
...
Pemakaman umum.
Sinar mentari mulai memudarkan sinarnya, berganti sinar rembulan. Malam ini akan terasa sangat dingin dan penuh dengan kehampaan.
Deren terduduk di samping Sena yang kini tengah memeluk makam Sifa. Di pemakaman Sifa hanya Angel saja yang tidak ikut karena harus menjaga Kevin. Jihan dan Amanda sangat terguncang dengan kenyataan ini, pasti sangat berat untuk Sena dan juga Deren. Semalam masih bersama namun sekarang terpisah sangat jauh dan tidak akan pernah bertemu lagi.
"Ri, ajak Sena pulang." suruh Amanda. Rio mengangguk pelan lalu menghampiri Sena.
"Sayang, ayo pulang." ajak Rio dengan lembutnya namun Sena tidak merespon. Sena ingin tetap berada didekat Sifa.
"Pa?" Rio menatap Deren seolah ingin Deren yang membujuk Sena. Deren mengangguk pelan lalu mengelus puncak kepala Sena.
"Sena sayang, ayo pulang. Sudah gelap?"
"Mau disini saja, temani mama. Kasihan mama sendirian Pa, di dalam sana pasti gelap dan dingin."
Sena tetap tidak mau pulang. Baik Rio dan Deren tidak mungkin memaksa Sena pulang. Disaat seperti ini mereka tidak boleh membentak atau pun memaksa Sena. Keadaan ini sangatlah membuat Sena terluka.
Amanda mendekati Rio. Amanda menyentuh pundak Rio membuat Rio menoleh.
"Biar mama saja."
"Iya." Rio bangkit dan posisi Rio kini di ganti Amanda. Deren berharap Sena mendengar ucapan Amanda.
"Sayang, kamu jangan seperti ini. Kasihan mama kamu, nanti dia sedih loh."
Amanda mengelus kepala Sena. Sena masih terisak, kenyataan ini sangat menyakitkan baru kemarin dirinya merasakan hangatnya keluarga sekarang kehangatan itu telah berubah jadi air mata perpisahan.
"Sayang, mama kamu sudah tenang di surga, dia hanya butuh doa darimu bukan air mata. Pulang yah? kasihan papa kamu juga, dia pasti juga sedih dan lelah. Mama mohon." sambung Amanda lagi. Sena terdiam dan mulai melepaskan pelukannya dari pusaran makam Sifa.
"Ayo." ajak Amanda. Sena mengangguk pelan. Amanda membatu Sena berdiri. Mereka mulai melangkah pergi kecuali Deren yang masih melamun melihat ketiga makam orang yang ia sayangi.
"Aku memang tidak berguna."
.....
Rumah Riko.
Rumah ini terasa sangat hampa, semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Kenyataan ini menunjukan bahwa waktu yang berlalu dapat mengubah segalanya dan merebut apa yang kita sayangi.Riko meminta Deren dan Sena untuk kerumahnya dan menginap disini untuk beberapa hari. Riko hanya ingin Sena mendapat perhatian dari keluarganya dan tidak merasa sendiri.
"Sebaiknya kamu istirahat, ini hari yang melelahkan." suruh Riko kepada Deren.
"Aku khawatir dengan Sena, ini sangat menyakitkan."
"Aku tahu, ini sulit tapi ini sudah kehendak Tuhan. Kamu harus tetap sehat dan memberikan semangat untuk Sena, kami hanya bisa membantu sebisa kami, hanya kamu yang sangat memahami putrimu sendiri."
"Dia lebih dekat Sifa bahkan sifatnya menurun ke Sena. Aku meminta maaf atas nama Sifa, aku tahu dia sangat egois dan seenaknya."
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi itu sudah berlalu."
Kedua orang ini kembali dengan pikiran masing-masing hingga suara pintu dibuka membuyarkan lamunan mereka. Ternyata itu Arfan dengan koper yang ia bawa. Arfan dari kemarin ditugaskan keluar kota untuk menyelesaikan urusan dengan rekan kerja oleh Riko. Arfan merasa ada yang aneh di rumah ini, seperti ada sesuatu yang telah terjadi.
"Arfan?"
"Ini ada apa? kenapa kalian memakai baju berwarna hitam seperti itu?" tanya Arfan heran.
