Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 13 Pisah ranjang



"Camkan ini baik-baik, istriku cuma Sena dan kamu cuma duri yang mengganggu"


Angel merinding mendengar ucapan Rio. Rasa takut kini menjalar ditubuh Angel bahkan wajahnya kini pucat. Angel menundukkan kepalanya karena takut melihat wajah Rio yang terlihat sangat murka kepadanya tapi ini juga bukan salah Angel pernikahan ini istri Rio lah yang minta yaitu Sena. Angel juga tidak ingin seperti ini, menikah tanpa restu orang tua dan terpenjara di rumah mewah ini.


Rio masih menatap Angel yang menundukkan kepalanya. Rio berdecak kesal saat dirinya mengingat ucapan Sena untuk mengajak Angel honyemoon agar cepat hamil dan Sena bisa pulang.


"Ck. Terserah lah!"


Rio berbalik meneruskan jalannya menaiki tangga. Angel bernapas lega akhirnya atmosfer yang menyesakan ini hilang.


"Kalau aku nggak butuh uang untuk biyaya rumah sakit mana aku mau nikah dengan lelaki yang sudah beristri"


Angel sadar betul dirinya siapa dan perasan ini memang ada tapi semua ini akan ia simpan sendiri walau menyiksa dan sebisa mungkin merahasiakan dari Rio karena Angel tidak mau menambah beban di pikiran Rio.


"Aku sakit hati tapi itu memang kenyatanya. Hidup ku memang miris"


Angel berjalan menaiki tangga untuk melihat keadaan Rio dan kalau nantinya Rio marah, Angel akan segera keluar kamar.


Kamar


Angel memasuki kamar dan langsung melihat Rio yang tengah tertidur dengan posisi tengkurab serta masih menggunakan sepatu. Angel berdecak kesal sekaligus kasihan melihat Rio yang sangat letih.


"Pantesan pulang marah-marah"


Angel tahu Rio sangat kecapekkan karena itu pula Rio jadi tentramen. Angel berjalan mendekati Rio langsung mencopot sepatu di kaki Rio. Angel dapat mendengar dengkuran halus dari mulut Rio.


Angel meraih remot AC dan menurunkan suhu AC-nya agar lebih dingin supaya Rio tertidur pulas. Sedikit informasi saja bahwa Angel tidak kuat dingin dan dengan terpaksa Rio lah yang mengalah.


Angel duduk di pinggiran kasur dekat Rio. Tangan Angel dengan halusnya membelai rambut kepala Rio dengan penuh kasih sayang dan senyuman dibibir Angel terlihat sangat tulus walau pun Rio kasar kepadanya.


"Aku tidak marah, ini memang kenyataan tapi kamu harus tahu aku juga tidak mau seperti ini"


Angel menatap wajah Rio yang tertidur. Angel tidak tahu banyak tentang Rio nanun yang Angel tahu Rio sangat mencintai Sena karena itu pula Angel tidak bermimpi kalau nanti cintanya dibalas oleh Rio.


"Kamu tahu, aku iri dengan Sena?"


Angel mulai berbicara dengan Rio yang tertidur walau Angel tahu Rio tidak akan mendengarnya tapi se-enggaknya Angel dapat mengutarakan apa yang dirasa.


"Sena punya suami seperti dirimu yang selalu menggabulkan semua permintaannya, Apa pun yang Sena mau dan juga cinta kasih sayang yang kamu berikan kepada Sena. Dari semua itu yang aku mau hanya cinta kasih sayang itu, apa ada laki-laki lain seperti dirimu?"


Angel menundukan kepalanya, dadanya terasa sesak. Angel membelai pipi Rio dan ajaibnya lekuk senyum dibibir Rio terukir dengan sendirinya.


"Tidur yang nyenyak yah"


Angel mengecup kepala Rio lalu berjalan keluar kamar menuju kamar yang seharusnya dari awal ia tempati.


...


09:30


Rio menuruni tangga dengan cepat sampai-sampai Angel mengira suara langkah kaki Rio itu mirip suara langkah kaki kuda yang berlari.


Angel dapat melihat wajah Rio yang terlihat panik. Angel hanya mengerutkan keningnya melihat tingkah Rio.


