
"...Kabur"
Angel dan Sena berlari menjauh. Rio langsung mengejar Angel yang larinya lambat karena perutnya dan juga Rio sangat yakin Angel lah yang memulai kejahilan ini.
"El awas kamu!"
"Yah kok aku sih? kak Sena tuh"
"Angel yang mulai bukan aku!"
Rio semakin dekan dengan Angel dan
hap... Rio menangkap Angel dan langsung mencium pipi Angel yang mirip bakpao.
"Haahh lepasin!"
"Kamu kan yang jahil?"
"Aku cuma ngolesin lip gloss. Kak Sena yang pakain bedak!"
"Oh jadi sekarang Sena juga ikutan jahil"
Rio melepas Angel dan langsung menatap Sena. Sena mendelik lalu berlari menuju tangga. Rio langsung berlari kearah Sena hingga Sena mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga.
Angel tertawa melihat Rio yang seperti itu.Wajah penuh make up dan mengejar Sena dengan cepat membuat Sena semakin terpojok.
"Jadi penonton saja lah"
Angel duduk disofa sembari menyemangati Sena agar dirinya tidak ditangkap oleh Rio.
"Ayo terus lari!!"
Angel terus menyemangati Sena. Sena dan Rio terus berkejar kejaran mengelilingi ruagan ini. Sena merasa napasnya hampir habis lalu berhenti namun itu membuat dirinya tertangkap.
"Yah ngga seru"
Rio mendekap Sena lalu menciu pipinya. Bekas kecupan Rio terlihat jelas di pipi Sena dan Angel.
"Rio lepas! gerah tahu. Ayo berangkat sekarang!"
Rio melepas dekapannya.
"Kalian ini. Aku hapus ini dulu"
"Iya"
Rio berjalan kekamr mandi. Sena dan Angel menghapus lipstik yang ada dipipi mereka. Sena melihat Angel dari atas kebawah.
"El, ganti bajumu gih?"
"Kenapa?"
"Ihh..kek kampungan gitu"
"Tapi ini nyaman dipakek, ngga gerah"
Angel menolak mengganti bajunya. Rio yang telah selesai mencuci muka langsung menghampiri kedua istrinya.
Rio baru menyadari kalau Sena tidak memaki sesuatu yang membuat perutnya terlihat besar. Rio takut kalau Sena keluar dengan perut rata seperti itu dan berpapasan dengan Amanda dimall secara ada caffe Amanda disana.
"Sena"
"Apa?"
"Kamu yakin keluar sepeeti itu?"
"Iya lagian memangnya nanti bertemu siapa? Mama kamu tidak mungkin ke mall"
"Oke, Ayo berangkat"
...
Mall
Mereka bertiga memasuki mal yang sangat ramai dengan pengunjung. Rio berjalan dibelakang Angel dan Sena entah kenapa Rio merasa senang melihat keakuran mereka.
"El, nanti kita beli baju kembaran"
"Terserah kamu"
Mereka bertiga menuju lantai tiga yang terdapat toko baju yang menjual baju untuk ibu hamil. 15 menit berlalu akhirnya mereka ampai ditoko yang dituju. Sena langsung melihat lihat baju yang dipajang sedangkan Angel hanya mengikuti Sena saja.
Rio tersenyum tipis saat Sena memilihkan baju untuk Angel namun senyumnya langsung menghilang begitu saja saat dirinya mengingat ucapan yang Angel katakan.
"Andai mereka bisa selalu akur seperti itu"
Mungkin sudah setengah jam Rio menunggu kedua istrinya memilih baju sampai punggungnya terasa pegal duduk terus.
"Mereka sudah belum sih belanjanya?"
Rio memutuskan untuk mencari Angel dan Sena. Rio menuju ruang ganti yang berada dipojok ruangan.
Sesampainya disana Rio terkejut melihat Angel dan Sena yang berpakaina kembar seperti anak kembar.
"Wow. Kalian seperti anak kembar"
"Eh. lama yah?" ucap Sena yang memeng dirinya lah yang mencari baju dan Angel hanya menuruti kemauan Sena. Angel hanya mencari aman walau ada beberapa yang ia tidak suka.