"Sena kehilangan orang yang melahirkannya " ucap Riko seadanya.
"Apa?" Arfan terkejut mendengarnya dan bagaimana mungkin Sifa meninggal padahal semalam Rio mengeluh akan sifatnya ditelepon.
"Sayang kamu sudah pulang?" ucap Amanda yang merasa lega putranya telah pulang, jujur karena kejadian yang menimpa Sifa membuat Amanda cemas terlebih Arfan menyetir mobil sendiri.
"Kenapa tidak ada yang memberitahukan ku?"
"Papa tidak ingin menggangu mu, Papa tahu kamu sedang dalam perjalanan pulang."
Arfan hanya membulatkan bibirnya lalu berjalan masuk, menuju kamarnya. Hari ini sangat melelahkan untuk dirinya dan di tambah dengan hal ini. Amanda khawatir dengan keadaan Sena yang murung seperti itu, tadi Amanda ke kamar Sena dan membujuknya untuk makan namun dia tidak mau.
"Sebaiknya kalian makan dulu nanti lauknya dingin." Suruh Jihan yang baru selesai memasak.
"Maaf kami merepotkan mu." serah Riko yang tidak enak hati merepotkan Jihan dan juga Erik.
"Tidak apa, lagian itu hobi ku." ucap Jihan seadanya dan membuat ketiga orang ini tersenyum.
"Apa Sena masih murung?" tanya Jihan, lebih tepatnya ke pada Amanda. Amanda hanya mengangguk pelan.
Kamar Angel.
Angel menghela napasnya, punggungnya terasa sangat pegal. Sudah lumayan lama Kevin menyusu namun sepertinya perut kecil Kevin masih belum kenyang.
"Sayang sudah yah?" ucap Angel sembari menoel tepi bibir Kevin.
Rio keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang masih ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
"Dia masih menyusu?" tanya Rio heran.
"Iya, mungkin ASI ku sudah mulai berkurang "
Rio lantas naik ketempat tidur untuk menggoda Kevin. Dengan usilnya Rio menciumi perut Kevin yang masih menyusu dan itu membuat Angel kesal.
"Rio!" greget Angel. Kevin yang terganggu mulai merengek kesal namun Rio tidak perduli hingga keusilan Rio berhenti saat Kevin menangis
"Tuh kan." serah Angel yang langsung membopong tubuh mungil Kevin.
"Maaf." ucap Rio seadanya bersamaan dengan itu Jihan memasuki kamar dengan membawa sepiring nasi untuk Angel.
"Cucu mama kenapa menangis?" tanya Jihan yang mendengar suara tangisan Kevin yang terdengar kesal.
"Diledekin Papanya." ucap Angel sembari menatap kesal ke Rio. Jihan hanya tersenyum tipis.
"Abisnya lucu." ucap Rio membela diri.
"Sudah-sudah, Ri sebaiknya kamu makan dulu gih! Papa sama mama kamu sudah menunggu mu untuk makan bersama, nanti gantian jaga Kevin lagian istri kamu belum mandi tuh dari pagi." ucap Jihan sembari menunjuk Angel dengan dagunya.
"Ih.. Ibu kok di bilangin sih!" kesal Angel yang memang seharian tidak mandi.
"Patas saja kamu bau asam!" ledek Rio yang langsung mengambil langkah seribu. Angel hanya bisa mengerutkan dagunya.
"Ayo makan, Kevin juga sudah tidak ngambek lagi."
"Iya."
Jihan menyuapi Angel dengan penuh kasih sayang. Jihan merasa pertumbuhan Angel sangatlah cepat, serasa baru kemarin dirinya mengajari Angel untuk berbicara sekarang dirinya sudah menjadi seorang ibu dari malaikat kecil yang sangat tampan.
"Habiskan makannya, El nanti ibu mau nyuapin Sena juga, apa kamu keberatan?"
"Tidak, aku paham. Sena pasti sangat kehilangan."
"Iya, saat di pemakaman Sena terus menangis."
Angel sangat mengerti bagiamana perasan Sena. Rasa sakit kehilangan orang yang sangat di sayangi dan menerima kenyataan yang sepahit ini sangat menyiksa, seolah-olah dunia meninggal kan kita sendiri di gelapnya ruang hampa.
