
Rio tengah menyisir rambut Angel dengan hati-hati agar tidak membuat Angel merasa perih. Rio sesekali melihat kearah cermin dimana terdapat pantulan wajah cantik Angel.
"Kamu nggak kekantor?"
Angel menoleh kearah Rio. Rio hanya tersenyum tipis lalu mengecup kening Angel sekilas.
"Kamu masih sakit, aku nggak tega ninggalin kamu sendirian dirumah"
"Tapi kemarin? aku ditinggal"
"Kemarin ada suster yang jagain kamu"
"Oh"
Angel hanya ber"O"ria padahal hatinya sangat senang Rio menemaninya dirumah.
"Udah, mau diikat rambutnya?"
"Terserah"
"Digerai saja ya? kamu makin cantik kalau seperti ini"
.....
Semilir angin menerpa wajah Angel seakan angin membelai lembut wajahnya. Angel tengah duduk diayunan atap rumah dengan senyum yang menggembang dibibirnya sedangkan Rio tengah menggambil cemilan.
"Indahnya, kenapa dari kemarin-kemarin aku tidak kesini?"
Angel pov
Apa ini mimpi? aku tidak bisa berpikir jernih pernikahan ini? hufff... Awalnya aku menolak tapi semakin ke sini rasanya mulai berbeda. Senyuman itu, senyuman yang membuat jantungku berdebar. Wajah tampan itu selalu hadir dimimpiku. Ah.. aku tahu ini salah, aku mencintai seorang yang sudah beristri dan ini hanya perjanjian semata tapi perasaan yang tumbuh dihatiku ini? aku tidak bisa menggungkirinya. Aku mencintainya walaupun aku tidak boleh berharap banyak. Kenapa hidupku seperti ini? entahlah hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untukku walau terkadang aku ingin bertanya kepadanya "Kenapa Engkau memberiku cobaan hidup seperti ini? apa Engkau membenciku? kalau benar kenapa aku dilahirkan didunia ini?" Aku hanya manusia yang tak sempurna, hatiku rapuh.
Tanpa kusadari air mataku kini telah membasahi kedua pipiku, Aku memang cengeng dan pantas saja Suamiku selalu mengataiku cengeng. Aku penasaran apa dia memiliki perasaan yang sama kepadaku atau tidak. Hah.. semu ini membuatku pusing.
"Huufff"
"Kenapa?"
"Eh?"
pov end
"Kenapa?" tanya Rio kedua kalinya. Dirinya penasaran apa yang membuat istrinya membuang napas seperti itu.
"Eh? e...enggak kok?"
"Kirain ada apa"
Rio duduk disamping Angel. Angel berusaha bersikap sebiasa mungkin agar Rio tidak mengetahui kalau dirinya habis menangis. Angel menatap lurus kedepan. Pemandangan dari atas sini sungguh sangat indah, yah walau pun berdominasi gedung-gedung yang menjulang tinggi.
Rio menoleh kesamping. Dia heran tumben sekali istrinya ini tidak meminta cemilan yang ia bawa padahal istrinya sudah melihat apa yang dirinya bawa.
Senyum jahil Rio muncul dengan lebarnya. Rio ingin sekali membuat Angel kesal kepadanya.
Rio mendekatkan wajahnya kewajah Angel.
"Sayang?"
"Hemm..eh?"
Angel langsung menoleh dan tanpa sengaja bibirnya langsung menempel dibibir Rio. Angel buru-buru memundurkan kepalanya lalu menunduk sedangkan Rio menatap Angel dengan tatapan polos.
"Kok udahan?"
"Apaan sih?"
Senyum Rio menggembang saat rencan jahilnya berjalan mulus. Angel merasa pipinya memanas pasti sekarang pipinya sudah merah padam.
"Jangan ngambek gitu ah! jelek tahu!"
"Biarin!"
"Aku minta maaf, maafin yah? ntar dikasih hadiah"
Mendengar kata hadiah Angel langsung bersemangat.
"Hadiah apa?" tanya Angel dengan nada penasaran seakan dirinya ingin sekali mengetahui hadiah apa yang Rio ingin berika kepada dirinya.
"Honyemoon"
"Hah?"