"Iya. Sudah atau belum sih apa mau cari ditempat lain?"
"Kita cuma dapat tiga setel. Mau cari lagi"
"Ya sudah. El, kamu capek?"
"Ngga"
Ini sudah toko ketiga yang dikunjungi mereka bertiga. Rio sendiri tidak tahu apa rencana Sena hingga membela baju kembar sebanyak ini namun Rio tidak memperdulikan itu yang terpenting sekarang Sena tidak kasar lagi kepada Angel.
"Ri ini cocok ngga?"
Sena melihatkan baju tidur yang bermotif kupu kupu berwarna pink. Rio melihat Angel yang nampak tidak suka namun pastinya Angel tidak akan menolak.
"Ngga. Cari lagi gih"
"Oke"
Sena meletakan lagi baju itu ketempatnya semula. Sena pergi meninggalkan Rio dan Angel. Rio mendekati Angel dengan senyuman dibibirnya.
"Kamu mau baju yang mana? ayo pilih"
"Tapi?"
Angel nampak ragu. Ia takut Sena akan marah. Rio tahu Angel tidak ingin membuat Sena marah atau apapun.
"Mau aku yang pilihkan? kamu suka warna apa?"
"Ngga usah"
Rio menghela napas lalu mengelus perut Angel.
"Kamu yakin? perut kamu ini kan semakin besar berarti berat badan kamu juga naik. Sekarang kamu pilih baju yang kamu suka, Sena juga membeli baju untuk dirinya sendiri"
Angel menggeleng walau yang dikatakan Rio benar. Sudah banyak baju yang sudah tidak muat lagi kalau pun muat itu akan sangat ketat membuat dirinya sulit bernapas.
"Kamu tenang saja, semua ini aku yang bayar bukan Sena. Sekarang kamu pilih bajunya"
"Iya"
Angel mulai memilih baju untuk durinya sendiri. Angel memilih bahan baju yang tidak panas dan nyaman digunakan. Rio menemani Angel memilih baju. Rio pun ikut memilih baju untuk Angel
"Ini bagus ngga?"
Angel menujukan baju yang terdapat pita ditengah baju. Warnanya biru dengan corak putih. Rio mengangguk.
"Aku mau yang ini"
"Iya, cari lagi yang kamu suka"
"Tapi?"
"El masa kamu cuma pakai baju satu saja kan ngga mungkin"
"Ini sepertinya cocok untukmu"
Rio mengambil gaun tidur yang bergambar doraemon dibagian perut pasti lucu kalau Angel memakainya.
"Kamu suka?"
"Iya"
"Mana lagi yah?"
Rio kembali memilih baju untuk Angel. Rio ingin Angel mendapatkan yang sama seperti apa yang Sena dapatkan darinya seperti perhiasan, baju, tas, mobil dan lainnya. Rio ingin Angel yakin kalau dirinya bisa adil dalam sengala hal.
"Sayang"
Rio menoleh kearah Angel yang tengah tersenyum sembari mengelus perutnya.
"Dia lagi nendang"
"A..apa? aku boleh pegang?"
"Iya"
Rio tersenyum senang lalu mengelus perut Angel bahkan Rio mencium perut Angel.
"Kok aku tidak merasakan tendangan dia sih?" ucap Rio dengan nada kecewa padahal ia ingin sekali merasakan gerakan anaknya ini.
"Dia masih kecil jadi cuma aku yang bisa merasakan gerakan dia"
...
"Kalian bisa ngga jalannya pelan dikit?"
Sena dan Rio menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah Angel yang tertinggal agak jauh dari mereka. Keduanya lupa lalau Angel membawa bola diperutnya.
"Eh sorry"
Angel mendengus kesal lalu melangkah mendekati mereka berdua. Rio merasa Angel kelelahan.
"Ya sudah kita istirahat dulu dibangku itu" ucap Rio namun Sena sepertinya tidak ingin istirahat.
"Ri, aku mau cari baju sendiri. kamu jagain Angel"
"iya"
Sena pergi kearah kiri. Angel merasa Sena marah kepadanya namun bagaimana lagi dirinya sangat kelelahan berjalan dari tadi.
