
Kamar Sifa Deren
"... Rio mendukung Sena?" tanya Deren dengan nada tak percaya.
"Iya, dan Sena tidak tahu aku cuma ibu pengganti. Satu hal yang harus kamu ingat dalam hidupmu yaitu Sena itu sepertimu, egois. Punya sejuta cara untuk memperdaya seseorang, anggap saja Sena tengah menanggung karmamu"
Deren mengepalkan kedua tangannya. Sifa tidak memperdulikan Deren, dirinya kembali fokus ke bingkai foto ditangannya.
"Kamu sedang apa, mama kangen"
Sifa membelai foto anaknya yang telah meninggal. Kepalan tangan Deren memudar saat menginggat kesalahan yang dulu telah ia perbuat. Hari kecil Deren merasa kalau ini memang kesalahannya.
"Sebaiknya kamu tidur sudah malam" suruh Sifa tanpa menatap Deren.
..
Keesokan harinya Deren menemui Rio yang tengah berbincang dengan Sifa sedangkan Sena masih tidur.
"Ma, bisa kamu pergi dulu? aku ingin berbicara berdua dengan Rio"
"Baiklah"
Sifa langsung pergi. Melihat Deren seperti ini membuat Rio merasa takut, mungkinkah Sena telah menceritakan semu kepada Deren.
"Kenapa Pa?"
"Kamu tahu Sena cuma pura pura hamil?"
"I..iya"
"Lantas kenapa kamu mendukungnya?"
"Rio hanya ingin Sena bahagia itu saja"
"Kamu yakin hanya itu?"
"Iya Pa. Aku terima semua hal yang mungkin akan terjadi"
"Kamu yakin? sebegitu cintanya kamu kepada istrimu hingga kamu membiarkannya membohongi dirinya sendiri?"
"Itu?"
"Kamu itu suami dari putriku sudah seharusnya kamu menuntun dia kejalan yang benar. Jangan karena cinta kamu membiarkan semaunya terserah Sena kalau kamu tidak setuju kamu utarakan jangan hanya mengiyakan saja tanpa berpikir hal yang mungkin terburuk dalam hidupnya seperti sekarang. Sudahi sandiwara ini karena yang disalahkan itu putriku, keluargamu itu pastinya membelamu sedangkan putriku akan bersedih disisa hidupnya. Apa kamu paham maksudku?"
"Tapi Sena akan marah, aku tidak mau itu"
"Ri, kamu tanyakan ke diri kamu sendiri "apa kamu bahagia dengan pernikahan ini" kamu tahu Sena sangat mencintaimu hingga dia selalu melakukan apapun yang membuatmu selalu tertarik kepadanya. Sena salah dalam menyampaikan rasa cintanya kepadamu, Sena selalu marah, curiga bahkan selalu menuntutmu. Papa mohon hilangkan sifat buruk Sena karena itu didikkan Papa yang keliru. Aku mohon"
Rio tidak percaya bahwa seorang Deren yang sifatnya keras mengakui kesalahannya bahkan memohon untuk merubah putrinya.
"Ri, tolong jadikan Sena seorang yang lebih baik dari sekarang. Jangan biarkan dia terus seperti ini kalau memang kamu masih mencintainya"
"Kenapa papa bilang seperti itu? pastinya Rio akan berusaha untuk merubah sifat Sena"
"Ri, aku juga laki laki sepertimu. Aku terkadang merasa jenuh dan membanding-bandingkan istriku sendiri dengan orang lain tapi jangan sampai itu terlewat dari sewajarnya itu bisa membuat hidup yang tentram hancur dalam sedetik dan penyesalan seumur hidup. Camkan ini baik baik, "diluar sana banyak yang lebih baik tapi tidak ada yang mengerti diri kita sendiri lebih baik dari wanita yang menemani dari titik nol" kamu harus paham itu sebelum memutuskam untuk berpaling"
Mendengar ucapan Deren, Rio curiga Deren mengetahui apa yang terjadi dirumah tangganya.
