Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
Bab 71 Ingin segera berakhir.



Kamar Angel.


Angel mengunci pintu kamar, kini dia tak perlu berpura-pura tegar. Air matanya kini bebas mengalir di pipinya, Isakkan nya kini terdengar pilu.


"Aku? seharusnya aku tidak berkata seperti itu." Angel melihat ponselnya. Saat berbicara dengan Jihan ada yang mengirimkan foto di ponselnya dan melihat dirinya yang tengah bersama Jihan di tempat yang sama serta waktu yang sama. Angel paham akan hal ini, ada seorang yang mengawasinya.


"Sejak kapan? aku tidak ingin mereka terluka? apa yang harus aku lakukan?"


Drttt...Drtt..


Ponsel Angel berdering, panggilan masuk dari nomor tanpa nama. Angel tahu itu Alex. Angel tidak memberikan nama di nomor ini, Angel tidak ingin ada orang yang tahu. Angel langsung mengangkat panggilan telepon itu.


"Kita kehabisan waktu, bos sudah bergerak." ucap Alex dengan panik dan Angel dapat mendengar napas Alex yang berat.


"Kamu kenapa?"


"Tidak perlu tahu! jangan pergi keluar jika aku tidak memintamu!" ucap Alex dengan penuh penekanan.


"Lex?"


"Ikuti saja perintahku! mengerti?"


"Iya"


Alex langsung mematikan ponselnya. Angel semakin khawatir dibuatnya. Jalan satu-satunya hanya percaya pada Alex.


"Apa aku akan di bunuh? aku takut!"


Angel kini terduduk dilantai dengan perasaan penuh kebimbangan. Tak semua dapat di pahami apa lagi di mengerti.


....


Gedung terbengkalai.


Alex mengerutkan keningnya saat melihat "teman-temannya" melihat kearah nya dengan tatapan membunuh. Alex melihat semuanya membawa benda tumpul di tangan mereka. Alex punya firasat buruk tentang hal ini.


"Apa bos memanggil kalian semua?"


Seorang dengan pawakan mirip Alex muncul dari belakang gerombolan ini. Dia terlihat sangat senang dan menatap Alex dengan penuh kebencian.


"Dion?" Alex terkejut melihat sosok yang selama ini jadi saingannya ada disini.


"Kenapa kamu terkejut? harusnya aku yang terkejut, kenapa bisa bos yang selam ini membanggakan mu justru ingin membunuhmu." ucap Dion dengan piciknya dan di sambut tawa oleh anak buahnya.


"Ck! sialan" umpat Alex. Melihat mereka semua Alex tahu ini tidak main-main. Bos menginginkan ke matian nya. Alex melirik kesamping, Alex mengambil tongkat besi yang seakan ingin membantunya.


"Alex-Alex. Aku tidak menyangka kamu hancur oleh perempuan. Harus nya sangat mudah untuk melenyapkan dia. Apa kamu mencintai nya? Aku akan bunuh dia setelah membunuh mu!"


"TIDAK AKAN AKU BIARKAN KAMU MENYENTUHNYA!" teriak Alex sembari berlari menghadapi mereka semua.


....


Napas Alex ter-engah-engah. Dirinya kewalahan mengahadapi 20 orang sekaligus, namun beruntungnya kemampuan mereka tidak sepadan dengannya hanya Dion lah ancaman terbesarnya juga dia sangat licik.


Alex berhasil melumpuhkan hampir semua orang yang ingin membunuhnya. Dion hanya mengawasi Alex yang tengah berjuang hidup sembari mengamati bila ada celah untuk melukai Alex.


"Tontonan yang menarik, andai lebih lama." ucap Dion dengan piciknya, sembari memainkan tongkat bisbol di tangannya.


"Oh, tidak aku baru ingat, bos ingin secepatnya melihat mayat penghianat itu!"


Dion langsung berjalan mendekati Alex yang sibuk menangkis pukulan yang di arahkan padanya dan berusaha melumpuhkan lawan-lawannya. Alex hanya fokus dengan lawan-lawan di depannya hingga dia tidak menyadari bahwa Dion berada dibelakangnya dan bersiap untuk memukulnya.


"MATI KAU!!!"


BRAK...


Alex mengerang kesakitan sembari memegangi tengkuk lehernya. Dion memukul keras tengkuk leher Alex. Dion sengaja tidak langsung memukul kepala Alex karena dia ingin bermain sedikit lama dengan Alex.


