Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 7 Dasar nyebelin



Angel mulai kehilangan fokusnya. Kelopak matanya perlahan menutup dengan sendirinya.


"Ayo sayang rebut bolanya!" ucap Rio saat Angel berhenti bermain. Angel tak kuat lagi menahan kantuk. Kedua matanya kini menutup sempurna dan.


"Eh?"


Kepala Angel bersandar di bahu Rio membuat Rio terkejut. Rio menoleh ke Angel yang sudah "tenggelam" di alam mimpi.


"Hah, dasar kamu ini!"


Rio membelai lembut rambut kepala Angel lalu memindahkan Angel ke sofa yang terletak di belakang mereka. Rio sendiri belum mengantuk karena itu Angel di baringkan di sofa untuk sementara baru kalau dirinya sudah ngantuk baru Angel dipindahkan ke kamar.


"Kamu tidur disini dulu yah"


cup


Kecupan hangat mendarat lembut dikening Angel. Rio yang belum mengantuk melanjutkan bermain PS.


01:20 pagi


Angel perlahan membuka matanya. Di lihatnya punggung Rio yang masih bermain PS. Angel mengalihkan pandangannya ke jam dinding. Angel menghela napas lalu mendudukan tubuhnya, tatap mata Angel datar saat memandang Rio. Angel beranjak dari sofa menuju Rio yang masih asik bermain PS.


"Ayo lah! kali ini harus gol!"


"Eeemmm"


Suara gumahan itu membuat Rio menoleh. Angel langsung duduk di pangkuan Rio tanpa berkara apa pun. Angel memeluk Rio seakan menyurhnya untuk cepat tidur. Angel kembali memejamkan mata tapi sepertinya Rio tidak memahami apa yang Angel mau, Rio terus saja bermain PS. Suara dari permainan itu membuat Angel terganggu.


Angel menegakkan tubuhnya lalu menatap Rio kesal tapi tatapannya di acuhkan oleh Rio. Angel mendengus kesal lalu dengan tangan kanannya Angel menutup kedua mata Rio.


"Ayo tidur!" ajak Angel dengan nada kesal. Rio meraih tangan Angel yang menutupi matanya.


"Kamu ini!" ucap Rio dengan nada geregetan seolah-olah tengah menahan emosi. Rio sendiri masih ingin bermain dan tidak mau diganggu.


cup


Seakan kekesalan Rio hilang seketika saat Angel mengecup bibirnya. Angel memandang Rio dengan tatapan memelas.


"Satu kali lagi baru aku mau tidur!"


cup


cup


cup


Mata Rio membulat saat Angel langsung melakukan permintaannya malah Angel memberikan bonus dua kecupan lagi.


"Ya sudah, ayo tidur"


Rio mematikan TV dan PSnya lalu membopong tubuh mungil Angel menuju kamar.


.....


Suara burung berkicau bersauhutan seakan gembira menyambut hangatnya sinar mentari. Rio keluar dari kamar mandi, kedua matanya mendapati istrinya yang masih meringkuk di balik selimut tebal. Biasanya istri mungilnya ini sudah hilang dari sebelahnya tapi sepertinya istri mungilnya ini masih ingin tidur.


Rio tersenyum lalu berjalan ke arah pintu sembari sebisa mungkin tidak membangunkan Angel yang masih tertidur bahkan Rio tidak membuka tirai yang tebal. Intinya tirai jendela Rio ada dua lapisan, satu tirai tebal berwarna cokelat dan satu lagi tirai tipis berwarna putih.


Rio menutup pintu kamar dengan pelan berharap Angel tidak terbangun.


"Sebaiknya aku buat sarapan"


Rio bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya dan untuk istri mungilnya.


Rio tidak marah ke Angel yang belum bangun baginya menyiapkan semuanya sendiri itu sudah sangat terbiasa di lakukan bahkan saat bersama Sena. Rio tidak pernah mengeluh sedikit pun ke Sena karena Rio sangat mencintai Sena lebih dari siapa pun termaduk wanita yang melahirkannya. Rio selalu membela Sena didepan ibunya bahkan ibunya sendiri sering di acuhkan. Rio punya alasan sendiri saat dirinya lebih memilih istrinya ketimbang wanita yang melahirkannya kedunia ini dengan taruhan nyawa.


