
"Aku juga sangat beruntung mempunyai istri sepertimu dan aku akan terus mencintaimu tidak ada yang lain dihatiku selain dirimu, camkan itu"
"Iya aku percaya"
Rio dan Sena terus bertukar rindu yang mendalam walau lewat sambungn telefon. Rio sangat senang mengetahui Sena pulang hingga tidak menyadari kalau ada seorang yang tengah mendengar pembicaraan mereka.
"Aku seharusnya tahu, aku memang bodoh"
Angel melangkah pergi. Semuanya sudah jelas untuknya, Rio hanya untuk Sena dan dirinya hanya sebagai rahim pengganti tidak lebih.
kamar
Rio memasuki kamar dengan wajah yang berseri-seri membuat Angel bingung. Rio tidak memperdulikan Angel, ia asik memilih baju ganti lalu setelah itu pergi kekamar mandi.
Tak berselang lama, Rio keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi.
"Kamu mau kemana?" tanya Angel langsung padahal Rio masih sakit.
"Aku cuma pergi sebentar"
"Ta--"
Rio langsung keluar kamar tanpa memperdulikan Angel yang ingin berbicara.
"Yah pergi"
Angel hanya bisa berdoa Rio tidak kenapa-napa. Masih terdengar dengan jelas pembicaraan Rio dengan Sena ditelinga Angel.
"Aku ingin pergi tapi tidak bisa"
Angel ingin pergi dari rumah ini tetapi dirinya akan pulang kemana. Pulang kerumah dengan keadaan hamil itu mustahil. Kedua orang tuanya pasti akan sangat marah dan kemungkinan terburuk dirinya tidak diterima bahkan tidak dianggap anak lagi oleh orang tuanya.
Cari kontrakan dapat uang dari mana? untuk makan dan untuk lahiran itu pasti membutuhkan banyak biyaya. Terlebih Angel belum pengalaman berkerja pasti akan sulit untuk mencari pekerjaan dan mustahil ada yang mau menerima wanita yang tengah hamil berkerja ditempatnya.
"Apa ini rasanya jadi istri simpanan? atau apa ini yang dinamakan pernikahan hanya diatas kertas? ini semua terjadi karena aku miskin karena uang 200juta aku harus merasakan sakit sesakit ini? kenapa Tuhan tidak adil?"
Angel sudah tahu semuanya tapi Angel memilih bertahan karena Angel sudah tanda tangani perjanjian itu dan demi anak yang dikandungnya ini ia rela merasakan pedihnya kepalsuan ini dengan tegar.
Angel membaringkan tubuhnya dikasur. Dirinya ingin tidur berharap kalau nanti ia terbangun rasa sesak didadanya menghilang serta tidak teringat perkataan Rio tadi saat telefon denga Sena.
Kelopak mata Angel terpejam namun air mata itu mengalir membasahi pipi dan terus mengalir sampai dirinya benar-benar terlelap. Angel tertidur dalam tangisan luka hati.
...
Rumah Rio/Sena
Rio memasuki rumah yang sangat ia rindukan. Rumah penuh kemewahan dan juga kenyamanan setiap sudutnya terdapat barang-barang kesukaan Sena.
"Den Rio"
Seorang wanita yang terlihat sudah menua menghampiri Rio. Itu bi Inda, pembantu yang selama ini mengurus Rio dari bayi. Bi Inda sangat senang melihat Rio pulang. Bagi bi Inda, Rio sudah dianggap seperti putranya sendiri.
"Bibi, kenapa kok kelihatan senang seperti itu?"
"Den ini, kalau den masih betah tinggal dirumah yang lama kenapa beli rumah ini" omel bi Inda yang tahu Rio tinggal di rumah yang lama.
"Sena yang minta, bi nanti bersihkan kamar saya yah?"
"Den ini, bibi selalu membersihkan kamar den setiap hari walaupun den tidak tidur disana"
"Makasih bi"
Bi Inda menyadari ada yang aneh pada diri Rio. Wajah Rio terlihat sangat pucat dan berkerngat.
"Den Rio sakit?"tanya bi Inda dengan nada khawatir. Bi Inda sendiri merasa khawatir dengan kondisi Rio sekarang dan pastinya Rio tidak memberitahukan kondisinya saat ini kepada Amanda.
"Cuma kecapekan saja kok"
Rio langsung berlalu pergi kekamarnya meninggalkan Bi Inda yang terlihat mencemaskannya.
"Den Rio..den Rio. Mau sampai kapan?"
Bi Inda kembali melanjutkan aktivitasnya. Bi Inda heran kenapa Rio selalu menuruti yang Sena mau padahal dari semua itu ada yang tida disukai Rio.
kamar
Rio langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur yang terasa nyaman sekali. Berada rumah ini membuat bebannya terasa menghilang.
Dirumah ini Rio tidak perlu memberbohongi dirinya sendiri dan menyiksa dirinya dengan senyum kepalsuan.
"Lebih nyaman disini" lirih Rio dan mulai memejamkan kelopak matanya.
....
Rumah 18:00
Angel termenung di teras. Pikirannya hanya tertuju pada Rio yang pergi dengan kondisi masih sakit.
