Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 45 Keputusan



02:00


Dijalan yang sepi mobil Rio berhenti. Pagi-pagi buta, Rio pergi dari rumah Sena untuk menjernihkan pikirannya.


Rio bersandar dikursi kemudi, dirinya tak berniat puang atau pergi keapartemennya.


Mobil pembersih jalan beberapa kali lewat dan juga bus dari luar kota. Rio melihat seorang laki-laki yang mendorong gerobak dan digerobak itu terlihat anak kecil yang tertidur.


"Hidup dikota memang kejam" lirih Rio. Rio melihat jam tangannya dan berdecak kesal.


"Kenapa hidup ku seperti ini? aku punya segalanya tapi hidupku serasa hampa"


Rio menjalankan mobilnya menyusuri aspal dan tak tahu kemana ia akan pergi yang jelas ia ingin menenangkan pikirannya.


...


03:30


Rumah Amanda Riko


Angel terbangun dari tidurnya, rasa lapar yang ia rasa memaksanya untuk keluar kamar mencari makanan.


Saat Angel kedapur dirinya terkejut melihat Arfan yang ternyata tidur disofa dekat kamarnya. Arfan yang punya insting kuat ia menyadari ada orang yang memperhatikannya. Arfan membuka kelopak matanya, lekuk senyum terukir dibibirnya.


"Kenapa kamu tidur disini?"


"Suka-suka ku lah, mau tidur dimana pun. Eh? kamu kok bangun, jangan-jangan kamu ngidam lagi?"


Senyum dibibi Angel menggembang dengan sempurna. Arfan memposisikan tubuhnya terduduk sembari mengumpulkan kesadarannya.


"Kamu mau makan apa?"


"Engga tahu tapi aku mau cari diluar"


"Jam segini? ya udah ayo. Ambil jaket kamu"


"Ha? beneran, kamu mau temani aku?" tanya Angel dengan nada tidak percaya. Arfan menatap datar Angel.


"Kalau bukan aku siapa lagi?"


"Makasih"


..


Mobil Arfan


Angel terus menatap Arfan membuat Arfan salting sendiri.


"Kenapa kamu lihatin aku seperti itu?"


"Siapa yang lihatin kamu, PD gila"


"Ck, kamu mau makan apa?"


"Ngga tahu, yang jelas aku lapar"ucap Angel sembari mengelus perutnya. Arfan menggelengkan kepalanya, ia bisa membayangkan nanti saat dirinya sudah beristri dan sedang hamil pasti seperti ini harus ekstra sabar.


Angel yang tengah melihat keluar jendela melihat sekilas mobil yang mirip dengan mobil Rio.


"Rio" lirih Angel namun Arfan bisa mendengarnya dengan jelas.


"Kak Rio, mana?"


"Memangnya tadi aku bilang "Rio"?"


"Entahlah, ada warung nasi goreng, mau ngga?"


"Mau dari pada kelaperan"


Arfan memberhentikan mobilnya didepan warung nasi goreng yang terlihat ramai padahal masih jam segini.


Arfan tersenyum tipis saat Angel menghabisakan piring nasi goreng keduanya.


"Mau lagi?"


Angel menggeleng pelan, perutnya kini terasa penuh dan dirinya merasa mengantuk. Melihat Angel yang seperti ini membuat Arfan terkekeh, menurutnya Angel sangat lucu.


"Ayo pulang" ajak Arfan dan Angel pun mengangguk. Setelah membayar Arfan langsung membopong Angel kemobil sebab Angel sudah ngantuk berat.


..


08:00


Rio menjalankan mobilnya menuju warung nasi Jihan. Dirinya ingin sarapan disana sembari menanyakan sesuatu hal.


"Loh kok?"


Saat Rio menghampiri warung terdapat tulisan dikaca pintu warung yang memberitahukan bahwa warung ini tutup sampai waktu yang tidak ditentukan.


Rio yang tahu alamat rumah Angel memutuskan untuk kesana.


...


Rumah Jihan Erik


Mobil Rio berhenti didepan rumah Angel. Dari dalam mobil, Rio sudah melihat Jihan yang melamun diteras.


Rio mengambil napas lalu menghembuskannya, menetralkan rasa nerfes yang ia rasa lalu turun dari mobil.


