
"El! ANGEL!"
Angel langsung terduduk dengan napas yang terengah-engah.
"Kamu kenapa?" tanya Rio dengan nada panik. Angel tidak langsung menjawab, dia masih terlihat ketakutan.
"Hey"
Rio langsung menarik Angel dalam pelukannya. Angel terisak dipelukan Rio membuat Rio semakin panik.
"Kamu kenapa? kamu mimpi buruk?"
Rio semakin erat memeluk Angel. Kecupan hangat ia berikan dipuncak kepala Angel, berharap istrinya ini akan lebih tenang.
"Jangan tinggalkan aku, aku mohon" pinta Angel ditengah-tengah isakannya.
"Aku disini, aku tidak akan meninggalkan mu. Aku janji"
Angel mendongakan kepalanya, menatap Rio dalam seakan meminta kejujuran.
"Kamu istriku dan aku akan selalu bersamamu, sayangku!"
Rio menarik hidung Angel sekilas lalu mencium pipi Angel. Angel merasa nyaman saat berada didekat Rio dan ini sudah jadi kebiasaan yang membuatnya takut kalau nanti berpisah dengan Rio dirinya tak bisa melupakan Rio dan sulit mencari pengganti Rio nantinya tapi Angel tidak mau ada orang lain yang mengantikan posisi Rio didalam hatinya.
"Senyum dong, jangan cemberut seperti itu, nanti anak kita punya dedek loh?" ucap Rio ngelantur membuat pipi Angel merona.
"Iiihhh apaan sih!"
Angel langsung memukul-mukul dada Rio dan membuat Rio tertawa geli. Angel sangat kesal dengan perkataan Rio barusan. Adik? kakaknya saja belum lahir masa dikasih adik kan ngga mungki?.
"Nyebelin!"
"Dih, ngambek!"
Cup
cup
cup
Rio terus mengecup pipi tembem Angel yang selalu membuatnya gemas sendiri dan Rio tidak sabar melihat perut besar Angel pasti itu sangat lucu.
"Jangan diciumi terus ntar pipi aku habis!" kesal Angel.
"Biarin!" Rio masih menciumi pipi Angel dengan gemasnya namun suara perut Angel membuat Rio menghentikan keusilannya.
"Kamu lapar lagi?"
Angel hanya melihatkan deretan giginya. Rio mengacak acak puncak kepala Angel dengan gemasnya.
"Aku ambilin nasi yah?"
"Mau susu" pinta Angel. Rio mengangguk lalu bangkit dari duduknya. Angel mengelus perutnya yang masih rata.
"Kamu baik-baik didalam sini yah, Ibu akan jagain kamu"
Tak lama Rio datang dengan segelas susu cokelat hangat. Angel terlihat sangat senang dan sepertinya anak didalam kandungannya ini ingin cepat merasakan susu pertamanya.
"Sepecial untuk istriku dan anakku tersayang, nih"
"Makasih Ayah" lontaran kalimat itu meluncur mulus dibibir Angel.
Rio mengerutkan dahinya namun sedetik itu senyumnya terukir dengan sangat manisnya.
Angel langsung meminumnya tapi ekspresi Angel langsung berubah saat meminum susu itu.
"Kenapa?"
"Engga enak" Angel kira susu ini seperti susu yang ia biasa minum tapi kenyataannya berbeda.
Angel meletakan segelas susu cokelat yang masih penuh itu keatas meja dan rasa tida enak masih tertinggal ditenggorokannya.
"Namanya juga susu khusus bumil ya rasanya jelas beda sama susu biasa, itu bagus untuk mu dan anak kita"
Mendengar ucapan Rio yang mengatakan kalau susu ini bagus untuk anak didalam rahimnya, Angel menggambil gelas itu lagi dan ingin meminumnya lagi namun baru sampai didepan mulut.
"Mau yang vanilla?" tawar Rio. Tadi Rio membeli dua rasa sekaligus, berjaga-jaga kalau nantinya Angel tidak suka salah satu rasanya.
"Emang tadi jadi beli?"
"Sayang itu juga anak aku, kali saja anak kita suka rasa yang sama denganku. Aku buatin bentar"
..