"Aku khawatir tapi apa aku boleh mengkhawatirkannya? ini semua membuatku bingung, sebenarnya Rio menganggapku istrinya atau tidak?"
Angel menghela napas langsung bangkit dari duduknya berjalan menuju kedalam rumah. Angel merasa semua ini sangat melelahkan, dirinya ingin mengakhiri semua ini.
"Lebih baik aku menonton TV saja"
tiga jam berlalu namun Rio belum juga pulang dan tidak ada kabar sama sekali dari Rio.
"Apa dia tidak pulang? entahlah, sebaiknya aku tidur. Aku juga tidak boleh egos, anakku ini juga butuh istirahat"
Angel mematikan TV langsung menuju kedalam kamar berharap Rio sudah pulang besok pagi.
...
Rumah Rio/Sena 22:00
Rio tengah berjalan dihalaman samping rumah. Dirinya tidak bisa tidur dan ingin sekali malam cepat berlalu dan dirinya dapat bertemu dengan Sena.
"Aku kangen sekali denganmu!"
>>>>>>
flash back 5 tahun yang lalu
Kicau burung bersautan menyambut sinar mentari datang. Rio sudah bangun sendari tadi sedangkan Sena masih terlelap dibalik selimut.
"Sayang ayo bangun"
Rio menciumi pipi Sena terus menerus membuat Sena membuka kelopak matanya.
"Apasih sayang aku masih mengantuk" ucap Sena sembari menarik selimutnya hingga menutupi seluruh badannya.
"Selamat ulang tahun istriku" ucap Rio dengan nada jahilnya.
"Kamu sudah memberiku kejutan" ucap Sena dari balik selimut.
Hari ini ulang tahun Sena dan Rio sendiri sudah memberi Sena kejutan ditengah malam yang membuat Sena sekarang mengantuk dan rasanya sangat sulit untuk terlepas dari kasur yang nyaman ini.
"Ih, ayo bangun! Mama nungguin tuh dibawah"
"Mama?"
"Iya"
Sena langsung membuka selimutnya lalu menatap Rio. Rio langung mengecup bibir Sena.
"Mama kamu?"
"Iya"
"Kenapa ngga bilang dari tadi, pasti dia marah aku ngga bantuin dia"
Sena langsung terduduk dari tidurnya. Rio langsung mengecup perut Sena dengan gemasnya.
"Selamat pagi, anak papa"
Rio mulai berbicara dengan janin di rahim Sena. Sena mengacak-acak rambut Rio dengan jahilnya.
"Ih kamu yah"
Rio langsung mengelitiki pinggan Sena hingga Sena tertawa geli. Rio sangat bahagia sekali belum genap dau bulan pernikahannya Sena kini tengah hamil anaknya. Usia janin Sena baru empat minggu dan Rio sangat ketat menjaga Sena.
"Udah, geli! perut aku sakit nih!" kesal Sena yang langsung mendorong tubuh Rio menjuh darinya.
"Maaf, ayo turun"
"Aku mau mandi dulu"
Sena langsung turun dari kasur menuju kamar mandi. Rio memilih turun kebawah mendahului Sena.
Sena menuruni tangga dan langsung disambut oleh Amanda, ibu mertuanya.
"Selamat pagi sayang"
"Mama, maaf Sena ngga bantuin" ucap Sena saat sudah didepan Amanda.
"Ngga apa-apa, kamu juga harus banyak istirahat. Jagain calon cucu mama yah"
Amanda langsung mengelus perut Sena yang masih rata. Amanda tidak sabar ingin sekali menimang cucunya.
"Ayo makan!"
Sena mengangguk lalu mengikuti Amanda ke meja makan namun keasikan kakak beradik yang tengah main PS menarik perhatian Sena.
"Arfan kamu disini?"
"Eh iya, nganterin mama"
Sena duduk disofa dibelakan Arfan dan Rio yang duduk lesehan. Sena menatap sebal kearah Rio yang asik bermain dan mengacuhkan dirinya.
"Nyebelin!" dengus Sena langsung melempar bantal sofa kekepala Rio. Rio langsung menoleh dan mendapati istrinya yang cemberut.
"Udah kak omelin aja! biar kapok, main PS terus!" ucap Arfan mengompori. Rio langsung menjitak kepala Arfan.
"Aw, sakit kak! udah mau jadi Ayah main terus!"
Arfan langsung melarikan diri sebelum Rio menerkamnya. Rio langsung menghampiri Sena yang terlihat kesal.
"Jangan cemberut seperti itu"
"Biarin"
Rio langsung mencubit gemas kedua pipi Sena membuat senyum Sena merekah dengan sempurna.
"Kalian jangan pacaran terus, ayo makan" ajak Amanda.
Meja makan
Sena hanya memandang makanan dipiringnya tanpa sedikitpun menyentuhnya membuat Amanda yang memasak makanan ini menjadi sedih.
"Kenapa?" tanya Rio yang berada disamping Sena. Sena hanya menggeleng.
"Kamu ngga suka masakan mama?" suara Amanda terdengar sedih. Sena hanya terdiam. Arfan tidak menghiraukan mereka bertiga, dirinya asik memakan makanannya.
"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Rio dengan penuh kesabaran.
