Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 21 Aku benci padamu



"Aku harus pergi kemana?"


Angel bagkit dari duduknya. Percuma saja dia terus disini, Rio telah mengusirnya dengan kasar.


Angel mulai melangkah mengikuti kakinya berjalan walau entah harus pergi kemana terlebih ini sudah larut malam.


Saat ingin melangkah keluar gerbang. Angel melihat kearah rumah mewah yang penuh akan kenangan itu sekilas lalu melangkah pergi.


"Kenapa kak Rio jahat banget, kalau memang aku harus pergi bisa besokkan? aku pasti akan pergi dan tidak bingung seperti ini"


Anget masih tidak percaya Rio setega itu mengusirnya ditengah malam seperti ini dengan keadaan hamil padahal Rio sangat menyayangi janin yang ada dirahimnya ini.


Angel hanya bisa menerima ini semua dengan pasrah dan berharap ada seorang yang menolongnya siapa pun itu.


....


01:00


Angel terus berjalan menyusuri jalanan berasapal. Dinginya udara malam membut Angel kedinginan dan entah sejak kapan awan hitam menutupi rembulan.


Angel tersentak kaget saat suara petir menyambar bersautan seakan ingin.


"Yah kok hujan"


Hujan turun dengan tiba-tiba bahkan air yang turun sangat lebat membuat baju yang Angel dikenakan sudah basah kuyup. Angel melihat kesekeliling tapi tidak ada tempat berteduh.


"Sayang kita cari tempat berteduhnya"


Angel pov.


Aku masih tidak percaya kak Rio mengusirku ditengah malam seperti ini. Itukah Rio yang sebenarnya? dia kasar dan tidak punya hati.


Dingin. Aku terus menggosok-ngosokan telapak tanganku pada lenganku. Aku tidak tahu harus kemana dimalam seperti ini. Tidak ada seorang pun yang lewat dijalan ini, aku takut.


Setiap langkahku diiringi oleh air hujan yang terus saja mengguyurku tanpa henti. Kenapa hatiku terasa sakit dan kenapa aku masih merasakan sakit ini padahal aku tahu dari awal pernikahan ini hanya perjanjian diatas kertas. Apa cinta itu semenyakitkan ini atau karena aku mencintai pria yang telah beristri? entahlah, perasaan ini muncul karena dirinya membuatku mencintainya.


Perhatian dan kasih sayang yang dia berikan memberiku harapan tapi sekarang aku tahu harapan itu semu dan hanya sebuah kebohongan semata.


Aku terima Rio memperlakukanku kasar dan aku terima diriku dimakai tapi aku tidak terima dia menyakiti janin yang aku kandung ini. Ini anaknya, darah danginya sendiri tapi dia tega.


Aku tidak menyuruh Sena pergi dan aku juga tidak meminta dirinya untuk tinggal bersamaku. Aku memangbodoh menaruh hati pada orang seperti dia yang terlihat baik padahal dia buruk.


Kalau memang dia angap aku hanya penggangu lantas kenapa dia mau menikah denganku? kenapa dia tidak menolak padahal ini semua Sena yang minta, istrinya sendiri. Aku tidak mengemis minta dibiyayai oleh mereka tapi mereka sendiri yang menawarkan perjanjian itu kepadaku lebih tepatnya oleh Sena.


Mereka kaya dan punya segalanya tapi kenapa tidak mengadopsi anak dari panti asuhan saja.


"Aww"


Tiba-tiba saja aku merasa perutku keram dan ini sangat sakit sekali. Aku berhenti berjalan sembari mengatur napasku. Aku khawatir bayiku kenapa-napa.


"Sayang"


Aku harus mencari tempat untuk istirahat. Pasti diperutku ini juga merasa lelah.


pov end


Angel terus berjalan sembari memegangi perutnya yang terasa sakit sekali. Angel khawatir janin yang ada dirahimnya kenapa-napa.


"Sayang kamu harus kuat" ucap Angel dengan cemas. Tidak ada orang untuk dimintai bantuan, jalanan sangat sepi terlebih ini sedang hujan


"Aww" Angel mengeluh, Perutnya terasa semakin sakit.


