
"... Akk.. aww"
Angel merasa perutnya sakit. Arfan panik langsung menyuruh Angel duduk.
"Sakit"
"Fan. Angel kenapa?"
Arfan menoleh ternyata sudah ada Rio dan Sena. Arfan bingung harus menjawab apa.
"Perut aku keram. Mau pulang" pinta Angel.
"Ya sudah ayo kita pulang"
Sena mengajak Angel pergi. Rio menghampiri Arfan dengan tatapan kekesalan.
"Kamu apain Angel?"
"Aku tidak melakukan apapun tapi melihatmu seperti ini membuatku curiga"
"Curiga apa lagi sih?"
"Sebenarnya Angel sipa?"
"Itu bukan urusanmu"
Rio langsung pergi meninggalkan Arfan. Kecurigaan Arfan semakin jelas terasa.
"Kalian kira aku semudah itu percaya"
Arfan bertekat untuk membongkar semua permaianan yang telah mereka mainkan. Arfan sangat yakin Rio mengetahui ini semua.
...
Rumah kamar Rio /Sena. 19:30
"Kalau Arfan curiga gimana?"
"Ya baguslah. Biar terbongkar semua ini"
Sena menatap tajam Rio. Sena merasa Rio telah mencintai Angel dan dirinya pun tahu Rio mau menceraikannya namun tidak jadi karena dirinya telah mengancam Angel.
"Oh jadi kamu yang nyuruh Arfan kemall itu, biar dia tahu aku cuma hamil bohongan?"
"Aku tidak menyuruh Arfan. Anggap saja ini hari burukmu!"
"Ck! Rio kamu sebenarnya milih siapa AKU APA ANGEL SI JAL*NG ITU!"
Sena meneriaki Rio. Rio yang selama ini menahan emosinya kini terpancing emosinya Rio menampar Sena hingga Sena terjatuh kelantai. Sena memegangi pipinya yang terasa panas.
"Aku pilih Angel yang jelas jelas mencintaiku bukan karena uangku! aku ingin bercerai denganmu tapi kamu tidak mau. Kamu malah mengancam Angel dan bersandiwara didepan semuanya. Jujur aku muak melihatmu"
Sena bangkit lalu pergi tanpa berkata apa apa. Rio berdecak kesal karena dirinya akhir akhir ini ringan tangan dan mudah emosian. Tekanan pekerjaan dan masalah ini membuatnya terbebani.
Sena menuruni tangga dengan pelan di tengah tangga Sena duduk dianak tangga. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Ada apa sayang?"
"Ma, Rio ingin menceraikanku"
"Apa? kamu tidak maukan. Sampai kapanpun mama tidak mau kamu bercerai dengan Rio!"
Suara disebrang sana terdengar marah. Sena menggigit bibir bawahnya.
"Dengar baik baik, mama tidak mau nama baik keluarga kita tercoreng cuma karena perceraianmu dan ini juga akan berdampak buruk untuk karir kamu! JANGAN BODOH!"
"Ma... Rio sudah tidak mencintaiku lagi, buat apa aku pertahankan ini semua?"
"Cinta? perduli apa dengan cinta yang terpenting saat ini kamu harus menolak bercerai dengan Rio lagi pula kamu sedang hamil atau kamu cuma pura pura?"
"Iya Sena cuma pura pura. Mama tahu semua itu aku lakukan cuma buat mama. Mama yang selalu menekanku, mama yang selalu ingin dipuji!"
"Terserah kamu mau bilang apa tapi yang jelas. Mama tidak mau kamu bercerai apa lagi suamimu punya segalanya"
"Ta"
"Sudah menurutlah"
"Sena sudah menuruti semua keinginan mama bahakan Sena membunuh janin Sena sendiri. Masih belum puas mama mengatur hidupku?"
"Harusnya kamu berterima kasih kemama kalau mama tidak menyuruhmu melakukan itu kamu tidak akan jadi seperti ini!"
"Tapi itu membuatku tidak bisa hamil lagi!"
"Jangan diungkit lagi atau suamimu akan mendengarnya!"
