
Sena mengintip dari balik tirai kamarnya. Matanya memanas melihat Rio memeluk Angel bahkan Rio mengecup kening Angel dengan mesranya.
"Ri, aku kecewa sama kamu"
Sena menutup tirai itu lagi. Dengan kasar Sena menghapus air matanya.
"Aku akan membuktikan kalau aku lebih cantik dari kamu Angel"
...
Angel melambaikan tangannya kearah mobil Rio. Dari dalam rumah Sena keluar dengan tatapan penuh amarah.
"Awww"
Angel mengeluh saat Sena tiba-tiba datang langsung menatik rambutnya kebelakang. Sena dapat merasakan rambut Angel yang setengah basah.
"Ck! SUDAH AKU BILANG JANGAN DEKATI SUAMIKU! DASAR KEGA*ELAN!"
"Aku juga istrinya, kamu tahu itu! Aaaww"
Sena semakin kuat menjambak rambut Angel. Bi Inda melihat ulah Sena yang seperti itu. Bi Inda mau melerai mereka namun sebelum itu Sena memvideokan tindakan yang Sena lakukan untuk dikirim keRio. Bi Inda sendiri ingin Rio secepatnya menceraikan Sena.
Setelah memvideo bi Inda langsung menghampiri mereka berdua.
"Non Sena lepas"
"Bibi tidak usah ikut campur!"
"Non lihat itu!"
Bi Inda menunjuk cctv yang tidak jauh dari mereka. Rio bisa mengakses semua cctv dirumah ini kapanpun dan dimanapun. Sena berdecak lalu melepaskan jambakannya.
"Dasar murahan!"
Sena langsung melangkah pergi. Bi Inda langsung menarik Angel kedalam pelukannya.
"Non Sena ini benar-benar keterlaluan"
Bi Inda mengajak Angel masuk melalui pintu belakang. Para ART yang lain terkejut melihat kedatangan Angel yang sebagian besar tengah menyantap sarapan mereka.
"Non Angel"
"Kalian makan saja" suruh Angel saat para ART ini ingin memberi hormat. Angel baru pertama kalinya melihat tempat berkumpulnya para ART dan kamar mereka. Berhubung bi Inda sudah dianggap keluarga oleh Rio tempat tidur bi Inda dibedakan.
Bi Inda membawa Angel kekamarnya karena takut Sena akan kembali menyakiti Angel.
"Bi disini ada berapa yang kerja?"
"ART 20, tukang kebun 5, supir 1"
Angel terkejut mendengarnya tapi wajarlah rumah sebesar ini. Angel melihat bingkai foto diatas meja entah kenapa Angel jadi penasaran.
"Itu foto siapa?"
Bi Inda langsung mengambil bingkai itu lalu duduk disamping Angel.
"Ini foto keluarga den Rio"
Angel menyipitkan matanya. Dirinya seperti pernah melihat pemuda disamping Rio.
"Ini siapa?" sembari menunjuk pemuda yang ada disamping Rio.
"Ini den Arfan, adiknya Rio. Kenapa?"
"Cuma nanya"
Angel sekarang sudah tahu siapa orang yang menolongnya kemarin. Bi Inda pamit keAngel untuk melanjutkan pekerjaannya dan bi Inda melarang Angel keluar sebelum Sena pergi.
Angel masih teringat perkataan Sena. Dia menyebut dirinya murahan tapi yang dirinya lakukan itu terpaksa untuk menyelamatkan orang yang disayang. Ini juga sepenuhnya bukan salah Angel toh Senalah yang menawarkan perjanjian itu bahkan dia sendiri yang memutuskan pergi.
"Sampai kapan ini semua? aku sudah sangat capek"
...
10:00
Kantor / ruang kerja Rio
Rio terlihat frustasi bahkan di ruangan ini sudah penuh dengan remasan kertas yang berserakan dilantai. Rio melihat kearah pintu ternyata Riko yang memasuki ruangannya. Rio merasa agak kecewa ia pikir itu Angel.
Riko menggelengkan kepalanya melihat ruang kerja Rio yang berantakan bahkan Rio melewatkan rapat penting.
"Kamu ini kenapa? tidak biasanya kamu seperti ini"
"Rio bingung, Pa"
"Bingung kenapa?"