"Ya Sudah, Ibu ke Sena saja."
"Nanti setelah kamu menghabiskan nasi di piring mu dan Rio juga belum kembali."
.... Kamar Sena....
Air mata Sena terasa mengering, hatinya hancur dan sekarang dirinya merasa sangat kesepian walau dirinya tahu Sifa bukan ibu kandungnya dan berusaha untuk menghancurkan kebahagiaannya.
Sena mendengar ketukan dari arah pintu namun dia tidak memperdulikannya dan tak lama terdengar suara pintu dibuka seseorang.
"Kamu belum mandi?" tanya Jihan yang memasuki kamar Sena.
Sena hanya menoleh sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. Jihan tersenyum tipis lalu berjalan menghampiri Sena. Jihan duduk di samping Sena. Jihan masih ingat betul apa yang Sifa minta kepadanya dan Jihan merasa seorang ibu memiliki insting yang kuat, Sifa seakan tahu kematiannya sudah dekat hingga Sifa mengatakan dan meminta semua itu kepadanya.
Sena terkejut dengan apa yang dilakukan Jihan kepadanya. Jihan membelai lembut puncak kepala Sena membuat Sena menatap dirinya dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
"Kenapa kamu baik kepada ku?"
"Karena aku seorang ibu dan aku diminta oleh ibumu untuk menjagamu serta menyayangi mu seperti putriku sendiri."
"Kamu jangan berbohong, dia tidak perduli kepadaku!"
Jihan tersenyum tipis mendengar ucapan Sena. Jihan membelai lembut kepala Sena sembari berucap.
"Dia sangat perduli padamu, semalam dia memintaku untuk menjagamu seakan dia tahu hal ini akan terjadi. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu masa depan, kita hanya dapat merencanakannya saja dan Tuhanlah yang memiliki kehidupan kita. Dia yang mengatur segalanya."
"Tapi kenapa Tuhan tidak menyayangi ku? Dia merenggut kebahagiaan ku lewat putrimu."
"Sena, ini sudah kehendaknya. Rio tidak menceraikan mu dan kamu masih memiliki hak mu sebagai seorang istri. Rio pasti akan adil pada kalian."
"Ngga, Rio tidak mungkin adil. Angel melahirkan anak untuknya, sedangkan aku? aku tidak bisa memberikannya keturunan."
"Jangan berkata seperti itu, kamu masih muda dan tetap percaya pada dirimu. Tuhan mungkin belum memberimu kepercayaan untuk merawat seorang bayi tapi percayalah, Tuhan tidak melupakanmu hanya saja dia sedang mengatur kebahagiaan mu dihari esok. Hari yang akan membuat hidupmu lebih bahagia."
"Apa kah memang begitu? lalu kapan? aku sangat lelah menjalani hidup ku ini."
"Sayang." Jihan menarik pelan hidung Sena.
"Kamu tidak sendiri, aku juga mengalami hal yang sama sepertimu." sambung Jihan lagi.
"Maksudnya?"
"Aku butuh tujuh tahun untuk mendapatkan kepercayaan dari Tahun, kamu pasti bisa hamil asal kamu tidak menyerah. Selain dengan pergi ke dokter aku juga menjalani pengobatan alternatif. ya kamu mungkin tidak percaya."
"Apa itu bisa? dokter bilang..--"
"Sayang, yang menentukan takdir itu Tuhan bukan dokter. Dokter hanya perantara saja, kamu harus percaya kepadanya, pasti ada hal yang indah untuk mu di kemudian hari. Kamu jangan menyerah yah?" potong Jihan yang langsung menarik Sena dalam pelukannya.
"Iya." jawab Sena pelan. Entah kenapa Sena merasa nyaman dan aman dalam pelukan Jihan.
3 minggu berlalu.
Arfan menatap kesal Rio yang berkeliaran tanpa mengenakan baju. Seakan tengah meledek Arfan dengan perut sixpack nya, Rio asik mondar mandir di depan Arfan yang tengah mengerjakan tugas kuliahnya dan itu membuat Arfan risih.
"Aku tahu perut mu sixpack tidak usah kau pamerkan padaku, pamerkan saja pada kedua istrimu itu." ucap Arfan dengan nada tidak enak didengar. Namun Rio juga sepertinya ingin membuat Arfan semakin kesal, itu terlihat dari lekuk tepi bibirnya.