"Kenapa kamu nggak bangunin aku?"


Tanya Rio langsung saat berpapasan dengan Angel.


"Aku takut kamu marah lagi" jawab Angel singkat lalu melewati Rio begitu saja. Rio ingin menyahuti ucapan Angel tapi waktunya sudah mepet sekali jadi Rio lebih memilih untuk berangkat kekantor.


Angel melihat kepergian mobil Rio. Tadi pagi Angel ingin membangunkan Rio tapi rasa takut dimarahi oleh Rio dan tidak enak kalau membuat Rio marah-marah sehabis tidur membuat Angel mengurungkkan niatnya.


"Sebenarnya kamu itu kenapa?"


Angel hanya bisa berdoa agar Rio tidak seperti ini lagi dan kembali baik kepadanya tapi Angel juga berdoa kalau sifat nyebelin Rio juga hilang.


"Lanjut beres-beres lagi ah dari pada pusing mikirin bayi besar suka marah-marah"


Bayi besar yang dimaksud oleh Angel itu Rio. Angel kembali membersihkan rumah seperti biasa. Soal perkataan Rio yang semalam sudah tidak Angel hiraukan lagi toh dirinya juga sudah mengatakan bahwa dirinya berkerja di sini dan bukan sebagai istrinya.


Angel malah bersyukur Rio mengatakan itu sebab dirinya jadi tahu perasaan Rio kepada dirinya jadi sudah tidak ada lagi harapan semu dihidupnya, Rio hanya untuk Sena dan Sena lah yang ada di pikiran Rio.


kantor / ruang kerja Rio


12:00 siang


Rio bernapas lega untung saja tadi tidak terlambat menghadiri rapat penting dengan para pemegang saham dan juga Ayahnya.


"Semu berjalan seperti yang ku mau"


Rio menoleh ke arah pintu dan seseorang membuka pintu kerja Rio.


"Papa, ada apa?" tanya Rio langsung saat mengetahui bahwa orang itu adalah Riko.


"Apa Papa harus buat janji dulu untuk bertemu dengan putraku?" jawab Riko sengit membuat Rio menggelengkan kepalanya.


Rio bangkit dari duduknya menghampiri Riko. Rio mempersilahkan Riko untuk duduk di sofa. Riko hanya ingin memastikan putranya baik-baik saja setekah jadwal lembur Rio yang padat akhir-akhir ini.


"Kamu tidak apa-apa kan?"


"Maksud Papa apa?"


"Papa tidak mau kamu sakit, semua pekerjaan mu sudah selesaikan?"


Rio hanya menggangukkan kepalanya menjawab pertanyaan Riko. Riko tersenyum putranya selalu memaksakan diri dalam berkerja.


"Sebaiknya kamu libur dulu"


"Tapi"


"Tapi apa? kamu juga butuh istirahat! soal perusahaan toh Papa juga masih hidup dan Arfan juga bisa membantu"


Rio hanya diam seribu bahasa. Riko tahu putranya ini gila kerja dan tidak mau berpisah dengan laptop kesayangannya dan Riko juga tahu kalau jawaban Rio adalah.


"Tidak Pa, Rio tidak apa-apa lagian sudah tidak ada lembur lagi"


"Kamu ini! Papa diomelin mama kamu terus, dia kira Papa yang paksa kamu kerja sampai seperti ini. Lihat kantong mata mu itu sudah seperti panda!"


Kalimat terakhir dari Riko membuat Rio teringat dengan Angel dan Rio juga mengingat apa yang telah ia katakan kepada Angel semalam dan Rio mengerutuki apa yang telah ia katakan.


"Malah bengong kamu yah?"


"Eh, maaf Pa"


"Jangan terlalu memaksakan tubuhmu untuk bekerja seperti ini tubuhnu juga butuh istirahat! uang bisa dicari tapi kesehatanmu lebih penting"


"Iya Pa"


"Ya sudah Papa cuma mau bilang itu kekamu"


Riko bangkit dari duduknya, Rio mengantar Riko ke depan pintu.


Seperginya Riko. Rio langsung mengacak-acak rambut kepalanya. Situasi sekarang membuat pusing terlebih dirinya kini mempunyai dua istri.