"Duduk gih"
"Emmm Sena marah?"
"Ngga, biarkan saja dia. Kamu mau minum?"
"Iya"
"Kamu tunggu disini aku mau beli minuman dulu"
"Jangan lama lama"
"Iya sayang"
Rio menuju kearah kedai makanan. Angel mengelus perutnya dengan lembutnya.
"Kamu senang yah diajak jalan jalan"
...
Saat menuju kedai makanan Rio melewati toko perhiasan. Perhiasan yang dipajang menarik perhatian Rio. Rio pun memutuskan untuk mampir.
Rio tersenyum melihat gelang yang ada bandulnya berbentuk stroberi pasti lucu kalau Angel yang memakainya.
"Silakan dipilih. Ini keluaran terbaru"
"Ini?"
"Itu gelang kaki apa tuan ingin melihatnya?"
"Iya"
Rio semakin jatuh cinta dengan gelang ini. Rio pun memutuskan untuk membelinya untuk Angel dan Rio juga tidak lupa membelikan perhiasan untuk Sena. Rio memilih cincin untuk Sena.
15 menit berlalu. Rio kembali dengan kantong kresek teransparan. Angel melihat Rio dengan tatapan kesal sepertinya dia marah karena Rio lama sekali perginya.
"Maaf lama yah?"
"Iya"
"Nih"
Rio memberikan kantong kresek itu keAngel. Angel langsung mengambil botol mineral lalu meminum airnya. Rio juga membelikan makanan riangan untuk Angel.
"Kamu beli donat?"
"Dimakan. Anakku mungkin sudah kelaparan"
Angel mengangguk. Rio merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan gelang kaki dari dalam sana. Rio langsung berjongkok didepan Angel untuk memasangkan gelang kaki yang baru saja ia beli.
Angel melihat saja apa yang dilakukan Rio sembari mengunyah donat ubi yang sangat manis.
"Jangan sampai hilang"
"Ntar Sena marah"
"Memangnya dia akan melihat gelang ini?"
"Mungkin"
Rio bangkit lalu duduk disebelah Angel. Angel menyodorkan kotak berisi donat keRio.
Mereka berdua memakan donat sembari menunggu Sena kembali. Rio sesekali mengelus perut Angel yang mengemaskan ini.
Angel menguap. Menunggu Sena membuat dirinya mengantuk. Rio yang berada disamping Angel langsung tahu Angel sangat kelelahan dan Sena harusnya dia sudah kembali.
Drttt
Rio membuka pesan dari Sena. Raut wajah Rio berubah saat membaca pesan singkat dari Sena.
"Kenapa?" tanya Angel heran .
"Kamu tunggu disini, aku akan kembali"
"Oke tapi jangan lama lama, Sena juga belum kembali"
"Iya"
Sebelum pergi Rio mengecup kening Angel. Angel menatap heran Rio yang pergi dengan terburu buru.
"Entahlah"
...
Arfan tengah berkeliling mencari jaket baru dan baju untuk Angel. Suasana mall sangat ramai dan sepanjang Arfan melangkah selalu berpapasan dengan sepasang insan yang bergandengan tangan. Arfan berdecak kesal seolah olah mereka sedang mengejeknya yang berjalan sendiri.
"Gini banget jadi jombo.. eh?"
Arfan melihat Sena yang tengah menenteng paper bag namun yang membuat Arfan terkejut adalah perut Sena yang rata dan berarti selama ini Sena telah membohongi keluarganya.
"Wah dasar cewek ular!"
Arfan langsung mengikuti Sena dari belakang layaknya detektif yang membuntuti penjahat. Arfan sesekali bersembunyi saat Sena menoleh kebelakang. Arfan melihat lagi kearah Sena yang terlihat sedang memilih kaca mata. Arfan berjalan mendekati Sena agar dapat menangkap basahnya dan langsung membawanya kehadapan Amanda dan semua anggota keluarganya. Arfan ingin membuktikan kebenaran kalau Sena itu tidak pernah berubah.