"Sayang mama mohon, kamu harus kuat! aww" air mata Angel tersamarkan oleh air hujan. Angel sangat bingung juga ketakutan yang jelas dirinya harus terus melangkah mencari tempat berteduh.


Angel terus berjalan tanpa menyadari ada darah yang mengalir dikakinya dan darah itu menyatu dengan air hujan.


..


Rumah/ kamar 02:00


Rio perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berat sekali.


"Awww"


Rio memegangi kepalanya lalu terduduk dari tidurnya. Rio mencoba mengingat kembali kejadian beberapa waktu yang lalu. Pengaruh alkohol itu membuat Rio lupa apa yang telah terjadi.


"....Kamu haya benalau yang mengganggu.... cepat pergi dari sini"


Rio teringat saat dirinya meluapkan emosi kepada Angel.


"El"


Rio terlihat cemas. Rio langsung mencari Angel keluar kamar. Rio memanaggil nama Angel terus menerus tapi tidak ada respon dari Angel. Rio mencari disetiap sisi rumah tapi tidak ada Angel.


"ANNGGGGEEEELLLLL KAMU DIMANA"


Teriakan Rio menggema dipenjuru rumah. Rio mengacak-acak rambutnya frustasi karena Angel tidak ada dirumah ini.


"RIO KAMU BODOH SEKALI!!" teriak Rio yang menyesali kebodohannya padahal tinggal sebentar lagi semua ini akan berakhir dan hidupnya akan kembali seperti dulu.


"Aku harus cari dia, kalau anak itu sampai kenapa-napa semua harus mulai dari awal lagi dan aku tidak mau itu"


Rio bergegas mencari Angel diluar sana. Raut wajah Rio menunjukan kekhawatiran tapi kekhawatiran itu bukan untuk Angel tapi untuk janin yanga ada dirahim Angel.


...


Halte bus


Angel berteduh dihalte bus yang berdekatan dengan lampu jalan jadi dirinya tidak merasa ketakutan karena gelap.


"Perutku"


Angel merasa tubuhnya lemas dan rasa sakit diperutnya tidak tertahankan.


"Sebaiknya aku tudur disini, aku tidak kuat lagi berjalan"


Angel perlahan membaringkan tubuhnya dibangku yang terbuat dari besi. Angel merasa tidak nyaman tapi dirinya memaksa kelopak matanya menutup.


Tubuh Angel menggigil kedinginan, hujan terus turun dengan derasnya berserta angin yang bertiup sangat kencang. Disini halte bus ini Angel sendirian tanpa ada yang menemani. Meringkuk diatas bangku besi yang dingin dengan baju yang basah.


...


Rumah sakit


10:00


Angel perlahan membuka kelopak matanya. Cahaya terang membuat matanya tidak nyaman dan aroma ini sepert bau obat.


"Rumah sakit" lirih Angel sekaligus bingung seingatnya dirinya berteduh dihalte bus semalam.


Angel melihat kesekeliling tapi tidak ada orang. Angel mengelus perutnya yang semalam terasa sakit.


"Kamu baik-baik sajakan, sayang?"


Angel sangat mencemaskan kondisi janinnya. Akibat kehujanan Angel merasa badannya panas serta terrasa sangat lemas.


"Siapa yang membawaku kesini?"


Angel bingung dan bertanya-tanya siapa orang yang menolongnya dan membawanya kerumah sakit.


Suara pintu yang terbuka membuat Angel menoleh kearah pintu dan Angel langsung terkejut melihat siapa yang datang.


"Kamu?"


...


03:00


mobil Rio


Mobil Rio melaju dengan sangat kencang menembus derasnya hujan. Rio terus menggas mobilnya sembari kedua matanya mengawasi kanan kiri jalan mencari Angel.


"Ck! kemana sih dia!"


Rio terlihat sangat sangat cemas sekaligus marah. Rio sangat kesal dengan kondisi sedang hamil Angel bisa pergi jauh dan Rio takut terjadi sesuatu pada calon anaknya.


