
....
"Rio kamu ini!"
"Eh?"
Entah kenapa Rio jadi keringat dingin mendengar nada kesal dari Jihan. Angel menatap kearah Rio, Angel heran bisanya masakan Rio itu enak tapi kenapa Jihan tidak suka.
Erik hanya tersenyum tipis, dirinya masih asik menyantap nasi goreng buatan Rio. Erik tahu Jihan sekarang tengah mengerjai Rio.
Melihat ekspresi wajah Rio yang seperti itu membuat Jihan ingin sekali tertawa, baru kali ini dirinya melihat orang yang langsung takut mendengar suara kesalnya.
"Bu? tidak enak yah?" tanya Rio ragu. Rio benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Rio hanya ingin membuat ibu mertuanya ini terkesan.
"Jangan hiraukan nenek itu, masakan kamu enak kok." ucap Erik dengan santainya. Jihan nampak tidak suka diejek Erik seperti ini.
"Kamu juga tidak sadar, kamu juga sudah kakek-kakek." Jihan menatap Erik dengan tatapan kekesalan, namun Erik tidak menanggapi ocehan Jihan. Rio merasa bingung dengan situasi ini. Angel menghela nafasnya saat mengetahui ini hanya kejahilan Ibunya saja.
"E... Bu?"
"Masakan kamu enak kok, ayo makan." ajak Jihan dengan lembutnya membuat Rio bernapas lega. Erik menatap Jihan dengan tatapan datar, Erik merasa Jihan ingin lebih mengenal Rio. Mungkin Jihan ingin memastikan Rio itu baik untuk putrinya dan juga cucunya.
"Ibu bikin jantungan saja." keluh Rio langsung duduk di kursi. Jihan tersenyum setelah mendengar ucapan Rio barusan.
"Maaf, ibu hanya bercanda saja,apa kamu marah?"
"Tidak kok, hanya saja aku takut mengecewakanmu."
"Bagus lah, Ri, itu kelakuan ibu mertuamu. Kamu harus terbiasa." ucap Erik yang menyela ucapan Jihan. Jihan yang ingin berbicara hanya bisa cemberut.
"Ayah, ibu sudahlah, ayo makan!" kesal Angel yang dari tadi hanya menjadi penonton.
...
Rumah Deren Sifa 08:25
Sena merasa tidurnya tidak nyenyak semalam. Perasaannya sangat kacau, dirinya tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini.
Sena ingin sekali meluapkan keluh kesahnya kepada Orang yang sangat ia sayangi, yaitu Sifa. Kedatangan Sena ke rumah ini tidak bertemu Deren atau pun Sifa. Saat kedatangan Sena hanya ada beberapa pelayan saja.
"Apa yang harus aku lakukan? aku... aku tidak ingin berpisah dari Rio. Dia milikku dan akan seterusnya begitu, aku ingin keluarga kecilku."
Pyyyarrrr...
Sena mendengar sesuatu yang pecah dari arah luar kamarnya. Sena yang penasaran langsung menuju sumber suara. Sena yang mendengar suara pertengkaran mempercepat langkahnya menuju tangga namun langkah kaki terhenti saat melihat kedua orang tuanya bertengkar.
Sena hanya melihat dari atas, terdiam sembari terus mengawasi. Sena dapat melihat pecahan botol kaca di lantai dekat dengan sofa yang di duduki Sifa juga Deren yang berdiri sembari melihatkan kemurkaannya.
Didalam hati Sena kini tersirat pilu, alih-alih ingin membicarakan masalah rumah tangga yang ia hadapi ini kepada orang tuanya yang mungkin bisa membantunya menyelesaikan masalah yang ada namun ini yang ia lihat sekarang. Pertengkaran dan juga amarah.
Sena sungguh sangat muak harus melihat pertengkaran dan pertengkaran lagi. Terbesit dipikiran Sena bahwa Tuhan tidak menyayanginya dan Tuhan hanya memberikan nyawa ini hanya untuk hukuman yang entah kapan berakhirnya.
"Kenapa?"
Sena terus mengawasi tanpa keinginan untuk melerai mereka, Sena ingin tahu apa yang sedang terjadi diantara kedua orang tuanya.
...