Rio tersenyum senang saat Angel menghabiskan segelas susu vanilla yang ia buat dan bukan itu saja anak yang ada dikandungan Angel menyukai rasa yang sama dengannya.
"Nah gitu dong"
Angel hanya tersenyum, sekarang perutnya kini tidak merasa lapar lagi.
Rio yang gemas dengan perut Angel langsung mengecup perut Angel.
"Anak Papa lagi ngapain?"
"Papa? kenapa tidak Ayah?"
Tanya Angel yang biasa memangil orang tuanya dengan panggilan Ayah dan ibu. Rio mendongak dan tersenyum kearah Angel.
"Biar anak kita gampang mangilnya dan itu lebih simpel dan terdengar lebih akrab, coba deh kamu sapa dia dengan kata "mama""
Angel menurut dan mulai mengelus perutnya.
"Mama sayang sama kamu"
Angel merasa ada sesuatu yang berbeda saat menyebut kata itu dan benar kata Rio ini terdengar sangat akrab.
"Oh iya, aku mau bilang sesuatu sama kamu"
"Apa?"
"Kita pindah kamar saja yah? biar kamu tidak capek naik turun tangga"
"Terserah kamu tapi aku ngga mau bantuin"
"Kenapa?"
"Mau tidur lagi ngantuk" ucap Angel jujur. Rio tersenyum lalu bangkit dari duduknya.
"Kamu tidur dikamar aja yah!"
Rio langsung membopong tubuh Angel menuju kamar tamu tapi ini bukan kamar yang akan ditempati hanya saja Rio tidak mau Angel terganggu nantinya saat memindahkan barang.
Setelah menidurkan Angel, Rio langsung bergegas memindahkan barang-barang serta baju ke kamar disebelah tangga. Kamar ini cukup luas dan sangat nyaman karena kamar ini Rio yang disain khusus untuk Sena saat Sena hamil. Dikamar ini juga terdapat kulkas mini dan alat untuk memanaskan makanan.
"Apa yang kurang yah?"
Rio melihat sekeliling sembari mengingat-ingat lagi apa yang tertinggal.
"Bonekanya Bumil belum dipindahin"
Untung Rio teringat benda kesukaan istrinya ini namun tanpa diketahui oleh Angel kalau boneka-bonekanya ini sering kena omel Rio sebab Angel terlihat lebih menyukai boneka ini ketimbang dirinya.
18:00
Rio bernapas lega saat semuanya telah beres. Rio jadi teringat waktu dimana Sena mengandung dan masih terbayang dulu betapa paniknya saat Sena pertama merasakan mual dan juga Rio masih teringat saat Sena ngidam ingin makan ramen dinegara asalnya langsung yaitu Jepang.
"Aku jadi rindu kamu"
Rio langsung mengambil ponselnya lalu menghubungi Sena dan alangkah senangnya Rio saat Sena langsung menjawab panggilan telefonnya.
"Sayang kamu pulang yah?" pinta Rio dari lubuk hati terdalamnya.
"Angel apa sudah hamil?" tanya Sena dengan penuh harapan.
"Iya, kamu pulang yah"
"Tapi aku takut nanti ada apa-apa sama kandungannya, aku tidak mau mama kamu kecewa lagi"ucap Sena terdengar senduh. Sena takut saat perpura-pura hamil, kandungan Angel bermasalah dan itu berarti dirinya juga lah yang akan kena masalah.
"Terus kamu maunya seperti apa?"
"Emm, aku pulangnya kalau kandungan Angel sudah empat bulan yah?"
"Memangnya tidak kelamaan? terus kalau mama tanya gimana, bisa-bisa dia marah tidak diberitahukan dari awal?"
Rio terdengar marah atau mungkin kecewa saat Sena menunda kepulangnnya.
"Sayang, memangnya kamu mau Mama kamu nantinya sedih? kalau nanti ditanya ya tinggal bilang saja kalau kita menunggu waktu yang tepat, aku tidak mau kita terburu-buru terlebih kandungan Angel masih lemah kan?"