"Kalau sampai anakku kenapa-napa, aku tidak akan memaafkanmu"


Rio menghela napas beratnya semua ini menambah beban pikirannya. Jam tangan dipergelangan tangan Rio menunjukan pukul setengah empat pagi dan Angel belum ketemu juga.


"Itu?"


Dari kejauhan Rio melihat seseorang yang tengah berbaring dibangku halte bus. Rio langsung menuju kehalte itu dan memberhentikan mobilnya. Rio langsung turun dari mobil.


"El!"


Rio langsung mengecek kondisi Angel. Angel menggigil kedinginan tubuhnya sangat panas dan wajahnya sangat pucat


"El, bertahan lah!"


Rio langsung membopong tubuh Angel dan memasukannya ke dalam mobil dengan hati-hati.


Rio mengambil jaket dikursi belakang dan dipakaikannya ke Angel berharap ini bisa menghangatkan tubuhnya.


Rio melihat kearah perut Angel. Rio menggigit bibir bawahnya.


"Kamu harus kuat, kamu anak Papa" ucap Rio sembari mengelus perut Angel setelah itu Rio memacu lagi mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


..


"Kamu?"


Kedua mata Angel langsung memanas saat melihat Rio yang datang. Hati Angel kembali merasa sakit saat Rio tersenyum kearahnya, senyum yang dulu terlihat sangat manis namun sekarang Angel sangat membenci senyuman itu.


"Sayang kamu sudah bangun"


Angel langsung mengalihkan pandangannya. Sayang? Kata itu lagsung membuat Angel merasa muak, dadanya terasa sakit. Angel mendengar langkah kaki menghampiri pembaringan.


"Kamu sudah baikkan kan? aku khawatir" ucap Rio dengan nada halusnya dan membuat Angel merasa sulit untuk bernapas.


Angel merasa tangan Rio membelai kepalanya. Angel langsung menepis tangan Rio dan menatapnya tajam. Angel langsung memposisikan tubuhnya terduduk.


"Khawatir?" ucap Angel dengan nada sinisnya.


"Kamu marah? aku minta maaf" luncuran kata-kata itu membuat emosi Angel tak tertahankan lagi.


"Maaf kamu bilang? kamu punya ot*k ngga! segampang itu kamu bilang maaf? mending kamu pergi!" usir Angel langsung sembari menunjuk kearah pintu.


Rio tidak merespon. Dirinya hanya terdiam mematung tanpa berkata apapun.


"Kenapa diam? cepat pergi!"


"Aku tidak akan pergi, aku ingin menjaga mu disini"


"Menjagaku? kamu bercanda, kamu sendiri yang mengusirku terus kenapa kamu perduli?"


Angel semakin muak dengan Rio yang seenaknya bilang akan menjagamu padahal dirinya lah yang membuat kondisinya seperti ini.


"Semalam aku mabuk, aku tidak bisa berpikir jerni, aku minta maaf"


Lagi-lagi Rio mengucapkan kata maaf padahal tidak semuanya harus selesai dengan kata maaf. Mengucapkan kata maaf itu lebih mudah dari pada memaafkan.


"Aku tidak akan pernah memaafkanmu dan aku mohon sama kamu, pergi dari sini!"


"Kamu makan yah"


Rio tidak memperdulikan ucapan Angel dan mungkin dirinya berpura-pura tidak mendengar.


"Kamu dengar apa tidak sih? aku bilang keluar ya keluar!" bentak Angel namun Rio membandel. Rio menatap datar Angel.


"Diam!"


Hanya satu kata yang terlontar dari mulut Rio. Angel benar-benar tak habis pikir kalau Rio seperti ini. Rio mengambil mangkok yang berisi bubur.


"Makan!"


Suruh Rio sembari menyodorkan sesendok bubur kearah mulut Angel. Angel mengepalkan kedua tangannya.


"Pergi!" usir Angel dengan mata yang berkaca-kaca. Angel ingin Rio pergi sekarang juga karena setiap melihat Rio terasa sesak didada.


"Aku tidak akan pergi!"


"Aku membenci mu!"


"Aku tidak perduli, kamu mau membenciku atau tidak itu terserah mu. Aku hanya mau anakku sehat, jadi cepat makan!"