Rio menghampiri Jihan yang duduk sendiri dengan tatapan kosong bahan Jihan tidak merasakan kehadiran Rio.


"Tante, kok warungnya tutup sih?"


Jihan terkejut sekaligus senang melihat kedatangan Rio. Rio merasa aneh saat melihat Jihan yang sepertinya kurang tidur.


"Tante sakit?"


"Tidak, ayo duduk"


"Iya"


Rio menurut. Wajah Jihan kini terlihat lebih berseri dan wajah murungnya hilang begitu saja.


"Tante sedang malas saja"


"Oh, padahal aku ingin makan masakan tante"


"Kalau begitu, ayo masuk"


"Tidak usah, tapi bener Tante tidak apa-apa?"


"Emm.. Sebenarnya tante mau tanya"


"Tanya apa?"


"Berapa hutang ku kepadamu? kami akan melunasinya"


"Apa? tante?"


"Aku akan jual semua yang kami punya ya walaupun itu pastinya akan kuarang banyak tapi kami akan usahkan secepatnya"


Rio terkejut mendengarnya, melunasi? itu berarti mereka akan mengambil Angel dan mereka akan tahu putri mereka hamil dan masalah besara akan muncul. Masalah ini saja belum terselesaikan kini akan ada masalah lain.


"Kamu tidak percaya kami bisa melunasinya?"


"Eh? bukan itu, sebenarnya hutang kalian sebentar lagi akan lunas"


"Sebanyak itu? Angel berkerja dirumahmu kurang dari dua tahun mana mingkin akan melunasi hutang sebanyak itu?" tanya Jihan dengan penuh kecurigaan. Entah kenapa firasatnya buruk tentang ini.


Rio menyadari kalau wanita didepanya ini muali curiga, Rio buru-buru meluruskan ini semua.


"Tan, saya kan sudah bilang kalau Angel memberi kebahagiaan dirumah saya dan kehadiran Angel membuat ibu saya senang, itu sebabnya saya mengurangi jumlah uang itu. Angel akan pulang kurang dari enam bulan, saya mohon biarkan Angel tinggal dirumah saya lebih lama lagi"


Jihan terdiam, perkataan Rio membuat hatinya tenang. Kalau memang benar Angel akan pulang secepat itu berarti dirinya tidak perlu bercerai dengan Erik.


"Tan, saya tidak bohong"


"Benar kamu tidak bohong? aku sangat merindukan putriku"


"Tidak"


"Tapi saya takut putriku kenapa-napa terlebih sudah lama kami tidak bertukar kabar, apa dia baik-baik saja?"


"Oh itu, ponselnya Angel hilang saat kemarin berlibur diLombok makannya tidak bisa dihubungi. Angel ingin menemui mu tapi Ibuku tidaka mau ditinggal"


"Oh, begitu yah?"


"Iya, tante jangan khawatirkan Angel. Dia aman kok dirumah kami"


"Terima kasih"


Erik keluar dari rumah dan terkejut melihat Rio yang datang kerumahnya.


"Kamu?"


"Pagi, om"


"Jihan?"


Erik melihat kearah Jihan yang tak seperti tadi, kini terlihat ada sedekit kebahagiaan dimatanya.


"Om, tante. Maaf saya harus buru-buru"


"Sarapan dulu yah?"


"Tidak usah, tan. Terima kasih"


Rio langsung pergi. Rio tidak ingin dirinya kelepasan bicara atau apapun itu yang akan membongkar semanya. Rio tidak ingin semuanya tambah runyam dan membut keributan.


...


Apartemen Rio.


Rio merebahkan tubuhnya keatas kasur yang empuk ini. Rio memejamkan matanya beberapa detik. Wajah Sena dan Angel terlintas dibenaknya membuatnya mendesah kasar memaksanya membuka mata.


"Siapa yang akan aku pilih? Angel, dia yang meperlakukanku baik sedangkan Sena, dia seakan acuh kepadaku tapi dia yang menemaniku selama ini. Sena yang selalu membutku semangat berkerja. Haahh"


Rio menatap langit-langit kamar, menerawang sesutu. Menerawang jauh diingatannya.