"Ini semua salah Mama!"
Sena langsung mematikan sambungan telefonnya. Sena menangis tanpa suara.
Sena Pov
Sekarang aku dibenci bukan sekarang tapi selama ini aku dibenci. Sifatku, perilakuku dan semuanya. Walau berbuat baik sekalipun tidak akan mengubah apapun. Selama ini mereka bilang aku cuma mementingkan diriku sendiri, aku tidak punya perasaan tapi mereka tidak tahu selama ini aku tertekan.
Tertekan karena keinginan mama yang selalu ingin aku jadi yang nomer satu dalam segala hal. Dia selalu mengatur hidupku bahkan saat aku masih empat tahu dia menyekolahkanku diseni modeling padahal aku ingin bermain dengan teman seusiaku.
Banyak hal yang membuatku tidak suka namun aku tidak bisa menolaknya. Mama ingin aku selalu menuruti keinginanya termasuk menggugurkan janinku. Andai aku bisa mengulang kembali waktu aku akan menolaknya. Aku tidak ingin seperti ini terus, berpura pura tegar dengan keangkuhanku dan sandiwara ini.
"Aku capek!"
Kalau Rio tahu akan hal ini pasti dia akan marah tapi ini bukan salahku ini salah mama yang menyuruhku. Aku memang sangat bodoh.
Pov end
...
Angel yang bosan dikamar memilih kehalaman belakang untuk sekedar menggagumi bintang dilangit.
Angel pov
Bintang dilangit sangat indah membuatku merindukan keluargaku. Aku bodoh masih berada disini tapi apa dayaku. Aku cuma perempuan miskin yang bodoh tidak berpengalaman apapun tidak mengerti akan kehidupan yang kejam ini. Aku baru melewati hidup 20 tahun dan itupun bersama keluargaku yang sayang kepadaku. Saat ini aku hanya sendiri dirumah ini. Aku tidak mengenal mereka semua kalau aku berbuat keributan mereka bisa saja mengusirku dari rumah ini.
Mengusirku dengan keadaan hamil. Mereka pastinya dapat mencari penggantiku dengan mudahnya dengan uang mereka tapi bagaimana denganku? aku pasti tidak bisa bertahan walau satu hari. Seperti dulu Rio mengusirku. Ditengah malam yang gelap dan dingin aku sendirian menyusuri aspal ditemani hujan tidak ada seorang pun yang menolongku bahkan tidak ada satupun orang yang lewat maupun kendaraan.
Rasa sakit diperut ini masih terasa dengan jelas dan aku masih ingat bagaimana ketakutan ku saat itu. Aku tidak tahu jalan pulang kerumah orang tuaku walaupun aku tahu pasti jaraknya sangat jauh butuh waktu yang lama untuk berjalan kaki pulang kerumah dan itu pun kalau mereka mau menerima keadaanku yang tengah hamil tanpa suami. Aku tidak sanggup membayangkannya. Mereka pasti sangat kecewa kepadaku.
Aku hanya punya nyawa yang ada diragaku. Hatiku telah dihancurkan berkali kali hingga aku tidak bisa merasakan apapun. Aku bak mayat hidup yang hidup sesuai arahan dari pemiliku. Aku tidak bisa menolak apa yang mereka mau.
Pasti diluar sana akan mengatiku bodoh, lemah atau apapun karena aku hanya menurut seperti anj*ng tak bisa melawan. Memangnya siapa aku? aku bukan sipa sipa disini. Pernikahanku hanya sebatas tulisan dikertas mana mungkin aku meminta hakku bahkan aku tidak berhak mengakui anak diperutku ini adalah anakku.
Aku tahu aku bodoh bahkan lebih dari itu. Memangnya apa yang harus dilakukan olehku? pergi dari sini menyusuri jalanan beraspal hanya membawa tubuh ini bersama janinku itu sama saja bunuh diri. Diluar sana pasti ada yang lebih kejam dari mereka berdua, sepasang suami istri yang tidak punya hati namun mereka selalu membantuku walau Sena mengancamku terus menerus dan Rio selalu membohongiku tapi mereka membantu keluargaku.
