
..
Angel masih menunggu Rio pulang ditaman samping yang dekat dengan halaman. Dinginnya malam tak ia hiraukan, entah sudah berapa jam yang telah ia lalui disini.
"Sebenarnya apa yang kamu mau, Ri? kamu meminta aku memakai cincin ini tapi ini buat apa? apa ini hanya pengikat agar aku tidak pergi darimu?"
Angel pov
Sampai kapan semua ini? aku lelah. Ri, kenapa kamu tidak terus terang saja kalau aku hanya sebagai cadangan saat Sena mengacuhkanmu. Apa aku ini hanya mainan bagimu? kemarin kamu bilang akan menceraikan Sena tapi sampai sekarang kamu tidak menceraikannnya malah kamu berpindah hati lagi keSena.
Ri, sebenarnya apa yang kamu mau? kamu ingin anakku tapi kenapa kamu juga mempermainkan hidupku. Aku hanya seorang lemah, aku bisa saja mengatakan kekeluargamu kalau aku ini istrimu dan tenggah mengandung anakmu tapi aku tidak bisa, aku tidak karena aku berpikir lagi apa mungkin keluargamu itu akan percaya kepadaku, mereka pasti berpikir aku hanya ingin uangmu saja.
Ri, aku mohon jangan mempermainkanku seperti ini, aku butuh kejelasan walau pun nantinya kamu bilang kalau aku hanya rahim penganti setidaknya aku tidak terlalu berharap.
Pov End
Arfan yang terbangun karena haus mengambil air minum didapur namun saat melihat keluar kaca jendela, dirinya melihat Angel yang duduk sendirian.
"Belum tidur? dasar anak itu"
Arfan langsung menuju Angel untuk menyuruhnya cepat tidur. Arfan merasa kasihan melihat Angel seperti ini, harusnya disaat seperti ini suaminya mendampinginya.
"Kamu belum tidur? ini sudah tengah malam loh"
Angel hanya menggeleng. Arfan duduk disamping Angel lalu melihat kearah wajah Angel. Lekuk senyum terlihat jelas dibibir Arfan.
"Tidur yah? kamu harus banyak istirahat biar ngga sakit, kasihan anak kamu"
"Aku bisa jaga diriku sendiri, sebaiknya kamu kembali kekamarmu"
"Kamu ini, dibaikin malah ngusir!"
Arfan langsung bangkit dari duduknya lalu tanpa permisi langsung mengangkat tubuh Angel.
"Arfan!"
"Aku antar kekamar"
"Iihhh.. turunin!" tolak Angel yang takut Rio pulang dan melihat ini. Arfan tidak memperdulikan penolakan Angel, walau Angel memukul-mukul dadanya.
"Stop! kalau bukan aku siap lagi yang memperhatikan kamu? aku ragu kamu itu keponakannya bi Inda, apa jangan-jangan kamu itu istri simpanannya Rio lagi"
"Kamu jangan ngacodeh!"
"Ceraikan saja suamimu itu dan menikah denganku" perkataan Arfan disambut pelototan mata Angel yang membuat Arfan nyengir kuda, ngeri juga melihat Angel murka seperti ini.
"Aku cuma bercanda, kalau kamu mau ya aku siap"
"Jangan kebanyakan menghayal dasar jomblo!"
"Idih, sewot neng?" ejek Arfan dan berhasil membuat Angel tersenyum.
"Nah, gitu dong dari tadi"
Sesampainya dikamar Angel. Arfan langsung membaringkan tubuh Angel. Arfan tidak langsung pergi, dirinya masih menemani Angel.
"Makasih, kamu boleh pergi"
"Kalau kamu tidur, aku baru pergi"
"Ya Sudah, kalau itu maumu"
Angel menarik selimut hingga menutupi seliruh tubuhnya. Arfan tersenyum tipis melihat tingkah Angel yang menurutnya lucu.
"Memangnya ngga pengap?"
"Diam! pergi sanah!" usir Angel namun Arfan tetap berdiri disamping tempat tidur Angel.
Angel memaksakan untuk tidur namun tidak bisa bahkan beberapa kali merubah posisi tidurnya, gelisah dan perut yang mengganjal ini sungguh membuatnya tidak bisa tidur, sedangkan yang membuat perutnya buncit pasti sudah tertidur nyenyak.
