
"Nyebelin!" ucap Angel dengan kesalnya. Rey semakin membut Angel kesal. Rey kangen sekali membuat Angel kesal dan menemarahinya, entah kenapa saat Angel marah Rey merasa Angel begitu lucu. Rey menjulurkan lidahnya bahkan sampai membuat wajah jelek untuk mengejek Angel namun yang Rey lakukan malah membuat Angel tertawa dengan lepas.
"Gitu kek dari tadi!" omel Rey yang bernapas lega akhirnya Angel bisa ceria lagi yah walau dirinya harus berusaha terlebih dahulu.
"Ketawa terus sonoh sampai pagi tadi mah cemberut terus kek kanebo lecek eh sekarang malah mau nyaingin kunti"
kesal Rey sembari melihatkan wajah cemberutnya tapi itu malah membuat Angel semakin tergelak
Suara tawa Angel terdengar sampai kedapur dan membuat lekuk senyum tergaris jelas dibibir Jihan dan Erik.
"Rey selalu bisa buat El tertawa ya,Yah"
"Iya, untung saja Rey kesini"
"Kamu benar"
...
"Enak aje, aku dibilang kunti! cantik gini kok, dasar nyebelin!"
"Kamu tuh yang nyebelin!"
"Sendiri yang nyebelin, ngatain orang!"
Keduanya saling menatap dengan penuh kekesalan dan wajah yang tertekuk.
"Sudah-sudah jangan bertengkar, ayo makan!" lerai Jihan.
Keduanya menurut karena sudah sangat laparnya tapi mungkin pertengkaran mereka akan berlanjut kembali.
Setelah makan Rey meminta ijin kekedua orang tua Angel untuk mengajak Angel pergi dan pastinya keduanya mengijinkan terlebih mereka sangat percaya Rey bisa menjaga Angel.
"Kamu mau ajak aku kemana?" tanya Angel sembari memasang sabuk pengaman.
"Nanti juga kamu tahu" ucap Rey yang langsung menginjak gas mobil menuju ketempat yang ia maksud.
20 menit berlalu. Angel terdiam saat Rey mengajaknya kepasar malam.
"Ayo turun!" ajak Rey yang sangat antusias terlebih dirinya sudah sangat lama tidak kepasar malam.
Angel mengikuti Rey memasuki area pasar malam. Rey menyadari kalau ada sesuatu yang tengah terjadi, dia menoleh kearah Angel yang kembali murung padahal ini tempat kesukaan Angel. Rey masih ingat dengan jelas hal apa saja yang Angel suka dan tidak disukainya.
Melihat Angel yang seperti ini membuat Rey merasa sedih, ini bukan yang ia harapkan. Rey berharap Angel merasa senang diajak kesini dan mereka akan bermain bersama lagi seperti dulu.
"Kenapa? kamu ngga suka tapi bukanya ini tempat kesukaanmu?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Angel tersadar bahwa ada seorang yang mengkhawatirkannya.
"Memang sih tapikan habis hujan jadi becek gini!" ucap Angel sembari menunjuk kearah sepatunya yang kotor terkena lumpur. Angel berharap Rey mempercayai apa yang ia katakan. Angel tidak mau Rey mengetahui alasannya yang sebenarnya.
Rey berdecak. Walau pun Angel tidak mengatakannya tapi Rey tahu kalau temannya ini tidak sedang baik-baik saja. Rey hanya ingin Angel bahagia saat bersamanya karena itu Rey tidak ingin bertanya lagi.
"Itu mah ngampang tinggal lembiru !"
"Apaan "lembiru?"
"Lempar beli baru" ucap Rey dengan nada jahilnya bahkan Rey menunjukan senyum yang membuat Angel bergidik sontak Rey mengerutkan dagunya.
"Asem lu"
"Jelek muka kamu sumpah. Ayo main!"
Rey langsung menggenggam tangan Angel. Mereka berdua berjalan beriringan sembari melihat-lihat kesekeliling berharap ada sesuatu yang menarik perhatian.
"El, naik itu yuk!" ucap Rey sembari menunjuk kincir ria. Angel mengikuti keman jari Rey menunjuk. Entah kenapa dada Angel menjadi sesak saat mekihat wahana itu apa mungkin Angel teringat tentang Rio. Karena dirinya dan Rio pernah menaiki wahana itu.