Angel terkejut sekaligus tidak percaya mendengar ucapan Rio barusan terlebih seorang Rio yang super sibuk serta dirinya juga seperti tidak punya waktu untuk dirinya sendiri dan dekarang Rio meluangkan waktu untuknya yang bisa dibilang hanya debu dihidup Rio.
"Kenapa? kok kaget seperti itu?"
"Kk..kkamu sedang bercanda yah?" tanya Angel dengan gugup sekaligus takut. Rio langsung mengacak-acak puncak kepala Angel dengan senyum yang menggembang sempurna dibibirnya.
"Nggak! aku sungguh-sunguh, hanya kita berdua"
Tatapaan mata dan suara dengan nada meyakinkan membuat Angel percaya. Angel hanya mengangguk dan membuat Rio senang.
"Kalau kaki kamu sudah sembuh kita berangkat, kamu mau kemana?"
"Pantai, mau kesana"
"Oke, Bali?"
Angel menggeleng pelan. Angel ingin kepantai yang indah namun tidak terlalu ramai.
"Kenapa?"
"Terlalu ramai"
"Oh, yasudah nanti aku cari yang tidak terlalu ramai"
Angel mengangguk senang mendengarnya. Waktu berjalan dengan cepat seakan waktu ibarat angin yang berhembus, berlalu begitu saja. Pagi yang cerah ini, dirumah mewah yang menyimpan rahasia besar dengan sangat rapi.
Angel tengah duduk dipinggir kasur dengan tatapan datar menatap Rio yang tengah sibuk memilih baju untuk dibawa liburan honyemoon. Rio telah menemukan suatu tempat yang sangat sempurna untuk melepas lelah serta memenjakan Istri mungilnya yang kini tengah ia mencoba menerima kehadirannya dihidup yang sudah sempurna ini dengan garis bawa yang sangat tebal dikata "TERPAKSA" menikahinya. Rio memutuskan untuk honeymoon ke pantai Tanjung Aan. Pantai yang berada dibukit Marese, Lombok Tengah. Komposisi keindahan antara perbukitan hijau, laut biru dan langit berawan benar-benar terlihat sempurna.
Pantai Tanjung Aan hanya berjarak 5 km dari pantai kuta Lombok. Tak seperti Kebanyakan pantai diLombok, pantai Tanjung Aan memiliki garis pantai yang lebih panjang. Tekstur pasir dipantai ini juga unik karena memiliki dua pasir uang berbeda yaitu pasir seperti merica disisi kiri pantai dan pasir putih mulus disisi kanan pantai. Semua keindahan itulah yang membuat Rio memutuskan memilih pantai itu.
"Kamu mau pindahan?" tanya Angel dengan nada tak enak didengar. Kaki Angel kini sudah benar-benar sembuh hanya bekas luka yang belum memudar dikulit. Rio tidak menggubris sama sekali perkataan Angel, ia masih sibuk memilih baju untuknya dan untuk Angel.
Angel mendengus kesal seakan dirinya terabaikan namun sekarang Angel tahu kalau Rio itu lebih rempong dari dirinya.
"Sayang udahlah jangan kebanyakan bawa baju! kata kamu cuma empat hari? itu udah lebih dari cukup!"
Rio yang sudah sangat terganggu mendengar ocehan Angel kini menoleh kearah Angel dengan tatapan kesal.
"Ssssttttt udah kamu diam saja biar aku yang urus!" ucap Rio dengan nada sewot. Angel yang sudah terlanjur kesal menyahuti ucapan Rio.
"Ihh! dibilangin juga itu kebanyakan! kalau memang kuarang tinggal beli disanakan gampang!"
"Uangnya buat kita makan bukan buat beli baju!"
"Sayang ku, memangnya kita mau berapa hari disana?"
Angel sudah benar-benar geregetan menghadapi Rio tapi melihat lagi ke hari-hari sebelumnya, saat Rio lembur hingga jam tiga pagi pasti liburan ini sangat didambakan oleh Rio yah memanjakan dirinya sendiri setelah berkerja siang dan malam.
"Kalau kamu melahirkan baru kita pulang"
Jawaban dari Rio berhasil membuat Angel terdiam beribu bahasa.
Angel menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa ia merasa tubuhnya kini panas dingin tak tahu kenapa.
