
Matahari mulai memudarkan sinarnya di pemakaman keluarga. Bi Inda menyeka air matanya yang turun dari tadi. Bi Inda merasa sangat sedih melihat majikannya yang tengah melamun disamping makam baru yang berukuran kecil.
"Den ayo pulang"
"Ngga mau bi, aku mau menemani Saina" ucap Rio dengan suara yang mengisyaratkan kepedihan.
"Saina?"
"Itu namanya bi, namanya cantikkan?"
Tanya Rio sembari menatap gundukan tanah yang masih basah.
"Iya tapi den harus menemani non Angel kan? kalau dia bangun kasihan sendiran"
bujuk bi Inda berharap Rio mau menurut.
...
Rumah sakit 01:00
"Kalau kamu mengantuk tidur saja" suruh Angel ke Rio.
Rio menggeleng kepalanya kuat. Rio ingin terus menemani Angel hingga Angel tertidur. Angel kembali melamun, semua ini sangat membuat dirinya terguncang, padahal Angel berharap kebahagiaan akan menemaninya hingga semua ini berakhir.
Angel melihat kearah Rio yang sudah ngantuk berat. Rio terlihat sangat kelelahan.
Rio memposisikan kepalanya di pembaringan Angel dengan tangan kirinya menjadi bantal kepalanya sedangkan tangan kanannya menggenggam erat tangan kiri Angel. Perlahan kedua kelopak mata Rio menutup. Rio tertidur dengan posisi yang tidak nyaman.
Angel mengarahkan tangan kanannya ke kepala Rio. Tangan Angel perlahan mengelus rambut kepala Rio.
"Aku tahu kamu lebih sedih dariku, maaf"
Angel pov
Kenapa aku minta maaf? harusnya dia lah yang meminta maaf kepadaku. Rio dan Sena, pasangan yang sangat serasi. Mereka berdua sama-sama tidak punya hati atau hati mereka berubah jadi uang?. Kalau saja aku tidak butuh uang aku tidak akan mau menjadi istri simpanan seperti ini. Istri atau rahim pengganti? entahlah mungkin dua-duanya.
Kenapa hidupku jadi seperti ini? harusnya aku tengah menikmati masa remajaku. Menghabiskan waktu masa mudaku untuk meraih cita-cita yah walaupun aku mengubur dalam-dalam keinginanku untuk kuliah seenggaknya aku bisa kerja di resto atau di mini market. Bergaul dengan teman-teman seusiaku bukan disini meratapi nasib dan menjadi seorang istri yang teraniaya.
Tidak aku pungkiri Rio kalau Rio suami idaman atau suami penurut? semua yang Sena minta pasti dituruti dan semua keinginannya juga akan terpenuhi hanya saja semuanya harus dengan materi. Semua harus dengan uang, apa ada laki-laki lain yang mau menerimaku? aku yang pernah mengandung.
"Anakku"
Aku masih merasakan gerakannya, semuanya. Aku tidak siap menerima ini semua. Aku sayang anakku, dia yang menemaniku dalam suka maupun duka. Air mataku turun begitu saja tapi sebanyak apapun air mataku turun janinku tidak akan kembali. Kenapa Sena seperti itu? bukannya dia menginginkan seorang anak tapi kenapa dia seperti itu? apa karena dia takut Rio mencintaiku? lalu kenapa dia tidak menemuinya dulu. Entahlah aku tidak ingin terlalu jauh mengetahui soal rumah tangga mereka.
pov end.
"Hoamm"
Angel mulai memejamkan kelopak matanya. Angel berharap didalam mimpinya bertemu dengan buah hatinya.
***
Rumah Rio/Sena 21:00
Sena tengah mondar-mandir diruang tamu menunggu kepulangan Rio. Dari tadi Sena mencoba menghubungi Rio tetapi tidak bisa.
"Ck! kamu lagi berduaan dengan perempuan itu? harusnya aku tahu kamu itu sama saja dengan laki-laki lainnya! awas saja kamu Angel, aku akan membuatmu pergi jauh dari kehidupan Rio"
Sena langsung melangkah kearah kamar.
Mentari bersinar dengan hangatnya memulai hari. Sena keluar dari kamar mandi, senyumnya mengembang saat melihat Rio sudah berada disini namun sepertinya Rio ingin pergi lagi.
