Not A Perfect Marriage

Not A Perfect Marriage
Bab 72 Angel. pulang lah!



Rumah sakit. 22:00


Rio duduk termenung di ruang tunggu di temani Arfan yang menatap Rio cemas. Rio masih memikirkan perkataan Dokter soal Angel yang kelelahan bukan cuma fisiknya namun juga pikiran dan emosinya yang tidak setabil.


"Kak?"


"Mending kamu pulang."


"Aku tidak mungkin meninggalkan mu seperti ini." Arfan tidak mungkin meninggalkan Rio dalam kondisi seperti ini. Arfan sangat tahu Rio sangat mencemaskan Angel dan juga menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi pada Angel.


"Tolonglah, mereka pasti sangat cemas, menunggu di rumah."


"Iya...iya aku pulang tapi kalau ada apa-apa cepat telfon!"


"Iya, aku akan menemani Angel, dia pasti masih tertidur."


"Dokter bilang tiga atau lima jam lagi dia akan terbangun tapi ingat jangan mulai ribut dengannya atau keadaannya semakin parah." jelas Arfan panjang lebar. Rio hanya berdehem saja jujur dirinya juga tidak ingin berdebat dengan Angel.


"Titip mama papa sama Sena."


"Tidak usah memikirkan mereka, jangan lupa untuk membuat Angel mengerti akan apa yang akan dihadapinya kalau dia masih berurusan dengan Alex."


"Iya, bawel cepat pulang!" usir Rio dengan nada yang tak enak di dengar.


...


Markas VN.


"...Culik Angel, bawa dia padaku. Aku ingin kau membawanya ke dekat jembatan Vuix . Letakan dia di bawah pohon beringin itu, selebihnya aku ingin menghabisinya sendiri."


VN sangat senang dengan informasi ini dan honornya kan full kalau bisa membawa target ketempat yang di inginkan.


"Menculik itu hal mudah untuk ku, langsung saja ke sana."


Lexa menguping pembicaraan VN dari awal. Senyum misterius kini muncul di bibirnya.


"Saatnya bermain"


Lexa bergegas pergi bersamaan dengan VN yang mulai bersiap. Menculik orang di rumah sakit itu sangatlah mudah untuk nya terlebih di malam hari.


"Aku ingin melihat reaksi Alex saat melihat mayat kekasihnya. Ternyata bos ku? hah sudah lah sekarang domba juga bisa jadi pemangsa."


...


Rumah Sakit.


Rio masih menunggu Angel siuman. Raut wajahnya menunjukkan kecemasan. Rio menyesali ketidak mampuan membahagiakan Angel dan merasa dirinya selama ini egois, tidak memikirkan perasaan Angel.


"Sayang, aku mohon cepatlah sembuh. Jangan seperti ini? kau membuatku cemas."


Rio mengecup kening Angel cukup lama, berharap Angel bisa merasakan kecupannya di alam mimpi.


20 menit berlalu. Kini rasa ngantuk menyelimuti Rio bahkan sudah beberapa kali dirinya menguap.


"Sebaiknya aku membeli kopi agar tak semengantuk ini. Sayang, aku tinggal sebentar yah? cuma ke kantin kok?"


Rio meminta ijin ke Angel yang masih terlelap. Rio membenarkan selimut Angel lalu berjalan keluar ruangan.


Setelah Rio pergi, seorang Dokter pria memasuki ruangan dengan senyum yang manis di bibirnya. Langkahnya mendekati ranjang tempat Angel terbaring.


"Beautiful girl" pujinya dengan tangan yang mencabut jarum infus di tangan Angel. Dengan perlahan tubuh Angel kini berada dikedua tangannya. Dokter itu memindahkan Angel ke kursi roda lalu menutup tubuhnya dengan selimut. Dokter itu melihat lekat wajah Angel, dia langsung memakaikan masker bedah di wajah Angel dan membuat rambut indah Angel menutupi setengah wajahnya.


"Ini kurang menarik, andai kekasihmu ada disini pasti ini akan lebih seru." ucapnya dengan nada dingin.


Dokter itu langsung mendorong kursi roda itu keluar ruangan.


....


Orang-orang di sepanjang lorong tidak menaruh curiga sedikitpun bahkan Rio yang berpapasan dengan Dokter ini pun hanya melihat sekilas wajah Dokter dan pasien yang ada di kursi roda.


"Dasar bodoh." desisnya pelan.