"Iri? bilang bos." ucap Rio dengan piciknya membuat Arfan semakin dongkol.
"Ck, sialan!"
Tak lama Angel datang dengan membopong Kevin yang hanya menggunakan popok dan juga wajah Angel yang kusut.
"Ck pantas saja nih bocah nggak mau pakai baju ternyata tiru papanya. Kamu sedang apa seperti itu?"
"Tuh jawab.?!" ledek Arfan. Rio hanya menatap kesal ke Angel. Rio langsung menghampiri Kevin namun sedetik itu Rio mengerutkan keningnya saat Kevin memelet kan lidahnya ke arah Rio.
"Kamu yang mengajarinya?" tanya Rio yang masih menatap Kevin yang mengulangi memelet kan lidahnya sembari menunjukan ekspresi wajah lucunya.
"Aku malah ingin menanyakan itu padamu, sudah dua hari ini dia selalu meledek."
Kedua orang ini langsung menatap kearah Arfan membuat Arfan bingung namun sedetikpun ia langsung berdecak kesal.
"Bukan aku, sumpah!" jawab Arfan jujur.
"Kev, kamu diajarin siapa?" tanya Rio namun si mungil ini hanya tersenyum senang melihat Papanya yang melihatkan wajah kesalnya.
"Kevin!!!" suara Sena langsung membuat Kevin berpaling dari Rio.
"Yeyyy mama Sena pulang!" ucap Angel yang senang Sena pulang setelah dua hari pergi ke Bali.
"Sini...sini .. mama Sena kangen!!"
"Nih!"
Angel langsung mengoper Kevin ke Sena. Sena menciumi pipi Kevin dengan gemasnya, melepas ke rinduanya.
"Pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Rio. Dia agak khawatir dengan kesehatan Sena yang memaksakan diri untuk bekeja. Rio tahu Sena melakukan ini untuknya dan juga Angel. Sena ingin segera menyelesaikan semua pekerjaan dengan secepat mungkin agar Rio dan Angel dapat melangsungkan resepsi pernikahannya.
"Sudah, mungkin dua hari lagi aku harus ke Tokyo."
"Jangan memaksakan dirimu."
"Iya, apa kau boleh bertanya sesuatu padamu?"
"Hah? tinggal bilang saja, kenapa harus minta izin?" ucap Rio heran. Sena tersenyum tipis lalu.
"Kamu tidak berniat untuk mencari istri lagi kan?" tanya Sena dengan nada yang menusuk.
"Hah?" Rio terlihat bingung mendengarnya.
"Pakai bajumu! kamu kira keren seperti itu? kamu terlihat seperti orang dipinggir jalan!". Mata Rio langsung membulat mendengar ucapan Sena dan Arfan malah terkihat menahan tawa. "El kamu tidak memarahi dia?" sambung Sena lagi.
"Percuma, dia seharusnya sudah cukup tua menyadarinya sendiri." ucap Angel dengan nada datarnya. Arfan yang mencium aroma-aroma pertengkaran langsung memutuskan beranjak pergi takut terkena imbas dari pertengkaran ini. ya walaupun Arfan ingin menonton keributan kecil yang membuatnya ingin tertawa melihat kakaknya yang disudutkan oleh dua istrinya.
"Selamat menikmati ocehan mereka." ucap Arfan dengan piciknya setelah cukup jauh dari ketiganya.
"Kalian ini! awas ya nanti malam!" ancam Rio namun kedua istrinya malah seakan menantang.
"Kamu tidur sendiri!" ucap keduanya kompak dan langsung pergi meninggalkan Rio. Rio hanya menggelengkan kepalanya.
"Punya istri dua masa aku masih tidur sendiri? hufff.." walaupun terlihat kesal, Rio sangat bersyukur keduanya bisa sedekat ini dan Rio berharap mereka akan tetap akur seperti ini.
...Kamar Angel....
Rio membuka pintu kamar. Dirinya langsung melihat Kevin yang tengah terlelap di atas kasur. Rio mulai melangkahkan kakinya masuk dan tak lupa menutup pintunya karena Angel hanya memakai celana pendek dan bra khusus untuk ibu menyusui. Angel sendiri tidak menyadari kehadiran Rio, dia masih asik memilih baju di lemari.