"Pa"
"Sena selalu egois dan banyak kekurangan mungin itu yang membuarmu merasa lelah menghadapinya tapi Senalah yang menemanimu hingga titik ini. Kamu masih ingat janjimu kepadaku? karena itu aku ijinkan Sena menikah diusia yang Yang sangat muda"
"Rio masih ingat akan semua itu"
"Baguslah. Satu hal lagi tolong kamu sebisa mungkin menjauhkan Sena dari mamanya"
"Loh, kenapa?"
"Kamu tidak perlu mengetahuinya, lakukan saja dan Sena akan lebih baik dari sekarang!"
Selesai berucap Deren langsung pergi menggalkan Rio yang merasa bingung.
"Apa mungkin karena sifat Sena itu mirip dengan mamanya? ini membuat ku delima, siapa yang harus aku pilih? Sena atau Angel?"
Rio menghela napas beratnya, semua yang dikatalan Deren memang banyak benarnya. Dari awal dirinya mau menikah lagi hanya untuk membahagiakan Sena namun waktu membuat pernikahan sementara ini semakin nyata dan itu membuat Sena marah.
"Kepalaku serasa mau pecah"
...
Rumah Amanda Riko
06:00
Angel tengah menyirap tanaman dihalaman samping. Hari ini Angel bangun lebih awal sebab dirinya merasa gelisah saat jauh dari dirinya membuat tidurnya tidak nyenyak.
"Ayo minum"
Senyum manis mengembang dibibir Angel. Dari kejauhan Arfan memperhatikan Angel. Arfan heran karena tumben sekali Angel sudah bangun.
Perlahan Arfan menghampiri Angel untuk mengagetkannya.
Angel tidak merasakan kehadiran Arfan hingga dirinya melihat bayangan didekat kakainya dan filing Angel mengatakan kalau itu Arfan.
Angel langsung membalikan badan membuat selang itu mengarah keorang yang beada dibelakangnya.
"ANGELLL!!!" Teriak Arfan saat air yang mengalir diselang itu menyemprot dirinya.
"Eeehh?"
Angel buru-buru mengarahkan selangnya kesamping. Arfan mengelap wajahnya dengan telapak tangannya.
"Kamu sengaja yah!" tuduh Arfan. Angel dengan polosnya menggeleng.
"Jangan bohong!"
"Iihhh siapa suruh dibelakangku! lagian kamu kan belum mandi ya ngga apa-apa lah kena air, sekalian mandi" ucap Angel asal lalu menunjukan dua jarinya yang berbentuk huruf V.
"Asal ciplak aja tuh bibir, memangnya aku ini burung beo!" dengus Arfan.
"Mungkin"
"Terserah kamu lah, eh tumben udah bangun"
"Bangunnya pagi salah, bangunnya siang salah. Ribet banget sih hidup kamu"
"Lah kok malah kemana-mana sih?" tanya Arfan heran. Arfan langsung merebut selang ditangan Angel. Angel bersiap menjauh takut Arfan akan melakukan hal yang sama.
"Dih, siapa juga yang mau nyiaram kamu" ucap Arfan cuek langsung menyiram tanaman. Angel memangunkan bibirnya, dirinya sangat kesal sekali dengan Arfan yang pagi-pagi sudah membuat mood-nya buruk.
Arfan melirik kearah Angel yang tengah melamun. Senyum jahil Arfan muncul dibibirnya lalu Arfan mengarahkan selang itu kearah Angel.
"ARFAAANNNN" teriak Angel dengan gemasnya. Arfan yang puas mengerjai Angel langsung kabur begitu saja meninggalkan Angel dan selang yang airnya masih mengalir.
"Nyebelin banget!"
Angel mengelus perutnya namun membuatnya mengingat Rio. Angel menghela napas, rasa sesak didadanya mulai muncul.
"Mau sampai kapan ini semua?"
...
Rumah Sifa Deren/ kamar Sena
Sena perlahan membuka kelopak matanya. Sena melihat pantulan dirinya dicermin lemari pakaian.
"Ri"
Sena memanggil Rio namun tidak ada respon. Sena mengira Rio sudah pergi.
Sena terlihat mulai cemas, dirinya turun dari tempat tidur mencari Rio diruangan ini.
"Rio.. Rio"
Sena sangat cemas serta ketakutan, bipolar-nya kini perlahan mulai muncul kembali.
