
Rumah
Sena memasuki kamar Angel yang tidak dikunci mungkin bi Inda lupa menguncinya. Sena menggeledah setiap laci hingga ketempat-tempat yang menurutnya mencurigakan.
"Ck! sebenarnya apa yang dimiliki jal*ng itu hingga Rio begitu perduli?"
Sena mengeluarkan semua barang yang ada dilaci meja kecil tempat lampu tidur. Sena terkejut melihat alat tes kehamilan didalam laci dan hasilnya positif.
"Jal*ng itu hamil? pantas saja Rio tidak mau berpisah satu detik pun"
Senyum miring Sena kini menghiasi bibirnya. Sena menemukan cara untuk membuat Rio tidak jadi menceraikannya. Malam ini juga Sena akan melaksanakan rencana yang sudah dari dulu ia pikirkan dan ini lah alasannya kenapa dirinya ingin suaminya menikah lagi.
"Rio. Ckck ngga semudah itu membuangku. Angel sekarang jadi kesayanganmu dan aku akan merebut simpati dari wanita yang melahirkanmu. Sudah aku bilang kamu adalah miliku!"
Keberuntungan kini telah memihak Sena. Ia menemukan cara lain untuk tetap bersama Rio kalau nantinya Angel tidak berhasil membujuk Rio tapi mempunyai rencana cadangan yang Sena yakin 100% rencananya ini akan berjalan mulus terlebih hati mertuanya ini gampang luluh terlebih saat dirinya tahu akan punya cucu pasti akan menuruti semua permintaan Sena.
Sena pergi dari kamar Angel dirinya langsung menuju rumah mertuanya untuk menyampaikan kabar ini.
Didalam mobil. Sena bersenandung ria mengikuti musik yang ia putar sembari menyetir. Wajah Sena begitu sangat senang.
"Ck Angel, kamu itu perempuan yang paling tidak beruntung didunia ini. Uhhh kacian, ck!"
Mobil Sena kini berada didepan gerbang rumah mertuanya. Sena mencari sesuatu didalam kotak P3K.
"Ck mana sih? ..akhirnya"
Sena mengambil obat tetes mata lalu diteteskannya kekedua matanya. Sena ingin dirinya terlihat menangis dan melihatkan kesedihannya yang mendalam.
Sena menelakson seakan menyuruh satpam membuka pintu gerbang. Mobil Sena melaju menuju halaman. Sena turun dari mobilnya berjalan menuju pintu. Sebelum menekan bel, Sena melihat pantulan wajahnya dilayar ponselnya setelah yakin dengan penampilannya baru Sena menekan bel.
..
Amanda masih kepikiran soal Rio yang ingin menceraikan Sena. Amanda merasa ada sesuatu diantar mereka tapi apa, terlebih kata sekertaris Rio kalau beberapa hari yang lalu ada seorang perempuan yang datang keruangan Rio dan sekertaris itu juga bilang perempuan itu sering menemui Rio memabawa kotak makanan untuk Rio.
"Siapa perempuan itu? apa dia benar ARTnya Rio atau itu selingkuhanya Rio? kalau itu benar, mama kecewa sama kamu Rio"
Suara bel membuat Amanda bangkit dari duduknya melangkah kearah pintu.
"Siapa?"
Amanda terkejut melihat Sena didepan pintu rumahnya dan Sena menangis.
"Sa-"
"Mama"
Sena langsung memeluk Amanda. Amanda mendengar suara isakan Sena ditelinganya.
"Sayang kamu kenapa?"
"Ma.. Rio mau pisah padahal aku tengah mengandung anaknya"
"Apa?"
Amanda melepas pelukan Sena. Dihapusnya air mata yang berlinang dipipi Sena dengan lembutnya.
"Kita bicara didalam"
Amanda mengajak Sena kedalam rumah agar Sena lebih tenang menceritakan semuanya.
"Mama abilkan minum dulu"
Sena mengangguk. Sena duduk disofa sembari menunggu Amanda kembali. Sena mengengelua perutnya dengan penuh kasih sayang. Amanda kembali dari dapur dengan membawa segelas air untuk Sena.
"Sayang"
Amanda melihat Sena yang mengelus perutnya sembari berbicara sendiri.