Arfan tahu dibalik selimut Angel tidak bisa tidur dan namanya juga Arfan yang suka usil ada saja ide untuk membuat Angel kesal kepadanya.
"Kenapa neng? ngga bisa tidur yah? mau dikelonin sama babang tamvan ini"
"Ck!"
Angel membuka selimut lalu menatap sebal keArfan. Sedangakan Arfan melihatkan senyum usilnya.
"Ih, sebaiknya kamu pergi sebelum ada yang melihat!" suruh Angel yang tidak ingin ada salah paham karena hal ini.
"Memangnya kenapa kalau ada yang melihat?"
"Kamu yah!"
"Ya aku tinggal bilang saja kalau aku ingin menjagamu, lagian kamu berada dirumahku sudah jadi tanggung jawabku menjagamu. Lagian itu perut juga udah buncit mana berani aku macam-macam denganmu"
Perkataan Arfan membuat Angel mendelik lalu melempar guling kearah Arfan.
"ARRFFFAANNN PERGI!" teriak Angel yang takut Arfan akan berbuat aneh-aneh kepadanya.
"Iya.. iya!!"
Arfan yang sudah puas mengerjai Angel langsung menurut.
"Kakak sama Adek sama-sama nyebelin!" Dengus Angel.
...
Rumah Jihan dan Erik
01:00
Jihan tengah melamun didekat jendela kamar dengan tatapan kosong. Erik memasuki kamar dengan membawa sepiring nasi untuk Jihan sebab Jihan belum makan dari tadi pagi bahkan Jihan sudah sebulan ini tidur dan makannya kuarang teratur.
"Sayang makan dulu yah?" pinta Erik yang sudah sangat cemas dengan kondisi Jihan. Warung makan yang Jihan punya juga sudah dua minggu ini tutup dan Erik pun tidak narik angkot sebab khawatir dengan kondisi Jihan.
Jihan menoleh kearah Erik. Melihat Erik yang tersenyum kearahnya membuat air mata Jihan turun membasahi pipi. Erik dengan lembutnya menghapus air mata Jihan.
Senyuman Erik membuat Jihan semakin berat untuk mengakhiri pernikahan ini.
"Kok nangis?"
"Erik, aku"
"Sudahlah, mingkin ini cara yang terbaik untuk membawa Angel pulang"
"Tapi ini tidak adil! ayahku benar-benar keterlaluan!"
"Sayang, aku tidak mau kamu sedih setiap hari memikirkan Angel. Aku sudah menjauhkanmu dengan Ayahmu dan aku tidak ingin menjauhkanmu dengan putrimu, putri kita yang sangat kita cintai"
"Tapi kenapa Ayah sampai detik ini tidak merestui pernikahan kita? ini sudah sangat lama, Rik! Aku benci Ayah!"
"Hey, kok gitu"
Erik menarik Jihan dalam pelukannya. Erik sendiri juga tidak ingin perpisah dari Jihan sebab ia sangat mencintai belahan jiwanya namaun ini harus ia terima agar putri tercintanya bisa bertemu lagi dengan ibunya.
"Jihan, aku minta maaf belum bisa membahagiakanmu, padahal kamu dulu memiliki semua kemewahan itu dan Angel, aku tidak pantas dipanggil Ayah. Aku gagal jadi Suami dan Ayah yang baik untuk kalian"
Erik mengecup puncak kepala Jihan dengan penuh kasih sayang, melepas orang yang sangat ia cintai sungguh sangat berat.
"Dimataku kamu suami yang sangat sempurna, Angel juga pastinya sangat menyayangimu"
Semua ini berawal dari satu bulan yang lalu.
Didepan resto Lux. Jihan tengah menunggu Erik menjemputnya. Ditangan Jihan membawa sekantong penuh sayuran untuk warung.
"Kenapa lama yah? apa macet"
Jihan yang tengah melihat kanan kiri jalan untuk melihat apa angkot yang Erik kendarai sudah datanga atau belum namun saat melihat disamping kirinya ia melihat seorang yang sangat ia rindukan keluar dari dalam restoran bersama seorang perempuan yang sangat ia kenal walau sudah cukup lama.
