angel dan Rio tidak menyadari perubahan bibir Kevin yang membiru karena kedinginan. Malam ini terasa dingin dengan angin malam yang berhembus membawa kehampaan malam tanpa ada suara apapun hanya cahaya bulan yang bersinar terang.


"Ri, Kevin kenapa?"


...


Didalam rumah.


Jihan terus memohon kepada suaminya untuk membawa Angel pulang ke rumah.


"Tidak! Biar kan saja dia diluar!"


"Yah! Kamu tidak punya hati! Itu putri kita! Putri yang kita besarkan dengan nyawa kita!"


"Aku tidak perduli!"


Erik langsung melangkah meninggalkan Jihan. Jihan sangat tahu apa yang Angel rasakan sekarang. Jihan yang melahirkan Angel dan punya ikatan batin dengan Angel sangat merasa sedih terlebih dirinya juga merasakan perih yang sama, kemarahan yang sama, kebencian yang sama dan juga cinta yang tak direstui.


"Apa kamu tahu, bagaimana rasanya di usir oleh Ayahmu sendiri untuk orang yang kamu cintai?"


Mendengar ucapan Jihan, Erik langsung menghentikan langkahnya. Erik tahu Jihan tengah mengungkit masa yang kelam dan membuat kehidupan Jihan berubah 180 derajat dari kehidupannya dulu.


"Kamu pasti sudah lupa? Tapi aku masih ingat dengan jelas, seolah-olah itu baru kemarin."


Jihan mendongakkan kepalanya agar air matanya tidak terjatuh. Peristiwa itu tidak ingin ia sesali karena hatinya merasa bahagia dan merasa kedamaian yang mendalam.


"Kamu ingin menyampaikan apa? Jangan membuatku jadi orang yang paling jahat di dunia ini." Pinta Erik tanpa menoleh ke arah Jihan. Air mata Erik telah membasahi kedua pipinya namun suaranya tak terpengaruh sama sekali.


"Ini karma yang Tuhan berikan untuk kita, Tuhan ingin kita merasakan apa yang orang tua ku alami. Dulu kita tidak mendapatkan restu dari orang tuaku tapi kita tetap menikah dan sekarang putri kita menikah tanpa restu dari kita. Hah.. Hidup ini sungguh sangat lucu kan? Sekarang kita juga mengusir Angel dari rumah dan itu sama dengan yang aku alami dan sikap kamu juga sama seperti Ayahku." Jihan menghapus air matanya, didalam hati Jihan bertanya kepada penguasa takdir ini " mengapa harus putrinya yang menanggung semua dosa dari kesalahan yang dibuatnya". Erik mengepalkan kedua tangannya, ia masih bisa mendengar apa yang ayah mertuanya katakan dan juga fakta bahwa dirinya tidak mampu membahagiakan putri dan juga istrinya. Karena dirinya, putri kecilnya harus mengalami berbagai masalah dan beban hidup yang berat ini


"Ayahku punya satu putri lagi yang bisa menjadi obat kerinduan tapi aku? Aku hanya punya satu putri yang sendirian diluar sana, entah bagaiman kondisinya sekarang." Sambung Jihan lagi dan berbarengan dengan ketukan diptintu dan juga Suara Angel.


"Yah itu Angel, boleh yah Angel masuk?"


"Tidak!"


Erik tetap keras kepala membuat Jihan merasa kecewa, kalau tahu akan seperti ini waktu itu Jihan pasti sudah membawa Angel pergi dari rumah ini.


"Yah! Kenapa kamu keras kepala! Apa yang kita berikan kepadanya? Kita hanya memberinya luka, selama ini Angel menderita hidup dengan kita! Bahkan dia rela menjual dirinya hanya untuk menyelamatkanmu tapi kamu seolah tidak perduli!" Ucap Jihan dengan penuh emosi.


Saat Erik ingin menjawab Jihan, suara tangisan bayi terdengar dari luar.