Mereka membayar biyaya oprasi Ayahku hingga sekarang jantung Ayahku masih berdetak, membayar hutang Ayahku direntenir kalau tidak aku pasti sudah jadi wanita malam yang dipaksa melayani pria kesepian serta merenovasi warung ibuku. Mereka sudah banyak membantuku tapi aku belum bisa membalas budi atas apa yang mereka berikan kepadaku, kepada keluargaku. Kalau aku tidak bertemu mereka entah apa yang akan terjadi kepada keluargaku dikota besar ini.
Kami tidak punya saudara disini semuanya berada dikampung kalau mereka tidak menolong kami mungkin kami sudah terluntang lantung dijalan hanya berdua, aku dan ibuku.
Aku memang sangat sedih seperti ini namun aku bersyukur mereka memperlakukanku dengan baik kalau mereka mau pasti aku disuruh berkerja dan aku tidak akan tidur dengan nyenyak disini.
Rasa sakit yang aku rasa ini adalah buah kebodohanku. Aku tahu dari awah pernikahan ini hanya PERJANJIAN DIATAS KERTAS yang akan selesai jika aku melahirkan seorang anak tapi aku malah dengan naifnya mengharapkan lebih dari suami orang. Istri mana yang mau dimadu dan berbagi suami dengan wanita lain pasti rasanya sangat sakit itu juga yang Sena rasakan saat ini. Walau dia terlihat tegar dan terlihat tangguh namun itu hanya didepan saja. Aku pernah melihat Sena menangis sembari menatap bulan ditengah malam. Walau terasa aneh tapi aku bisa memastikan itu kebenaran yang tidak dibuat atau hanya kebohongan semata. Sena terluka dengan semua ini.
Sejak bertemu dengan tante Amanda aku jadi tahu alasan Sena melakukan semua ini. Sena ingin ibu mertuanya bahagia walaupun harus menyakiti dirinya sendiri dengan sangat sadar ia menyuruh suaminya menikah lagi dan menjauh darinya hanya untuk membuat Suaminya tidak canggung dan tidak merasa diawasi.
Kalau aku jadi Sena aku tidak akan sekaut itu. Rio pernah bilang Sena itu hanya mengincar harta dan uangnya karena Sena selalu menghambur hamburkan uang serta terus meminta uang namun itu semata mata untuk menghibur dirinya sendiri.
Sena pasti sangat bingung harus meluapkan isi hatinya kepada siapa. Semua orang sudah mengecapnya buruk bahkna kalau dirinya menangis dihadapan semua orang pasti mereka menganggap itu hanya sandiwara dan kepalsuan belaka.
Sena memang kasar dan penuh akan sandiwara kepalsuan, pintar berbohong dan memutar balikan fakta karena itu pula Sena sangat mudah mebohongi dan menipu dirinya sendiri dengan apiknya tanpa ada celah. Senyum miring keangkuha yang selalu ia umar menutupi dirinya yang rapuh namun tidak semua orang bisa melihat dengan jelas kerapuhannya itu.
"El. Kamu belum tidur?"
Lamunanku buyar saat Sena tiba tiba datang dan apa ini? aku melihat pipi Sena yang memerah dan matanya yang sembab.
"Belum ngantuk"
"Iya sih tapi jangan disini. Disini dingin"
"Nanti aku pindah. Kamu juga belum tidur"
Sena duduk disebelahku. Dia menatap ke langit, senyumnya merekah dengan sendirinya.
"Aku suka bintang" lirih Sena.
Aku melihat kearah yang Sena lihat. Aku merasa tidak enaka ada ditengah tengah Rio dan Sena.
"Kamu tahu El, semua orang membenciku"
Aku menoleh kearah Sena. Tatapannya kosong namun senyumanya masih dibibirnya.
"Itu mungkin cuma perasaanmu saja, aku juga pernah"
Sena menggeleng pelan lalu menatapku. Tatapan Sena seperti penuh kehampaan yang menusuk.
