Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
BAB 70 Semakin rumit



Kediaman Riko kini terasa dingin dan penuh kehampaan. Setelah Jihan pulang, ke empat orang ini langsung memulai pembicaraan yang sangat sensitif.


Amanda menatap penuh kekecewaan ke arah Rio yang seperti orang terbodoh di dunia. Sedari tadi Sena yang menjelaskan semuanya dan Sena juga mengakui semua kesalahannya dan dia berkeinginan untuk mewujudkan apa yang Angel minta.


"Kamu yakin atas keputusan mu?" tanya Riko dengan penuh kecurangan.


"Iya, aku istri pertama Rio dan itu akan mudah untuk mengurus semuanya. Aku mohon percayalah, beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku?"


"Baiklah, sekarang kalian tidur sudah malam." suruh Riko yang langsung meraih tangan kanan Amanda, menyuruhnya pergi ke kamar.


Setelah Riko dan Amanda pergi nampak ada ketidak setujuan Rio.


"Kau ingin mencari muka?" tuduh Rio. Sena menatap datar Rio dan entah kenapa dirinya ingin sekali menampar Rio.


"Tidak, mengandalkan mu itu sama saja dengan bunuh diri." ucap Sena datar dan langsung beranjak dari sofa. Rio berdecak kesal karena di remehkan oleh Sena.


Kamar Riko Amanda. 01:00 am


Riko membelai lembut puncak kepala Amanda yang terlelap. Wajah pucat nya menyiratkan bahwa dia sangat letih dengan semua ini. Amanda baru tidur setelah Riko memintanya menelan obat tidur.


"Ini kesalahanku, maaf." ucap Riko menyesali telah terlalu percaya pada Rio dan tidak mendengarkan Arfan.


"Semoga tidak ada masalah lagi."


...


Tak terasa sudah pagi lagi dan beban di pundak terasa semakin berat, apa ini yang namanya berjuang untuk hidup? entahlah, semua sudah digariskan dan mau tidak mau harus menjalani scenario yang telah di tetapkan Tuhan.


.. Rumah Amanda Riko/ kamar Angel.


Angel melihatkan senyumannya saat putra kecilnya terbangun dan langsung merengek minta ASI.


"Kamu lapar? uh... anak mama udah makin gede aja." Angel memposisikan tubuhnya untuk menyusui Kevin dan malaikat kecil ini tersenyum senang.


"Sayang, besok kalau mama tidak ada kamu jangan rewel yah? kamu harus jadi anak yang kuat, mama tidak akan membiarkan seorang pun menyakiti mu walau mama harus tiada, kamu tenang yah, mereka cuma ingin menyakiti mama bukan kamu."


Seakan mengerti, Kevin menggenggam jari tangan Angel yang tengah memainkan tangannya. Angel merasakan genggaman tangan mungil itu penuh akan kasih sayang.


"Kamu sayang yah sama mama? Mama lebih sayang sama kamu, kamu hidup mama, tumbuh sehat yah nak, mama tidak ingin kamu jadi seperti Papamu, om Arfan atau pun kakek yang terpenting adalah kebahagiaan mu, kamu harus bahagia! uang bisa dicari tapi kebahagiaan ada pada dirimu sendiri. Tetap tersenyum yah sayang."


Angel mengecup puncak kepala Kevin dengan penuh kasih sayang. Angel tidak ingin melewatkan satu detik pun bersama Kevin. Dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi diwaktu yang terus berjalan ini. Mungkin saja satu detik dari sekarang hidup nya akan berakhir.


"Pangeran kecil mama."


...


Kamar Arfan.


Arfan menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah kusutnya menandakan bahwa dia tidak bisa tidur dan beban pikiran di kepalanya membuat rasa yang tidak nyaman di tubuhnya.


"Apa aku tidak bisa berbuat apa-apa? Kejutan untuk mama sepertinya harus di batalkan, yah... sayang sekali aku sudah keluar uang banyak."