Sena menggigit kuku jarinya sembari duduk ditepi kasur. Suara pintu dibuka membuat Sena berharap itu Rio.
"Rio" Sena memanggil Rio tapi ternyata itu Deren.
"Papa?" Sena nampak kecewa. Deren menutup pintu lalu menghampiri putrinya.
"Kamu nyariin Rio?"
"Iya"
"Rio dibawah, sedang sarapan"
Mendengar itu Sena merasa senang, ia buru-buru menuju pintu.
"Jangan dulu pergi, papa mau bicara denganmu kalau kamu ingin Rio terus jadi Suamimu dengarkan Papa dulu"
Sena yang ingin memegang gagang pintu mengurungkan niatnya. Dirinya melihat kearah Deren yang tenga duduk ditepi kasur sembari menepuk-nepuk sisi sebelahnya seakan menyuruh Sena duduk.
"Papa mau bicara apa?"
"Sini duduk"
Sena mengangguk lalu menghampiri Deren. Deren merapikan rambut putrinya.
"Pa?"
"Papa sayang sama kamu melebihi diri papa sendiri"
"Papa cuma mau bilang itu?"
Sena langsung bangkit, Sena menganggap ucapan Deren hanyalah kebohongan karena pengaruh dari Sifa. Deren langsung mencengkram pergelangan tangan Sena, melarangnya pergi.
"Papa tahu kamu tidak percaya dengan Papa tapi Papa tahu apa yang kamu harus kamu lakulan untuk terus memiliki Rio tanpa harus mengancamnya"
Sena terdiam, dirinya merasa takut Deren akan memarahinya sebab Deren mengetahui Rio datang kerumah ini itu karena ancaman darinya. Deren sendiri tidak tahu menau tentang rumah tangga Sena dan Rio hanya saja dia tahu Sifa ibu pengganti itu akan mengajarkan hal yang sama dengan apa yang selalu Sifa lakukan kepada dirinya dan itu berarti Sena juga kemungkinan besar melakukan hal yang sama.
"Papa jangan ikut campur urusan rumah tangga Sena"
"Papa tidak ingin tapi Papa harus meluruskan sikap kamu itu. Dengarkan Papa baik-baik, sifat kamu itu bisa membuat Rio berpaling darimu"
Sena mencoba melepas cengkraman Deren tapi Deren tidak mengijinkannya. Sena tidak mau mendengar omongan Deren sebab dirinya lebih mempercayai Sifa.
"Dengarkan dulu sedikit apa yang Papa akan bicarakan kalau kamu tidak ingin berpisah dengan Rio"
Dengan sedikit pengertian akhirnya Sena mau menurut. Deren menghela napas, dirinya menyesali tidak melakukan ini dari dulu.
"Kamu dengan Rio sudah menikah lebih dari lima tahun dan sifat kamu masih sama sebelum kamu menikah. Papa tahu Rio sangat mencintaimu dan selalu mendukungmu, dia selalu mengertimu tapi ada kalanya Rio merasa jenuh dan lelah menghadapimu. Saat kalian bertengkar hampir tidak ada yang mau mengalah dan kalau pun ada pasti Rio"
"Papa belain Rio dibandingkan putrimu ini"
"Dengarkan dulu baik-baik dengan kepala dingin! jangat cepat emosi sebab emosi sesaat bisa menghancurkan semuanya"
"Baiklah"
"Rio tidak pernah menuntutmu lebih tapi kamu malah selalu menuntutnya lebih dan Rio selalu berusaha yang terbaik untukmu tapi kamu seolah-olah tidak menggangapnya. Sadar atau tidak sadar kamu mulai melepas Rio, sifat acuhmu itu bisa membuat Rio berpaling darimu. Tadi Papa bicara denagan Rio"
"Terus?"
"Intinya dia sangat mencintaimu, Papa tidak tahu dia sungguh-sungguh atau cuma kata-kata saja"
"Lalu, aku harus bagaimana?"
"Cobalah untuk mengerti dirinya, Rio itu orangnya simpel. Rio terbiasa melakukan semua hal sendiri, tugas kamu hanya membuat Rio tersenyum dan membuat Rio merasa kalau dirinya itu dianggap suami olehmu"
"Caranya?"