"Anakmu? kamu mengusirnya"


"Aku tidak mengusirnya, aku mengusir mu"


Jawaban Rio barusan membuat dunia Angel hancur. Dengan nada datarnya Rio mengatakan itu, suara Rio terasa sangat dingin dan tidak punya sedikit pun hati nurani. Rasa cinta yang kemarin tumbuh kini berubah jadi benci itu yang dirasa Angel sekarang.


Angel menundukan kepalanya, perlahan air matanya turun membasahi selimut.


"Setelah anak itu lahir kamu tidak akan melihatku lagi dan aku juga tidak akan melihat mu lagi, semuanya akan berakhir"


Rio mengucapakn semua itu tanpa memikirkan perasaan Angel.


"Aku lakukan semua ini hanya untuk anakku bukan untukmu jadi menurutlah! aku tidak mau anakku kenapa- napa"


Rio kembali menyodorkan sesendok bubur ke dekat Angel. Angel menoleh langsung menepis kasar tangan kanan Rio membuat sendok itu terjatuh kelantai.


"Aku tidak butuh perhatianmu, aku bisa jaga anak ini"


"Menjaga dirimu sendiri saja tida bisa, apa lagi menjaga anakku"


"Rio!" bentak Angek dengan emosi yang meluap tapi Rio seakan tidak perduli. Rio masih tetap berdiri disini dengan tatapan kosong menatap Angel. Tatapan tanpa rasa kasihan atau apapun, Rio yang kemarin hangat sekarang dingin seperti es.


"Jangan membentakku, kamu tidak berhak. Kamu milikku dan aku berhak atas dirimu, semuanya"


Angel tidak percaya Rio mengatakan itu berarti selama ini Rio hanya mempermainkan dirinya.


"Aku mohon, pergilah"


"Sudah aku bilang, aku tidak akan pergi!


"AKU BILANG PERGI YA PERGI! teriak Angel dengan penuh emosi tapi setelah itu.


"Aww"


"El kamu kenapa?"


Rio panik saat Angel kesakitan sembari memegangi perutnya.


"Sayang"


"Jangan sentuh aku!"


...


12:30


Rio membelai lembut wajah Angel yang terlelap. Angel terpaksa diberi obat penenang agar dirinya dapat beristirahat.


Rio masih terdengar ditelinga Rio kalau Angel tidak boleh banyak pikiran dan harus dijauhkan dari semua yang membuatnya tertekan karena itu sangat mempengaruhi kandungannya dan Rio tahu apa yang membuat kondisi Angel memburuk yaitu dirinya.


"Aku harus bagaimana, siapa yang akan menjaga mu?"


Rio mengecup kening Angel sukup lama setelah itu Rio beranjak dari kamar rawat Angel.


....


Rumah Rio/ Sena


Setibanya dirumah Rio langsung mencari bi Inda dan memintanya untuk menjaga Angel. Bi Inda tidak langsung meng-iya-kan permintaan Rio. Bi Inda malah berbalik bertanya siapa Angel dan kenapa Rio ingin dirinya menjaganya. Setahu bi Inda, Sena akan marah kalau Rio berdekatan dengan wanita lain.


"Den, jawab Angel siapa"


"Bi, bibi bisa ngga nggak usah menanyakan itu" ucap Rio dengan kesalnya.


"Den, den tahu kan non Sena seperti apa? terus kalau ditanya Tuan dan Nyoya gimana? bibi nanti harus jawab apa?"


Rio terdiam cukup lama. Bi Inda walau pun bukan ibunya Rio tapi Bi Inda tahu kalau Rio tengah ada masalah.


"Den, bilang saja sama bibi. Bibi janji tidak akan memberitahukan kepada orang lain, Den Rio percaya kan sama bibi?"


"Bibi janjikan tidak akan bilang kesiapa pun?"


"Janji"


"Angel itu"


Rio menceritakan semuanya dari awal bertemu dengan Angel, perjanjian, pernikahan dan juga anak yang ada dikandungan Angel. Bi Inda namapak tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Rio terlebih kalau itu semua karena permintaan Sena.