Dion yakin dengan pukulan sekeras itu akan melumpuhkan Alex. Dan benar saja Alex langsung bertekuk lutut menahan sakit bahkan tongkat besi yang ia bawa sudah terjatuh.


"LIHAT! SANG JAGOAN KITA TAK BERDAYA!" teriak Dion dan sambut tawa dari rekanya.


"Ck!" Alex berdecak kesal, menyalahkan dirinya yang kurang waspada pada dia tahu Dion sangat licik dan dapat berbuat curang.


"Alex-Alex, harus nya kamu tidak bertindak bodoh, pekerjaan semudah itu tapi kamu gagal? apa kamu benar-benar mencintainya?"


"Jangan ganggu dia!" tegas Alex. Dion tertawa sinis dan langsung mengayunkan lagi tongkat bisbol itu kerah kepala Alex, membuatnya tersungkur. Kini sakit yang amat sangat dirasa olehnya.


Darah segar mengalir di pelipis Alex namun dirinya tidak akan menyerah, apapun yang terjadi dia harus menyelamatkan Angel, walau nyawanya jadi taruhan.


"Bos, cepat bunuh dia! waktu kita tidak banyak untuk meladeni b*jingan ini!" ujar pria yang lukanya cukup parah karena Alex.


"Iya kamu benar!"


Saat Dio ingin memukul Alex dengan tongkat lagi. Alex dengan cepat meraih tongkat besinya lalu memukul tangan kanan Dion yang tengah mengayunkan tongkat bisbol, telat sedikit saja Alex akan benar-benar dalam masalah besar


Alex secepatnya bangkit dan berlari melarikan diri dari orang-orang ini.


"Woy!" ke 20 orang ini langsung mengejar Alex dengan beringas nya.


"Hah? dia kabur? seorang Alex?" Dion terkejut melihatnya. Baru kali ini dia melihat Alex bertingkat layaknya pengecut. Dion berpikir sejenak lalu tawa renyah nya terdengar sangat nyaring. Tawa kemenangan dan perasaan membanggakan ini membuat dirinya senang. Sudah sekian lama dirinya menantikan hari ini dan sangat mudah untuk nya menyingkirkan Alex.


"Kenapa tidak dari dulu aku memikirkan rencana ini? semudah ini kah?"


Dion masih tidak percaya dirinya mampu melukai Alex bahkan membuatnya kabur seperti tadi.


"Kamu tidak akan selamat dengan luka itu terlebih ada dua puluh orang yang akan menghajar mu! PERGILAH KE NERAKA ALEX!!!" Teriak Dion dengan kerasnya. Teriakan Dion menggema di gedung ini.


"AKU AKAN MEMBUNUHNYA! AKU AKAN MEMBUNUH WANITA ITU! KAMU DENGAR ITU AL--"


DOORRRR....


Dion langsung tumbang saat timah panas tepat menembus dada sebelah kirinya. Dion melihat samar-samar Alex yang tengah berdiri di atap gedung sebelah dengan tangan yang memegang senjata api.


"Ternyata aku tidak sepadan dengannya. uuhkkk."


Dion perlahan merasakan rasa sakit yang luar bisa dan juga panas di dadanya.


"Bos?"


Suara tembakan terdengar kembali, bahkan sekarang suaranya tanpa jeda hingga semuanya tumbang tak tersisa.


Di atap gedung Alex masih mengawasi dengan senjata api yang masih mengarah kearah yang sama. Alex sudah menyiapkan senjata api ini saat bosnya mulai meragukan nya.


Alex hanya berpura-pura lemah dan kabur menuju sisi ini. Bahakan Alex dengan mudahnya melewati 10 orang yang mengepungnya tadi dan mereka tidak akan bisa merasakan hangat sinar mentari pagi.


"Sialan! " Alex langsung menjatuhkan senjata api di tangannya. Kepalanya sangat sakit akibat pukulan Dion tadi.


"Harusnya dari awal aku melakukan ini!"


Alex mengambil ponsel dari sakunya berharap ponselnya tidak rusak.


"Syukurlah, aku harus menelfon nya"


Alex sangat mengkhawatirkan Angel lebih dari dirinya sendiri. Alex tahu Angel tidak mungkin menerima perasaannya namun Alex tidak mempermasalahkan hal itu. Melihat Angel aman tanpa luka itu lebih berarti dari apapun.