"Kamu mau kemana?" tanya Sena namub tidak direspon oleh Rio. Rio masih asik melakukan aktifitasnya. Sena yang merasa terabaikan langsung tersulut emosi.
"Kemarin kamu suruh aku pulang tapi sekarang kamu cuekin aku" ucap Sena yang berada dibelakang Rio. Rio melihat pantulan Sena dikaca pintu lemari.
"Kamu sudah nyaman dengan daun muda itu? iya! kamu sudah nyaman tidur sama dia!" sambung Sena lagi. Rio menutup pintu lemari lalu berbalik menatap Sena denga tatapan yang mengisyaratkan kalau dirinya sangat lelah dan tidak mau berdebat dengan Sena.
"Aku kecewa sama kamu! kamu bilang ngga cinta tapi semalaman kamu sama jal*ng itu, kamu habis bercinta sama diakan?" tuduh Sena.
Rio mengepalkan kedua tangannya menahan emosi yang telah menumpuk dihatinya. Tinggal di Prancis dengan waktu yang cukup lama entah kenapa membuat Sena jadi kasar seperti ini dan membuat Rio tidak lagi mengenal Sena. Ini bukan Senanya, Sena yang dulu Rio kenal tidak seperti ini.
"Kamu nuduh aku seburuk itu?"
"Aku ngga nuduh, kamu ngga pulang semalam terus apa lagi pasti kamu bercintakan sama mur*han itu!"
Rio menatap kedua mata Sena. Sena tidak perduli dengan tatapan Rio.
"Sena, aku selalu nurutin kemauanmu. Apa saja, apa kamu lupa ini juga permintaanmu! aku harus pergi"
"Kemana? kamu mau kemana? ngga kamu ngga boleh pergi!" cegah Sena.
Rio tidak menghiraukan ucapan Sena. Rio mulai melangkah meninggalkan Sena. Sena yang tidak ingin ditinggal Rio dan Sena juga tahu Rio pasti menemui Angel.
"JANGAN PERGI! ATAU AKU BILANG KESEMUA ORANG KALAU KAMU ITU SELINGKUH! BIAR SEMUA ORANG TAHU SIAPA ITU MARIO STEVANO!"
Teriakan Sena menggema dipenjuru kamar mungkin para penghuni rumah ini mendengar teriakan Sena. Rio memberhentikan langkahnya lalu berbalik kearah Sena. Rio tidak jadi pergi. Rio masuk kedalam kamar lalu menguncinya.
"Kenapa? kamu takut? kamu takut nama baik kamu tercemar?" ucap Sena dengan penuh piciknya. Rio terlihat sudah mulai terpancing emosi, jelas terlihat diwajahnya.
"Nama baik? aku? kamu lupa siapa yang meminta aku menikah lagi, itu kamu lantas kenapa kamu menuduhku selingkuh?"
"Ck! aku yang meminta tapi aku cuma mau anak dari perempuan itu bukan aku mengijinkan kamu bersamanya!"
Suasana dikamar ini mulai terasa memanas terlebih keduanya nampak tidak mau mengalah.
"Anak?"
Sena menatap Rio heran. Setelah berucap Rio langsung tertawa dengan renyahnya membuat Sena bingung.
"Anak kamu bilang? KAMU MEMBUNUHNYA! KAMU MEMBUNUH ANAKKU, INI SUDAH KEDUA KALINYA! KAMU TIDAK PANTAS JADI IBU!"
Teriak Rio dengan penuh emosi. Sena terkejut tapi namapak Sena biasa-biasa saja.
"A..apa kamu bilang?"
"Iya, kamu membununya" ucap Rio menekankan akan tetapi Sena masih bisa tersenyum sinis.
"Oh. Maksud kamu, aku yang salah gitu?"
"Iya"
"Rio.. Rio jelas ini kesalahanmu! kenapa kamu kasih barang-barang itu ke Angel!"
Rio mengepalkan kedua tangannya. Karena barang yang tak seberapa membuat calon anaknya keguguran.
"Jadi kamu iri?"
"Harusnya itu milik aku! hanya aku!" ucap Sena dengan penuh penekanan. Rio merasa Sena hanya ingin hartanya saja dan Sena tidak memperdulikan perasaannya sama sekali
"Karena itu kamu kasari Angel sampai keguguran?" tanya Rio dengan nada yang tidak percaya.