Arfan menghela napas, dirinya berpikir bisa merayakan ulang tahun Amanda bisa berjalan sesuai rencana nya. Arfan ingin membuat acara yang istimewa untuk ibu angkatnya ini.


Sudah sekian lama Arfan memikirkannya bahkan Arfan sudah menyewa gedung dari jauh-jauh hari namun apa boleh buat, situasi ini tidak memungkinkan untuk acara itu dan pastinya Amanda akan menolak dengan keras acara itu sebab dia sangat sayang dengan Angel dan tidak ingin Angel merasa di sepelekan.


"Bye-bye tabungan ku."


Arfan mencoba ikhlaskan uang yang telah ia keluarkan itu. Arfan termenung sebentar lalu menghela nafas berat.


"Ini membuat kepalaku pusing, entah apa yang Rio pikirkan saat ini. Kenapa aku punya Kakak seperti dia? apa otaknya sudah mulai berkurang?.. sudahlah."


Arfan bergegas mandi. Hari ini ada rapat pagi dan Rio mengandalkannya untuk semua urusan di kantor.


...


Resto melati. 11:00.


"Ini bayaran mu." ucap seorang Pria kepada Bosnya Alex. Pria dengan penampilan rapi dengan jas mewah menatap dengan penuh kebencian.


"Lakukan dengan benar, jauhkan wanita itu. Aku tidak perduli dengan cara apa kamu akan melakukannya yang jelas dia tidak akan mengusik kehidupan putriku lagi kalau perlu bunuh dia! anak buah mu itu tidak becus melakukannya, aku sudah bayar mahal!"


"Baiklah, aku tidak akan bermain-main lagi. Aku akan melakukanya dengan tanganku sendiri."


"Jangan buang-buang waktu lagi atau kamu yang akan jadi mayat!"


"Papa!" suara itu membuat Pria yang berjas rapi ini menoleh. Pria ini nampak terkejut dengan kedatangannya.


"Sena? kamu cepat pergi!" usir Deren ke pria itu. Pria itu langsung pergi bersamaan dengan Sena yang kini ada di samping Deren.


"Tadi siapa?" tanya Sena yang ngeri melihat pria berpawakan besar dengan wajah yang sangar juga tato yang ada di pelipisnya.


"Bukan siapa-siapa. Tumben kamu minta ketemuan di resto? Kamu bilang bertemu jam 12 ini masih jam 11 loh?" ucap Deren mengalihkan pembicaraan, Deren tidak ingin Sena mengetahui semuanya.


"Papa juga sudah ada di sini, atau... jangan-jangan Papa mau berkencan dengan wanita dulu sebelum bertemu dengan ku?" Sena menatap jahil ke Deren. Deren melihat senyum di bibir Sena dan ingin terus melihat senyum itu. Deren sendiri sudah mengetahui apa yang telah terjadi pada Sena dan juga gangguan kecemasan yang di idapnya.


"Tidak, aku hanya ingin bersantai saja. Ada apa? apa semua baik-baik saja?"


Raut wajah Sena kini berubah dan membuat Deren cemas.


"Ummm.. Pa. Sebenarnya Sena butuh bantuan Papa, Papa mau kan bantuin Sena? Sena mohon?"


"Kamu ini kirain ada apa? memangnya kamu mau Papa bantu apa?"


"Carikan Pengacara yang kerjanya cepat. Aku ingin mengurus pernikahan Angel dengan Rio agar dapat buku nikah."


Deren hanya menatap Sena dengan tatapan penuh arti.


"Kamu yakin?"


"Aku tahu Papa pasti tahu perasaan ku tapi ini penting agar Rio kembali mempercayai ku dan mau menghabiskan waktu dengan ku, Angel sudah punya Kevin."


"Baik lah, kalau itu ke mauan mu."


"Terima kasih."


"Sudahlah, ayo kamu mau makan apa? Papa sudah lapar."


...


Gedung terbengkalai.


Alex menatap penuh kebencian pada Bos nya ini. Secara terang-terangan dia mengatakan akan membunuh Angel jika misi untuk menjauhkan Angel dari keluarganya tidak berhasil.