"Sayang minum dulu"
"Iya ma"
Sena meminum beberapa teguk air. Amanda menunggu Sena agak tenang baru menanyakan apa yang telah terjadi ya walau pun dirinya sudah tahu akan hal ini tapi tadi Sena bilang dirinya tengah mengandung.
"Kalau kamu sudah tenang sekarang cerita sama Mama"
"Ma. Rio mau menceraikanku padahal aku sedang hamil anaknya tapi ini juga salahku. Aku yang sibuk dengan urusanku sendiri"
"Apa Rio tahu kamu hamil?"
Sena menggeleng pelan lalu membuka tasnya. Ia mengeluarkan alat tes kehamilan dari dalam tasnya.
"Ma. Garisnya dua" ucap Sena dengan senangnya. Sena melihatkan dua garis merah itu. Amanda terkejut sekaligus senang.
"Ini beneran sayang?"
"Iya mama. Penantian Sena selama ini"
Amanda mendekati Sena lalu mengelus perut Sena yang masih rata. Amanda terlihat sangat senang akhirnya dirinya akan mendapatkan cucu.
Riko yang mendengar suara Sena langsung turun menghampiri Sena dan istrinya yang terlihat sangat senang.
"Ada apa ini?"
"Pa, kita akan punya cucu!" ucap Amanda dengan senangnya. Riko nampak tidak percaya dengan ini semua tapi saat melihat Amanda melihatkan alat tes kehamilan kepadanya barulah ia percaya.
"Sena, terima kasih"
"Pa tapi Rio?"
"Apa Rio tidak tahu kehamilanmu?"
"Tidak Pa, aku baru cek tadi siang. Aku takut Pa, Rio selalu marah"
"Papa yang akan bilang dan Papa akan pastikan Rio tidak akan menceraikanmu"
Sena tersenyum senang mendengarnya. Amanda terlihat sangat bahagia dirinya terus mengelus perut Sena.
"Ma sebaiknya Sena disuruh istirahat. Papa akan telefon Rio agar kesini"
"Iya Pa. Ayo sayang, kamu harus banyak istirahat"
...
Rumah sakit 20:00 kamar rawat Angel
Rio tengah membacakan cerita dongeng untuk Angel ya sebenarnya ini keinginan bumil ini. Rio membacakan dongeng kisah tentang putri Aurora yang terkena kutukan ratu penyihir jahat.
Dongeng ini dongeng kesukaan Angel dari kecil.
"Lagi"
"Sayang aku sudah bacakan tiga kali tapi kamu mau lagi?"
"Ayolah sayang satu kali lagi nanti aku janji akan tidur"
"Janji?"
"Iya. Buruan baca lagi"
"Sabar dong"
Rio mulai membacakan lagi tapi baru sehalaman ponselnya berbunyi. Rio langsung mengambil ponselnya.
"Papa?"
Rio langsung mengangkat panggilan telefon dari Riko.
"Ada apa Pa?"
"Cepat kerumah Papa sekarang penting!"
"Iya Rio akan kesana"
Riko memutus sambungan telefon. Rio menghela napas lalu menoleh kearah Angel yang sepertinya KEPO.
"Kenapa?"
"Aku harus menemui Papa katanya ada hal yang penting"
"Ya sudah sanah"
"Tapi kamu?"
"Ada bi Inda kan? sebentar lagi juga datang"
Angel tersenyum untuk meyakinkan Rio. Rio mengecup kening Angel cukup lama. Rio tidak ingin pergi, dirinya ingin menemani Angel disini tapi kalau tidak
menemui Riko pasti akan kena marah.
"Aku pergi dulu"
"Iya papa"
...
Rumah Amanda/Riko.
Kamar Rio
"... Benar semu bukan karena perempuan itu?"
"Bukan ma, itu keponakannya bi Inda. Aku yang nyuruh habisnya Rio selalu sensi kalau lihat aku"
"Syukurlah kalau itu kebenarannya. Ya sudah kamu istirahat"
"Iya"
Amanda keluar dari kamar. Sena langsung menghapus air matanya.
"Ck kalau bukan aku butuh kamu tidak mungkin aku membela kamu dasar jal*ng!"