"Itu?" Jihan mengira Angel datang dengan bayinya.


"Kamu suruh mereka masuk!" Ucap Erik yang langsung menuju ke kamar. Tanpa pikir panjang Jihan langsung menuju pintu rumah.


Jihan langsung membuka pintu dan mendapati Angel dengan bayi di kedua tangannya dan juga Rio.


"Ibu?"


"Kalian ayo masuk! Kasihan tuh nangis."


"Iya"


Angel langsung membawa Kevin masuk kedalam rumah namun Rio hanya terdiam. Yang di ajak masuk pasti hanya Angel dan Kevin.


"Loh kok malah bengong? Ayo masuk!"


"I..iya."


Dengan ragu Rio masuk kedalam rumah. Mereka menuju keruang tengah dan ternyata sudah ada kasur yang diletakan di lantai. Jihan sekarang tahu kenapa Erik tidak ikut ke depan, dia memindahkan kasur busa ke ruang tengah agar tidak sumpek bila di dalam kamar yang kecil.


"Anak kamu mungkin lapar, coba kamu susui."


Angel membaringkan Kevin ke kasur dan anehnya tangisan Kevin sedikit mereda, mungkin dia capek dibopong terus dari tadi.


Rio merasa tidak enak merepotkan keluarga Angel terlebih dirinya adalah sumber masalah di keluarga ini.


Jihan tersenyum sangat lebarnya melihat cucunya yang sangat menggemaskan. Kevin kini sudah lebih tenang dan sepertinya dia nyaman di rumah ini.


"Kakinya dingin banget, ibu akan ambil minyak kayu putih dikamar untuk bayimu. Ri, sebaiknya kamu berbaring di samping Kevin, biar Kevin merasa hangat." Suruh Jihan sebelum menuju ke kamar. Rio menuruti apa yang Jihan suruh.


Rio berbaring di samping Kevin yang sedang menyusu. Posisi tubuh Rio miring menghadap ke Angel dan si kecil diantara mereka. Rio membelai lembut kepala Kevin.


"Dia mirip sekali denganmu." Ucap Rio yang kini menatap ke arah Angel.


"Kamu baru menyadarinya?"


"Tidak, aku hanya baru mengucapkan kepadamu."


"Terserah kamu saja, dasar nyebelin!"


Rio tersenyum tipis, istrinya ini gampang sekali ngambeknya. Angel mengambil bantal yang ada di atas kepalanya untuk Rio.


"Nih pakai."


Rio hanya berdehem saja lalu memakai bantal yang Angel berikan. Rio terus memperhatikan Kevin yang tengah menghisap ASI, bayinya ini seakan tidak perduli dengan apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Sepertinya Kevin juga mewarisi sikap cuek Rio.


"Ri jangan!" Kesal Angel saat Rio tiba-tiba menciumi perut Kevin.


"Ri, nanti dia ngambek loh."


Rio mendengus kesal namun yang dikhawatirkan Angel tidak terjadi, Kevin masih asik menghisap nutrisi yang ia butuhkan.


Rio merasa kelopak matanya sangat berat serta rasa ngantuk ini membuatnya tidak menyadari kelopak matanya mulai menutup. Sekarang Rio benar-benar tertidur dengan nyenyak nya.


"Tuh, Papa kamu tidur dan kamu juga harus cepat tidur." Seakan mengerti bayi mungil ini mulai menutup kelopak matanya dan hisapan dari mulut kecilnya mulai melemah dan berhenti. Kevin kini tertidur seperti Rio. Angel tersenyum saat melihat wajah Rio dan Kevin ternyata sangat mirip saat tertidur.


..


Kamar Jihan Erik.


Erik tengah menghitung uang yang selama ini ia kumpulkan dan kehadiran Jihan yang tiba-tiba muncul di sampingnya membuatnya terkejut.


"Rio juga ikut dengan Angel."