"Ayah?"
Jihan tidak menyangka bisa melihat Ayahnya lagi dan juga adik perempuannya. Kedua kaki Jihan berjalan menghampiri kedua orang yang terlihat sangat formal dengan busan yang mereka kenakan.
"Ayah"
Laki-laki yang ingin memasuki mobil langsung mengurungkan niatnya. Ia menoleh kearah Jihan. Perempuan yang bersamanya terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kamu siapa?" tanya laki-laki itu dengan nada yang terdengar tidak suka membuat mata Jihan memanas.
"Ayah, itu--" Saat perempuan disebelahnya ingin bicara, laki-laki ini mengangkat tangan kananya seolah-olah menyuruhnya berhenti bicara.
"Ini Jihan, Yah"
"Aku tidak punya anak bernama Jihan, bagiku Jihan telah meninggal" ucapnya datar lalu masuk kedalam mobil.
"Kak"
"Jina, ayo pulang!"
"Tapi Yah, kakak?"
"Masuk!"
"Kak, maaf"
"Tidak apa-apa"
Perempuan itu pun masuk kedalam mobil. Mobil itu pun melaju pergi.
Jihan menjatuhkan kantong plastik yang ia bawa. Air matanya kini mengalir deras dipipinya, dianggap sudah meninggal oleh ayah kandungnya sendiri itu sangat menyakitkan.
"kamu kenapa?" tanya Erik yang berada dibelakan Jihan. Jihan buru-buru menghapus air matanya, ia langsung menoleh kerah Erik. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kesedihannya.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa lelah"
"Kita pulang saja, hari ini kamu jangan buka warung dulu"
"Iya"
..
Erik bingung kenapa Jihan jadi murung seperti ini padahal saat berangkat tadi istrinya ini sangat ceria seperti biasanya.
"Kamu beneran tidak apa-apa?"
"Memangnya aku kenapa? aku kan punya kamu"
Jihan tersenyum sangat manis kearah Erik namun Erik tahu Jihan menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
"Aku suami kamu, sudah lama kita menikah dan aku tahu sekarang kamu tidak baik-baik saja"
Jihan diam dan menatap dalam Erik membuat Erik semakin bingung. Jihan langsung memeluk Erik lalu terisak.
"Sayang kenapa?"
"Ta..tadi.. hikss...hikss"
"Kenapa? jangan membuatku bingung"
"Tadi aku ketemu Ayah"
"Apa?"
Erik melepas pelukan Jihan. Erik terkejut mendengar ucapan Jihan dan dirinya tahu apa yang tengah istrinya hadapi sekarang.
"Sayang"
"Di.. dia tidak menganggapku anaknya lagi. Ayah menganggapku sudah tiada"
Jihan kembali terisak. Rasa sakit didadanya ini sangat menyakitkan. Setelah menikah dengan Erik, dirinya tidak lagi melihat Keluarganya. Pernikahan ini terjadi tanpa ada restu dari orang tua Jihan. Ayah Jihan sangat menentang Jihan menikah dengan anak petani yang serba kekurangan.
Dulu Jihan dan Erik semasa mudanya tinggal didaerah sekitaran kota Bandung. Daerah yang sangat sejuk dan juga asri.
Jihan sangat mencintai Erik hingga dia rela meninggalkan kehidupannya yang mewah demi kebahagiaannya.
"Sayang, maafkan aku ini semua salahku"
Erik menghapus air mata Jihan namun dirinya juga meneteskan air mata.
"Ngga, Rik. Aku bahagia denganmu"
Jihan menghapus air mata Erik dengan senyuman dibibirnya. Erik merasa dirinya orang yang paling beruntung mrmiliki istri seperti Jihan.
"Kamu belum makan yah?"
Erik menggeleng. Dirinya hanya ingin makan jika Jihan makan bersamanya.
"Ya sudah, ayo"
...
keesokan harinya
Jihan tengah berjalan menuju warungnya namun saat ia ingin menyebrang jalan, sebuah mobil hitam berhenti didepanya. Seorang keluar dari dalamnya.
"Jina?"
"Kak Jihan!"
Jina terlihat sangat senang lalu memeluk Jihan dengan eratnya begitu juga dengan Jihan.