"Bukan dia tapi kamu yang akan mati!"


"Coba saja, kamu menyentuhku dan adik kamu yang akan mati, Ingat Alex hidup keluarga mu ada pada tanganku! Kamu mencintainya kan? kamu pembunuh, masa iya kamu tidak bisa menculiknya dan menjadikannya milikmu?"


Alex hanya terdiam. Ingin rasanya Alex menikam Pria di depannya ini dengan pisau yang ia bawa tapi semua harus di buang jauh-jauh pikiran itu, dia tidak ingin membahayakan Angel atau keluarga nya.


"Lakukan dengan benar! setidaknya membuat Rio cemburu pada Angel atau kamu bisa membuatnya hamil anakmu. Ck... kamu mana mungkin bisa melakukannya." Remeh pria ini yang sangat tahu sifat Alex yang anti berbuat seperti "itu" dengan sembarang perempuan.


"Diam! Jangan sentuh dia! beri aku waktu lagi."


"Sayang nya waktu mu tinggal sedikit, gunakan waktu itu dengan baik atau aku sendiri yang akan melakukan nya. Kamu tahu aku lebih suka darah, jaga dia atau kamu akan melihat mayat nya!"


Pria itu langsung pergi meninggalkan Alex. Sepergi nya Pria itu Alex langsung meninju tembok dengan kesal.


"SIAL! HHHAAAAAHHHH!!!" teriak Alex kesal.


"Aku harus apa? sebaiknya aku jujur saja, itu akan lebih mudah."


Alex langsung menghubungi Angel dan menceritakan semuanya, berharap Angel akan percaya dan mulai menjauh dari Rio dan keluarganya.


...


3 hari berlalu.


Rio terbelalak melihat seorang pria yang sedang mengecup bibir Angel di taman. Rio meremas kertas di tangannya dengan raut wajah murka.


Dirinya masih tidak bisa mempercayai apa yang tengah di lihatnya ini. Secarik kertas di buket mawar merah darah yang di kirim seseorang pagi ini menunjukan hal yang mengejutkan dirinya. secarik kertas itu bertuliskan kata yang menyuruh Rio untuk pergi ke taman jam 9 pagi dan juga kebenaran tentang Angel yang main api dengan pria lain.


"Buat apa kamu ingin menjadi istri sah ku, jika kamu sendiri bermain gila di belakang ku?"


Rio yang ingin menghampiri Angel terhenti karena ponselnya berbunyi.


"Siapa sih!" kesal Rio yang langsung merogoh saku celananya.


"Sena?" tanpa pikir panjang Rio mengangkat panggilan telepon itu.


Rio mendengarkan Sena sembari melihat kearah Angel dengan pria yang tidak di kenalnya. Rio mengamati setiap gerak-gerik pria itu.


"Kamu menyelesaikan dengan baik, aku bangga padamu."


Rio menghela napas panjang lalu mencari nomor kontak Angel dan langsung menelponnya.


"Kamu dimana?" tanya Rio sembari melihat gerak-gerik Angel.


"Di taman, kenapa?" jawab Angel tanpa ada beban apapun. Rio tersenyum tipis mendengarnya. Angel berkata jujur.


"Oh, sama siapa?"


"Teman, kenapa kamu bertanya seperti itu? mau bilang apa?" ucap Angel yang mulai menaikan nada bicaranya seakan tidak suka.


Rio dapat melihat dengan jelas pria yang bersama Angel itu lebih putih dari dirinya bahkan dari postur tubuhnya, Rio kalah jauh dari pria itu dan kalau benar Angel main api dengan pria itu maka hancurlah hati Rio.


"Pulang!" suruh Rio dengan dingin dan gahar saat melihat pria itu memeluk Angel dari belakang.


"Ta..?"


"Sekarang! Kevin demam!" ucap Rio berbohong dan langsung mematikan sambungan telepon. Rio masih mengawasi Angel yang panik, dia berbicara dengan pria itu seakan memohon untuk mengantarkannya pulang.