Bi Inda menepuk-nepuk lengan Rio. Bi Inda hanya bisa menberi nasehat kepada Rio tidak bisa membantu apa-apa.


"Den, sudah jangan melihat kebelakang lagi! jalani saja yang semua ini terlebih den Rio akan punya jagoan kecil, harusnya den Rio itu seneng"


Rio mendengarkan dengan baik apa yang Bi Inda katakan. Rio sekarang merasa lega menceritakan ini semua dan Rio sangat mempercayai Bi Inda.


"Iya bi, bibi benar"


"Ya sudah ayo kita berangkat"


...


Rumah sakit


Bi Inda dengan ragu melangkah masuk kedalam. Bi Inda langsung mendapati seorang yang tengah tertidur.


"Itu Angel bi, tolong jaga dia"ucap Rio sembari menatap wajah manis Angel.


"Itu den, kok gemesin gitu yah den?"


Ucap Bi Inda yang baru pertama kali melihat perempuan seperti Angel.


"Gemesin? emang boneka"


"Den ini, lihat deh pipinya udah kek bakpo"


"Bi jangan bercanda, Rio mau kekantor. Kalau ada apa-apa telfon aja"


"Iya den"


Setelah Rio pergi. Bi Inda langsung duduk dikursi dekat pembaringan Angel.


"Kamu cantik sekali,eh?"


Bi Inda tersenyum saat Angel perlahan membuka kelopak matanya.


"Non Angel sudah bangun"


Angel langsung mengeryitkan dahinya saat melihat wanita yang tengah tersenyun kearahnya dan kenapa dia tahu namanya.


"Kamu siapa?"


"Saya Bi Inda"


"Bi Inda?"


"Saya disuruh den Rio buat jagain non"


Mendengar nama Rio membuat Angel merasa muak. Bi Inda melihat kearah meja kecil yang terdapat semangkok bubur yang masih utuh.


"Non Angel belum makan? bibi suapin yah?"


Angel menggelengkan kepalanya membuat bi Inda tersenyum.


"Loh kok gitu? nanti yang diperut kelaparan loh, kasihan dia butuh nutrisi"


Angel mengelus perutnya. Angel merasa anaknya bergerak sepertinya dia kelaparan.


"Tapi cuma sedikit"


"Iya"


...


Angel sekarang merasa baikkan terlebih sekarang ada teman untuk mengobrol.


"Oh iya"


"Dia udah biasa gerak?"


Bi Inda langsung mengelus perut Angel. Tapi Bi Inda tidak merasakan apa pun mungkin karena masih belum terlalu besar jadi hanya Angel lah yang merasakannya.


"Non harus banyak istriahat biar yang diperut bisa tumbuh sehat"


"Iya"


..


Rumah


Angel dibantu bi Inda memasuki rumah sedangkan Rio hanya mengikuti dari belakang. Angel sendiri masih tidak mau berbicara dengan Rio bahkan melihatnya saja Angel tidak sudi.


"Bi"


"Den Rio mending jangan satu kamar dulu takutnya non Angel jadi tambah sakit"


"Bi, Angel baik-baik saja"


Ucap Rio langsung masuk kedalam kamar. Bi Inda hanya bisa mengelus dada dan mengerutuki apa yang Rio lakukan sekarang.


"Den Rio kenapa jadi tidak peka seperti ini?"


Kamar


Rio langsung merebahkan tubuhnya di samping Angel. Angel menatap datar Rio lalu bangkit dari tidurnya. Angel selalu sulit bernapas saat berbekatan dengan Rio.


"Kamu mau kemana? kamu harus banyak istirahat" ucap Rio saat melihat Angel ingin keluar kamar.


Angel tidak memperdukikan ucapan Rio dan langsung keluar kamar. Rio berdecak kesal lalu mengikuti Angel.


Angel tahu Rio mengikutinya tapi Angel tidak perduli dan terus melangkah menuju dapur.


"Kamu lapar? aku buatin yah?" tawar Rio tapi Angel hanya diam sembari mengambil gelas.


Rio hanya melihat apa yang Angel lakukan. Angel minum segelas air lalu berlalu pergi meninggalkan Rio.