Sena tidak ingin Amanda tahu sipa perempuan itu. Kalau sapai dia tahu semua kebenarannya maka yang paling diuntungkan adalah Angel dan Sena tidak mau itu terjadi.
"Ternyata gampang banget ngebodohi mereka"
Sena merebahkan tububnya diatas kasur. Ia tersenyum senang rencananya sejau ini berhasil.
.....
Rumah Amanda / Riko.
Rio memasuki rumah dengan perasaan tidak enak terlebih ada mobil Sena disini dan itu berarti Sena ada dirumah ini.
Firasat Rio semakin buruk saat orang tuanya seakan tengah menunggu kedatangannya diruang tamu.
"Ada apa ini?"
"Duduk!"
Rio menuruti perintah Riko. Rio mendunga Sena telah menceritakan semuanya kepada mereka kecuali Angel. Rio tahu benar Sena tidak akan membicarakan Angel didepan mereka karena Sena takut mereka akan mencari tahu siapa Angel sebenarnya dan malah mendukung perceraian yang Rio inginkan serta kemungkinan terburuk Angel akan dinikahkan dengan Rio.
"Ma, Pa. Ada apa? kenapa kalian menatapku seperti itu?"
"Jangan ceraikan Sena"
Mendengar ucapan Riko berarti dugaan Rio benar. Sena mencari perlindungan disini tapi Rio masih ingat dengan perkataan Riko saat ditaman, seakan Riko tidak begitu suka dengan Sena tapi sekarang Amanda dan Riko membela Sena.
"Pa. Rio tetap akan menceraikan Sena!"
"Kamu tidak boleh menceraikan istri yang tengah mengandung anakmu!"
"A..apa?"
Ucapan Amanda membuat Rio terkejut. Sena hamil?. Rio langsung bangkit dari duduknya berjalan menuju kamar tepatnya menemui Sena.
...
Rio memasuki kamar dengan emosi yang memuncak. Sena tersenyum senang akhirnya Rio datang juga.
"Sayang"
"Jangan banyak bicara! benar kamu hamil? kalau iya kamu hamil sama siapa aku tidak menyentuhmu akhi-akhir ini"
Sena menatap datar Rio sedangkan Rio menatap Sena dengan bringas.
"Ck! aku ngga hamil. Kalau aku hamil aku sudah usir Angel dari kehidupanmu"
"Tapi mama bilang?"
"Ri, kamu lupa sama rencana kita? Angel hamil dan aku sedang menjalankan apa yang telah kita rencanankan"
"Dari siapa kamu tahu Angel hamil?"
"Rio... Rio. Aku itu bukan Angel yang cuma bisa menangisi apa yang telah terjadi. Aku ini Sena. Aku akan lakukan apapun untuk mendapatkan apa yang aku mau"
Rio mengepalkan kedua tangannya. Sena tersenyum penuh kemenangan terlebih Rio tidak bisa berbuat banyak dan Rio tidak akan bisa menceraikannya.
"Termasuk menyakiti orang tua Angel?"
"I-ya"
"Sena KAMU!"
"Sssttttt.. Jangan teriak-teriak berisik"
"Kamu keterlaluan"
"Ih. Mereka juga masih hidup tanpa luka kenapa marah? lagian marahnya mereka ke aku itu ngga seberapa tapi kalau mereka tahu kamu udah buat putri mereka hamil, wah pasti bakal seru"
Rio menatap Sena tajam tapi Sena malah menatap Rio remeh. Rio sekarang berada dalam kondisi sulit. Apa yang ditakutkan Rio kini terjadi sekarang Sena menunjukan jati dirinya yang sebenarnya, seorang yang sangat licik dan punya seribu satu cara untuk mendapatkan yang ia mau. Selama ini Rio menyembunyikan sifat buruk Sena karena Rio sangat mencintai Sena namun Rio tersadar cinta butanya membuat Sena seperti ini.
"Kamu itu milik aku, hanya aku yang boleh memilikimu"
"Kamu ini sudah gila! aku tidak mau bersamamu lagi!"
"Ck! apa aku bilang saja ke mama kamu kalau kamu selingkuh?"