Deren sangat kesal kepada Sifa yang yang baru pulang, bukan kepulangan Sifa namun hal yang Sifa lakukan di luar sana. Deren tahu betul diluar sana Sifa menghamburkan uang yang susah payah Sena kumpulkan untuk berjudi dan hal-hal tidak penting lainnya.
"Sudahlah, uang Sena juga masih banyak kok."
"Lalu? kamu mau menghabiskannya? itu semua milik Sena dan Kamu bukan siapa-siapanya!" ucapan Deren dengan penuh kekesalan.
Sifa langsung berdiri dari duduknya. Dia tidak terima dengan ucapan Deren barusan. Selama ini Sifa membesarkan Sena dengan keringat dan juga tenaga yang tidak pernah ia keluhkan kepada Deren. Sifa menyayangi Sena seperti anak kandungnya sendiri namun saat kebahagiaan itu dirasakan oleh Sifa, Deren terus saja mengingat kan bahwa Dirinya hanya ibu sambung dan juga hanya sebatas istri siri yang masih tidak diakui oleh keluarga Deren.
Sifa sangat-sangat sakit hatinya saat mengingat kata-kata manis yang manisnya mengalahkan madu diucapkan dari bibir Deren hingga cinta itu melahirkan seorang anak yang kini telah kembali ke sang pencipta. Masa indah itu kini telah menjadi kenangan kelabu, kata-kata manis itu kini berubah jadi perkataan- perkataan pedas dan juga menohok.
Dulu cinta namun sekarang cinta itu telah berubah jadi benci. Sifa yang dulu baik hati dan juga ramah kini telah menjadi seorang yang pendendam dan juga egois. Sifa mengasuh Sena dengan baik namun sedikit demi sedikit Sifa memupuk kan sifat egois dan keras kepala kepada Sena hingga kini.
Sifa ingin Sena merasakan apa yang dirasanya dulu dan rasa sakit hatinya ini. Sifa tidak perduli dengan apa yang Sena alami dan bagaimana kehidupan rumah tangganya karena Sifa ingin Sena meneruskan apa yang dulu belum ia capai, yaitu jadi model Internasional. Model yang terkenal di seluruh dunia.
"Bukan siapa-siapa? KAMU SEHARUSNYA BERTERIMAKASIH PADAKU! DUA PULUH TAHUN LEBIH AKU MERAWAT ANAKMU! KALAU AKU MAU, AKU SUDAH MELENYAPKAN ANAKMU ITU! KARENA DIA, KAMU MENINGGALKAN KU! KARENA DIA, AKU KEHILANGAN PUTRAKU! IYA. AKU BUKAN ORANG YANG MELAHIRKAN DIA TAPI SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU ATAU PUN ANAKMU BAHAGIA. CAMKAN ITU!" Sifa langsung beranjak pergi meninggalkan rumah dengan amarah yang masih memuncak. Deren tidak perduli, dia malah berteriak mengusir Sifa.
"PERGILAH! TIDAK USAH KEMBALI!"
Air mata Sena mengalir dengan derasnya dan dada ini terasa sangat sesak. Hal yang tidak pernah ia duga kini terungkap di depannya, wanita yang selama ini dirinya panggil dengan sebutan MAMA itu bukanlah wanita yang melahirkannya.
"Dia bukan Mamaku?"
Suara serak Sena membuat Deren terkejut lalu menoleh kearah tangga. Deren terkejut melihat putrinya yang melihatnya dengan tatapan yang meminta penjelasan.
"Sayang kamu? kamu kapan datang?" Deren tidak biasa menyembunyikan keterkejutannya terlebih sepertinya Sena mendengarkan semua pertengkaran barusan.
"Pa? Dia bukan wanita yang melahirkan ku? Sena butuh penjelasan." pinta Sena yang mulai menuruni tangga.
Deren langsung berjalan mendekati Sena dengan perasaan bersalah. Deren tidak bisa melihat putrinya menangis seperti ini.
"Sena, kamu jangan menangis." Deren langsung menghapus air mata Sena yang kini telah berdiri didepannya. Walau Deren berusaha menyeka air mata yang mengalir dari mata putrinya namun tetap saja air mata itu tetap mengalir dengan derasnya.
"Pa, jawab."
"Kamu belum siap, nanti kalau waktunya sudah tiba, Papa akan beritahu semuanya."