...
13:30
Empat koper yang terdiri dari dari dua koper besar dan dua koper kecil kini tengah dimasukan kebagasi mobil. Penerbangan akan berangkat jam dua sore kalau tidak ada halangan.
Brakk
Rio menutup bagasi dengan satu hentakan.
"Ayo berangkat!" ajak Rio dengan begitu bersemangatnya membuat Angel hanya mencibir pelan kelakuan Rio.
....
Penginapan kenanga 17: 45/ Lombok Tengah.
Angel memegang erat lengan Rio takut dirinya tersesat ditempat yang belum pernah dikunjunginya.
Rio mendekati meja penerimaan tamu. Rio sendiri sudah memboking sebuah kamar yang akan ditempatinya bersama Angel selama berada disini. Kamar yang dipilih Rio adalah kamar yang menghadap langsung kepantai serta memiliki kenyamanan tersendiri bagi penguninya.
"Permisi"
"Iya. Tuan ada yang bisa saya bantu?"
Rio melihatkan layar ponselnya kewantia itu. Bukti pemesanan dan pembayaran untuk kamar itu. Wanita itu mengangguk lalu mengecek di komputer disebelahnya.
"Atas nama MARIO STEVANO"
"Iya"
"Vila no 011, mari saya antar"
Wanita itu menunjukan jalan kepada Rio dan Angel. Barang bawaan mereka dibawa oleh pelayan laki-laki.
...
Angel melihat sekeliling sembari kaki melangkah mengiringi langkah kaki Rio. Lorong yang dilewati seperti menyusuri gerbang dinegeri dongeng, deretan lampu yang apik berderet disetiap lorong dengan lukisan yang sangat indah terpajang indah didinding lorong.
5 menit berjalan menyusuri lorong akhirnya mereka sampai di vila yang dipesan Rio.
"Sudah sampai, ini kuncinya"
"Terima kasih"
....
Kamar
Rio langsung merebahkan tubuhnya kekasur yang sangat empuk sangat cocok sekali untuk meluruskan punggung yang terasa sangat pegal karena perjalanan tadi.
Angel hanya tersenyum tipis melihat tingkah Rio. Angel menoleh kearah kanannya, sebuah dinding kaca yang melihatkan pemandangan diluar sana. Pemandangan pantai yang sangat indah. Dinding kamar ini sengaja dibuat sebagian dari kaca sehingga dapat langsung melihat kepantai.
"Indahnya"
Angel menghampiri dinding kaca itu. Suasana ditepi pantai itu membuat Angel ingin berlari dibibir pantai itu sekarang juga.
"Kak ke- -.. eh?"
Angel menoleh namun Rio sudah tidak ada diatas kasur. Membuat Angel bingung padahal Angel merasa hanya sebentar melihat pemandangan diluar.
"Kak Rio?"
Angel yang mulai panik mencari Rio hingga keluar ruangan. Angel melihat kesekeliling pemandangan pantai yang berhias lampu penerang yang sangat indah namun tidak melihat Rio.
"Kak Rio kemana?"
Angel menggigit kuku ibu jarinya dan enatah kenapa matanya mulai memanas. Angel taku Rio meninggalkannya sendiri di sini tempat yang asing untuknya.
Angel kembali masuk kedalam kamar dan ajaibnya Rio tengah duduk dikasur sembari bermain ponsel.
"Dari mana kamu?"
Rio langsung tersontak kaget saat mendengar nada bicara Angel yang terdengar sangat kesal.
"Emang nyariin?" tanya Rio balik dan membuat Angel mengerutkan dagunya. Rio melihat wajah Angel yang penuh kekesalan dan juga.. apa ini? kedua mata Angel berkaca-kaca.
"Hey?"
Rio bangkit dari duduknya lalu menghampiri Angel yang sepertinya ingin menangis.
"Kenapa?"
Tangan kanan Rio membelai lembuat wajah Angel. Angel tidak menjawab hanya tatapan mata Angel yang sayu.
"Dari mana?"
"Aku habis dari toilet, iihhh... kamu yaahhhh"
Rio mencubuit gemas kedua pipi Angel. Membuat dagu Angel semakin mengkerut.