"Kamu punya keluarga yang sayang sama kamu, El. Sedangkan aku? sejak kecil kedua orang tuaku selalu mendidiku agar aku jadi yang nomer satu entah itu dipelajaran atau apapun itu. Semuanya harus yang mereka mau"
Sena memalingkan wajahnya lagi aku lihat bahunya bergetar serta suara isakan itu. Aku yakin ini bukan kebohongan ataupun sandiwara.
"Kak Sena"
"Sebaiknya kamu tidur"
Sena langsung pergi meningalkanku. Apa aku yang membuatnya menangis lalu pipi yang merah itu apa Rio yang melakukannya?"
Sebaiknya aku kekamarku sebelum anak dirahimku ini masuk angin.
pov end.
...
23:00 kamar Sena /Rio
Sena mengeluarkan semua isi tasnya. Sena mencari sesuatu yang sangat penting untuknya.
"Kemana sih?"
Sena terlihat sangat panik dan cemas. Sena membuka semua laci meja riasnya namun tidak menemukan yang dia cari.
Mendengar suara gaduh Rio pun membuka kelopak matanya dan langsung mendapati Sena yang terkihat panik.
"Obatku dimana?" lirih Sena sembari mengingat ditaruh kemana obatnya.
"Apa sudah habis lalu aku tidurnya gimana?"
Sena langsung keluar kamar. Dia ingin menuju dapur melihat obat diP3K berharap ada obat yang dicarinya.
Rio turun dari tempat tidur mengikuti Sena dari belakang. Rio hanya melihat apa yang Sena lakukan lalu kembali lagi kekamar.
Setelah menelan tiga pil obat tidur Sena kembali lagi kekamarnya. Sena memiliki pernyakit yang membuatnya tidak bisa tidur dan dilanda kecemasan namun semua itu iya sembunyikan dari Rio atau pum keluarganya. Selama ini Sena berjuang sendiri untuk menyembuhkan pernyakitnya ini.
Sena membaringkan tubuhnya disamping Rio yang memejamkan mata. Obat tidur yang Sena minum mulai bereaksi kini kedua matanya mulai menutup dan saat itu juga Rio membuka matanya lalu menoleh kearah Sena yang sudah tertidur.
Rio turun tempat tidurnya menuju dapur. Rio ingin tahu apa yang Sena minum.
Sesampainya didapur Rio langsung mencari bungkus obat yang Sena minum dan untung saja plastik sampah sudah diganti jadi Rio gampang mencarinya.
"Inikan oba tidur?"
Rio terkejut melihat bungkus obat tidur yang baru saja ia ambil dari tempat sampah.
"Jadi selama ini Sena meminum ini?"
Sekarang Rio tahu kenapa Sena bisa tidur senyenyak itu karena Sena meminum obat tidur hingga tiga pil sekaligus.
...
03:00
Rio meraba sisi sebelahnya. Rio tidak merasakan keberadan Sena. Rio membuka matanya langsung mendapati tempat Sena kosong.
Rio melihat kearah meja rias Sena. Rio melihat Sena yang tengah duduk menatap cermin dengan gelagat mencurigakan. Dari pantulan cermin Rio dapat melihat Sena yang tengah menggigit kuku jarinya dengan raut wajah ketakutan.
"Sayang?"
Rio menghampiri Sena yang terlihat gelisah. Sena terus saja menggigiti kuku jari tangan kanannya tanpa merespon Rio.
"Sena kamu kenapa?"
Rio langsung meraih pergelangan tangan kanan Sena agar Sena tidak menggigiti kukunya.
"Kamu kenapa?"
Sena masih tidak merespon bahakan dia semakin terlihat ketakutan. Pandangan mata Sena tidak lurus kedepan Sena terus melihat kesamping.
Rio mengajak Sena kembali tidur. Sena masih terlihat ketakutan. Rio tidak tahu apa yang terjadi dengan Sena sekarang tapi yang jelas dirinya harus menenangkan Sena.
"Sayang, aku disini kamu tidak usah takut"
...
07:00
Rio menatap heran Sena yang kembali normal seperti biasa. Sena tengah bersiap untuk pergi.
"Semalam kamu kenapa?"