"Aku mau makan pizza"
"Tapi itu ngga baik untuk kamu" Amanda langsung menolak permintaan Sena. Sena terlihat sangat sedih. Rio yang tidak tega mengiyakan permintaan Sena.
"Ya udah ayo"
"Rio"
Amanda menatap kesal kearah Rio. Rio tidak menghiraukan Amanda.
"Ma, Sena ngidam kali. Udah biarin aja" ucap Arfan menengahi suasana yang terasa memanas.
"Ya sudah"
Dengan terpaksa Amanda mengijinkan Sena makan makanan cepat saji padahal Amanda ingin Sena makan-makanan yang bergizi.
..
Mal
Rio menghela napas beratnya karena Sena meregek pergi ke mal setelah makan. Rio hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Sena yang sangat bersemangat memilih baju.
"Sayang, ini bagus ngga?"
Sena menunjukan baju tidur berwana pink yang sangat menggemaskan. Rio tersenyum melihat Sena yang begitu sangat senang.
Setelah puas belanja baju, Sena mengajak Rio pergi ketoko tas dan Sena ingin tas sebagai kado ulang tahunnya.
"Mau yang mana?" tanya Rio dengan jahilnya saat melihat Sena yang terlihat kebingungan menentukan pilihannya.
"Aku mau yang ini"
"Yakin? aku cuma kasih kamu satu tas loh"
ucapan Rio membuat Sena jadi primplan lagi. Sena kembali mengelilingi toko tas mewah ini sedangkan Rio duduk manis sembari mengawasi Sena.
Drrttt...drrrttt
Rio langsung menggambil ponsel disakunya. Terpampang jelas siapa yang menelfonnya.
"Mama?"
Rio langsung mengangkat panggilan telefon itu.
"Halo ma"
"Kamu dimana kenapa jam segini belum pulang?" suara Amanda terlihat sangat cemas sekaligus kesal sebab kondisi janin dirahim Sena masih lemah dan butuh banyak istirahat.
"Bentar lagi juga pulang kok"
"Ya sudah"
Amanda memitus sambungan telefon. Rio menghela napas beratnya. Sulit memilih antara Sena dan Ibunya. Dari awal berpacaran dengan Sena, Rio merasa bahwa Ibunya tidak setuju dengan pilihannya tapi Rio berusaha menyakinkan wanita yang melahirkannya ini bahwa Sena pantas untuk menjadi mantunya.
Rio menghampiri Sena untuk mengajaknya pulang.
"Udah belum? kalau sudah ayo pulang"
Ajak Rio tapi Sena malah menggelengkan kepalanya.
"Sayang kamu harus istirahat biar anak kita sehat"
"Sebentar saja aku mohon"
Sena melihatkan wajah melasnya agar Rio mau mengabulkan permintaannya.
"Baiklah tapi cuma sebentar"
"Makasih suamiku"
...
Kamar.
Rio dan Sena tengah berada dibalkon menatap kelangit yang penuh dengan taburan bintang. Rio menoleh kearah Sena. Rio tidak menyangkan kalau cinta pertamanya akan menjadi pendamping hidupnya dan sekarang dia tengah menggandung anaknya.
Rio berjalan kebelakng Sena lalu memeluknya dari belakang.
"Masuk yah sudah malam" bujuk Rio lalu mengecup punggung Sena. Sena tidak merespon, dirinya ingin lebih lama lagi menatap langit.
"Kamu ini"
Rio hanya bisa menuruti yang Sena mau. Rio seakan tengah bermimpi bisa menikahi Sena padahal dulu dirinya sudah lebih dulu menyerah sebelum mencobanya.
"Aku mau dipangku" pinta Sena dengan tiba-tiba dan pastinya akan langsung dikabulkan oleh Rio.
"Iya"
..
"Sayang" panggil Sena yang masih bersandar pada dada Rio
"Hem"
"Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu"
"Aku juga dan ini seperti mimpi yang jadi kenyataan"
"Oh ya? memangnya sejak kapan kamu mulai mencintaiku?" tanya Sena yang mulai penasaran.
"Emmm sejak kapan yah? aku lupa"
"Nyebelin!"
Sena langsung mencubit pinggang Rio. Rio mengalungkan kedua tangannya ditubuh Sena.
"Ri"
"Hemm"
"Mama kamu sepertinya benci padaku"
"Kamu bilang apa sih? kamu jangan bicara yang aneh-aneh deh!"
Rio terdengar tidak suka dengan ucapan Sena barusan. Rio tahu Amanda sangat memperdulikan Sena, semua yang ia lakukan hanya untuk kebaikan dan kesehatan Sena dan juga janin yang ada dirahim Sena.
"Tapi dia selalu melarangku pergi"
"Kamu kan lagi hamil"
"Aku tahu apa yang terbaik untu diriku dan Mama kamu tidak perlu mengkhawatirkanku"
"Besok aku akan bicara sama Mama"
"Makasih sayang"
..
3 hari berlalu
Amanda tengah memarahi Rio karena Rio mengijinkan Sena melakukan pemotretan.
"Rio, mama ngga habis pikir kamu itu keterlaluan!"