"Aku ngga maksud buat dia keguguran, salah siapa dia ngga mau serahin cincinnya"
Rio benar-benar tidak percaya, istrinya tamak akan harta terlebih semua yang dikasih keAngel tidak sebanyak yang ia kasih keSena.
"KAMU!" bentak Rio ke Sena. Rio tidak habis pikir Sena dengan tanpa merasa bersalah mengatakan itu semua seakan Sena tidak punya hati nurani terlebih anak itu akan menjadi anaknya. Sena menatap tajam ke Rio. Ini kedua kalinya Rio membentaknya gara-gara Angel da Sena tidak terima akan itu semua.
"Kamu sekarang berani bentak aku? KAMU BENTAK AKU CUMA KARENA JAL*NG ITU!!! KAMU KETERLALUAN!"
"KAMU YANG KETERLALUAN! KAMU NGGA PERNAH SEDIKITPUN MENGERTI PERASAANKU!"
"TERUS APA! KAMU MAU CERAIKAN AKU? IYA.. ITU MAU KAMU! DULU KAMU BILANG CINTA TAPI SEKARANG? SEKARANG KAMU BERUBAH!"
Rio tidak berniat ingin menceraikan Sena. Rio hanya ingin Sena mengerti perasaannya walau hanya sedikit. Rio ingin Sena kembali harmonis seperti dulu.
"KAMU YANG BERRUBAH, KAMU BUAKAN SENA YANG AKU KENAL! KAMU CUMA INGIN HARTAKU! JANGAN MEMBUATKU MENYESAL TELAH MENIKAHI MU!"
Rio langsung keluar dari kamar dan menutup pintu dengan kasar. Sena langsung berteriak dengan keras dan menjatuhkan semua barang yang ada dimeja riasnya
"HAAAAAAAAHHHH!!! SEMUA INI GARA-GARA PEREMPUAN ITU!"
Sena mengacak-acak seprai dan membanting barang-barang yang berakitan dengan Rio.
"AKU BENCI KAMU RIIOOOOO!!"
...
Mobil Rio.
Wajah Rio masih mengisyaratkan kemarahan serta kecewaan. Rio tidak habis pikir Sena seperti ini.
Rio pov
Aku selalu menuruti kemauan kamu! apa pun tapi kenapa kamu malah seperti ini? kamu mencintaimu. Kamu sendiri yang minta aku menikah lagi tapi kenapa sekarang kamu marah? maaf Sena sementara ini aku tidak ingin bertemu denganmu dulu, aku tidak mau terpancing emosi seperti tadi.
Kamu bukan seperti Sena yang aku kenal. Sena yang dulu tidak seperti ini, dia baik dan selalu membuatku tersenyum. Kemana Senaku yang dulu? aku merindukannya. Aku sangat-sangat merindukannya.
pov end
Rio langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi Arfan.
"Fan, kakak ada urusan kamu bisa gantiin kakak kan?"
"Kakak percaya sama kamu!"
Rio mematikan ponselnya lalu membelokan mobilnya kejalan yang bukan menuju kantor. Rio ingin menyendiri dahulu, urusan Angel. Rio sudah mempercayakan kepada bi Inda.
...
Kantor Rio. jam makan siang
Sena memasuki kantor dengan langkah angkuh. Dirinya tidak memperdulikan orang-orang yang menatap ngeri dirinya.
"Pak Rio didalam?" tanya Sena ke sekertari Rio. Sena sekarang berada didepan ruang kerja Rio.
"Pak Rio belum datang"
"Aku ingin masuk!"
Sekertaris Rio membukakan pintu untuk Sena. Sena langsung masuk untuk memastikannya sendiri.
Sena melihat sekeliling namun Rio tidak ada.
"Apa?"
Kedua tangan Sena mengepal. Sena menduga kalau Rio tengah berduaan bersama Angel.
"Awas saja kalau sampai dugaanku benar!"
...
Rumah 14:00
Angel yang sedang melamun diruang tengah dikejutkan oleh kedatangan Sena. Jujur Angel merasa benci kepada Sena yang membuatnya kehilangan janinnya. Angel sendiri baru pulang dari Rumah sakit dan dirinya masih merasa lemas untuk berdebat dengan Sena.