Deren masih mengganggap Sena layaknya anak kecil dan dirinya merasa tidak siap untuk mengatakan ini semua atau dirinya belum siap menghadapi amarah Sena dan juga kebencian yang mungkin akan ia dapatkan dari Sena. Sudah lebih dari 20 tahun kebenaran ini disembunyikan dan selama itu pula Deren dan Sifa menunjukan sikap normal hubungan suami istri yang harmonis walau ada beberapa saat pertengkaran dan perdebatan diantara mereka. Mereka berdua hanya ingin Sena mendapatkan kasih sayang yang selayaknya didapatkan seorang anak.
Sena melihatkan tatapan penuh amarah sekaligus kecewa dengan sikap Deren. Sena sangat kecewa pada Deren, karena dia menyembunyikan kebenaran yang sangat berarti untuk dirinya. Kebenaran ini jujur membuat dirinya terguncang bahkan ini bak mimpi buruk dan Sena tidak bisa menerimanya namun pertengkaran tadi membuatnya merasa kalau ini kebenarannya.
"Kapan? hari ini atau besok juga sama saja kan? kebenaranya tetap sama, tidak ada yang berubah. Tolong katakan yang sebenarnya, atau Papa ingin aku berlutut dihadapan mu dan memohon? aku berhak tahu siapa wanita yang melahirkan ku. Tolong jawab!?"
"Baiklah." Deren menghela napas panjang. Hari ini ternyata tiba, hari dimana kebenaran terungkap.
"Dia memang bukan wanita yang melahirkan mu."
DEG. Sena kembali merasa sesak di dadanya. Sekarang dia tahu kenapa Deren tidak sedekat itu dengan Sifa dan tidak ada kehangatan di mata keduanya saat saling menatap.
"Selama ini Papa menyembunyikan kebenaran ini? Pa! kenapa? kalau alasan nya karena aku tidak siap menerima semua ini itu salah, aku sangat-sangat siap mendengar ini,bahkan dari dulu aku selalu bertanya pada Tuhan, kenapa dia memberiku ibu seperti dia? Papa tahu apa yang dia perbuat padaku?"
Deren menggeleng, kini air mata Deren telah membasahi pipinya. Deren tidak tahu Sena tertekan karena Sifa.
"Dia membuatku menjadi manusia tidak punya hati, manusia egois dan keras kepala. Aku selalu menurutinya karena aku tidak ingin jadi anak durhaka karena aku berhutang nyawa padanya. Aku kira dia yang melahirkan ku, HIDUP KU HANCUR SEKARANG, PA! DIA MENGGAMBIL KEBAHAGIAN KU!! AKU BENCI DIA!!!" teriak Sena dengan penuh emosi.
"Sena?"
"Pa"
Seketika itu lutut Sena terasa lemas, Sena terduduk dilantai. Deren pun langsung berlutut dan memeluk putri kesayangannya dengan erat dan bersamaan dengan itu, tangisan Sena terdengar dengan kerasnya. Meluapkan rasa sesak di dadanya. Sena menyesal selalu menuruti kemauan wanita yang dia anggap ibunya. Sifa selalu membuat Sena menuruti semua kemauannya dan bodohnya Sena selalu menuruti tanpa berpikir dua kali walau pun saat itu Deren selalu menasehatinya untuk berpikir terlebih dahulu sebelum memutuskan sesuatu.
"Sayang, maafin Papa. Papa tidak tahu kamu jadi seperti ini. Maafin Papa, harusnya Papa katakan dari dulu tapi tidak Papa lakukan. Papa takut kamu akan membenci Papa."
Deren semakin menarik Sena kedalam dekapannya. Tangisan Sena sekarang mulai mereda. Dekapan dari Deren menenangkan Sena. Deren merasa dirinya gagal menjadi orang tua yang baik untuk Sena.
"Sayang, jangan sedih seperti ini. Nanti mama kamu sedih di Surga."
"Mama sudah meninggal, Pa?" Tanya Sena yang entah kenapa merasa lega. Mungkin ini lebih baik dari pada mengetahui kebenaran bahwa wanita yang melahirkan dirinya masih hidup dan tidak sekalipun menemui dirinya.
"Iya, setelah melahirkan mu."
"Apa Papa membenciku?"