"Aku tidak bertanya soal itu, aku akan keluar sebentar." Erik langsung berjalan meninggalkan Jihan.


"Kamu mau kemana? Kamu masih marah?"


"Disini tidak ada baju bayi, kamu mau cucu kita terlantar?" Erik kembali berjalan. Jihan tersenyum dengan manisnya.


"Ini yang aku mau, Rik. Aku mohon tetaplah seperti ini."


...


Erik berjalan melewati Angel tanpa menoleh sedikitpun. Angel langsung menyusul Erik, Angel tidak ingin Ayahnya membenci dirinya.


"Ayah mau kemana?" Cegah Angel langsung saat Erik akan meraih gagang pintu. Erik langsung menoleh kearah Angel.


"Sebaiknya kamu urus suami dan bayimu itu."


Angel menggeleng, Dirinya tidak mau Erik bersikap dingin kepadanya.


"Ayah, aku minta maaf."


"Semuanya sudah terjadi lalu harus apa? Jaga saja bayimu dan aku akan mengurus urusanku sendiri." Erik langsung keluar rumah meninggalkan Angel yang kedua matanya berkaca-kaca.


Jihan mendekati Angel dan Jihan juga melihat kepergian Erik.


"El, kamu juga harus istirahat." Ucap Jihan yang kini berada di samping Angel.


"Ayah, dia mau kemana?"


"Ayah kamu hanya keluar sebentar, tidak perlu khawatir, yah?" Jihan membelai puncak kepala Angel dengan penuh kasih sayang.


1 jam berlalu


Angel masih menunggu Erik pulang. Pandangan matanya terus melihat kearah luar. Angel baru bernapas lega saat melihat angkot memasuki halaman.


Angel mengerutkan keningnya saat melihat Erik membawa dua kantong plastik yang ukurannya besar.


"Ayah." Panggil Angel langsung saat Erik memasuki rumah. Erik terkejut melihat putri kecilnya yang kini sudah menjadi seorang istri dan juga seorang ibu masih menunggunya pulang.


"Kamu belum tidur? Kamu ini, jangan seperti ini! Kalau kamu sakit bagaimana? Siapa yang akan mengurus bayimu!" Omel Erik kepada Angel.


"Aku.... Aku... Apa Ayah membenciku?" Perkataan itu terlontar dengan jelasnya dari mulut Angel.


"Membencimu? Apa keadaan akan kembali seperti dulu kalau aku membencimu? Tidak, semua tidak akan sama seperti dulu dan aku harus belajar menerima kenyataan ini. Sebaiknya mulai sekarang kamu harus belajar untuk tidak mengambil keputusan sendiri dan kamu pasti sudah tahu apa akibatnya?"


"Iya, aku tahu Yah, bahkan aku sangat-sangat mengetahuinya."


"Sudahlah, aku tidak ingin membahas ini sebaiknya kamu tidur." Suruh Erik dengan nada dinginnya. Angel merasa dadanya semakin sesak, Angel ingin Erik seperti biasanya lagi tidak dingin seperti ini.


"Ayah masih marah kepadaku? Yah aku minta maaf, aku tidak ingin kehilangan Ayah. Aku juga selama ini tertekan dengan keadaan itu, aku tidak bahagia bahkan aku menyesali keputusan ku itu, setiap hari aku hanya bisa membayangkan kalian di dekatku bahkan aku pernah berpikir untuk menghilang saja dari dunia ini, aku sudah tidak sanggup lagi menjalani kehidupan ini, Ayah."


Erik menatap Angel dengan tatapan yang aneh. Angel menundukkan kepalanya, rasanya hidupnya akan berakhir jika Ayahnya tidak memaafkannya. Iya, ini memang kesalahannya sendiri namun ini semua hanya untuk menyelamatkan orang yang sangat berarti untuknya yaitu Erik, Ayah yang sangat Angel sayangi.