"Ma, Sena bisa jaga diri"
"Rio, kamu tidak kasihan dengan anak kamu, Hah!"
"Ma--" ucapan Rio dipotong oleh suara dering ponselnya. Rio langsung mengangkat telefon dari asisten Sena.
"Ri, kenapa?" tanya Amanda saat melihat ekspresi Rio yang berubah.
"Sena masuk rumah sakit"
"Apa?"
Rumah sakit
"Ri, maaf aku ngga bisa jaga anak kita" ucap Sena dengan penuh penyesalan.
"Ini juga salahku kalau aku melarang mu, kamu tidak akan keguguran"
Rio meraih tangan kanan Sena lalu mencium punggung tangan Sena.
"Maaf"
<<<<<<<<"Harusnya dulu aku menuruti mama mungkin hidupku tidak seperti ini dan rumah tanggaku pasti tidak berantakan seperti ini"Rio menyesali dulu tidak menurut dan kebodohannya karena selalu menuruti kemauan Sena tanpa berpikir lebih dahulu..Bandara. 06:00Rio memasuki bandara yang sudah sangat ramai walau masih pagi dan semuanya terlihat sangat sibuk. Rio langsung duduk ditempat penjemputan.Rio berharap Sena cepat sampai dengan kondisi yang sehat dan perjalanannya lancar tanpa ada gangguan suatu apapun."Aku senang kamu pulang sayang, aku sangat merindukanmu"...Di tempat berbeda. Angel membuka kelopak matanya dan masih tidak ada Rio disampingnya.Angel terduduk diatas kasus. Dilihatnya sekeliling tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Rio."Sayang Papa kamu kemana?" ucap Angel sembari mengelus perutnya. Angel langsung turun dari tempat tidur, mencari Rio yang mungkin berada disisi lain rumah ini."Kak! kak Rio!"Angel terus mencari Rio disetiap sudut rumah tapi Rio tidak ada. Angel menuju halaman dan digarasi tidak ada mobil dan itu berarti Rio tidak pulang."Kak Rio" lirih Angel dan langsung kembali lagi kedalam. Angel ingin menelfon Rio, menanyakan kabarnya.Angel melempar ponselnya kekasur. Angel sekarang semakin cemas saat ponsel Rio tidak aktif."Kamu kemana? semoga kamu baik-baik saja"12 siangMakanan diatas meja makan hanya dilihati saja oleh Angel. Sudah siang tapi Rio tidak kunjung pulang."Apa kamu menunggu Sena atau Sena sudah pulang? harusnya kamu bilang jadinya aku tidak khawatir"Angel menghela napas beratnya lalu bangkit dari duduknya. Rasa khawatir ini membut dirinya tidak berselera makan. Bahkan Angel sudah sangat merindukan Rio, Angel tidak bisa membayangkan kalau dirinya telah berpisah dengan Rio....13:00/bandara"Ck"Rio berdecak kesal. Tubuhnya terasa kaku terlalu lama duduk disini bahkan saptam penjaga melihat Rio dengan tatapan heran karena Rio sudah duduk disini sangat lama."Semoga saja tidak terjadi apa-apa"Rio sangat mencemaskan Sena. Rio takut pesawat yang Sena tumpangi terjadi sesuatu yang buruk.Sekarang suda jam tujuh malam. Rio masih setia menunggu Sena ditempat yang sama. Rio menatap papan informasi yang menginformasikan lalu lintas diudara dan jam sembilan malam pesawat terakhir dari Prancis. Rio mengira kalau Sena pulang dengan pesawat itu.drttt...drtttRio langsung mengangkat telefon dari Sena."Sayang maaf aku ngga jadi pulang"Raut wajah Rio langsung berubah setelah mendengar ucapan Sena barusan. Sena tidak jadi pulang, dirinya masih berada diPrancis sedangkan Rio menunggunya disini seharian dengan perasaan cemas."Ya sudah tidak apa-apa"Sena memutus sambungan telefonnya. Rio mengepalkan tangan kirinya, menetralkan emosi yang tengah membara."Aku nunggun kamu disini seharian tapi kamu ngga jadi pulang, kenapa kamu baru bilang sekarang?"Dengan kecewa Rio melangkahkan kakinya keluar dari Bandara. Semua ini sangat melelahkan, menanti kedatangan Sena hingga dirinya lupa bahwa perutnya ini belum diisi dari pagi.BrakkRio menutup pintu mobil dengan keras melampiaskan amarahnya."kenapa kamu tidak pulang!"Rio langsung memacu mobilnya dengan kencang tak perduli dengan pengendara mobil yang lain."Kenapa...kenapa ..KENAPA!!!"Rio frustasi menghadapi Sena yang semakin hari semakin membuatnya tak lagi mengenal Sena. Rio selalu menuruti Sena tapi Sena semakin banyak permintaannya."Aku selalu menuruti semua yang kamu mau tapi kamu tidak sedikit pun mengerti perasaan ku!"Mobil Rio melaju sangat kencang menembus sunyinya malam. Rio ingin mencari tempat untuknya menenangkan diri.DanauMobil Rio berhenti didekat danau. Sinar rembulan terlihat sangat terang.Rio povHarus sampai kapan? aku sudah lelah dengan semua ini. Aku sudah tidak mampu lagi