"Rio tidak ada disini" ucap Angel langsung sebelum Sena berbicara. Sena melihat Angel dengan tatapan angkuh dan seolah-olah jijik melihat Angel.
"Oh yah? bisa saja kamu sembunyikan dia?" ucap Sena dengan intonasi yang membuat Angel kesal.
"Nggak percaya? sanah cek sendiri!" suruh Angel yang ingin sekali Sena pergi secepat mungkin. Sena berdecak lalu pergi mencari Rio dipenjuru rumah ini.
Sena membuka seluruh pintu yang tertutup berharap dirinya bisa menemukan Rio. Sena ingin Rio pulang, Sena ingin meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya.
"Ini tempat terakhir"
Sena menaiki tangga menuju atap berharap Rio berada disana.
"Sa--"
Sena tidak meneruskan ucapannya. Disini tidak ada siapa-siapa padahal Sena berharap Rio berada disini.
"Kamu kemana?ck.. aku harus mengusirnya biar hidupku seperti dulu lagi"
Sena bergegas menemui Angel. Sena ingin Angel pergi dari rumah ini harus ini juga.
"Sudah aku bilangkan?"
Ucap Angel saat Sena menghampirinya. Sena terlihat kesal bahkan Sena berdecak.
"Kamu pergi dari sini" usir Sena langsung membuat Angel mengeryitkan keningnya.
"Maksudnya?"
"Kamu sudah nyaman sama suamiku? atau kamu mau uang? aku akan berikan semaumu tapi kamu pergi dari sini!"
"Ck!"
Angel berdecak. Sena benar-benar membuatnya sangat kesal terlebih Sena seakan mengecapnya sebagai perempuan matre yang hanya ingin uang.
"Ayo sebutkan! 100juta, 200 juta--"
Angel menatap datar Sena yang masih berbicara nominal uang yang membuat Angel merasa tersinggung. Dulu memang dirinya membutuhkan uang tapi bukan berarti hidupnya bisa dibeli dengan uang.
"Tidak perlu, kalau memang ini semua sudah berakhir dengan senang hati aku akan pergi"
"Ohya? Ya sudah cepat pergi dari sini, kamu datang kemari tidak membawa apa-apa so pergi sekarang juga!"
Sena membuka dompetnya lalu mengambil semua uang didalam dompet lalu melemparnya ketubuh Angel.
"Buat ongkos taxi" ucap Sena dengan sinisnya. Angel menatap tajam Sena, kedua tangannya mengepal. Sena telah merendahkannya secara terang-terangan.
"Aku tidak butuh uang mu!"
Angel langsung melangkah pergi meninggalkan Sena dan penjara mewahnya ini.
"Akhirnya semua jadi milikku, Rio aku tidak rela ada yang memilikimu selain aku!"
Sena menunjukan senyum kemenangannya. Sekarang Rio hanya miliknya tinggal meminta maaf kepada Rio.
.
Angel melangkah keluar gerbang berbarengan dengan itu bi Inda turun dari taxi. Bi Inda sendiri habis belanja disuper market.
"Non El, mau kemana?"
"Pulang, Sena yang minta"
"Non Sena? jangan dulu pulang biar den Rio yang ngantar"
"Ngga bi, aku nggak mau berurusan dengan Sena lagi"
"Kalau itu yang non mau, naik taxi yah"
Bi Inda langsung menarik tangan Angel menuju taxi.
"Tapi bi"
"Bibi yang bayar, pak anterin dia yah?
"Baik"
Bi Inda mengberikan beberapa lembar uang ke Angel.
"Makasih bi?"
Angel tidak bisa menahan air matanya turun. Bi Inda begitu baik kepadanya.
"Jangan menangis, kamu istriahat yang cukup yah"
"Iya bi makasih, bibi jaga kesehatan yah?"
"Iya non juga"
Bi Inda menutup pintu taxi. Taxi itupun melaju pergi. Bi Inda tahu Rio tidak mengetahui ini semua.
"Dari dulu sikap Sena tidak berubah, pantas saja nyonya lebih memilih tidak mengurusi mantunya, untung saja menantuku tidak seperti non Sena"
18:00 Rumah
Rio tengah mencari Angel untuk memberikan boneka beruang ini kepadanya.