...


Markas VN.


Suara tawa terdengar menyeramkan di telinga. Laki-laki dengan tatapan datar menatap Pria yang tak lain adalah Bos nya sendiri.


Laki-laki ini bernama Lexa yang tak lain adalah anak dari pria yang tengah tertawa. Lexa merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh VN. VN sendiri julukan untuk bos atau Ayahnya Lexa. Lexa sendiri tidak mengetahui nama asli Ayahnya ataupun nama ibunya. Sejak kecil Lexa tidak dekat dengan orang tuanya apa lagi VN hanya tertarik dengan anak-anak yang kuat dan mampu membuatnya kagum.


"Alex, itu istimewa. Dia tidak bisa diatur tapi dia selalu membuat ku kagum." Ucap bos dengan nada bangga. Dirinya telah menerima laporan bahwa Alex sudah melenyapkan 21 anak buahnya dan termasuk salah satu ke sayang nya.


"Kau gagal membunuhnya, sekarang apa?"


"Sekarang? aku mulai tertarik dengan wanita yang di lindungi Alex, karena dia uangku mengalir dengan deras. Aku baru saja menerima "hadiah" dari bos baru dengan target yang sama."


"Sepertinya kau akan mati karena tumpukan uang itu!" ucap Lexa dengan sinis.


VN menatap putranya dengan senyum miring. VN sangat tahu Lexa tidak suka dirinya membanggakan orang lain.


"Tidak perlu kesal seperti itu, kau juga beruntung sebab tidak perlu mengotori tangan mu untuk menyingkirkan Dion."


"Hah, sudahlah. Cepat m*ti agar aku bisa duduk di kursi itu!" ucap Lexa dingin lalu pergi meninggalkan VN.


"Dasar anak itu. Bibit yang unggul tapi arogan tidak seperti kakaknya, Alex. Tidak sia-sia aku menelantarkannya di pinggir jalan. Kalau Lexa dan Alex tahu mereka anak kembar dan putra kandungku apa yang akan terjadi? wah pasti seru melihat kedua putraku saling membunuh untuk posisi ku saat ini. Aku tidak sabar melihat hari itu tiba." Senyum VN terukir jelas di bibirnya.


...


Rumah Riko Amanda.


Rio terdiam membisu saat mendengar ucapan Jihan soal Angel yang akan pergi meninggalkan kan Kevin. Rasanya tidak mungkin Angel berpikiran untuk pergi jauh dari Kevin pada selama ini dia rela terluka hanya untuk terus bersama Kevin.


"Ibu tidak tahu harus apa lagi sekarang, terlebih Erik mendukung keputusan Angel. Ini tergantung padamu Rio, kamu yang harus menyelesaikannya dengan tangan mu sendiri. Jangan orang lain, apa lagi Sena, kamu harus menjaga perasaan kedua istri mu itu."


Jihan langsung berlalu pergi meninggalkan Rio. Sekarang Jihan sudah tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga Angel lagi. Jihan melihat kekecewaan yang mendalam pada mata Angel, sebagai seorang anak pasti Angel berharap lebih darinya namun harapan itu telah di hancurkan oleh nya.


"Ri?"


Sena duduk di sebelah Rio. Rio melihatkan wajah murungnya membuat Sena khawatir.


"Aku tidak apa-apa."


"Jangan bohong! apa yang kalian bicarakan barusan?"


"Apa kamu senang kalau Angel pergi dari rumah ini?" tanya Rio langsung sembari menatap kedua mata Sena. Sena hanya terdiam, dari sorot mata Sena terlihat keterkejutan.


"Tanpa Kevin." sambung Rio lagi.


"Ka...kamu bercanda? Angel tidak mungkin meninggalkan Kevin kalau meninggalkan kamu, itu mungkin." ucap Sena jujur dan membuat Rio terkekeh pelan.


"Apa kamu juga akan meninggalkan kan ku juga?"


"Apa kamu butuh jawaban?"


"Iya, sekarang jawablah." pinta Rio. Sena hanya tersenyum tipis dan.


cup.


Kecupan manis mendarat di pipi kiri Rio.


"Itu jawabannya."


Sena langsung berlalu pergi untuk menemui Angel dan menanyakan hal ini.