"Rio ingin berpisah dari Sena?"
Mendengar itu membuat Riko bingung harus sedih atau bahagia. Riko memang ingin Rio berpisah dengan Sena tapi dirinya seorang Ayah yang harus mengawal semua hal yang akan Rio ambil dan memastikan kepadanya apa keputusan yang diambil sudah benar atau belum. Riko tidak mau Rio nantinya menyesali keputusan yang ia ambil.
"Apa? bukannya kamu mencintai istrimu itu?"
"Dia cuma mencintai hartaku"
"Paikirkan dulu masak-masak jangan terburu-buru. Belum berpisah saja kamu sudah seperti ini"
"Papa tidak membantu deh"
"Mending kamu cari udara segar dulu atau berlibur. Tenangkan pikiranmu itu jangan dulu bekerja"
"Iya Pa"
Riko berjalan pergi tapi sebelum keluar ruangan Riko mengambil remasan kertas lalu dilemparnya kearah Rio yang tengah melamun.
"Papa"
Kesal Rio. Rio ingin membalas tapi Riko sudah pergi. Rio mengecek ponselnya ternuyata ada pesan video dari bi Inda.
"Tumben?"
Rio langsung membukanya dan betapa terkejutnya Rio melihat video itu. Video yang memperlihatkan jelas kekasaran Sena kepada Angel.
"Aku akan menceraikanmu secepatnya!"
Melihat video ini Rio semakin yakin untuk menceraikan Sena. Rio menghela napas lalu bangkit dari duduknya entah kenapa dirinyaa ingin keatap gedung.
Sesampainya diatap gedung Rio langsung melihat hamparan langit biru yang sangat indah dengan berhiasi langit biru.
Rio merentangkan kedua tanganya seakan membiarkan angin menerpa tubuhnya.
"HAAAAAAAAA"
Rio berteriak dengan kerasnya seakan ingin melepaskan beban yang ada dipundaknya.
Setelah puas berterilak Rio langsung menaiki tangga yang menuju landasan helikopter. Perusahan Jupiter grup adalah perusahaan besar warisan kakek Rio dan sekarang perusaha ini berada ditangan Riko, ayahnya Rio. Perusahaan ini juga mempunyai cabang diPrancis yang sama besarnya dijalankan oleh adik Riko yang menetap disana bersana Ayahnya.
Rio duduk sembari menatap duni yang fanah. Rio mendesah kasar melihat kearah bangunan yang terlihat sangat padat membuat dirinya merasa dunia ini penuh akan rutinitas yang padat tapi saat Rio melihat keatas langit biru yang membentang luas seakan penuh dengan kesempurnaan hidup, seakan terlihat tanpa beban. Rio ingin seperti langit itu yang tanpa beban.
"El lagi ngapain yah?"
Rio langsung mengambil ponsel dari sakunya lalu menghubing Angel lewat video call. Rio menunggu agak lama baru Angel menjawab panggilan vicallnya.
"Lagi ngapain?"
Angel hanya tersenyum sembari melihatkan camilan yang sedang ia makan. Angel menyipitkan matanya melihat langit biru dibelakang Rio.
"Kamu dimana?
"Diatap gedung"
"Apa? kamu nggak niat mau bunuh dirikan?"
Pertanyaan Angel membuat Rio mengerutkan dagunya. Angel ada-ada saja masa iya orang diatap gedung itu mau bunuh diri terlebih Rio sangat mencintai malaikat yang sedang menatapnya ini mana mungkin dirinya mengakhiri hidup.
"Sembarangan kalau ngomong, memangnya kamu mau jadi janda?"
"Ngga mau, tapi kenapa kamu disitu?
"Aku butuh udara segar, pikiranku kacau"
"Kenapa?"
"Kamu tanya kepadaku? bukannya kamu sudah tahu"
"Tahu? aku tidak mengerti"
"Sena tadi jambak kamu?"
"Umm Ri mending aku tinggal dirumah yang dulu saja. Kehadiranku disini membuat Sena tidak nyaman"
"Tapi akunya yang tidak tenang, aku ingin semua dalam pengawasanku lagian disana kan ada bi Inda. Eh.. kamu dikamar bi Inda?"