"Ngga Rey! aku ngga mau!"
"Loh?"
Rey bingung dengan sikap Angel. Angel melepas genggaman tangan Rey dan langsung berlari menjauh.
"Tuh anak kenapasih? Kalau ngga mau ya sudah, aku juga tidak memaksanya. Aku susul dia nanti aja deh, palingan dipojokan tuh anak"
Rey berusaha untuk tidak terlalu mencemaskan Angel. Rey ingin mencari sesuatu untuk menenangkan hati Angel.
...
Angel berlari diantara kerumunan orang. Sesekali Angel menabrak orang yang tengah berhenti. Angel merasa pikirannya sekarang kacau. Ingatan tentang Rio kini muncul kembali dengan jelasnya terlebih dirinya sering kepasar malam bersama Rio.
"Sakit!"
Angel mencengkram dadanya. Angel duduk dibangku yang jauh dari keramaian.
"Kenapa sesakit ini?"
Air mata Angel turun dengan sendirinya. Angel ingin melupakan Rio tapi kenangan bersama Rio terlalu banyak dan butuh waktu lama untuk menghilangkannya.
Angel pov
Kenapa dadaku ini sesak? bukankah aku membencinya tapi kenapa aku rindu hadirnya disisiku. Aku harus bagaimana untuk menghilangkan rasa dihatiku ini.
Aku sangat bodoh. Aku mencintai seorang yang aku tahu dia sudah beristri. Apa aku dibutakan oleh cinta yang tumbuh dengan sendirinya?. Entahlah ini semakin memnuatku pusing.
"Rey"
Aku sontak mengingat Rey. Aku sangat senang dia datang berkunjung ya walau terkadang dia menyebalkan. Aku masih ingat saat Rey menolongku dari preman gang yang memerasku. Dia dengan beraninya menghadapi mereka ya walau dia hampir kalah saat adu pukul tapi Rey selalu berpikiran jahil. Iya dia menipu semua pereman itu dengan mengatakan ada mobil polisi yang akan lewat sontak semua preman itu berlari ketakutan.
"Kamu disini"
Aku langsung menoleh dan ternyata itu Rey yang datang dengan membawa jagung bakar.
"Ck, kamu yah!"
Aku terdiam saat Rey menghapus air mataku dengan lembutnya. Aku bersyukur Rey masih Rey yang dulu, sangat perhatian denganku.
"Jangan menangis lagi aku mohon" pinta Rey yang langsung mengangkat jari kelingkingnya. Aku tahu Rey ingin diriku berjanji tidak menangis lagi. Aku mengaangguk lalu mengaitkan jari kelingkingku ke jari kelingking Rey. Dia tersenyum kearahku dengan manisnya.
"Awas kalau bohong!" ancamnya lalu mengacak-acak poniku. Perlakuan Rey kepadaku membuatku merasa kalau aku dibutuhkan didunia ini.
Rey memberiku jagung bakar. Dia masih ingat kesukaanku walau sudah lama tidak bertemu.
Kami pun saling mendiamkan satu samalain karena jangung yang manis ini. Kami makan dengan lamunan kami masing-masing.
pov end
Rey menoleh kearah Angel yang terlihat melamun. Rey meletakan jagung yang ia pegang ke atas plastik. Rey mengambil sesuatu dari kantong jaketnya.
"El"
"Hemm?"
Angel langsung menoleh dengan keadaan mulut yang masih menggigit bonggol jagung membuat Rey terkekeh.
"Apa?"
"Kamu ini makannya belepotan kek bayi" omel Rey yang langsung membersihkan pipi Angel yang hitam karena terkena bagian jagung yang gosong dengan saputangannya.
Rey sangat teliti membersihkan noda dipipi Angel. Jarak Rey sangat dekat dengan Angel hingga Angel merasa tidak nyaman terlebih wajah mereka hanya berjarak centimetet saja. Bahkan Angel dapat merasakan hangat napas Rey.
"Sudah"
Rey langsung memundurkan badannya membuat Angel kembali bernapas lega.