Rio membuat roti panggang selai cokelat untuk Angel sedangkan dirinya hanya membuat secangkir kopi.


Rio membawa baki yang diatasnya terdapat sepiring roti panggang, segelas susu hangat dan secangkir kopi ke kamar. Ia ingin sarapan bersama Angel.


Rio membuka pintu kamar dan ternyata Angel masih tertidur dengan nyenyaknya.


Rio meletakan baki itu di meja dekat tempat tidur lalu Rio berjalan ke arah Angel yang masih tenggelam di alam mimpi.


"Dasar putri tidur!"


Rio menarik-narik pipi kiri Angel agar Angel terbangun namun Angel tidak mau membuka matanya.


"Sayang ayo bangun!"


Angel hanya menggeliat saja bahkan tangan Angel menarik selimut hingga menutupi wajahnya.


"El, sarapan dulu yuk! ntar tidur lagi!" bujuk Rio dengan halus.


"Haaahh. Nggak mau! mau tidur aja!"


Rio yang geregetan langsung menyingkab selimut yang Angel pakai lalu menarik kedua tangan Angel.


"Ayo bangun! buka mata kamu!"


"Haaa. Aku masih mau tidur!"ucap Angel dengan mata yang masih menutup. Rio sendiri menyakini kalau Angel masih di alam mimpi tapi kenapa Angel menyahuti ucapannya?.


Terlintas ide jahil yang mungkin bisa membuat Angel terbangun di pikiran Rio.


"Sayang, ini sudah mau siang loh? kamu belum nyiapin baju aku! ntar aku telat kekantor!"


Mendengar ucapan Rio barusan kedua mata Angel langsung terbuka dengan sempurna.


"KESIANGAN!!" teriak Angel langsung sontak Rio melepas genggamannya dari kedua tangan Angel. Angel yang panik langsung turun dari tempat tidur dan berlari ke luar kamar.


"Kamu mau kemana? tanya Rio saat Angel akan melangkah keluar. Angel langsung berbalik, menatap Rio.


"Nyiapin baju kamu" jawab Angel dengan polosnya. Rio langsung tertawa dengan renyahnya saat ide jahilnya berhasil membuat Angel terbangun bahkan sampai lupa hari.


"Ini hari minggu sayang!"


Angel yang sadar dirinya di kerjai langsung menggembungkan kedua pipinya. Rio masih tertawa dengan renyahnya dan tak memperdulikan tatapan menyeramkan Angel.


"Kamu ngerjain aku?"


"Iya"


"Iiiihhh KAK RIOOO!!"


Angel langsung berlari kearah Rio dan memukul dada bidangnya. Rio tidak merasa sakit malah pukulan Angel itu seperti Angel tengah menggelitikinya. Tawa Rio terdengar lebih keras dari sebelumnya. Sadar kalau pukulannya hanya membuat Rio tertawa, Angel pun menyudahi apa yang tengah ia lakukan ini.


"Nyebelin!"


Angel mengerutkan dagunya sembari melihatkan tatapan kesalnya.


"Nggak usah di jelek-jelekin mukanya, ayo sarapan"


Rio mengacuhkan wajah murka Angel dan lebih memilih berjalan kearah meja yang terdapat baki. Rio mengambil satu roti panggang lalu berjalan lagi ke Angel.


"Buka mulutnya!! aaa"


Angel memalingkan wajahnya. Rio tidak kehabisan akal untuk membuat Angel memaafkannya.


"Sayang ayo buka mulutnya! ini pesawatnya mau mendarat!" ucap Rio sambil memainkan roti itu di udara bahkan Rio sampai mengetuk-ngetukannya di bibir Angel namun Angel tidak mau membuka mulutnya.


"Kamu ini! apa mau di cium dulu?"


Mendengar itu Angel langsung memakan roti yang di sodorkan di depan mulutnya.


"Nah gitu dong!"


Rio tersenyum kemenangan akhirnya Angel mau menurut.


..