Saat berjalan ke kamar Kevin, Sena melihat Angel yang berpakaian rapi dan anehnya Angel hanya diam saja saat melihat Kevin yang menangis di bopongan pengasuh.


"Kasih saja susu formula, aku ada urusan!"


"Iya non."


Angel membalikan badannya. Angel nampak terkejut dengan kehadiran Sena.


"Kebetulan ada kamu, urus Kevin. Kamu juga ibunya kan?" ucap Angel dengan nada sinis.


"Kamu mau kemana?"


"Bukan urusanmu! lagi pula kamu juga tidak pernah berpamitan padaku saat kamu akan pergi?"


Angel kembali melangkahkan kakinya melewati Sena.


Sena mengikuti dari jauh takutnya Rio dan Angel akan bertengkar.


Angel melihat Rio yang tengah terduduk sembari menatapnya. Angel sendiri acuh, seakan tidak ada Rio di ruangan ini.


"Mau kemana?"


"Bukan urusanmu!"


Angel terus berjalan tanpa sedikitpun menoleh kearah Rio.


"Kau ingin berselingkuh dengan laki-laki itu?" tuduh Rio. Angel masih tak bergeming dan membuat Rio marah.


"Jawab!" ucap Rio dengan penuh penekanan. Angel memberhentikan langkah nya lalu menoleh ke arah Rio.


"Sudah ku bilang buka urusanmu! urus saja perceraian kita! mengerti?"


Angel kembali berjalan dan kini langkahnya terlihat cepat. Rio mau tidak mau harus mengikuti Angel, dirinya ingin memastikan sesuatu.


Sena yang dari tadi memperhatikan langsung panik. Sena sesegera mungkin menemui Arfan yang ada di kamarnya.


..


Depan kamar Arfan.


Sena terus menggedor pintu kamar hingga si empu punya kamar keluar dengan wajah batal, sepertinya Arfan habis tidur.


"Apaan sih? ganggu aja, aku lagi tidur. Capek."


"Fan, gawat!" ucap Sena dengan panik dan membuat Arfan bingung.


"Gawat kenapa sih? tas kamu hilang? minta saja sama Rio sanah!"


"Ih.. bukan itu! Rio sama Angel lagi marahan, dan sekarang Angel pergi terus Rio ngikutin Angel. Fan tolong ikuti mereka! aku takut ada apa-apa!" jelas Sena dengan intonasi nada yang cepat membuat Arfan melongo.


"Ya ampun Fan! buruan!" kesal Sena yang khawatir dan takut akan ada apa-apa.


"Bentar, aku cuci muka dulu sama ambil kunci mobil!" greget Arfan.


"Buru!"


....


Angel sekarang dalam perjalanan menuju cafe tempatnya meminta Alex datang. Awalnya Angel ragu meminta Alex membantunya untuk membuat Rio semakin percaya bahwa dirinya selingkuh.


Taxi yang membawa Angel berjalan lambat karena Angel yang memintanya. Angel berharap Rio mengikutinya agar rencananya berhasil.


Angel tersenyum melihat pantulan mobil Rio di kaca sepion.


"Aku ingin segera berakhir." lirih Angel.


...


Cafe tulip.


Alex duduk termenung dengan perban di kepalanya, jujur rasa sakit di kepalanya masih terasa namun ia tidak menolak permintaan Angel.


"Apa tidak terlalu berlebihan?" Alex mendengus bosan. Rasanya ingin sekali menculik Angel saat ini juga agar tidak ada yang menggangu Angel lagi.


...


Angel turun dari taxi dan mulai melangkah memasuki cafe yang terletak bersebelahan dengan jalan.


Angel melihat sekilas mobil Rio yang telah sampai dan berharap akan sesuai dengan keinginan nya.


"Maaf Ri, aku tidak ingin melukai siapapun. Kamu boleh membenciku" ucap Angel dalam hati, Angel memutar pandangan mencari sosok Alex.


"Eh?" Angel terkejut melihat Alex yang tengah memainkan ponselnya sembari menatap ke arah luar dan sepertinya dia tidak menyadari kehadiran Angel. Angel terkejut melihat perban yang ada di kepala Alex.


"Alex?" panggil Angel tepat didepan Alex. Alex langsung menoleh ke arah Angel.


"Kamu sudah sampai? rencanmu ternyata berhasil." puji Alex yang melihat Rio tengah mencari kebenaran Angel.