"Eh?"
Angel terkejut saat seseorang memeluknya dari belakang dan dia tahu kalau itu Rio.
"Kamu sengaja seperti ini?" bisik Rio tepat di telinganya.
"Tidak, aku hanya sedang memilih baju yang akan aku kenakan. Lepas?"
"Lain kali kalau kamu seperti ini, kunci pintunya! Nanti Arfan lagi yang lihat!" ucap Rio yang langsung melepas pelukannya.
"Iya, lain kali aku kunci pintunya. Kamu sedang apa disini? Sena pasti mencari mu." ucap Angel yang takut Sena merasa hanya dirinya yang diperhatikan oleh Rio.
"Dia sedang mandi dan lagian aku juga sudah cukup lama dengannya.". Perkataan Rio barusan membuat dirinya mendapatkan tatapan yang menyeramkan dari Angel.
"Maksudku gantian dengan mu, Ibu mu berkata aku harus adil kan. Ya ini, sudah lah, ayo makan pasti semua sudah menunggu mumpung Kevin masih tidur."
"Kamu duluan, nanti aku menyusul."
"Ya sudah."
"Kenapa?"
"Aku kan membelikan obat untuk menghilangkan luka itu." ucap Rio dan membuat Angel bingung namun sedetik itu Angel tahu apa yang dimaksud Rio, luka bekas operasi Caesar nya.
"Apa kamu terganggu?"
"Tidak, aku hanya berpikir kalau kamu mungkin membutuhkannya."
"Tidak, ini membuatku semakin menyayangi Kevin."
"Kamu ini."
Rio langsung merendahkan tubuhnya lalu mengecup bekas luka di perut Angel yang terlihat seperti leluk senyuman. Angel mengacak-acak pelan rambut Rio dan bersamaan dengan itu Sena memasuki kamar, dia melihatnya dan entah kenapa dirinya sangat iri dengan Angel yang bisa mengandung.
"Sena?" ucap Angel saat mengalihkan pandanganya dari Rio. Rio pun langsung membenarkan posisi tubuhnya.
"Sepertinya aku mengganggu?" ucap Sena dengan menunjukan senyum kikuknya sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Tidak, kamu bawa apa?" tanya Rio yang melihat tangan kiri Sena yang menjinjing paper bag.
"Oh, ini buat Kevin sama El."
"Untuk ku?" tanya Rio dengan polosnya. Membuat Sena mengerutkan dahinya.
"Aku sudah memberikannya padamu!"
Rio hanya membulatkan bibir nya lalu berjalan pergi meninggalkan Sena dan Angel. Angel sendiri merasa ada yang aneh pada Rio.
"Kenapa dia bertingkah seperti anak kecil?" gumah Sena dan itu didengar oleh Angel.
"Mungkin dia ingin diperhatikan, kemarin aku mendengar Rio yang mengeluh tentang perhatian kita yang hanya ke Kevin dan parahnya lagi Rio mengomel ke Kevin saat hanya bersama Kevin saja."
"Pantas, oh iya ini buat kamu. Kita bertiga kembaran baju."
"Umm?"
"Sama Kevin, lagian Rio mana mu."
"Benar juga."
....
Rio merasa was-was terlebih Sena melihat semua itu. Amanda nampak heran melihat Rio yang melamun.
"Ri, mereka kemana?"
Rio tahu apa yang di maksud Amanda yaitu Sena dan Angel.
"Biasalah, namanya juga perempuan."
"Jangan bilang kamu cemburu dengan putramu sendiri." ucap Riko yang sepertinya ingin meledek Rio, sedangkan Arfan hanya mendengarkan saja, dia tidak berniat untuk itu campur sebab cacing siperutnya ini sedang demo meminta makan.
"Pa, Papakan yang ngajarin Kevin melet seperti itu?" tuduh Rio langsung dan seketika itu Riko bersikap aneh.
"Ti...tidak! Arfan kali!" Riko malah menuduh Arfan yang tengah anteng makan. Arfan langsung melirik tajam ke Riko.
"Sudahlah Pa, melihat tingkah aneh Papa itu membuktikannya."