Angel yang tengah terduduk di atas kasur sembari memegang segelas susu hangat dengan kedua tangannya. Entah apa yang di pikirkan Angel sekarang ini yang jelas tatapannya kosong.


Lamuna Angel buyar saat Rio membuka tirai jendela. Angel melihat ke arah Rio dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Nggak usah lihatin aku seperti itu! aku juga nggak akan hilang kok"


Ucapan Rio membuat Angel melengos tak menatapnya lagi. Angel mengerutuki apa yang telah terjadi, kenapa dirinya begitu bodohnya menatap Rio seperti itu.


"Susunya nggak di minum? apa kamu tidak suka susu sapi?"


"Tadi aku sudah meminumnya kok, kak Rio cuma minum kopi?" tanya Angel memastikan.


"Iya" jawab Rio singkat namun jawaban Rio membuat Angel khawatir.


"Kamu ini ntar sakit loh!"


"Eh?"


Rio terdiam beribu bahasa setelah mendengar kalimat yang meluncur dari bibir mungil istri keduannya ini padahal Sena tak pernah sekhawatir ini. Angel menaruh gelas ke meja lalu mengambil sepotong roti. Roti ini untuk Rio.


"Ini. Kamu harus makan jangan terlalu sering minum kopi, itu kurang bagus untuk kesehatanmu"


Rio tersenyum. Angel menyodorkan roti itu kemulut Rio dan denga senang hati Rio pun memakan roti pemberian Angel.


"Terima kasih" ucap Rio dengan halusnya dan Angel hanya membalas dengan senyuman manis di bibirnya.


...


10:20 pagi


Rio mendengus kesal karena istrinya tak kunjung keluar dari kamar. Rio yang tidak ada kegiatan memilih bermain PS bola lagi dan sekarang tanpa gangguan Angel. Awalnya Rio nampak senang karena tidak ada yang mengganggu tapi lama kelamaan bosan juga main sendiri dan Rio rindu suara cempreng istri mungilnya ini.


"Jangan bilang tuh bocah tidur lagi"


Rio langsung mematikan PS dan TV lalu berlari menuju kamar. Pintu kamar yang tidak di tutup langsung melihatkan Angel yang meringkuk di balik selimut.


"Tidur lagi?"


Rio langsung menghampiri Angel. Saat ingin membangunkan Angel, kedua mata Rio melihat keringat yanh membasahi dahi Angel.


"AC-nya mati?"


Rio langsung berjalan ke bawah AC untuk mengecek ACnya berfungsi atau tidak.


"Dingin tapi kenapa tuh bocah keringetan?"


Rio kembali ke dekat Angel. Mata Angel memang terpejam tapi keluhan dari mulut Angel.


"Aduh"


Walau tertidur raut wajah Angel menunjukan kalau di kesakitan.


"Sayang kamu kenapa?"tanya Rio khawatir. Rio langsung duduk di tepi kasur sebelah Angel.


"Perutku sakit"


"Oh, emang PMS sakit yah?"


"Sakit! kamu coba jadi perempun sekali pasti kamu tahu rasanya!"


"Tidak terima kasih tapi antara angka 1 sampai 10 rasa sakitnya di antara angka berapa?" tanya Rio.


"Sebelas!"


"Wow"


Rio sebenarnya sudah tahu kalau PMS itu sakit dan karena itu kalau perempun sedang PMS jangan di ganggu atau jadi pelampiasan rasa sakit alias dimarahi.


Angel semakin meringkuk, kedua tangannya ia tekan di perut menandakan kalau ia sangat kesakitan. Rio yang tidak tega melihat kondisi Angel seperti ini berinisiatif mengajak Angel ke rumah sakit.


"Sayang, ke rumah sakit yuk? bujuk Rio dengan nada halus.


"Bisa diam nggak sih? perut aku sakit jangan bicara lagi!" ucap Angel dengan penuh emosi. Rio yang niat baiknya di acuhkan hanya bisa menghela napas.


"Kamu ini!"


Rio tidak bisa marah balik karena kondisi Angel yang seperti ini. Angel kembali mengeluh membuat Rio bingung harus berbuat apa. Angel tidak mau kerumah sakit.