"iya, aku mau jadi istrimu"


"Jangan membuatku marah, Ri! aku juga


mau bekerja sepertimu, aku ingin menyibukan diriku. Aku tidak ingin terus kesepian dirumah"


"Ri, kapan kamu ada waktu untukku?"


"Maaf aku hanya ingin kamu tahu kalau aku sangat tertekan dengan semua ini"


"Ri, tadi mama kamu bilang gadis yang tadi kesini sangat cocok untukmu, apa Mamamu ingin kamu menceraikanku?"


"Aku mencintaimu karena itu aku ingin kamu menikah lagi, aku ingin kamu punya anak walau itu bukan darahku yang terpenting dia memiliki darahmu"


Rio mengulang kembali ingatan bersama Sena. Semua suka duka itu. Rio masih teringat saat Sena terus berada didekatnya meski Amanda selalu mengindirnya dan bahkan keluarga Amanda seperti tidak setuju dirinya menikah dengan Sena.


"Ri, aku capek terus disindir seperti ini. Aku juga ingin mempunyai seorang anak tapi apa dayaku. Tuhan masih tidak mengkehendakinya"


"Sena?"


Rio teringat akan air mata Sena saat dirinya meluapakan perasaannya saat kembali dari liburan keluarga. Rio ingat betul disana Sena seperti diacuhkan padahal Sena baru satu tahun menikah dengannya, kalau dipikir-pikir sejak itu Sena mulai berubah dan berarti keluarganyalah yang membuat Sena seperti ini.


"Aku?"


Rio teringat akan tadi, kesedihan ibunya Angel membuat Rio bersalah akan semua ini, dirinya tidak ingin terus menahan Angel lebih lama lagi terlebih kedua orang tuanya sangat merindukannya.


"Sena benar, aku hanya mimpi buruk untuknya. Biarlah ini semua berakhir seperti perjanjian itu"


.....


Ruamah Sifa Deren


Sena tengah menatap bingkai foto pernikahnya dengan Rio. Dari tadi Sifa dan Deren masuk kedalam kamar untuk membujuk Sena makan namun Sena terus menolak.


Sena duduk diatas kasur, air mata dipipinya kini sudah mengering.


"Ri, dulu kamu selalu bersamaku tapi kenapa sekarang tidak? aku merindukanmu"


Sena memeluk bingkai itu dengan erat. Dirinya tidak menghiraukan pintu kamar yang dibuka seseorang. Seseorang itu langsung menghampiri Sena dan memeluknya dengan erat. Sena paham sekali aroma parfum ini.


"Ri..Rio?"


"Iya, ini aku. Aku pulang" bisik Rio dengan halusnya.


Sena langsung menangis sejadi-jadinya meluapkan perasaannya. Rio semakin erat memeluk Sena. Harusnya dia tidak menaruh hati keAngel dan tidak membuat ini semua jadi seperti ini. Dirinya yang bodoh ini menyesali telah se-enaknya mempermainkan dua hati yang rapuh ini.


Sekarang Rio menentukan pilihanya yaitu Sena namun Rio masih akan memperhatikan Angel namun dengan batasan yang semestinya. Rio tidak ingin membuat keadaan ini semaikin buruk walau pun ia tahu ini tidak adil untuk Angel namun Rio meyakinkan dirinya sendiri kalau ini memang yang terbaik untuk semuanya.


Rio tidak ingin menjauhkan Angel dari keluarganya dan Rio tidak ingin dihantui rasa bersalah ini lebih lama lagi.


"Ri"


Sena melepas pelukan Rio lalu menatap kedua mata Rio. Lekuk senyum Rio terlihat jelas membuat dada Sena yang tadi sesak kini terasa lebih baik.


Rio menghapus air mata Sena dengan lembutnya lalu mengecup bibirnya. Rio meraih tangan kanan Sena lalu menyematkan kembali cincin yang memang milik Sena.


"Ri?"


"Maaf, membuatmu seperti ini. Harusnya aku tidak memainkan perasaanmu dan Angel tapi sekarang aku sadar kalau aku hanya memilihmu, walau Angel lebih baik dari padamu tapi kamu yang selama ini menemaniku, kamu yang selalu disisihku menemani suka dukaku. Semua ini akan berjalan seperti perjanjian itu, aku minta maaf"


Sena langsung memeluk Rio dengan eratnya. Senyum Sena mengembang sempurna.