"Makasih"
"Sudahlah itu cuma hal kecil tidak usah berterimakasih, ayo makan lagi ntar malah keburu dingin kan ngga enak"
"Iya"
....
Rumah Rio/Sena
Rio melamun diruang kerjanya bahkan Rio mengabaikan pekerjaannya yang menumpuk. Rio masih terbanyang saat pemuda yang mendorongnya berduaan dengan Angel. Melihat mereka berdua bersama membuat Rio merasa ada bara yang membara dijiwanya.
"Ck! siapa sih dia!"
Rio mengacak-acak rambutnya. Dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya hingga dirinya sampai tidak fokus bekerja.
Sena memasuki ruang kerja Rio dengan membawa makanan untuk Rio.
"Sayang makan dulu yah"
Rio langsung menoleh kearah pintu. Sena menuju meja kerja Rio. Senyuman Sena membuat Rio tenang.
"Makasih"
"Aku suapin"
Rio terkejut mendengarnya, apa mungkin Sena telah berubah.
Sena bersiap untuk menyuapi Rio. Rio merasa senang diperhatikan seperti ini dan entah kenapa Rio malah mengingat Angel yang dari awal selalu memperhatikannya.
"Makan yang banyak biar kamu ngga sakit" suruh Sena padahal dirinya jarang makan nasi tapi malah menyuruh Rio.
"Yang bilang juga cuma makan salad"
"Kan aku cuma jalan aja kamu kan harus berfikir" diakhir kalimat Sena langsung menunjukan deretan giginya.
"Dasar kamu ini, aa"
"Nih"
Sena menyuapi Rio dengan senyum dibibirnya. Rio merasa dirinya kembali jatuh cinta kepada Sena.
"Mau lagi?" tanya Sena saat nasi yang ada dipiring sudah habis.
"Ngga, udah kenyang"
Rio mengerutkan keningnya saat Sena melihat Sena yang gelisah.
"Kamu kenapa?"
"Emm sayang"
"Kenapa? bilang saja"
"Aku boleh ngga kerja lagi? aku sendirian dirumah, aku takut. Aku janji sebelum kamu pulang aku sudah ada dirumah"
Rio menghela napas. Sena tetaplah Sena yang tidak bisa meninggalkan dunia yang penuh keglamoran.
"Iya, aku tidur disini. Mau lembur"
"Makasih sayang!"
Sena langsung mengecup pipi Rio. Sena nampak begitu senangnya diijinkan bekerja lagi. Sena langsung beranjak pergi meninggalkan Rio.
"Kamu masih sama ternyata"
...
"Ini dimana?"
Rio bingung dengan tempat ini. Tempat yang asing baginya. Rio terus berjalan menyusuri karpet pink yang panjang. Telinga Rio mendengar suara riuh dari arah cahaya yang terang Rio pun perlahan mendekati cahaya itu. Semakin dekat Rio melihat banyak sekali orang ditaman serta hiasa bunga dimana-mana dan juga pelaminan yang sangat mewah.
"Siapa yang menikah?" tanya Rio dengan nada penasaran.
"Kak Rio"
Suara itu? Rio paham sekali dengan suara yang ia rindukan. Rio langsung berbalik kebelakang. Kedua mata Rio langsung mendapati perempuan yang sangat cantik dengan gaun pengantin putih yang ia kenakan berdiri didepannya dengang buket bunga mawar merah yang ia pegang dengan kedua tangannya.
"Angel?"
Rio memanggil namanya. Angel tersenyum dengan manisnya kearah Rio. Entah kenapa perasaan Rio menjadi tidak enak, apa Angel akan menikah.
"Ini pernikahanmu?" tanya Rio dengan nada ragu, Rio sendiri berdoa agar dugaanya itu tidak benar.
"Iya, terima kasih sudah datang"
jawaban Angel membuat jantung Rio berhenti sedetik dan matanya memanas.
"Ngga.. ngga mungkin, kamu milikku! kamu tidak boleh menikah dengan orang lain!"
Rio benar-benar tidak bisa menerima ini semua. Rio tidak mau berpisah dengan Angel untuk selamanya. Angel hanya tersenyum kearah Rio, senyuman yang membuat Rio tidak rela melepas Angel.