Rio membuka laci meja dan mengeluarkan minyak kayu putih dari dalamnya.


"Aku olesin minyak kayu putih yah keperut kamu?"


Angel mengangguk. Rio menyingkab selimut yang digunakan Angel. Angel membuka mata saat sentuhan halus tangan Rio menyentuh kulit perutnya.


"Biar hangat nggak dingin seperti ini"


"Makasih"


Rio menoleh lalu tersenyum. Sentuhan Rio membuat rasa sakit di perut Angel sedikit terobati.


"Sudah"


Rio membenarkan lagi baju Angel. Angel menggigit bibir bawahnya entah kenapa dirinya jadi merasa bersalah seperti ini namum sedetik itu pun dia tahu kenapa perasaan ini muncul.


"Kak Rio maaf"


Rio bingung kenapa Angel tiba-tiba minta maaf, apa dia minta maaf karena tadi memarahinya?.


"Minta maaf soal apa?"


"Harusnya aku tidak PMS"


Rio tahu apa maksud Angel. Angel merasa bersalah karena dirinya belum hamil padahal Angel tahu bayi yang nantinya ia lahirkan sangat berarti untuk Rio dan Sena.


"Nggak apa-apa. Oh iya sayang aku boleh nanya sesuatu sama kamu nggak?"


"Apa?"


"Jangan marah tapi?"


"Iya, apa"


"Benerankan nggak marah?"


"Iya"


"Beneran?" tanya Rio sekali lagi membuat Angel menghela napas.


"Iya sayang ku, suami ku yang paling ganteng!" ucap Angel dengan penuh penekanan.


"Makasih"


"Buru mau nanya apa?"


"Emmm" Rio seolah-olah tengah perpikir sembari melirik ke arah Angel. Angel sekarang jadi penasaran apa yang mau Rio tanyakan. Rio menunjukan senyun jahilanya.


"Emm sayang"


"Apa?"


"Nggak jadi nanya!" ucap Rio dengan cepat lalu melarikan diri keluar kamar.


"RRRRIIIIOOO!!"


Teriak dengan kesalnya bahkan Angel kini terduduk dan wajahnya sangat menyeramkan.


"Iihh dasar nyebelin! perut lagi sakit masa di ajak bercanda!!"


Angel mendengus kesal lalu membaringkan tubuhnya lagi dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.


....


Rio tertawa dengan renyahnya, pasti sekarang Angel tengah mengerutukinya.


"Aduh"


Rio memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa dan jari tangannya menyeka air mata yang turun dari matanya.


"Dasar tukang ngambek!"


Ruang kerja Rio


Rio sendari tadi menatap kardus ponsel baru yang rencananya untuk Angel tapi Rio merasa ada yang kurang.


"Masa aku cuma kasih ini aja?"


17:45


Rio memasuki kamar dan langsung mendapat tatapan yang tak enak dari Angel yang tengah terduduk di kasur.


"Masih marah?"


"Iya"


"Kamu ini. Aku nggak masak, makan di luar yuk?"


Angel menggeleng dengan pasti. Dirinya sedang tidak mau bergeser dari tempat tidur.


"Memangnya kamu nggak sumpeng apa di kamar terus? cuma makan di resto terus pulang. Aku janji!"


"Kamu nggak bohong kan?"


"Iya"


"Tapi aku malas pergi"


Rio menghela napas lalu meraih bedak dan lipgloss di meja rias Angel. Rio menghampir Angel dan duduk di depannya.


"Cuma sebentar kok" ucap Rio dengan nada yang lembut. Rio memoleskan bedak di wajah Angel. Angel hanya membiarkan saja Rio melakukan apa yang dia mau.


15 menit berlalu kini wajah Angel tambah cantik karena polesan make up dari Rio dan rambut panjang Angel pun sudah terikat rapi.


"Selesai, ayo!"


Denga terpaksa Angel mengikuti kemauan Rio untuk makan di resto padahal dirinya sungguh sangat malas sekali keluar rumah bahkan keluar kamar pun rasanya sangat malas.


..