Rio membenarkan ucapan Sena terlebih Mamanya sudah sangat menginginkan cucu.
"Iya aku turuti apa mau, gimana kabar kamu? kamu baik-baik saja kan?"
Rio dan Sena memulai pembicaraan mereka dengan penuh kerinduan dan juga tawa terlebih mereka akan mempunyai malaikat kecil yang akan mewarnai kehidupan rumah tangga mereka.
....
11:50 malam
Angel terbangun dari tidurnya karena perutnya merasa lapar dan ingin sekali makan makanan yang berkuah. Dilihatnya Rio yang memejamkan,Angel langsung memukul pelan dada Rio membuat Rio terbangun dari tidurnya.
"Kamu kenapa?" tanya Rio langsung dengan nada halus padahal dirinya terganggu dengan ulah Angel.
"Laper"
Rio tersenyum lalu mengecup puncak kepala Angel. Mulai malam ini pasti Angel akan merasa lapar dimalam hari dan Rio sudah siap meladeni bumil ini.
"Ya udah aku ambilin"
"Mau bakso" pinta Angel. Rio langsung melirik kejam dinding dan terkejut mengetahui kalau ini sudah hampir tengah malam dan Angel minta bakso yang mustahil jam segini ada yang jual.
"Sayang, ini udah malam loh. Mana ada bakso jam segini?"
"Iiihhh!! ngga mau tahu, mau bakso sekarang!"
"Ta-"
Angel langsung memotong ucapan Rio dengan nada kesal. Angel benar-benar ingin sekali makan bakso dan tidak mau ditunda.
"Mau anak kamu ileran nanti"
Rio menghela napas sekali langsung turun dari tempat tidur dengan mata yang terasa berat membuka. Rio meraih kunci mobil dan juga dompet.
"Mau kemana?" tanya Rio yang melihat Angel yang turun dari tempat tidur.
"Ikut lah"
Rio terkejut mendengarnya dan langsung melarang Angel ikut karena Rio tidak mau Angel terkena udara malam bisa-bisa Angel terkena flu.
"Ngga! kamu dirumah saja!"
"Mau ikut! makan bakso enaknya ditempatnya langsung" kekuh Angel dan Rio hanya bisa mengalah.
"Pake jaket baru boleh ikut!" suruh Rio yang tidak mau berdebat lebih lama lagi dengan Angel dan Rio juga tahu kalau perdebatan itu pasti dimenangkan oleh Angel.
"Oke"
....
Mobil Rio
Mobil Rio melaju dijalanan beraspal dan sepanjang jalan mobil Rio tidak berpapasan dengan satu mobil pun.
Rio melirik kearah Angel yang terlihat mengatuk tapi saat Rio melihat kearah perut Angel, entah kenapa dirinya ingin secepatnya menemukan gerobak bakso.
"Sudah ngga ada apa yah?" ucap Angel yang sudah menyerah mungkin memang harus ditunda untuk besok.
"Pasti ada tenang saja"
Rio membelokkan mobilnya menuju area pasar berharap ada tukang bakso yang mangkal tapi saat sampai tidak ada orang satupun. Rio langsung menancap gas mobilnya dengan kencang sembari matanya melihat dikiri dan kanan jalan.
"Kalau ngga ada besok saja"
"Udah terlanjur keluar sayang"
Dari kejauhan Rio melihat cahaya dan juga keramaian didekat alun-alun. Rio mempercepat laju mobilnya berharap buruannya ada disana.
Angel yang melihat keramian dan juga ngerobang yang berjejer langsung terlihat senang.
"Kesana!" suruh Angel dengan senangnya.
"Iya, semoga saja ada bakso"
Rio memberhentikan mobilnya. Angel langsung turun dari mobil dan langsung berjalan kearah keramaian tanpa menunggu Rio.
"Segitunya?" Rio tersenyum lalu turun dari mobil. Rio menyusul Angel. Dari sini Rio dapat menebak kalau Angel telah menemukan yang ia mau.
"Bang, pesan baksonya"
"Berapa neng"
"Kamu mau? tanya Angel kepada Rio yang sudah ada disampingnya.