Rio menggigit bibir bawahnya lalu menyusul Angel dan langsung membopong tubuh Angel.


"Ih! turunin!"


"Jangan memberontak atau aku kunci kamu digudang!" ucap Rio dingin. Angel menyesali dirinya yang tidak pergi sejauh mungkin, menjauh dari orang yang tidak punya hati ini. Dari jauh Bi Inda melihat semua itu dan mengambil kesimpulan alasan kenapa Angel tidak mau lagi berbicara dengan Rio.


Rio membawa Angel ke kamar. Rio membaringkan tubuh Angel diatas kasur lalu menyelimutinya.


"Tidur, kalau kamu tidak mau sekamar denganku tidak apa-apa, aku akan tidur diluar"


Setelah berucap Rio langsung pergi. Angel tak sanggup lagi menghadapi ini semua, semua ini jadi lebih berat dari yang ia bayangkan.


"Ibu, El mau pulang! El ngga mau disini"


Angel menangis dibalik selimut, semua ini sangatlah menyiksa terlebih dengan kondisi dirinya yang hamil seperti ini.


...


Saat Rio keluar kamar. Bi Inda langsung menarik tangan Rio menjauh dari pintu kamar agar Angel tidak mendengar yang akan dibicarakan.


"Bi kenapa?"


Bi Inda melepas ngenggaman tangannya lalu menatap Rio dengan tatapan kesal.


"Den Rio. Kenapa jadi kasar seperti itu? den Rio apa tidak melihat non Angel ketakutan gitu?"


"Bi, bibi jangan ikut campur"


"Bukannya bibi mau ikut campur tapi yang den Rio lakuin itu salah. Bibi cuma mau menginggatkan saja"


Rio malah nyelonong pergi tanpa berkata sepatah kata pun.


"Den Rio kerasukan apa sih? kenapa jadi seperti ini? pasti karena non Sena"


Bi Inda tahu kalau ada masalah yang berat bagi Rio itu bukan masalah pekerjaan tapi masalah menghadapi Sena.


"Den Rio mending sama Angel aja"


>>>>>flash back>>>


Rumah Rio/Sena 2 tahun lalu


Ketenanga rumah berubah jadi penuh teriakan dan semua pembantu disini sudah terbiasa dengan teriakan Sena.


"Sayang, jangan teriak-teriak seperti itu"


Ucap Rio dengan sabarnya. Rio dan Sena baru pulang dari rumah orang tua Rio.


"Mama kamu kapan bisa berubah! aku juga ingin punya anak!"


Sena meluapkan semua emosinya kepada Rio. Sena marah atau mungkin tertekan karena Amanda, ibunya Rio selalu menyindirnya soal anak.


"Sayang, aku mohon kamu tenang"


"Tenang kamu bilang! bagaimana aku bisa tenang Ri? aku selalu merasa kalau mama kamu itu mau kita bercerai!"


"Sayang, itu cuma perasaan kamu saja"


Sena menatap kesal kepada Rio. Sena sendiri tidak mau ikut tapi Rio memaksa dan jadinya seperti ini.


"Ri, aku ngga mau pergi kerumah orang tua mu lagi!" ucap Sena dengan penuh penekanan. Sena langsung meraih tas dan kunci mobil.


"Kamu mau kemana?" tanya Rio langsung.


"Aku mau pulang kerumah ku sendiri!"


"Ngga kamu ngga boleh pergi"


Rio langsung melarang Sena pergi kerumah orang tuanya.


"Aku mau pergi. Titik!"


"Aku ikut"


"Aku ngga mau lihat kamu dulu jadi mengertilah!"


Sena langsung berlalu pergi begitu saja. Rio tidak bisa berbuat banyak kalau Sena sudah ngambek seperti ini.


"Harusnya aku tadi menuruti Sena, semu ini tidak terjadi"


Rio menyesali yang telah terjadi harusnya tidak mengajak Sena bertemu dengan mamanya terlebih saat acara keluarga.


"Den, non Sena kemana?"


Tanya bi Inda yang sudah berada disamping Rio.