"Kamu kan pernah pacaran sama Rio, jadi Sena yang dulu. Perhatian kecil darimu itu sudah cukup"
"Benarkah, tapi apa itu memang cukup? aku mengancam Rio hanya itu yang ampuh"
"Kamu salah sayang, itu malah membuat Rio muak. Kamu harus coba menceritakan apa yang kamu rasa keRio. Jelaskan kepadanya kalau kamu sangat mencintainya dengan itu Rio akan memahami dirimu"
"Iya Pa, terima kasih"
"Sena"
"Iya"
"Papa mohon sama kamu, jangan sampai mama kamu bertemu dengan ibu mertuamu lagi. Mama kamu itu biasa memperburuk keadaan, yah samapai kamu benar-benar yakin Rio tidak akan berpaling denganmu"
"Baiklah"
"Kamu samperin Rio gih"
"Iya"
cup
Sena mengecup pipi Deren lalu pergi. Deren merasa lega telah mengutarakan semua keSena tanpa membuat dirinya curiga dan keadaan mood Sena sedang bagus karena itu semua berjalan lancar.
"Sifa! didikkan apa yang kamu ajarkan kepada putriku?"
Deren masih ingat saat tangan Sifa menimang Sena saat masih bayi terasa kasih sayang Sifa untuk Sena. Sifa selalu memanjakan Sena dan menyayanginya hingga Deren tidak mengawasi Sifa karena terlalu percaya kepada Sifa. Deren sendiri mengetahui niat busuk Sifa baru satu tahun terakhir ini dan itu pastinya sudah sangat-sangat terlambat.
"Maafin Papa, sayang"
...
"Eh?"
Rio terkejut saat Sena datang dan langsung mengecup pipi kirinya.
"Selama pagi suamiku"
Rio mengerutkan keningnya, tumben sekali Sena baik kepadanya dan Rio menduga bahwa ada maksud tersembunyi dibalik ini semua.
"Kenapa?"
"Tidak ada"
"Mau kekantor yah?"
"Cuma sebentar"
"Huff.. sebentarnya kamu kan lama, sama kek aku" ucap Sena sembari mengambil selembar tisu lalu dipakaikannya tisu itu untuk mengelap tepi bibir Rio.
"Udah besar makannya kek bayi" dengus Sena yang masih membersihkan noda dibibir Rio.
"Dari pada kamu sukanya marah-marah mulu"
Mendengar ucapa Rio barusan membuat Sena menmanyunkan bibirnya. Rio tersenyum tipis lalu mengecup bibir Sena sekilas membuat Sena semakin kesal plus malu.
"Ngapain ditutup mukanya?"
Rio berusaha membuka tangan yang menutupi wajah Sena.
"Sayang, main petak umpet apa? pakek ditutup segala seperti ini"
"Ih nyebelin!" ucap Sena sembari menurunkan kedua tangannya.
"Eh? kok merah gitu pipinya?" tanya Rio seakan mengejek sekaligus menggoda Sena.
"Rio!"
"Kenapa? masih kurang yang semalam?"
"Apaan?" tanya Sena bingung namun melihat tatapan dan juga senyum usil Rio membuat pipi Sena memanas.
"Kamu mah! Nakal banget"
Dari kejauhan Sifa memperhatikan mereka. Sifa nampak kecewa melihat Rio dan Sena akur padahal ia ingin mereka berdua ribut dan bercerai.
"Ri, aku mau bicara sesuatu sama kamu dikamar"
"Disini saja atau beneran kamu masih kurang?"
"Iya aku masih kurang dipijitnya, buruan ayo!"
Sena menarik pergelangan tangan Rio. Rio merasa ada kesenangan tersendiri melihat Sena yang seperti ini.
.
Sesampainya dikamar, Sena tidak langsung berbicara nampaknya Sena ragu mengungkapkannya.
"Katanya mau bicara?"