Resto


Rio hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Angel cuma megaduk- adauk makanan di depannya. Sepertinya Angel memang benar-benar tidak mau pergi.


"Mau aku suapin?" tawar Rio.


"Aku sudah kenyang"


"Ya sudah, ayo pulang!"


Mendengar kata "Pulang" Angel kembali bersemangat.


"Ayo!"


Rio berdecak kesal lalu memanggil pelayan untuk meminta bil.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong bil-nya"


"Iya"


Pelayan itu langsung pergi ke arah kasir. Beberapa menit kemudian pelayan itu datang kembali dengan membawa yang Rio mau.


"Aku tunggu di depan"


Tanpa menunggu persetujuan dari Rio, Angel langsung nyelonong pergi keluar resto


...


Rio menghampiri Angel yang tengah berdiri di depan plang nama resto.


"Kita nonton yuk!" Ajak Rio dengan nada bersemangat. Angel menatap datar Rio, sepertinya Rio lupa akan ucapannya sendiri. Rio berjanji hanya makan malam langsung pulang tidak mampir ketempat lain.


"Nggak!"


Angel yang memang sedang malas keluar rumah langsung menolak mentah-mentah ajakan Rio toh Angel juga sudah bilang kalau dia hanya mau ikut ke resto saja dan itu pun jangan lama-lama karena dirinya ingin tidur lebih awal.


"Kamu ini makin galak saja!"


"Biarin! mau pulang, TITIK!!"


Angel mengerukan dagunya lalu berjalan mendahului Rio menuju mobil yang lumayan terparkir agak jauh dari resto.


Rio menghela napasnya padahal ia ingin membelikan sesuatu untuk Angel dan Rio ingin Angel sendiri yang memilihnya.


"G.A.T.O.T deh! gagal total, dasar bocil!"


Angel yang menyadari Rio tidak mengikutinya lalu berbalik menatap Rio yang masih berdiri di tempat yang tadi dan tidak bergeser sedikit pun membuat amarah Angel sampai diubun-ubun.


"KAK RIIIOOO!!" Teriak Angel sekencang-kencangnya meluapkan emosinya. Rio menyadari kalau istrinya benar-benar marah langsung berlari menyusul si tukang ngambek yang bikin gemes.


Kedatangan Rio langsung di sambut wajah murka Angel namun Rio hanya menunjukan senyum tak berdosanya.


"Nyebelin!"


"Biarin. Sayang!"


"Apa?" jawab Angel dengan nada kesalnya.


"Tembus" ucap Rio singkat lalu berjalan meninggalkan Angel yang kini mengerutkan keningnya.


"Tembus? apa?"


Angel langsung melihat di bagian belakang roknya namun sepertinya Rio tengah mengerjainya. Tidak ada noda apa pun di rok bagian belakang.


"Kak Rio!" ucap Angel dengan geregetan, sedangkan Rio kini tertawa dengan renyahnya.


"Awas nanti aku tarik telinganya!"


Angel langsung berlari menyusul Rio. Awalnya Rio hanya berjalan biasa tapi saat ia menoleh ke arah belakang tepatnya ke Angel. Rio terkejut saat melihat Angel yang ternyata larinya kencang membuat Rio yang tadinya berjalan santai kini berlari menjauhi Angel.


"KAK RRIIIOOO!!!"


Angel terus berlari mengejar Rio yang semakin jauh. Angel yang pernah juara lari 200 meter tak ayal kalau dirinya bisa mengejar Rio hingga sedekat ini.


Rio berlari kearah taman yang tak jauh dari tempat parkir. Rio yang sudah lama tidak berlari seperti ini membuatnya seakan kehabisan napas.


"Capek!"


Kedua tangan Rio bertumpu pada kedua lututnya sembari mengatur pernapasannya namun sedetik itu.


"Aaawww"


Angel datang lalu menarik telinga kirinya. Rio mengaduh tapi Angel tidak perduli sebab yang Rio lakukan tadi sungguh-sungguh tidak lucu!.


"Aaww, sakit sayang!"


"Biarin!"


"Jangan galak gitu! aku minta maaf"


"Jangan di ulangi lagi!"