berbohong kalau aku bahagia. Aku tidak mau terus-terusan memberi kepalsuan kepada El lagi.Aku tahu dia akan terluka dan mungkin akan membenciku tapi semua itu kenyataannya. Aku tidak mencintainya, aku berbohong kalau aku mencintainya.El sangat polos dan lugu. Dia terlalu polos didunia yang kejam ini dan aku membiarkannya terus dalam kebohongan pernikahan ini.Ku tatap langit yang berhias rembulan. Apa ada diluar sana yang nasibnya sama seperti ku?. Apa aku salah menuruti kemauan istri yang aku sangat cintai?. Sudahlah semua ini tidak ada gunanya, aku ingin ketenangan.pov end....Rumah 20:00Angel tengah menarap keluar rumah sembari mengelus perutnya. Dari tadi bayi diperutnya bergerak seakan tengah mencari Ayahnya."Kamu kangen yah, sama mama juga"Angel menutup tirai lalu berjalan menuju sofa. Angel merasa ada sesuatu yang aneh pada perutnya."Apa maag aku kambuh lagi? kamu lapar yah sayang? kita makan yah"****club/bar23:00Rio sudah lama berada disini. Tempat yang dibilang orang "tempat melepas stres". Rio meneguk minuman keras yang ia pesan dan ini sudah yang kesekian kalinya. Ditempat ini sangat ramai dan dentuman musik DJ terdengar sangat lantang dan juga lampu-lampu kecil berkerlip yang menghiasi tempat ini."Kenapa kamu ngga jadi pulang sayang? aku menunggumu!"Rio kecewa Sena tidak menepati janjinya padahal dirinya ingin sekali bertemu dengannya.Rio ingin menuang lagi minuman itu dari botol tapi sepertinya sudah habis. Rio langsung memanggil pelayan dan meminta sebotol lagi.Pikiran Rio sekarang sangat kacau dan ini bukan dirinya. Rio menyalakan sebatang rokok dan langsung menghisapnya dalam-dalam berharap bebannya akan hilang bersamaan dengan asap putih yang ia hembuskan.23:55Angel belum tidur dirinya mencemaskan Rio yang belum pulang dari semalam dan sekarang sudah malam lagi. Angel menghubungi nomer telefon Rio tapi tidak aktif, Angel takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Rio."Sayang, Papa kamu kemana?"Angel mondar-mandir didepan pintu rumah. Angel tidak tahu harus menghubungi siapa. Cemas, takut dan gelisah kini menguasai Angel. Tidak biasanya Rio pergi tanpa memberi kabar seperti sekarang padahal walau cuma pesan singkat Rio selalu menggabari Angel.Suara mobil yang memasuki halaman membuat Angel langsung keteras rumah."Kak Rio"Angel merasa lega saat melihat Rio turun dari mobil. Senyum Angel merekah saat Rio menghampirinya tapi tatapan tajam itu membuat senyum Angel perlahan menghilang.Rio tidak berucap sepatah katapun. Dirinya melewati Angel begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun karena telah membuat Angel mencemaskannya.Angel lalu mengikuti Rio dari belakang. Sikap Rio yang seperti ini membuat Angel sangat bingung."Kak, kamu kenapa? kamu baik-baik saja kan?"Rio memberhentikan langkahnya langsung membalikan badannya berhadapan dengan Angel."Apa kamu bilang? baik-baik saja? KAMU MIKIR NGGA. HAH!"Suasana rumah yang sepi kini berubah jadi tegang. Rio berteriak dan membentak membuat Angel terkejut sekaligus takut. Angel hanya ingin memastikan keadaan Rio tidak lebih dan juga tidak bermaksud membuat Rio marah."Aku tidak tahu apa yang kamu alami"Ucapan Angel disambut dengan tatapan tajam dan wajah penuh amarah membuat Angel mundur beberapa langkah. Orang didepannya ini seperti bukan Rio. Angel ingin Rio yang kemarin."Ck!"Rio langsung mencengkram kedua bahu Angel dengan kuat membuat Angel mengaduh kesaitan tapi Rio tidak perduli."Kak lepas, sakit!" pinta Angel dengan air mata yang turun begitu saja."Kamu tahu, ini semua karena mu!"Ucap Rio dengan penuh penekanan. Angel tidak berani melihat langsung mata Rio. Angel merasa cengkraman Rio sangat menyakitkan dan juga Angel dapat mencium aroma alkohol dari Rio. Rio mabuk?."Kenapa kamu hadir dalam hidupku? KENAPA!!!"Rio meluapkan seluruh emosinya. Angel hanya bisa diam membisu tak berani bersuara."Hidupku sudah bahagia dan sekarang HIDUPKU HANCUR KARENA MU! KAMU YANG MEMISAHKAN KU DENGAN ISTRIKU! ISTRIKU YANG SANGAT AKU CINTAI!"Angel terisak tapi Rio tidak perdului. Angel ketakutan, tangan kanannya gemetar menahan takut dan dunianya hancur. Hati ini terasa mati karena menahan sakit yang teramat sakit. Ini berkali-kali lebih sakit dari pada kemarin, Rio mengatakannya langsung