Rio baru menyadari akan hal ini. Rio paham sekali seperti apa kamar bi Inda. Si cantik ini mengangguk namun setelah itu pandangannya teralihkan dan tampilan videonya agak goyang sepeetinya Angel tengah meraih sesuatu.
"Kamu lagi apa? hey aku dicuekin nih ceritanya?"
"Ini foto siapa?"
"Eh?"
Rio terkejut melihat foto yang Angel tunjukan. Rio tahu betul siapa anak laki-laki yang tengah memegang mainan mobil-mobilan dengan senyum dibibirnya.
"Kamu dapat dari mana?"
"Dari bi Inda. Kamu lucu banget sih waktu kecilnya"
"Namanya juga anak-anak. Sayang nanti bawain aku makan siang yah"
"Mau dimasakin apa? terserah bi Inda saja"
"Oh ya sudah. Ada lagi?"
"Tidak ada"
"Kalau begitu, sudah dulu yah?"
"Kamu mau kemana sih? aku masih mau berbicara dengan mu"
"Aku mau terusin main game lagi. Jangan ganggu, bye"
"Yah?"
Angel benar-benar mengakhiri percakapan ini. Rio tidak marah terlebih Angel pasti sangat bosan terlebih Sena hari ini tidak keluar rumah pasti Angel takut berkeliaran diarea rumah karena Sena bisa berbuat apa saja tanpa berpikir dulu apa akibatnya.
Rio ingin memperkenalkan Angel kepada keluarganya dan juga keinginan Rio untuk mengatakan yang sebenarnya kepada keluarga Angel bahwa dirinya telah menikahi putrinya namun Rio belum menemukan waktu yang tepat untuk keduanya.
...
11:30
Arfan tengan menelfon sembari menunggu lif turun. Saat pintu lif terbuka seorang gadis keluar dengan tatapan mata yang tertuju pada ponsel hingga gadis itu menabrak tubuhnya.
"Eh maaf"
Gadis itu langsung mendongak menatap Arfan dengan mata bulat yang mengkilat. Arfan terdiam entah kenapa dia seperti pernah melihat gadis ini. Arfan langsung mematikan sambungan telefonnya.
"Kamu yang kemarinkan? kamu yang hampir jatuh itu?"
Gadis didepannya ini tersenyum dengan sangat manisnya membuat Arfan terpesona.
"Maaf"
"Jangan diulangi lagi dan jangan main game sambil berjalan itu bisa mencelakanmu atau pun orang lain"
Gadis didepannya ini mengerutkan dagunya menatap Arfan dengan tatapan tidak suka. Gadis ini langsung pergi tanpa berkata apapun.
"Dinasehati malah cemberut dasar gadis aneh apa lucu yah? pipinya kek bakpao"
Arfan tersenyum sembari mengelengkan kepalanya dan ini pertama kalinya Arfan merasa tertarik dengan seorang gadis apa Arfan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Arfan mesuk kedalam lif dirinya menekan tombol lantai 11. Dirinya ingin menemui Rio.
Arfan berjalan menuju ruang kerja Rio. Sebelum masuk dia menanyakan ada atau tidaknya Rio didalam.
"Masuk saja"
"Oke"
Arfan langsung membuka pintu dan mendapati kakanya tengah menyantap makanan.
"Wih enaknih?"
"Katanya nggak masuk?"
Arfan menutup pintu lalu menghampiri Rio.
"Bosen dirumah, itu kamu bawa dari rumah?"
"Diantar tadi, kamu mau nih"
"Aku udah makan tadi"
Arfan duduk disofa didepan Rio namun sedetik itu Arfan membaringkan tubuhnya dan mulai bermain permainan diponselnya. Rio yang melihat itu hanya menatap datar Arfan.
"Ck, kamu ini kalau mau bermalas- malasan jangan disini!"
Arfan tidak menghiraukan ocehan Rio. Dirinya masih asik bermain game. Rio hanya bisa menghelan napas.
"Kak tadi aku ketemu gadis didepan lif. Dia manis banget"
Yang ditanya apa jawabannya apa. Rio mengeryitkan keningnya tumben sekali Arfan membicarakan soal perempuan.