"Sampai kapan seperti ini"


...


Rumah


Angel tengah menonton TV di kamarnya setelah membereskan rumah mewah ini. Kamar ini sangat sederhana namun ini cukup untuk Angel walau Rio tidak pernah menyuruh Angel untuk tidur diluar tapi Angel merasa tidak enak sekaligus tidak nyaman berada di sisi Rio yang tidak menganggap dirinya sebagai istri tapi duri yang menggangu.


"Apa aku memang duri yah?"


Angel teringat akan perkataan Rio yang menusuk hati. Kalau di pikir-pikir Rio sepertinya Rio tidak setuju dengan apa yang dilakukan Sena tapi karena Rio cinta, Rio mau melakukan ini.


Tangan kiri Angel gemetar karena merasa takut. Takut kalau orang tuanya tahu dan mengusirnya dari rumah karena menikah tanpa restu.


Angel berusaha untuk tetap tegar menghadapi ini semua. Kenyataan yang harus dilewati dengan lapang dada dan tak boleh melihat kebelakang, melangkah maju mencari jalan keluar untuk ini semua.


"Aku harus semangat dan terserah Rio mau apa yang jelas aku hanya ingin membalas budi karena telah menyelamatkan Ayah ku. Semangat El!"


Angel menyemangati dirinya sendiri dan menegakkan kepalanya menghadapi ini semua.


...


Mobil Rio memasuki halaman rumah. Rio turun dari mobil sembari matanya mencari sesuatu.


"El mana?"


Ternyata Rio mencari Angel yang biasanya jam segini Angel menunggunya diteras kalau-kalau dirinya pulang makan siang dirumah.


Rio memasuki rumah dan suasana rumah sepi sekali seakan tidak ada penghuninya. Rio menuju meja makan dan tidak ada makanan diatas meja.


"Apa El ketiduran?"


Rio menuju ke kamar untuk memastikan Angel tidur atau tidak dan kemungkinan terburuk Angel pergi dari rumah karena sikapnya yang keterlaluan.


"El?"


Pintu kamar terbuka dengan lebarnya namun Rio tidak melihat Angel.


"Di kamar mandi apa yah?"


Rio mencari Angel disetiap sudut kamar. Wajah Rio yang tenang kini berubah jadi panik karena tidak menemukan Angel.


"El!!... Elll"


Rio keluar kamar dengan terburu-buru. Rio berlari didalam rumah mencari Angel. Rio takut Angel pergi dari rumah.


"ANGEL KAMU DIMANA!!!"


Rio berteriak sangat kencang didalam rumah berharap Angel mendengarnya.


"ANGEL!"


Rio semakin panik saat tak ada respon dari Angel. Rio berlari kehalaman samping berharap Angel berada disana.


"Dia kemana?"


Rio mengacak-acak rambutnya dengan putus asa. Sepertinya yang ditakutkan Rio menjadi kenyataan Angel sudah pergi dari rumah ini.


"HAAAAHHH!!!!"


Rio membenturkan kepalanya ketiang penyangga rumah. Rio kesal kedirinya sendiri terutama otaknya yang tidak bisa berpikir jernih.


"AAAANNNGGGGEEEELLLL!!!!"


...


Kamar pembantu


Angel tengah asik menonton kartun tom dan jeri yang mampu membuatnya tertawa dan merasa terhibur dengan tingkah laku kucing dan tikus yang tidak pernah akur ini.


"Lucu banget sih! gemesin!"


Angel paling suka saat adegan tom dan jeri kejar-kejaran.


"AAANNNGGGGEEEELLL!"


Angel tersontak kanget mendengar teriakan Rio yang menyerukan suaranya. Angel langsung mematikan TV lalu berlari keluar kamar. Angel melihat sekeliling dan mendapati Rio yang tengah terlihat kesal di teras samping.


Angel buru-buru menghampiri Rio sebelum Rio tambah marah.


"Kak Rio nyariin?"


Suara itu membuat Rio lega sekaligus marah. Angel membuat sangat khawatir dan penuh penyesalan seperti ini. Rio menoleh kearah Angel dengan tatapan penuh amarah.


"KAMU BISA NGGAK SEKALI SAJA TIDAK MENYUSAHKAN?"