kepadanya dengan luapan amarah yang menggebu."HARUSNYA KAMU TIDAK ADA DISINI! AKU MEMBENCIMU, AKU TIDAK SENANG KAMU DISINI! SEMUA YANG AKU LAKUKAN BUKAN UNTUK MU TAPI UNTUK SENA, ISTRIKU BUKAN KAMU. KAMU HANYA BENALU YANG MENGGANGU!"Rio langsung mendorong tubuh kecil Angel kebelakang hingga dirinya terduduk dilantai dengan kerasnya."Aww" lirih Angel yang merasakan perutnya sakit. Angel hanya bisa terisak sembari berdoa bayinya baik-baki saja."KAMU PERGI DARI SINI! AKU MUAK MELIHAT WAJAHMU!"Angel langsung menatap Rio. Rio mengusirnya tapi ini tengah malam dan Angel bingung harus pergi kemana."Tapi ini sudah malam dan aku bingung pergi kemana""AKU TIDAK PERDULI! KAMU PERGI DARI SINI!"Teriak Rio sembari menunjuk pintu keluar. Angel hanya terdiam dan membuat Rio kesal. Rio tanpa kasihan memaksa Angel untuk berdiri. Angel tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menuruti apa yang Rio mau."Cepat pergi dari sini!"Rio memaksa Angel untuk mengikutinya bahkan cengkraman dipergelangan tangan kiri Angel sangat kuat hingga Angel harus menahan sakit, rasanya pergelangan tangannya akan patah.Rio membuka pintu langsung menarik Angel keluar dari rumah."Pergi!"Rio mendorong Angel hingga hampir terjatuh. Rio langsung menutup pintu dan menguncinya."Kak Rio" panggi Angel dengan suara paruh.Angel duduk didepan pintu berharap Rio akan kembali lagi. Angel menangis sampai suaranya terdengar serak. Angel hanya bisa menangis, semua ini membuat dirinya terguncang. Rio yang ia kenal ramah dan penyayang kini menjadi orang yang tidak punya hati. Dia mengusirnya pada tengah malam dan dalam kondisi hamil. Angel terima dibilang benalu yang menggangu tapi harusnya Rio ingat anaknya yang ada dirahimnya. Ini darah dagingnya, apa tidak ada rasa kasihan untuknya walau sedikit saja.Lampu didalam rumah kini sudah gelap. Rio benar-benar mengusirnya dari rumah ini. Rio mengusirnya dan juga anak yang ada dikandungannya."Sa..sayang. Ka..kamu tenang yah, masih ada mama disini. Mama akan jagain kamu"Angel mengelus perutnya yang terasa sakit. Rasa sakit ini pasti timbul saat dirinya terjatuh tadi."Aku harus kemana?"...***....****
"Harusnya dulu aku menuruti mama mungkin hidupku tidak seperti ini dan rumah tanggaku pasti tidak berantakan seperti ini"
Rio menyesali dulu tidak menurut dan kebodohannya karena selalu menuruti kemauan Sena tanpa berpikir lebih dahulu
..Bandara. 06:00
Rio memasuki bandara yang sudah sangat ramai walau masih pagi dan semuanya terlihat sangat sibuk. Rio langsung duduk ditempat penjemputan.
Rio berharap Sena cepat sampai dengan kondisi yang sehat dan perjalanannya lancar tanpa ada gangguan suatu apapun.
"Aku senang kamu pulang sayang, aku sangat merindukanmu"
...
Di tempat berbeda. Angel membuka kelopak matanya dan masih tidak ada Rio disampingnya.
Angel terduduk diatas kasus. Dilihatnya sekeliling tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran Rio.
"Sayang Papa kamu kemana?" ucap Angel sembari mengelus perutnya. Angel langsung turun dari tempat tidur, mencari Rio yang mungkin berada disisi lain rumah ini.
"Kak! kak Rio!"
Angel terus mencari Rio disetiap sudut rumah tapi Rio tidak ada. Angel menuju halaman dan digarasi tidak ada mobil dan itu berarti Rio tidak pulang.
"Kak Rio" lirih Angel dan langsung kembali lagi kedalam. Angel ingin menelfon Rio, menanyakan kabarnya.
Angel melempar ponselnya kekasur. Angel sekarang semakin cemas saat ponsel Rio tidak aktif.
"Kamu kemana? semoga kamu baik-baik saja"
12 siang
Makanan diatas meja makan hanya dilihati saja oleh Angel. Sudah siang tapi Rio tidak kunjung pulang.
"Apa kamu menunggu Sena atau Sena sudah pulang? harusnya kamu bilang jadinya aku tidak khawatir"
Angel menghela napas beratnya lalu bangkit dari duduknya. Rasa khawatir ini membut dirinya tidak berselera makan. Bahkan Angel sudah sangat merindukan Rio, Angel tidak bisa membayangkan kalau dirinya telah berpisah dengan Rio.
...
13:00/bandara
"Ck"
Rio berdecak kesal. Tubuhnya terasa kaku terlalu lama duduk disini bahkan saptam penjaga melihat Rio dengan tatapan heran karena Rio sudah duduk disini sangat lama.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa"
Rio sangat mencemaskan Sena. Rio takut pesawat yang Sena tumpangi terjadi sesuatu yang buruk.