"Kepalamu? apa itu karena ku?" tanya Angel dengan tatapan mata tertuju pada Alex.


"Bukan, lakukan sekarang!" suruh Alex yang melihat Rio mendekat. Angel langsung mencium pipi kiri Alex.


"Sayang maaf lama yah?" ucap Angel dengan nada manja dan di sambut senyuman manis dari Alex.


"Ngga kok."


Rio yang melihat semua itu tidak bisa menahan emosi. Alex bangkit lalu menghampiri Angel. Kedua tangan Rio mengepal saat Alex memeluk Angel di hadapannya.


"Kurang ajar!" desis Rio yang langsung menghampiri Angel, Rio langsung melepaskan Angel dari pelukan Alex.


"Rio?"


"Kamu siapa?"


Brak...


Tanpa basa basi, Rio langsung menghajar Alex di depan umum.


"Stop Ri!" Angel berusaha melerai Rio yang masih memukuli Alex, jujur Angel tidak ingin kejadian nya seperti ini.


"Diam kamu!" bentak Rio ke Angel dan membuat Alex marah karena tidak ada yang boleh membentak Angel seperti itu.


"Ck, sialan!"


Brak...


Alex kini melawan dan membuat keributan. Arfan yang dari tadi mengawasi kini berlari untuk melerai semua ini.


"Udah kak! stop! malu di lihat tin orang!" Arfan langsung menarik lengan Rio menjauh dari Alex. Angel membantu Alex berdiri. Bercak darah kini terlihat di tepi bibir Alex.


"Kamu ngga apa-apa?" tanya Angel khawatir. Alex hanya menggeleng.


"Pacarku." jawab Angel singkat. Arfan menggeleng kan kepada, dia tidak percaya dengan apa yang Angel ucapkan.


"Tapi?"


"Ini bukan urusanmu, Arfan! urus saja kakak mu itu, sudah cukup aku sudah muak! aku ingin bahagia. Jangan ganggu kehidupan ku, kamu pikir hanya keluarga mu saja yang berhak bahagia? engga, aku juga pantas mendapatkan nya dan Alex memberiku hal yang tidak pernah kalian berikan padaku! ayo sayang kita pergi."


Angel langsung menarik pergelangan tangan kanan Alex, pergi menjauh dari Rio dan Arfan.


Rio masih terdiam, rasanya sesak melihat kebersamaan mereka.


"Kak?"


"Kita pulang Fan."


"Naik mobilku saja, biar supir yang akan mengambil mobilmu."


"Terserah kamu saja, tadi Angel bilang pacarnya itu namanya Alex?"


"I...iya, Angel ngga mungkin lakuin ini kan? apa ini hanya mimpi?"


"Entahlah aku juga tidak tahu."


..


Parkiran.


Angel menyentuh pelan pipi Alex yang memar dan membuat Alex meringis kesakitan.


"Maaf, aku tidak menyangka akan jadi seperti ini."


"Sudahlah, aku juga sudah terbiasa dengan ini." ucap Alex dengan nada santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


"Terbiasa? jawab jujur, luka di kepala mu itu karena ku kan? karena kamu ingin melindungi ku?"


Angel merasa sangat bersalah karena dirinya sangat merepotkan Alex. Alex tersenyum tipis.


"Iya ini karena mu, aku hanya ingin melindungi orang yang aku sayangi. Luka seperti ini tak ada artinya untuk ku. Walaupun hanya diriku yang mencinta tapi tak apa, melihatmu tersenyum dan dalam keadaan aman saja itu sudah cukup bagiku."


"Tapi aku tidak ingin membahayakan mu lagi, Kamu menjauh yah dariku. Aku sudah siap walau kehilangan semuanya maupun nyawaku."


"Jangan naif, semua ini tidak bisa kamu pahami."


"Tapi keluarga mu juga bisa terkena imbasnya."


"Keluarga? maaf aku bohong soal itu, mereka bukan keluarga kandungan ku, aku hanya bayi yang tidak di inginkan. Aku hanya anak pungut. orang tua ku menelantarkan ku di pinggir jalan, bahkan mereka tidak perduli aku kehujanan atau kemungkinan diriku yang di mangsa Anjing liar. Jujur aku sudah muak hidup di dunia ini, bila aku mati karena menyelamatkan mu, itu sangat berarti untuk ku."