"Kamu bilang apa?"
"Karena aku, Mama meninggal."
"Tidak, bahkan Mama mu sangat bahagia melahirkan putri secantik dirimu, kamu mirip sekali dengan mamamu." ucapan Deren dengan lembutnya. Mendengar itu lekuk senyum tipis terukir manis di bibir Sena.
"Benarkah? lalu Mama Sifa? apa setalah Mama meninggal, Papa menikah lagi?"
Deren meneguk paksa ludahnya, kerongkongannya terasa kering dan lidahnya terasa kaku. Deren tidak bisa menceritakan apa yang telah terjadi, masa lalu yang kelam dan ketidak mampuannya menghadapi masalah yang menyangkut kehidupan dan masa depan seseorang dan orang itu adalah Sifa dan putra yang kini telah berpulang ke peluk kan sang pencipta.
"Kenapa Papa diam? Papa masih menyembunyikan sesuatu dariku? apa ini menyangkut soal diriku dan juga Mama? kenapa Mama Sifa membenciku bahkan dia seperti tidak rela melihatku bahagia. Katakan saja semuanya, aku tidak ingin mengetahui kebenaran yang hanya sebagian. Hatiku sudah terlanjur sakit dan aku tidak ingin merasakan sakit ini lagi di kemudian hari."
Rangkaian kata-kata yang terucap dari mulut Sena membuat Deren semakin merasa bersalah dan juga ketidak mampuannya menghadapi masa lalu itu membuat kehidupan putri kecilnya ini berantakan.
"Apa kamu akan membenci Papa jika Papa katakan semua?" Deren masih takut akan amarah dan kebencian Sena. Bagi Deren, Sena sangatlah penting untuk Dirinya. Sena bagikan nyawa dan juga dunia untuk Deren, tanpa Sena hidup Deren tidak lah sempurna. Deren sudah kehilangan istri yang sangat ia cintai bahkan Deren tidak sanggup melepas kepergian istri tercintanya hingga Deren memberi nama depan malaikat kecilnya dengan nama yang sama dengan mendiang istrinya yaitu Sena.
Deren ingin terus mengenang mendiang istrinya di dalam diri Sena dan juga ingin Sena selalu berada dekat dengan ibunya.
"Pa, awalnya aku membencimu, aku marah padamu karena selama ini Papa selalu kasar sama Mama . Selama ini aku melihat semua amarah dan pertengkaran kalian. Aku benci Papa yang selalu membuat mama tertekan namun sekarang aku tahu Papa hanya ingin melindungi ku. Kalau hari ini aku tidak datang ke rumah ini mungkin sampai kapan pun aku akan membencimu. Jadi sekarang Papa harus menebus semuanya, jangan memaksaku untuk membencimu. Aku putrimu, di nadiku ada darahmu, apa kau tidak bisa merasakan kepedihan ku?" ucap Sena dengan pilunya. Sena tidak bisa menerima kenyataan ini dengan mudah, semua ini sangat berat baginya terlebih orang yang ia panggil MAMA tega merebut kebahagiaannya, bahkan dia tega menyuruh untuk menggugurkan cucunya sendiri.
"Maafkan Papamu ini, aku tidak berharap kamu memaafkan ku. Kesalahan yang aku buat memanglah tidak pantas dimaafkan. Tapi kamu harus tahu kalau Papa hanya ingin kamu menerima kasih sayang seorang ibu."
"Tapi kenapa harus dia? apa di dunia ini hanya ada dirinya? Pa, dia jahat. Dia menggambil kebahagian ku. Aku benci dia Pa! tolong katakan yang sebenarnya."
"Baiklah, sebelum Papa menikah dengan Mamamu, Papa sudah menikah dengan Sifa."
"Maksud Papa? Mama istri kedua Papa?" Sena terkejut mendengar perkataan Deren barusan. Istri kedua? apa ini karma? Sena sekarang tengah dalam keadaan terpuruk karena istri kedua Rio yaitu Angel dan dirinya sekarang harus menerima kenyataan bahwa dirinya itu lahir dari rahim istri kedua dan sekarang dia tahu kenapa Sifa tidak ingin melihatnya bahagia. Sena tahu bagaimana sakitnya dan hancurnya hati ini saat membagi suami dengan wanita lain.