"Aku cuma mimpi buruk. Aku pergi mungkin sore aku baru pulang"
"Iya"
Sena langsung keluar kamar. Rio merasa heran karena Sena terbangun dari tidurnya pada dia menelan tiga pil tidur.
"Apa yang Sena sembunyikan?"
....
Sena turun dari taxi menuju tempat yang menjual obat yang biasa ia minum. Sena menuju klinik poli jiwa dan berbicara dengan dokter yang selama ini menggobatinya.
Sena menghelanapas lalu menuju raungan dokrer yang biasa Sena kunjungi.
Karena tidak ada antrean Sena langsung diarahkan untuk masuk. Sena memasuki ruangan yang terasa sangat nyaman dan tenang.
"Obatnya sudah habis?"
"Iya"
"Duduklah"
Sena duduk dikursi yang mempunyai sandaran punggung dan juga kaki. Dokter wanita itu berjalan menuju sudut ruangan untuk menyalakan pemutar musik yang membuat suasan semakain tenang.
"Dok, kenapa saya tidak bisa sembuh padahal saya meminum obat secara teratur" keluh Sena yang merasa dirinya semakin sakit dalam artian yang berbeda.
"Anda yang tenang jangan panik kalau sampai panik itu bisa menambah gejala yang muncul"
"Dok apa saya ini gila?"
"Tidak hanya saja ada ganggun kecemasan yang berlebih sepertinya anda mengidap gangguan bipolar disorder"
"Bipolar?"
"Apa anda pernah mengalami hal yang membuat anda merasa cemas atau semacamnya?"
"Saya"
"Ceritakan semuanya yang membuat anda cemas. Saya akan merahasiakan semuanya terlebih anda tidak mau bercerita dengan keluarga anda"
Sena terdiam cukup lama dan dokter wanita ini setia menunggu Sena bercerita. Dokter ini paham betul apa yang dialami Sena.
"Saya membuat kesalahan yang saya sesali sampai detik ini"
"Kesalahan apa yang membuatmu seperti ini?"
Air mata Sena mulai membasahi pipinya saat mengulang lagi masah kelam itu. Masa dimana dirinya melakukan hal bodoh yang membuatnya seperti ini.
"Kesalahan terbodoh dalam hidupku, aku membunuh janinku sendiri"
"Coba ceritakan lagi lebih jelas"
"Setelah dua bulan pernikahan saya dipercaya Tuhan untuk menjaga malaikat kecil namun disaat itu juga karir saya menanjak dan Ibu saya sebangai manajer dia menerima semua tawaran perkejaan itu walau dia tahu saya tengah mengandung"
"Lalu?"
"Aku sesekali menolak tapi dia terus memaksaku. Dia meyakinkanku kalau kesempatan itu peluang emas untuk masa depanku. Dia menyuruhku untuk menggugurkan kandunganku. Waktu itu aku masih percaya keputusan ibuku, dia juga mengatakan kalau aku bisa hamil lagi tapi ini sudah lima tahun aku belum juga hamil. Aku takut kehilangan suamiku"
"Jadi sekarang kamu takut kehilangan suamimu?"
"Iya. Dia yang selalu mendukungku tapi saat ini dia ingin bercerai denganku"
"Kenapa kamu tidak mengatakan hal ini kepada mereka?"
"Apa mereka bisa menerima ini? aku saja tidak bisa menerima keadaan ku ini apa lagi mereka? yang ada mereka akan mengirimku keRumah sakit jiwa"
Dokter wanita ini menghela napas. Dirinya hanya bisa memberi obat dan nasehat sebenarnya ini semua tidak akan berhasil kalau lingkungan disekitarnya tidak mendukungnya terlebih Sena tidak ingin keluarganya mengetahui ini semua.