...


Kosan Alex.


Alex terbangun karena nada dering ponselnya. Alex mengerutkan keningnya saat membaca nama yang tertera di layar nya. Panggilan masuk dari Lexa.


"Ngapain sih nih bocah!" kesal Alex yang langsung mengangkat sambungan telepon.


"Halo adikku?"


Alex langsung berdecak kesal saat orang di seberang mulai berbicara ngelantur.


"Jangan bercanda! ada urusan apa!" tanya Alex ngegas. Jujur Alex sudah sangat capek hari ini dan tidak ada waktu untuk meladeni orang seperti Lexa.


"Wihh... santai Bro. Aku punya tawaran menarik untuk mu."


"Aku tidak tertarik! simpan saja untuk dirimu!" tolak Alex mentah-mentah. Terdengar suara tawa Lexa yang meremehkan.


"Kamu yakin? ini soal dia." ucap Lexa dengan piciknya. Alex langsung bereaksi, Alex tahu siapa yang Lexa maksud.


"Aku tahu kamu cemas sekarang, aku akan memberitahu mu apa yang akan VN lakukan terhadap kekasihmu dan imbalannya kamu harus membunuh VN."


"Gila! otak mu sudah terbalik! dia ayahmu!" bentak Alex kasar. Lexa terdengar mengumpati Alex.


"Aku tidak tuli! jangan teriak, bego! dia juga Ayahmu, kita kembar dan dia yang sudah membuang mu di jalan. Dia juga yang menyekap ibu selama ini. Kamu juga sudah membunuh ayah angkat mu jadi kenapa tidak."


Alex sebenarnya sudah mengetahui hal ini sejak lama namun dirinya hanya tidak menghiraukan apa yang telah terjadi di masa lalu.


"Kau ingin aku membunuhnya atau menyuruhku untuk bunuh diri. Kamu tahu maksudku. Kau juga sama saja seperti b*jingan itu."


"Cih.. jangan samakan aku dengan iblis itu! mau atau tidak? tenang saja aku tidak terburu-buru untuk itu. Bagaimana? setuju?"


"Baiklah, tapi ini yang terakhir. Aku tidak mau lagi berurusan denganmu ataupun dunia neraka mu itu!"


"Tergantung sikap mu, VN akan menculik Angel di rumah sakit. Pergilah ke dekat jembatan Vuix. Pohon beringin itu tepatnya, bukan VN yang akan menghabisi Angel, jadi cepatlah, ada kemungkinan dia akan selamat!"


...


Parkiran rumah sakit.


Pria ini langsung memasukan Angel kedalam mobil, jas dokter yang ia kenakan tadi kini dibuangnya begitu saja di tempat sampah, berharap "buruan"nya melihat jejak yang ia tinggalkan.


"Ini tidak menarik, kenapa wanita secantik mu mempunyai suami otak udang seperti dia?"


Pria ini langsung menggambil tisu basah di dekat kemudi lalu diusapkan ke pelipisnya, nampak goresan tinta tato terlihat dengan jelas.


"Jangan panggil aku VN kalau tidak bisa melakukan hal sekecil ini. Tugas hampir selesai." ucap VN yang langsung menginjak pedal gas mobilnya, melaju menjauh dari rumah sakit.


...


Dekat Jembatan Vuix.


VN langsung mengeluarkan Angel dari mobil. Di baringkannya Angel dibawah pohon bringin dengan kondisi tangan dan kaki terikat dan mulut tertutup lakban hitam.


"Sayang sekali wanita secantik mu harus dibunuh, kalau kamu bukan kekasih putraku pasti aku sudah bermain denganmu sebelum menyerahkan mu padanya. Aku tidak akan mengambil apa yang putraku miliki, sekarang tergantung ke keberuntungan mu dan Alex yang menentukan nasibmu."


VN melihat kearah selatan tepatnya ke mobil silver yang seakan mengawasi VN. VN tersenyum melihat lampu mobil yang mati, berarti tugasnya sudah selesai.


"Selamat tinggal calon menantuku." VN berjalan menjauh dari pohon beringin.


..


Angel perlahan membuka matanya, dirinya langsung terkejut melihat ke sekeliling.


"Mmmpp." Angel merasakan sakit di tangannya, ikatan ini sangat kuat.


"Rio" ucap Angel dalam hati, rasa takut kini menjalar ke seluruh tubuhnya. Ditempat seperti ini sangat kecil ada orang yang lewat untuk di mintai bantuan.