"Kak, Jina kangen banget sama kakak"
"Kakak juga"
Jina melepas pelukannya begitu juga dengan Jihan. Keduanya sangat senang bertemu kembali setelah sekian lama.
"Kak, Ayah ingin bertemu"
"Tapi"
"Kakak, ayo ikut! Ayah tengah menunggu. Kakak tahu sendiri Ayah giman kalau marah?"
"Ya sudah, ayo"
..
Restoran Lux
Jihan namapak ragu menghampiri laki-laki yang rambutnya sudah mulai memutih.
"Duduk!" suruhnya dengan nada dingin. Jihan pun menurut. Jihan duduk berhadapan dengan Ayahnya.
"Ayah"
"Lihat penampilanmu itu? sudah sangat lusu padahal dulu Ayah selalu memberikan yang terbaik untukmu tapi kamu malah meninggalkan Ayah hanya untuk bersama orang yang kamu cintai itu"
"Dimana cucuku?"
"Buat apa Ayah menanyakan itu? Ayah tidak perdulikan"
"Kamu yang tidak perduli dengan keluargamu, kamu pergi begitu saja dan tidak mendengarkan nasehatku"
"Jihan sudah capek terus diatur Ayah, Jihan hanya ingin bersama orang yang Jihan cintai"
"Cinta? apa kamu kenyang makan cinta? apa yang telah Erik berikan kepadamu? apa yang kalian berikan kecucuku?"
"Kasih sayang dan perhatian"
"Ck! mau sampai kapan kamu mau hidup menderita seperti ini?"
Jihan menatap Ayahnya dengan penuh amarah. Jihan marah Ayahnya ini tidak pernah berubah.
"Jihan bahagia dengan hidup Jihan sekarang!"
"Terserahmu tapi bagaimana dengan anakmu? apa dia bahagia hidup seba kekurangan seperti ini? apa kamu tidak kasihan kepadanya?"
Jihan terdiam. Dirinya teringat akan Angel yang tengah berkerja untuk melunasi semua hutang itu. Ayah Jihan tersenyum miring, melihat Jihan yang seperti ini berarti ada kemungkinan cucunya tidak bahagia. Jihan menundukan kepalanya.
"Kenapa kamu diam?"
"Yah"
"Katakan, kamu mau apa dariku sebelum aku kembali keSingapura"
Jihan menatap Ayahnya dengan tatapan penuh harapan.
"Katakan kamu mau apa?"
"Aku"
Jihan bingung memulainya dari mana. Jihan takut Ayahnya ini akan marah dan mengambil Angel dari dirinya tapi Jihan berpikir lagi hanya Ayahnya yang dapat membantunya walau pun nantinya Angel akan ikut bersama kakeknya dan pergi meninggalkannya setidaknya kehidupannya akan lebih baik dari saat ini.
"Jihan butuh uang, Yah"
Ayah Jihan tertawa dengan renyahnya. Dirinya juga bisa menebak akan hal ini terlebih menantu yang tidak dianggapnya itu tidak akan pernah bisa memberi seperti yang dirinya berikan untuk Jihan.
"Berapa yang kamu minta? sebutkan saja, Ayah akan memberikannya"
"Jihan tidak tahu pastinya berapa tapi yang jelas Jihan butuh uang yang banyak"
"Untuk apa, uang itu?"
"Melunasi hutang Jihan, Sekarang cucu Ayah tengah berkerja dirumah orang yang meminjamkan uangnya kepadaku"
Mendengar itu raut wajah marah dari Ayah Jihan terlihat sangat jelas. Kebenciannya kepada Erik kini jauh lebih besar saat mendengar cucu yang belum pernah ia lihat harus berkerja untuk melunasi hutang.
"Ck, sudah Ayah bilang, jangan menikah dengan orang itu!"
"Yah! jangan ungkit masalalu lagi, ayah mau atau tidak membantuku?"
Ayah Jihan menghela napas beratnya. Dia ingin sekali membawa Jihan dan cucunya pergi bersamanya namun harus dengan cara seperti apa terlebih Jihan sangat mencintai Erik. Ayah Jihan memeras otaknya agar menemukan jalan yang akan mengutuhkan lagi keluarganya.