Tinggal beberapa langkah lagi namun Sena pergi dari tempat itu. Arfan mengejar Sena kekrumunan orang yang tengah menonton pertunjukan band. Ditengah kerumunan itu Arfan mencari Sena.
Arfan berdecak kesal saat tidak bisa menemukan Sena. orang orang ini membuatnya sulit melihat Sena yang bertubuh ramping.
"Kemana sih dia?"
Arfan keluar dari kerumunan dengan wajah kesal, seharusnya tadi dia memfoto atau memvideo Sena.
"Ck!"
Arfan terkejut saat orang yang menepuk pundaknya serta memanggil namanya. Arfan langsung menoleh ternyata itu Rio.
"Kak Rio"
"Tumben kamu dimall, apa kamu sedang berkencan dengan seseorang disini? wah pasti mama sudah menemukan gadis yang mau sama kamu yah"
Ucapan Rio membuat Arfan melihatkan tatapan kesal.
"Wahh..wah parah kamu kak. Samapai kapanpun aku tidak mau dijodoh jodohkan!"
"Ya kali saja kamu mau, kan jadi tenang mama"
"Jangan memulai"
Arfan teringat akan Sena yang perutnya rata dan apa Rio tahu kalau Sena hanya pura pura hamil.
"Kak aku mau bicara"
"Lah dari tadi kamu ngapain? nguap?"tanya Rio heran.
"Ck. Kak kamu ngga asik sumpah!"
"Ya sudah buruan ngomong"
"Tadi aku lihat Sena"
"Terus?"
"Perutnya rata. Kak, Sena cuma pura pura hami! dia ngebohongin kita semua"
"Fan...ka..kamu jangan bercanda"
Rio nampak terkejut dan tidak percaya dengan ucapan Arfan barusan.
"Beneran tadi aku lihat Sena. Dia tida hamil!"
"Aku tidak percaya, bisa saja itu orang yang mirip Sena"
"Ngga kak! aku yakin itu Sena" kekuh Arfan yang ingin Rio percaya kebenaran yang ia lihat. Kebenaran yang sangat menyakitkan padahal kehamilan itu yang membuat Amanda dan keluarga yang lain merasa senang tapi Sena malah mengecewakan serta mempermainkan perasaan orang orang disekitarnya termasuk Arfan yang berharap Sena bisa berubah.
"Kamu mungkin salah lihat, disini banyak sekali orang mungkin kamu melihat orang yang mirip dengan Sena"
"Kak percaya sama aku! Sena itu bohongi kakak"
Arfan terus mencoba membuat Rio percaya namun sepertinya Rio tidak mempercayainya, mungkin Rio sudah terlanjur senang dengan kehamilan Sena hingga dia buta akan kemungkinan yang ada.
"Fan. Kakak mohon jangan bilang seperti itu! kamu jangan hancurin kebahagiaan kakak. Kamu tahukan kalau kakak ingin punya anak"
"Kak, aku cuma mau kakak tidak kecewa nantinya. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kakak"
Rio menghela napas. Rio tahu adiknya ini hanya ingin membantunya dan tidak mungkin Arfan mengarang cerita ini.
"Ya sudah kita cari Sena. Kata kamu dia disini"
"Iya, aku akan tunjukan kebenarannya!"
Arfan dan Rio mencari Sena dimall yang sangat ramai. Arfan melihat sekeliling dengan teliti, ia ingin menemukan Sena dan melihatkan kebusukan Sena. Selama ini Arfan curiga dengan Sena yang selalu punya akal licik yang mampum membuat orang lain percaya.
"Fan, kamu yakin?"
"Iya kak, tapi kenapa kamu disini atau jangan jangan kakak tahu Sena cuma pura pura hamil?"
"Kamu ngomong apa sih? aku kesini cuma ngantar Angel beli baju, bajunya sudah ngga muat"
Arfan merasa ada yang aneh dengan kakaknya. Kenapa Rio seperti sangat perhatian dengan Angel padahal Angel cuma keponakan bi Inda, pembantunya. Arfan juga merasa ada yang disembunyikan Rio tentang Angel.