"Angel!"


Angel mendengar samar-samar suara yang ia kenal. Angel melihat Sena yang berlari kearahnya.


"Angel! aku akan membuka ikatannya."


Sena langsung membantu Angel duduk lalu membuka pelan lakban hitam yang menutup mulutnya.


"Sena, aku takut." ucap Angel dengan air mata yang berlinang.


"Kamu tenang yah, ada aku disini dan Rio sebentar lagi datang." ucap Sena sembari membuka ikatan di tangan dan kaki Angel.


"Terima kasih." Angel langsung memeluk Sena. Sena pun membalas pelukan Angel.


"Kamu sekarang tenang yah?" Sena melepas pelukan Angel lalu menghapus air mata Angel.


"Jangan takut ada aku disini. Aku akan menelfon Rio agar cepat datang." Ucap Sena yang langsung membantu Angel berdiri.


"Kamu tunggu disini, aku akan segera kembali." pinta Sena yang langsung dibalas anggukan kepala dari Angel.


Sena memasuki mobil dan meraih sesuatu. Senyum tipis kini terukir manis di bibirnya.


"Welcome to hell."


Sena lantas kembali menghampiri Angel. Angel terlihat sedang mengagumi keindahan jembatan yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Jembatan itu terbentang di atas sungai yang lebar dan sepertinya dalam, lampu yang menghiasi jembatan itu terlihat sangat indah. Hujan sepertinya turun di hulu sungai hingga debit air terlihat sangat deras.


Sena berjalan mendekat dengan satu tangan yang ia sembunyikan di balik tubuhnya. Pandangan matanya tertuju pada Angel yang tengah membelakanginya.


"Angel."


Mendengar namanya dipanggil, Angel pun berbalik badan. Angel melihat Sena yang menangis.


"Kamu kenapa?" tanya Angel cemas.


"Tidak apa, aku hanya akan kehilangan orang yang aku sayang." ucap Sena langsung menarik tangan Angel ke pelukannya.


"Se... Sena?"


....


Rumah sakit.


Rio sangat cemas saat dirinya kembali dari kantin, Angel sudah tidak ada di ruangan. Rio sudah bertanya pada suster maupun dokter yang merawat Angel namun mereka tidak tahu Angel di mana serta Angel yang masih dalam pengaruh obat tidur tidak mungkin pergi sendiri.


"Dok, di ruang rawat ada cctv kan?"


"Ada, aku kan antar keruangan monitor."


Mereka langsung bergegas. Rio sendiri sudah menghubungi Arfan untuk segera ke mari.


..


Rio mengepalkan tangannya melihat seorang pria yang memindahkan Angel ke kursi roda dan harusnya ia curiga saat berpapasan dengannya saat di lorong. Padahal dirinya sangat dekat dengan Angel.


"Aku tidak mengenalinya, mungkin kah dia orang asing?" ucap Dokter yang sudah lama berkerja disini dan tidak mengenali pria itu.


Rekaman cctv itu menunjukan gerak-gerik pria yang membawa Angel. Pria itu sangatlah tenang hingga tidak ada yang mencurigainya.


"Dia di bawa pergi" ucap operator yang langsung mencatat plat nomor kendaraan.


"Ck!" Rio langsung bergegas menuju parkiran dan berharap dirinya dapat mengejar mobil yang menculik Angel.


Pihak rumah sakit langsung menghubungi ke polisian untuk melaporkan tindak kejahatan ini.


...


Rio mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi seraya berdoa untuk keselamatan Angel.


"El maaf aku tidak bisa menjagamu, aku mohon bertahanlah!" perasaan Rio campur aduk terlebih yang membawa Angel bukan lah Alex, mungkin kalau Alex yang membawanya akan ada sedikit kelegaan karena mereka saling mencintai dan Angel kemungkinan akan baik-baik saja.


....


Angel merasakan sakit yang luar biasa di bagian perutnya. Sena menikam Angel dengan belati tajam.


"Kamu itu duri dalam hidup ku, kamu merebut semu yang aku miliki, inilah yang pantas kamu dapatkan!" bisik Sena tepat ditelinga Angel. Air mata Angel turun dengan sendirinya, selama ini Sena lah yang meneror dirinya.


"Ke... kenapa kamu melakukan ini?"


Angel tidak bisa melawan Sena karena tubuhnya masih di pengaruhi obat bius yang VN berikan saat di mobil.