Setelah melihat Angel dan pria itu pergi dengan motor, Rio pun bergegas menuju mobilnya.


Satu jam sebelumnya.


"Kamu yakin?" tanya Alex kepada Angel yang tengah menulis di secarik kertas.


"Iya." Angel meletakan secarik kertas itu pada buket mawar merah darah. Angel merasa ini yang terbaik, dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Kevin.


"Maaf aku tidak bisa membantu mu."


"Tidak apa, seperti ini juga sudah lebih dari cukup. Terima kasih, mungkin kalau bukan dari mu, aku sudah tidak bernyawa dan tidak bisa melihat putraku. Aku sudah memutuskan untuk pindah Prancis dan maaf aku tidak bisa membalas perasaan mu."


"Kamu juga membantu ku, sudah kan? aku akan mengirimkannya."


"Aku titipkan saja pada satpam."


.. flash end...


Rumah Amanda Riko.


Sena sangat senang akhirnya permintaan Angel terpenuhi. Sekarang Angel telah menjadi istri sah nya Rio.


"Rio?"


Rio duduk di sofa samping Sena. Sena menatap heran ke Rio yang nampak kesal.


"Kamu kenapa?.. eh?" Sena terkejut saat Rio mengecup pipi kirinya. Rio tidak berucap sepatah katapun, mungkin ini hadiah kecil karena telah melakukan hal yang tidak bisa Rio lakukan.


"Kamu sudah menelepon Angel?"


"Sebentar lagi juga pulang."


"Oh. Apa kamu senang sekarang?" tanya Sena memastikan.


"Mungkin, apa aku masih pantas untuk mu?" tanya Rio tanpa ekspresi di wajahnya. Pertanyaan itu membuat Sena bingung, seakan Rio tengah memastikan sesuatu.


"Menurut mu? ah.. sudahlah, lagian kamu sendiri bisa menyimpulkan ini semua dan ini sudah terlalu telat untuk menanyakan pertanyaan konyol itu."


Keduanya kembali diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak lama Angel memasuki rumah dengan terburu-buru. Angel ingin memastikan Kevin baik-baik saja.


"Tidak usah panik seperti itu." ucap Rio yang kini menatap tajam kearah Angel. Sena yang tidak tahu apa-apa hanya menjadi penonton.


"Eh? tapi kamu bi--."


"Aku berbohong." potong Rio. Wajah Angel kini tak sepanik tadi, jujur Angel lega mendengar nya hanya saja, pertanyaan di pikiran Angel kini sirna. Angel sekarang tahu bahwa Rio datang ke taman dan melihat semuanya.


"Langsung saja ke intinya, Sena sudah memenuhi keinginan mu." ucap Rio datar. Sena kini menatap senang ke arah Angel. namun Angel nampak biasa-biasa saja.


"Iya, El. Kamu pasti senang sekarang kan?" tanya Sena dengan penuh semangat.


"Kau mengejekku?" ucap Angel dengan sinis.


"Eh?" Sena di buat bingung dengan ucapan Angel. Angel tidak memperdulikan Sena, kini tatapan mata Angel tertuju pada Rio.


"Aku minta cerai!" ucap Angel datar dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Kevin.


"Eh?" Sena terbengong mendengarnya, Sena merasa heran kenapa Angel meminta cerai padahal selama ini dia ingin menjadi istri sah nya Rio sama seperti dirinya.


Rio hanya tersenyum tipis. Entahlah kenapa dia tidak begitu terkejut mendengarnya.


"Ri? Angel bilang apa barusan?"


"Jangan terlalu di pikiran." ucap Rio santai lalu membalikan badannya, menatap Sena.


"Eh?" Sena terkejut dengan perlakuan Rio ini. Rio mengacak-acak poninya dengan senyuman manis yang terukir indah di bibir Rio.


"Tugasmu sudah selesai." ucap Rio dengan lembutnya lalu berlalu pergi.


"Sebenarnya ada apa?"


....


Kamar Kevin.