"Iya janji"


Angel pun langsung melepas jewerannya. Rio langsung memegangi telinga yang dijewer Angel tadi.


Angel melihat kesekeliling dan pandangannya terhenti di sepasang ayunan tak jauh dari tempatnya berdiri.


Angel berjalan menuju ayunan itu. Rio mengikuti dari belakang menuju ayunan.


Angel duduk di ayunan sebelah kana sedangkan Rio di sebelah kiri, mereka sama-sama menatap kelangit melihat bulan sabit yang begitu indah.


"Lari kamu kok kencang gitu?" tanya Rio membuka obrolan.


"Ya iyalah! usiakukan baru 19 sedangkan kamu?"


Angel menggantungkan ucapnnya sembari melirik Rio.


"Apa? usia ku 27 jadi harus sopan sama yang lebih tua! jangan tarik telinga aku lagi tapi kalau cium boleh!"


Angel melengos mendengar itu dan suasana kembali sunyi. Angel perlahan mengayunkan ayunan sembari melihat ke arah bulan, senyum Angel perlahan terukir dengan sendirinya dan bak magic Rio juga ikut tersenyum.


"Kamu baru lulus SMA?"


"Iya"


"Kamu mau kuliah?"


"Hah?"


"Aku biyayain semua, mau nggak?" tawar Rio. Angel terlihat senang tapi sedetik itu ia menyadari kalau dirinya tidak pantas mendaparkan itu. Angel tidak mau berhutang lagi, sudah cukup dirinya berhutang untuk biyaya oprasi Ayahnya.


"Nggak usah"


"Kenapa?"


"Nanti aku sibuk terus siapa yang memperhatkikan kamu?"


Ucapan Angel sukses membuat Rio mengangga dan juga senyum yang terukir manis di bibir Angel.


"Kenapa lihatin aku seperti itu?"


"Siapa yang lihatin kamu! jangan ke PD-an!" ucap Rio dengan penuh penekanan membuat dagu Angel mengkerut.


"Nggak usah dijelek-jelekin tuh muka!"


"Biarin! suka-suka aku!"


"Ngambek lagi?"


"Iya"


Rio mendengus kesal namun sedetik itu Rio teringat kalau tadi saat dikasir kembalian uangnya permen lolip pop mungkin ini bisa membuat Angel tidak marah lagi.


"Mau permen?"


Angel menoleh kearah Rio. Rio menyodorkan permen loli pop ke arah Angel. Dengan gerak kilat Angel langsung menyambar pernen itu dari tangan Rio.


Angel langsung membuka bungkusnya lalu memakannya.


"Dasar bocil!"


Angel hanya melempar senyum. Saat menoleh ke arah Rio, Angel melihat air mancur yang sangat indah terlebih lagi dengan cahanya yang menyinari air mancur itu.


"Kak, kesana yuk!"


Angel bangkit dari ayunanya lalu menarik tangan Rio. Mau tidak mau Rio menurut saja takut Angel akan ngambek lagi.


Sesampainya di air mancur barulah Angel melepas genggaman tangannya.


"Indahnya"


"Kalau tadi kamu nggak mau ikut kamu nggak lihat ini"


"Iya aku tahu! sering-sering ajak aku kesini yah?"


"Iya"


Angel melihat ada pedagang kaki lima yang menjual kacang dan jagung rebus. Angel ingin membelinya tapi dirinya tidak mempunyai uang. Angel menatap Rio membuat yang di tatap mengerutkan keningnya.


"Kamu mau apa?"


"Itu!!" ucap Angel sembari menunjuk pedagang kaki lima. Rio melihat kearah yang ditelunjuk jari tangan Angel.


"Oh, kamu mau beli?"


Angel mengangguk pasti. Rio langsung mengeluarkan dompetnya lalu disodorkannya dompet itu.


"Dua puluh ribu aja"


"Nggak usah nawar! sonoh beli"


Angel menggembungkan kedua pipinya lalu mengambil dompet itu lalu berjalan pergi menuju pedangang kaki lima itu. Rio hanya menatap kepergian Angel.


"Berasa punya anak aja aku" lirih Rio.


..