"Ini kenyataannya, aku bukan milikmu lagi. Relakan aku"
"Tidak! aku tidak akan rela kamu menikah dengan orang lain"
"Sayang"
Seorang pemuda dengan baju yang serasi dengan Angel menghampiri kearah Rio dan Angel. Rio menatap tajam keorang yang baru datang. Rio pernah melihat pemuda itu sebelumnya.
Angel menoleh kearah pemuda itu. Pemuda itu tersenyum kearah Angel.
"Ayo"
Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya ke Angel. Angel menerima uluran tangan itu. Mereka berjalan meninggalkan Rio sendiri menuju tempat pernikahan.
"El?"
Panggil Rio yang tidak rela ditinggal Angel.
Angel hanya menoleh sekilas kearah Rio lalu kembali melangkah bersama pemuda itu.
"El! Angel"
Rio terus saja memanggil Angel namun Angel tidak menoleh sedikitpun. Angel terus melangkah.
"El"
Rio berlutut dengan air mata yang mengalir dipipinya. Dadanya terasa sakit melihat Angel menikah dengan orang lain.
"Angel jangan tinggalkan aku!"
Rio merasa dirinya orang yang paling bodoh didunia ini telah menyiayiakan orang yang tulus mencintainya. Rio menyesali apa yang telah ia perbuat dan sekarang dirinya tidak bisa bertemu lagi dengan Angel.
"AAANGGGEEELLLLL!!!"
Rio langsung tersontak kaget. Dirinya terbangun dengan napas yang terengah-engah.
"Aww"
Rio merasa kepalanya sakit. Rio mendudukan tubuhnya.
"Tadi itu cuma mimpi tapi kenapa begitu nyata?"
Rio terdiam begitu lama. Masih terbayang senyuman Angel dan pernikahan itu.
"Angel, sepertinya aku mencintaimu dan aku pastikan kamu akan kembali bersamaku lagi"
Rio berjalan kearah rak buku. Rio mengambil buku yang sangat tebal. Rio membuka dibagian tengah buku itu yang terdapat hal yang ia sembunyikan dari Sena.
Ternyata Rio menyembunyikan fotonya yang bersama Angel waktu dipantai. Senyum Angel sangat manis hingga Rio merindukan melihat senyuman itu lagi. Rio baru tersadar kalau dirinya ingin selalu berada didekat Angel.
"Aku rindukamu, kamu sedang apa sekarang"
....
Pasar malam
Rey tengah bermain lempar kaleng dan ini kali ke enamnya mencoba. Rey merasa geregetan padahal dulu dirinya sekali lempar sudah bisa meratakan susunan kaleng itu.
Kalau Angel lebih memilih menonton sembari menggigiti premen loliy yang Rey belikan. Anger terkekeh saat melihat Rey frustasi seperti itu bahkan penjaga wahana permainan ini menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah menyerah saja, aku mau pulang"ucap Angel yang sudah merasa mengantuk. Rey berdecak kesal lalu melempar bola terakhir dan ternyata tepat sasaran membuat Rey teriak kegirangan dan membuat Angel menggelengkan kepalanya.
"Silakan pilih mau boneka yang mana?"
Rey langsung menunjuk boneka beruang berwarna coklat. Penjaga itu pun memberikan apa yang Rey minta.
"Buat kamu"
Angel langsung menggeleng membuat Rey mengerutkan keningnya. Setahu Rey ini boneka favorit Angel.
"Kenapa?"
"Ya sudah"
Rey menukar boneka beruang dengan boneka keropi lalu memberikan lagi ke Angel dan kali ini Angel menerima pemberian Rey.
"Sebelum pulang kita ketaman dulu yah?"
"Iya"
...
Taman
Angel dan Rey turun dari mobil. Rey berjalan kearah belakang mobil untuk menggambil gitar kesayangannya. Taman begitu sepi tidak ada orang disini hanya lampu-lampu yang menyala dengan terang.
"Kenapa kamu ajak aku sesini?" tanya Angel yang merasa ngeri berada disini terlebih hawa disini sangat dingin dan sepi. Angel takut kalau ada mahluk tak kasat mata tengah mengawasi dirinya dan mereka tidak nyaman dengan kedatangannya dan Rey.