"Ngga, kamu saja"
"Oke, Bang satu yah makan disini"
"Iya neng.
10 menit berlalu akhirnya yang dinanti-nantikan datang juga. Angel langsung meracik baksonya dengan menambahkan kecap, saus dan.
"Ngga boleh makan sambal" ucap Rio langsung saat Angel ingin meraih tempat sambal.
"Ngga pedes ngga enak" ucap Angel dengan nada lirih namun bisa didengar oleh Rio. Angel langsung memakan bakso yang tersaji didepannya.
Di makannya bakso itu dengan pelan dan terkesan tidak berselera. Rio melihat Angel seperti itu merasa kasihan tapi dirinya juga tidak mau janin dirahim Angel bermasalah namun hati kecilnya ingin sekali membuat Angel senang.
"Ya udah, kamu boleh makan sambal tapi sedikit saja!"
"Makasih"
Entah kenapa lekuk senyum terukir dengan manisnya dibibir Rio saat melihat Angel yang begitu senangnya diperbolehkan makan sambal.
Sekarang Angel begitu lahap tidak seperti tadi. Rio yang memperhatikan Angel makan meneguk ludahnya.
"Sayang, mau dong"pinta Rio. Angel mengangguk dan menyuapi Rio.
"Enakkan? kalau lebih pedes lagi sih lebih enak" ucap Angel yang melihat ekspresi Rio.
"Kamu bisa aja, bang satu lagi"
Akhirnya Rio memesan semangkuk bakso. Jujur Rio belum pernah makan dipinggir jalan seperti ini dan ternyata tidak buruk dan makanannya juga enak.
"Kamu mau lagi?"
"Emang boleh?"
"Ya bolehlah"
Abang tukang bakso mengantarkan bakso pesanan Rio dan Rio memesan satu lagi untuk Angel.
"Buat kamu dulu nih"
"Belum habis, buat kamu saja"
"Ya udah"
Entah kenapa semakin larut semakin terang mungkin itu yang ada dipikiran Rio. Sendari tadi Rio melihat kesekeliling dan baru tahu kalau dijam seperti ini malah banyak petugas yang membersihkan jalan dan juga menyiram tanaman, mungkin mereka tidak ingin mengganggu aktivitas orang banyak dan juga jam sigini masih sangat sepi.
"Kamu lihatin apa?" tanya Angel setelah menghabiskan semangkuk bakso ketiganya. Rio langsung menoleh kearah Angel.
"Tidak ada, kamu mau nambah lagi?"
"Perut aku sudah penuh ngga mungkin makan lagi" ucap Angel langsung.
"Ya kali saja kamu mau bakso yang ke empat?" tawar Rio. Rio tidak keberatan Angel mau nambah lagi karena yang terpenting bagi Rio, Angel makannya banyak dan tidak mual lagi.
"Sayang, kok aku jadi makan banyak yah?"
"Perut kamu kan ada dua sekarang, pulang yuk?"
"Ayo"
....
Saat perjalanan pulang, Angel melihat penjual kue putu ayu bambu yang tengah mangkal dan Angel ingin sekali memakan kue itu karena itu kue kesukaannya.
"Kak, mau itu!" ucap Angel sembari menunjuk kearah luar.
"Hah? kamu lapar lagi?" ucap Rio dengan nada heran sembari memberhentikan mobilnya.
"Anak kamu yang minta"
"Kamu beli sendiri saja yah, aku tunggu disini"
"Iya"
Rio beberapa kali menguap sangking ngantuknya, meladeni bumil itu ternyata penuh perjuangan.
"Yang benar saja sudah jam dua pagi?"
Rio terkejut saat mengetahui jam berapa sekarang dan Angel belum juga kembali.
"Tuh bocah kemana sih? lama banget"
Saat Rio ingin membuka pintu mobil mau menyusul Angel. Angel kembali dengan membawa sekantong kresek yang didalamnya terlihat seperti kotak.
"Kenapa lama?"
"Nungguin ini matang dulu" ucap Angel sembari melihatkan kantong kresek yang dibawanya.
"Itu apa?"
"Kue putu Ayu, cobain deh!"