"Ayah akan membantumu asal" Ayah Jihan menggangungkan ucapannya.
"Asal apa?"
"Asal kamu harus memilih satu dari pilihan ini. Yang pertama kamu dan anakmu harus tinggal bersamaku, tinggalkan Erik dan Yang kedua kamu tetap bersama Erik tapi aku akan membawa cucuku pulang"
"Apa? Ayah"
Jihan sungguh tidak percaya dengan apa yang Ayahnya katakan. Kedua pilihan itu sangat sulit dan keduanya sangat berarti untuk dirinya.
"Melihat diammu ini, Ayah menduga kalau kamu pasti akan memilih pilihan yang kedua sebab kamu sangat mencintai suamimu itu jadi berikan alamat orang itu dan hari ini juga aku akan membawa cucuku pulang"
"Jihan perlu waktu untuk memikirkannya terlebih Jihan tidak tahu alamat orang itu"
"Baiklah, kalau itu maumu. Kabari Jina"
"Iya"
Jihan pergi dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Kilas balik selesai<<<<
Erik dengan penuh keabaran menyuapi Jihan. Erik merasa sangat berat bila berpisah dengan bidadari yang selama ini menemaninya tapi apa boleh buat hanya ini yang mampu ia lakukan.
"Makan yang banyak, aku tidak ingin kamu sakit" suruh Erik dengan lembutnya. Dilubuk hati Jihan merasa ini sangat menyakitkan dan membuatnya seolah-olah kehilangan arah, lebih dari 20 tahu bersama melewati pahit manisnya kehidupan harus berpisah karena restu yang belum juga didapat.
"Kamu jaga diri kamu yah, bangun jangan kesiangan. Kamu harus bisa mengurus diri kamu sebdiri tanpa aku"
"Iya sayang, kamu juga. Jaga diri kamu dan juga putri kita"
"Rik, aku masih belum bisa menerima ini semua"
"Aku juga tapi kita harus, kita tidak boleh egois, ada Angel yang harus kita jaga"
"Iya, tapi Rio. Kita tida tahu dimana alamat rumahnya dan Angel, sudah lama kita tidak bertukar kabar dengannya, semoga El baik-baik saja"
"Iya sayang"
Drrtt...Drttt...
Sura dering ponsel Erik memecahkan suasana yang sendu ini.
"Papa?" Erik terkejut melihat siapa yang menghubunginya. Erik pun langsung mengangkat sambungan telefon itu.
"Pake pengeras suara, aku ingin mendengarnya"
Erik menganggukkan kepalanya.
"Erik"
"Iya, Pa. Kenapa?"
"Kamu ingin bercerai dengan Jihan?"
"Iya Pa"
"Sebenarnya apa yang terjadi? apa yang kalian sembunyikan, cepat jawab! aku ingin mendengarnya"
Suara orang parubaya ini terdengar cemas dan ada sedikit kemarahan didalamnya.
"Tidak ada apa-apa kok, Pa"
"Kalau tidak kenapa kalian bercerai? Papa sangat tahu kalian saling mencintai dan kalian tidak ingin merepotkanku tapi untuk kali ini, jawab jujur pertanyaan Papa"
Erik dan Jihan saling berpandangan. Jihan mengangguk, seolah-olah menyuruh Erik menceritaakn semua kePapanya.
"Semua ini salah Erik, Pa"
"Kamu bilang apa sih? nggak Pa, ini salah Jihan"
"Kalian berdua ini, tolong yang jelas! lagian kalian sudah punya anak yang sebentar lagi akan menikah dan kalian tidak pernah dewasa. Sudah lupakan saja! sekarang kalian jawab kenapa kalian bercerai, apa?.... Jihan, Ayahmu masih tidak merestui pernikahan ini?"
"I..iya, Pa"
"Pastinya kamu sudah capek hidup miskin yah bersama putaraku?"
Pertanyaan itu menohok hati Jihan yang tergores. Jihan beranjak dari tempatnya duduk menjauhi Etik. Jihan menangis tanpa suara. Bukan ini alasan dirinya bercerai.
"Bukan itu Pa, Jihan bahakan dia tidak mau bercerai denganku. Hanya keadaan yang memaksa kita untuk bercerai"
"Keadaan?"