"Apa sekarang aku harus minta ijin dulu sama kamu kalau aku pergi?"
"Iya"
"Haah??"
Rio membuka lebar mulutnya, niatnya tadi hanya untuk menggoda Angel tapi sekarang dirinya kena batunya. Rio semakin bingung menghadapi Angel yang ia tahu telah menaruh hati kepadanya. Tatap mata Angel seakan berbicara kalau mata ini ingin terus melihat wajah yang selalu membuat hati ini nyaman.
"Aku takut kamu pergi meninggalkan aku"
Luncuran kata-kata itu beriringan dengan air mata yang jatuh dari kelopak mata Angel. Rio tersenyum tipis sembari jari-jemari tangannya menghapus air mata yang seakan tak ada habis-habisnya walau Angel sering menangis.
"Aku ngga akan ninggalin kamu, aku janji! kamu percayakan sama aku?"
Kata-kata Rio seakan menghipnotis Angel. Setiap kata, tatapan dan senyuman yang Rio berikan selalu membuat Angel meluluh walaupun Rio pernah mengkasarinya. Apa ungkapan cinta itu buta itu nyata? entahlah hanya Angel yang tahu.
"Cengeng!" ejek Rio namun Angel tidak perduli malah Angel memeluk Rio dengan eratnya.
"Kamu ini"
Rio melepas pelukan Angel lalu memandang lekat wajah ayu Angel. Tangan kanan Rio menyusuri kulit wajah Angel yang sangat halus. Angel merasa sentuhan Rio membuatnya merasa aman dan nyaman. Saat Rio meraba bibirnya Angel memejamkan matanya dan bisa dirasa oleh Angel napas Rio yang hangat. Sentuhan ini membuat rasa cinta dihati rapuh ini semakin bersemi seperti bunga mawar yang indah namun berduri. Cinta Angel untuk Rio yang Angel tahu dihati Rio sudah ada yang menempati terlebih dahulu dan besar kemungkinan cinta ini tidak terbalaskan.
Angel merasa kalau Rio perlahan mendorong tubuhnya kebelakang.
....
07:00
Pagi yang sangat cerah dengan udara sejuk pantai serta debur ombak yang menenangkan mengawali hari yang indah ini. Rio telah rapi dengan kaos polos putih dilapisi kemeja panjang yang senada dengan kaos serta celana pendek yang terlihat sangat cocok ditubuh Rio.
Rio menghena napas beratnya. Tatap mata sebalnya tertuju pada pintu kamar mandi.
"Tuh bocah tidur apa?"
Rio kesal karena Angel belum selesai-selesai mandinya padahah dari semalam Angel terus saja mengutarakan keinginannya untuk bermain dipantai.
Rio yang sudah habis kesabarannya langsung beranjak ke pintu kamar mandi dan tanpa permisi langsung masuk kedalam.
..
kamar mandi
Angel tengah berendam di bathtub yang berisi air hangat dan juga busa yang sangat melimpah yang membuatnya lupa waktu, semua kenyamanan ini membuatnya bahagia hingga membuat senyumnya tak luntur dari bibirnya.
Suara pintu dibuka membuat Angel langsung membenamkan tubuhnya kedalam busa hanya kepalanya saja yang tak terbenam.
"Kamu ini!" omel Rio yang sangat kesal kepada Angel yang tengah bermain busa. Angel hanya melihatkan tatapan polosnya.
Rio menghampiri Angel dan beberapa kali Rio menggelengkan kepalanya.
"Katanya mau pergi kepantai?"
Angel hanya mengedipkan beberapa kali kelopak matanya membuat Rio menghela napas.
"Aku sampoin yah rambutnya"
Angel hanya mengangguk. Rio duduk ditepi bathtub yang lumayan luas karena ini tempat menaruh handuk dan juga lilin beraroma terapi.
Rio mulai mengusap rambut Angel dengan sampo sedangkan Angel kembali bermain busa.
...
Rio menepati janjinya untuk mengajak Angel kepantai dan Angel pun nampak begitu senang diajak kesini. Bahkan sekarang Angel tengah berlarian menyusuri pantai sedangkan Rio hanya mengawasi Angel dari tempat teduh dan juga nyaman sembari meminum air kelapa muda.