"El.. Angel! ih kemana sih?"
Rio bingung rumah ini sepi seakan tidak ada penghuninya. Rio langsung menelfon bi Inda, padahal bi Inda bilang Angel sudah diperbolehkan pulang.
"Bi kok rumah sepi?"
"Non Angel pulang"
"Apa? pulang"
"Disuruh non Sena, saya juga dirumah yang baru"
"Sena? ya sudah"
Rio memutus sambungan telefonnya. Jujur Rio tidak setuju Angel pulang terlebih dengan kondisi seperti itu.
"Besok aku temui dia"
Rio memutuskan pulang kerumah yang baru. Rio takut Sena akan mengira kalau dirinya bersama Angel. Rio tidak mau Angel kenpa-napa.
....
Rumah Angel
Angel turun dari taxi. Angel tersenyum senang akhirnya bisa pulang kerumah ini lagi. Angel memasuki halaman yang tidak digerbang menuju pintu rumah.
tok..tok.. tok
Angel mengetuk pintu. Terdengar suara dari dalam rumah serta langkah kaki menuju pintu.
"Angel!"
"Ibu!"
Angel langsung memeluk Jihan dengan erat begitu juga Jihan yang sangat merindukan Angel.
"Kamu pulang sayang!"
"El pulang Bu, El kangen!" ucap Angel ditenga-tengah iskannya. Seorang laki-laki datang menghampiri mereka berdua.
"El, Anak ayah?"
Angel langsung melepas pelukan dari ibunya lalu berlari kearah Ayahnya.
"AYAH!"
Angel langsung memeluk Ayahnya dengan erat. Ayah Angel bernama Erik.
"Ayah sangat senang kamu pulang! maafin Ayah kamu jadi seperti ini!"
Erik memeluk putri mungilnya. Setiap hari Erik selalu menyalahkan dirinya sendiri karena Angel harus berkerja untuknya. Erik merasa dirinya tidak pantas disebut Ayah.
Angel melepas pelukannya. Angel menggeleng.
"Yah, El senang bisa bantu Ayah. Ayah jangan sakit lagi yah"
"Iya tapi kenapa wajah kamu pucat seperti ini? kamu sakit?" tanya Erik dengan nada yang terdengar khawatir.
"El cuma kecapekkan aja kok" ucap Angel dengan meyakinkan. Angel tidak mau orang tuanya tahu apa yang telah terjadi kepadanya.
"Kamu istirahat gih" suruh Jihan.
"Iya, El kekamar"
"Iya sayang"
Angel berjalan kearah tangga. Kamar Angel berada dilantai atas. Rumah ini memang dua pantai tapi lantai atas hanya seukuran kamar Angel.
Jihan dan Erik terlihat begitu senangnya, putri kecilnya kini sudah pulang.
"Bu, hari inikan Angel ulang tahun"
"Iya kamu benar, aku mau masak yang istimewa untuknya. Ayah cari kue yah"
"Iya"
...
Kamar Angel.
Angel langsung merebahkan tubuhnya kekasur yang tidak senyaman waktu dirumah Rio tapi Angel merasa senyaman apapun kalau bukan dirumah sendiri itu tidak ada gunanya.
"Aku tidak membawa apapun dari rumah itu jadi lupakan semua El! lupakan Rio, lupakan semua yang telah terjadi. Lanjutkan hidupmu El!"
Perlahan rasa lelah yang dirasa Angel membuat kelopak matanya mulai menutup.
....
Rumah Rio /Sena. Kamar
Sena menghampiri Rio yang tengah berdiri dibalkon. Sejak kepulangan Rio dua jam lalu,Rio tidak berucap sepah katapun kepada Sena membuat Sena merasa tidak nyaman.
"Maaf"
Sena langsung memeluk Rio dari belakang dengan eratnya. Rio tidak beringinan untuk membalas pelukan Sena walau dia ingin. Rio masih berduka kehilangan calon anaknya.
"Aku tahu aku salah, aku minta maaf! aku egois tapi aku ingin kita seperti dulu lagi"
Rio masih tidak bergeming. Rio menatap kelangit yang tak ada satupun cahaya yang menghiasinya.