"Bilang saja, aku juga akan bilang kalau kamu cuma pura-pura hamil dan aku akan bawa Angel kemari" tantang Rio langsung dan membuat Sena takut namun sedetik itupun tersenyum.
"Silahkan tapi ingat ini, sampai kapanpun aku tidak akan rela ada orang lain memilikimu dan aku bisa melakukan apapun termasuk membuat Angel menghilang dari hidupmu"
Sena mengucapkan itu dengan penuh penekanan dan dirinya terlihat bersungguh-sungguh. Rio menghela napas yang Sena ucapkan bukan sekedar gertakan semata. Sena sudah menunjukan apa yang ia bisa perbuat dan Rio tidak mau Angel ataupun keluarganya terluka karena Sena.
"Kamu mau apa?"
Sena tersenyum senang akhirnya Rio mengerti apa yang dia mau. Dirinya mendekati Rio dengan senyum diwajahnya namun senyuman itu membuat Rio muak.
"Kamu milik aku!"
Sena menarik kerah Rio kearahnya. Rio mencengkram kedua pergelangan Sena.
"Sekarang tidak! apa sebenarnya mau mu?"
"Jangan ceraikan aku dan kita lakukan seperti yang kita rencanakan dulu"
"Kita? itu kamu yang mau"
"Tapi dari semua ini kamu yang paling diuntungkan, iya kan sayang?"
"Ck!"
Rio mendorong tubuh Sena hingga Sena terbaring diatas kasur. Sena terkekeh lalu mendudukan tubuhnya. Rio melihat Sena seperti ini membuat Rio beranggapan kalau Sena sudah gila.
"Ih sayang kalau mau bilang dong jangan kasar gini"
"Ck terserah kamu!"
Rio langsung pergi keluar kamar. Rio takut akan terpancing emosi dan tidak bisa mengontrol amarahnya terlebih ini dirumah orang tuanya. Rio tahu Sena kerumah ini karena ada yang membelanya.
.
Rio meleawati ruang tangah yang masih ada Amanda dan Riko. Mereka heran melihat Rio yang terlihat kesal.
"Rio kamu mau kemana?" tanya Amanda yang terdengar kesal.
"SAYANG JANGAN PERGI!" teriak Sena dari atas. Teriakan Sena membuat Rio menghentikan langkahnya.
"Ri, istri kamu manggil! Sena sedang hamil, jangan ditinggal"
Rio membalikan badannya menatap Sena yang tengah menangis bombay. Rio tahu Sena tidak benar-benar menangis bahkan tadi Sena tersenyum.
Amanda mendekati Rio. Amanda tahu putranya ini sudah sangat kecewa dengan Sena tapi sekarang Sena tengah mengandung anaknya.
"Ri, jangan seperti ini. Mama tahu kamu kecewa tapi Sena tengah mengandung anakmu"
"Tapi Ma"
"Ri. Sena butuh kamu, anak kamu butuh kamu. Jangan pergi!"
Rio menatap Sena yang tengah tersenyum tipis. Rio ingin pergi menemui Angel menjaganya dan anak didalam rahimnya bukan disini menemani Perempuan tidak waras yang tengah berpura-pura hamil.
"Ri, mama mohon. Kalau memang kamu mau pisah tunggu sampai anakmu lahir"
"Rio tidak jadi pergi"
Amanda tersenyum senang. Rio berjalan kembali menuju kamar. Sena tersenyum melihat Rio yang mau menurut.
Rio menaiki tangga sembari menatap tajam kearah Sena namun yang ditatap hanya menunjukan wajah polosnya.
...
01:00 kamar rawat
Angel belum tertidur, dirinya masih menunggu Rio kembali. Angel merasa khawatir dan juga rindu. Kalau Angel boleh meminta, dirinya ingin terus ditemani Rio.
"Non El mau dibacakan dongeng lagi?"
"Tidak Bi. Kok kak Rio belum kembali yah?"
"Den Rio kan sibuk, mungkin ada hal yang penting. Sebaiknya non Angel tidur, bibi kelonin"
Angel mengangguk pelan. Perlahan kelopak mata Angel menutup.
...
06:30
Rio tengah menatap sebal kearah Sena yang tenga cari perhatian ke Amanda. Sena tengah berpura-pura mual dikamar mandi.