"Dasar bocah" cibir Rio saat melihat Angel yang tengah bermain pasir sepertinya Angel ingin membuat istana pasir.
Rio bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Angel dengan membawa kamera kesayangannya. Rio menggarahkan kameranya kearah Angel.
Rio terus saja memotret Angel dari kejauhan, berharap Angel tidak menyadari kalau dirinya tengah difoto. Rio ingin memotret Angel yang seperti ini natural tidak dibuat-buat.
"Eh?"
Rio tidak jadi memotret saat Angel menoleh kearahnya dengan senyuman yang menggembang dibibirnya. Senyuman itu membut Rio membeku.
Angin membuat rambut Angel menutupi sebagian wajahnya dan saat Angel menyelipkan rambutnya ketelinga dengan senyuman dibibir seakan memancarkan pesona tersendiri membuat jantung Rio berdegup kencang dan kedua mata Rio seakan tidak mau berkedip.
Angel berjalan menghampiri Rio dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Rio terus saja memandangi Angel hingga Angel berada dihadapannya.
"Kenapa?" tanya Angel yang bingung sendiri melihat Rio yang seperti ini.
Rio masih terdiam dan membuat Angel mendengus kesal. Senyum jahil Angel muncul saat dirinya menyadari kalau kedua tangannya masih kotor dengan pasir dan tanpa permisi Angel langsung menggusapkan kedua telapak tangannya ke kedua pipi Rio.
Dinginnya pasir pantai yang basah menyadarkan Rio. Angel langsung berlari saat raut wajah Rio mulai berubah.
"UNYYYIIIIILLLL!!!!" teriak Rio dengan kerasnya sembari tangannya membersihkan pasir dipipinya.
Angel menoleh dan langsung melambaikan tangan serta menjulurkan lidahnya seakan menggejek Rio. Rio melihat lambaian tangan itu sebagai tantangan, ia pun langsung berlari menyusul Angel.
Melihat Rio yang berlari kearahnya membuat Angel mempercepat larinya.
Mereka berdua saling kejar-kejaran tanpa memperdulikan panasnya sinar matahari dan baju mereka yang basah karena air laut.
"El!" Kesal Rio saat Angel mencipratkan air laut kewajahnya. Rio membalas kelakuan Angel dengan penuh semangat dan untung saja kamera Rio anti air jadi Rio tidak khawatir.
"Kak Rio! iiihhh!!"
Angel membelakangi Rio karena Rio terus saja mencipratkan air kedirinya.
"Udah!"
"Nggak! siapa yang mulai duluan"
Rio terus saja mengguyur Angel dengan air laut. Angel yang tidak mau menyerah kepada Rio langsung berlari menjauh.
"Mau kemana kamu!!"
Rio langsung berlari mengejar Angel.
"Hhaaahhh"
Angel berlari menerobos air laut yang cukup menguras tenaga terlebih Angel berlari sembari tertawa namun berbeda dengan Rio yang nampak biasa-biasa saja melewati air laut ini.
"Awas kamu yah!!!"
Rio mengejar Angel hingga menjauh dari air dan saat Angel berhenti untuk menggambil napas, Rio langsung menangkap Angel.
Rio mendekap Angel dari belakang lalu mengayunkan tubuh Angel. Tawa Angel terdengar sangat jelas hingga meredam tawa Rio yang juga merasa bahagia.
Buggg
Rio dan Angel tiduran di atas pasir. Mereka berdua memandang kelangit biru tanpa awan.
"Eh?"
Angel terkejut saat Rio menggenggam tangannya. Angel menoleh kearah Rio yang juga menatapanya.
"Kamu suka?"
"Iya,makasih"
Rio bernapas lega mendengarnya. Di hati Rio terucap harapan kalau Sena akan seperti Angel yang tidak banyak menuntut.
Rio mengangkat tangan kirinya keatas seakan meraih sesuatu, pandangan Rio menatap langit yang biru berharap Sena juga menatap langit yang sama.
"Kamu tahu" Rio memulai pembicaraan.
"Hanya kamu yang tahu"
"Ck" Rio berdecak namun bagi Angel dirinya juga tidak tahu apa yang dimaksud Rio. Dalam hati kecil Angel ingin sekali mengetahui setiap apa yang Rio pikirkan.