"Kamu tidak akan meninggalkanku lagi kan?"


"Tidak, asal kamu memperbaiki sifatmu itu"


"Iya, aku janji. Terima kasih sayang"


"Akulah yang harusnya berterima kasih"


Rio mengecup puncak kepala Sena cukup lama. Rio tidak merasa ragu lagi dalam menentukan pilihannya, yang dikatakan Sena memang benar dirinya hanya bayangan hitam dihidup Angel.


Diambang pintu, Sifa menatap tajam kearah Rio dan Sena. Sifa merasa kesal keduanya sekarang sudah baikkan padahal dirinya ingin Sena cepat bercerai dengan Rio.


Deren melihat kearah yang Sifa lihat. Deren tersenyum senang Sena sudah baikan dengan Rio dan Sifa pastinya sangat kecewa dengan hal ini.


"Kamu lihat, mereka sudah akur kembali, aku sarankan urus saja urusanmu sendiri!"


"Ck!" Sifa berdecak lalu pergi meninggalkan Deren.


"Dasar orang itu? kapan kamu berubah Sifa? Sena menganggapmu ibunya, kalau Sena tahu kamu bukan ibu kandungnya dan berusaha mengancurkah kebahagiaannya, pasti Sena akan sangat kecewa kepadamu"


..


"Sesuap lagi"


Rio tengah menyuapi Sena dengan penuh kesabaran. Sena terpaksa makan nasi hanya untuk membuat Rio senang.


"Kenyang"


Rio meletakan piring kemeja. Sena tersenyum senang Rio memilihnya.


"Kamu senang?" tanya Rio dan hanya disambut anggukan dari Sena. Rio teringat akan Amanda yang tadi menelfonnya.


"Sayang, mama mau acara tujuh bulannya kamu sendiri yang milih"


Sena terdiam, dirinya tidak enak terus berbohong seperti ini. Sena juga takut ibunya akan bertengkar lagi dengan Amanda, Sena memutuskan untuk tidak melakukan acara ini toh dirinya juga tidak hamil dan acara itu banyak orang yang mungkin salah satu dari mereka dapat curiga kepadanya.


"Tidak usah"


"Loh, kenapa?"


"Ri, aku tidak hamil. Aku mau bulan madu yang kedua, hanya aku dan kamu.. ya kalau kamu ada waktu"


"Tapi mama tahu kamu itu sedang hamil mana mungkin Mama mengijinkan?"


"Ya tinggal kita bilang saja mau baby mon, lagian aku mau di Bali. Aku tidak mau Mama Sifa sama mama Amanda bertengkar lagi"


"Ya sudah, nanti kita minta ijin kemama"


"Makasih"


Sena langsung memeluk Rio dengan eratnya. Senyuman dibibir Rio muncul dengan manisnya. Rio membalas pelukan Sena lalu mengecup puncak kepalanya.


..


Rumah Amanda Riko. Kamar Amanda.


Riko memasuki kamar langsung melihat Amanda yang duduk terdiam ditepi kasur, dia terlihat sedih padahal istrinya ini tadi sangat senang memilih tempat untuk acara tujuh bulanan.


"Kamu kenapa?"


"Acaranya ngga jadi?"


"Apa?"


Riko menghampiri Amanda untuk menanyakan lebih jelas lagi tapi pastinya istrinya ini sangat sedih.


"Iya, tadi Sena dan Rio telefon. Mereka lebih memilih baby mon berdua"


Amanda tersenyum namun Riko tahu senyum itu palsu. Riko menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi dan alasan apa yang membuat Sena membatalkan acara tujuh bulan ini. Riko menghela napas beratnya.


"Mama tahu sendiri, Rio itu super sibuk mungin mereka berdua ingin menebus waktu yang terbuang selama ini, terlebih setelah sekian lama akhirnya Sena hamilkan?"


"Tapi, Pa"


"Mungkin Sena juga tidak enak dengan kita, Mama tahu sendiri Sifa seperti apa? lagian yang minta dipantai kan Sena tapi Ibunya sendiri yang tidak terima acaranya dilaksanakan dipantai dan mungkin Sena ingin kesana jadi dia hanya ingin kesana dengan Rio"


"Terserah mereka sajalah"


"Bilangnya terserah tapi kamunya masih seperti itu?"