"Iya, dulu Papa bertemu dengan Sifa yang berprofesi sebagai model. Papa menikahinya diam-diam sah secara agama, Papa menyembunyikan pernikahan pertama Papa Lima tahun dan Papa mempunyai seorang putra darinya, selama itu Sifa sangat percaya pada Papa walau dia tahu pernikahan yang di jalani ini tanpa restu dari kakek nenek mu "
"Kenapa Papa sejahat itu?" kata-kata itu terucap begitu saja. Sena merasa dadanya sesak terlebih pernikahan itu telah disembunyikan selama lima tahu dan seorang anak lahir dari pernikahan itu.Lima tahun itu waktu yang lama dan betapa besarnya cinta Sifa yang mau dinikahi secara agama dan tanpa restu dari keluarga Deren.
"Iya Papa memang jahat, Papa bukan manusia."
"Ceritakan lagi!"
"Setelah lima tahun, Kakek mu menjalin hubungan bisnis dengan orang tua Mamamu dan Papa dijodohkan dengan Mamamu. Awalnya Papa menolak namun setelah bertemu dan lebih kenal lagi dengan Mamamu, Papa jatuh cinta dan perasaan itu melebihi cinta Papa pada Sifa."
"Lalu Papa menikah dengan Mama dan Mama tidak tahu kalau Papa telah beristri?"
"Iya, Mama kamu tidak tahu, Papa sembunyikan pernikahan Papa selama satu tahun dan satu tahun itu pun Papa tidak pernah menemui Sifa lagi karena Papa sangat mencintai Mamamu dan dan juga dirimu, kamu dulu masih dalam kandungan Mamamu."
Sena membenarkan posisi tubuhnya yang bersandar pada Deren. Sena menatap mata Deren dengan penuh arti.
"Lalu Mama Sifa? Papa membuang nya? Papa telantarkan anak Papa sendiri?"
Deg. Jantung Deren serasa berhenti sedetik. Ucapan yang terlontar dari mulut Sena sangatlah menusuk. Sena tidak habis pikir dengan sikap Deren yang seakan-akan menjadikan pernikahan hanyalah permainan saja. Sekarang Sena tahu kenapa Sifa melakukan semua itu, Sifa ingin membalas dendam kepadanya tapi Sena juga merasa sedih sebab yang melakukan kesalahan orang tuanya bukan dirinya dan seharusnya Sifa membalas dendam kepada mereka buka kepada dirinya.
"Papa... Papa.?"
"Papa yang salah! bukan Mama ! Papa tega nyakitin hati Mama. Papa nyakitin hati tiga orang sekaligus! AKU BENCI PAPA! PAPA TIDAK PUNYA HATI!"
Sena langsung beranjak pergi menuju kamarnya. Sena berlari menaiki tangga meninggalkan Deren yang terdiam mematung.
"A...aku?"
kata-kata Sena masih terdengar jelas di telinganya, mungkin kalau anak itu masih hidup, dia juga akan mengatakan perkataan yang sama seperti Sena.
...
Kamar Sena
Sena langsung mengunci pintu kamarnya. Sena merasa hidupnya benar-benar memiriskan. Keluarganya sudah berantakan dari awal dan hidupnya kini dalam masa terpuruk. Sena duduk di depan pintu, punggungnya ia sandarkan di pintu.
"Kenapa? Tuhan kenapa hidup ku seperti ini? aku juga ingin bahagia, apa engkau membenciku? lalu kenapa engkau masih memberiku nyawa ini? tolong beri sedikit kebahagiaan di hidup ku kalau tidak bisa, cabut saja nyawa ini. Aku tidak sanggup menghadapi beban seberat ini." pinta Sena yang sudah sangat lelah menghadapi situasi ini. Sena merasa dirinya sendirian di dunia ini, tidak ada yang mengerti dirinya, dulu Rio yang selalu mengerti Sena namun sekarang Rio bukan lagi miliknya. Sena merasa Rio kini lebih memilih Angel dan Sena harus siap kalau Rio menceraikannya.
"Papa yang salah, Ma. Kenapa aku yang dihukum? aku menyayangimu lebih dari diriku sendiri.... Haaaahhhh!!!!" Sena mengacak-acak rambut dengan penuh kekesalan lalu tersenyum dengan manisnya dengan tatapan kosong. Penyakitnya kambuh lagi dan sampai sekarang tidak ada yang tahu bahwa Sena mengidap gangguan kecemasan yang kemungkinan besar membuat penderitanya menyakiti diri sendiri.