Angel membuka kotak yang terbuat dari anyaman bambu. Angel mengambil satu sebelum disuapkan ke Rio, Angel meniupnya terlebih dahulu agar tidak terlalu panas.
"Enak kan?" tanya Angel. Rio mengangguk rasanya manis namun tidak kemanisan.
"Ini namanya kue putu ayu tapi ini kukusnya pakai bambu jadinya lebih enak"
"Iya sayangku"
Rio menjalankan mobilnya lagi sedangkan Angel tengah menikmati kue yang manis ini.
***
12:00 siang
"Aku mau jeruk bali" pinta Angel tiba-tiba saat sedang bermain PS dengan Rio. Rio sendiri tidak kekantor lagi dan dirinya juga sudah bilang ke Papanya kalau dirinya akan jarang masuk kekantor dan pastinya Riko tidak keberatan.
"Hah? sayang diluar panas banget loh"
"Iihhh ngga mau tahu! pokoknya aku mau jeruk bali!.TITIK!"
Angel terdengar memaksa namu cuaca panas diluar membuat Rio malas sekali untuk pergi.
"Di kulkas kan ada jeruk, kamu makan itu saja yah?"
"Ngga mau!"
Tolak Angel langsung dan memandang Rio dengan tatapan menyeramkan membuat Rio bergidik ngeri. Sepertinya Angel ingin sekali makan buah jeruk bali.
"Memangnya ada jeruk bali?"
"Ada! dipasar banyak"
"Sayangku yang paling cantik, ini itu sudah siang pasar juga udah tutup"
"Ya kamu cari kek kemana gitu? supermakket kek terserah kamu! yang jelas aku mau SEKARANG!"
Angel benar-benar memaksa. Angel langsung pergi kearah kamar dan menutupnya dengan keras hingga membuat Rio takut. Baru kali ini Rio melihat Angel semengerikan itu.
"Hufff cari dimana lagi? jeruk bali apa jeruk dari Bali? auah mending langsung cari dari pada disuruh tidur diluar"
Dengan terpaksa Rio menuruti permintaan Angel walau pun terasa panas diluar. Ini semua demi buah hatinya yang masih terus berkembang didalam rahim Angel.
"Semangat Rio, ini demi anak kamu!"
Rio menyemangati dirinya sendiri lalu bergegas kepasar dan berharap ada yang Angel mau disana.
....
Pasar
Sesuai dugaan Rio pasar sudah tutup hanya pedagang dipinggir jalan yang masih berjualan.
Rio melihat buah-buah yang dijual. Rio bingung mana yang namanya jeruk bali sebab Rio tidak pernah melihat dan memakannya.
"Pak ada jeruk bali?"
"Jeruk balinya kosong"
"Kosong? yah. Makasih ya pak"
Rio kembali menghampiri pedagang buah yang lain namun hasilnya sama tidak ada yang menjual jeruk bali.
Terik matahari membuat Rio terganggu. Rio memutuskan untuk berteduh dan meminum air kelapa muda. Rio menghela napas beratnya.
"Kenapa mas?" tanya ibu penjual kelapa muda yang mendengar helaan napas Rio yang terdengar berat.
"Ngga apa-apa kok bu. Oh ya bu, didekat ini ada yang jual jeruk bali ngga?"
"Kurang tahu sih mas, biasanya kalau lagi musim banyak yang jual"
"Berarti ini bukan musimnya?" tanya Rio seakan ingin mendapatkan jawaban yang pasti dan kalau benar dirinya harus cari kemana lagi buah itu.
"Sepertinya ia"
Rio kini tak semangat lagi seperti tadi. Dirinya bingung harus cari dimana lagi.
"Mas kenapa ngga cari disupermarket saja" suruh ibu itu.
Rio seakan mendapat pencerahan dari surga. Kalau saja tida diingatkan dirinya pasti tidak terpikirkan.
"Eh, benar juga"
Setelah membayar Rio langsung menuju supermaket yang letaknya tidak jauh dari pasar ini.