"Aku bingung harus mulai dari mana, Ri"
"Loh, kenapa? bicara saja jangan ragu"
"Aku tahu, aku selama ini belum bisa jadi istri yang kamu inginkan, aku minta maaf. Aku sangat mencintamu, katanya kamu menyuruh orang untuk mengawasiku selama diPrancis tentunya kamu tahu benar kalau aku tidak main gila dengan pria lain, ya aku mengakui kalau aku suka pergike bar, aku hamburkan uang kamu. Ri, kamu harus tahu aku melakukan itu kerena itu yang mampu membuatku lupa akan Angel dan pernikahan keduamu itu. Kamu salah saat menganggapku bahagia dengan pernikahan keduamu ini, hatiku hancur Ri. Melihatmu bersama wanita lain itu membuatku seakan mati, kamu pasti tanya kenapa aku menyuruhmu menikah lagi kalau aku tersakiti"
"Iya, semua yang aku belum ketahui, ceritakan semua itu sekarang"
"Sudah aku bilang mama kamu ingin seorang cucu dan aku belum bisa memberikannya, aku tahu kamu akan sabar menunggunya tapi mama Amanda sudah sangat menginginkannya. Aku bingung harus bagaimana dan saat bertemu dengan Angel, hal itu muncul dipikiranku tanpa pikir panjang aku menawarkan perjanjian itu ke Angel tanpa berpikir hatiku ini akan terluka atau tidak dan aku juga tidak memikirkan perasaanmu. Aku hanya ingin Mama Amanda bahagia itu saja"
Air mata Sena mengalir begitu saja dipipinya. Rio tidak menyangka bahwa Sena ternyata sangat memperdulikan ibunya padahal ia pikir Sena tidak pernah menganggap Amanda selayaknya ibunya sendiri.
"Semakin hari aku merasa takut kamu mencintai Angel walau pun kamu selalu bilang hanya mencintaiku. Rasa takut itu membuatku malah menjadi orang yang kurang waras dan aku sadar sekarang kalau aku sudah sangat keterlaluan"
"Tapi kenapa kamu beru menyadarinya sekarang? aku tersiksa selama ini, aku bingung harus memilih siapa diantara kalian berdua. Apa aku harus mempertahankan kalian berdua?"
Sena menghelanapas. Jujur Sena tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain dan Sena tidak berani mengatakan hal itu sebab dirinya sadar selama ini dia bukan istri yang baik untuk Rio kalau dia mengatakannya besar kemungkinan Rio akan menceraikannya.
"Ngga Ri, kamu harus menceraikan Angel"
"Kenapa harus, dia lebih baik dari pada kamu"
Rio mulai terlihat emosi saat Sena mulai menunjulan maksud dalam percakapan ini yaitu menceraikan Angel.
"Kamu ini sadar atau tidak, Ri? Kita cuma bayang hitam dihidup Angel, dia berhak bahagia dengan kehidupannya sendiri tanpa kita"
"Memangnya ada yang menerima Angel dengan setatus itu?"
"Ri, diluar sana banyak orang yang mampu membuat Angel bahagia. Jangan terus memaksa Angel untuk tetap bersamamu"
"Bilang saja kamu tidak ingin Angel tetap diantara kita. Kamu sudah mengijinkan aku menikah lagi dan kamu tidak keberatan kalau aku terus mempertahankan Angel"
"Ri, buka mata kamu! Angel tidak bahagia dengan pernikahan ini. Hanya aku yang tahu apa yang dirasa Angel"
Rio menunduk sembari menerawang sesuatu. Sena hanya ingin rumah tangganya tetap utuh walau terdengar egois Sena hanya ingin Angel mendapat kebahagiaannya sendiri dan setatus istri kedua itu terkenal buruk dimata masyarakat.
"Ri, jangan terus-terusan mengurung Angel seperti ini. Biarkan dia bahagia dengan orang lain yang pantas untuknya, kita sudah banyak membebani Angel. Sebentar lagi anak kita lahir dan cukup sampai disini pernikahanmu dengan Angel"
"Sena, kam-"
"Jangan seperti ini Ri"
Sena memotong ucapan Rio. Sena ingin Rio melihat apa yang ia lihat tentang perhatian Arfan kepada Angel dan itu lebih dalam dari sekedar teman.
"Tapi aku sudah terlanjur mencintai Angel!"
Deg. Jantung Sena seakan berhenti sedetik, rasanya sakit mendengar pengakuan suami yang sangat ia cintai mencintai wanita lain.
"Mau sampai kapan dan apa kamu benar-benar mencintai Angel atau hanya menganggapnya mainan?"