"Bacot! orang seperti mu itu harusnya mati!" Sena langsung menarik dan menusukkannya lagi hingga lima kali.


"Aaa.."


Sena mencabut belati dari tubuh Angel lalu mendorong Angel ke bawah jurang yang langsung mengarah ke sungai yang beraliran deras.


"Tidak, Angel!" teriak Sena yang langsung tertawa dengan kerasnya. Tawa yang mengerikan dan menakutkan.


Sena sangat senang melihat Angel yang langsung hilang di matanya. Sena melihat belati yang berlumuran d*rah bahkan bajunya yang putih kini berwarna merah.


"Aku membunuh Angel? ti...tidak! aku...aku? apa yang aku lakukan?" Sena langsung menjatuhkan belati yang ia pegang. Sena menangis dengan keras namun senyum mengerikan muncul di wajahnya.


"Selamat tinggal, membusuk lah dengan tenang." Sena menghapus air matanya, dia memandang ke arah langit.


"Ma, aku sekarang jadi pembunuh tapi aku senang karena dia sudah tidak ada kini aku bahagia dengan Rio dan Kevin, mereka seutuhnya milikku. Ssstttt... mama diam yah? jangan beritahu Rio kalau aku yang membunuh istrinya."


Sena memeluk dirinya sendiri dengan bibir yang bersenandung. Sena merasa beban di pundaknya hilang dan rasa cemas kehilangan Rio telah sirna karena Angel sudah di lenyap kan.


....


Alex berdiri mematung saat melihat Angel yang terjatuh ke jurang.


"Aku terlambat, dia? aku kan membuatmu menderita dan akan ke buat kau mati perlahan."


Alex langsung bergegas menuju motor yang terparkir agak jauh sebab dia tidak ingin di ketahui keberadaanya oleh VN.


..


Alex memacu motornya mengikuti alur sungai yang bersebelahan dengan jalan.


"Kenapa! aku sangat lah bodoh!" ucap Alex dalam hati. Alex benar-benar kecolongan, andai saja dia tahu Angel di rumah sakit pasti dirinya akan mengawasi dari jauh dan tidak akan membiarkan VN mencelakai Angel.


15 menit berlalu.


"Angel?"


Alex sudah putus harapan sebab debit air yang deras dan juga air terjun itu membuatnya memikirkan hal yang sangat buruk.


"Aku akan membunuhnya! VN ini malam terakhirmu dan Sena ini awal dari kehancuran mu. Rio bodoh! aku akan membuatmu menderita!" sumpah Alex dengan air mata yang kini telah membasahi wajahnya.


....


Sena menatap api yang membakar bajunya yang bernoda d*rah serta belati yang ia gunakan untuk melukai Angel sudah di buangnya ke sungai.


Sena sudah menyiapkan baju ganti dan alasan yang logis untuk mengelabui Rio tentang ketidak adaan nya di rumah.


"Rio milikku dan selamanya begitu. Aku sudah muak berpura-pura menerima keberadaan Angel. Ri, aku mencintaimu sangat mencintaimu! ini aku lakukan untukmu! demi kita dan Kevin. Dari awal Kevin milikku, perjanjian itu harusnya berakhir dari dulu kalau kamu tidak mencintai Angel. Ini salah mu Ri! salahmu Angel meninggal."


Drttt....Drt...


Sena melihat layar ponsel di tangannya. Tertera nama suamiku di ponselnya. Sena tersenyum senang lantas mengangkat panggilan telepon itu.


"Sena, kamu dimana?" Suara Rio terdengar gusar.


"Aku di apartemen, maaf tidak memberitahumu. Angel baik-baik saja kan?"


"Angel di culik."


"Apa! jangan bercanda, dia sama kamu kan?" Ucap Sena dengan nada panik.


"Sudah-sudah, kamu di apartemen saja. Jangan kemana-mana, aku takut kamu juga kenapa-napa. Aku juga sudah lapor polisi."


"Aku mau ikut nyari Angel!"


"Sayang jangan, kamu istirahat saja. Aku sama Arfan kok, lagian nomor plat mobil yang membawa Angel sudah diketahui." Rio terdengar lebih tenang sekarang. Sena tersenyum miring karena orang yang di cari-cari dengan susah payah telah lenyap dari dunia ini.


"Iya sudah, kamu hati-hati yah?"


"Iya sayang."