"Terus?"
"Kemarin juga aku ketemu dia. Aku nolongin dia pas dia mau jatuh kepleset ah iya aku baru ingat dia juga gampang gambek"
"Baru bertemu tapi sepertinya kamu sudah mengenal dia?"
"Oh itu cuma tebakanku saja, pas dia jalan sambil main game terus nabrak aku, aku nasehati dia tapi malah kek kesal gitu"
Entah kenapa Rio jadi teringat Angel. Saat mengantar makanan untuknya Angel sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya bahkan Angel tidak menatap wajahnya sedikit pun. Angel meletakan paper bag lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Dia pakek baju apa?"
Arfan menoleh kearah Rio, menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Arfan menduga kalau Rio mengenal gadis yang tengah ia ceritakan.
"Umm keknya sih biru toska terus pake jepit rambut kupu-kupu"
Deg. Rio menelan ludahnya paksa. Dugaannya benar yang diceritakan Arfan itu Angel istrinya sendiri.
"Kamu suka sama dia?"
"Mungkin. Kalau bertemu lagi aku ingin berkenalan dengannya.. eh kak mau kemana?"
Arfan heran melihat tingkah Kakaknya ini. Dia pergi tanpa berkata apa-apa.
"Kenapa tuh orang? tauah"
Rio menuju ke ruang istirahatnya. Rio ingin menelefon Angel untuk memastikan semua. Rio sendiri berharap bukan Angel yang Arfan maksud.
"Ada apa lagi? ganggu aja deh!"
Rio belum berucap sepatah katapun Angel sudah memarahi Rio.
"Jangan main game terus!"
"Aku bosan sayang. Ada apa memangnya?"
"Kamu tadi nabrak orang didepan lif?"
"Iya. Orang itu kek marah padahal aku sudah minta maaf.. Eh tapi kenapa kamu tahu?"
"Mulai besok kamu jangan datang kekantorku lagi"
"Kenapa?"
"Sudah nurut saja, bye"
Rio langsung menutup telefonnya. Perasaan Rio kini campur aduk. Satu sisi dia senang Arfan mulai membuka hatinya satu sisi lagi dia tidak mau adiknya mencintai perempuan yang telah ia nikahi.
"Takdir itu memang aneh?" keluh Rio. Rio kembali menghampiri Arfan yang masih asik rebahan.
...
Rumah
Sena tengah mencari Angel di sudut-sudut rumah. Dia menanyakan kepada penghuni rumah yang lain dan mereka semua kompak menjawab kalau Angel ada dikamar padahal Angel tengah berada dikantor Rio, mungkin mereka tengah menghabiskan waktu bersama.
Sena sebenarnya ingin masuk kedalam kamar Angel namun pintunya dikunci dan itu pula yang membuat Sena yakin Angel didalam kamar.
"Bi, Angel mana?"
"Di kamar"
"Ck, berasa ratu apa tuh orang"
"Mungkin dia takut lihat non, takut dijambak lagi. Non tidak pergi bukannya hari ini jadwal non ke dokter wajahnyah?"
"Hampir saja lupa"
Sena langsung bergegas pergi. Hampir saja dia lupa akan hal ini. Bi Inda menggelengkan kepalanya.
"Tubuh diperindah buat siapa kalau suami dicuekin. Apa non Sena punya selingkuhan? kalau iya pasti tuh orang sudah ditendang secara den Rio kan cinta banget sama non Sena pasti den Rio sewa bodyguard buat jaga non Sena dari jauh"
Bi Inda menalihkan pandangannya dan melihat Angel yang memasuki halaman. Mobil yang ditumpangi Angel tidak sampai rumah karena ada Sena.
Bi Inda langsung menghampiri Angel lalu menarik pergelangan tangan Angel memasuki rumah lewat pintu belakang agar tidak berpapasan dengan Sena dan benar saja Sena keluar rumah dengan menbawa tas kesayangannya.
"Bi kenapa?"
"Non Sena mau pergi. Dari tadi dia nyariin kamu terus.
...
Rio memasuki rumah dirinya langsung tersenyum melihat kesayangannya tengah berdiri membelakaginya sepertinya tengah melihat foto yang ada di lemari hias. Rio menghampiri Angel dengan langkah pelan agar Angel tidak menyadari kedatangannya.