Angel seperti sangat berharga bagi Rio bahkan Rio mengijinkan Angel tidur dikamar yang bagus dan nyaman serta penuh dengan barang barang yang mewah, Semua itu menambah kecurigaan Arfan serta perhstian dan sifat Sena yang berubah baik secara tiba tiba itu patut dicurigai secara Sena orang yang sombong, anggkuh dan hanya perduli dengan dirinya sendiri.
"Fan, tidak ada Sena disini"
"Kak. Aku yakin Sena ada disini!"
"Kita harus kemana lagi? mall ini luas lagian Angel juga pasti cemas aku ngga balik balik"
"Ya sudah kita keAngel dulu terus kita cari Sena lagi"
"Tersera kamulah tapi yang jelas aku tidak suka kamu menjelek jelekan Sena apa lagi menuduhnya yang bukan bukan"
"Aku akan buktikan apa yang aku lihat itu benar adanya"
"Iya"
Arfan mengikuti kemana langkah kaki Rio. Mereka menuju ketempat baju yang dikhususkan menjual baju untuk perempuan hamil.
Rio panik saat Angel yang tadi ia suruh untuk menunggu disini tidak ada hanya beberapa paper bag yang berada dibangku yang dititipkan disamping satpam.
"Pak, perempun yang tadi disini kemana?"
"Oh dia bilang sih mau ketoilet, jadi barang barangnya dititipkan kesaya"
Satpam itu langsung pergi karena ada orang yang mengenal perempuan yang meminta tolong kepadanya.
"Ngga usah cemas gitu. El sekarang jadi sering pipis" ucap Arfan tanpa menatap Rio. Dirinya masih terus mencari keberadaan Sena.
"Fan sudahlah, mungkin kamu salah lihat"
"Kak jangan dibutakan cinta! buka matamu itu, banyak kejanggalan tapi kamu tidak bisa melihatnya!"
Rio menghela napas lalu menggelengkan kepalanya. Arfan yakin sekali kalau yang ia lihat itu Sena, dirinya tidak mungkin salah lihat sebab Arfan paham betul bentuk fisik Sena yang tidak berubah sama sekali dari dulu.
"Kalian disini?"
Arfan dan Rio langsung menoleh kesumber suara. Baik Arfan mau pun Rio terkejut melihar siapa yang datang.
"Sena? kok perut kamu besar sih?" tanya Arfan sembari menunjuk perut Sena yang buncit. Sena mengelus perutnya.
"Aku kan lagi hamil ya perut aku besar lah"
Sena menggelengkan kepalanya menurutnya Arfan ini lucu padahal dia sering melihat perutnya bahkan kemarin dia juga melihat perutnya ini.
"Tapi aku lihat tadi perut kamu rata"
"Kapan? aku baru bertemu denganmu sekarang, mungkin kamu salah lihat"
"Engga mungkin! jalas jelas itu kamu. Aku lihat kamu nenteng paper bag dan perut kamu itu rata"
"Fan kamu nuduh kakak pura pura hamil? Disini banyak orang mungkin kamu salah lihat atau kamu lihat orang yang mirip denganku"
Sena terlihat sedih namun Arfan tidak perduli. Dirinya yakin sekali kalau itu Sena dan bisa saja Sena melakukan sesuatu agar perutnya terlihat besar.
"Ta--"
"Kalian sedang meributkan apa?"
Ucapan Arfan dipotong oleh Angel yang baru kembali dari toilet. Arfan terkejut melihat perut Angel yang rata.
"El perut kamu?"
"Kenapa?"
Angel langsung mengelus perutnya dan barulah terlihat perut Angel yang besar. Baju Angel yang longgar dibagian perut dan motif garis garis membuat perut buncit Angel tidak kelihatan.
"Ngga semua yang kamu lihat itu kebenarannya, Fan"
Arfan mencerna ucapan Rio mungkin memang dirinya yang salah lihat. Arfan merasa bersalah kepada Sena dan juga Rio harusnya dia tidak langsung menyimpulkan kalau itu Sena.
"Maafin aku kak Sena seharusnya tadi aku memastikan terlebih dahulu dan tidak menuduhmu yang bukan bukan"
"Iya. tidak apa apa"
"Kalian lapar ngga?"