"Aku khawatir dengan cucuku"


"Bicara soal cucu, kita masih punya satu lagi yang dekat dengan kita"


Amanda tersenyu tapi kali ini dengan penuh kasih sayang.


"Iya, kamu benar. Sedang apa dia sekarang?"


Amanda buru-buru keluar kamar, mencari Angel untuk menyapa cucunya.


"Untung saja ada Angel, dia jadi tidak terlalu sedih"


...


Warung nasi bu Jihan


Mobil hitam terparkir didepan parkir dan pemiliknya tengah melihat-lihat isi warung ini.


"Kamu jual anakmu untuk warung ini?" kata-kata menohok dari pria yang punya aura kuat ini membuat Jihan dan Erik marah namun tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak ingin menambah masalah.


Ferdy itu nama Ayah Jihan. Orangnya tegas, disiplin, tidak suka dibantah dan semuanya harus seperti yang ia mau kalau tidak amarahnya akan meledak. Dia tidak perduli akan ikatan yang ada bahkan ia tega mengusir dan tidak mengakui Jihan, putri sulungnya sendiri.


Jina yang duduk agak jauh dari mereka menatap ngeri Ferdy dan mengerutuki apa yang tenga Ayahnya lakukan ini. Jina sangat tahu Ferdy ingin Jihan dan Cucunya pulang, tinggal satu atap dengannya namun cara yang dipakai sungguh sangat kasar.


"Apa keputusan kalian?"


"Sebelum itu, Jihan ingin menanyakan sesuatu?"


"Apa?"


"Kenapa Ayah masih seperti ini?"


Jihan menatap Ferdy dengan tatapan penuh kerinduan. Jihan ingin sekali memeluk Ayah yang sangat ia cintai tapi keadaan tidak memungkinkan.


" Memangnya aku harus apa? aku masih merasakan kecewa yang yang sangat besar kepadamu. Aku selalu berusah yang terbaik untukmu, kerja siang malam hanya untukmu tapi kamu malah menentangku!"


"Aku hanya ingin bersama orang yang aku cintai, kenapa Ayah melarangku? ini sudah lebih dari dua puluh tahun, kenapa Ayah masih tidak merestui kami?"


Jihan menggandeng tangan Erik. Erik menoleh kerah Jihan. Erik sudah tahu kalau Angel akan pulang kurang dari enam bulan tapi Erik ingin Angel dan Jihan ikut dengan Ferdy karena dirinya tidak ingin istri dan putrinya hidup kekurangan lagi walau dia akan tersiksa jauh dari dua bidadari yang jadi penyemangatnya selama ini.


"Ada atau tidaknya restu dariku kalian tetap menikah lalu apa bedanya sekarang? sebenarnya aku tidak ingin melihat kalian berdua tapi karena cucuku yang memaksaku untuk disini sapai sekarang. Aku tidak ingin cucuku menderita dan serba kekurangan karena cinta buta kalian"


Jina menatap kasihan kepada Jihan dan Erik. Jina berpikir kalau Ibunya disini pasti dia akan memarahi Ayahnya dan membiarkan Erik dan Jihan tetap bersatu dan membawa semuanya pulang kerumah toh ini sudah tidak seharusnya dibahas lagi karena akan membuat retakan tambah lebar lagi.


"Kami tahu, kami tidak memiliki banyak uang tapi kami punya waktu dan kasih sayang yang tulus untuknya"


Ferdy tersenyum miring mendengar ucapan Erik. Ferdy sangat membenci Erik yang membawa pergi putrinya.


"Ck! memangnya kamu bisa membahagiakan cucuku hanya dengan itu? kamu tidak waras?"


"Buktinya dia sekarang sudah tumbuh besar, apa itu tidak cukup?"


"Diamlah, aku muak beradu argumen denganmu! aku ingin berbicara dengan putriku!"


"Silakan tapi sebelum itu, aku minta maaf atas semuanya. Aku tahu kata maaf sangatlah mudah diucapkan karena itu bencilah diriku tapi jangan istri dan anakku. Disini akulah yang bersalah"


Ferdy mengerutkan keningnya. Jihan nampak tidak setuju dengan yang Erik ucapkan. Jihan yang tidak ingin Erik dan Ayahnya bertengkar mengatakan apa yang Rio katakan.