"Eh"
"Sayangku"
Rio langsung memeluk Angel dari belakang. Angel terkejut dengan Rio ini dan tumben sekali Rio jam segini pulang.
"Kamu kok sudah pulang?"
"Aku mau nemenin kamu main. Main PS yuk?"
"Ayo. Kamu pasti kalah"
"Kalau aku yang menang umm kamu harus siap"
Rio tersenyum mistrius sembari melihat kearah bibir Angel.
"Iihh apaan sih"
....
Tak terasa sudah hampir dua bulan Angel tinggal disini dan Angel sudah sangat terbiasa mendegar suara Sena yang seperti kaleng rombeng. Setiap hari ada saja yang diributkan dengan Rio. Seperti malam ini dari tadi penuh dengan terikkan dari Sena mau pun Rio.
Angel yang dari tadi mendengarkan sedikit memahami apa akar masalahnya. Rio memarahi Sena karena tagihan kartu kredit Sena yang bengkak karena Sena belanja barang-barang mahal yang sebenarnya tidak dibutuhkan Sena.
"Terserah kamu!" teriak Rio dari atas. Sena melangkah pergi keluar rumah dengan air mata yang berlinang.
"Ada apa?"
Rio langsung turun menghampiri Angel. Angel langsung memeluk Rio yang kini berada dihadapannya.
"Jangan marah-marah terus itu tidak baik untuk kesehatanmu" ucap Angel dengan halusnya.
"Aku juga tidak ingin marah tapi Sena selalu seperti itu. Malam ini aku tidur dengan mu yah?"
Angel melepas pelukannya lalu menggeleng.
"Kenapa?"
"Haaaahhh aku mau tidur sendiri"
"Kok gitu?"
"Salah siapa nakal"
"Kali ini ngga kok, yah?"
Rio melingkarkan tangannya dipinggang Angel lalu membuat tubuh Angel mendekat kearahnya.
"Ri, aku capek habis bantu bi Inda belanja bulanan"
"Ck. Kamu ini, aku ingin"
"Iya sudah"
Senyum kemenangan terukir jelas dibibir Rio membuat Angel mendengus kesal.
......
09:30
Angel yang baru bangun dari tidurnya langsung menunju dapur. Angel langsung duduk di kursi didepan meja tempat memotong sayur.
Bi Inda menatap heran Angel yang dari kemarin terlihat lesu dan tidak bersemangat bahkan suda beberapa hari ini Angel tidak kekantor Rio atau menghabiskan waktu bersama Rio bukan bi Inda saja yang heran Rio juga sama tapi berbeda dengan Sena yang terlihat sangat senang.
"Non El mau makan apa?"
"Engga laper bi" tolak Angel namun setelah itu perut Angel tersa tidak enak. Bi Inda terkejut saat Angel mendadak mual-mual.
"Non?"
Angel berlari kearah tempat cucian piring karena sudah tidak kuat lagi menahan ingin munt*h. Bi Inda langsung memijit leher Angel.
"Non masuk angin apa?"
Angel langsung membasuh mulutnya. Angel merasa kurang enak badan, tubuhnya terasa lemas.
"Ngga tahu bi dari kemarin lemes banget"
"Ya ampun non kenapa ngga bilang dari kemarin, bibi antar kekamar yah"
Angel mengangguk pelan, bi Inda langsung memapah Angel kembali kekamar. Dengan pelan bi Inda membaringkan Angel dan memakaikan Angel selimut.
"Non istirahat yah"
Angel mulai memejamkan matanya. Bi Inda keluar kamar untuk menelfon Rio agar cepat pulang, bi Inda takut Angel kenapa napa.
Bi Inda mengambil ponselnya yang tertinggal dikamar namun saat perjalanan kekamarnya langkahnya terganggu karena ART yang lain kepo tentang kondisi Angel dan kebetulan saat Angel mual-mual ada beberapa yang tengah bekerja didekat dapur.
"Non Angel hamil?"
"Belum tahu, semoga saja iya biar rumah ini ramai. Kalian lanjut lagi kerjanya"
"Iya"
...