"Aku ingin rumah tangga kita tidak seperti ini, aku tahu kamu ingin punya anak tapi aku belum mampu. Aku takut mama kamu meminta kita bercerai, aku tidak mau"
"Kenapa?"
"Aku mencintaimu"
"Aku atau hartaku?"
"Yang aku peluk!"
Sena semakin mengeratkan pelukannya. Rio dapat merasa air mata Sena merembas dipunggungnya.
"Aku mohon maafkan aku, kamu mau adopsi anak? ayo kita adopsi"
Rio tidak merespon ucapan Sena, baginya ini sudah sangat terlambat. Andai dulu Sena mau menuruti kemauannya ini semua tidak terjadi.
"Kamu mau aku berhenti jadi model?"
Mendengar ucapan Sena. Rio langsung melepas pelukan Sena. Rio berbalik menghadap Sena.
"Kamu?"
"Kalau kamu mau, aku bisa berhenti"
"Iya"
"Kalau itu mau kamu, aku akan menurut"
Rio tidak percaya dengan yang Sena katakan barusan. Sena berhenti dari dunia penuh kegelamoran hanya untuk dirinya.
"Kamu tidak percaya?"
Rio menggeleng. Sena tahu Rio tidak akan mudah mempercayai ucapannya.
"Aku akan buktikan kekamu" ucap Sena dengan tatapan menyakinkan. Rio langsung menarik Sena kepelukannya. Hal yang ingin ia lakukan dari kemarin.
"Aku rindu Senaku!"
"Aku juga merindukanmu"
Sena membalas pelukan Rio dengan eratnya. Sena tidak mau Rio berpaling darinya hanya untuk gadis sederhana seperti Angel.
"Jangan pergi lagi" pinta Rio.
"Aku tidak akan pergi lagi, aku janji"
"Terimakasih sayang"
Rio tersenyum senang akhirnya belahan jiwanya kembali kepelukannya.
...
Rumah Angel. 22:00
Kedua orang tua Angel tengah mempersiapakan pesata kecil untuk Angel.
"Sudah semua, ayo bangunkan dia"
Erik membawa kue ulang tahun berukuran sedang menuju kekamar Angel. Jihan mengetuk pintu kamar Angel namun Angel tidak merespon.
Jihan membuka pintu kamar Angel. Terlihat Angel yang tengah tertidur.
Keduanya menghampiri Angel. Jihan membangunkan Angel. Perlahan kelopak mata Angel membuka.
"Ibu.. Ayah"
"Selamat ulang tahun sayang"
Angel langsung terduduk. Angel mengucek kedua matanya. Erik menyodorkan kue kearah Angel.
"Memangnya ini hari ulang tahunku?" tanya Angel dengan polosnya membuat kedua orang tua Angel tersenyum.
"Kamu ini, masa lupa hari kelahiranmu sih?" canda Erik. Angel menggembungkan kedua pipinya menandakan kalau dirinya kesal. Erik semakin menjadi meledek Angel. Erik menjulurkan lidahnya mengejek Angel membuat Angel semakin kesal.
"Ayah!" ucap Angel plenuh kekesalan namun Erik hanya menunjukan wajah gelinya saat melihat putrinya kesal kepadanya.
"Sudah-sudah, ayo tiup lilinnya" lerai Jihan yang sejujurnya rindu dengan kebersamaan ini.
Angel menatap lilin berangka yang melambangkan umurnya sekarang. Usia yang bisa dibilang dewasa tapi kedewasaan seseorang tidak tergantung umur tapi kemauan untuk bersikap dewasa.
Sebelum meniup lilin Angel mengantupkan kedua tangannya. Membuat permohonan untuk satu tahun kedepan. Berharap semua yang ia lewati kemarin itu hanya sampai disini. Kemarin sangatlah melelahkan serta menyakitkan terlebih tanpa dukungan orang tuanya.
Angel langsung meniup lilin itu. Kedua orang tuanya tersenyum senang melihat wajah ceria Angel, malaikat penyejuk hati.
"Selamat ulang tahun sayangku!"
ucap Jihan dan Erik bersamaan lalu mereka bersamaan mengecup pipi Angel. Masing-masing pipi mendapatkan kecupan hangat penuh kasih sayang.
"Aku sayang kalian"
"Kami juga sayang"
Setelah meniup lilin ulang tahun kedua orang tuan Angel mengajak Angel kelantai bawah. Angel terlihat sangat senang berkumpul kembali dengan orang tuanya.