Rio menutup sambungan telepon. Sena terkekeh geli. Semua yang Rio lakukan akan berakhir sia-sia. Sena menyewa orang yang licik dan cerdas serta bos mafia, mana mungkin plat nomor itu asli.


"Cepat atau lambat kamu pasti akan menemukan mayatnya."


...


Dua hari berlalu.


Rumah Riko Amanda.


Jihan masih terap tidak mau makan dan terus saja melamun. Tatapan mata kosong, dia sangat merindukan Angel. Jihan dan Erik sangat marah pada Rio yang tidak bisa menjaga Angel dan membiarkan Angel berhubungan dengan matan narapidana kasus pembunuhan.


"Mau sampai kapan, kamu seperti ini?" ucap Erik sembari meletakkan nampan di atas meja.


"Aku juga ingin Angel cepat di temukan, tapi sampai saat ini belum ada petunjuk. Aku tidak mau kamu sakit, putri kita hilang dan kamu ingin menambah beban pikiran ku? ucap Erik.


"Beban pikiran mu?" Jihan langsung menoleh dengan tatapan kemarahan.


"YA SUDAH TINGGAL KAN AKU SAJA!" Teriak Jihan dengan penuh amarah. Erik hanya tersenyum. Selama ini Erik menyembunyikan perasaan yang sangat menyiksa ini. Semua beban di pundaknya seakan perlahan membunuhnya. Erik selama ini menyembunyikan tangisnya, dia tidak ingin terlihat lemah di depan Jihan maupun Angel.


"Apa itu yang ada di benak mu? kamu selalu saja menganggap diri mu lah yang paling menderita. Apa kamu pikir aku akan melakukan itu?"


Erik langsung menarik Jihan dalam dekapannya. Jihan hanya terdiam beribu bahasa. Rasa aman di dalam pelukan Erik membuatnya tenang.


"Jangan seperti ini, kamu harus sehat, nanti kalau Angel pulang dan kamu terbaring sakit bagaimana? Angel pasti akan sedih. Aku mohon."


"Maaf aku selalu merepotkan mu."


"Tidak apa, sekarang makan yah? aku suapin."


...


Kamar Rio Sena.


Sena tengah menemani Kevin yang tertidur. Sena tersenyum saat melihat Rio yang memasuki kamar. Rio dari kemarin tidak pulang, dia terus mencari Angel. Riko dan Amanda juga ikut mencari Angel sedangkan Arfan, dia di sibukkan dengan urusan kantor sembari menunggu kabar dari kepolisian.


"Kamu mau pergi lagi?" tanya Sena saat Rio ingin keluar kamar.


"Angel belum ditemukan, aku harus cari nya."


"Aku tahu setidaknya makan dulu atau tidur sebentar saja nanti kamu sakit."


Mendengar ucapan Sena, Rio memberhentikan langkahnya. Dia langsung menoleh kearah Sena.


"Kamu pasti senang kan? Angel menghilang." tuduh Rio yang langsung mendapat tatapan mata yang tidak bisa di artikan.


"Kenapa aku harus senang? apa kamu menyalahkan ku? apa kamu menuduhku atas hilangnya Angel?"


"Iya, mungkin saja itu ulahmu. Kamu yang selama ini membenci Angel kan?"


Sena menatap Rio tidak percaya. Air mata Sena kini jatuh perlahan. Rio nampak kesal kepada Sena.


"kenapa aku? kenapa tidak menyalakan dirimu sendiri, kamu penyebab Angel menghilang. Kamu yang selalu egois dalam segala hal, kamu juga yang menyuruh Arfan pulang, andai saja kamu biarkan Arfan tetap menemanimu ini semua tidak akan terjadi."


"Aku hanya ingin Arfan menjaga kalian. Apa itu salah?"


"Menjaga? bukankah kamu cemburu bila Arfan dekat dengan Angel. Sudah lah Ri, aku tidak ingin berdebat dengan mu, semua ini membuktikan kalau kamu tidak menginginkan ku lagi. Sekarang aku tahu kamu ingin menceraikan ku, hanya Angel yang ada di dalam hatimu. Sekarang aku akan pergi, percuma saja aku di sini. Tidak ada yang perduli dengan perasaan ku di rumah ini, termasuk suamiku sendiri."


Sena bangkit dari duduknya, meraih tas kecil dan kunci mobil miliknya. Rio hanya memperhatikan saja tanpa berucap apapun.