"Dua tahun lalu Erik masuk rumah sakita dan jantungku harus dioprasai"
"Apa? kenapa kamu tidak menceritakannya kepadaku!" suara orang disebrang sana terdengar sangat marah.
"Aku tidak ingin merepotkan Papa untuk kesekian kalinya"
"Seharusnya kamu tidak berpikiran seperti itu, apa Ayahnya Jihan yang membayar oprasimu?"
"Tidak Pa, Jihan baru bertemu Ayahnya sebulan yang lalu. Biyaya oprasi ini, El yang mencari uangnya, dia dapat pinjaman dari orang yang baik hati dan sebagai gantinya El harus berkerja dirumah itu tapi Erik tidak tahu El hadus bekerja sampai kapan dirumah itu terlebih uang yang harus dikembalikan cukup banyak"
"Bisa Papa tebak pasti Ayah Jihan akan membantu asal kamu dan Jihan bercerai? benar begitu?"
"Iya Pa, hanya ini yang dapat Erik lakukan"
"Panggil Jihan"
"Iya... sayang, Papa ingin bicara"
Jihan menghapus air matanya lalu menghampiri Erik.
"Pa"
"Nak Jihan, kamu masih mencintai putraku?"
"Iya Pa"
"Rik, kalu Papa jual seluruh ladang Papa apakah cukup untuk melunasinya?"
"Pa?"
Keduanya terkejut mendengar perkataan Papa Erik. Jihan tidak mau Ayah mertuanya menjual apa yang dimilikinya hanya untuknya.
Erik menatap Jihan. Jihan menggeleng dengan pasti terlebih bukan Erik saja anaknya dan ada dua lagi saudara Erik yang mungkin akan merasa iri daj menambah masalah.
"Jihan tidak mau, Pa"
"Aku tanya sama kamu bukan istrimu, Istrimu itu tidak ingin merepotkan siapapun"
"Pa, dengarkan Jihan, anak Papa bukan cuma Erik dan mereka juga pastinya sangat membutuhkan ladang itu untuk menghidupi keluarga mereka. Kita tidak mau menambah masalah lagi. Jihan mau Papa dan yang lainnya tidak usah memikirkan masalah kami toh aku akan pulang kekeluargaku sendiri"
"Jihan, aku juga Papamu, aku tidak mau kamu sedih seperti ini. Walau pun Erik terkesan biasa saja namun dia tidak bisa hidup bersamamu. Erik tidak mau kamu tambah sedih"
Jihan menatap Erik yang tersenyum tipis kepadanya.
"Pa, Erik tidak apa-apa. Dulu Erik memisahkan Jihan dengan keluarganya dan sekarang Erik tidak mau memisahkan ibu dengan Anaknya. Sudah yah, Pa? ini sudah larut"
"Baiklah, toh kalian pisah dengan baik-baik"
"Iya, selamat malam, Pa"
..
Jihan tengah menyandarkan kepalanya didada Erik, mendengarkan setiap detak jantunh Erik. Mereka berdua tidak ingin menyianyiakan waktu yang sangat berharga ini, setiap detik yang terlewat ini akan menjadi kenangan terindah.
"Hey, aku sangat mencintaimu, bidadariku. Maaf aku belum bisa membahagiakanmu malah aku selalu merepotkanmu"
"Kata siapa? aku senang bisa bersamamu, terima kasih untuk semuanya. Semua yang kita lalu sangat indahkan?"
"Iya terlebih saat kamu ngidam minta mangga muda ditengah malam dan diladang tidak ada pohon mangga, untung tetangga ada yang punya kalau tidak kamu pasti akan uring-uringan sampai pagi"
"Ya, untung saja kalau tidak bayiku akan ileran...Haahh.. Waktu terasa sangat cepat yah? serasa baru kemarin aku mengandung El, aku masih bisa membayangkan saat dia bergerak dirahimku"
"Kalau aku sih, masih teringat saat El baru numbuh gigi dan menggigit bahuku"
"Kamu juga sih, sedang asik main malah dibopong, ngambekkan jadinya"
Keduanya terdiam mengulang lagi kenangan yang telah berlalu.