"Jangan berpikiran seperti itu. Anda belum mencobanya pasti mereka akan mendukung anda"
"Mendukung? yang ada mereka akan menjauhiku dan mereka akan berpikir kalau aku ini aib. Mana ada yang menerimaku dengan kondisi seperti ini. Aku dibenci mereka karena aku tidak bisa mengontrol emosiku dan kecemasan yang tidak mereka pahami"
"Sebaiknya anda beristirahat disini sembari menunggu saya menyiapkan obat"
"Baiklah"
Sena memejamkan matanya. Perasaannya kini sedikit tenang. Penyesalan selalu datang diakhir, Sena hanya ingin berbakti pada Ibunya. Dia percaya sepenuhnya pada wanita yang melahirkannya tapi dia harus menelan pil pahit kalau wanita yang melahirkannya hanya ingin ketenaran dan kebanggaan saja dilingkungan sosialitanya.
..
14:00
Arfan berdecak kesal karena jalanan yang macet dan dicuaca yang panas ini.
"Kalau tadi tahu akan macet aku tidak akan keluar rumah"
Arfan menurunkan kaca jendela mobilnya dan ia langsung melihat seseorang yang ia kenal duduk dihatle bus.
"Sena?"
Arfan dapat melihat jelas Sena yang tengah duduk sendiri dan perutnya rata.
"Sebenarnya ada apa ini?"
Arfan terus mengawasi Sena. Sebelum kesempatan emas ini hilang Arfan langsung memotret Sena untuk bukti ke Rio namun sedetik itu Arfan melihat mobil hitam berhenti didepan halte bus. Arfan tercengang saat Rio dan Angel keluar dari mobil itu. Mereka menghampiri Sena dan mereka terlihat ngobrol biasa berarti Rio mengetahui ini semua.
"Kak, kamu benar benar keterlaluan!"
Arfan sangat kecewa dengan Rio yang ikut berbohong dan bersandiwara seperti Sena. Arfan ingin tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ini namun apa daya ini kenyataan yang harus ia terima.
"Kak, aku ngga percaya kakak bisa berbuat seperti ini padahal kamu seorang yang aku kagumi. Kemarin aku ingin jadi sepertimu tapi sekarang aku tidak ingin lagi, aku tidak ingi jadi pembohong sepertimu!"
Sura telakson mobil dibelakanya menyadarkannya. Arfan langsung melajukan mobilnya menjauh sembari berpikir bagaimana mencari tahu semua kebenaran yang ada.
"Jadi mereka bertiga sekongkol. El, aku benar benar ngga nyangka kamu terlibat dalam semua ini.. eh tapi? ini jadi sangat membingungkan, Sena tidak hamil dan yang hamil itu Angel, apa Angel rahim pengganti?"
Arfan menginggat lagi kejadian yang telah berlalu. Arfan mengigat lagi saat sifat Rio dan penampilan Rio yang berubah. Sifatnya yang santai dan fisiknya yang lebih sehat dari sebelumnya juga kemarin saat Angel datang kekantor Rio.
"Sudah berapa lama Angel dikehidupan kakak?"
Arfan menduga Angel sudah lama tinggal dengan Rio dan Sena. Arfan memutuskan untuk mencari tahu latar belakan Angel namun sepertinya tidak akan semudah itu terlebih dia meyakini kalau Angel itu bukan keponakan bi Inda.
"Aku harus mulai dari mana? Tuhan aku mohon tunjukan jalannya untukku"
Arfan teringat saat Rio mentraktir para bawahan dengan nasi uduk bu Jihan. Setahu Arfan dari dulu Rio tidak makan dipinggir jalan dan itu menimbulkan kecurigaan dihati Arfan.
"Sebaiknya aku kesana, siapa tahu akan mendapatkan petunjuk disana"
Mobil Arfan menuju warung nasi bu Jihan.
...
Mobil Rio
Angel duduk dikursi samping Rio sedangkan Sena duduk dikursi belakang. Angel menoleh kearah Sena yang tanpak melamun sembari melihat keluar jendela mobil.
"Sena kenapa?" tanya Angel ke Rio. Rio sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi kepada Sena.
"Aku tidak tahu"
"Oh. tapi kamu harus tahu ini"
"Apa?"
"Anak kamu minta makan dan aku mau masakan ibuku"
"Iya nanti aku akan belikan"
Mendengar ucapan Angel dan Rio yang penuh kehangatan Sena tidak merasakan apapun ini efek dari obat yang telah ia konsumsi dan dokter menyarankannya untuk kembali lagi keklinik dua hari lagi.