....
Rumah Sifa.
Sifa tengah memandangi bingkai foto putranya. Dibelainya bingkai foto itu dengan lembutnya. Sifa tersenyum tipis saat melihat senyum menggemaskan putranya.
"Sayang kamu sedang apa di sana? Mama kangen sama kamu, Nak. Kalau kamu masih hidup pasti Mama sudah punya cucu sekarang. Kamu manis sekali."
Sifa terdiam sesaat lalu air matanya mengalir dengan derasnya. Mengingat semua kenangan yang berlalu dan juga saat Putranya tertabrak mobil. Sifa masih ingat betul apa alasan Putranya berlari menyebrangi jalan dan kata yang ia ucapkan sebelum berlari.
"Papa!!!"
Cyyyytttt...
Brakkk....
"RAFFFFAAAAAA!!!"
Suara itu terus terngiang di telinga Sifa. Rafa kecil berlari kencang menyebrangi jalan hanya untuk bertemu Papanya yaitu Deren yang akan masuk kedalam mobil bersama istri keduanya yaitu Sena.
"Sayang, dia tidak pantas jadi Papamu. Mama menyesal telah menikah dengannya, dia tidak punya hati dan dia tidak sedikit pun menyesali perbuatanya. Nak, maafin Mama, mama salah memilih Papa untukmu. Nak, mama janji akan membuat orang-orang yang menyakiti kita hidup menderita, Mama tidak akan berhenti hingga mereka semua merasakan apa yang kita rasakan. Mama akan berusaha hingga napas terakhir mama. Mama masih tidak bisa merelakan mu, ini semua karena Papamu itu! manusia tidak punya hati itu!"
Flashback<<<<<<<<<
Taman bunga.
Sifa menatap Deren dengan penuh amarah. Deren menatap Sifa dengan tatapan datar dan tidak berdosa nya. Sudah setahun Deren tidak menemui Sifa dan hari ini Deren mendatangi Sifa dengan membawa luka.
"Mas? kenapa? kenapa kamu menceraikan ku? bagaimana dengan Rafa? Dia butuh kamu Mas!"
Sifa sangat-sangat memohon terlebih Rafa masih kecil dan dirinya juga butuh seorang kepala keluarga yang melindungi dirinya dan juga putranya.
"Aku akan membiayai hidup kalian tapi jangan ganggu aku." ucap Deren dengan nada datarnya.
"Mas."
Sifa meraih tangan kanan Deren, menggenggamnya erat.
"Tolong jangan ceraikan ku, kalau aku ada salah padamu, aku janji akan memperbaiki semua, asal kamu tidak meninggalkanmu dan putra kita. Satu tahun aku dan Rafa menunggumu pulang, Rafa sangat merindukanmu."
"Sudahlah." Deren melepas genggaman tangan Sifa. Sifa langsung menitihkan air mata. Hatinya hancur, dadanya sesak hingga dirinya seakan tidak bisa bernapas.
"Keputusan ku sudah bulat, aku menceraikan mu saat ini juga. Pernikahan kita berakhir disini, kita tidak punya hubungan lagi."
"Segampang itukah? pernikahan ini sudah lebih dari lima tahun, aku selama ini sabar dengan sikapmu yang seakan mempermainkan ku. Aku sabar menanti kepastian darimu! tapi ini balasan mu? kau membuang ku?"
"Aku tidak membuang mu, aku menceraikan mu dan aku akan memberimu uang setiap minggu untuk kamu dan Rafa tapi jangan menemui ku lagi. Aku sudah punya kehidupan ku sendiri."
PLAKK...
Tamparan keras mendarat di pipi Deren. Tamparan penuh amarah dari Sifa. Sifa sangat marah mendengar Deren sudah memiliki kehidupan tanpa dirinya dan juga Rafa.
"KAMU!" bentak Deren yang tidak terima ditampar oleh Sifa.
Deren terlihat sangat marah namun Sifa hanya menunjukan senyum sinis nya.