"Tau lah bi, pusing"


Rio melangkahkan kakinya kedalam kamar. Bi Inda hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua majikannya selalu beradu argumen.


"Sampai kapan seperti ini terus? non Sena juga kerja terus pastilah sulit hamilnya"


...


22:00


Bi Inda membawa nampan yang diatasnya terdapat makanan untuk Rio. Bi Inda mengantar keruang kerja Rio.


"Den, makan dulu yah"


"Taruh saja dimeja bi"


"Iya Den"


drtt..drttt


Rio langsung menganggkat telefon dari Sena.


"Iya sayang kenapa?"


"Aku mau ke Jepang tiga hari. Bye"


Sena langsung mematikan sambungan telefonya membuat Rio kesal.Rio langsung melempar ponselnya kesembarang arah membuat Bi Inda terkejut. Rio melampiaskan amarahnya keponsel yang tidak berdosa itu.


"Den Rio?"


<<<<<<< flash end<‹<<<


"Pasti non Angel jadi pelampiasan amarah den Rio. Ih den Rio mah, marah sama non Sena kenapa orang lain yang kena"


Bi Inda langsung menuju kamar Angel. Bi Inda tahu pasti Angel sangat sedih sekarang.


Kamar


Bi Inda langsung masuk kedalam kamar dan mendapati Angel yang tengah terisak.


"Non Angel?"


Bi Inda langsunh menghampiri Angel. Di elusnya puncak kepala Angel.


"Jangan menangis nanti yang diperut ikut sedih loh"


Angel langsung terduduk lalu memeluk bi Inda dengan erat. Tangis Angel semakin terdengar keras. Bi Inda langsung membalas pelukan Angel.


"Bi, El mau pergi dari sini. El ngga mau disini kak Rio jahat" ucap Angel ditengah-tengah isakannya.


"Non. Den Rio cuma banyak pikiran, dia ngga jahat kok. Den Rio cuma sedang kesal ke non Sena" ucap Bi Inda menjelaskan apa yang tengah terjadi kepada Rio.


"Tapi aku bukan Sena, aku juga punya perasaan bi! sakit bi"


"Non!


Walau baru bertemu dengan Angel dan belum kenal lebih dekat tapi Bi Inda dapat merasakan apa yang Angel rasakan.


Ternyata Rio memperhatikan mereka berdua dari luar kamar.


....


08:30


Tanpa permisi Rio langsung masuk kedalam kamar Angel sembari membawa paperbag.


"El bangun!"


Rio langsung membangunkan Angel yang masih tertidur.


"Pake" suruh Rio saat kelopak mata Angel terbuka.


Rio langsung melemparkan paper bag itu ketubuh Angel. Angel menatap sayu Rio, perlakuan Rio ini semakin membuat Angel membenci Rio.


"Kenapa melihatku seperti itu? cepat pakai!"


...


Kamar mandi


Angel terisak. Semuanya membuatnya ingin melarikan diri dari sini tapi denga keadaan seperti ini membuatnya ragu.


Angel menghapus air matanya. Lalu keluar dari kamar mandi yang ternyata sudah ada Rio yang menunggu.


"Kamu habis menangis?"


Angel tidak menjawab. Rio melihat baju yang ia beli sangat cocok ditubuh Angel dan baju itu menyamarkan perut Angel yang buncit.


"Dasar patung, ayo ikut"


Rio langsung menarik pergelangan tangan Angel. Dengan terpaksa Angel menggikuti kemana Rio akan pergi.


...


Didalam mobil. Angel tidak berani bertanya kemana dirinya akan dibawa pergi terlebih Rio sekarang jadi sangat dingin dan menyeramkan.


Angel memandang keluar jendela. Entah apa yang tengah dipikirkannya saat ini.


Rio juga tidak mau berbicara. Semua kembali saat pertama bertemu tapi ini lebih dan lebih canggung lagi bahkan terkesan saling mendiamkan.


"Sudah samapai"


Suara Rio membuat lamunan Angel buyar. Angel melihat sekeliling dan terkejut ternyata Rio membawanya ketempat yang selama ini dirinya ingin datangi.


"Ini?"


...****....****