Kantor
Mendengar kabar dari bi Inda kalau Angel tengah sakit membuat Rio tidak tenang. Dirinya ingin secepatnya pulang tapi dirinya tidak bisa pekerjaannya ini harus selesai sebelum makan siang. Rio tidak bisa menyuruh Arfan untuk menggantikannya karena ini sudah menjadi tanggung jawabnya.
"Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin"
2 jam berlalu akhirnya semua pekerjaanya selesai. Rio buru-buru membereskan map yang yang berantakan diaras meja.
"Aku harus cepat pulang"
Raut wajah kekhawatiran kini terlihat jelas diwajah Rio. Siapa yang tidak akan cemas mendengar istri tercintanya sakit.
...
Rumah/ kamar Angel
Bi Inda membawakan makanan untuk Angel. Bi Inda tersenyum kalau memang dugaanya benar. Angel meringkuk dengan selimut ditubuhnya hanya menyisakan bagian kepala yang tida tertutupi sempurna.
"Non makan dulu yah?"
"Belum laper. Taruh saja dulu dimeja"
Bi Inda menurut. Setelah menaruh baki bi Inda menghampiri Angel. Dielusnya puncak kepala Angel.
"Non janga seperti ini, biasanya non ceria tapi kenapa jadi seperti ini?"
"Bawaannya lemes gitu bi. ngga tau kenapa"
"Apa non Angel sedang hamil?"
Angel menyingkap selimut yang menutupi wajahnya. Angel mengingat-ingat kapan terakhir dirinya menstruarsi.
"Bi"
"Apa?"
Angel tersenyum dengan sangat manisnya. Bi Inda pun ikut tersenyum.
"Bibi ambilin alat tesnya"
"Iya"
Angel mendudukan tubuhnya lalu megelus perutnya yang rata. Kalau dugaanya benar didalam perutnya ini ada simungil yang tengah berkembang.
"Semoga kamu sehat yah sayang. Mama tidak mau kehilangan lagi"
Bi Inda kembali dengan membawa alat tes kehamilan.
"Ini non"
"Kok banyak banget sih bi?"
Angel heran kenapa bi Inda membawa sampai tiga buah.
"Buat meyakinkan non"
"Terserah bibi saja lah"
...
Rio langsung turun dari mobil memasuki rumah dengan langkah cepat.
"Bi" panggil Rio saat bi Inda keluar dari kamar Angel.
"Tuh gara-gara den Rio, non Agel jadi sakit"
"Loh kok aku sih?"
"Sanah masuk tanyakan sendiri sama orangnya"
Rio langsung masuk kedalam kamar Angel. Kedua matanya langsung mendapati Angel yang berbaring.
Rio mendekati Angel. Dirinya duduk di tepi tempat tidur dan dari jarak sedekat ini Rio dapat melihar wajah pucat Angel.
"Kamu kenapa?" ucap Rio sembari mengelus pipi Angel. Angel memejamkan matanya merasakan setiap sentuhan yang Rio berikan.
"Jangan seperti ini biar aku saja yang sakit"
Angel membuka matanya lalu tersenyum kearah Rio. Senyuman yang sangat manis membuat Rio merasa sedikit tenang.
"Aku tidak apa-apa. Papa"
"Aaa..apa?"
"Tuh"
Angel menujuk kearah meja kecil denga dagunya. Rio mengambil alat tes kehamilan yang terlihat ada dua garis merahnya dan itu berarti kebahagiaannya bertambah.
"El.. ini?"
Angel mendudukan tubuhnya. Nampak Rio masih tidak percaya dengan yang dilihatnya ini.
"Anak kita kembali"
Rio langsung menarik Angel kedalam pelukannya. Angel mendengar isakan dari Rio. Angel tahu Rio sangat terharu akhirnya kebahagiaan ini datang kembali kepadanya.
"Jangan menangis. Mau jadi Papa jangan cengeng"
"Aku akan jagain kamu! aku tidak aka meninggalkanmu walau sedetik saja"
Rio melepas pelukannya lalu mencium perut Angel dengan gemasnya.
"Sayang kamu yang sehat yah diperut mama. Papa mau kamu lahir didunia ini dengan sehat, papa ingin bermain denganmu"
"Iya Pa"
"Kamu makan yah?"