"Kamu marah? aku hanya menamparmu sekali dan kamu langsung marah? apa kamu tidak sedikitpun memikirkan perasaanku? kamu selalu membohongi ku dengan janji-janji manis mu itu! kamu janji akan membawa ku dan Rafa menemui keluarga mu tapi ini? ini janjimu mas? dulu kamu selalu membujukku untuk mau menikah denganmu dan sekarang kamu menceraikan ku!"
"Aku minta maaf atas semua itu."
Kedua tangan Sifa mengepal dengan kuatnya, menahan amarah yang sudah meluap-luap. Semudah itukah meminta maaf setelah menyakiti berkali-kali?.
"Maaf kamu bilang? Maaf? KAMU TIDAK PANTAS DIMAAFKAN! KAMU LEBIH BURUK DARI PEMBUNUH! AKU MEMBENCIMU MAS!!"
teriak Sifa penuh dengan amarah.
"Aku terima kebencian mu itu, tolong jaga Rafa." setelah berucap Deren langsung pergi meninggalkan Sifa begitu saja tanpa rasa kasihan sedikitpun. Masa indah yang telah di lewati tidak sedikitpun mengubah keputusan Deren.
"MAS.... MAS! AKU MOHON JANGAN PERGI! AKU MOHON KEMBALI DEMI ANAK KITA!"
Teriakan Sifa tidak dihiraukan oleh Deren. Dia terus melangkah ke depan tanpa sekalipun menoleh.
"Mas!"
Sifa menangis dengan kerasnya. Kesabarannya dibalas pengkhianatan Deren, semua janji manisnya itu hanya bualan semata.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia setelah menyakitiku dan aku tidak akan memaafkan mu setelah kau menelantarkan putra mu sendiri! camkan itu!"
...
Rumah Sifa.
Sifa membuka pintu rumahnya dan seorang anak kecil berlari kerahnya. Anak kecil itu sangat lucu dan juga tampan.
"Mama!!!"
"Sayang, jangan lari!"
Walau pun sudah dinasehati anak kecil itu masih tetap berlari lalu memeluk kaki Sifa.
"Mama kenapa baru pulang?" ucapnya dengan penuh kerinduan.
"Maaf yah sayang."
Sifa langsung membopong putranya menuju meja makan. Pasti putra kecilnya sudah lapar.
"Mama bawa ayam goreng untuk mu, kamu suka kan?"
"Iya Mama."
...
Kamar.
Sifa membelai lembut puncak kepala Rafa dengan penuh kasih sayang. Rafa memeluk erat mainan robot nya.
"Kok belum tidur sih? ini sudah malam loh?"
"Mama."
"Iya sayang."
"Papa kapan pulang? Rafa kangen Papa, mau main sama Papa, ma." ucapnya dengan polos. Sifa tersenyum getir mendengar pertanyaan Rafa. Papanya tidak mungkin pulang bahkan dia tidak akan pernah main dengannya lagi namun Sifa tidak mungkin mengatakan itu semua kepada Rafa yang masih kecil. Dia tidak mungkin paham dengan apa yang nanti ia katakan.
"Papa mu sedang berkerja untuk beli mainan untuk Rafa, jadi Papa tidak pulang. Kamu kangen Papa yah?" ucap Sifa berbohong, setidaknya putranya tidak sedih dan masih bisa tersenyum.
"Iya."
....
Malam terasa cepat berlalu, kini hangatnya sinar matahari menyinari bumi tercinta ini. Tangan kanan Sifa menggenggam erat tangan kiri Rafa agar dia tidak jauh darinya. Rafa terlihat sangat senang diajak Sifa ke pasar.
"Rafa mau apa lagi?"
"Mama, mau es krim."
"Es krim? ayo beli."
Sifa dan Rafa berjalan menuju Abang penjual es krim di tepi jalan. Sifa bisa saja membeli es krim di mini market tapi sepertinya putra kecilnya sudah tidak sabar lagi, Rafa terus menunjuk box yang berada di atas motor.
"Kamu ini, beli satu saja. Mama tidak mau kamu batuk."
"Iya, rasa cokelat yah, ma."
"Iya sayang."
...
Rafa tengah asik memakan es krimnya dan tidak memperdulikan bibir mungilnya telah dipenuhi es krim. Rafa yang tengah melihat kearah sebrang jalan, Rafa terus mengamati seorang Pria yang sangat ia rindukan.