Angel meminta semua pengasuh Kevin keluar kamar. Sekarang hanya ada Angel dan Kevin. Angel mendekati Kevin yang kini menatap nya dengan senyuman manis.


"Mama tidak akan bisa hidup tanpa mu, apa mama egois? ini semua untuk keselamatan mu, percayalah mama terpaksa melakukan ini. Jauh di lubuk hati ini ingin sekali melihat mu tumbuh, selalu ada di dekatmu hingga kamu bisa menentukan kebahagiaan mu sendiri."


Air mata Angel kini mengalir dengan deras, hatinya hancur berkeping-keping tanpa ada satupun orang yang tahu.


"Kamu ngambek?" tanya Angel pada si kecil yang kini mulai merengek.


Angel langsung menghampiri Kevin. Tatapan polos Kevin membuat Angel semakin merasa bersalah, pasti sangat sulit berpisah dengan Kevin yang hampir sembilan bulan satu tubuh dengannya.


"Sayang, Jangan benci mama yah?"


Angel POV


Ini sangat menyakitkan. Kenapa Tuhan memberiku beban seperti ini? aku hanya ingin hidup dengan orang-orang yang sangat aku sayangi, apa itu terlalu sulit untuk terkabul?.


Aku tak pernah berpikir ini semua akan terjadi, aku bahakan tidak pernah bermimpi seburuk ini. Huff.. semua sangatlah melelahkan. Siapa yang ingin aku pergi? apa Sena yang melakukan ini? lantas kenapa dia mau membuang-buang waktu untuk mengurus buku nikah ku? apa itu hanyalah sebuah taktik untuk membuatku tidak mencurigai nya? apa dia sudah tahu Alex membantuku?. Apa dia akan baik-baik saja?. Hah? apa ini? aku mengkhawatirkan nya? aku bahkan tidak tahu nasibku sendiri. Bodohnya aku.


"Kuku kamu kenapa panjang gini sih ,nak?"


Aku sangat suka memainkan tangan mungil ini. Sekarang putraku sudah semakin besar, aku sangat senang melihat senyuman yang sangat tulus itu. Apa hanya bayi yang memiliki senyuman setulus ini.


"Sekarang Rio pasti akan menjauhi ku, aku sudah siap untuk ini, mungkin ini jalan yang terbaik untukku. Aku tidak tahu harus apa sekarang. Sudahlah El! ini diluar kemampuan mu."


POV end.


...


Kamar Rio Sena.


Rio terbaring di kasur dengan tatapan mata tertuju pada langit-langit kamar. Masih terlihat jelas di matanya saat Angel dengan Pria itu. Rasa sesak di dada ini membuatnya teringat akan apa yang telah ia lakukan pada Angel.


"Dua kali, apa kamu akan kembali pada ku?" tanya Rio pada dirinya sendiri. Rio masih ingat akan Reyhan dan mungkinkah itu Reyhan, tapi apa dia seperti itu sekarang?, pertanyaan demi pertanyaan kini memenuhi pikiran Rio.


"Kepalaku pusing, siapa pria itu?"


Suara gagang pintu terdengar ditelinga Rio membuatnya menutup matanya, berpura-pura tidur. Ternyata itu Sena yang hanya mengintip saja dan sepertinya tidak berniat masuk.


"Dia tidur? tumben. Apa? sudahlah, apa aku harus bahagia dengan yang terjadi sekarang?" lirih Sena dengan senyum di tepi bibirnya.


Rio POV


Itu pasti Sena. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Sena sekarang, pasti dia sangat bahagia mendengarnya tapi maaf aku tidak akan bercerai dengan Angel karena aku sangat mencintainya lebih dari dirimu. Aku sudah terbiasa merasakan sakit hati karena ulah mu dan aku selalu memaafkan mu dan hal itu juga berlaku untuk Angel.


Aku tidak boleh percaya begitu saja, Angel tidak mungkin melakukan hal seperti ini, setidaknya demi Kevin.


"Eh?" Rio langsung terduduk saat mengingat dirinya masih menyimpan nomernya Reyhan, mungkin Reyhan tahu sesuatu.