"Kami tidak jadi meminta bantuan keAyah, kata dia hutangnya akan lunas enam bulan lagi"


"Lunas? enam bulan? kamu ingin menunggu selama itu? kamu ingin putrimu bekerja untuk kalian, kalian benar-benar egois"


Ferdy sangat tahu memutar balikan ucapan lawan bicaranya. Jiha dan Erik tertunduk, mereka berdua mencerna ucapan Ferdy. Kedua membenarkan apa yang Ferdy ucapkan, sungguh sangat memalukan, mengorbankan kebebasan dan waktu hanya untuk melunasi hutanga yang sebenarnya itu kewajiban mereka. Diusia ini memang Angel pantas untuk berkerja tapi dengan catatan hanya untuk dirinya sendiri dan untuk keperluannya.


"Kalian apa tidak sadar. kalian ini sangat memalukan, kalian gagal jadi orang tua karena itu aku akan bawa Angel pergi bersamaku!"


"Yah, jangan bawa Angel pergi!"


"Oh, jadi cucuku namanya Angel"


"Ayah, aku mohon"


"Apa keputusanmu? kamu mau terus bersama Erik? kalau iya, aku bawa Angel bersamaku!"


Jihan terdiam, dirinya bingung harus apa. Baginya keduanya sangatlah berarti untuknya.


"Kita akan bercerai"


Jihan langsung menatap Erik dengan tatapan tidak percaya. Ferdy tersenyum miring, memang inilah yang ia mau. Jihan menitihkan air matanya.


"Rik, aku tidak mau"


"Ini yang terbaik untuk kita"


Jihan menggeleng. Erik menghapus air mata Jihan. Jina yang melihat ini semua menyadari satu hal yaitu cinta kakaknya kepada Erik sangatlah besar dan Ayahnya ini sungguh sangat keterlaluan namun apa dayanya, dirinya tidak bisa ikut campur diurusan ini karena mungkin malah menambah masalah.


"Aku tidak mau!"


"Aku tahu tapi kamu pastinya tidak ingin berpisah dengan putrimukan? aku tidak ingin membuatmu sedih lagi. Aku tahu kamu kesal keayahmu sekarang tapi aku yakin kamu sangat merindukan keluargamu. Aku mohon"


"Kita tanya Angel saja, bicara soal masalah ini"


"Jihan, jangan. Ini masalah kita buakan tentang Angel, kasihan dia"


"Apa kamu tidak kasihan kepadaku?"


"Sayang, kamu merasa sedihkan saat jauh dari putrimu?"


"Iya"


"Itu juga yang dirasakan ibumu"


Jihan menundukan kepalanya. Jihan sekarang tahu bagaimana kesedihan yang dirasakan orang tuanya. Jihan menatap Ferdy lalu mengalihkan pandanganya ke Jina yang tengah menghapus air matanya.


Erik langsung menarik Jihan kedalam pelukannya.


"Pulanglah kekeluargamu, aku tidak apa-apa"


Erik berucap seperti itu namun hatinya berkata sebaliknya. Jihan menangis tanpa suara didekapan Erik.


"Benar aku tidak apa-apa, kamu hanya harus tahu ini, sampai kapanpun aku selalu menyayangimu. Jaga putri kita yah? kita sudah banyak merepotkannya, dia pasti senang bertemu kakek dan neneknya"


Ferdy menghelanapas beratnya saat mengengar ucapan Erik. Kakek? Ferdy merasa cucunya ini akan membencinya karena telah memisahkannya dengan Ayahnya. Ia yakin betul akan hal ini sebab dirinya juga merasa seperti itu saat dipisahkan dengan orang yang sangat dia sayang.


"Keputusannya apa?"


Erik melepas dekapannya. Erik menguatkan dirinya sendiri untuk ini semua.


"Aku mohon Ayah jangan membenci Jihan dan tolong jaga putriku. Aku akan pergi dari kehidupan Jihan dan Angel, mereka lebih baik tanpa ku"


Jina menatap Ferdy dengan tatapan kekesalan. Jina sendiri ingin sekali memarahi Ferdy atas semua kesalahan yang ia buat dulu dan sekarang. Jina sangat tahu Ayahnya ini sangat payah dalam mengungkapakan perhatiannya kepada orang-orang sangat ia cintai, dirinya selalu menggunakan cara yang salah untuk menghadapi masalah yang harus dipikir dengan otak dan juga hati.