"Mainan? Sena, jaga ucapanmu itu!"
"Lalu apa? kamu cuma mementingkan keluargamu, saat aku bersandiwara kamu membiarkanku melakukannya, kamu bisa saja menceritakan semuanya saat itu juga tapi kamu tidak bisakan? kamu takut Mamamu sedih dan sampai saat ini kamu masih merahasiakan Angel dari keluargamu walau Angel sudah sangat dekat dengan keluargamu jangan sampai kamu sepertiku, Ri. Kamu harus mengambil keputusan secepatnya sebelum semuanya terbongkar dan mungkin ada bayak hubungan yang akan rusak"
Rio hanya diam dan diam. Sena mengecup pipi Rio lalu memeluknya. Rio membiarkan saja Sena melakukan apa yang ia mau.
"Kita menikah sudah hampir enam tahun Ri, harusnya kita sudah punya anak. Kamu tahu Ri, wanita itu selalu yang pertama disalahkan saat belum juga hamil. Telingaku terasa panas saat mendengar sindiran orang-orang yang mengejek ketidak sempurnaanku, hatiku hancur Ri. Selama ini aku berusaha tidak menghiraukannya tapi saat semuanya sudah tidak tertahankan aku malah melampiaskannya kepadamu dan juga Mama Amanda. Apa dayaku aku hanya manusia lemah yang banyak kekurangan dan mungkin kamu menganggapku bukan manusia"
Rio masih diam, membiarkan Sena meluapkan isi hatinya.
"Ri, kamu masih ingat saat kamu melamarku?"
"Tidak"
"Oh ya sudah"
Sena melepas pelukannya lalu berjalan keluar kamat. Rio yang merasa curiga lalu mengikuti Sena dari belakang.
Sena tahu Rio mengikutinya tapi Sena tidak menghiraukannya, Sena terus berjalan keruangan yang paling pojok. Rio tahu ruangan itu yang selalu Sena kunjungi saat dirinya merasa marah dan kesal kepada dirinya tapi selama ini Sena melarang Rio memasuki ruangan ini.
Rio mengikuti Sena masuk kedalam ruangan yang gelap namun sedetik itu ruangan ini jadi sangat terang dan.
"Sena?"
Rio terkejut saat melihat ruangan ini penuh akan fotonya bersama Sena dengan wajah bahagia tanpa beban. Sena langsung merebahkan tubuhnya katas kasur dan mengepi guling yang terdapat gambar wajah Rio yang tersenyum. Sena selalu melakukannya sebab ini membuat dirinya nyaman melihat semua foto-foto wajah Rio yang tersenyum seakan senyuman itu untuknya.
Rio melihat semua ini seperti memory ingatan yang nyata. Melihar foto yang dipajang itu membuat Rio kembali mengigat apa yang telah ia lalui.
Rio melihat foto yang membuat tarikan senyum dibibir Rio. Rio menghampiri foto dirinya yang mengenakan seragam putih abu-abu yang seingatnya itu saat dirinya mengikuti MOS SMA dan saat itu dirinya belum mengenal Sena.
"Sayang, ini?"
Sena melihat kearah Rio. Sena terkejut melihat Rio yang tengah mengamati foto yang ia ambil tanpa sepengetahuan Rio. Sena sontak turun dari tempat tidur menghampiri Rio.
"Apa?" tanya Sena dengan polosnya. Rio tersenyum jahil kearah Sena.
"Kamu diam-diam mengambil fotoku?"
tanya Rio sembari melingkarkan tangannya dipinggang Sena.
"Jujur sama aku, sejak kapan kamu mengagumiku?" tanya Rio dengan PD-nya dan itu membut Sena merasa malu, dirinya sudah ketahuan telah lama mengangumi Rio.
Sena menyembunyikan wajahnya didada Rio.
"Kenapa kamu ngikutin aku, aku jadi malu!! ih nakal" Sena langsung mencubit pinggang Rio.
"Aww, sayang. Jadi sebelum aku mengenalmu, kamu sudah jatuh cinta kepadaku?" goda Rio hingga membuat Sena meregek kesal.