"Kevin, mama Sena pergi yah? kamu yang anteng sama bibi. Oke?" Sena mengecup lembut kedua pipi gebmul Kevin.


Sena menghela nafas sesaat lalu menghapus air matanya. Sena melangkah menuju pintu kamar, dia melewati Rio begitu saja. Rasanya sangat sakit dirasa Sena.


"Jangan pergi." cegah Rio. Sena memberhentikan langkah nya.


"Tidak perlu berpura-pura, aku sudah cukup dan tidak mau lagi merasakan sakit hati oleh mu, carilah Angel sesukamu, setidaknya bermain sebentar dengan Kevin, dia merindukanmu seperti ku."


Keduanya saling membelakangi. Sena mulai melangkah kan kakinya kembali namun.


"Maaf." Rio langsung memeluk Sena dari belakang. Pelukan ini membuat dadanya sesak dan semakin sesak. Rio baru perduli jika hatinya sudah sangat hancur.


"Aku muak kata itu!" ucap Sena sembari mencoba melepaskan pelukan Rio.


"Aku tahu, aku tidak ingin kehilangan lagi. Kamu istri ku, aku tidak akan menceraikan mu. Aku tidak tahu harus apa, plat nomor itu palsu dan tidak ada petunjuk tentang keberadaan Angel, itu yang membuat ku gampang emosi. Aku minta maaf."


"Aku tidak ingin menambah beban mu, aku memaafkan mu hanya untuk kali ini saja."


"Terima kasih." Rio langsung membalikan tubuh Sena dan langsung menciumnya tepat dibibir.


"Jangan ulangi lagi!" kesal Sena yang merasa di permainkan.


"Iya, aku lapar, apa kamu bisa mengambilkan nya untuk ku."


"Iya."


...


Parkiran kantor.


Arfan terburu-buru memasuki mobilnya. Baru saja dia menerima telepon dari kepolisian bahwa telah di temukan mayat perempuan di tepi sungai dengan ciri-ciri fisik yang mirip dengan Angel dan juga memakai pakaian pasien. Arfan berharap itu bukan Angel karena itu Arfan ingin memastikannya langsung. Arfan masih ingat jelas Angel memakai anting stroberi yang dulu ia belikan dan juga kalung yang Rio berikan yang terdapat bandul kalung huruf "EL".


"Itu pasti bukan Angel! Angel ngga mungkin... argggghhh aku benci dunia ini!"


..


Rumah Sakit.


Semua orang langsung pergi ke rumah sakit saat Arfan meminta mereka untuk datang. Arfan Sendiri tidak mengatakan apa-apa, dia hanya meminta untuk datang.


"El, aku... aku tidak bisa menerima ini! aku harap dia bukan kamu."


Arfan merasa terpukul saat melihat mayat yang ditemukan, wajahnya tidak bisa dikenali namun memiliki anting dan kalung yang sama dengan Angel.


"Arfan?"


Arfan langsung menoleh ke arah Rio namun sedetik itu pun mengalihkan pandangannya. Jihan merasakan kecemasan di dalam hatinya.


"Fan, Angel sudah ditentukan?" tanya Jihan langsung.


"Tan... Angel? dia."


"Bicara yang jelas!" tegas Erik. Amanda langsung memegang tangan kanan Jihan. mereka saling bertatapan sesaat. Amanda juga merasakan hal yang sama dengan Jihan.


"Polisi menemukan mayat di tepi sungai dan ciri-ciri fisik sama dengan Angel bahkan anting dan kalungnya sama."


"Jangan bilang kalau itu Angel! ANGEL TIDAK MUNGKIN MENINGGAL! KAMU PASTI BERCANDA!" teriak Jihan histeris. Tubuhnya seakan melemas hingga Amanda memegangi tubuhnya.


Rio langsung mencengangkan kerah Arfan. Seperti biasa Rio tidak bisa tenang.


"Jangan bercanda, hanya mirip bukan sama!"


"Aku juga berharap bukan dia, tes DNA itu jalan satu-satunya."


Rio melepas cengkraman tangannya dari kerah Arfan. Erik yang melihat sikap Rio merasa selama ini bersikap bodoh karena percaya pada Rio.


Sena datang dengan membawa Kevin. Sena merasa ada sesuatu yang terjadi.


"Ini ada apa? Angel sudah ditentukan?"