"Sudah-sudah, ayo makan!" suruh Amanda.
Tak lama Sena datang tanpa Angel dan membuat Amanda bertanya.
"Sayang, El mana?"
"Kevin bangun, minta nyusu jadi aku bawa kan saja nasi untuknya."
"Oh, biar mama saja."
"Tidak usah ma, biar sepiring saja denganku, Aku akan menyuapinya." mendengar kan perkataan Sena barusan membuat keempat orang ini tersenyum dalam hati dan merasa keluarga ini akan selalu bahagia. Setelah selesai mengambil lauk Sena langsung kembali ke kamar Angel.
"Syukurlah mereka Semakin dekat."
"Iya."
Kamar Angel. 21:00
Sena tengah mengganti popok Kevin dengan hati-hati sebab Kevin tengah tertidur. Sena sendiri akan tidur disini namun Angel merasa Sena harus tidur dengan Rio.
"Sena." panggil Angel dan Sena hanya bergumam saja.
"Sebaiknya kamu tidur dengan Rio."
"Kenapa? apa aku tidak boleh tidur denganmu dan juga Kevin?" Sena nampak sedih namun bukan itu yang Angel mau.
"Bukan itu, kamu sudah tiga minggu minum obat herbal itu, mungkin saja?" Angel tidak meneruskan perkataanya dan memilih mengendikan bahunya dan itu membuat kedua pipi Sena memanas.
"Apaan sih!"
"Kok gitu, ayo lah Kevin mau adik."
"Aku tidak ingin berharap El, itu membuatku sakit."
"Bukan berharap tapi berusaha, itu lebih baik. Setidaknya orang itu tidak mengeluh terus."
"Ya benar juga, lama-lama tingkahnya seperti bayi. Ya sudah aku ke kamar Rio, semoga saja pintunya tidak dikunci."
"Pasti tidak, kamu jangan ngelucu. Pasti dia sedang memandangi pintu berharap aku atau kamu yang datang."
Kamar Rio.
Rio dari tadi hanya melihat kerah pintu sembari berbaring. Semua pekerjaan sudah beres namun dirinya sulit sekali untuk tidur.
"Apa aku menghampiri mereka saja? tapi pasti sudah tidur semua."
Rio mendengar langkah kaki yang menuju ke kamarnya dan Rio buru-buru mengambil ponselnya seolah-olah tengah terfokus dengan ponsel ini. Tak lama seorang membuka pintu dan Rio yakin itu Sena kalau Angel tidak mungkin karena dirinya lah yang harus menghampiri Angel.
"Kamu belum tidur?"
"Nggak jadi tidur sama Kevin?" tanya Rio tanpa menoleh ke Sena. Terdengar suara pintu di kunci. Rio tersenyum tipis mendengar itu.
"Tidak. Ummm... Ri?"
"Hemm."
"Ih kamu mah!" kesal Sena dan membuat Rio menoleh kearah Sena.
"Kenapa?"
"Tidak!"
Rio langsung mendudukkan tubuhnya. Sena menatap kesal kearah Rio membuat Rio semakin ingin menggoda Sena.
"Sanah tidur!"
"Ih...nyebelin... eh?"
Sekali tarik Sena langsung terjatuh di dada Rio. Tubuh Sena menindih Rio. Jantung Sena berdegup dengan kencang walaupun dirinya sudah lama menikah dengan Rio tetap saja ini membuat darahnya mendidih.
"Kalau mau bilang saja, jangan membuatku bingung." ucap Rio dengan sangat mesranya.
...
23:30
"Apa aku bisa hamil?"
"Jangan berbicara seperti itu!" Rio lantas mengeratkan pelukannya. Mendekap Sena dengan kehangatan dan kasih sayang.
"Jangan terbebani dengan hal itu, aku mohon. Jalani saja semua ini tanpa beban. Aku akan berusaha adil, kamu percaya pada ku kan?"
"Iya"
...
Tak terasa malam telah berganti dengan pagi dan rumah ini sudah kedatangan tamu yang langsung membuatkan sarapan.
"Jihan?" Amanda terkejut dengan kehadiran Jihan.
"Selamat pagi."
"Kamu kapan datang?"
"Barusan."
"Biar aku saja." ucap Amanda tidak enak.