"Tapi bukannya dulu pacarmu itu banyak yah? aku ragu kamu menaruh perasaan kepadaku"
"Ih, kan itu cuma.. auaahhh...!!! aku hanya mencintaimu. Kamu juga dulu banyak ceweknya"
"Ih, kata siapa?"
"Iya dulu, saat aku ingin menyapamu terus saja ada cewek yang menemanimu"
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi"
"Aku tahu kamu sudah tidak mencintaiku lagi dan itu semua kesalahanku. Aku yang memaksamu berpaling dariku, bodohnya aku"
Sena melihat kearah mata Rio. Entah kenapa Sena malah menangis.
"Ri, lepas"
Rio menurut. Sena menghapus air matanya lalu tersenyum kearah Rio.
"Aku membuat kesalahan lagi, Ri... aku... kalau memang kamu ingin bercerai denganku ya sudah, aku akan menerimanya. Mungkin kamu memang bahagia dengan Angel, aku tidak ingin kamu terus tersiksa bersamaku karena itu sama saja menyiksa diriku sendiri"
Sena melangkah kearah balkon. Dari tempat Rio berdiri, Rio melihat bahu Sena yang bergetar. Rio takut Sena akan meloncat dari balkon.
Rio menghampiri Sena dengan perasaan was-was.
Rio sekarang disamping Sena yang menangis tanpa suara.
"Hey"
Sena menghapus air matanya lalu menoleh kearah Rio. Senyum manis Sena menyapa mata Rio.
"Tenang saja, aku tidak akan loncat kok. Aku tidak mau mengancammu lagi, aku sudah menyerah, kamu berhak bahagia dengan orang yang bisa membuatmu bahagia"
Ucap Sena sembari melepas cincin yang tersemat lama dijarinya.
"Sayang, kamu mau apa?"
"Jangan berbohong lagi, Ri. Aku mohon"
Sena meraih tangan kanan Rio lalu meletakan cincin itu ditelapak tangan Rio.
"Semua ada ditanganmu, aku tidak akan terus memaksamu tetap bersamaku"
Sena langsung pergi begitu saja dengan hati yang sudah lama hancur.
...
01:30
Sampai detik ini Rio belum juga tidur. Masalah yang ia hadapi saat ini sungguh sangat sulit. Andai dirinya bisa bercerita kepada Amanda tentang masalah ini pasti dia punya solusinya akan tetapi ini bisa membuat semuanya semakin rumit.
"Siapa yang akan aku pilih? aku bingung, yang satu orang yang aku sangat cintai dan satunya lagi tengah mengandung anakku"
Rio mendesah kasar lalu keluar kamar menemui Sena yang tidur diruangan tadi.
Rio tersenyum melihat Sena yang terlelap. Rio mengecup kening Sena dan itu membuat Sena terbangun.
"Ri"
"Aku membangunkanmu?"
"Tidak. Apa kamu benar-benar ingin menceraikanku?"
"Itu?"
"Aku terima dicerai, seenggaknya aku masih bisa melihat senyummu"
"Sena?"
Rio menatap Sena dengan tatapan tidak percaya. Sena mengatakan itu semua dengan tatapan penuh keyakinan.
"Tadi pagi Papa bilang kepadaku kalau sifat ku ini akan membuat mu berpaling dariku tapi nyatanya kamu telah berpaling dariku. Aku tidak mungkin terus mengancammu dan itu membuatku sadar aku tidak pantas memintamu untuk tetap bersamaku. Aku berterima kasih, kamu sudah mau menemaniku selama ini. Saat aku sedih, bahagia, saat semua orang menghujatku dan berpaling dariku, kamu masih mau berdiri disampingku"
Rio memalingkan wajahnya, dia tidak bisa terus menatap wajah Sena. Rio juga merasa gagal dalam mendidik Sena, Rio merasa dirinya tidak pantas menyandang setatus suami. Dirinya merasa tidak berguna.
"Kalau kamu ingin pulang, silahkan. Kamu pasti merindukan Angel hingga kamu tidak bisa tidur"
"Tapi"
"Aku tidak apa-apa, aku akan bersama potret dirimu di sini. Melihat senyum yang memang untukku. Rasanya sakit melihat kamu marah"
"Sena?"
"Pulanglah, lupakan aku. Lupakan lukamu ini"
....***....