"Ngga laper tapi aku mau susu"
"Mau beli susunya sekarang?"
Angel mengerutkan dagunya lalu menggeleng.
"Terus?"
"Kamu sendiri yang beli aku mau tidur"
Angel kembali membadingka tubuhnya lalu memejamkan matanya. Rio hanya tersenyum dan ini awal dari kerepotanya pasti setelah ini Angel akan minta yang aneh-aneh.
"Tidur yang nyenyak sayang"
Rio mengecup kening Angel lalu pergi keluar kamar.
..
Bi Inda dan ART yang lain bingung kenapa mereka dikumpulkan disini atas perintah Rio.
"Sudah semua?"
"Sudah den. Memangnya ada apa?"
"Kalian semua tahu non Angel hamil?"
"Iya den"
"Saya mau kalian tidak membicarakannya saat ada Sena dan saya meminta kalian semua menjaga Angel dengan baik saat saya tidak berada dirumah. Kalau Sena macam-macam dengan Angel kaian bilang ke saya dan jangan sampai Sena mencelakakan Angel"
"Baik den kami mengerti"
"Ya suda kalian boleh pergi"
Semuanya langsung pergi kecuali bi Inda. Bi Inda menghampiri Rio yang terlihat sangat cemas.
"Non Angel pasti baik-baik saja tidak usah cemas"
"Tapi dulu dia tidak seperti ini, bi. Angel masih bisa menyiapkan kebutuhanku tapi sekarang dia cuma tiduran dan lemah seperti itu"
"Den setiap kehamilan itu pasti ada perbedaanya, sebaiknya non dibawa kedokter"
"Maunya sih gitu tapi sepertinya dia tidak mau"
"Kenapa?"
"Dia tidur lagi"
"Tapi non Angel belum makan dari semalam tadi dibawain juga ngga mau"
"Apa? dari semalam?"
"Iya tadi dibawain juga tidakmau"
"Begini saja, bi Inda tolong beli lauk di warung nasi bu Jihan apa saja terserah bibi"
"Iya den"
Rio sangat mencemaskan kondisi Angel sekarang terlebih dengan adanya janin dirahim Angel.
...
Kamar
Angel terus saja menggelengkan kepalanya saat Rio menyodorkan nasi kemulutnya.
"Makan dong sayang. Sedikit saja yah?"
"Ngga laper"
"Atau kamu mau cemilan?"
"Ngga mau"
"Terus maunya apa? ini lauk buatan ibu kamu loh"
"Maunya ibu kamu"
"Kamu mau masakan ibu aku?"
Angel mengangguk pelan walau Angel ragu Rio akan mengabulkannya.
"Ya sudah tapi janji kamu harus makan"
"Iya"
Rio langsung menghubungi Amanda untuk membuatkannya masakan yang enak untuk dirinya dan Rio juga menyuruh diantarkan kerumah menggunakan motor oleh supir.
"Sudah sebentar lagi sampai kok"
Angel merasa sangat lapar tapi makanannya belum sampai juga. Si kecil dirahimnya pasti juga sudah tidak sabar merasakan masakan buatan neneknya.
"Laper"
"Sabar yah"
Bi Inda datang dengan membawa makanan dari rumah Amanda.
"Den ini dari nyonya"
"Makasih bi"
Rio langsung menyuapi Angel. Rio lega akhirnya malaikatnya mau makan juga. Angel sangat lahap bahkan dirinya hanya mengunyah sesaat lalu menelannya.
"Segitu lapernya kamu? anak Papa mau masakan oma yah?"
"Aaaa"
Angel hanya ingin merasakan masakan ibunya Rio. Angel ingin bertemu dengannya dan mengenal keluarga Rio.
"Sudah habis apa kamu mau lagi?"
"Ngga mau sudah kenyang. Ri, aku boleh nanya sesuatu kekamu?"
"Apa? katakan saja"
"Apa kamu mencintaiku?"
"Aku sangat mencintaimu?"
"Lalu kapan kamu mengenalkanku kepada orang tuamu dan aku juga butuh kepastian. Aku capek jadi istrimu yang cuma diakui dirumah ini saja. Tolong jawab"
"..."
...****....****....