"Aku pikir kamu butuh ketenangan"
"Terus kenapa kamu bawa gitar?"
"Kamu ini kebanyakan pertanyaan, pusing aku jadinya!" kesal Rey yang langsung duduk dibangku. Angel menatap kesal Rey tapi sedetik itu pun Angel duduk disamping Rey.
"Kamu mau lagu apa"
"Kamu sudah lupa?" tanya Angel dengan nada kecewa. Angel kira Rey masih ingat semua yang dirinya sukai.
"Umm lagunya lyla yang judulnya dengan hati?"
"Hemm"
🎵Mentari tetap bersinar
Bintang pun terus berpijar
Awan teduhkan langkahmu
Taman hati pun terbuka
Bermainlah kau di sana
Rindu memeluk senyummu🎵
Rey mulai bernyanyi dengan diiringi gitar kesayangannya. Angel tersenyum senang, ini lagu kesukaan Angel dan Rey. Lagu yang mereka nyanyikan saat berkumpul bersama teman-teman yang lainnya.
🎵Di saat engkau lelah
Bersandarlah di bahu ternyaman ini
Terlelaplah, bermimpilah, lepaskan segala lara. 🎵
Kini Angel ikut bernyanyi bersama Rey membuat Rey semakin bersemangat memainkan gitar. Mereka bersenandung dibawah cahaya rembulan memecahkan sunyinya malam.
🎵Kau harus tahu kami di sini untukmu
Temanimu dengan hati
Lupakan semua keluhanmu tentang dunia
Bernyanyilah dengan hati🎵
🎵Kau harus tahu kami di sini untukmu
Temanimu dengan hati
Lupakan semua keluhanmu tentang dunia
Bernyanyilah dengan hati🎵
Dua bait syair Angel yang menyanyikannya sedangkan Rey fokus dengan gitarnya. Rey sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama Angel.
🎵Mentari tetap bersinar
Bintang pun terus berpijar
Awan teduhkan langkahmu
Di saat engkau lelah
Bersandarlah di bahu ternyaman ini
Terlelaplah, bermimpilah, lepaskan segala lara🎵
Kali ini Rey yang bernyanyi sedangkan Angel menyandarkan kepalanya dibahu Rey. Rey tidak keberatan dengan itu.
Rey terus bernyanyi hingga akhir lagu.
🎵Menarilah dengan hati dengan hati🎵
"Suara kamu bagus juga" puji Angel. Rey menggerutkan keningnya. Rey kira Angel tertidur karena nyanyiannya.
"Aku kira kamu tidur"
Angel membenarkan posisinya. Rey menatap kearah Angel yang terlihat lebih baik.
"El, titip gitarku"
Rey langsung menyerahkan gitarnya kepada Angel. Rey berlari kearah mobilnya, entah apa yang ingin ia ambil.
Angel hanya melihat kepergian Rey yang terburu-buru. Angel tidak ambil pusing tinggkah Rey.
"Dasar orang itu"
Angel mengendikan bahunya.
...
Rey memasuki mobilnya. Wajah Rey terlihat cemas.
"Duh kenapa nyaliku jadi ciut gini sih?"
Rey mengacak-acak rambutnya. Padahal Rey telah menyiapkan diri dari jauh-jauh hari untuk momen ini.
Rey mengambil sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kotak kecil berwarna merah muda. Rey membuka kotak itu yang ternyata berisi cincin yang sangat indah.
"Aku bisa nggak yah? jadi gugup gini"
drrtt...drtttt
Suara ponsel Rey membuat Rey semakin cemas. Rey tahu siapa yang menghubunginya.
"Angkat saja deh, dari pada ntar dikutuk jadi batu"
Rey menjawab panggilan dari Mamanya.
"Hallo ma"
"Kamu suda bilang ke El?"
"Belum, Rey belum siap"
"Kamu ini! kan mama sudah bilang mama sama papa ikut tapi kamunya ngga mau, sekarang bingungkan kamu?"
Rey menjauhka ponselnya dari telinganya. Suara Mamanya membuat teling Rey berdengung. Rey yakin bahwa Mamanya sangat marah kepadanya terlebih Rey bilang kalau dia akan mengatasi semuanya.