Rio ingin mengatakan semuanya termasuk Sena yang pura-pura hamil tapi saat melihat Amanda yang sangat senang membuat Rio tidak tega. Dirinya tidak mau menghancurkan kebahagiaan wanita yang tengah melahirkannya.
"Kamu harus banyak istirahat. Mama ambilin teh manis hangat yah?"
"Iya ma"
Amanda berjalan menuju ke pintu sebelum keluar kamar Amanda mengomeli Rio.
"Kamu ini istri mual diam saja!"
"Ma, Rio bukan dokter!"
"Terserah"
Setelah Amanda pergi Rio menghampiri Sena yang sudah kembali normal.
"Harusnya kamu itu jadi aktris bukan jadi model!"
"Itu bukan urusanmu!"
"Ck! yakin kamu mau tinggal disini?"
"Ya iya lah, lagian disini ada yang membelaku dan kamu tidak bisa bermesraan dengan Angel"
"Iya sih tapi kamu ngga bisa shoping sama pemotretan. Uuuhhh kacian"
Rio langsung pergi meninggalkan Sena bersamaan dengan itu Amanda kembali.
"Nih kamu minum"
"Iya"
Amanda melihat kesekeliling kamar ini. Walau Sena tidak pernah menginap sampai seminggu namun kamar ini penuh dengan barang-barang Sena serta alat make up dan bedak serta teman-temannya yang lain.
"Sena"
"Iya ma"
"Kamukan lagi hamil jadi jangan pakai bedak dulu yah?"
"Tapi ma"
"Sayang, itu tidak baik buat janin kamu dan jangan pake sepatu hak tinggi, mama takut kamu kenapa-napa"
"Iya"
Walau pun mulut Sena berkata iya tapi dihati Sena. Sena menolak itu semua terlebih dirinya tidak hamil.
..
Rio tersenyum sinis saat melihat Amanda yang berusaha menyuapi Sena. Sena terus saja menggelengkan kepalanya. Sena sangat anti dengan yang namanya nasi karena menurut Sena, nasi membuatnya gemuk.
"Sena, kamu harus makan"
"Ma, aku tidak lapar"
"Sayang diperut kamu ada yang harus diberi makan atau kamu mau makan apa?"
"Nanti saja ma, masih mual"
"Ya sudah"
Amanda terpaksa mengalah. Arfan yang baru pulang dari Bandung mengerutkan dahinya melihat Sena dan Rio berada disini.
"Kak?"
"Kamu dari mana?"
"Habis dari rumah teman"
"Oh"
Afan langsung menuju kamarnya. Entah kenapa Arfan merasa ada yang aneh terutama melihat Sena yang terlihat akrab dengan Amanda.
"Pa, kak Rio kapan datang? tanya Arfan langsung saat berpapasan dengan Riko.
"Tadi malam, kamu sudah bosan disana?"
"Iya. Oh ya Pa kok mama kek seneng itu?
"Kakak kamu akan jadi Ayah?"
"Pantas saja mama senang banget"
"Ya jelaslah. Diakan sudah lama menunggu"
"Iya juga dan siap-siap saja Papa dicuekin!"
Arfan langsung melarikan diri dari Riko takut dimarahi olehnya. Riko mendesah kasar. Arfan memeng seperti itu suka jahil bin usil.
"Dasar anak itu! kapan dia menikah?"
Riko telah mengenalkan beberap gadis kepadanya tapi tidak ada yang nyakut dihati Arfan.
.....
07:30 Rumah sakit/ kamar rawat
Angel terus melihat kearah pintu berharap Rio datang menemuinya. Angel mengepalkan kedua tangannya semalam Sena mengirimkan foto dirinya dan Rio yang tidur seranjang. Difoto itu Rio sudah tertidur dan mungkin Rio tidak tahu kalau difoto Sena.
"Seharusnya aku tidak terlalu berharap"
Angel mengelus perutnya yang masih rata. Harapannya untuk terus bersama Rio sudah pupus harusnya dirinya tahu Rio tidak mungkin menceraikan Sena.
Angel meraih ponselnya lalu mengirip pesan keRio. Setelah itu Angel mematikan ponselnya agar Rio tidak bisa menghubunginya.