Setelah sampai disupermarket Rio langsung menuju ke bagian buah-buahan. Dilihatnya dengan cermat nama buah yang ada diplastik pelindungnya. Rio melihat buah yang belum pernah ia lihat dan berharap itu jeruk bali.
30 menit berkeliling disini namun hasilnya nihil, dia tidak menemukan yang istrinya minta.
"Cari dimana lagi sih?" kesal Rio yang sudah merasa sangat capek berkeliaran diluar dengan cuaca yang sangat panas.
"Apa aku tanya mama?"
Rio langsung mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Amanda.
"Halo sayang, kamu kenapa tumben sekali nelfon mama, apa kamu sedang sakit?" terdengar suara kecemasan dari sebrang sana.
"Nggak kok ma. Rio lagi kepingin jeruk bali, mama punya ngga dirumah?" tanya Rio yang berharap mamanya memiliki yang ia cari.
"Sebentar yah, mama cari dikulkas dulu"
"Iya ma"
Rio harap-harap cemas terlebih ini sudah sore dan bumil dirumah pasti sangat kesal dirinya belum juga pulang.
Rio dapat mendengar suara gaduh dari ponselnya ini. Rio menduga kalau mamanya ini tengah membongkar isi kulkas.
"Ada nih sayang, mau suruh pak Hasan anterin kerumah kamu?"
"Tidak usah ma, Rio ambil langsung saja dan masakin buat Rio yah?"
"Iya, kamu hati-hati dijalan yah!"
"Siap ma"
Rio menutup sambungan telfonnya. Rio bernapas lega akhirnya yang dicari ketemu juga.
"Akhirnya"
....
Rumah orang tua Rio
Rio langsung menuju dapur, menghampiri mamanya yang tengah memasak untuknya.
"Ma"
"Eh, sayang. Duduk!"
"Iya"
Rio memangang Amanda dengan tatapan tidak seperti biasanya. Hati Rio ingin sekali mengatakan bahwa dirinya akan memiliki seorang cucu tapi Rio takut semua akan berantakan.
"Kenapa kamu lihatin mama seperti itu?" tanya Amanda heran dengan Rio yang sepertinya banyak pikiran.
"Mama kok tambah cantik?"
"Kamu muji mama? tumben sekali apa kamu ada maunya?" ucap Amanda sembari meletakan sepiring lauk untuk Rio.
"Ngga kok"
Rio langsung memakan yang Amanda masakan untuknya.
"Sena masih sama orang tuanya"
"Eh, iya ma"
"Kalau seperti itu kapan mama punya cucu"
Terlihat sekali kalau Amanda sudah tidak tahan lagi ingin menggendong cucu.
"Sabar ma mungkin belum waktunya"
"Iya mama tahu, lanjutin lagi makannya"
Rio mengangguk. Dihati kecil Rio dirinya ingin sekali mengatakan semua yang ia alami ke wanita yang telah melahirkannya dengan taruhan nyawa tapi dirinya juga tidak mau istrinya kena masalah. Memilih salah satu dari dua wanita yang sanga dicintai itu sulit, semua berarti untuknya.
"Maafin Rio, ma" lirih Rio namun dapat didengar oleh Amanda.
"Kenapa Ri? kamu minta maaf untuk apa?"
"Eh, maaf ngerepotin mama terus" Jawab Rio dengan senyum yang sangat lebar berharap mamanya tida curiga.
"Kamu ini, kamu itu anak mama. Mama masakin buat kamu bawa pulang yah?"
"Iya, makasih"
....
Rumah
Wajah Angel kini sangat muaram. Sudah berjam-jam tapi Rio belum juga pulang.
"Sayang papa kamu kemana sih?" ucap Angel sembari mengelus perutnya. Tak lama mobil Rio memasuki halaman. Angel langsung keluar rumah menghampiri Rio.
"Kenapa lama?" tanya Angel langsung saat Rio turun dari mobil.
"Carinya susah sayang"
"Ya udah sinih!"
"Makan dulu, baru boleh makan jeruk!"
Rio berjalan melewati Angel. Angel mendengus kesal lalu mengikuti Rio.
"Kamu marah?" tanya Angel saat berada dibelakang Rio. Rio langsung menoleh kearah Angel.