"Ma jangan teriak-teriak, telinga Rey sakit!" kesal Rey.
"Salah kamu sendiri! nanti kalau ada yang suka sama Angel gimana? kamu mau kehilangan Angel!"
"Ma jangan nakutin!"
"Mama ngga nakutin, mama cuma mengingatkan kamu"
Suara disebrang sana terdengar penuh emosi. Rey tahu kenapa Mamanya seperti ini dan Rey juga tidak mau ada yang mendahuluinya. Rey ingin melamar Angel sebagai istrinya dan Rey tidak mau Angel merasa terpaksa menerimanya karena kehadiran orang tua Rey. Rey ingin Angel menerimanya karena keputusannya sendiri karena itu Rey menolak orang tuanya ikut dengannya menemui Angel tapi sekarang Rey menginginkan kehadiran orang tuanya.
"Rey masih belum siap kalau ditolak Ma" suara Rey terdengar pasrah. Terdengar helaan napas dari sebrang sana.
"Kalau seperti itu kamu dekati Angel dan tunjukan kalau kamu anggap Angel lebih dari sekedar teman terus kalau waktunya sudah pas, kamu lamar dia! ingat mama cuma mau Angel jadi menantu mama!"
"Iya, Ma. Rey juga ingin Angel jadi istriku"
"Kamu sedang sama El?"
"Iya"
"Terus kamu tinggal gitu?"
"Iya"
"Kamu ini! masa Angel ditinggalin sendirian, cepat kembali ke Angel! kasihan sendirian ntar digodain sama yang lain loh!"
Mama Rey langsung menutup sambungan telefonnya.
"MAMA!" teriak Rey dengan penuh kekesalan. Ini juga kesalahannya yang selalu curhat kemamanya soal Angel bahkan Mama Rey juga tahu sebesar apa cinta Anaknya untuk Angel.
"Dasar orang tua itu, aku harus cepat kembali kasihan El sendirian"
.....
Entah kenpa Angel mersa merinding. Dilihatnya kesekeliling tidak ada siapa-siapa.
"Ihh kemana sih tuh orang!"
Angel sangat kesal Rey juga belum kembali. Angel menghelanapas beratnya berharap ini semua hanya mimpi dan Angel ingi segera terbangun dari mimpi buruk ini.
"Kapan ini semua berakhir? aku capek!"
Drrrtttt... drrtttt
Angel langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya. Angel menggigit bibir bawahnya setelah mengetahui Rio yang menelfonnya. Angel langsung menolak panggilan dari Angel.
"Mau apa lagi sih dia"
Rio terus menghubungi Angel namun Angel terus menolak panggilan itu.
Drrtt
Sebuah pesan masuk diponsel Angel dan itu dari Rio. Angel tidak ingin membacanya tapi firasat Angel menyuruhnya untuk membaca pesan ini.
"Kenapa kamu tidak menjawab telefonku atau kamu ingin aku memberitahu keorang tuamu kalau kamu telah menikah diam-diam denganku? sekarang jawab telefonku!"
Angel sampai sesak saat membaca pesan dari Rio. Pesan yang sangat mengancam dan membuat Angel ketakuatan. Kalau sampai Rio memberitahukan semua kepada orang tauanya semua kan semakin buruk terlebih Angel belum siap menerima amarah dari mereka.
Drttt... drtttt
Angel langsung mengangkat panggilan telefon dari Rio walau harus digaris bawahi dengan kata terpaksa.
"Aku kira kamu tidak ingin berbicara denganku"
"Kamu mau apa? belum puas kamu mempermainkan perasaanku?" ucap Angel dengan penuh amarah. Jujur Angel ingin tahu apa isi kepala Rio, apa yang membuatnya seperti ini. Rio sekarang seperti orang yang tidak punya hati.
"Kamu tahu apa yang aku mau"
Angel mengepalkan tangan kirinya. Angel tahu apa yang dimaksud oleh Rio. Rio ingin Angel kembali kerumah itu dan pastinya Angel menolak. Angel masih waras mana mungkin dirinya kembali kesana itu sama saja menghancurkan dirinya sendiri.
"Tidak! aku tidak akan pernah kembali lagi kerumah itu!"