"Sampai kapan pun, kamu tidak akan tergantikan. Kamu istriku satu satunya dan akan terus kamu dihatiku. Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikanmu. Sayangku" ucap Erik dengan tulus dari lubuk hati terdalamnya.
"Aku tahu dan aku pun sama tapi aku takut jika nanti Ayah memaksa ku untuk menikah lagi. Aku tidak mau! lebih baik kalau aku tidak lagi didunia ini"
"Jangan berkata seperti itu, Angel masih sangat membutuhkanmu"
"Dia juga membutuhkanmu, kenapa Ayah tega melakukan ini semua?"
"Walau seperti itu, dia tetaplah Ayahmu dan kakeknya Angel. Kita sudah banyak merepotkan putri kita terlebih selama ini kita menjauhkan dia dari keluarga yang belum ia lihat bahkan sekarang dia harus berkerja demi kita"
"Kita gagal jadi orang tua yang baik untuk Angel. Mungkin kalau dia bersama Ayah, hidupnya akan lebih baik. Pasti Ayah akan menguliahkanya seperti yang dia inginkan"
Erik memeluk Jihan dengan erat, seerat yang ia bisa. Erik terlihat tabah tapi dibalik senyumannya ini hatinya menangis bahakan rasanya sudah mati. Dirinya sudah sangat terbisa dengan kehadiran Jihan dan besok dirinya akan hidup sendiri tanpa kedua orang yang sangat ia cintai, membayangkan saja sudah sangat menyakitkan apalagi menjalaninya.
"Jihan, aku tidak bisa hidup tanpamu" bisik Erik.
"Kamu harus bisa menjalaninya. Kita harus bisa demi malaikat kita"
"Angel akan menerima ini semua atau tidak?" Jihan takut Angel akan merasa sedih berpisah dengan Ayah yang sangat ia sayangi terlebih dirinya sudah merasakan kesedihan itu semua. Jauh dari keluarga yang membesarkan dan mencintai sepenuh hatinya.
"Entahlah yang jelas ini yang terbaik untuknya"
"Aku takut Angel sedih, aku ingin dia tersenyum seperti dulu lagi. Aku merindukannya"
"Kita merindukannya"
..
Rumah Sifa dan Deren.
"....... Lukamu ini"
Sena langsung membenamkan tubuhnya diselimut. Sena menggigit bibir bawahnya, dia tidak ingin berpisah dengan Rio namun Rio sudah tidak mencintainya lagi jadi buat apa dirinya mempertahankan rumah tangga ini.
Rio semakin merasa bersalah kepada Sena dan juga Angel. Sebagai suami dirinya merasa tidak punya pendirian, ketegasan dan juga kemampuan untuk memecahkan masalah ini. Rio tidak ingin menambah luka lagi dihati Sena maupun Angel. Rio menghela napas beratnya, keluh kesah dihatinya dan peryanyaan ia tunjukan kepada Tuhan yang telah memberinya kehidupan dan juga cobaan hidup yang sangat berat.
"Sena, kamu belum makan dari tadi pagi sekarang kamu makan yah?"
Sena tidak menjawab. Apa Sena sudah tertidur?.
"Sayang, aku tahu kamu belum tidur"
"Pergilah!" usir Sena dari balik selimut. Sena sudah sangat muak mendengar suara Rio yang membuat dadanya semakin sesak.
"Tapi?"
"Cepat pergi!"
"Ya sudah kalau itu maumu"
Rio bangkit dari duduknya, berjalan keluar kamar. Sena terisak saat mendengar suara pintu ditutup.
"Aku tidak mau berpisah denganmu, Ri! kenapa kamu mencintai perempuan itu? apa karena dia bisa memberimu keturunan? aku pikir kamu cinta sejatiku dan tidak akan meninggalkanku bahkamu sendiri yang bilang. Kenapa semua ini tidak seperti yang aku inginkan, aku ingin semua ini seperti perjanjian diawal. Semua karena jal*ng itu! harusnya dia sadar dirinya itu siapa! berani-beraninya dia merebut suamiku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu, dasar pelakor"
Sena yang merasa lelah dengan semua ini perlahan memejamkan matanya, berharap besok ia terbangun dengan harapan baru.
...***...***...