"Apa?"


Angel tidak tahu apa yang Rio maksud. Menyusahkan? apa Rio ingin mengusir Angel dari sini?.


"Kenapa kamu belum masak? apa kamu jadi malas kekarang? CEPAT MASAK!" bentak Rio lalu berjalan kedalam rumah. Kedua kaki Angel terasa lemas menbuat dirinya kini terduduk di paving.


"Kak Rio"


Angel menghapus air matanya lalu berdiri untuk memasakan makanan untuk Rio. Angel bukannya malas hanya saja dirinya takut Rio tidak pulang dan makanannya akan terbuang sia-sia.


...


Angel langsung membuka kulkas melihat apa yang tersisa di dalamnya.


"Cuma ada kangkung sama tempe. Nggak apa-apa kali yah?"


Angel langsung mengambil kedua sayur itu. Angel mengerjakan ini semua secepat mungkin sebelum Rio turun dan memarahinya lagi.


15 menit berlalu tinggal menggoreng tempe saja dan semua selesai.


Saat menggoreng tempe pikiran Angel kacau hingga beberapa kali terkena cipratan minyak ditangannya.


"ANGEL CEPETAN MASAKNYA! AKU LAPAR!!"


Teriak Rio yang masih didalam kamar. Angel menjadi terburu-buru dan.


kluntangg..


"Aaww"


Angel mengeluh kesakitan saat teflon yang ia ingin pindahkan malah terjatuh menimpa kaki kanannya dan parahnya lagi teflon itu terdapat minyak panas yang lumayan bisa membuat punggung kakinya melepuh.


"SUARA APA ITU!!"


Teriak Rio dari dalam kamar. Angel melihat keatas dan bersyukur Rio tidak melihat kecerobohan yang ia buat. Angel buru membersihkan kekacauan ini dengan cepat sebelum Rio turun.


Angel menatakan piring keatas meja dan semua masaknnya telah siap untuk dimakan. Rio menuruni tangga dengan tatapan elang tertuju kearah Angel.


Rio melihat apa yang Angel masak dan sepertinya Rio tidak menyukainya.


"Ck. Cuma ini yang bisa kamu masak?"


Angel mengangguk. Rio langsung pergi tanpa berucap apa pun. Kelakuan Rio kali ini membuat Angel menangis. Rasa sakit ini lebih sakit dari kakinya yang tersiram minyak panas serta kejatuhan teflon yang lumayan berat.


"Hikkss.. hiksss... El mau pulang! El nggak mau disini lagi! kak Rio jahat!!"


...


Angel tengah kesakitana karena lukanya membuatnya tersiksa. Kulit punggung kakinya melepuh dan membiru.


"Apa yang harus aku lakukan?.. ibu! iya aku harus tanya"


Angel mengeluarkan ponsel lamanya lalu menghubungi ibunya.


"Bu. cepat angkat!"


"Sayang ada apa?"


Angel bernapas lega akhirnya ibunya menjawab panggilan telefonnya.


"Bu, kaki El kena minyak panas"


"Ya ampun sayang! kok bisa? disana nggak ada salep untuk luka bakar?"


Terdengar suara kepanikan dari sebrang sana. Sebagai seorang ibu pastinya sangat khawatir putri satu-satunya kenapa-napa


"Nggak tahu. Sakit, bu"


"Gini saja kamu ambil telur mentah terus kamu pecahin buat oles di luka kamu"


"Iya bu makasih"


"Iya sayang. Kamu cepat sembuh yah?"


"El sayang ibu"


"Ibu juga"


Angel langsung menutup sambungan telefon lalu menuju ke dapur dengan kaki kanannya yang seakan mati Rasa.


...


Rio tengah berada dikamar sembari bermain ponsel dirinya baru pulang dari luar mencari udara segar juga makanan yang lebih enak dari yang Angel buat.


Rio melirik jam didinding kamarnya sudah pukul setengah delapan malam tapi Angel belum kekamar.


"Ngapain aku ngurusin dia, mau dia tidur apa tidak aku tidak perduli!"


Rio langsung meletakan pinselnya di meja sebelahnya lalu bersiap untuk tidur.