Mereka bertiga langsung melihat Angel yang tengah mengelus perutnya, sepertinya dia kelaparan.
"Fan, ajak Angel makan gih. Aku mau ambil pesanan sama Sena"
"Oke, Ayo El! ini punya kamu?"
"Iya"
Arfan membawa paper bag milik Angel lalu menggandeng tangan Angel. Setelah Arfan pergi kedua orang ini bernapas lega.
"Huff hampir saja ketahuan!"
"Aku kan sudag bilang kamu yang tidak mau menurut!"
"Untung saja aku lihat Arfan tadi"
20 menit sebelumnya.
Sena sedang memilih kaca mata yang cocok untuknya. Semua model kaca mata ini sangat bagus hingga Sena sulit menentukan pilihan.
Saat Sena ingin mengambil kaca mata dirak hias Sena melihat pantulan bayangan Arfan dari kacamata didepannya.
"Arfan"
Sena panik saat Arfan berjalan kearahnya dia pasti curiga melihat perutnya yang rata.
"Jangan panik Sena. Bersikaplah biasa"
"Mau yang mana?"
"Eh.. maaf yah. Ngga ada yang cocok"
"Oh tidak apa apa"
"Permisi"
Sena langsung pergi menghindari Arfan namun Arfan sepertinya mengikuti dari belakang. Sena bingung harus bagaimana. Sena tidak mau sandiwaranya terbongkar.
"Aku harus kemana?"
Sena tetsenyum saat melihat pertunjukan band yang penontonnya banyak. Sena langsung masuk kekerumunan itu. Sena bersembunyi diantar penonton. Sena berdecak kesal melihat Arfan yang tidak kunjung menyerah.
"Ck!"
Sena mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan keRio supaya dia datang kemari dan menyibukan Arfan.
"Rio lama banget sih!"
Kesal Sena namun sedetik itu Arfan keluar dari kerumunan. Sena bernapas lega langsung pergi dari kerumunan itu menuju toilet untuk mengganti bajunya. Untung saja tadi dirinya membeli syal dan baju yang lumayan banyak jadi bisa dipakau untuk perut palsunya.
"Untung saja tadi aku tidak menitipkan barang belanjaanku, Arfan juga ngapain disini"
Sena langsung keluar dari toilet mencari Rio. Sena bisa saja pergi dari mall ini tapi Sena tahu bernar Arfan yang tidak akan menyerah begitu saja karena itu Sena ingin membuat Arfan percaya kalau yang tadi dilihatnya itu bukan dirinya.
....
"Ya untung saja kamu itu punya seribu satu cara untuk membohongi orang" sindir Rio dan langsung mendapat tatapan tajam dari Sena.
"Ck! kamu juga sama malah kamu itu lebih parah. Kamu membohongi gadis polos itu"
Rio mengepalkan kedua tangannya menatap Sena tajam. Sena tidak takut sama sekali bahkan dia menunjukan senyum remehnya.
"Jangan mengulangi kebodohan tadi, bisa saja Arfan tidak percaya dengan ucapan kita lagi"
"Ck! dia itu cuma anak pungut dan dia tidak berhak ikut campur urusan kita!"
"Aku tahu itu. Aku tidak mau Arfan itu curiga sama kamu dan dia bisa bocorin ini ke Mama"
"Ri. Bisa ngga kamu jangan memikirkan mama dulu? kamu pikirkan masalah rumah tangga kita ini dulu!"
"Kenapa aku? kamu kan yang memulai?"
"Tapi kamu yang membawa Angel kerumah kita, kenapa ngga dirumah itu saja sih"
"Aku tidak mau kita bertengkar didepan umum jadi diam lah!"
Sena berdecak kesal namun ia langsung teringat Angel yang bersama Arfan dan bisa saja Arfan mencari tahu hal ini keAngel dan memaksa Angel untuk mengatakan semuanya terlebih Angel jauh dari pengawasan dirinya dan Rio.
Sena takut Angel akan mengatakan semuanya keArfan.
"Ri"
"Apa?"