"Alex?"


"Eh?" Alex terkejut saat Angel tiba-tiba memeluknya dengan erat, entah kenapa serasa damai di hati nya.


"Jangan bilang seperti itu lagi, aku tahu kamu sangat menyayangi ibu dan adik perempuan mu. Ikut aku ke Prancis, kamu bisa jadi pengawal kakek ku. Bawa ibu dan adik mu juga, semua akan bereskan kalau seperti itu?"


"El?"


Alex melepaskan pelukan Angel. Perlahan jari jemarinya menghapus air mata Angel.


"Aku akan pikir kan itu, kamu mau kemana sekarang? pulang?" tanya Alex yang sempat melirik jam tangannya. Pukul 5 sore.


"Tidak, terserah kamu mau kemana, aku ikut saja."


"Oke, kita ke kontrakan Nesa saja, dia pasti sangat terkejut saat melihatmu."


"Boleh."


...


Rumah Riko Amanda.


Rio langsung pergi ke kamar Kevin, dia tidak perduli dengan Sena yang terus bertanya kepadanya. Sena terus mengikuti dari belakang.


"Ri?"


Arfan langsung menarik pergelangan tangan Sena saat akan masuk ke kamar Kevin.


"Kenapa?"


"Biarkan Rio sendiri saat ini." pinta Arfan. Sena tidak menolak, dia menurut lalu pergi meninggalkan Arfan.


Arfan tahu sekarang kakaknya tidak baik-baik saja dan soal Angel, masih belum bisa ia terima.


"Alex? apa aku tanya saja sama Rey? mungkin dia tahu sesuatu."


Arfan teringat akan Rey dan mungkin dia punya jawaban atas semua ini.


"Ini salah kamu juga kak, kenapa selama ini mempermainkan perasaan Angel." lirih Arfan lalu pergi.


..


Di dalam kamar. Rio menangis tanpa suara sembari memeluk Kevin yang tengah tertidur. Rio tidak bisa membayangkan akan berpisah dengan Angel dan juga Kevin yang akan kehilangan sosok seorang ibu kandung.


"Kenapa, ibumu jadi seperti ini? apa ini salah Papa? apa Papa bisa memperbaiki semua ini?"


Rio mencium kening Kevin yang semakin hari semakin mirip dengan Angel.


...


Kosan Nesa.


Alex langsung mengetuk pintu dengan gedoran yang nyaring di telinga. Angel hanya melihat saja dan berharap tingkah Alex tidak menggangu yang lainnya. Tak lama pintu kosan terbuka dan seorang gadis muncul dengan muka bantal dan mata yang menyipit.


"Berisik Alex!" kesalnya tanpa ragu membentak Alex.


"Ck, baru bangun nyolot lagi! tuh iler di lap."


"Sembarangan kalau ngomong, eh?"


Gadis ini terkejut melihat Angel yang di belakang Alex. Gadis ini mengucek matanya tak percaya.


"El? Angel?"


"Hi Nesa, apa kabar?"


"Kamu beneran Angel?"


"Iya."


"Jangan mulai bodohnya!" kesal Alex yang langsung nyelonong masuk.


Nesa langsung memeluk sahabatnya ini. Angel pun sama, Angel tidak pernah bermimpi bisa bertemu Nesa kembali.


"Aku kangen banget sama kamu, kamu lupa yah sama aku?"


Angel langsung melepas pelukannya begitu juga Nesa.


"Bukan begitu, ponsel ku hilang. Maaf yah?"


"Oh. Sudahlah jangan dibahas lagi. ayo masuk."


Angel mengikuti Nesa masuk, Angel terkejut melihat Alex yang tengah rebahan di kursi panjang tanpa memperdulikan Nesa.


"Jangan perduli kan dia, sudah biasa seperti itu." ucap Nesa seakan tahu isi hati Angel.


"Apa dia sering kesini?"


"Iya, kosan Alex di sebelah. Bahkan sangking biasanya aku tidak heran lagi melihat Alex yang terluka seperti itu."


Nesa sangat tahu pekerjaan apa yang di jalani Alex. Nesa sangat tahu bagaimana Alex melewati ini semua.


"Kau tidak takut padanya?"


"Harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu. Kamu mau minum apa?"


"Seadanya saja."


"Oke." Nesa berjalan menuju dapur. Kosan ini terlihat sangat luas dan rapi serta ada penyekat antara ruangan satu dengan yang lain.