Tengah malam


Tangan Rio meraba sisi bagian sampingnya namun tidak ada Angel. Rio lantas menoleh kearah tempat Angel biasa berbaring.


"Ck"


Rio berdecak lalu mendudukan tubuhnya. Rio heran kenapa Angel belum juga tidur padahal ini sudah tengah malam.


"Dasar anak itu kerjaannya nyusahin orang!"


Rio langsung meraih ponselnya untuk menghubungi Angel. Sedeti kemudian Rio mendengar dering ponsel seperti suara ponsel Angel di dekatnya. Rio lelihat kesekeliling dan mendapati ponsel didekat lampu tidur, Rio meraih ponsel itu.


"Ini kan?"


Rio paham sekali dengan ponsel pemberiannya kepada Angel. Rio juga melihat kotak merah yang ia juga mengenalinya. Rio membuka kotak itu dan terkejut melihat isinya.


"Angel?"


Angel seakan mengembalikan apa yang telah Rio berikan untuknya. Tanpa pikir panjang Rio turun dari kasur mencari Angel.


Rio menuruni tangga. Ruang tengah hanya disinari lampu redup. Rio mencari Angel yang kemungkinan Angel berada disana.


"Nggak ada"


Rio menduga kalau Angel akan tidur disofa ruang tengah atau diruang tamu.


"Apa jangan-jangan?"


Rio bergegas kearah gudang lebih tepatnya kekamar pembantu. Saat mulai dekat Rio melihat kamar pembantu lampunya menyala dan setahunya Angel takut gelap. Rio menghampiri kamar itu lalu membuka pintu dengan pelan.


"Semoga nggak dikunci"


Rio mengintip kedalam kamar dan mendapati Angel yang sudah tertidur lelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


"Enak banget kamu yah, tidur nyenyak sedangkan aku mengkhawatirkan mu"


Rio menutup lagi pintu kamar itu lalu kembali kedalam kamarnya. Rio menyesali telah mencemaskan Angel.


....


Sinar mentari menyinari bumi kembali memulai hari baru dan kicau burung yang bersautan menambah kesan damai dihati.


Angel sudah bangun dari jam lima pagi untuk membersihkan rumah ini. Dengan kaki kanannya yang masih sakit bahkan terlihat semakin memburuk memaksa Angel untuk bangun lebih awal agar pekerjaannya selesai seperti biasa.


"Aww sakit banget"


Angel duduk di anak tangga sembari melihat kakinya yang melepuh. Angel ingin meminta bantuan Rio namun melihat Rio yang sepertinya membencinya membuat Angel mengurungkan niatnya.


Angel mendengar suar pintu dibuka langsung buru-buru berdiri takut Rio mengira dirinya hanya bermalas-malasan. Benar saja Rio menuruni tangga tanpa menoleh sedikit pun kearah Angel. Melewati Angel yang berdiri ditengah tangga.


Rio berheti dianak tangga terakhir.


"Aku mau kamu bersihkan debu-debu yang ada di tirai jangan ada yang terlewat!"


Setelah berucap Rio kembali melanjutkan langkahnya. Rio berpakaian santai dan berarti Rio tidak berangkat kekantor, sepertinya Rio ingin mengawasi Angel.


"Iya"


Angel hanya bisa menuruti kemauan Rio. Angel melihat kearah tirai yang terpasang di sekelilingnya terlebih tirainya lebih tinggi dari dirinya.


"Semangat El!"


Angel langsung melakukan yang Rio suruh.


...


Rio mengamati semua yang Angel lakukan dari kejauhan namun ada hal yang mengusik pengelihatannya yaitu Angel yang berjalan pincang.


Rio berjalan menghampiri Angel yang tengah membersihkan tirai dengan kemoceng.


"Kaki kamu kenapa?"


Angel tersontak kaget mendengar suara Rio yang kini dibelakangnya. Angel langsung menoleh kearah Rio.


"Keselo kemarin"


Rio tidak percaya dengan ucapan Angel langsung melihat kekaki Angel. Kaki Angel bengkak dan kulit punggung kaki nya melepuh.


"Kamu kenapa nggak bilang, kenapa sampai seperti ini??"


Rio langsung berjongkok untuk melihat lebih jelas luka Angel.