"Hampir." ucap Arfan. Arfan yang sudah melihat jasad itu hanya bisa berdoa kalau itu bukan Angel. Di tubuh jasad tersebut terdapat lima tusukan benda tajam dan kalau itu Angel berarti dia dibunuh.


Seorang polisi menghampiri mereka dengan membawa sesuatu.


"Selamat Siang."


"Pak, dia bukan istri sayakan?" tanya Rio berharap.


"Kami belum bisa memastikan, kondisi jasadnya mengenaskan dan mungkin anda mengenalinya."


Polisi itu memberikan plastik yang berisi anting kalung dan juga cincin. Rio menerimanya, kedua matanya memerah saat melihat benda-benda ini.


"Tidak mungkin, ini... ini milik Angel, ini cincin yang aku berikan." Lutut Rio seakan melemas dan air matanya mengalir dengan deras.


"Ri, jangan bilang itu Angel! menantuku tidak mungkin meninggal!" jelas Amanda.


"Angel." Jihan langsung jatuh pingsan. Jihan tidak sanggup bila jauh dari Angel.


Erik langsung mengambil alih rengkuhan Amanda ke Jihan. Sedangkan Riko langsung mengambil kursi roda yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Kami butuh sempel DNA untuk memastikan, apa kah benar itu orang yang kalian cari atau bukan."


...


Rumah sakit.


1 hari berlalu dengan berat. Hasil tes DNA pun telah keluar. Semua orang berharap jasad itu bukan Angel.


Amplop hasil tes DNA kini berada ditangan Erik. Perasaan campur aduk kini singgah dihatinya.


"Ayah berharap itu bukan kamu, nak."


Erik langsung membuka dan membaca kertas yang ada di dalamnya. Raut wajah Erik berubah, Erik menjatuhkan kertas yang ia pegang. Kakinya mundur beberapa langkah membuat yang lain merasa cemas.


"Yah?" Jihan menatap penuh harapan.


Rio memungut kertas itu dan membacanya.


"Ngga! ngga mungkin! Angel tidak mungkin meninggal! Ini pasti salah!" Rio langsung berlari masuk keruang Jenazah.


"Yah, jangan bilang itu Angel." pinta Jihan namun Erik mulai terisak.


"Angel." Jihan langsung jatuh pingsan dan untung saja Arfan sigap memegangi Jihan. Amanda dan Riko juga menangis dan Sena memeluk erat Kevin yang tengah tertidur.


Riko menghampiri Erik. Mencoba untuk menenangkannya.


"Kenapa putriku pergi secepat ini, aku sangat menyayanginya."


"Dia juga putriku, aku merasakan hal yang sama sepertimu."


...


Rio langsung memeluk tubuh dingin Angel. Rasanya seperti mimpi buruk kehilangan orang yang sangat ia cintai.


"Maaf aku tidak bisa menjagamu. Aku merindukan mu, aku sangat mencintaimu! El, bangun! jangan diam saja! kamu tidak boleh pergi, kita merawat Kevin! apa kamu tidak mau melihat Angel tumbuh dewasa? Kevin sangat membuthkan mu! AAAANGGGEEELLL!"


...


Dihari yang sama saat Angel diculik.


Seorang pria berdiri di tepi jalan, dengan disinari sorot lampu mobilnya.


"KENAPA! KENAPA KAMU MENGAMBIL ORANG YANG SANGAT AKU CINTAI! KENAPA KAMU MEMBERIKU COBAAN HIDUP SEPERTI INI! KAU MEMBERIKU SEORANG PUTRI TAPI KENAPA KAMU MENGAMBIL IBUNYA!"


Teriaknya dengan penuh emosi. Pria ini telah kehilangan teman hidupnya.


"Putri kecil Papa, pasti kamu sekarang sedang merindukan ibumu. Eh?"


Pria ini terkejut saat melihat sesuatu di tepi sungai. Karena penasaran dia pun mendekat ke sungai.


"Ya ampun!" Dia langsung berlari saat melihat perempuan yang tidak sadarkan diri.


"Apa dia masih hidup?" ucapnya yang melihat tubuhnya penuh luka. Pria ini langsung mengecek nadinya.


"Masih hidup." gumah nya. Pria ini melepas jaketnya lalu di selimuti nya tubuh perempuan ini.


"Aku harus cepat membawanya ke rumah sakit." Pria ini langsung membopong tubuh tak berdaya ini ke dalam mobilnya.


"Aku mohon bertahanlah!"


Pria ini langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


Bersambung....