Suara pintu dibuka membuat Angel langsung melihat kepintu berharap Rio datang tapi ternyata.
"Non, makan bubur ayam yah?"
"Kecapnya banyakan kan?"
"Iya"
Bi Inda menyuapi Angel. Bi Inda merasa kasihan kepada Angel yang harus melewati keadaan seperti ini lagi.
"Bi"
"Iya non"
"Apa aku akan seperti ini terus? menjadi istri simpanan yang hanya jadi bayangan mereka?"
"Non jangan seperti ini, Non harus kuat demi anak non"
"Aku capek bi. Rio selalu memberi harapan semu yang selalu membuatku terluka dan Sena, dia bisa melakukan apapun untuk membuatku tertekan"
"Non"
Bi Inda menarik Angel dalam pelukannya. Angel menangis didekapan bi Inda.
...
Rumah Amanda/ Riko
Arfan menenteng plastik bening yang berisi stroberi merah yang sangat segar melewati Sena. Stroberi itu membuat Sena menelan ludah.
"Fan, sepertinya ada yang mau sama stroberi kamu deh"
Ucap Amanda sembari melirik kearah Sena. Sena langsung memalingkan tatapannya. Arfan terkekeh pelan sebenarnya dia juga akan membaginya dengan Sena.
"Ini? kamu mau kak"
"Iya"
"Aku cuci dulu"
Arfan bergegas mencuci buah stroberi ini. Rio merasa bersalah saat keluarganya terlihat sangat senang dengan kebohongan yang Sena buat.
"Ck!"
Rio berdecak kesal. Dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi terlebih Sena tahu akan semua kelemahanya yaitu Amanda.
Drtt
Rio langsung membuka pesan dari Angel.
"Kamu lupa sama aku? seharusnya aku tidak terlalu berharap"
Rio membaca pesan itu yang penuh akan makna. Rio tahu Angel pasti sangat marah kepadanya.
"Sebaiknya aku temui dia"
Rio menghampiri Sena yang tengah disuapi buah stroberi oleh Amanda.
"Ma, aku mau pergi dulu"
"Mau kemana? temani aku! aku mohon"
"Ri, Sena tidak mau ditinggal"
Rio tersenyum lalu mengacak-acak poni Sena. Amanda yang melihat apa yang Rio lakukan merasa lega akhirnya Rio kembali seperti dulu, menyayangi Sena.
"Aku mau beli hadiah untukmu. Mau yah aku tinggal?"
Sena mengangguk walaupun dia tahu Rio pasti akan menemui Angel. Sena tidak khawatir toh dirinya sudah membuat jarak antara Angel dan Rio.
"Ma, titip Sena"
"Iya"
Rio langsung bergegas keRumah sakit. Rio menduga Angel marah kepadanya.
"Kak Rio mau kemana?"
"Katanya sih mau beli hadiah untuk Bumil ini"
"Stroberi nya habis?" tanya Arfan dengan nada tidak percaya.
"Maaf yah?"
"Ngga apa-apa toh itu juga untuk keponakanku"
"Terus kamu kapan nikahnya? biar nanti anak kita seumuran" ucap Sena dengan jahilnya. Arfan langsung melirik kearah Amanda. Amanda tidak menghiraukan Arfan.
...
Rumah Sakit
Rio terkejut melihat Bi Inda yang tengah menunggu didepan kamar rawat Angel. Bi Inda terlihat sangat cemas membuat Rio semakin bingung.
"Bi, kenapa?"
"Den Rio kenapa baru datang"
"Ada urusan tadi, El kenapa?"
"Perut non El sakit sekarang sedang dipriksa dokter"
Tak lama dokter pun keluar kamar rawat Angel.
"Istri saya kenapa dok?"
"Dia tidak apa-apa hanya saja dia harus terbebas dari hal-hal yang membuatnya stres itu bisa mengganggu kandungannya. Saya permisi dulu"
"Terima kasih dok"
Rio langsung mesuk kedalam kamar rawat. Dilihatnya Angel yang tengah memejamkan mata. Rio menghampiri Angel dengan boneka yang baru ia beli.