...
Warung Nasi bu Jihan
Arfan langsung masuk kedalam warung yang sangat berbeda dari senbelumnya. Warung ini terlihat sangat moderen dan berkelas.
"Bu, nasi uduk laluknya lengkap yah?"
"Ia. Duduk saja dulu nanti saya antar" ucap Jihan dengan ramahnya seperti bisanya. Arfan menyadari sesuatu yang sangat penting yaitu wajah pemilik warung ini mirip seperti Angel. Arfan menduga kalau wanita didepannya ini ibunya Angel.
"Iya. umm buk disini ada toilet?"
"Oh dari sini lurus lalu belok kiri"
"Makasih buk"
Arfan langsung bergegas kedalam. Dirinya tidak ingin ketoilet hanya alasan saja supaya bisa masuk kedalam. Arfan ingin mencari kebenaran soal Angel.
Keberuntungan tengah berpihak kepada Arfan. Di dekat dapur Arfan melihat dua bingkai foto yang membutnya terkejut. Satu foto ada fotonya Angel dan satu lagi terdapat fotonya Rio yang bersama Jihan dan yang lainnya mungkin foto ini diambil saat selesai merenovasi warung.
Arfan langsung memotret kedua bingkai foto didepannya.
"Apa Angel simpanannya kak Rio?"
..
Arfan tengah menyantap makanannya sembari melihat jalan raya dari dalam warung. Sebuh mobil memasuki parkiran dan Arfan tahu mobil itu milik siapa.
Arfan langsung memakai topinya lalu menunduk saat Rio keluar dari mobil berjalan memasuki warung.
"Eh Pak Rio, selamat sore"
"Sore bu, pesan yang biasa yah"
"Iya, Angel tidak ikut?"
Arfan menguping pembicaraan Rio dan Jihan. Arfan semakim yakin kalau pemilik warung ini ibunya Angel tinggal dirinya memastikan langsung keJihan.
"Tidak"
"Yah padahal aku ingin sekali bertemu dengannya. Apa dia kurus?" tanya Jihan dengan nada ragu.
"Bu, ibu tenang saja. Putri ibu sehat dan pipinya tambah tembem"
"Oh ya? syukurlah kalau begitu saya jadi tenang"
Arfan mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak sudi lagi memanggil Rio dengan sebutan kakak. Dirinya merasa malu memiliki kakak sepeeti Rio yang pandari bersandiwara.
Mendengar pembicaraan mereka berdua Arfan dapat menyimpulkan kalau wanita ini tidak tahu putrinya tengah hamil.
"Ck, aku akan membongkar semuanya dan aku tidak akan menyerah" lirih Arfan yang bertekat kuat. Arfan ingin memberi keadilan untuk Angel dan ibunya karena Arfan dapat menerka apa yang telah terjadi namun butuh lebih banyak bukti lagi. Arfan menduga kalau Angel dijadikan rahim pengganti oleh Rio dan Sena.
Setelah Rio pergi Arfan langsung menghampiri Jihan untuk memulai pembicaraan yang ringan namun tidak menimbulkan kecurigaan dari Jihan.
"Emm bu, jualannya sudah lama?"
"Baru lima tahun ini"
"Oh, tempatnya nyaman yah terus muralnya bagus pasti biyaya pembuatannya mahal?"
"Kalau itu sih saya kurang tahu, Habisnya ini dibantu"
"Dibantu siapa? apa orang yang tadi?"
"Iya, dia sudah banyak sekali membantu saya dan keluarga saya"
"Pantas saja tadi terdengar ramah, oh iya bu tadi saya lihat foto gadis cantik didepan dapur dan maaf saja kurang sopan melihat lihat tanpa meminta ijin terlebih dahulu"
"Tidak apa apa. Itu anak sematawayang saya namanya Angel"
"Apa dia sudah menikah?"
"Belum, dia sedang berkerja dirumah orang yang tadi"
"...."
....***...