"Ih kok marah! aku memang tidak tahu apa yang kamu pikirkan" bela Angel yang memang tidak tahu apa-apa.
"Raih tanganku"
Angel menurut. Angel meraih tangan Rio. Diudara tangan mereka saling menggenggam dengan erat.
"Tangan kamu kenapa seperti bayi? kecil sekali"
Ucapan Rio membuat Angel menggembungkan kedua pipinya.
"Jangan mengejekku!"
"Kalau kamu hamil nanti anak kita pasti marah sama kamu"
"Loh kenapa? dianya juga belum lahir"
"Dia bisa nendang diperut kamu"
Entah kenapa Rio mulai berbicara ngelantur apa ini karena Rio ingin sekali menimang seorang anak?.
"Memangnya kenapa?"
"Perut kamu kecil, kasihan nanti anak kita sesak didalam perut kamu yang kecil itu"
"Iihhh ngga!"
Rio menoleh kearah Angel dengan tatapan penuh arti. Entah kenapa pandangan mata Rio terasa beda dirasa Angel.
"Kamu kenapa?"
"Aku mau kita berucap janji"
Pinta Rio dengan nada halus dan seperti biasa Angel menuruti permintaan Rio.
"Iya, memangnya apa yang kamu inginkan dariku?"
"Apa aku harus menjawabnya?"
Angel menggeleng, semua sudah sangat jelas Rio ingin mendapatkan ketirunan yang akan merawatnya dihari tua.
"Ikuti apa yang aku ucapkan"
"Baiklah"
Angel hanya menurut saja apa yang Rio perintahkan dari pada nanti dirinya ditinggal sendiri disini.
"Dibawah langit ini"
Rio mulai berbicara sembari menatap langit.
"Dibawah langit ini"
Angel pun mengulang kalimat yang Rio ucapkan.
"Kita berjanji"
"Kita berjanji"
"Akan"
"Akan"
"Sehidup semati"
Angel tidak langsung menirukan ucapan Rio. Angel menatap Rio dengan penuh keraguan, otak Angel tidak ingin Angel mengucap kalimat itu walau hatinya ingin.
Rio tahu Angel mengerti betul bahwa dirinya itu hanya bersetatus istri samplai melahirkan seorang anak untuknya.
Rio menoleh ke Angel sembari tersenyum, senyum yang sangat tulus dan penuh makna.
"Aku akan berusaha adil, I love you. My unyil"
"Kenapa kamu memanggilku unyil?"
"Karena aku lucu"
Entah apa yanh lucu dari kata itu hingga membuat Rio dan Angel tertawa dengan renyahnya.
"Jangan tertawa terus, ayo ucapkan"
"Akan sehidup semati, bersama mu"
"Bersamamu selamanya"
....
Rio dan Angel bergandengan tangan menyusuri pantai,sinar matahari sore menemani setiap langkah mereka. Rio menoleh kearah Angel yang menatap lurus kedepan entah kenapa ada sesuatu yang menghangatkan saat menatap wajah ayu Angel.
Senyum Rio muncul dan semakin erat menggenggam tangan Angel, Angel yang merasa genggaman tangan Rio semakin erat langsung menghentikan langkah kakinya. Rio pun ikut berhenti dan menoleh kearah Angel.
"Kenapa?" tanya Rio dengan nada khawatir. Angel menoleh kearah Rio.
"Gendong" pinta Angel yang merasakankan kakinya pegal karena seharian berjalan menyusuri pantai.
Rio mengeryitkan dahinya seakan tidak ingin menuruti permintaan Angel.
"Kak Rio, gendong! capek tahu!!" dengus Angel dengan nada sewot.
"Yang nyuruh kamu lari siapa? capekkan sekarang?"
"Gendong!!"
Angel terus saja merengek minta dingendong oleh Rio. Rio juga merasa capek dan ingin sekali cepat sampai dipenginapan tapi menggendong Angel sampai kepenginapan itu sangat melelahkan.
"Ngga!"
Rio kembali berjalan meninggalkan Angel yang nampak kesal kepadanya.
"KAK RIO GENDONG!!"
Teriak Angel merengek tapi Rio terus berjalan dengan santainya tanpa menggubris Angel yang sudah tertinggal jauh dibelakangnya.