"Arfan bisa memaksa Angel untuk mengatakan semua"
"Ck! kamu benar. Ayo cari mereka"
Sena dan Rio mencari keberadaan Arfan dan Angel. Rio takut Angel akan mengatakan semuanya keArfan dan Arfan menceritakan semuanya keAmanda sebelum waktunya dan menambah runyam masalah ini.
..
Arfan masih memikirkan soal kejadian tadi. Semua itu terasa janggal bahkan dia sekarang merasa Rio ikut dalam kebohongan ini. Angel merasa genggaman tangan Arfan semakin erat.
"Aww"
Arfan langsung melepas genggaman tangannya. Angel langsung menggenggap pergelangan tangannya yang terlihat memerah
"Maaf El. Aku ngga sengaja" ucap Arfan dengan paniknya. Angel hanya terdiam sdmbari menatap Arfan. Angel merasa Arfan sedang punya masalah.
"Ngga apa apa"
Arfan tersenyum Angel mau memaafkannya namun sedetik itu Arfan menatap curiga keAngel secara Angel tinggal satu rumah dengan Sena dan Rio pastinya Angel mengetahui sesuatu.
"El ikut denganku sebentar"
Arfan menarik pergelangan tangan Angel menuju tempat yang sepi jauh dari keramaian.
Angel merasa ada yang aneh dengan Arfan dan entah kenapa hatinya resah. Angel terus mengikuti langkah kaki Arfan. Angel tidak berani bertanya terlebih dengan wajah Arfan yang serius membuatnya takut.
Arfan baru memberhebtikan langkahnya saat menemukan lorong yang sepi.Arfan menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Angel. Angel merasa takut melihat wajah Arfan yang seolah- olah mengintimidasi.
"El jawab jujur, apa Sena benar benar hamil?"
"Apa?"
Angel menjadi sagat gugup mendengar pertanyaan Arfan dan dirinya juga pasti akan kena masalah kalau salah menjawab.
"Sena beneran hamil atau cuma pura pura?"
"Kamu ngomong apa sih, Fan?"
"El jawab jujur!"
"Sena beneran hamil"
Melihat wajah Angel yang terlihat ketakutan membuat Arfan yakin kalau Sena tidak hamil tapi apa hubungan Angel dengan keduanya dan apa Angel benar benar keponakan bi Inda atau hanya kebohongan lainnya.
"Jangan bohong! jawab jujur dan kamu itu sebenarnya siapa?"
"Fan. Sebenarnya apa mau kamu!"
"Apa kamu itu benar keponakan bi Inda atau kamu itu rahim pengganti?"
"A..a..aku"
"Jawab! kamu itu siapa kenapa Rio dan Sena perduli sama kamu!"
Sorot mata Arfan membuat Angel takut dan pertanyaan bertubi tubi dari Arfan membuat Angel bingung harus menjawab apa.
"Jawab El! jangan diam saja. Sena itu ngga hamilkan dan kamu itu bukan keponakannya bi Inda. Sebenarnya apa rahasia rumah itu hingga kamu berada dikehidupan keluargaku atau jangan jangan kamu selingkuhanya Rio?"
"Kamu ngomong apa sih Fan? jangan ngacodeh!"
Angel mencoba setenang mungkin agar Arfan tida curiga dan mengakhiri pembicaraan ini. Arfan semakin ingin mengungkap kebenaran dari semua ini dan cara satu satunya memeksa Angel mengatakan kebenaran yang ada.
"Kamu tinggal jawab saja pertanyaanku ini! semakin kamu mengelak semakin aku curiga tentang dirimu secara kamu itu orang asing yang masuk kedalam kehidupanku. Aku tidak mau ada orang yang mengganggu hidup kakakku dan keluargaku. Sekarang jawab jujur apa yang Sena dan Rio sembunyikan dan kamu itu siapa!"
"Aku tidak tahu apa maksud ucapanmu itu!"
"Ck! kamu tahu apa maksudku. Jangan mencoba membodohiku aku tahu kamu sedang berbohong! JAWAB SEKARANG!"
Bentak Arfan dengan nada tinggi membuat Angel ketakutan.
"A.. a..ak..."
...****..