"Marah?"
Rio langsung mengalungkan kedua tangannya keleher Angel.
"Aku tidak marah, aku malah seneng ngeladenin bumil yang ngemesin seperti kamu" sambung Rio lagi dan langsung menggecup bibir Angel.
"Ayo makan" ajak Rio.
....
Rio tersenyum senang saat Angel sangat lahap memakan masakan yang Mamanya masak.
"Enak?"
"Banget"
"Syukur deh kalau kamu suka, itu mama aku yang masak"
Deg. Angel langsung berhenti mengunyah membuat Rio heran.
"Kenapa?"
"Engga"
Angel melihatkan senyumnya menandakan kalau dia tidak apa-apa. Angel langsung meneruskan makan begitu juga Rio.
...
22:00
Angel tidak bisa tidur karena terus terpikirkan kedua orang tuanya. Terlebih sebentar lagi mereka akan memiliki seorang cucu yang tidak diketahui mereka.
Angel menoleh kearah Rio yang terlelap. Angel tersenyum sekilas lalu turun dari tempat tidur dengan pelan agar Rio tidak terbangun.
Angel keluar kamar untuk menenangkan hatinya.
Angel Pov
Aku sekarang akan menjadi seorang ibu dan aku bahagia tapi ini akan sulit untukku. Andai pernikahan ini tidak dirahasiakan pasti aku sudah menyampaikan kabar bahagia ini.
Aku ingin mengungkapkan semuanya kepada ibu, bagai mana rasanya saat aku pertama mual dan mengidam samapai suamiku pusing sendiri meladeniku.
"Bu, aku rindu ibu"
Aku mengusap air mata yang turun membasahi pipiku ini. Disaat seperti ini aku butuh ibu.
"Kamu disini?"
Suara itu, aku langsung menoleh. Apa aku membangunkannya?.
"Kamu habis menangis?"
"Tidak, aku cuma senang saja"
"Senang soal apa?"
Aku mengelus perutku yang sepertinya sekarang sudah mulai menunjukan perbedaan.
"Kalau itu aku juga senang"
Rio langsung mencium perutku dengan gemasnya. Geli yang aku rasakan tapi aku tahan aku tidak mau mengganggu Papa yang tengah menyayangi anaknya.
"Kamu mau makan apa? atau kita jalan- jalan lagi seperti kemarin?"
Sepertinya dia ingin membuat ku kesal atau memang sekarang dirinya ketagihan berkendara dijalan yang sepi.
"Aku tidak lapar"
"Kalau seperti itu ayo tidur"
Dia selalu membopongku, apa aku tidak berat yah? entahlah dia selalu melakukannya.
"Jangan membuatku khawatir lagi" ucapnya saat membaringkanku.
Dia mengecup keningku cukup lama, perasaan tenang ini membuatku nyaman.
Enatah apa yang akan terjadi kalau aku berpisah dengannya. Apa dunia ku akan tetap sama kalau tidak bersama dengan denganya. Entahlah perasaan nyaman ini membuatku mengantuk dan perlahan kelopak mataku menutup dengan sendirinya.
pov end.
...
07:00
"Sayang ayo makan"
Dari tadi Rio berusaha membujuk Angel untuk makan. Rio sendiri sudah berpakaian rapi, hari ini ada rapat pagi yang harus ia hadiri dan sebelum itu dirinya ingin istri mungilnya makan walau sedikit saja.
"Ngga mau! aku belum lapar"
"Sayang sedikit saja, aku jadi ngga kepikiran terus" bujuk Rio lagi tapi Angel benar-benar tidak lapar dan dirinya tidak mau dipaksa terus.
"Kamu kalau mau kekantor ya tinggal pergi saja, aku sudah besar kalau aku lapar aku bisa ambil sendiri" kesal Angel yang bosan mendengar suara Rio yang khawatir tanpa sebab.
"Yakin?"tanya Rio memastikan.
cup
Angel mengecup bibir Rio sekilas membuat Rio tersenyum.
"Kalau kamu mau makan sesuatu, kamu tinggal telefon aku yah?"
"Iya sayang"
...***....