"Kaki kamu kena minyak panas? apa saat kamu masak kemarin?"


Angel tidak menjawab malah menundukkan kepalanya. Angel takut Rio akan memarahinya karena kecerobohannya.


"Kita kerumah sakit sekarang" ajak Rio langsung. Angel menggeleng pelan.


Rio bangkit dari jongkoknya lalu menatap Angel yang sepertinya takut kepadanya.


"Aku memaksa!"


Rio langsung membopong tubuh Angel menuju mobil. Wajah Rio terlihat sangat cemas terlebih melihat Angel seperti ini.


"Aku nggak apa-apa" ucap Angel lirih sembari menundukan kepalanya.


"Maaf" ucap Rio singkat membuat Angel mendongakan kepalanya menatap Rio.


Rio tidak bisa menyembunyikan wajah cemasnya di wajah tampannya. Angel merasa tidak enak merepotkan Rio lagi.


Mobil


Rio beberapa kali membunyikan telakson mobilnya menyuruh mobil didepannya untuk menyingkir.


Angel yang berada di samping Rio merasa tidak enak sendiri, Rio seakan tergesah-gesa mengendarai mobilnya padahal Angel tidak dalam kondisi yang membahayakan.


"Kak, pelan-pelan"


"Nggak! aku taut kamu kenapa-napa"


Angel menggigit bibir bawahnya. Sepertinya dirinya benar-benar merepotkan Rio.


Sesampainya dirumah sakit, Angel langsung ditangani dokter dan tak tanggung-tanggung Rio meminta dokter sepesialis kulit langsung yang menangani Angel.


"Dasar anak itu"


Rio tengah menunggu Angel yang tengah ditangani oleh dokter. Didalam lamunanya Rio memikirkan semua yang tengah ia lakukan kepada Angel dan seharusnya tidak seperti ini.


.. Ruang rawat 12


Rio dengan setia menunggu Angel terbangun. Tadi dokter mengatakan kalau kaki Angel tidak boleh terkena air dulu dan jangan dibawa bergerak dulu.


"Maafin aku, harusnya aku tidak seperti itu"


Rio membelai wajah Angel yang tertidur pulas. Rio menggenggam tangan Angel dengan eratnya, Rio mengecup punggung tangan Angel.


...


Angel perlahan membuka matanya, silau dari lampu membuat mata Angel tidak nyaman.


Angel menoleh kearah samping dan mendapati Rio yang menyandarkan kepalanya pada pinggiran pembaringan yang ditempati oleh Angel.


Angel tersenyum akhirnya Rio tidak dingin lagi. Tangan Angel perlahan mengelus rambut kepala Rio, sentuhan laembut dari Angel membuat Rio terbangun.


"Apa aku membangunkanmu?"


"Tidak"


Rio membenarkan posisinya. Melihat Angel yang sepertinya baik-baik saja membuat Rio lega.


"Ini sudah kedua kalinya kamu kerumah sakit karena kecerobohanmu!"


Angel yang berpikir Rio telah berubah kini anggapan itu hilang seketika. Rio masih dingin dan menyebalkan.


"Iya aku tahu"


"Jangan membuatku cemas lagi"


"Iya"


"Janji?"


Angel mengangguk dengan pasti membuat Rio tersenyum. Angel melihat senyum Rio membuat dadanya kini tidak sesak lagi.


"Aku mau tanya sesuatu sama kamu"


"Apa?"


"Kenapa kamu tidur dikamar pembantu dan kenapa kamu mengembalikan pemberianku termasuk cincin itu?"


Rio bertanya seolah-olah ingin mengungkit luka lama dan apa Rio sudah lupa apa yang telah ia katakan kepada Angel.


"Kamu bilang kalau aku cuma duri yang mengganggu dan aku bukan istrimu jadi aku tidur dikamar pembantu dan soal cincin itu, aku tidak berhak memakainya"


Rio menundukan kepalanya seakan menyesali perbuatannya dan perkataannya kepada Angel.


"Maafkan aku"


"Aku yang harusnya minta maaf, aku lah yang bersalah"


Ucapan Angel barusan membuat Rio mendongak dan menatap kedua mata Angel. Rio menggelengkan kepalanya seakan berucap bahwa ini semua bukan kesalahan Angel.