"Apa aku harus bertanya padanya?"


Tok...tok. tok ..


"Ri, apa Ibunya Angel. Dia mencari mu!" Teriak Sena di depan pintu.


"Iya sebentar."


Rio dapat mendengar langkah kaki Sena menjauh dari pintu. Rio penasaran kenapa Jihan ingin bertemu dengan dirinya.


"Apa dia sudah tahu akan semua ini?"


...


Ruang Tengah.


Jihan semakin bingung dengan sikap Angel akhir-akhir ini terlebih saat mendengar cerita Sena.


"Bu, apa ibu tahu sesuatu? Angel tidak seperti ini sebelumnya apa lagi dia ingin pergi sejauh itu."


"Ibu juga tidak tahu, Angel sudah tidak berbicara lagi dengan ku, mungkin dia masih marah."


"Maaf itu karena diriku."


"Tidak Sena, ibu yang salah. Kamu tidak perlu mencemaskan nya."


Rio menuruni tangga dan terlihat jelas olehnya Jihan dan Sena yang sedang membicarakan sesuatu.


"Bu?" panggil Rio. Jihan menoleh ke arah Rio dengan melihatkan tatapan kecemasan.


"Bu, ada apa?"


"Duduklah, ada hal yang kamu harus tahu."


Rio menuruti ucap Jihan. Rio semakin di buat penasaran dan entah kenapa timbul ke khawatiran di hatinya.


"Kamu bertengkar dengan Angel lagi?" Tanya Jihan. Rio hanya menggelengkan kepalanya.


"Angel ingin pindah ke Prancis bersama kakeknya."


"Apa? ngga! Angel tidak akan meninggalkan Kevin. Apa Angel akan membawa Kevin?" tanya Rio dengan nada gemetar. Dia tidak ingin berpisah dengan dua orang sekaligus.


"Ri?" Sena langsung menggenggam tangan kiri Rio.


"Ibu tidak tahu, bahkan Angel sudah tidak berbicara denganku. Dia seakan jadi orang asing saat ini. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya sekarang." Jihan menghela nafasnya. Jihan merasa telah sangat mengecewakan Angel hingga Angel tak mau lagi berbicara dengannya.


"Aku akan bicara dengan Angel, membujuk nya agar tidak pergi." ucap Rio dengan penuh harapan.


"Tidak Ri, biar ibu saja. Dia masih marah dengan mu."


"Tapi di juga marah padamu."


"Setidaknya aku ibu kandung nya."


"Baiklah."


....


Teras samping.


Jihan menatap Angel dengan mata yang berkaca-kaca. Jihan dapat melihat dengan jelas kemarahan di mata Angel.


"Aku tidak ingin mendengar satu katapun darimu. Kamu memintaku memikirkan perasaan Rio? hah, selama ini aku selalu memikirkan perasaan orang lain tapi apa mereka memikirkan perasaan ku? tidak, tidak ada yang perduli, sudah cukup! aku tidak ingin mengulangi kesalahannya yang sama."


Angel beranjak dari duduknya. Wajahnya terlihat datar dan tatapannya kosong.


"Katakan pada Rio, aku tidak akan membawa Kevin bersamaku. Aku tidak ingin kenangan buruk terus mengikuti ku. Aku belajar darimu, kamu meninggalkan keluarga mu untuk orang yang kamu sayangi sedangkan aku meninggalkan keluarga ku untuk bertahan hidup. Kalau kamu masih menganggap ku anakmu, tolong jangan ikut campur."


Angel langsung berlalu pergi. Jihan tak bisa berbuat apa-apa lagi, ini kesalahannya tak pernah jujur kepada Angel dan selama ini dirinya juga mementingkan perasaannya sendiri.


"Apa ini karma untuk ku? apa ini rasanya di kecewakan oleh orang terdekat? Ayah, apa ini yang kamu rasakan? aku telah merasakannya, hatiku hancur dan maafkan aku"


.... Bersambung....