Sekarang suda jam tujuh malam. Rio masih setia menunggu Sena ditempat yang sama. Rio menatap papan informasi yang menginformasikan lalu lintas diudara dan jam sembilan malam pesawat terakhir dari Prancis. Rio mengira kalau Sena pulang dengan pesawat itu.
drttt...drttt
Rio langsung mengangkat telefon dari Sena.
"Sayang maaf aku ngga jadi pulang"
Raut wajah Rio langsung berubah setelah mendengar ucapan Sena barusan. Sena tidak jadi pulang, dirinya masih berada diPrancis sedangkan Rio menunggunya disini seharian dengan perasaan cemas.
"Ya sudah tidak apa-apa"
Sena memutus sambungan telefonnya. Rio mengepalkan tangan kirinya, menetralkan emosi yang tengah membara.
"Aku nunggun kamu disini seharian tapi kamu ngga jadi pulang, kenapa kamu baru bilang sekarang?"
Dengan kecewa Rio melangkahkan kakinya keluar dari Bandara. Semua ini sangat melelahkan, menanti kedatangan Sena hingga dirinya lupa bahwa perutnya ini belum diisi dari pagi.
Brakk
Rio menutup pintu mobil dengan keras melampiaskan amarahnya.
"kenapa kamu tidak pulang!"
Rio langsung memacu mobilnya dengan kencang tak perduli dengan pengendara mobil yang lain.
"Kenapa...kenapa ..KENAPA!!!"
Rio frustasi menghadapi Sena yang semakin hari semakin membuatnya tak lagi mengenal Sena. Rio selalu menuruti Sena tapi Sena semakin banyak permintaannya.
"Aku selalu menuruti semua yang kamu mau tapi kamu tidak sedikit pun mengerti perasaan ku!"
Mobil Rio melaju sangat kencang menembus sunyinya malam. Rio ingin mencari tempat untuknya menenangkan diri.
Danau
Mobil Rio berhenti didekat danau. Sinar rembulan terlihat sangat terang.
Rio pov
Harus sampai kapan? aku sudah lelah dengan semua ini. Aku sudah tidak mampu lagi berbohong kalau aku bahagia. Aku tidak mau terus-terusan memberi kepalsuan kepada El lagi.
Aku tahu dia akan terluka dan mungkin akan membenciku tapi semua itu kenyataannya. Aku tidak mencintainya, aku berbohong kalau aku mencintainya.
El sangat polos dan lugu. Dia terlalu polos didunia yang kejam ini dan aku membiarkannya terus dalam kebohongan pernikahan ini.
Ku tatap langit yang berhias rembulan. Apa ada diluar sana yang nasibnya sama seperti ku?. Apa aku salah menuruti kemauan istri yang aku sangat cintai?. Sudahlah semua ini tidak ada gunanya, aku ingin ketenangan.
pov end
....
Rumah 20:00
Angel tengah menarap keluar rumah sembari mengelus perutnya. Dari tadi bayi diperutnya bergerak seakan tengah mencari Ayahnya.
"Kamu kangen yah, sama mama juga"
Angel menutup tirai lalu berjalan menuju sofa. Angel merasa ada sesuatu yang aneh pada perutnya.
"Apa maag aku kambuh lagi? kamu lapar yah sayang? kita makan yah"
****
club/bar
23:00
Rio sudah lama berada disini. Tempat yang dibilang orang "tempat melepas stres". Rio meneguk minuman keras yang ia pesan dan ini sudah yang kesekian kalinya. Ditempat ini sangat ramai dan dentuman musik DJ terdengar sangat lantang dan juga lampu-lampu kecil berkerlip yang menghiasi tempat ini.
"Kenapa kamu ngga jadi pulang sayang? aku menunggumu!"
Rio kecewa Sena tidak menepati janjinya padahal dirinya ingin sekali bertemu dengannya.
Rio ingin menuang lagi minuman itu dari botol tapi sepertinya sudah habis. Rio langsung memanggil pelayan dan meminta sebotol lagi.
Pikiran Rio sekarang sangat kacau dan ini bukan dirinya. Rio menyalakan sebatang rokok dan langsung menghisapnya dalam-dalam berharap bebannya akan hilang bersamaan dengan asap putih yang ia hembuskan.
23:55
Angel belum tidur dirinya mencemaskan Rio yang belum pulang dari semalam dan sekarang sudah malam lagi. Angel menghubungi nomer telefon Rio tapi tidak aktif, Angel takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Rio.
"Sayang, Papa kamu kemana?"
Angel mondar-mandir didepan pintu rumah. Angel tidak tahu harus menghubungi siapa. Cemas, takut dan gelisah kini menguasai Angel. Tidak biasanya Rio pergi tanpa memberi kabar seperti sekarang padahal walau cuma pesan singkat Rio selalu menggabari Angel.
Suara mobil yang memasuki halaman membuat Angel langsung keteras rumah.
"Kak Rio"
Angel merasa lega saat melihat Rio turun dari mobil. Senyum Angel merekah saat Rio menghampirinya tapi tatapan tajam itu membuat senyum Angel perlahan menghilang.