"Tidak El. Semua ini mutlak kesalahanku"


"Berarti aku salah, pasti kamu menganggapku murahan yah? solanya aku... kamu tahu sendiri"


Angel tidak bisa meneruskan ucapannya. Rio tahu percakapan ini tidak boleh dilanjutkanlangi.


"Sudahlah. Begini saja aku minta maaf dan jangan tidur di kamar itu lagi!"


Rio mengeluarkan sesuatu didalam saku celananya. Ternyata itu cincin yang Angel kembalikan.


"Pakai ini lagi yah?"


Rio meraih tangan kanan Angel langsung menyematkan cintin itu di jari manis Angel.


"Tapi kamu bilang- -"


Rio langsung mengecup bibir Angel menghentikan Angel berbicara. Rio melepas kecupan dibibir Angel.


"Jangan di ingat lagi, kemarin aku kecapekan jadi aku marah-marah. Maafin aku yah?"


Angel merasa Rio tulus mengatakannya tapi hati Angel masih merasa perih akibat ucapan Rio. Melihat Angel yang diam seperti itu Rio tahu Angel pasti sangat sedih dan sulit untuk memaafkan dirinya.


"Aku minta maaf, aku mohon maafkan aku. Sayang"


Angel menatap dalam kedua mata Rio. Angel melihat ketulusan dimata Rio dan penyesalan yang mendalam.


"Aku sudah maafin kamu kok"


"Oh iya?" tanya Rio dengan nada penuh keraguan dan sepertinya Rio ingin membuat Angel kesal.


"Jangan mulai lagi"


Rio terkekeh pelan melihat pipi Angel yang menggembung dan membuat Rio gemas hingga rasanya ingin.


"Aww.."


Rio mencubit pipi Angel dengan gemasnya membuat siempu yang punya pipi menatap sebal kearah Rio.


"Jelek ih!"


"Biarin!"


"Jangan ngambek gitu!"


"Bodo"


"Kamu marah?" tanya Rio dengan nada polos seakan menggoda Angel.


"Haaahhh kak Rio!" ucap Angel dengan nada geregetan. Membuat Rio tersenyum puas.


"Apa?"


"Nyebelin!"


"Emang!"


Rio menunjukan deretan giginya membuat Angel mendengus kesal.


"Ih!"


"Jangan manyun gitu! mending kamu makan, aku suapin"


"Nggak usah, bisa sendiri"


Angel memposisikan tubuhnya terduduk. Tangan Angel langsung meraih manggkuk dimeja didekatnya.


"Sudah, biar aku suapin"


Rio merebut manggkuk ditangan Angel lalu mulai menyuapi Angel. Angel yang sudah merasa lapar langsung membuka mulutnya.


"Gitu kek kalau makan"


Angel tidak menggubris perkataan Rio. Belum apa-apa Angel sudah merasa bosan berada disini.


"Mau pulang"


"Pulang?"


"Iya, nggak mau disini!"


"Kenapa?"


"Bau obat, nggak suka!"


Angel merengek minta pulang ke Rio. Angel tidak pernah suka yang namanya rumah sakit apa lagi harus menjadi pasien.


"Kamu ini! kalau kaki kamu udah sembuh baru pulang"


"Kapan?"


"Nggak tahu mungkin dua minggu"


"Hah? nggak mau!! mau pulang!!"


Angel terus saja merengek minta pulang padahal Angel tahu kondisinya sekarang.


Rio menatap Angel dengan tatapan kesal. Angel seperti anak kecil yang tidak mau menurut.


"Kamu ini! aku selalu menurutimu jadi sekarang kamu harus menurut!"


Angel mengerutkan dagunya. Dua minggu itu waktu yang sangat lama dan pastinya sanggat membosankan. Rio yang tak tega hanya bisa mengalah setelah menyuapi Angel, Rio akan berbicara dengan dokter menanyakan apa bisa Angel di rawat dirumah.


"Kamu habiskan ini dulu nanti aku bicara sama dokter, menanyakan kamu bisa dirawat dirumah atau tidak"


"Beneran? kamu nggak bohongkan?


"Iya, sayang ku"


....***....