Angel duduk lesehan dibawah sembari menatap wajah Alex yang terlelap.


"Dia tidur?"


Perlahan tangan Angel membelai kepala Alex. Angel tahu Alex pembunuh bayaran dan sangat akrab dengan kekerasan dan juga darah namun dia memiliki sisi yang lembut. Dengan kondisinya yang seperti ini dia mau membantu Angel.


"Wajah kamu jelek sumpah"


"Eh?"


Alex membuka kelopak matanya. Tatapan Alex membuatnya takut.


"Kalian pacaran?" tanya Nesa tak percaya. Sontak Alex menatap tajam ke Nesa.


"Salah yah?" ucap Nesa sambil manggut-manggut sembari meletakkan nampan di atas meja.


...


20:30


Alex menatap Angel yang sedang bermain PS dengan Nesa. Sejak tadi mereka bermain PS setelah mengusik pendengaran Alex.


"El, sudah malam pulang."


"Tapi aku ingin menginap."


"Iya Lex. El pulang besok saja, aku kok yang antar." ucap Nesa yang ingin Angel menginap. Alex terus menatap Angel membuat Angel mengerti. Kalau dirinya disini terus maka Nesa juga akan dapat masalah.


"Sorry Nes, kayaknya aku harus pulang. Lain kali yah?"


"Ya sudah tidak apa-apa. Aku antar yah?"


"Eh?" Angel langsung menatap Alex dan Alex pun mengangguk. Nesa yang melihat kedekatan mereka berdua merasa heran.


"Fix kalian pacaran! sama teman saja kalian sungkan banget buat ngaku."


"Dasar anak bawel, cepat antar ! awas saja kalau sampai lecet!" ucap Alex dengan nada gaharnya namun Nesa tidak takut malah sekarang dia memeletkan lidahnya.


"Ayo El."


"I...iya."


....


Depan Gerbang


Nesa sedikit bingung dengan tempat tinggal Angel yang sekarang. Rumah mewah dengan penjaga ketat.


Angel bingung kenapa rumah ini di jaga dengan ketat dan tidak biasanya seperti ini.


"El, ini rumah mu?"


"Ya bukanlah, aku kerja di sini dan hari ini aku libur." ucap Angel berbohong.


"Oh, ya sudah aku pamit."


"Mau mampir?"


"Ngga El, ada tugas kuliah yang belum selesai, aku baru ingat sekarang." Nesa sebenarnya hanya ingin memastikan Alex baik-baik saja. Nesa sangat tahu Alex tidak ingin melihatkan kelemahannya pada Angel, orang yang sangat dia cintai.


"Ya sayang banget, ya sudah. Hati-hati di jalan."


"Tak perlu khawatir, Alex sudah mengajariku karate. Bye."


"Bye."


Seperginya Nesa. Angel langsung berbicara dengan satpam yang ia kenal.


"Apa aku tidak boleh masuk?" tanya Angel.


...


Ruang tamu.


Keluarga ini terlihat sangat cemas karena Angel belum juga pulang dan ponselnya tidak aktif.


Raut wajah mereka melihat kan kekhawatiran yang mendalam terlebih mereka tahu siapa Alex sebenarnya.


Arfan telah menghubungi Rey dan Rey menceritakan semua tentang Alex yang baru saja keluar dari penjara karena kasus pembunuhan. Keluarga Rio sengaja tidak memberitahu hal ini kepada keluarga Angel, mereka takut orang tua Angel akan marah pada Angel karena telah berselingkuh dengan pria lain terlebih pria itu bukan pria baik-baik.


Telepon rumah berdering memecah keheningan yang melanda. Rio yang dekat dengan telepon rumah langsung mengangkat nya.


"Den, non Angel sudah pulang." mendengar itu Rio merasa lega.


"Suruh masuk, apa dia diantar seseorang?"


"Iya Den. Perempuan dengan motor matic."


"Ya sudah terima kasih."


Rio menutup sambungan telepon. Dan menghela napas beratnya membuat yang lain merasa cemas.


"Angel sudah pulang dan dia tidak di antar Alex." ucap Rio membuat semuanya tenang.


"Sebaiknya kalian kembali ke kamar." sambung Rio. Mereka berempat mengerti lalu kembali ke kamar, masalah ini hanya mampu di selesaikan oleh Rio.