"El capek Yah, selama ini El sendirian dan tidak punya siapa-siapa untuk berbagi luka. Beban di pundak ini sudah cukup berat Yah dan ini semakin membuatku tidak bersemangat untuk hidup, El capek."


Erik langsung menarik putrinya ke pelukannya. Pelukan Erik membuat Angel merasa nyaman dan entah kenapa rasa sesak di dadanya mulai hilang.


"Sudahlah, kamu jangan seperti ini. Kamu sudah menjadi seorang ibu dan kamu harus bersikap dewasa"


Erik langsung mendongakkan dagu Angel supaya Angel melihat kerahnya. Senyum tipis dibibir Erik memberi "angin sejuk" untuk Angel.


"Kamu ini." Ucap Erik pelan lalu menghapus air mata Angel dengan lembutnya. Perlakuan ini malah membuat air mata Angel mengalir deras.


"Ayah maaf!" Angel langsung memeluk Erik dengan eratnya.


"Maaf El mengecewakan Ayah, El ngga tahu lagi harus apa! El hanya berpikir bagaimana cara untuk menyelamatkan Ayah, El tidak berpikir apa konsekuensinya. Ayah tolong maafin Angel." Pinta Angel yang sudah sangat lelah dengan permainan Tuhan ini.


"Kamu masih saja cengeng, jangan sampai cucuku mewarisi sifat mu itu." Perkataan itu membuat lekuk senyum kecil dibibir Angel.


"Sudah jangan banyak pikiran, kamu harus ganti popok.. umm siapa namanya?" Erik tidak tahu siapa nama cucu pertamanya.


"Kevin, namanya Kevin." Ucap Angel sembari melepas pelukannya.


"Aku kira dia anak perempuan." ucap Erik dengan nada tidak percaya, tadi saat dirinya pergi hanya melihat sekilas wajah cucunya yang mirip dengan Angel.


"Ayah ini, jangan bercanda."


"Sudah lah. Nih ganti popok Kevin, kasihan dia pasti sudah tidak nyaman." Ucap Erik sembari mengambil satu kantong plastik yang tergeletak di lantai lalu memberikannya ke Angel.


"Ayah? Ayah pergi untuk membeli ini?"


"Iya, Ayah memang kecewa dengan mu dan juga Rio, kamu tahu sendiri Rio selama ini membantuku, aku kira dia baik tapi ternyata dia merebut mu dari Ayah."


"Yah?"


Angel tidak ingin Erik membenci Ayah dari putranya, bagaimanapun Rio sudah membantu keluarga ini dan juga telah menyelamatkan nyawa Erik. Erik dapat melihat kecemasan di mata Angel, Erik merasa Angel takut dirinya akan membenci Rio.


"Apa Ayah membenci Rio? Yah, aku tahu Ayah pasti marah tapi Rio, dia rela meninggalkan semua kemewahan yang dia punya hanya untuk bersama ku dan putra ku, Dia bahkan meninggalkan orang tuanya sendiri."


"Apa? kamu.... kalau Rio meninggalkan mu bagaimana?"


Atmosfer yang tadinya sudah mulai membaik kini kembali lagi menegang dan penuh sesak. Rasa sesak kini kembali hinggap di dada Angel.


"Rio tega meninggalkan orang tuanya pasti dia akan sangat mudah meninggalkanmu."


"A...Ayah?"


"Buka matamu! apa dia benar-benar mencintaimu atau hanya mempermainkan mu?"


Angel mengepalkan kedua tangannya. Perasaan takut kini mulai menjalar kehati dan kepalanya. Angel takut Rio akan meninggalkan dirinya dan juga Kevin. Rio punya segalanya dan pastinya Rio tidak akan mungkin bisa bertahan di kehidupan yang sama dengan Angel yang serba sederhana.


"Apa kamu percaya dengan orang yang mempermainkan hidupmu? apa kamu masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kamu hanya istri simpanan?"


"....."


*********