"NYEBELIN!"
Angel duduk dipasir sembari menatap sebal kearah Rio. Angel merasa dirinya tidak bisa berjalan lagi walau satu langkah.
"Nyebelin...nyebelin... kak Rio nyebelin!"
Rio menoleh kearah Angel. Rio terkejut melihat Angel yang tengah duduk dipasir sembari menulis diatas pasir dengan jarinya.
"Ya ampun"
Rio langsung berjalan kearah Angel yang terduduk ditempat yang sama saat dirinya meninggalkannya.
Angel menulis kalimat "Kak Rio nyebelin" diatas pasir dengan jarinya sangking asiknya Angel tidak menyadari kalau yang ditulis namanya tengah menghampirinya.
Angel menyitipkan matanya saat melihat sepasang kaki berhenti didepannya. Angel mendogak keatas dan langsung mendapati tatapan tak enak dari Rio.
"Kamu ini! ayo cepat aku gendong"
Rio membelakangi Angel sembari berjongkok. Angel yang sudah terlanjur kesal hingga dirinya tidak mau lagi digendong oleh Rio langsung berjalan acuh melewati Rio.
"Hah? dasar anak itu"
Rio menghela napas saat Angel berjalan tanpa berkata apa-apa. Rio tahu Angel tengah ngambek kepada dirinya.
"Ngambek lagi ngambek lagi, dasar bocah!"
Rio bangkit dari jongkoknya dan langsung berlari menyusul Angel.
.....
Angel berjalan dengan dagu yang mengkerut.
"Nyebelin!.. eh?"
"Jangan ngambek!"
"Iiihhh turunin!!!"
Pinta Angel saat tiba-tiba saja Rio datang dan langsung membopongnya dikedua tangannya.
"Jelek tahu!"
"Biarin!"
Rio terkekeh saat mengetahui Angel benar-benar marah kepadanya. Angel terus memukul-mukul dada Rio memintanya untuk menurunkan tubuhnya.
"Turunin!"
Rio melirik kearah Angel dengan tatapan datar namun senyum miringnya terpampang manis dibibir Rio.
"KAK RIO!"
Angel langsung menggalungkan tangannya dileher Rio saat Rio seperti akan menjatuhkan dirinya. Rio tertawa saat Angel merasa ketakutan seperti itu.
"Kak Rio jahaaattt!"
"Biarin! kamu juga ngambekan!"
Ucapan Rio berhasil membuat kedua pipi Angel menggembung namun melaihat itu Rio semakin terkekeh bahkan tertawa. Angel benar-benar lucu dimata Rio.
...
Penginapan
Tubuh Rio sekarang sudah segar habis mandi, bermain seharian dipanta membuat tubuhnya pikat karena keringat.
Rio meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang yang sangat ia rindukan.
"Kok nggak diangkat? coba lagi deh"
Rio kembali menghubungi nomor tersebut berharap orang disebrang sana mengangkat panggilan telefonnya, Rio ingin mendengar suaranya walau hanya satu kata.
Rio tersenyum saat orang itu mengangkat telefon darinya.
"Ha--"
"Aku lagi sibuk! jangan ganggu!"
Ucapan Rio dipotong oleh suara perempuan disebrang sana dengan nada kesal setelah itu sambungan telefon itu langsung diputus.
Rio hanya bisa mengusap dada saat diperlakukan seperti ini oleh Sena padahal dirinya ingin sekali mengutarakan rindu kepadanya.
Rio terkadang sangat sedih diperlakukan seperti ini oleh Sena padahal dirinya selalu berusaha untuk membahagiakan Sena.
"Kenapa? apa yang kamu lakukan sekarang? apa pekerjaanmu itu lebih penting daripada aku?"
Suara gagang pintu dibuka membuat Rio tersadar dari lamunannya lalu menoleh kearah kamar mandi.
Angel keluar dari kamar mandi sembari terus menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
Rio mendekati Angel dan tanpa permisi langsung menarik Angel dalam pelukannya.
"Eh? kamu kenapa? apa kamu sakit?"
Tanya Angel dengan nada yang terdengar panik. Rio hanya diam membisu.
"Aku - -"
.....****....****