"Bagaimana jika kita siapkan sarapan bersama?"
...
Sena tersenyum senang dibawakan obat-obatan herbal lagi oleh Jihan. Sena merasa sangat bahagia dengan perhatian yang Jihan berikan.
"Kamu sudah ke Dokter?"
"Belum, kata Ibu ini tidak instan."
"Iya, tapi kamu harus rutin memeriksa rahimu."
"Aku menurut saja."
Angel melihat kedekatan Jihan dan Sena entah kenapa dirinya merasa ada yang aneh pada hatinya.
"Sayang kamu disini? mama mencarimu." tiba-tiba saja Amanda datang dan rasa yang aneh pada hatinya pun hilang.
"Kenapa Ma?"
"Ayo ikut!" Amanda langsung menarik pergelangan tangan Angel menuju kamarnya.
...
Ruang Tengah.
Kevin tengah asik bermain bersama kedua neneknya. Rio merasa kedua istrinya ini harus pergi memanjakan diri.
"El, Sena. Sebaiknya kalian pergi ke mall, belanja atau ke salon gih." suruh Rio.
"Ayo El."
"Tapi Kevin?"
"Ada kami, kamu tenang saja." ucap Amanda menenangkan.
"Ayo lah El, kamu juga sudah stok asi kan?"
"Iya sih, jangan lama-lama yah?"
"Tenang saja. Ri, kamu ikut yah?"
"Tidak, aku tidak mau bawa belanjaan kalian." Sena mengerutkan dagunya, rencananya telah diketahui Rio.
....
Mall
Sena meminta Angel menunggu di parkiran sebab dirinya kebelet ingin ke toilet. Angel yang bosan menunggu di dalam mobil memutuskan untuk keluar dari mobil.
"Hufff.. lama banget sih."
"Angel sayang." Suara berat dan penuh penekanan dari belakang membuat Angel menoleh.
"Kamu?"
"Masih ingat denganku?" Tanya pemuda yang memiliki tato di lehernya. Tato itu membuat Angel semakin muak melihat orang yang berdiri dihadapannya.
"Alex, kamu mau apa!" Tanya Angel dengan nada tidak suka. Angel sangat mengenal pemuda di hadapannya ini dan Angel merasa tidak aman bila berdekatan dengannya.
"Ck, mau ku? Hah.. kamu ini jangan pura-pura hilang ingatan. Aku masih menunggu jawabanmu. Apa aku harus mengulangnya?" Ucapnya dengan melihatkan tatapan ketertarikan.
"Dan aku juga sudah mengatakannya! Aku tidak suka denganmu! Jangan ganggu aku!" Ucap Angel dengan penuh penekanan, namun Alex malah tertawa dengan renyahnya.
"Dasar sok jual mahal... Ummm apa kamu sudah menikah dengan anak mami itu? Ck... Kalau ia, dia tidak pantas mendapat kamu!" Alex langsung melangkah mendekati Angel, membuat Angel mundur teratur. Angel tahu apa yang Alex maksud yaitu Rey. Selama di SMA, Rey lah yang selalu melindunginya namun entah apa yang akan dirinya hadapi saat ini dimana tidak ada Rey di dekatnya.
"Kamu mau apa?" Tanya Angel dengan takut dan bersamaan dengan itu Sena kembali dari toilet. Sena mengerutkan dahinya namun yang jelas Angel seperti ketakutan. Buru-buru Sena menghampiri Angel takut ada apa-apa.
"El." Panggilan Sena dan membuat Alex berdecak lalu pergi meninggalkan Angel.
"El, dia siapa?"
"Eh? Bukan siapa-siapa."
"Beneran?"
"I...iya, ayo pulang."
....
Sepanjang perjalanan Angel hanya melamun dan itu membuat Sena khawatir.
"El?" panggilan Sena namun Angel tidak merespon.
"Angel!" panggilan Sena dengan nada yang lebih tinggi dan berhasil menyadarkan Angel dari lamunannya.
"Eh .. iya kenapa?"
"Kamu melamun? apa yang kamu pikirkan?"
"Itu... Kevin. Aku takut dia rewel."
"Oh, ku kira ada apa?"
Angel hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya ke samping.
"Aku tidak mungkin mengatakannya." ucap Angel dalam hati.
*** **** ~