Rio tidak berucap sepatah katapun. Dirinya melewati Angel begitu saja tanpa ada rasa bersalah sedikitpun karena telah membuat Angel mencemaskannya.
Angel lalu mengikuti Rio dari belakang. Sikap Rio yang seperti ini membuat Angel sangat bingung.
"Kak, kamu kenapa? kamu baik-baik saja kan?"
Rio memberhentikan langkahnya langsung membalikan badannya berhadapan dengan Angel.
"Apa kamu bilang? baik-baik saja? KAMU MIKIR NGGA. HAH!"
Suasana rumah yang sepi kini berubah jadi tegang. Rio berteriak dan membentak membuat Angel terkejut sekaligus takut. Angel hanya ingin memastikan keadaan Rio tidak lebih dan juga tidak bermaksud membuat Rio marah.
"Aku tidak tahu apa yang kamu alami"
Ucapan Angel disambut dengan tatapan tajam dan wajah penuh amarah membuat Angel mundur beberapa langkah. Orang didepannya ini seperti bukan Rio. Angel ingin Rio yang kemarin.
"Ck!"
Rio langsung mencengkram kedua bahu Angel dengan kuat membuat Angel mengaduh kesaitan tapi Rio tidak perduli.
"Kak lepas, sakit!" pinta Angel dengan air mata yang turun begitu saja.
"Kamu tahu, ini semua karena mu!"
Ucap Rio dengan penuh penekanan. Angel tidak berani melihat langsung mata Rio. Angel merasa cengkraman Rio sangat menyakitkan dan juga Angel dapat mencium aroma alkohol dari Rio. Rio mabuk?.
"Kenapa kamu hadir dalam hidupku? KENAPA!!!"
Rio meluapkan seluruh emosinya. Angel hanya bisa diam membisu tak berani bersuara.
"Hidupku sudah bahagia dan sekarang HIDUPKU HANCUR KARENA MU! KAMU YANG MEMISAHKAN KU DENGAN ISTRIKU! ISTRIKU YANG SANGAT AKU CINTAI!"
Angel terisak tapi Rio tidak perdului. Angel ketakutan, tangan kanannya gemetar menahan takut dan dunianya hancur. Hati ini terasa mati karena menahan sakit yang teramat sakit. Ini berkali-kali lebih sakit dari pada kemarin, Rio mengatakannya langsung kepadanya dengan luapan amarah yang menggebu.
"HARUSNYA KAMU TIDAK ADA DISINI! AKU MEMBENCIMU, AKU TIDAK SENANG KAMU DISINI! SEMUA YANG AKU LAKUKAN BUKAN UNTUK MU TAPI UNTUK SENA, ISTRIKU BUKAN KAMU. KAMU HANYA BENALU YANG MENGGANGU!"
Rio langsung mendorong tubuh kecil Angel kebelakang hingga dirinya terduduk dilantai dengan kerasnya.
"Aww" lirih Angel yang merasakan perutnya sakit. Angel hanya bisa terisak sembari berdoa bayinya baik-baki saja.
"KAMU PERGI DARI SINI! AKU MUAK MELIHAT WAJAHMU!"
Angel langsung menatap Rio. Rio mengusirnya tapi ini tengah malam dan Angel bingung harus pergi kemana.
"Tapi ini sudah malam dan aku bingung pergi kemana"
"AKU TIDAK PERDULI! KAMU PERGI DARI SINI!"
Teriak Rio sembari menunjuk pintu keluar. Angel hanya terdiam dan membuat Rio kesal. Rio tanpa kasihan memaksa Angel untuk berdiri. Angel tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menuruti apa yang Rio mau.
"Cepat pergi dari sini!"
Rio memaksa Angel untuk mengikutinya bahkan cengkraman dipergelangan tangan kiri Angel sangat kuat hingga Angel harus menahan sakit, rasanya pergelangan tangannya akan patah.
Rio membuka pintu langsung menarik Angel keluar dari rumah.
"Pergi!"
Rio mendorong Angel hingga hampir terjatuh. Rio langsung menutup pintu dan menguncinya.
"Kak Rio" panggi Angel dengan suara paruh.
Angel duduk didepan pintu berharap Rio akan kembali lagi. Angel menangis sampai suaranya terdengar serak. Angel hanya bisa menangis, semua ini membuat dirinya terguncang. Rio yang ia kenal ramah dan penyayang kini menjadi orang yang tidak punya hati. Dia mengusirnya pada tengah malam dan dalam kondisi hamil. Angel terima dibilang benalu yang menggangu tapi harusnya Rio ingat anaknya yang ada dirahimnya. Ini darah dagingnya, apa tidak ada rasa kasihan untuknya walau sedikit saja.
Lampu didalam rumah kini sudah gelap. Rio benar-benar mengusirnya dari rumah ini. Rio mengusirnya dan juga anak yang ada dikandungannya.
"Sa..sayang. Ka..kamu tenang yah, masih ada mama disini. Mama akan jagain kamu"
Angel mengelus perutnya yang terasa sakit. Rasa sakit ini pasti timbul saat dirinya terjatuh tadi.
"Aku harus kemana?"
...***....****