"Baiklah kalau begitu, aku akan bawa Angel pergi dan kalian kan hidup tenang"


"Aa..apa? tidak jangan lakukan itu Yah!" pinta Jihan.


"Yah, aku mohon jangan pisahkan Jihan dengan Angel!"


"Kalau begitu berjanjilah kamu akan membawa cucuku pulang! jangan sampai dia kekuaranga suatu apapun dan jangan membuat putriku harus bekerja seperti ini"


Jina mengerutkan keningnya, ia tidak paham apa yang dikatakan Ayahnya ini begitu juga dengan Erik dan Jihan, keduanya bingung dengan ucapan orang didepanya.


"Maksud Ayah?" tanya Erik.


"Aku belum bisa merestui kalian tapi aku tidak ingin cucuku membenciku karena memisahkannya dari kalian"


"Ayah?" panggil Jihan denga air mata yang berlinang.


"Jaga keluargamu ini, Kalau sampai kamu tidak bisa menjaga kedua malaikatku, aku pastikan kamu tidak akan pernah melihat mereka lagi!" ucap Ferdy ke Erik. Erik mengangguk dengan pasti.


Jihan menghapus air matanya lalu berlari dan memeluk Ferdy dengan eratnya, hal yang ingin ia lakukan sendari tadi.


"Makasih, Yah"


"Jaga keluargamu sayang"


"Iya. Jihan kangen Ayah"


Jina terharu melihat semua ini sekaligus tidak percaya apa yang Ayahnya telah lakukan.


"Ayah juga, maaf membuatmu seperti ini"


"Jihan yang salah"


"Sudah yah, Ayah harus pergi"


Jihan melepas pelukannya. Ferdy langsung menghapus air mata Jihan lalu mengecup kening Jihan"


"Aku mau kalian bawa Angel menemui ku secepatnya"


"Iya"


Ferdy mengambil dompetnya lalu mengeluarkan salah satu kartu dari dalam dompetnya lalu diberikanya kepada Jihan.


"Ini?"


"Itu untuk cucuku. Jina, ayo kita pergi!"


"Iya Yah"


Ferdy pergi begitu saja namun sebelum melangkah pergi, dirinya mengambil satu bingai foto yang dipajang dipojok rungan.


Sebelum pergi Jina menghampiri Jihan.


"Kak, aku pulang. Kakak jaga kesehatan"


"Kamu juga, titip Ayah sama ibu yah?"


"Iya. Bye kak Erik"


Setelah keduanya pergi. Erik memeluk Jihan dengan eratnya, ia bersyukur tidak jadi berpisah dengan Jihan.


"Katanya tidak apa-apa bila jauh dariku tapi sekarang? kamu malah seperti ini?"


"Aku berbohong tadi, aku tidak bisa bernapas tanpamu disisiku"


"Kamu ini, nyebelin!"


"Nyebelin tapi sayang kan?"


"Iya"


...


mobil Ferdy.


Ferdy tengah memandang foto yang ia ambil tadi dengan senyum yang mengembang sempurna dan membuat Jina merasa curiga kalau Ayahnya ini akan berbuat nekat dan entah kenapa ia berpikir kalau Ayahnya ini akan menculik cucunya sendiri terlebih dia sudah mempunyai fotonya.


"Ayah tidak kepikirankan untuk menculik cucu Ayah sendiri?"


"Kamu kira Ayah mu ini akan berbuat seperti itu?"


"Mungkin?"


"Tidak, aku tidak akan melakukanya. Aku takut dia akan marah" ucap Ferdy sembari menatap foto Angel yang tersenyum sangat manisnya.


"Ibu pasti senang"


"Senang? kamu yakin?"


"Eh? Ibu pasti marah Ayah masih tidak merestui mereka. Yah kenapa Ayah masih tidak ingin merestui mereka?"


"Ayah sudah menjodohkan kakakmu dari bayi dan ayah malu dengan sahabat Ayah"


"Jangan bilang itu suamiku?"


"Bukan dia"


"..."


....****....