"Kamu ngapain disini?" Angel langsung membuka mata menoleh keRio. Rio tersenyum sembari melihatkan boneka yang ia pegang.
"Buat kamu"
"Aku tidak suka boneka! sebaiknya kamu pergi!" usir Angel langsung.
"Sayang, aku baru datang masa langsung disuruh pergi?"
"Pergi! aku tida mau melihatmu!"
"Kamu marah?"
"Iya"
"Sayang masa kamu ngambek sih? aku cuma tidak menemui mu saja dan aku tidak memberi kabar" ucap Rio dengan nada yang tidak sedikitpun merasa bersalah.
Angel menatap Rio datar. Hati Angel kembali terluka Rio masih sama dan tak akan pernah bisa berubah. Rio hanya untuk Sena.
"Pergi!"
"Aku tidak akan pergi aku ingin menemanimu disini!"
"Aku bilang PERGI YA PERGI!" teriak Angel dengan penuh emosi. Rio yang moodnya sedang buruk terpancing emosinya.
"Oke, tapi jangan harap aku akan kembali menemuimu lagi. Aku cuma butuh anak didalam rahimmu itu"
Deg. Angel jantung Angel serasa berhenti sedetik. Rio langsung pergi bahkan Rio menarik pergelangan bi Inda untuk keluar kamar.
Setelah mereka pergi air mata Angel turun dengan perlahan. Angel menggigit bibir bawahnya.
"Ri.. Rio kamu?"
Luka hati Angel kini semakin dalam dan tidak akan bisa sembuh. Hati ini sudah hancur seperti debu dan tidak ada lagi hal yang membuat Angel bersemangat melewati hari esok. Anak didalam rahimnya ini tidak bisa membuatnya tegar menjalani ini semua malah anak ini mengingatkannya akan luka hatinya yang membuat hidupnya hancur.
Angel melirik ketiga botol obat disampingnya.
...
Luar kamar
"Den! den bilang apa tadi?"
"Itu kenyataannya! Rio cuma ingin anak itu!"
PLAK
Tamparan keras mendarat dipipi Rio. Rio terkejut mendapatkan tamparan ini.
"Den. Non El dari semalam nungguin den Rio bahkan dia ngga mu makan kalau tidak disupin den Rio. Non Angel bilang kalau dia capek jadi bayangan den Rio sama non Sena!"
"Bi aku sudah beli dia dan aku bebas melakukan apapun!"
"Sejak kapan den Rio jadi non Sena? Nyonya sama Tuan tidak pernah mengajari den seperti ini!"
"Bi. Aku bingung siapa yang aku pilih, keluargaku, Sena atau Angel. Bi, aku terpaksa harus melupakan Angel. Dia cuma orang yang baru dihidupku, aku bisa melupakanya hanya dalam waktu semalam tapi kedua itu aku tidak bisa melupakannya semudah itu!"
"Den Rio?" bi inda menangis mendengari ini dari orang yang pernah ia asuh dengan kasih sayang yang tulus.
Pyar..
"Non Angel"
"Jangan masuk!" cengah Rio langsung namun bi Inda tidak menghiraukan Rio. Dia langsung masuk dan.
"Non Angel"
Kaki bi Inda langsung melemas saat melihat Angel yang terbaring dilantai dengan botol kaca yang sudah pecah.
15 menit sebelumnya
Angel langsung meraih ketiga botol obat itu. Dituangkannya seluruh isinya ketelapak tangan kanannya.
"Sayang maafin mama. Mama tidak kuat lagi menjalani kehidupan ini. Mama capek"
Angel langsung menelan semua obat itu
Rio masuk kedalam dirinya terkejut melihat Angel yang seperti ini.
"ANGEL!!"
Rio langsung berlari menghampiri Angel. Angel tidak sadarkan diri serta mulutnya mulai mengeluarkan busa.
Rio langsung membencet tombol yang berada didekat tempat tidur. Tombol itu langsung terhubung dengan ruangan dokter.
"El bangun!"
Tubuh Angel sudah sangat lemas bahkan kulit Angel terasa sangat dingin. Wajah Angel sangat pucat.
"Sayang jangan bercanda! kamu jangan tinggalin aku!"
....***.....