Sifa tengah membayar es krim yang Rafa mau, dirinya tidak menyadari Rafa tengah memperhatikan seseorang di sebrang jalan.
"Papa!" ucap Rafa yang yakin itu Papanya. Sifa mendengar ucapan Rafa langsung menoleh ke kanan dan betapa terkejutnya melihat Rafa yang sudah berlari menjauhinya.
"Sayang, kamu mau kemana?" Panik Sifa yang langsung menyusul Rafa.
"PAPA!" teriak Rafa yang mulai berlari kejalan raya. Sifa juga melihat Deren dan dia yakin Rafa ingin menemui Deren. Sifa semakin cepat berlari, dia tidak ingin Rafa kenapa-kenapa.
"RAFA! BERHENTI! RAAFFFA!!"
Rafa tidak memperdulikan teriakan Sifa. Rafa terus berlari hingga....
TTIIIIIIINNNNN....TTTIIIINNNNN
Sebuah mobil melaju dengan kencangnya kearah Rafa yang kini berada ditengah jalan.
Suara gesekan ban dan aspal terdengar nyaring namun tidak menghentikan laju mobil itu.
BRAAKKK ..
"RAFFFFAAAAA!!!" Teriak Sifa histeris saat mobil itu menabrak tubuh mungil putranya.
Semua orang yang ada di sana langsung panik. Kejadiannya begitu sangat cepat. Sifa dibantu orang-orang disekitar membawa Rafa ke rumah sakit yang tidak jauh dari tempat ini.
...
Rumah sakit.
Sifa terduduk lemas dilantai dengan tatapan kosong. Sifa tidak bisa menerima kenyataan bahwa putranya telah meninggal. Rafa meninggal sebelum ditangani dokter, Rafa meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Rafa."
Seorang suster menghampiri Sifa. Suster itu merasa kasihan sekaligus sedih dengan apa yang terjadi pada Sifa.
"Bu, ibu baik-baik saja?"
Suster itu membantu Sifa berdiri. Sifa merasa tubuhnya tidak punya tenaga untuk berdiri.
"Bu, putra ibu sudah dimandikan. Sekarang ada diruang duka."
"Bisa bantu saya ke ruangan itu?"
"Iya, saya bantu."
...
Pemakaman umum. 17:44
Sifa masih tidak mau pulang walau pun kedua orang tua nya membujuknya. Sifa tidak ingin meninggalkan putranya sendirian.
"Kalian keluar gerbang saja dulu, aku menyusul nanti."
"Baiklah."
Mereka meninggalkan Sifa sendiri. Setelah kepergian mereka, Sifa langsung terisak.
"Mama tidak rela, Rafa, Mama janji akan buat Papa kamu menderita. Mama janji sayang!"
Flash end<<<<<<<<<<<
Sifa menyeka air matanya. Sifa mengguatkan hatinya. Rasa sakit ini membuatnya bertahan hidup.
"Permainan belum berakhir, camkan itu Deren!"
....
Rumah Erik Jihan.
Dapur.
Rio tengah membantu Jihan memasak untuk dibawa ke warung. Jihan terlihat sangat senang dibantu Rio yang terlihat sangat tahu apa yang dibutuhkan Jihan.
"Kamu sepertinya akrab sekali dengan dapur? kamu suka memasak?"
"Iya bu."
"Kamu anak cowok tapi suka di dapur, kalau Angel bisanya berantakin saja."
"Ibu!" suara kesal itu membuat keduanya menoleh kearah belakang. Angel melihatkan tatapan kesalnya dan dagunya sudah mengkerut.
"Apa? memang benarkan?"
Angel semakin mengerutkan dagunya. Rio hanya tersenyum tipis.
"Kevin tidur?" tanya Rio yang entah kenapa merindukan senyuman Malaika kecilnya.
"Tidak."
"Lalu kamu meninggalkan nya sendiri?"
"Tidak."
"Lalu Kevin sama siapa?"
"Lihat saja sendiri."
Rio langsung berjalan kearah ruang tengah. Jihan menatap Angel heran terlebih Erik sudah pergi.
"Apa?"
"Kevin sama siapa?"
"Sama Alvin dan Rey. Bu, aku lapar."
.....