...
Rumah Rio/Sena
Rio membuka kelopak matanya dan kecupan hangat langsung mendarat dibibirnya.
"Selamat pagi suamiku"
Rio langsung tersenyum. Sena kini seperti dulu lagi seperti Sena yang ia kenal.
"Hari ini kamu kerja?"
"Iya atau kamu mau pergi bersama?"
"Aku akan menunggu, lagian nanti malam kita bertemu lagi"
..
Sena tengah memakaikan dasi dikerah Rio. Ini kali pertamanya melakukan ini dan untungnya dirinya bisa melakukannya. Rio nampak senang Sena mau berubah untuknya. Senyum Rio masih terukir manis dibibirnya.
"Kamu tambah cantik saja"
"Jangan memujiku seperti itu ntar aku terbang lagi!"
"Oh iya? kalau begitu aku akan menelukmu seperti ini agar kamu tidak bisa terbang"
Rio menarik Sena kepelukannya. Rasanya tenang saat memeluk orang yang sangat dicintai.
....
10:00
Rio tengah mengawasi warung makan milik Jihan. Dari dalam mobil ini Rio dapat melihat Angel yang tengah membantu ibunya.
Rio langsung keluar dari mobil saat Angel keluar warung dan berjalan menuju suatu tempat. Rio mengikuti Angel dari kejauhan, Rio tidak mau Angel mengetahui kalau dirinya mengikutinya.
..
Taman
Angel menyusuri taman dengan langkah pelan. Bayangan kemarin sangat menggangunya.
"Huufff, kenapa hidupku seperti ini? aku merasa tidak tenang"
Angel masih terbayang akan wajah Rio, perhatiannya, senyumannya, amarah dan tatapan penuh kebencian dari kedua matanya.
Angel memilih duduk dibangku yang menghadap air mancur namun saat Angel melihat arah kiri, Angel melihat kedatangan Rio. Angel langsung bangkit lalu berjalan pergi seolah-olah tidak melihat kedatangan Rio.
"El tunggu!"
Angel langsung berlari menjauh namun Rio mengejarnya. Rio berlari dengan cepat sehingga bisa menyusul Angel.
"Tunggu!"
"Mau apa lagi sih? lepas!"
Angel menatap Rio dengan penuh kekesalan. Kalau Sena melihatnya dengan Rio akan menjadi masalah besar.
"Kenapa kamu pergi?"
"Sena yang nyuruh dan aku tidak mau melihatmu dan juga Sena lagi. Semua ini sudah berakhir!"
Rio tersenyum Sinis baginya ini semua belum berakhir. Uang yang dipakai untuk membayar biyaya rumah sakit adalah uang miliknya bukan Sena berarti yang menentukan ini sudah berakhira atau tidak hanya dirinya yang menentukan.
"Berakhir kamu bilang? ini belum berakhir, kamu belum melahirkan anak untukku" ucap Rio dengan penuh penekanan.
Angel mengepalkan kedua tangannya. Tatap mata tajam ia tunjukan.
"Dulu Sena yang menawarkan perjanjian ini dan Sena lah yang berhak memutuskannya! Satu nyawakan? istri kamu yang membunuhnya, impaskan sekarang? tidak ada hutang nyawa lagi!"
Angel berbalik dan ingin melangkah pergi namun Rio.
"Kamu bilang, kamu mencintaiku"
Angel berhenti lalu berbalik menatap Rio. Angel tersenyum Sinis.
"Itu dulu, lagian kamu tidak mencintaiku jadi buat apa aku membuang waktu ku untuk mencintaimu?"
Angel sangat tahu kalau Rio hanya mencintai Sena. Semua yang dilakukan Rio hanyalah belenggu yang menjerat kehidupannya. Sudah sering sekali Rio melukai hati Angel dan hari ini Angel memutuskan untuk pergi dan mengubur dalam-dalam perasaannya. Dirinya tidak mau berurusan lagi dengan Sena dan tidak ingin disebut pelakor lagi.
"Aku mencintaimu, sudah aku bilang aku akan berusaha adil. Ayo pulang"
"Ngga!"
"Kalau begitu Terima cincin ini!"
...***....***....