Terdengar suara tawa Rio yang terdengar menakutkan. Angel tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Dulu Angel berpikir Rio adalah manusia yang sangat sempurna tapi Angel mengoreksi kalau Rio bukan manusia melainkan batu yang tidak punya hati.
"Kamu yakin?"
"Aku tidak mau berbicara dengan mu lagi!"
Angel langsung mematikan sambungan telefonnya dan berbarengan dengan itu Rey datang menghampiri Angel.
"El?"
Angel menoleh kearah Rey. Rey bingung kenapa raut wajah Angel seperti ketakutan.
"Kamu kenapa?"
"Aku mau pulang sekarang!" pinta Angel dengan nada ketakutan.
"Iya...iya ayo pulang!"
...
Mobil Rey
Rey tidak tahu kenapa Angel ketakutan seperti ini. Bahkan Angel sendari tadi tidak berkata sepatah katapun.
"Kamu kenapa?"
Suara Rey membuat Angel terkejut. Rey sekarang tahu bahwa Angel sendari tadi melamun.
"Kenapa?"
"Kamu melamun? kamu mikirin apa sih? terus kenapa kamu seperti ketakuat begitu?"
Angel tidak mungkin mengatakan masalah apa yang ia tengah hadapi sekarang walau dirinya ingin bercerita agar dirinya merasa tenang tapi semua itu pasti akan membuat Rey menjauhinya.
"Kamu sih perginya kelamaan, tadi ditaman aku kek lihat bayangan gitu"
"Terus kamu takut?"
"Ya iya lah! kamu tahu sendiri aku itu takut dengan hal bigituan!"
Angel menatap sebal kearah Rio yang langsung tertawa setelah mendengar jawabannya namun Angel berucap syukur Rey percaya kepadanya.
"Iiihh... kamu mah nyebelin!"
"Dih ngambek! dasar tukang ngambek!"
"Biarin! dasar nyebelin!"
Angel langsung memalingkan tatapannya keluar jendela mobil. Angel melihat bersalah telah berbohong kepada Rey. Angel hanya ingin Rey tidak meninggalkannya, hanya dia orang yang selalu membuatnya berharga dan perhatiannya selalu membuatnya merasa berharga.
"Hujan" lirih Angel saat butiran cair turun dari langit dan menambak kegalauannya.
"Nih peluk boneka, biar ngga sedih"
Rey menaruh boneka keropi ke pangkuan Angel. Angel langsung menoleh kearah Rey.
"Kamu itu kebiasaan kalau hujan udah kek anak ayam kedinginan bawaannya lesu terus!" ejek Rey tanpa melihat kearah Angel. Angel mencibir tapi dirinya menurut. Angel memeluk boneka itu dengan erat hingga tak terasa matanya mulai menutup.
"Malah tidur, biarin deh dari pada lihat wajah murungnya terus. Capek lihatnya"
...
Rumah Rio/Sena
Rio berdecak kesal, Angel memutus sambungan telefon.
"Sial! kamu ada dimana sih?"
Saat berbicara dengan Angel, Rio sesekali mendengar suara dari kenalpot kendaraan.
"Apa El sama orang itu? ngga... ngga Angel ngga boleh jalan sama laki-laki lain apa lagi dengan orang itu"
Rio takut Angel sedang bersama pemuda yang ada didalam mimpinya. Kalau benar berarti mimpi itu bisa jadi kenyataan. Rio melepar ponselnya kearah sofa, entah kenapa mimpi yang tadi itu terus saja terbayang dipikiran Rio.
"Aku harus bagaimana?"
Rio ingin Angel cepat kembali kepadanya dengan cara apapun.
"Angel bilang kalau dia mau kembali kerumah ini asal Sena yang membawanya pulang tapi, Sena benci banget sama El"
Rio mengacak-acar rambutnya, kesal sendiri dengan dirinya yang terkadang tidak bisa menahan emosi dan tidak lembek saat berhadapan dengan Sena.
"Berpikir Rio! berpikir! apa yang harus kamu lakukan untuk membawa El pulang"
Terlintas dipikiran Rio suatu ide yang kemungkinan bisa berhasil tapi dengan bantuan Amanda dan semuanya.
"..."