..


"Non ini bilang apa? kita disini nungguin Non Angel pulang. Den Rio juga baru pulang habis nyariin Non, non kemana kita semua khawatir." ucap Satpam dengan sopan.


"Habis dari rumah teman, bisa di buka gerbangnya?"


Satpam itu membukakan gerbang untuk Angel. Angel dapat melihat ruang tamu yang masih terang dan Angel menduga ada Rio di ruang tamu.


"Apa aku harus bertengkar dengan Rio? rasanya tubuhku sangat letih." ucap Angel dalam hati. Langkah pasti memasuki rumah.


Angel berusaha acuh melewati Rio yang menatapnya cemas.


"Kamu dari mana?"


"Bukan urusanmu!"


Kini keduanya saling bertatapan. Angel melihatkan tatapan murkanya sedangkan Rio hanya menatap sayu Angel.


"Kenapa kamu selingkuh dengan seorang pembunuh yang baru keluar dari tahanan?" ucap Rio dengan santainya. Angel terkejut mendengarnya, dari mana Rio tahu soal Alex dan dengan waktu yang singkat.


"Reyhan." lirih Angel. Angel teringat bahwa Rio pernah berkerja sama dengan perusahaan Ayahnya Reyhan dan mungkin Rio menayangkan soal ini ke Reyhan.


"Lalu perduli apa kamu? aku mencintainya, dan itu bukan urusan mu!"


"Cinta?" Rio langsung terkekeh. Angel merasa kepalanya berat karena masalah yang tidak bisa ia ceritakan ke siapapun kecuali Alex.


"Semudah itu kah kamu melupakanku? Kamu tidak perduli dengan Kevin?"


"Kamu tidak punya kaca? selama ini aku terluka karena mencintaimu, dua tahun lebih tapi apa yang aku dapat? hanya luka dan luka. Apa pernah kamu membuatku bahagia?" tanya Angel dengan tatapan kemarahan.


"Tapi kenapa harus dia! oke kamu mau selingkuh atau pun bercerai dariku silahkan tapi tolong jangan dengan kriminal itu!"


Angel tertawa mendengar ucapan Rio. Di lubuk hati Angel menangis, perkataan membohongi dirinya sendiri.


"Sadarlah! dia tidak baik untuk mu! dia seorang pembunuh, dia tidak pantas untuk mu bahkan dia tidak pantas hidup di dunia ini!" ucap Rio dengan penuh emosi dan penekanan.


Tatapan Angel berubah sedih, dia tidak terima Alex di jelek-jelekkan oleh Rio padahal dia tidak tahu bagaimana Alex melindunginya dan menjaganya sampai detik ini. Luka yang di dapat Alex hari ini adalah bukti dari kebaikan hatinya dan walaupun Alex seorang pembunuh tapi tetap saja itu tidak pantas untuknya.


"Dia penjahat."


"Dia tidak seperti itu!"


"Dia tidak pantas untuk mu! Dia harusnya membusuk di penjara!" ucapan Rio sangatlah menusuk di hati Angel.


"Tolong tarik kata-kata mu."


"Tidak akan! dia memang pantas membusuk di penjara!"


Angel tidak bisa lagi menahan emosinya. Dia pun berteriak membentak Rio. Rio tidak tahu Alex lah yang rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk melindungi Angel. Rio sebagai suami tidak mampu memberikan rasa aman dan perlindungan ke Angel dengan kata lain Rio telah gagal menjadi seorang suami.


"DIAM! KAMU TIDAK TAHU APA-APA! ALEX LEBIH DARIMU! KAMU SUAMI TIDAK BERGUNA. AKU MENYESAL PERNAH MENCINTAIMU!"


Rio terkejut dengan teriakan Angel. Angel begitu membela Alex.


"SADARLAH! DIA ITU PEMBUNUH!"


"Iya dia pembunuh tapi setidaknya dia mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan sedangkan kamu? AKU SUDAH MUAK! CUKUP AKU TIDAK INGIN MELIHAT MU LAGI!!! aww." Angel langsung memegangi kepalanya membuat Rio panik.


"El?" Rio langsung meraih tangan Angel lalu menariknya dalam pelukannya. Angel tidak sadarkan diri dan wajahnya sangat pucat.


"El, sayang bangun, kamu kenapa?"


..... Bersambung...