Angel langsung memesan dua jagung rebus dan kebetulan sekali pedagangnya sedang diskon beli dua gratik satu jadi Angel mendapat tiga bonggol jagung. Setelah membayar Angel langsung kembali lagi ke Rio.


"Semoga aja kak Rio suka jagung rebus"


Senyuman manis dibibir Angel menemani langkahnya. Perutnya pun ini tidak terasa sakit lagi.


Dekat air mancur


Senyum Angel tiba-tiba hilang saat Rio tidak lagi di tempat yang tadi.


"Loh kak Rio mana?"tanya Angel ke dirinya sendiri. Raut wajah Angel sekarang terlihar panik. Dilihatnya sekeliling namun Rio tidak ada.


"Kak Rio! apa aku ditinggal? kalau benar aku nggak tahu ini di mana"


Saat air mata Angel ingin menetes sebuah pelukan hangat dari belakang membuatnya lega terlebih Angel tahu bau parfum ini.


"Nyariin yah?"


"Kirain di tinggal"


Rio melepas pelukannya lalu membalikan tubuh istri mungilnya.


"Ya ampun, baru ditinggal sebentar aja sudah mau nangis"


"Tauah! kak Rio nyebelin!"


"Dih ngambek!" goda Rio dan berhasil membuat Angel menggembungkan pipinya. Entah kenapa Rio ingin terus membuat Angel ngambek seperti ini. Wajah Angel cembetut membuat Rio merasa senang.


"Kak Rio nyebelin!"


"Emang kenyataannya dan dasar tukang ngambek!"


"Aku juga nggak ngabek kalau kak Rio nya nggak nyebelin!"


"Lah kok jadi aku. Kan kamunya yang ngambek"


Angel menunjukan wajah cemberutnya dan tatapan yang tidak enak di lihat. Rio pura-pura tidak melihat Angel.


"Jangan dijelekin gitu mukanya! kamu itu udah jelek jadi nggak usah di tekuk gitu!" nada bicara Rio seolah olah mengatakan yang sesungguhnya.


"Udah jelek gampang ngambek suka ngerepotin!" sambung Rio lagi dan kali ini perkataan Rio membuat kepala Angel menunduk. Rasa sesak di dadanya kini muncul dan pertanyaan "Apa aku seperti itu?" yang kini terbesit di pikirannya.


Angel sadar kalau dirinya lebih banyak merepotkan Rio dibanding membantunya, seakan dirinya hanya jadi beban yang mengganggu bagi Rio.


Rio masih tetap mengoceh tidak jelas tanpa melihat Angel yang semakin menunduk. kedua tangan Angel mengepal seakan menetralkan perasaan yang ada di hatinya.


".... Udah cengeng, suara cempreng- -"


"Aku minta maaf, seharusnya kemarin aku tidak menerima tawaran kak Sena"


potong Angel.


"Aku mau pulang" pinta Angel langsung melangkah, sekarang Rio merasa bersalah.


Rio langsung menggenggam pergelangan tangan kiri Angel saat Angel ingin pergi.


"Kamu marah?" tanya Rio dengan halusnya. Angel ingin segera pergi dan dirinya tidak mau Rio melihat air matanya turun.


"Lihat aku, aku mohon?"


Angel tetap tidak mau merespon. Rio geregetan langsung mencium bibir mungil Angel, sontak Angel terkejut lalu mendorong tubuh Rio menjauh darinya.


"Kak Rio apa-apaan sih!" ucap Angel dengan penuh kekesalan. Bisa-bisanya Rio mencium dirinya di tempat umum kalau ada yang lihat kan malu.


"Kamu itu istri aku!" ucap Rio dengan penuh penekanan. Rio mendekati Angel lagi dan kali ini Rio meraba bibir mungil Angel dengan jemarinya. Jemari Rio kini turun ke dagu Angel lalu mendongakan dagu Angel keatas.


Angel hanya bisa terdiam membeku saat Rio menatapnya dengan dalam. Perlahan Rio mendekatkan wajahnya. Angel menutup kedua matanya saat melihat Rio yang memiringkan wajahnya, Angel dapat merasakan hangat napas Rio di wajahnya dan.


...***...